[FF Freelance] Dark Light and Waiting A Love

Dark light & waiting a love 2Author   :    LeeJH / lee jin hyun (@xeanthy_widjaja)

Length   :    Oneshot

Genre     :    Sad,Romance,Angst/find yourself

Rated     :    G

Main      :    Jessica Jung ‘SNSD’

Lee Donghae ‘Super Junior’

Support  :    Kim Yoo Ri ‘OC’

Tiffany Hwang ‘SNSD’

Lee Sunyoung ‘OC’

Etc (find yourself)

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan dan tulisan ini milik saya. Don’t be a plagiator!!. Don’t bashing my fanfict!! Don’t be silent reader!! If you like please coment!! If not please go away!!

Summary : I love you because I need you. I heart you because I life you. I miss you because I love you. Loving you like earthquaqe……… Why I like it? Because you’re all my heart!!!!

Warning —) geje, jelek, gak nyambung, typo berserakan, dsb!!

Backsong # Promise you ‘SJ’, Why I like you ‘SJ’, All my heart ‘SJ’, Someday ‘SJ’, All My Love Is For You ‘SNSD’

******************

Sebuah gerbang penghantar pada kehidupan yang baru. Tak asing dengan istilah itu? Bukan dengan kehidupan baru pada alam yang baru, namun kehidupan berpadunya dua insan yang saling terikat pada ikatan suci nan sacral. Satu kata berisikan sepuluh huruf namun terkadang manis dan pahit tercampur menjadi satu. Tidak hanya itu, berbagai rasa dapat tercurah dengan moment indah ini. Satu kali dalam seumur hidup tetapi menuai likuk panjang yang kadang tak terhingga tajamnya.

Janji sepasang mempelai yang menyatukan marga dari kedua keluarga besar, antara Lee dengan Jung ini telah berlalu satu tahun ini. Lee Donghae sang mempelai pria dan Jessica Jung sang mempelai wanita yang sudah berganti menjadi sepasang suami istri ini, menyorot sebuah kisah yang mengharukan. Adakah dari kalian yang asing dengan kata ‘perjodohan’ ?

Pernikahan mereka adalah dilandasi perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka. Beralasan janji semasa muda Tuan Lee dan Tuan Jung. Tiada bergunanya bagi mereka menolak hal ini, Bukankah pilihan orang tua yang terbaik? Satu sisi bagi Jessica ini adalah bentuk baktinya pada kedua orang tuanya. Lantas bagaimanakah Donghae? Tak berbeda jauh dengan Jessica, namun memang sedari awal Donghae tidak pernah menyetujui hal ini. Beralaskan hal tersebutlah yang membuat kehidupan rumah tangganya seperti dalam kepahitan si madu.

*******

Rumah mewah bergaya minimalis dengan arsitektur eropa yang kental ini terdapati seorang yeoja di ruang tamu rumah itu. Yeoja itu dengan setianya menunggu seseorang. Jessica sama sekali tidak memperdulikan kantuknya yang sedari tadi menyerangnya. Meskipun dia sudah tahu, mungkin suaminya yang sedari tadi ia tunggu tidak akan pulang malam ini. Jessica menghembuskan nafasnya pelan. Dengan ditemani televisi yang sedari tadi bermain dengannya. Berkali-kali juga ia mengganti channel yang menurutnya menarik, namun, acara favoritnya telah berakhir sejak lima belas menit lalu.

Tidak lama terdengar suara mobil yang masuk kehalaman rumahnya, mobil audi hitam yang mewah itu menuju garasi rumahnya. Senyum manis tersungging dibibirnya. Sepertinya penantiannya malam ini tidak sia-sia. Dengan segera, ia melanghkahkan kakinya kepintu depan dan membukanya dengan hangat.

“Oppa, kau sudah pulang?” tanyanya pada Donghae. Donghae hanya berjalan cuek masuk kedalam tanpa menjawab perkataan istrinya itu.

“Aku sudah menyiapkan makan malam dan air hangat untukmu mandi. Apa perlu panaskan lagi?” Lanjut Jessica

Donghae memberhentikan langkahnya dan menatap malas pada Jessica

“Kau…. Berhentilah bicara…. Aku lelah dan yang kubutuhkan hanyalah istirahat. Dan jangan panggil aku oppa….” Ucap Donghae acuh pada Jessica

“Mi..mian…aku tidak akan mengulanginya”

“Baguslah, aku lelah dan jangan banyak bicara lagi” Donghae kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.

“Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa meminta bantuanku”

“Tidak, aku sedang tidak membutuhkan apapun. Dan SUDAH KUKATAKAN PADAMU AGAR KAU TAK BANYAK BICARA. KAU DENGAR HAH!!!!” tegas Donghae dan menuju lantai atas, memasuki kamarnya dan membanting pintu.

-BLAMM-

 

~Jessica POV~

Aku hanya bisa mencoba sabar menghadapi suamiku. Kututup mataku sejenak dan menghembuskan nafas pelan. Air mata kini mulai mengalir tanpa kukomando. Bukan karena perkataannya namun tak bisakah ia menghargaiku atau memandangku sedikit sebagai istrinya? Lagi-lagi hanya rasa sesak yang teramat dalam lubuk hatiku. Satu tahun lamanya, aku harus mencoba bersabar menghadapi ini semua.

Tinggal satu atap dengan suamiku sendiri namun bagaikan orang asing sungguh memilukan untukku. Harus kusadari bahwa aku begitu mencintainya, inilah alasan untukku bertahan. Aku tidak peduli padanya yang tidak memiliki rasa sedikitpun padaku, namun aku sungguh menginginkannya untuk sedikit mencoba menerimaku.

. Pernikahan bagiku adalah suatu yang sakral dan jembatan menuju bahagianya dua manusia. Orang-orang berpikir bahwa  kehidupanku bahagia, apalagi menjadi ‘Nyonya Muda Lee’. Istri seorang Lee Donghae, pengusaha muda yang sukses  putra bungsu dari pasangan Lee Sungmin dan Choi Sooyoung, yang merupakan pewaris utama “Lee Coorporation”.
Berbanding terbalik dengan semua itu. Pernikahan ini mungkin adalah bagai sebuah pajangan karena tidak ada rasa cinta didalamnya. Aku terperangkap dalam cinta tak berbalas.

~Jessica POV end~

*****

Mentari pagi mulai naik keharibaannya, mengganti gelap menjadi terang, menelusuri setiap alam semesta seolah memanggil manusia untuk berhenti dari mimpi indahnya.
Jessica mengerjap-ngerjapkan matanya, merasa terusik oleh cahaya dari jendela kamarnya. Ia pun segera bangkit dari tidurnya, membersihkan tubuhnya dan menuju dapur untuk melakukan aktivitas rutin paginya.

Jessica kini baru saja keluar dari dapur dengan celemek yang masih menggantung manis pada lehernya. Dibarengi dengan itu ia melihat sosok Donghae yang sudah rapi dengan setelan jas kantornya, berjalan menuruni tangga. Ia tersenyum manis dan meletakkan celemeknya di samping pintu dapur.

“Hae~ssi, mari makan dulu. Kau harus makan sebelum bekerja” ucap Jessica pada Donghae

Donghae hanya memberikan tatapan tajamnya pertanda ia tidak menyukai ajakan yang diberikan oleh Jessica. Jessica hanya mengangguk tanpa berucap sedikitpun.

………………….

 

Roda bumi telah berjalan melewati pagi hingga mengorbit kembali tenggelamnya gurat jingga diufuk langit. Jessica meregangkan ototnya yang kaku karena menyusun proposal desain yang telah diselesaikannya. Matanya tertuju pada jam dinding didalam ruangannya ini. ’19.00 KST’ Segera ia menata kembali mejanya dan mematikan laptopnya. Tanpa ulur panjang, ia segera menyambar tasnya dan mulai melangkah meninggalkan gedung kantornya ini.

Dilajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menjelajahi jalanan malam jantung ibukota korea ini. Hingga sampai dipelataran rumahnya. Segera, ia memasuki rumahnya dan berjalan menuju kamarnya.

Tiga puluh menit berlalu, Jessica keluar dari kamar mandi dengan kaos putih polos dan celana hitam pendek yangg dikenakannya. Ia berjalan menuju meja rias sebelah tempat tidurnya dan memoles mukanya dengan sedikit bedak. Terkesan simple namun natural make up yang dipakainya ditambah dengan penampilannya yang sederhana namun modis itu. Rambut kelam coklatnya ia biarkan tergerai panjang. Bergegas, ia langkahkan kakinya menuju lantai bawah.

Ketika sampai didepan pintu kamarnya, ia menghela nafas sejenak melirik pintu bercat putih yang berkayu jati itu. Lagi-lagi hanya senyum miris yang Jessica keluarkan dari bibirnya. Sudah menjadi fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa inilah pasti terjadi. Dirinya dan Donghae memang tidak sekamar, meski mereka berstatus sebagai suami istri. Kembali pada awal, pernikahan yang mereka jalani memang terkesan semu, tidak ada cinta didalamnya terlebih pada Donghae yang tidak mencintai dirinya.

Sofa panjang berwarna putih nila ini menjadi tempatnya menghabiskan waktu kembali menunggu kepulangan Donghae. Berteman dengan cemilan dari makanan ringan dihadapannya tak lupa televisi yang bermain dengannya.

“Hmmm….” Helaan nafas bosannya terdengar kentara apalagi jika bukan kesepian.

‘Seandainya ada malaikat kecil diantara kami…mungkin bisa membuatku sedikit merasa ramai dan tidak seperti ini.’ ‘ahniya…itu tidak mungkin terjadi sica… suamimu saja tak sedikitpun pernah menyentuhmu’

Perasaan Jessica memang sepi, namun kini hati dan pikirannya berperang dengan kata batinnya. Namun lagi-lagi hanya harapan kosong yang berada didepan matanya.

 

*****

 

Ditempat lain, music DJ mengalun keras memenuhi ruangan ini. Diantara puluhan orang disini, menyisakkan satu tempatnya untuk empat orang yang sedang berbincang.

“Hae… bagaimana dengan perubahan rumah tanggamu?” Tanya seorang namja disebelah Donghae dengan kupu malam berada disamping kanannya.

“Ck…jangan kau bahas itu, aku pusing memikirkannya” jawab Donghae

“Jangan katakan kalian masih dalam kutub yang berbeda? Aigoo… apa kurangnya istrimu itu eoh? Cantik, mapan dan sempurna” sahut seorang namja sipit dengan wajah maskulinnya

“Heii…Lee Eunhyuk dan kau Choi Siwon… diamlah.. aku kemari itu bukan untuk mendapatkan hadiah omongan dari kalian”

“Ckkck… Tapi kau belum pernah bersikap manis padanya kan hyung?”

“Kyaa…Cho Kyuhyun, kau tak dengar ucapannya? Lihat wajah tajamnya padamu” bisik Siwon pada namja yang bernama kyuhyun. Kyuhyun hanya melemparakn cengirannya ketika ditatap seperti itu oleh Donghae.

Donghae kembali meneguk vodkanya dan mulai mengikuti alunan DJ bersama tiga sahabatnya itu.

*****

 

Dalam balutan kebosanan yang kian melanda, Jessica mulai dilanda kantuk terlebih dengan perang kecil antara hati dan pikirannya. Ia pun terlelap dengan anggun disofa tempatnya menunggu.

Tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka kasar dan mampu membangunkan Jessica. Dia berlari menuju pintu depan
“Oppa…”kaget Jessica. “uhuk uhuk…. Kau mabuk Oppa?” ucapnya sambil menutup hidung dan mulutnya karena bau alkohol yang menyengat.
Ia segera memapah tubuh Donghae yang mabuk itu dan membawanya masuk kedalam rumah. Ia menaiki anak tangga dan membawa Donghae masuk kedalam kamarnya. Sempat ragu memang, namun ia pernah diwanti-wanti oleh Donghae agar tidak sekalipun menginjakkan kakinya dikamar suaminya. Mereka memiliki privasi masing-masing, begitulah ucapan Donghae padanya.

Jessica membaringkan Donghae dikasur putihnya dan dengan telaten melepas sepatu dan menyeka badan Donghae.
“Oppa…kenapa kau mabuk? Tak biasanya kau sampai seperti ini”batinnya sambil menyeka air matanya.
Jelas saja, wanita mana yang tidak sedih ketika suaminya mabuk dan hanya menyebut nama orang lain. Donghae meracau dan menyebutkan nama Yong Ri. ‘Kim Yong Ri’ wanita yang sangat digilai suaminya itu. Jessica tahu semua itu, bahkan dia pun tahu hubungan Donghae dengan gadis bermarga Kim itu. Tetapi, ia pura-pura tak peduli dan tak tahu walaupun sejujurnya sakit mengetahui kenyataan itu. Dirinya hanya orang baru yang masuk dalam hidup Donghae, jadi memang tidak berhak mencampuri urusan Donghae. Namun, jika statusnya menyandang Lee pada namanya, akankah ia masih merasa tidak berhak? Jessica hanya bisa terdiam jika menghadapi pertanyaan itu, rasa cintanya pada Donghae membuatnya takut memilih jalan. Ia takut jika jalan yang ditempuh membuat Donghae menderita meski lebih sakit dirinya yang hanya bagai pajangan belaka. Jessica bangkit dari duduknya, baru selangkah ia berjalan sebuah tangan menahannya dan menariknya hingga jatuh diatas tubuh kekar suaminya. Donghae yang setengah sadar itu mencium bibir manis istrinya. Jessica yang terlalu kaget hanya bisa diam tanpa membalasnya. Awalnya ini adalah sebuah ciuman lembut tapi kini tangan Donghae mulai liar, tangannya mulai menjamah tubuh indah istrinya. Percuma saja ia melakukan perlawanan, tenaga Donghae lebih kuat darinya. Bulir-bulir air mengalir jelas dipipinya apalagi ucapan Donghae yang menambah air matanya semakin deras. ‘aku menginginkan tubuhmu istriku’

*****

Sinar matahari menembus jendela kamar yang bernuansa putih itu. Dua insan yang masih tertidur bagaikan pasangan yang serasi dan penuh cinta. Tapi mungkin semua hal itu berkata lain. Merasa silau, salah satu dari mereka menggeliat dan mulai membuka matanya. Yeoja cantik itu sadar dari alam bawahnya. Yeoja itu merasa badannya remuk redam, ia juga merasa selangkangannya perih dan ia melihat banyak bercak darah dikasur. Tak berapa lama namja yang tidur disebelahnya terbangun, ia tidak memperdulikan yang lain. Ia hanya memunguti bajunya dan menuju kamarnya. Jessica hanya terdiam dan memeluk lututnya. Menyembunyikan wajahnya yang kini mulai berderai air mata.

 

_2 Month Later_

 

Semenjak kejadian itu, hubungan Jessica dan Donghae bertambah semakin dingin. Donghae terkesan lebih cuek dan dingin kepada Jessica. Jessica hanya bisa bersabar dan menguatkan diri menghadapi Donghae. Kini mereka juga acap kali berbicara hanya pada saat yang penting atau berada didepan keluarga dan kerabat-kerabat atau mungkin hanya berbicara seperlunya saja.

Seperti biasa, Jessica berada diruang kerjanya. Ia masih sibuk didepan laptopnya dan tak menyadari kedatangan seseorang.

“Hmmm..” deheman seorang yeoja mengagetkannya dan ia putar pandangannya mengarah pada yeoja yang berdiri diambang pintu kerjanya.

“Apa kau sangat sibuk jadi tak menyadari kedatanganku Nyonya Lee?” tanyanya yang hanya dibalas sebal oleh Jessica

“Aish… Hwang Mi Yong… jika masuk ketuk pintunya dulu. Kau itu mengagetkanku” gerutu Jessica kembali kedepan laptopnya.

“Yakk…Jessica Lee!! Panggil aku Fany… Tiffany.. aku lebih suka panggilan itu” rungut gadis yang bernama Tiffany itu. Tiffany melangkahkan kakinya kesofa tempat tamu didepan meja kerja Jessica.

“So, why come here?”

“Jessica Lee, kebiasaanmu tak berubah. Jika sudah terpaku dengan berkas dan laptopmu pasti aku akan melupakan makan siangmu.”

Jessica menghentikan aktivitasnya dan melirik arloji silver yang tergantung ditangan kirinya. Ia menghela nafas “Aish..arraseo. Jadi? Kau mau mengajakku makan siang?”

“Of course Jessica Lee. And How?’ suara Tiffany sembari tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya dan tak lupa eye smile miliknya.

“Hmmm…Yes”

………………

 

Tiffany hanya melongo heran melihat Jessica yang tengah asyik menikmati makan siangnya. ‘ada apa dengan orang ini?’ pertanyaan berputar diotaknya

“Err… Sica~ya kau sedang tidak sakit kan?”

Jessica menghentikan kegiatannya menyantap makan siangnya, ia mengernyit mendengar pertanyaan Tiffany kepadanya “Aku? Waeyo?”

“Err…kau tampak berbeda. Kau makan lumayan banyak dari biasanya porsi seorang Jung Sooyeon. Dan kuperhatikan kau tampak berisi sekarang. Ckckk…kau seperti orang hamil saja” Tiffany menggelengkan kepalanya dan kembali menyantap makanannya

Deg’ Jantung Jessica berpacu cepat. Satu kata yang dikatakan Tiffany mampu membuatnya memutar otaknya. ‘Apa mungkin?’ ani tidak…tapi hanya satu kali’ Perlahan namun pasti, keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Pantas saja nafsu makannya akhir-akhir ini meningkat namun terkadang ia juga merasa mual dan terlihat pucat.

“Fani~ya… mian, aku lupa. Aku memiliki urusan sekarang, jadi aku harus segera pergi. Mianhae aku terburu-buru, kau saja yang membayarnya” ucap Jessica sambil meletakkan lima lembar uang dimeja. Belum sempat Tiffany menjawab, Jessica sudah lebih dulu melesat pergi.

“Aish…huh”

………………

 

Air mata melaju cepat menjadi sungai kecil dipipi putihnya. Tangan kanannya menutup mulutnya, rasa tidak percayanya melihat benda persegi panjang yang berada digenggamannya menunjukkan dua garis merah. ‘I…ni.. tidak mungkin’ Jessica menggelengkan kepalanya masih merasa tidak percaya. Tubuhnya merosot kebawah dan terduduk dilantai. Tangan halus itu perlahan menyentuh perutnya yang masih rata.

‘Apa benar?’ pikiran masih menggeluti otaknya. Jessica bangkit dan segera menuju tempat tidurnya, mengambil kalender kecil dimeja sebelah tempat tidurnya. Tampak tidak ada coretan merah ditanggal bulannya dua bulan terakhir.

“I..ni..benar? eothe? Aku harus memastikannya” Dengan langkah seribu, ia mengambil tasnya dan segera berjalan menuju parkir mobil dilatar depan. Jessica segera memacu mobilnya ke Seoul Hospital.

‘Nyonya Jung, selamat anda mengandung dua bulan’

Perkataan dokter yang ditemuinya masih terngiang jelas ditelinganya. Satu rasa tak bisa ia ekspresikan, bahkan mengungkapkannya saja lidahnya terasa  kelu. Bukan karena rasa yang menohok berdasarkan luka menyakitkan, namun luka yang dirasa menyakitkan tapi membahagiakan. Jika Jessica sesali hal ‘itu’ sekarang tiada guna. Sisi lain dihatinya menebar musim semi yang lama gersang, namun sisi lain menambah kegersangan itu.

Ia takut jika Donghae tak menerima nyawa yang berada dikandungannya. Tetapi, ini anaknya? Seandainya Donghae menyuruhnya menggugurkannya apa mungkin ia tega? Tidak. Sejujurnya, ia begitu mengharapkan hal ini, tapi posisi yang membuatnya merasa ini adalah kesalahan besar.

…………………..

Hari ini, Jessica berencana memberitahukan hal ini pada Donghae. Sebenarnya ia ragu, tapi bagaimanapun juga Donghae adalah ayahnya. Ia hanya berharap, ini akan membuat Donghae berubah.

“Hae~ssi! aku ada kabar baik!” seru Jessica pada Donghae yang sedang menonton televisi, tak lupa ia membawa hasil tespack yang berada digenggamannya.

Donghae mengalihkan pandangannya dan mengangkat  alisnya “Apa?” tanyanya acuh tak acuh

“Aku hamil!!” ucap Jessica sambil mengacungkan tespacknya

“Benarkah?” Bagus jika begitu” ucap Donghae dan kembali berbalik menghadap TV

“Apa kau tidak senang?” Tanya Jessica terdengar ragu

“Untuk apa senang? Aku melakukannya dengan tidak sadar dan anak itu bukan keinginanku”

Jessica terdiam mematung. Perkataan Donghae sukses membuatnya kaget dan tak percaya. Apa sebegitu bencinya? Sebegitu tak pedulikah Donghae padanya?

Seluruh badannya terasa bergetar, mati-matian ia menahan laju air matanya yang akan segera meluncur. Sekali lagi perkataan Donghae membuat hatinya sakit. Jessica merasa ia sama sekali tidak memilikia harga diri. Tidak seharusnya Donghae mengatakan itu. Ia tahu Donghae selama ini tak sekalipun menghargainya. Namun kini? Tidak bisakah ia memberikan itu padanya? Jessica membalikan badannya dan mengusap air mata disudut matanya. Ia mencoba tersenyum dan kembali menatap Donghae.

“Apa kau tidak bekerja?”

“Aku berangkat satu jam lagi” jawab Donghae dingin

Jessica hanya menganggukkan kepalanya “Baik. Aku akan pergi dahulu”

Jessica kembali membalikkan badannya dan berjalan menuju kamarnya. Ia bersiap-siap berangkat kekantor.

*****

 

Donghae tersenyum kecut diacara keluarganya. Akhir bulan memang selalu disempatkan menjadi acara keluarga bagi Lee Family. Hanya dua kali dalam setahun, kehangatan keluarga Lee dapat disatukan. Beberapa sepupu, keponakan, teman dan relasi bisnisnya pun turut hadir dalam acara ini. Padahal hanya pertemuan yang terkesan santai, dan dengan hidangan maupun obrolan hangat yang menjadi putaran dalam hal ini.

Donghae meneguk orange juicenya dan kembali berkumpul dengan orang tua dan kakak iparnya. Lee Sunyoung’ selama ini kakak kandungnya tinggal di Amerika bersama Park Yoochun kakak iparnya dan dua keponakan kembarnya, Park Seung Ji dan Park Sun Ji.

Sedari tadi, Donghae hanya diam dan sibuk dengan memikirkan bisnisnya. Ia hanya berbicara dengan orang tuanya dan keluarga inti Lee itu. Bahkan, ia sama sekali tidak peduli dimana Jessica. Ia melirik kebangku yang berjarak dua meter darinya. Jessica ‘istrinya’ sedang berbincang dengan kakak perempuannya itu..

“Berapa usia kandunganmu Sica~ya?” Tanya Sunyoung pada Jessica

“Memasuki bulan keempat unnie”

“Jinjja? Sewaktu aku mengandung sikembar, aku tidak sepertimu Sica~ya. Kau tahu? Nafsu makanku meningkat 100%, bahkan Yoochun oppa saja hanya geleng kepala jika melihatku makan. Badanku saja bertambah lima kilo, padahal masih memasuki bulan keempat. Dan kenyataan yang membuatku bahagia juga karena ternyata aku memberi makan tiga orang sekaligus…” ucap Sunyoung panjang lebar

Jessica hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Sunyoung “Unnie, kau kan memberi makan tiga orang sedang aku? Hanya dua orang saja”

“Uhmm…nde Sica~ya. Oiya, mengapa kau tidak bersama Donghae?”

“Ah… mungkin ia sibuk melepas rindu dengan kelurga, aku hanya tidak ingin mengganggunya” jawab Jessica

“Beruntung sekali Donghae memiliki istri sepertimu. Arraseo aku mengerti” ucap Sunyoung lalu meneguk avocado juicenya

Jessica hanya tersenyum tipis

……………

Angin membawa hembusan yang berlalu. Waktu berjalan seiring rodanya takdir. Membawa hari-hari melewati setiap rasa manusia. Seperti halnya kehidupan Jessica dan Donghae. Tidak ada yang berubah dari kehidupan rumah tangga Donghae dan Jessica. Tetap dingin dan kaku menyelimuti keadaan ini. Hal ini berlalu hingga tiga bulan kedepan sejak pertemuan keluarga. Bahkan, kini Sunyoung memilih menetap di korea bersama keluarga kecilnya hanya dengan alasan ingin lebih dekat dengan adik iparnya itu.

Namun akhir ini, Donghae sering membawa kekasihnya itu pulang kerumah. Terkadang terlihat dari sorot mata Yoo Ri mengisyaratkan ketidakenakannya pada Jessica. Tapi, lagi-lagi Jessica hanya tersenyum kecut dan mencoba bersabar. Ia memang tidak tahu pasti tentang hubungan suaminya dengan wanita bernama Yoo Ri itu. Yang ia tahu Kim Yoo Ri adalah wanita yang digilai suaminya. Namun, entah kini masih berstatus sebagai kekasih atau hanya sekedar teman, sejujurnya Jessica kurang mengetahuinya.

Seperti malam ini, Jessica hanya duduk seorang diri dibangku taman belakang rumahnya. Kemarin, sudah dua hari Donghae tidak terlihat bergandengan dengan Yoo Ri. Yoo Ri’ satu nama itu membuatnya sesak. Ingin rasanya, ia berada dalam diri Yoo Ri. Menginginkan kasih sayang tulus yang diberikan Donghae. Terlebih bagi dirinya yang kini tengah mengandung anak dari Donghae.

Tangan Jessica beralih mengusap lembut perutnya yang membuncit. Kini delapan bulan sudah nyawa baru menempati rahimnya itu. Seandainya Donghae memandangnya, mungkin dia merasakan lengkapnya hal itu.

“Chagi~ya, tetaplah bersama eomma. Selalu menemani eomma dan menjadi teman eomma. Cepat lahir chagi…” Jessica tersenyum sembari menatap bintang yang berkelap-kelip. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan masuk kedalam rumah. Tepat ketika kakinya berpijak pada undakan tangga pertama, ia mendengar suara ketukan pintu.

‘Siapa yang bertamu? Apa mungkin Donghae~ssi pulang?’ batinnya

Jessica segera membukakan pintu. Ia kaget melihat Donghae yang kacau dengan aroma vodka yang menyeruak. Terlihat seseorang namja memapah tubuh Donghae.

“Eoh, Eunhyuk~ssi…ada apa dengan Donghae oppa?” Tanya Jessica mulai membantu membawa Donghae masuk. Tak lupa ia mengucapkan ‘oppa’ hanya agar terlihat seperti halnya yang ia lakukan. Bersandiwara didepan orang lain.

“Dia mabuk Jessica~ssi. Sebenarnya bukan salahnya sampai seperti ini. Aku lah yang mengajaknya ke bar dan jika seorang Donghae terkena masalah pasti akan sampai seperti ini.” Penjelasan Eunhyuk panjang lebar.

“Masalah?”

“Ne. Dia dan Yoo Ri. Kurasa kau tahu Yoo Ri kan Jessica~ssi?” Jessica mengangguk “Memang tidak mudah melepas kenangan dengan orang yang telah mengisi hari kita. Kim Yoo Ri memutuskan hubungannya dengan Donghae dengan alasan menikah dengan orang pilihan orang tuanya. Sempat tidak rela baginya, namun hidup adalah pilihan” Eunhyuk tersenyum mengakhiri ucapannya. ‘jadi ini alasan dia dan Yoo Ri tak terlihat bersama dua hari ini’ batin Jessica

“Kau pasti wanita yang kuat Jessica~ssi”

“Aku?”

“Aku percaya hanya kau lah yang bisa membuat Donghae yang dingin ini menjadi hangat diharinya. Tetaplah bersama Donghae, aku sangat menyetujui kau yang bersama Donghae. Kau wanita yang berbeda dimatanya” lanjut Eunhyuk

Jessica mengernyit heran dengan maksud perkataan Eunhyuk. Apa maksudnya? Batin Jessica.

“Aku pamit Jessica~ssi” pamit Eunhyuk seusai membantu Jessica membawa Donghae kekamar.

“Ne kahmsahamnida Eunhyuk~ssi”

Eunhyuk hanya tersenyum membalas ucapan Jessica. Ia kembali melangkah menuju mobilnya daan segera berlalu dari rumah Donghae. Jessica menutup pintu rumahnya dan segera menuju lantai dua. Berjalan menuju kamarnya.

*****

Tangannya terulur membelai wajah Donghae. Menelusuri setiap inci ciptaan Tuhan ini. Bibirnya tak lepas menuai senyum. Namun, seketika rautnya berubah sedih. Jessica sedih melihat suaminya yang terlelap ini. Tubuh Donghae demam dan membutanya khawatir. 23.00 KST’ jam dinding kamarnya menunjukkan angka itu tapi Jessica masih terjaga. Rasa kantuk sudah memasuki tubuhnya sejak tiga puluh menit lalu, tapi ia masih betah memandang wajah suaminya itu. Meski terkesan nanar dalam sorot matanya itu. Ia mulai mengedarkan pandangannya kesebelah tempat dimana Donghae terbaring. Jessica ragu menempatkan dirinya disebelah Donghae. Ia masih ingat bahwa Donghae membencinya. Ia memang membawa Donghae tidur dikamarnya, ia juga ingat bahwa Donghae sudah mewanti sejak awal agar dirinya tak menginjakkan kakinya dikamar Donghae.

Sungguh istri yang setia dan penurut. Jessica memang selalu menuruti kata Donghae. Sekalipun itu juga menyakiti dirinya namun jika Donghae bahagia ia pasti akan melakukan hal itu. Ia selalu ingin menjadi istri yang baik sekalipun Donghae tak menganggapnya. Dia memutuskan menyenderkan kepalanya dipinggiran tempat tidur dan mulai memejamkan matanya. Perlahan namun pasti, ia mulai memasuki alam mimpinya.

………………..

 

Sinar matahari mulai memasuki celah kamar Jessica. Dengan panas silau yang dipercikan mentari, membangunkan Donghae dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya pada retina matanya. Donghae merasa keningnya terdapat sesuatu. Ia mengambil itu dan mendapati handuk kecil disana. Tangan kanannya terasa tertindih sesuatu. Dalam sekejap ia mengedarakan pandangannya kesebelah kanan. Jessica’ tak butuh waktu lama bagi Donghae untuk tidak mengenali wanita itu.

Tangannya ia beranikan menyentuh surai coklat Jessica. Perlahan tangannya turun kewajah Jessica dan menelusuri lekuk wajah Jessica. Donghae mengamati wajah istrinya. Ia baru sadar, bahwa saat ini wajah Jessica amat tirus, matanya sayu dan tubuhnya kurus meski tertutup oleh kehamilannya.

‘kehamilan’ untuk beberapa saat ia mengalihkan pandangannya keperut Jessica. Seolah seperti ada tarikan magnet, ia baru menyadari bahwa Jessica tertidur dengan pinggiran kasur sebagai sandaran. Ia pun bangkit dan menggendong tubuh Jessica membaringkannya dikasur sebelahnya.

“Apa kau menungguku hingga seperti ini?” Donghae berucap lirih dan menyibakkan anak rambut Jessica yang menutupi wajah damainya. Matanya beralih memandang perut Jessica.

“Apa kau baik-baik saja?” Donghae beralih mengusap perut buncit Jessica. Sesaat, senyum miris tersungging dibibirnya.

Ia merasakannya

Merasakkan lembutnya dua nyawa yang seharusnya ia cintai

Tapi, ia malah mengabaikannya dan tak peduli dengan itu

Tak bisakah ia menyadari, jika dua orang ini membutuhkannya?

Padahal dibelakangnya, wanita dihadapannya ini begitu mencintainya

“Mianhae…” kecupan lembut mendarat dikening Jessica dan kini beralih pada perut Jessica

“Mianhae Chagi~ya” bisik Donghae diperut Jessica

 

——————————————————-

              Jessica terbangun dari tidurnya. Ia menggeliat pelan. Pandangannya beredar dan mendapati dirinya berada diatas kasur dengan selimut yang menyelimuti tubuhnya. Ia bangkit dan duduk dipinggiran tempat tidur. Kepalanya menengok kesebelah kirinya. ‘kosong’ namun tak lama senyum kecil menghiasi paginya. Terdengar decitan pintu dan mampu mengalihkan Jessica kearah sumber suara. Namja jangkung bermata sipit yang tak lain adalah suaminya itu berada disana.

“Lain kali jangan menungguku dengan tidur seperti itu. Badanmu bisa sakit” ucap Donghae dingin

“N…ne Hae~ssi” hanya jawaban singkat yang diucap Jessica. Lalu, Donghae berlalu dari kamarnya. Ia hanya bisa tersenyum kecil. Meskipun bukan seberapa tapi ia merasa Donghae mengkhawatirkannya. Masa bodoh dengan hal itu. Ia sungguh merasa senang kali ini. Jessica berdiri dan melangkah menuju kamar mandi guna membasuh tubuhnya.

………………….

Hal terindah walaupun kecil tapi dapat saja menjadi bingkai kenangan manis yang selalu terbayang. Senyum dan senyum tak luput dari bibirnya ditambah dengan wajahnya yang cerah dari biasanya. Seakan melupakan setumpuk data didepannya itu. Jessica bangkit dari kursi kerjanya menuju balkon ruangannya itu. Ia memandang jalanan kota Seoul. Hiruk pikuk manusia memenuhi jalanan itu.

“Jessica Lee are you okay? Kau terlihat buruk hari ini” suara lenting seorang yeoja yang dikenalnya mampu mengalihkan pandangannya. Didapatinya Tiffany ‘sahabatnya’ itu berdiri sambil menekuk tangannya didepan dada.

“Tiffany…. Sudah kukatakan berkali-kali agar kau mengetuk pintunya” jawab Jessica sinis

“Huhh… itu lebih baik daripada dirimu. Sedari tadi tersenyum tak jelas”

“Karena aku sedang bahagia”

“Mwoo? Yak, ceritakan padaku. Apa menyangkut hubunganmu dengan Donghae?” tebak Tiffany antusias

Tiffany memang mengetahui peristiwa yang dialami sahabatnya. Sekalipun itu tidak sampai akarnya karena ia tahu Jessica itu tidak semudah berbicara jika menyangkut hal yang masih privasinya. Tiffany tahu akan pernikahan perjodohan sahabatnya itu dan tahu jika Donghae tidak mencintai Jessica.

“Maybe” jawab Jessica yang menurut Tiffany masih ‘misterius’

“Aish…kau kembali pada tabiat awalmu. Yasudah. Bagaimana jika aku mengajakmu ke taman, mungkin es cream musim panas cocok untuk sekarang”

“Sama sepertimu Fany. Kembali pada tabiat awalmu. Jika sudah kemari pasti kau akan mengajakku kesuatu tempat.”

*****

Jessica dan Tiffany berada disalah satu taman didekat sungai Han. Mereka duduk dibangku dekat pohon rindang.

“Sica~ya…aku mau membeli es cream dulu. Kau mau rasa apa?”

“Sepertinya calon keponakanmu meminta vanilla”

“Uwoo… baiklah ahjumma akan membelikannya” ucap Tiffany dan melenggang pergi menuju tukang es cream didekat permainan anak yang tak jauh dari tempat Jessica dan ia duduk.

~Jessica POV~

Akh…nyaman sekali berada disini. Sepertinya usul Tiffany selalu benar. Sangat pandai memilih tempat.

“Sica~ya…aku mau membeli es cream dulu. Kau mau rasa apa?” suara Tiffany menawarkan ketika kami baru sampai dan duduk sejenak. Terlihat aku berpikir dan kuelus perutku.  “Sepertinya calon keponakanmu meminta vanilla”

“Uwoo… baiklah ahjumma akan membelikannya” Tiffany pergi dan menuju tukang es cream.

Kini aku sendiri menikmati pemandangan yang disuguhkan Sungai Han disini. Sembari aku menunggu Tiffany kembali dan membawa es cream pesananku.

Kuedarkan pandanganku mengitari taman ini. Pandanganku berhenti tepat pada seseorang yang tak jauh dariku. Orang itu bersama dengan ‘Kim Yoo Ri’

Entah mengapa kali ini rasa sakit membelah dadaku. Melihat Donghae dengan Yoo Ri memang sudah tidak biasa namun kali ini? Entahlah rasanya ingin aku menarik Donghae menjauh dari Yoo Ri.terlihat mereka sedang berbincang dan sesuatu yang membuat air mataku meluncur harus kulihat dengan mata kepalaku sendiri.

Kulihat Donghae mulai menangkap diriku yang mulai menitikkan air mata. Secepatnya ku alihkan pandanganku kearah lain dan kuusap kasar air mataku.

“Sica~ya ini es creammu” Tiffany datang membawa es cream dimasing-masing tangannya.

“Jessica Lee kau habis menangis?” tanyanya yang menyadari air mata disudut mataku. Kugelengkan kepalaku  dan berkata “Aku baik-baik saja. Sudahlah, Fany~ya bisakah kita pergi dari sini? Sepertinya keponakanmu ingin pergi ke tempat lain” alasanku pada Tiffany. Cepat-cepat aku bangkit dan menarik tangan Tiffany pergi dari sini. Untung saja Tiffany tidak mengetahui hal itu. Jika ia tahu bisa kupastikan ia akan mengeluarkan emosinya itu. Meski rasa sakit itu masih hingga aku berada dimobil Fany. Sedari tadi aku hanya diam dan menatap luar jendela mobil. Aku tahu Tiffany masih bertanya-tanya namun ia sudah tahu jika aku membutuhkan waktu untuk saat ini.

~Jessica POV end~

~Donghae POV~

Aku terdiam ditempatku. Apa yang dilakukan Yoo Ri? Tak kusengaja aku menangkap pandangan seseorang yang terarah kepada kami. Jessica’ secepat kilat kuhentikan hal bodoh ini. Kulihat air mata meluncur dari matanya. Ia cepat-cepat membalikkan badannya menghindari tatapanku. Kau bodoh Lee Donghae!!

“Oppa…mian, aku tak bermaksud…aku hanya ingin ini menjadi ciuman pepisahan kita” suara Yoo Ri mengalihkan tatapanku pada Jessica

“Kauuuu…. Bukan seperti ini caranya. Kau membuatku salah paham dengan Jessica” ucapku tajam padanya.

Kulihat Yoo Ri mengalihkan pandangannya dimana aku menatap Jessica.

“Oo..oppa… aku tak bermaksud..aku hanya..”

“Aku tahu Kim Yoo Ri. Tapi Jessica..Argghhtt” teriakku frustasi. Kuusap wajahku dengan kedua tanganku. Aku tak bisa membayangkan.

Aku bangkit dari dudukku dan melangkah menuju mobilku. Sebelum aku melangkah Yoo Ri menghentikanku dengan ucapannya.

“mianhae… oppa…kuharap kau bisa menyayangi Jessica sepenuh hatimu. Jujur aku merasa bersalah padanya”

Aku terdiam. Benar. Aku juga sama seperti Yoo Ri, selalu menyakiti Jessica.

“Itu pasti. Aku akan memberikannya kepada Jessica”

“Terimakasih oppa…aku lega melepasmu jika kau bahagia” Kubalikkan badanku dan tersenyum kepadanya. Ternyata mantan kekasihku sudah dewasa. Adik kecilku ini bisa meraih kebahagiaannya sendiri sekarang.

“Kau juga. Berbahagialah. Kau akan merasakannya itu pasti.” Kulihat Yoo Ri ikut tersenyum

“Kejarlah… dan cari moment indahmu oppa..” kuanggukkan kepalaku dan bergegas pergi menuju mobilku terparkir.

~Donghae POV end~

*****

Kejadian itu. Mengapa harus seperti ini? Jessica memegang dadanya yang terasa sakit. Bulir air matanya menetes deras. Tak ia hiraukan mata sipitnya yang sembab. Ia merasa hancur melihatnya. Entah mengapa rasa itu muncul dan memintanya mengeluarkan segala emosinya. Jessica menatap langit-langit kamarnya seolah meminta jalan yang harus ia lalui. Hanya satu. Ia harus melakukannya

……………….

Donghae melepas dasinya dan melemparkannya sembarang arah. Ia melonggarkan dasi yang mencekik lehernya untuk beberapa jam ini. Ia duduk dikursi kerjanya sembari memijit pelan pelipisnya. Sungguh ia tidak bisa berkonsentrasi sedikitpun. Rapat tadi sama sekali tak membuatnya melupakan Jessica. Bahkan, ia harus mengambil hari berikutnya untuk mengambil keputusan rapat. Jessica’ ia…wanita itu. Wanita yang diam-diam masuk dalam kehidupannya. Wanita yang sudah mulai merasuki seluruh ruang hatinya. Tiga hari ini ia sama sekali  tak melihat batang hidung istrinya itu. Tugas kantor yang banyak dan waktu yang selalu menyeretnya masuk dalam bisnisnya membuat Donghae tidak bisa meluruskan hal tiga hari lalu. Insiden ciumannya dengan Yoo Ri.

Sebenaranya waktu itu Donghae dimintai Yoo Ri untuk bertemu ditaman. Yoo Ri mengatakan ingin mengucapkan perpisahan dengan Donghae. Ya, itu benar namun Yoo Ri meminta ia menciumnya. Bukan karena ciuman cinta seperti biasa namun ciuman yang mungkin disebut ciuman perpisahan. Tak disangkanya itu membuat salah paham antara ia dan Jessica. Ia tahu dari sorot mata wanita itu bahwa wanita itu tersakiti karenanya. Mengingat hal itu membuat Donghae kembali diselimuti rasa bersalah. Ia mengambil kertas didalam amplop coklat itu dan menyobeknya menjadi bagian kecil.

‘Surat Cerai’. Jessica …ya, Jessica mengirimi surat cerai untuknya melalui pengacaranya. Shock dan kaget menjadi satu ketika Donghae menerima surat itu dua hari lalu. Sehari setelah insiden itu, ia kembali harus mengalami masalah. Tidak. Ia tidak akan menceraikan Jessica. Sampai kapanpun. Pikiran dan batinnya menolak keras hal itu.

‘Drrtttt’ dering ponselnya membangunkan Donghae dari pikirannya. Tanpa melihat siapa yang menelepon ia langsung menekan tombol hijau itu. Sejujurnya ia sedang tidak mood berbicara dengan siapapun untuk kali ini. Ia begitu pusing memikirkan maslah hatinya.

“Yeobseo”

“Yeobseo Hae~ya… kau harus cepat pulang” suara panik wanita yang dikenalinya membuatnya mengerutkan keningnya.

“Eomma… Waeyo?”

“Jessica…istrimu pingsan”

“Mwoo? Aku akan segera pulang”

‘Klik’ Donghae memutuskan sambungan teleponnya dengan panik. Tanpa pikir panjang ia bergegas menuju parkiran mobilnya. Disepanjang jalan ia tak menghiraukan raut heran para pegawainya. Yang dalam pikirannya saat ini adalah satu nama ‘Jessica’.

Donghae memacu mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia panic. Sangat panic pada kondisi Jessica. Memasuki pelataran rumahnya, ia memakirkan mobilnya dan bergegas menuju kamar Jessica.

“Eomma….Jessica…” ucap Donghae sesampainya dikamar Jessica. Ia melihat Ibu dan kakaknya serta seorang dokter juga berada disana.

“Nyonya muda hanya kelelahan. Ini dampak dari berbagai pikiran, kelelahan kerja dan tekanan batin yang membuatnya seperti ini. Saya sarankan agar menjaga emosi dan perasaan nyonya muda. Karena jika terus berlanjut takut membuat kandungannya menjadi lemah. Apalagi usia kandungan nyonya muda hampir memasuki bulan lahir” ucap Dokter Han panjang lebar. Dokter Han adalah dokter pribadi keluarga Lee. (readers, jujur ini author ngarang)

“Ne khamsahamnida Dokter Han.” ucap Sunyoung pada Dokter Han

“Saya permisi Nyonya Lee” ucap Dokter Han lalu membungukan badan

“Mari saya antar Dokter” jawab Sunyoung.

Sunyoung dan Nyonya Lee lalu mengantar Dokter Han kedepan rumah. Kini diruangan itu hanya ada Donghae dan Jessica yang masih belum sadarkan diri.

“Mianhae… ini salahku. Salahku membuatmu seperti ini” lirih Donghae menggenggam tangan Jessica.

“Hei…anak nakal. Kau seharusnya memperhatikan keadaan istrimu.” Suara Sunyoung membuat Donghae menatap kakaknya itu.

“Hae~ya apa perlu eomma cutikan kau supaya menemani Jessica?” sahut Choi Sooyoung’ eomma Donghae pada anaknya.

“Appa pasti setuju. Memang seharusnya kau mengambil cuti dan menemani Jessica sampai melahirkan. Bukan harus selalu berkutat dengan gunung kertasmu” timpal Sunyoung menyetujui omongan ibunya.

“Ya…ucapan Sunyoung ada benarnya. Biarkan nanti eomma membicarakannya dengan appamu.”

Donghae hanya mengangguk setuju pada ucapan ibu dan kakaknya. ‘mungkin ini ide yang baik’ batinnya

*****

Tak pernah sekalipun dibayangkan oleh Jessica saat ini. Dengan lembutnya tatapan Donghae padanya kini. Biasanya hanya tatapan dingin yang diberikan Donghae. Ia memegangi kepalanya pening. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya. Dan secepat kilat otaknya mencerna kejadian sebelumnya. Ia merasa pusing dan pada akhirnya pingsan.

“kau sudah sadar?” suar bass Donghae mengalihkan pandangannya tertuju pada Donghae.

“Hae~ssi…memangnya ada apa denganku?”

“kau tertidur lama sekali, setengah hari kau memejamkan matamu. Dan sebelumnya kau pingsan” Jessica kaget dengan ucapan Donghae. Bukan karena hal yang dilontarkan Donghae namun karena baru kali ini Donghae bicara dengan lembutnya dan sedikit panjang kepadanya. Biasanya hanya ucapan singkat dan suara acuh yang diucapkan.

“Mengapa kau masih memaksakan dirimu? Kau terlalu lelah bekerja dan banyak pikiran. Juga tekanan batin yang membuatmu seperti ini. Mianhae, ini karenaku” lanjut Donghae

“Uh.mm.. mianhae Donghae~ssi jika aku merepotkanmu. Aku tidakk..”

‘Stttt’ belum sempat Jessica melanjutkan ucapannya, bibirnya terhenti kerena telunjuk Donghae

“Jangan panggil aku dengan embel-embel ssi. Mulai sekarang panggil aku oppa” Jessica melebarkan matanya dengan ucapan Donghae. Apa ia salah bicara? Atau ia salah dengar?

“Jung Sooyeon. Mengapa kau lakukan hal itu?” alis Jessica mengkerut pertanda belum mengerti maksud ucapan Donghae, tapi dalam detik berikutnya ia tahu apa dan kemana arah pembicaraan Donghae.

“Mian… aku hanya berpikir ada baiknya kita berpisah” ucap Jessica lalu menundukkan kepalanya.

“Kau bilang sebaiknya berpisah? Tapi itu terrlambat!! Kau tidak bisa melakukan itu. Ada ikatan kita disini” balas Donghae sembari menyentuh perut Jessica membuatnya terlonjak kaget. Detik berikutnya bayangan tiga hari yang lalu tiba-tiba menyeruak masuk kedalam otaknya.

“Tapi…kau tahu aku lelah. Aku lelah dengan semua ini. Lebih baik kita memang berpisah, pada awalnya aku yakin kau akan berubah entah itu kapan waktunya. Namun, bagaimana dengan kejadian tiga hari lalu? Dengan mata kepalaku sendiri aku melihatmu mencium mesra Kim Yoo Ri. Mungkin aku bisa mengerti dengan semua hal yang kau lakukaan semenjak aku menjadi istrimu. Aku berusaha terus mempercayaimu, mempercayai suatu saat kau berubah namun nyatanya setelah itu kau torehkan hal itu kembali. Aku lelah, kesabraanku mencapai puncaknya… aku lelah aku lelah…” tangis Jessica pilu meluapkan emosinya.

Tiga hari yang lalu, kejadian ditaman yang tidak sengaja dilihatnya membuatnya sakit dalam hatinya. Ia melihat dengan sendirinya Donghae dan Yoo Ri berciuman mesra. Mungkin kebersamaan mereka selalu membuatnya sakit. Tapi disaat ia mencoba menguatkan hatinya kembali, bagai serangan mendadak menimpa jantungnya.

“Mianhae…aku bisa jelaskan hal itu. Tapi tolong jangan memintaku melepasmu” Donghae merengkuh tubuh Jessica kedalam dekapannya. Setelah terlihat tenang, ia melepaskan pelukannya dan memandang wajah istrinya.

“Aku tak bermaksud melakukan itu. Itu hanyalah ciuman perpisahan. Awalnya aku menolak namun Yoo Ri secara tiba-tiba membungkam bibirku. Aku tak bisa menolaknya. Kau tahu mengapa aku memutus hubunganku? Selain karena Yoo Ri akan menikah itu juga beralaskan karenamu.”

“Ka…karenaku? Sungguh hae~ssi aku tidak apa-apa. Aku juga tidak akan mengganggumu” Jessica bengkit dan mulai melangkahkan kakinya. Tapi sebuah tangan menahan laju langkahnya. Menjatuhkan tubuhnya ke pangkuan suaminya.

“Ne, Kami sadari kami memiliki takdir yang berbeda. Semudah itukah? Jika benar pasti kubiarkan kau pergi.”

“Pasti mudah bagimu. Aku hanyalah penghalang kalian. Mungkin sebaiknya aku yang melepasmu, aku memang tidak bisa memilikimu namun masih ada belahan darimu yang kumiliki” Jessica kemabali menundukkan kepalanya. Ia tak bisa. Tak bisa harus menatap Donghae. Ia akan mencoba mencari kebahagiaannya sendiri. Dan pikirannya berkata sebaiknya itulah jalan yang ditempuh.

“Tapi dia juga membutuhkanku. Aku ayahnya sica.” Donghae menggenggam erat tangan Jessica dan tangan sebelahnya menarik pinggang Jessica untuk memeluknya.

“Aku merelakanmu. Aku melepasmu” suara lirih Jessica membuat bulir air mata menggenang dipelupuk mata Donghae.

“Tidak Sica!! Kau tidak akan bisa. Bukan kau yang melepasku, Yoo Ri sudah melepasku dan aku akan mencari kebahagiaanku sendiri. Kebahagiaanku adalah dirimu”

“Kau bohong… kau bohong…” tangis Jessica semakin deras. Sama halnya dengan Jessica, Donghae juga menangis. Mereka berdua tenggelam dalam balutan tangis yang menyakitkan.

Sepuluh menit mereka sama-sama meluapkan air mata, tangis Jessica yang deras berganti menjadi tangis kecil. Isakannya hanya terdengar lirih. Donghae menarik dagu wanitanya itu agar tatapan mereka bertemu.

“Tatap aku Sica…” Jessica menatap Donghae dengan mata yang masih berkaca-kaca.

“Apa aku terlihat bohong dimatamu? Apa aku terlihat bermain-main dengan ucapanku?” Tidak!! Hati Jessica berteriak mengatakan itu. Ia tahu, ia mengerti. Mata itu tak berbohong, mata itu serius dengan ucapannya. Namun, Jessica hanya bisa terdiam.

“Aku memang bodoh Sica. Aku bodoh menyia-nyiakan wanita sepertimu. Aku salah dengan perilakuku. Aku bukan suami yang baik untukmu. Mianhae, atas semuanya. Mungkin memang tidak pantas aku mengucapkannya. Tapi…saranghe… tanpa kusadari kau sudah menggeser semua hal dihatiku. Hanya kaulah yang selalu bersinar disana” ucap Donghae. Jessica tidak percaya dengan ucapan Donghae. Apakah semuanya telah berlalu? Akankah kesabarannya menuai panen? Apakah ini benar nyata?

Tangan Jessica terulur menyentuh wajah pria dihadapannya itu. Wajahnya yang sendu membuatnya bertambah nanar.

“Mianhae…” lirih Donghae. Jessica menggelengkan kepalanya.

“Aku sudah memaafkanmu” Jessica tersenyum disela mata yang berkaca. Donghae menatap lembut Jessica. Perlahan wajah Donghae mendekat dan detik berikutnya bibir mereka menyatu. Jessica yang awalnya diam mulai membalas ciuman Donghae. Tangannya mengalung dileher Donghae. Donghae menarik tengkuk Jessica memperdalam ciumannya.

Mereka melepas kontak itu dan mengambil nafas sejenak. Donghae menjatuhkan tubuh Jessica ketempat tidur.

“Mulai sekarang tak akan kubiarkan ini sakit karenaku” Donghae kemudian mencium air mata Jessica, kedua kelopak mata Jessica, kening, hidung, pipi, dan bibir Jessica.

Donghae menyibakkan anak rambut Jessica seraya tersenyum lembut. Jessica juga tersenyum melihatnya.

“Chagi~ya…mianhae, karena appamu…eomma dan kau selalu menagis” Donghae beralih berbisik dan mengecup perut Jessica. Ditatapnya kembali Jessica, kembali bibir mereka menyatu lembut.

Entah siapa yang memulai. Tangan Donghae kini masuk kedalam dress coklat yang dikenakan Jessica dan mengusap lembut perut dan punggung Jessica.

“Hae….” Aktivitas mereka terhenti oleh Jessica.

“Waeyo yeobo?”

“Aku…sedang hamil..”

“Aku melakukannya dengan pelan”

Dan kini mereka berada pada aktivitas yang sempat tertunda

*****

Jessica memejamkan matanya merasakan suasana bahagia yang menyiramnya. Menikmati sapuan bahagia itu. Meresapi indahnya sesuatu yang selama ini diinginkannya. Dibalkon rumahnya ini para bintang seolah memberikan tawa kecilnya dengan kerlap-kerlip dan bulan member senyumnya yang terlihat terang dimalam ini.

Sebuah tangan hangat memeluknya dari belakang. Jessica membuka matanya dan tersenyum. Jessica menggenggam tangan Donghae yang melingkar diperutnya.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Aku hanya menikmati angin”

Untuk beberapa saat mereka terdiam. Atmosfer keheningan namun bahagia itu menyelubungi sepasang suami istri ini.

“Gomawo kau telah membuatku tersadar. Gomawo telah mencintaiku. Gomawo kau memberiku hadiah yang terindah. Aku mencintaimu…” ucap Donghae sembari mengelus perut Jessica.

“Aku tidak pernah melakukan apapun. Takdir yang menggariskan kita bersama. Kau dan anak kita adalah sumber semuanya” jawab Jessica

“Ya…kau dan anak kita. Mianhae, jika dulu aku tak mengharapkan anak ini. Aku salah”

“Kau tidak perlu merasa bersalah. Semua sudah tersurat.”

Wanita mana yang akan mengucapkan hal seperti ini? Memang hati putih tanpa noda mengibaratkan hati seorang seperti dirimu. Donghae membatin sambil tersenyum.

Dilema hanya sebuah penghambat dimana mengharuskan seseorang memilih. Arus sungai yang menekuk tajam selalu menjadi perangainya. Sebuah air yang terisi didalamnya akan membawanya menuju hilir. Entah dimana letaknya, namun pasti menuju pusat takdir yang mengharuskan dilalui.

Mereka menikmati kebersamaan disaksikan sang rembulan dan suasana malam ditengah padatnya kota Seoul.

Cengkraman Jessica semakin kuat membuat Donghae merasa bingung.

“Chagi~ya kau tak apa?”

“O..oppa…perutku sakit…”

“Jinjjayo?” Donghae membalikkan badan Jessica. Ia melihat gurat sakit diwajah Jessica yang kini menjadi pucat pasi.

“Apa kau akan melahirkan Chagi? Kita harus ke Rumah Sakit” Donghae segera menggendong Jessica ala bridal style.

Mereka menuju Seoul Hospital. Sesampainya disana, Jessica dibawa ke ruang bersalin dan dengan setia Donghae terus menemani dan menyemangatinya. ‘Kau bisa chagi’ bisik Donghae. Selama kurang lebih satu jam Jessica meregang nyawa dan dengan segenap perjuangannya itu, akhirnya tangisan bayi menggema diruangan ini. Mereka sama-sama terharu atas hadirnya malaikat kecil yang berjenis kelamin laki-laki itu. Mereka berdua menangis bahagia.

…………………

Setelah bersalin, Jessica dipindahkan ke ruang rawat. Jessica tersenyum seraya membelai pipi mungil malaikat kecilnya itu. Donghae sangat bahagia. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang menyiratkan kenahagiaan tiada tanding.

“Oppa…kau mau memberi nama siapa anak ini?” Tanya Jessica tanpa mengalihkan pandangannya dari putranya.

“Lee Joon Hae. Kurasa itu nama yang baik”

“Lee Joon Hae’ Chagi~ya sekarang namamu adalah Lee Joon Hae”

Mereka berdua tersenyum memandang putranya. Joon Hae mengedipkan matanya lucu. Bayi ini tersenyum ketika mendengar nama yang diberikan orang tuanya kepadanya. Seolah mengerti dengan kebahagiaan yang tengah menyelimutinya.

“Uri saengi….chukkaeyo… sekarang menjadi eomma” tiba-tiba pintu terbuka. Terlihat kedua orang tua Jessica dan Donghae serta Sunyoung dan suaminya.

“Gomawo noona… dan kau kapan mau menambah?” goda Donghae pada Sunyoung. Jessica menyikut lengan Donghae yang kini hanya tertawa kecil.

Pipi Sunyoung bersemu merah. “Yaakk…Seung Ji dan Sun Ji masih balita.” Sunyoung menatap horror sang adik. Seisi ruangan dibuat tertawa oleh tingkah Sunyoung.

 

*****

‘I have a wish. And now…. Aku bisa merasakannya. Terimakasih pelita hidupku’ -Jessica-

‘In my memory…. Just you, not over. Now and forever I’ll promise. Cahaya istimewaku dalam hidupku’ -Donghae-

FIN

Hwaaa..akhirnya kelar juga. Eothe readers? Sebelumnya… Sedikit tentangku, aku adalah lovers SuGen couple, MinJi dan banyak lagi. (gk bisa nyebutin =)) dan aku adalah seorang Sparkyu, sangat menyukai all about Kyuhyun ‘magnae SJ’ yang tampan ini. Aku seorang SMF (SMFamiliers), Nah ini ff haesicaku yang pertama. Ini tadinya mw aku jadiin twoshoot karena panjang tapi aku jadiin longshoot. Ada versi twoshootnya, sama Cuma dipotong aja. Bagi kalian yang mau twoshootnya juga bisa, tapi koment nde. Klo smpet nanti aku posting. oiya, mohon RCLnya nde? Dan bagi kalian yang mau berteman sama aku bisa kok follow twittku xeanthy_widjaja. And see you next fanfict ^^

17 thoughts on “[FF Freelance] Dark Light and Waiting A Love

  1. Setelah sekian lama jadi sugenshipper,
    jujur aja smenjak popularitas sugen udah meredup gara2 ketutup couple2 lain google jadi lack of good sugen fiction stock
    Susah banget nyari ff yg bagus dan castnya sesuai harapan
    Ff haesica aja skg udh super jarang
    But fortunately, today i’ve found one and it was good
    Bahasanya enak, castnya sesuai harapan
    Saran satu hal aja, mungkin ada baiknya klo covernya dibuat lebih menarik biar reader lebih minat baca
    O ya numpang promosi juga, aku juga lagi nulis ff sugen, tapi main couplenya yetae sih, tapi side couplenya haesica
    Klo berminat baca + komen di autumn, blossom of love ya heheheheh

  2. akhirnya ada lg ff haesica yg cukup ngena dihati. hati sica yg putih (?) bener2 akhirnya bisa bikin luluh hae. bikin tersentuh :”)
    aku jg sugen shipper, tp bias couple ku haesica+kyuyoung .___.v makanya agak sedikit kaget disini ada soo tp sama ming hhaha. tp ya sdh lah

  3. Keren bgt!! Sumpah! Jujur! Gak munafik! Bagus bgt! Fanfic nya. Happy Ending.🙂 Thor buat lagi donk ff HaeSica yang kaya gini. Kalo perlu buat SiFany version.🙂 Terima Kasih

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s