NO MORE YOU

No More You [2] - A Kwon

Credit : A Kwon

No More You

By. Rebecca Lee

Main : Choi Seunghyun, Kwon Jiyoung | Support : Lee Seungri | Angst, Thriller | PG-16 | Warning! : Blood scene | OneShot

Disclaimer : Everything in this story is mine except cast. Just borrow their name.

[ Me Talk ]

Fiksi pertamaku yang mengambil tema thriller juga dengan cast GDTOP. Sedikit ada bumbu YAOI di tengah cerita and that’s all. Hope you enjoyed!

[R-L]

Peluh membanjiri sekujur tubuhnya, beranak pinak melalui celah pori-porinya. Terjebak. Tak ada lagi jalan keluar yang bisa ia tempuh. Malaikat kegelapan itu datang dalam wujud orang terkasihnya. Tubuh yang kini berdiri di hadapannya tak lagi dikuasai oleh sang pemilik, melainkan oleh sesosok iblis yang marah dan tak terkendali.

Choi Seunghyun duduk berlutut dengan kedua tangannya terikat rantai di belakang tubuhnya. Wajah tampannya tak lagi sempurna, dipenuhi luka memar, luka gores dan darah kering yang bercampur dengan keringat yang tak berhenti mengalir. Bagian depan kemeja putihnya ternoda dengan jejak-jejak darahnya sendiri. Kondisi yang begitu menyedihkan untuk dilihat.

“Ji…” Seunghyun bersuara parau. Terdengar jelas namja itu berjuang keras hanya untuk mengeluarkan suara dari batang tenggorokannya yang sudah beberapa hari tak dilewati aspuan makanan ataupun minuman.

BUKK!!!

Dan seketika itu tubuh Seunghyun limbung ke lantai. Tak ada lagi jerit kesakitan yang keluar dari mulutnya ketika tongkat baseball itu menghantam perutnya keras. Tak ada lagi tenaga untuk melawan. Hanya wajahnya yang sanggup mengatakan betapa sakitnya pukulan itu melalui kerut-kerut tabf terbentuk di dahinya. Tersiksa.

“Bagaimana? Sudah cukup?” dengan mudah namja yang bertubuh lebih kecil itu mengangkat tubuh lemah Seunghyun melalui cengkeraman kedua tangannya di kerah kemeja Seunghyun.

“Kau gila, Ji. Kumohon hentikan semua ini,” Seunghyun memohon dengan sangat. Ia sudah terlalu lelah dengan deraan yang ia dapatkan. Ia lelah terlalu lama terkurung di ruang pengap yang tak jelas di mana tempatnya. Ia nyaris jatuh dalam frustasi.

“Apa? Hentikan kau bilang? Sayangnya aku bahkan belum cukup puas, Hyung,” Jiyoung melempar tubuh Seunghyun kembali kemudian berjalan mengitarinya dengan langkah penuh kekejaman.

“Bermainlah denganku beberapa lama lagi. Temani aku sampai aku senang, Hyung,” Jiyoung berjongkok di depan Seunghyun dan mencengkeram rahangnya. Menatap tepat di manik kelam itu dengan kilatan jahat.

Cuihh!!!

Seunghyun meludah tepat di wajah dongsaengnya. Ia sudah terlalu muak diperlakukan hina oleh Jiyoung. Ia muak terus menjadi sasaran siksaan tanpa ampun leadernya sendiri. Ia lelah, jenuh dengan segalanya. Dan dengan segenap kekuatan yang tersiksa ia melakukan perlawanan yang mungkin untuk terakhir kalinya.

Gomawo, Hyung. Ku anggap yang kau lakukan barusan ada persetujuanmu. Kita mulai permainannya sekarang!”

Dengan jahat Jiyoung kembali membanting tubuh Seunghyun ke lantai. Ia berdiri dan menghapus bekas ludah Seunghyun di wajahnya. Diambilnya kembali tongkat baseball yang tergeletak di samping kaki kirinya. Dua kali Jiyoung mengayukan tongkatnya dan Seunghyun memalingkan wajahnya bersiap menahan rasa sakit.

Satu. Dua. Tiga

Bertubi-tubi Jiyoung menyarangkan pukulan di tiap bagian tubuh Seunghyun tanpa terkecuali. Semakin lama ia semakin liar dan pukulan demi pukulannya semakin bertenaga. Sementara Jiyoung semakin menggila, Seunghyun hanya sanggup meringkuk atau berguling. Mulutnya terbuka namun tanpa suara, matanya terpejam begitu erat dan membentuk semakin banyak kerut di dahinya. Mati-matian menahan sakit yang semakin bertambah di seluruh sistem tubuhnya.

BUAGGHH!!!

Pukulan terakhir dan Jiyoung mengarahkannya tepat di bagian tulang belakang. Sangat keras hingga membuat tubuh Seunghyun melengkuk ke belakang sebelum ambruk kembali mencium lantai. Lalu keduanya diam, hanya terdengar buruan napas cepat yang berasal dari dua mulut di dalam ruangan yang hanya diterangi temaram cahaya bohlam.

“Kau… apa… sudah… puas.?” susah payah Seunghyun berucap. Rasa nyeri menusuk menyambar dada kanannya dan ia tahu satu lagi tulang rusuknya telah patah.

Jiyoung menyeringai. Ditunjukannya deretan gigi putih yang  berjejer rapi pada Seunghyun yang balik menatapnya jijik. Ia menggeleng pelan.

“Cepat selesaikan semuanya, kau keparat!” seru Seunghyun penuh. Ia telah benar-benar kehilangan semua harapannya.

“Jangan siksa aku lebih lama lagi. Uhuk…” seketika itu juga gumpalan cairan pekat berwarna merah Seunghyun muntahkan dalam jumlah banyak. Melihat itu seringaian Jiyoung bertambah lebar.

“Tahanlah sedikit lagi. Kau hanya perlu sedikit lagi kesabaran,” Jiyoung melemparkan tongkat baseball di tangannya dan kembali berjongkok di depan Seunghyun. Namja dengan rambut platinum blonde itu lagi-lagi mencengkeram kuat rahang Seunghhyun. Ia dekatkan wajahnya dan menjilat sisa darah segar yang baru saja melewati rahang tegas Seunghyun. Jiyoung tersenyum.

“Kau manis, Hyung. Benar-benar manis. Aku lebih menyukaimu seperti ini. Kau jauh lebih menggoda seperti ini,” kembali Jiyoung menikmati darah segar di sekitar bibir Seunghyun.

Tanpa Seunghyun duga Jiyoung menyambar bibirnya. Melumat keras daging kenyal yang berlumuran darah dengan begitu nikmatnya. Bahkan Jiyoung sengaja menggigit bibir Seunghyun dengan keras hingga terluka dan semakin banyak darah yang keluar.  Membuat Jiyoung semakin berhasrat untuk memuaskan diri. Tak terkendalikan dan benar-benar liar.

Sementara itu Seunghyun hanya terdiam tanpa daya. Bukannya ia tak ingin melawan, tapi memang tak ada lagi tenaga yang sanggup ia keluarkan untuk melawan. Sakit di sekujur tubuhnya dan rasa jijik pada bibirnya. Namja itu hanya mampu menutup  matadan dengan pasrah mengikuti permainan keji seorang Kwon Jiyoung.

Makin lama ciuman Jiyoung semakin kuat dan dalam. Jiyoung bahkan sukses mengeksplor rongga mulut Seunghyun dengan panas dan mulai menyentuh tiap inci tubuh yang telah penuh luka itu. Seunghyun semakin erat menutup matanya menahan kenikmatan yang mulai mengaliri pembuluh darahnya, ia menolak untuk jatuh dalam sensasi yang membuatnya merasa semakin jijik. Ia tak mau kalah atau setidaknya berusaha untuk tidak kalah dengan perlakuan Jiyoung kali ini. Tetapi semakin Seunghyun mencoba bertahan ia semakin merasa sakit. Setetes noktah bening kemudian mengaliri wajahnya.

Ulljima, Hyung. Ulljima,” Jiyoung melepas ciumannya. Entah apa yang telah terjadi namun secara ajaib Jiyoung terlihat baik. Ucapannya barusan terdengar begitu lembut dan tatapan jahatnya kini berganti dengan iba. Ia  bahkan menghapus air mata Seunghyun dengan segenap perasaan.

“Ji… kau…?” Seunghyun menatap dongsaengnya tak percaya.

Jiyoung mengangguk.

Mianhae. Jeongmal mianhae, Hyung,” ucap Jiyoung dengan ekspresi penuh penyesalan.

Dengan perlahan Jiyoung menarik perlahan tubuh Seunghyun untuk memeluknya. Ia merengkuh tubuh tanpa daya itu untuk memberikan sedikit kehangatan. Sebuah pelukan yang membuat Seunghyun melupakan semuanya dan memilih percaya. Tidak peduli jika sikap Jiyoung ini hanyalah sebuah tipuan yang akan membawanya pada sebuah akhir yang ia nanti.

“Sekali lagi aku minta maaf, Hyung. Aku menyesal telah melakukan semua ini padamu. Kau berhak membenciku seumur hidupmu jika kau mau,” ucap Jiyoung sambil memeluk Seunghyun. Wajahnya kembali berkilat jahat.

JLEBB!!!

Seunghyun tentu saja tak menyadarinya saat pisau itu terhunus tepat di ulu hatinya. Jiyoung melepas pelukannya begitu saja dan membiarkan tubuh Seunghyun jatuh berdebum. Darah segar mengucur deras dari perut Seunghyun juga mulutnya yang mulai memuntahkan lebih banyak darah dari sebelumnya. Namja tampan itu meregang nyawa.

“Kau bodoh Choi Seunghyun,” Jiyoung berdiri memandang rendah tubuh Seunghyun yang terkapar di hadapannya.

Dengan angkuh Jiyoung membalikkan badannya. Wajahnya tampak begitu puas dengan senyum seringai khasnya yang menawan. Jiyoung mengangkat sebelah tangannya yang berlumuran darah dan memandanginya dengan tatapan layaknya seorang psikopat.

“Jiyoung-ah,”

Sebuah suara lirih memanggilnya, suara dari Seunghyun. Jiyoung menoleh dan ekor matanya menangkap tubuh Seunghyun yang sekarat. Tiba-tiba tanpa Jiyoung sadari ada beberapa potongan kejadian masa lalu yang bermain tepat di depan matanya. Momen-momen indah yang telah ia lewati bersama hyung favoritnya. Semuanya yang mengembalikan seorang Kwon Jiyoung pada pribadi aslinya. Jiyoung menggelengkan kepalanya keras.

“Jiyoung-ah,” panggilan lemah itu membuyarkan semua yang Jiyoung pikirkan.

“Seunghyun hyung!” Jiyoung tersentak. Dengan cepat ia memutar tubuhnya dan menghambur ke tubuh Seunghyun.

Hyung… apa yang terjadi? Apa yang sudah kulakukan padamu?” tanya Jiyoung panik. Diangkatnya tubuh Seunghhyun ke pangkuannya.

“Ji… kau baik-baik saja, ‘kan?” tanya Seunghyun sangat lemah. Wajahnya mulai memucat karena terlalu banyak mengeluarkan darah.

Hyung, jangan konyol. Jawab pertanyaanku, apa yang sudah kulakukan, Hyung?” Jiyoung mulai berlinangan air mata. Seunghyun hanya menjawabnya dengan gelengan pelan.

Hyung, katakan padaku apa yang sudah kulakukan? Aku membunuhmu, Hyung. Aku membunuhmu,” Jiyoung berseru emosional. Jiyoung tak mengingat sepotong kejadian pun yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu, yang ia yakini hanyalah nalurinya sendiri yang berkata bahwa ia baru saja membunuh Seunghyun.

“Kau tidak melakukan apapun, Ji,” ucapan Seunghyun diikuti muntahan darah untuk yang kesekian kalinya.

“Jangan bohong, Hyung. Aku memang tak mengingat apapun, tapi pasti aku yang melakukan semua ini padamu. Mianhae, Hyung,” Jiyoung menundukkan kepalanya. Air matanya menetesi dahi Seunghyun.

Mianhae, Hyung… mianhae… mianhae…” hanya itu yang sanggup Jiyoung keluarkan dari mulutnya. Seunghyun mengangkat tangannya dan menghapus air mata Jiyoung yang justru meninggalkan jejak darah yang berasal dari tangannya.

It’s ok, Ji. It’s ok. Kau tidak tahu apa yang kau lakukan. Itu bukan salahmu. Bukan kau yang melakukannya, Ji,” Seunghyun berusaha menghibur Jiyoung walaupun ia tahu itu tidak akan berhasil.

“Seunghyun hyung…” Jiyoung memeluk Seunghyun erat.

“Ji, tolong jaga uri member. Jaga BIGBANG sebaik mungkin. Katakan pada mereka aku minta maaf karena harus meninggalkan mereka tanpa pamit.”

Hyung, jangan bicara seperti itu. Aku tidak mau kau pergi, hyung.”

“Aku tidak bisa, Ji. Kumohon, kau juga harus menjaga maknae lebih baik lagi. Jangan biarkan dia membuat skandal lagi. Lalu Daesung, dia pasti akan sangat sedih kutinggalkan. Tapi kau harus janji untuk menghiburnya, aku tidak ingin kita kehilangan sang smiling angel. Dan Youngbae, kalian harus dekat lagi seperti dulu. Sejak GDTOP ku rasa hubungan kalian jadi sedikit renggang karena kau selalu bersamaku. Aku benar, ‘kan?” Seunghyun tersenyum lemah.

Hyung, kumohon bertahanlah,”

Seunghyun hanya menggeleng lemah.

“Berjanjilah padaku BIGBANG akan terus berjalan tanpaku. Kalian tidak boleh berhenti. Ingatlah aku selalu melihat kalian dari suatu tempat.”

Hyung…”

“Dan ini permintaanku yang paling terakhir. Aku ingin melihatmu tersenyum, tersenyumlah untukku, Ji. Untuk yang terakhir.”

“Aku tidak bisa, Hyung. Aku sudah membunuhmu dan aku sangat menyesal.”

“Aku memaafkanmu. Ayolah Ji, tersenyum untukku,” kini Seunghyun hampir kehilangan napasnya

Dengan penuh paksaan Jiyoung menarik kedua sudut bibirnya. Sebuah lengkungan manis yang dipenuhi penyesalan dan kepahitan tercipta di sana. Batinnya tersiksa begitu keras. Hatinya hancur berkeping tatkala cahaya kehidupan itu benar-benar terenggut dari sosok yang begitu Jiyoung sayangi. Menggeram dan berteriak hanya itu yang terlepas. Dan semuanya sia-sia karena Seunghyun telah pergi terlalu jauh.

 

30 menit kemudian…

 

Jiyoung masih di sana. Mendekap erat tubuh tanpa nyawa dengan pandangan kosong yang tertuju pada sepasang mata yang ia tahu mustahil untuk kembali terbuka. Jejak air mata yang telah mongering melengkapi penampilannya yang sangat berantakan. Jiwanya belum sanggup menerima kenyataan yang sesungguhnya dan sesekali mulutnya masih memanggil nama Seunghyun berharap si pemilik nama akan mendengar dan terbangun. Namun tak ada tanda-tanda kecuali ponselnya yang mendadak berbunyi dari dalam kantong celananya.

*Maknae calling…*

Hyung, kau di mana? Kami semua mencarimu. Cepatlah kembali ke dorm karena kita akan mulai mencari Seunghyun hyung lagi,” suara Seungri terdengar di sambungan telepon setelah Jiyoung mengangkatnya.

Jiyoung hanya diam dengan fokus matanya yang masih pada jasad Seunghyun.

Hyung, kau di sana, ‘kan?” nada suara Seungri terdengar bingung.

Ne, aku di sini. Kita tidak usah mencarinya lagi, maknae. Dia sudah pergi terlalu jauh meninggalkan kita. Tidak akan kembali,” jawab Jiyoung datar.

Hyung, apa maksudmu? Kau tidak sedang mabuk, ‘kan?” Seungri menanggapi dengan nada bercanda, tak mengira Jiyoung berbicara serius padanya.

“Dengarkan aku, Seungri. Aku membunuhnya dan jika kalian tidak percaya temui kami di gudang tua dekat dorm. Kami akan menunggu kalian di sini. Oh iya, sampaikan salam dariku dan Seunghyun hyung untuk yang lain. Dan katakan ini pada Youngbae, dia harus menjaga kalian dengan baik. Aku pamit, maknae. Aku menyayangi kalian semua.”

Jiyoung kemudian menarik ponsel yang masih tersambung menjauh dari telinganya dan meletakkannya di sampingnya. Ia meraih pisau yang tadinya ia gunakan untuk membunuh Seunghyun. Sesaat ia memadangi benda yang berlumuran darah Seunghyun yang sudah mongering.

Hyung? Apa kau masih di sana?”

“Jiyoung hyung jawab aku. Yoboseyo, Hyung?”

 

-THE END-

13 thoughts on “NO MORE YOU

  1. Baru pertama kali baca ff GDTOP Thriller dan sangat terkesan.
    Btw, GD jadi kayak split personality gitu ya?
    Alur yang bagus dengan diksi menarik. Suka 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s