No More Dreams.

image

No More Dreams. By, dazzlesme.

EXO’s Kris & Lin ‘OC’ | G | Romance, Fantasy, & Fluff | Oneshot

Disclaimer: my original storyline for sure. Do not copy paste without my permission.

Pagi yang cerah itu, menjadi suram untukku.”

.
.
.

Awan mendung di daerah Beijing sore ini. Disertai dengan petir, dan angin kencang yang bertiup. Namun, Lin –satu-satunya orang yang berada di luar– masih tetap bersikeras untuk membenahi sepedanya. Jarak rumahnya masih cukup jauh bila harus di tempuh dengan berjalan kaki, apalagi sambil menggotong sepeda.

Hanya sebentar lagi, sebelum sepedanya sudah benar-benar bisa kembali digunakan. Lin berada di jalan raya, namun tak ada satu orangpun yang melintas, entah kenapa. Tangannya sudah hitam karena oli.

“Selesai!”

Ia langsung naik ke sepeda lipatnya, tak peduli walaupun dengan tangannya yang menghitam itu. Ia terus menggenjot pedal sepedanya. Sampai, ia harus terjatuh karena tiba-tiba ada pohon besar yang roboh. Lin hampir saja mati kalau tidak ada orang yang menolongnya. Ah, bukan orang atau manusia, karena Lin lebih senang menyebutnya sebagai malaikat penyelamat karena rupanya yang sempurna bagai patung ukiran.

Malaikat itu–seperti panggilan Lin–masih menahan pohon besar itu dengan tangannya. Sebenarnya, terbesit rasa aneh di kepala Lin, bagaimana mungkin manusia bisa sekuat itu? Atau, jangan-jangan dia memang benar malaikat? Malaikat yang diutus untuk menyelamatkannya?

Pikiran Lin sudah melayang kemana-mana, sampai pada akhirnya sosok Malaikat itu meletakkan, atau lebih tepatnya melempar pohon yang tumbang tadi. Membuyarkan lamunannya.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya si Malaikat penyelamat, kepada Lin. Lin masih saja diam tak menanggapi, karena masih sibuk menelusuri setiap lekuk wajah makhluk yang berada di hadapannya ini.

“Hei?!” Sosok Malaikat itu menepuk pelan bahu Lin, membuatnya sedikit terlonjak. “Kau tidak apa-apa, kan?”

Lin menggeleng cepat, “Tidak, tidak! Aku tidak apa-apa,” ujar Lin, sedikit kegok. “Ini semua berkat kau. Terimakasih.” Lin melontarkan senyumnya.

Pria itu balas tersenyum. “Sepertinya kakimu tidak terlihat sedang baik-baik saja. Lebih baik cepat kau pulang, lalu obati lukamu. Setelah ini akan ada badai yang cukup besar.”

“B-baiklah. Sekali lagi, terimakasih!”

.
.
.
.

Di kamar, Lin mengoleskan obat merah pada lukanya, tapi tiba-tiba ia teringat akan sosok yang menolongnya tadi.

“Apakah dia benar malaikat?” Lin bertanya dalam hati.

“Bukan.”

Lin seperti mendengar ada suara yang menyahuti pertanyaannya. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari asal suara tersebut. Namun nihil, tidak ada siapa-siapa selain dirinya.

“Mungkin aku sudah gila.”

.
.
.
.

“Selamat siang, Du Qian!” Lin berseru semangat, kepada teman kerjanya di kafe, Du Qian. Yang di sapa hanya tertawa renyah.

Du Qian membereskan tumpukkan piring yang baru saja dicuci ke lemari makan, kemudian beralih kepada Lin yang sedang mengenakan celemek masaknya di sudut dapur.

“Dari cara bicaranya, seperti ada yang sedang berbahagia. Kau dapat bonus dari Bos?” Tanya Du Qian, sambil mengelapi lagi piring-piringnya.

“Bonus? Tidak.” Jawab Lin dengan santai, kemudian memulai lagi kerjanya membuat adonan roti.

“Mustahil seorang pekerja part time yang hanya mendapat gaji beberapa yen perjam dapat tersenyum merekah seperti itu kalau tidak mendapatkan bonus.”

Lin tertawa ringan, “Kalau ku katakan, aku bertemu dengan Malaikat-ku, apa yang akan kau lakukan?”

.
.
.
.

“Lin, ada yang mencarimu.” Du Qian memberitahu, saat Lin sedang bersiap-siap untuk pulang.

“Siapa?” Lin menautkan kedua alisnya. Kemudian, Du Qian mengangkat bahunya.

“Sepertinya seorang buronan. Dari pakaiannya, dia menggunakan topi dan masker hitam. Badannya tinggi seperti tiang listrik. Lebih baik, cepat kau temui sana. Aku tidak mau ada yang tidak-tidak terjadi.”

.
.
.
.

“Bisa kau lepaskan genggaman tanganmu yang keras itu? Jari-jariku ngilu sekali rasanya.” Lin sedikit menggerakkan jemarinya yang di genggam erat oleh orang yang berpakaian serba hitam tadi.

Perlahan, jemarinya mulai merasa rileks, padahal Lin yakin betul kalau tangannya ini masih diremas dengan keras.

“Jangan bingung seperti itu, apalagi takut. Tenang saja.”

Bagaikan diterbangkan ke taman Lavendar, hati Lin langsung merasa sejuk setelah mendengar suara itu.

“Suaramu–”

“Iya, aku yang waktu itu menolongmu.” Perkataan Lin diputus. Jujur, ia sedikit kaget. Tapi, ia mencoba menutupinya dengan memasang ekspresi biasa saja. Entah kenapa, pria itu terkekeh pelan.

Lin dan si Malaikatnya itu sampai di sebuah taman yang cukup sejuk. Cuaca sore ini berubah sangat drastis bila di bandingkan dengan sore kemarin.

“Aku Kris.” Malaikatnya yang ternyata bernama Kris itu membuka pembicaraan. Lin memperhatikannya dengan seksama. “Bukan Malaikat.” Setelah mengucapkan kata itu, ia langsung terkekeh dan membuat mata Lin langsung membulat seketika. Bagaimana ia bisa tau?

“Tak usah bingung. Aku datang kesini hanya untuk menjelaskan.” Katanya lagi, yang membuat batin Lin semakin bertanya-tanya.

“Aku lahir 4 dekade yang lalu,” perkataan Kris lantas membuat Lin menganga tidak percaya. “Bisa kau sembunyikan dulu ekspresimu itu? Aku ingin melanjutkan ceritaku.” Lin langsung terdiam.

“Bisa dikatakan, aku ini bukan manusia. Apalagi malaikat. Aku hanya bayangan semu yang hidup namun kenyataannya aku ini nyata. Mengerti maksudku? Oke, ku anggap saja kau sudah mengerti.

Aku lahir dari Ibuku yang seorang manusia biasa, dan Ayahku yang menyandang status sebagai penyihir. Saat ibuku hamil, Ayahku sedang dalam masa kritis karena pembantaian berbagai macam sihir dari berbagai macam penyihir di pelosok negeri, karena iri dengan kekuatan Ayahku. Dan, saat aku lahir, Ibuku meninggal. Sihir dari musuh-musuh Ayah mengarah kepadaku. Tapi, Ayah melindungiku sampai akhirnya ialah yang meninggal.”

“Aku tak tau detail mengenai kejadiannya. Yang pasti, itulah yang di ceritakan oleh Bibiku, 3 dekade yang lalu. Dan, ia mengatakan bahwa aku akan hidup abadi. Sampai, aku menemukan gadis keturunan penyihir asal Korea Selatan. Di abad ini. Dan, itu adalah kau.”

Otak Lin masih memproses semua yang di katakan oleh Kris barusan. “Apa maksud dari hidup abadi sampai kau menemukan gadis keturunan penyihir Korea itu?”

“Aku akan hidup normal, menjadi manusia biasa kembali.” Jawab Kris, kembali membuat mulut Lin membentuk ‘O’.

“Jadi, maksudmu…. aku ini keturunan penyihir Korea itu?” Tanya Lin sedikit ngotot dan dibalas anggukan oleh Kris. “TIDAK MUGKIN. AKU INI ORANG CHINA. BAGAIMANA MUNGKIN AKU KETURUNAN KOREA SELATAN, APALAGI PENYIHIR!” Tukas Lin, tidak terima.

“Percaya atau tidak, Kakek dari Ibumu adah orang Korea, Lin,” ujar Kris, dengan nada datar.

.
.
.
.

Waktu menunjukkan pukul 7 pagi di Beijing. Jalan raya sudah padat ramai, di isi oleh orang-orang yang akan menjalanjan aktivitasnya di Rabu ini.

Lin berjalan di trotoar dengan tatapan kosong dan dengan tangannya yang di masukkan kedalam saku jacketnya.

“Tidak mungkin. Apa maksudnya semua ini. A-aku bukan penyihir, bagaimana aku bisa merubahnya.”

Mata Lin tidak terfokus pada objek manapun, pikirannya melayang entah kemana-mana. Namun, kakinya terus melangkah. Berjalan hingga ke tengah-tengah jalan raya, tanpa sadar saat keadaan lampu berwarna hijau.

TIIINNNNN!!!’

Suara klakson panjang mengakhiri segalanya. Semua berubah menjadi gelap. 22 tahun masa hidupnya berakhir tragis.

Orang-orang mulai datang mengerubuni mayat wanita cantik dengan rambut pirang tersebut. Tiba-tiba, ada hembusan angin yang melintas dengan cepat.

Kris sudah disana.

“Lin! Wake up, girl! Come on!” Kris menggoncangkan tubuh Lin dengab pelan.

Pergi. Terlambat sudah.

Gadis itu sudah pergi. Pergi jauh meninggalkannya.

Sia-sia sudah pencariannya selama 4 dekade. Mencari gadis yang aelalu muncul dalam benaknya setiap saat. Mencari gadis yang menjadi sorotan satu-satunya pandangan matanya sejak gadis itu baru menghembuskan nafasnya yang pertama kali di bumi ini. Pencariannya terhadap gadis yang ia sudah yakini sebagai satu-satunya cintanya. Gadis yang menjadi tujuan utama keabadiannya. Semua telah berakhir.

.

“Cinta. Sihir yang paling ampuh adalah cinta.”

.

Telinga Kris seperti sayup-sayup mendengar sesuatu. “Aku mencintaimu, Lin,” Kris membisikkan kata-kata itu tepat di telinga Lin.

Luka yang tadinya terbuka cukup besar, mulai menutup.

Darah yang tadinya menglir deras, sudah berhenti mengalir.

Denyut nadi yang tadinya berhenti, mulai kembali bergetar.

Organ tubub yang sudah mati keseluruhan, mulai menyebarkan kehidupan. Bekerja satu sama lain. Dan jantung pun mulai kembali berdetak. Menghidupkan raga lama yang sempat mati.

Cinta…..”

Kata-kata itu yang pertama kali keluar dari mulut Lin, walau matanya belum benar-benar terbuka.

Otot-otot tubuh Kris dirasa mulai melemah, pandangannya tidak sejernih biasanya.

Telinganya yang tadinya dapat mendengar hingga kesuara terkecilpun perlahan hanya dapat mendengar suara yang berada di sekitarnya.

Fikiran-fikiran orang di sekitarnya mulai tertutup. Tak lagi terbaca.

Denyut nadi dan jantungnya yang tadinya bergerak 400 kali per menit. Kini mulai normal, menjadi 90 kali per menit.

“A-aku dimana?” Suara parau milik Lin kini terdengar lagi. Lebih merdu di telinga Kris.

“Selamat membuka hidup yang baru.”

.
.
.
.

Kini, aku tak harus lagi bermimpi untuk merasakannya. Hanya perlu merasakan apa yang benar-bemar terjadi saat ini. Selamat tinggal mimpi kelam, kini hidupku telah cerah tanpa kutukan.”

(FIN.)

A/N: Jelek ya? Maaf deh. Ini cerita tiba-tiba muncul gitu aja di kepala. Ngetik di ponsel dalam waktu satu jam lebih. Dan, jadilah seperti ini.

Feed back? 😉

Advertisements

One thought on “No More Dreams.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s