[FF Freelance] My Duty Love (Chapter 3 – END)

baruuu euy

Judul : My Duty Love

Author : ThaJoonFany/ThaSiFany❤ @citramelica

Main Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Siwon Choi
  • Find By Your Self!🙂

Genre : Romance, A Little bit Action, Comedy etc

Rate : PG-15

Previous : Chapter 1, Chapter 2

Disclaimer : This Fanfic is original story of mine. The cast belongs to themselves. So Don’t bash me. Kalau ada kesamaan cerita atau jalan cerita itu bearti saya belum pernah baca karya anda. Sumpah dah!

 

Siwon’s side :

“Aku tidak mau mendengarnya! Kalian bertiga membohongiku selama ini? Heuh…”teriaknya tiba tiba hingga membuat kami bertiga membeku dengan penuh rasa bersalah

“Fany-ah… dengarkan Ahjumma sayang, sebenarnya…” Soojin Ahjumma juga berusaha menjelaskan tapi Fany tetap  saja tidak mau mendengar kami

“ANDWE…! jangan katakan satu katapun, kalian semua pembohong, apa aku begitu bodoh hingga bisa kalian bohongi selama ini…? Aaaarrrgghhh….” teriaknya lagi, aku tidak tau harus berbuat apa melihatnya seperti ini, aku begitu hancur dan tak sanggup melihatnya saat ini.

“Fany-ah.. kau mau kemana…?” tanyaa kami serempak ketika melihat Fany mengambil kunci mobil dan iphonenya dan berjalan menuju pintu.

“Jangan mencampuri hidupku lagi! Aku benci kalian semua! Akting kalian sungguh mempuni hingga aku yang bodoh ini bisa tertipu oleh kalian…” katannya lagi

“Fany-ah… kau tidak boleh kemana mana, diluar sangat bahaya Fany-ah…” kataku berusaha mendekat untuk mencegahnya pergi.

“Jangan mendekat SIWON-shi! Aku lebih berbahaya jika berada didekat pembohong kelas kakap seperti kalian…!” Fany meraih pisau yang terletak di atas meja makan dan mengarahkan ke tangannya.

“Fany-ah! ANDWE! Jangan melakukan hal bodoh Fany-ah… letakkan kembali pisau itu!” teriakku yang sudah mulai cemas melihat tingkahnya

“Fany-aaah…” teriak Ahjumma yang sudah menangis sedari tadi

“Sudah kukatakan jangan mendekat! Aku tidak takut! Aku lebih baik mati daripada hidup dengan pembohong pembohong seperti kalian dan daddy….” katanya lagi dengan nafas yang memburu dan terus melangkah mundur ke arah pintu keluar,

“Fany-ah Jebal… jangan lakukan itu, Mianhae…. ini semua demi keselamatanmu Fany-ah…” kataku yang tak henti berusaha membujuk Fany

“Heuh… hentikan akting Sok baik dan perhatianmu Siwon-shi…! aku membencimu!” hatiku sungguh sakit mendengarnya memanggilku dengan Siwon-shi dan mengatakan kalau dia membenciku, aku sangat merasa buruk saat ini. Hatiku hancur melihatnya hancur seperti inni, hancur karenaku.

“Fany-ah… kau tenanglah dulu, kita bicarakan baik baik nneee, kami akan menjelaskan semuanya…” Joon pun ikut angkat bicara guna membujuk Fany yang sekarang sudah berada diluar pintu dan mendekati lift, iapun segera masuk lift dengan pisau yang masih ditangannya saat ini, kami bertiga tidak tahu harus bagaimana, aku tak bisa membayangkan jika Fany benar benar nekat dan menggoreskan pisau itu ke tangannya.

“Sudahlah! Berhenti mengkhawatirkanku, bukankah kalian hanya menjalankan tugas selama ini? Jadi anggap tugas kalian selesai dan jangan perdulikan aku lagi!” katanya dengan menekan tombol lift tanpa bisa kami cegah sedikitpun, aku hanya bisa melihat pintu lift tertutup dengan Tiffany yang masih dengan pisau ditangannya dan air mukanya yang sunggguh hancur dan menyedihkan, aku sangat membenci diriku saat ini. Akupun segera berlari menuju tangga darurat untuk menyusulnya begitu pula Joon yang mengikutiku dari belakang. Dipiranku hanya ada satu nama, satu permintaan dan satu harapan yakni Tiffany. Aku tidak bisa membiarkannya sendiri disaat genting seperti ini. Sangat berbahaya dan aku tidak ingin dan tidak akan pernah rela melihatnya terluka apalagi celaka walaupun sekarang kenyataannya aku sendirilah yang membuatnya kecewa. Sungguh aku minta maaf Fany-ah…!

Tiffany’s side :

“Siwon-ah, kau tenanglah, kita hadapi sama sama nneee, Hwang Hoejang mempercayakan Fany kepada kita pasti bukan tapa alasan, dia sangat yakin kalau kita bisa menjaga Fany dengan baik, kau adalah yang terbaik di agennya, dan Joon juga ….” kata Soojin Ahjumma.

“Bertahanlah sebentar lagi Siwon-ah… Hwang Hoejang-nim sudah menemukan gudang senjata dan narkoba Kim Jang Kook, tinggal sebentar lagi nnee, semuanya akan berakhir…” kata Joon oppa

Kurasakan kata kata serta rekaman percakapan itu terngiang ngiang di telinga dan pikiranku saat ini. Perasaanku saat ini sangat susah jika diungkapkan ataupun diuraikan dalam kata kata, sakit, kecewa, marah, benci, menyesal, sedih dan lainnya bercampur menjadi satu. Begitu sakit rasanya hingga membuat dadaku sesak dan sulit bernafas. Orang orang yang selama ini aku anggap baik, tempat tumpuan hidupku serta dewa dewi penolongku ternyata mengkhianatiku. Soojin ahjumma yang sudah aku kenal selama puluhan tahun tak kusangka dia juga salah satu dari orang daddy, begitu juga dengan Joon Oppa, orang yang selama ini selalu membuatku tertawa dan gembira ternyata itu semua juga topeng yang dipakaikan daddy padanya. Dan yang paling aku sesalkan dan membuatku sakit adalah Siwon Oppa, orang yang selama ini aku anggap sebagai dewa penolongku, pelindungku, dan orang yang bisa membuat perasaanku tak karuan jika didekatnya dan membuat jantungku berdebar debar selain Khun Oppa ternyata juga memakai topeng dari daddy. Arrrrggghhhh… kurasa teriakan sekeras apapun juga tidak bisa menetralisir keadaan hatiku saat ini.

Pintu liftpun terbuka, tanpa ragu dan tidak menghiraukan semua mata yang memandangiku aneh karena memang saat ini aku hanya memakai baju yang sedikit kusut serta dengan rambut yang sudah tidak teratur serta air mata yang tak bisa kuhentikan sedari tadi, akupun langsung menuju mobil dan membuka pintunya, ingin secepatnya aku pergi dari tempat ini, sungguh!

“Fany-ah… Fany…. Chakaman… Fany-ah…” teriak Siwon Oppa yang ternyata mengejarku dan mengetuk ngetuk pintu mobilku namun aku hanya memberikan tatapan yang aku sendiri tak bisa mengartikan arti tatapanku saat ini. Seakan aku ingin mengatakan “Wae Oppa? Kenapa kau lakukan ini?’, atau “Aku tidak ingin semua yang sudah kau lakukan untukku adalah sandiwara dan tuntutan profesimu”, atau yang lebih sakartis “Kau membuatku kecewa Oppa…” yah, aku tidak tau mana arti yang lebih bisa menyampaikan tatapanku saat ini. Akupun segera berpaling dan menghidupkan mesin mobilku dan segera menginjak pedal gas tanpa memperdulikan Siwon Oppa yang masih memukul mukul pintu jendelaku, mobilkupun segera melaju meninggalkan parkiran bawah apartement tersebut meninggalkan Siwon Oppa yang masih berteriak ketika aku melihatnya dari spion mobilku. Aku terus menyetir tanpa tujuan yang jelas, yang pasti aku tidak ingin diganggu oleh mereka bertiga, aku begitu frustasi hingga tanpa kusadari aku begitu memonopoli jalan raya hingga jalanan jadi sedikit kacau dan beberapa pengendara mobil lain berteriak ke arahku, tapi aku tetap tiidak memperdulikannya, perasaanku saat ini sungguh menguasai akal sehatku.

Di tengah tengah perjalanan antah berantahku, tiba tiba iphoneku berdering, kenapa aku sampai lupa mematikan benda sialan yang bisa tambah mengganggu pikiranku ini…? akupun meraihnya dengan malas berniat untuk mematikannya namun sedikit terhenti ketika kulihat penelfonnya bukanlah salah satu dari mereka bertiga, melainkan Kris, kurasa aku ingin mengangkatnya. Mungkin aku bisa bermain dan kuharap bisa kembali tertawa bersamanya seperti yang kami lakukan beberapa hari yang lalu dan yang pasti semoga bisa melupakan semua malapetaka ini.

“Yeobseo Kris-ah…” sahutku mengangkat telfonnya

“Nnnee, Fany-ah… kau sedang apa…? kenapa tidak membalas pesanku…? kau baik baik saja…?” tanyanya

“Umm… Mianhae, aku tadi tertidur, kau dimana…?” tanyaku balik, aku pikir aku begitu blank hingga aku sama sekali tidak bisa mengontrol perkataanku saat ini.

“Eoh, syukurlah, aku di rumah, Waeyeo…?” tanyanya balik

“Apa boleh aku kesana…?” tanyaku, Whooaa, ada apa denganku saat ini? Bermain dengan Kris untuk menghilangkan stress? Hmm… bukan ide yang buruk bukan?

“Tentu saja Fany-ah… bukankah sudah lalma aku ingin mengajakmu bermain dirumahku…?” kata Kris lagi

“Okeee… aku kesana nneee… Bye Kris…” kataku sebelum menutup percakapan

“Oke, I’ll wait you, Bye…” kata Kkris dan menutup telfon, yah kurasa aku sudah punya arah tujuan saat ini, yaitu pergi ke rumah Kris. Semoga bisa menghilangkan ataupun sedikit mengurangi beban  di hati dan otakku ini.

*********

“So, apa yang membuat seorang Tiffany Hwang mau mengunjungi rumahku… kauingin mengajakku melakukan sesuatu yang menyenangkan?” tanya Kris setelah aku sampai dirumahnya dan duduk di sofa ruang tengah rumahnya. Dia melihatku hanya memakai baju santai yang sudah sedikit aku rapikan.

“Hahaha, bukankah kau sudah lama merengek padaku Tuan Kris…? dan kali ini aku datang tanpa rengekan darimu terlebih dahulu, bukankah kau seharusnya bersyukur? rumahmu besar sekali, kau tinggal sendirian…? didepan kulihat bodyguardmu juga sangat banyak…” tanyaku balik pada Kris, yah aku berusaha bersikap ramah dan senyum seeperti biasa dan memang rumah kris sangat besar untuk ukurannya yang tinggal  sendiri, dan puluhan bodyguard yang standby di gerbang hingga pintu masuk juga membuatku takjub, beginikah hidup seorang Kris?

“Nnneee, Eommaku tidak betah disini, jadi aku juga bingung kenapa dia membuat rumah sebesar ini disini, dan puluhan boodyguard itu membuatku tidak kesepian dan selalu ramai, hahaha…” jawabnya santai.

Sepanjang aku bersama dengan Kris saat ini Siwon Oppa tak henti hentinya menghubungiku, aku bahkan sudah lelah menekan tombol reject guna menolak telfonnya, aku masih sedih dan kecewa dan tidak ingin bicara dengannya.

“kenapa kau tidak mengangkat tekfonmu…? angkatlah, siapa tahu penting….” kata Kris yang angkat bicara setelah sedari tadi melihatku sibuk dan gelisah oleh iphoneku.

“Umm… nnee… chakamanyeo…” kataku sambil sedikit berpaling dari Kris dan mencoba mengangkat  telfonnya, aku hanya mengangkat tanpa berbicara satu patah katapun

“Fany-ah… Fany-ah…. Kau bersama Kris…? Yaaak! Fany-ah… segera keluar dari tempat itu! Dia berbahaya Fany-ah, Jebal!” katanya begituu akku dekatkan iphoneku ke telinga kananku, darimana Siwon Oppa tau aku di tempat Kris? Dia melacakku? Ough, kapankah mereka berhenti merecoki hidupku?

“Kau melacakku? Yaaak! Hentikan Siwon-shi! Jangan sembarangan menuduh orang, kau lah orang yang berbahaya saat ini yang aku tahu, berhenti menggangguku oke…” kataku dengan kepala yang mungkin sudah berasap dan segera ingin mengakhiri telfonnya, namun

“Fany-ah… Kris adalah keponakan Kim Jang Kook, kumohon percayalah padaku untuk saat ini, kumohon! Hwang Hoejang sudah ingin menangkap Kim Jang Kook, tapi terhenti ketika Kim Jang Kook mengatakan kau bersama keponakannya dan mengancam akan mencelakaimu…” aku hanya terdiam tak tahu harus berbuat apa, disatu sisi aku benci dengan Siwon Oppa yang sudah membohongiku, tapi disisi lain aku pikir Siwon Oppa juga tidak mungkin main main dalam masalah ini, apa yang seharusnya aku lakukan, akupun balik menatap Kris yang sedari tadi begitu memperhatikanku intens, apa benar yang dikatakan Siwon Oppa…?

“Fany-ah… Fany…! kumohon, segera keluar dari tempat itu! Jebal Fany-ah…” seru Siwon Oppa yang begitu terdengar frustasi dan cemas, mana yang harus aku percayai…? bagaimana ini.

“Waeyeo Fany-ah…? terjadi sesuatu…?” tanya Kris yang kemudian bertanya setelah sadar dengan tatapan anehku padanya.

“Uumm… Kris-ah… sepertinya aku harus pergi, ada urusan mendadak, lain kali aku main kesini lagi nnee… Bye…” tanpa diperintah tiba tiba hatiku rasanya memilih mempercayai kata kata Siwon Oppa, orang yang jelas jelas sudah berbohong padaku selama ini, tapi entah kenapa aku tetap ingin mempercayainya, aku juga berniat menguji Kris, jika Kris memang benar seperti yang dikatakan Siwon Oppa dia pasti tidak akan membiarkan aku pergi dan begitu aku mengingat banyak bodyguard dirumah Kris, aku juga berpikir kalau Siwon Oppa tidak berbohong, untuk seorang mahasiswa tak peduli betapa kayapun dia, untuk apa memakai jasa puluhan bodyguard seperti itu?

Akupun melangkah ke arah pintu rumah Kris sedang Kris kulihat hanya duduk diam dengan ekspresi wajah yang tidak bisa kuartikan, akupun segera membuka pintunya tapi tidak bisa, akupun balik melirik ke arah Kris yang kini sedang menatapku menyeringai, oh Tuhan! Apa benar dia salah satu orang yang mengincarku?

“Fany-ah… Fany-ah… kau masih disana? Kumohon keluarlah…” suara Siwon Oppa masih terdengar di iphone yang masih aktif di tangan kananku, mataku menatap Kris nanar, Krispun jalan mendekatiku.

“Kris-ah… kenapa pintunya terkunci..? tolong bukakan untukku…” kataku dengan perasaan yang sudah takut dan cemas, sedang Kris masih melangkah mendekatiku dan kembali menyeringai.

“Bukakan untukmu…? Heuh… Fany-ah… ternyata kau lebih mudah dari yang kubayangkan, bahkan aku tidak perlu memakai jasa para bodyguardku untuk membawamu kesini, kau datang sendiri, hahaha how lucky i am…” katanya padaku, darahku mendesir seketika mendengarnya berbicara seperti itu,

“Kris-ah… What do you mean…?” tanyaku ingin konfirmasi lebih darinya

“Heuh… katakan pada bodyguard Siwon mu itu untuk banyak berdo’a untuk kau tetap selamat disini…” katanya lagi, yaah Tuhan, aku seperti menggali lubang kuburku sendiri

“Kris-ah… Andwe…!” kataku dengan tetap berusaha memukul pintu dan membukanya walaupun sampai tanganku bengkak pintu ini juga tidak akan bisa terbuka.

“Come On Baby, kita nikmati malam ini, pastikan Hoejangnimmu membatalkan penangkapan pamanku dan aku akan melepaskan yeojamu Siwon-ah, aku berjanji…” katanya lagi dengan membelai pipi dan rambutku, dan mengambil alih iphoneku yang masih tersambung dengan Siwon Oppa

“Yaaak! Jangan pernah kau sentuh dia, kau akan mati jika kau melukainya, aku bersumpah untuk itu…!” jawab Siwon Oppa dengan nada penuh kemarahan, aku bisa mendengarnya karena Kris menghidupkan Speaker iphoneku.

“Ough… So Sweet… akan kutunggu itu, tapi apakah aku boleh bersenang senang dengannya sebentar, kau mau kan sayang…” kata Kris lagi yang kini sudah meraih tengkukku dan mendekatkan wajahnya ke arahku,

“Arrrgghh, Andwee…! Kris… kumohon…” kataku berteriak dan berusaha menjauhkan wajahku dari wajahnya.

“YAAAAK!!! Jangan sentuh dia sedikitpun!” terdengar teriakan Siwon Oppa lagi

“Oke baiklah, tapi sedikit pemanasan boleh bukan…? ayahmu sudah membunuh ayahku dan kurasa kau pantas mendapatkan ini…” katanya lagi dengan tiba tiba melayangkan tangannya dan menamparku hingga aku tersungkur dan kepalaku yang masih sakit akibat tertabrak motor tadi kembali berdarah.

“Arrrgghh… Kris-ah, jebal hentikan…” pintaku

“YAAAK! Kau pasti akan kubunuh…” Siwon Oppa kembali berteriak, aku sungguh merasa bersalah, aku begitu keras kepala dan sombong bisa hidup tanpanya, padahal aku sama sekali tidak bisa tanpa mereka bertiga, aku memang bodoh, namun apa yang bisa kulakukan lagi, sudah terlambat untuk menyesal, aku harus terima apa yang aku perbuat, aku hanya bisa menangisi hatiku yang sakit ditambah dengan luka luar yang juga tak kalah sakitnya.

“Aku akan selalu menunggu kapan itu terjadi Siwon-ah…” kata Kris lagi sambil menyeringai penuh kemenangan dan segera membanting iphoneku hingga berkeping keping. Dia kembali menatapku yang masih tersungkur dilantai dengan nafas yang memburu dan air mata yang tak berhenti mengalir dipipiku.

“So, what will we do baby…?” katanya dengan merapikan rambutku dan kembali mebelai pipiku,

“Singkirkan tanganmu dariku brengsek…” kataku dengan penuh kebencian

“Dasar gadis jalang…” teriaknya dan kembali menamparku, kurasakan darah segar mengalir dari ujung bibirku, oh Tuhan sakit sekali.

“Jangan berharap kau dan pamanmu Kim Jang Kook akan lepas kali ini, pamanmu sudah membunuh Mommy dan Oppaku, jangan harap daddy akan melepaskan kalian…” kataku padanya ditengah kesakitanku oleh pukulannya.

“SHIT…! tutup mulutmu!” katanya lagi dan kembali melayangkan tamparan di wajahku, Ya Tuhan tolong aku!

*****

Siwon’s side :

Aku begitu merasa cemas khawatir dan takut serta merasa bersalah pada Tiffany, apalagi ketika mengetahui dia sedang bersama Kris, jantungku langsung mencelos ketika Joon mengatakan Fany kerumah Kris, Joon tentu tahu karena sebelumnya Joon sudah menggandakan iphone Tiffany dan dia mengatakan kalau Kris menelfon Fany dan Fany dengan senang hati menawarkan diri datang kerumah kris, hal bodoh apa yang sudah kau perbuat Fany-ah… kenapa kau malah melenggang ke rumah musuh yang akan memangsamu eoh?

“AAARRRGGHHH SHIT….!” kataku berteriak frustasi dan membanting kepalaku ke jok mobil setelah Kris memutus sambungan telfonku, aku mendengar Tiffany beberapa kali menjerit kesakitan dan hal itu semakin membuatku cemas dan takut.

“Siwon-ah… tenanglah, kita pasti akan menyelamatkan Fany…” kata Joon yang berada disampingku.

“Aku sungguh sungguh akan membunuhmu Kris..” gerutuku dengan penuh kemarahan

“Oke, simpan kemarahanmu sampai kau bertemu dengannya oke, aku sudah menghubungi kedutaan besar Korsel dan mereka sudah mengirimkan pasukan ke rumah Kris, kajja kita segera menysul…” kata Joon lagi

“Baiklah, apapun akan kulakukan untuk menyelamatkan Fany…” kataku lagi dan kembali menghidupkan mesin mobil, tiba tiba iphoneku berdering dan aku mendapatkan panggilan video dari Hwang Hoejangnim. Akupun menepikan mobil dan mengangkatnya

“Siwon-ah…” sahut Hwang Hoejang dari sana

“nnee Hwang Hoejang, bagaimana perkembangan anda disana…?” tanyaku langsung

“Kami sudah menemukan beberapa saksi dan sudah membekukan beberapa gudang milik Kim Jang Kook, tapi aku tidak bisa memerintahkan agen untuk segera menangkap Kim Jang Kook karena Fany bersama mereka…” jawab Hwang Hoejang

“Jeongmal Jeosonghaeyeo hoejang-nim, aku pasti akan menyelamatkan Fany, aku berjanji…” kataku lagi

“nnnee, aku percaya itu Siwon-ah… ini bukan salahmu, kau sudah menjaganya dengan baik selama ini..” kata Hwang Hoejang lagi

“Jadi, apa yang akan kita lakukan Hoejang-nim…?” tanyaku sedikit ragu padanya

“Siwon-ah… apa kau percaya padaku…?” tanya Hwang Hoejang dan membuatku bingung

“Eeung? Tentu saja, waeyeo…?” tanyaku lagi

“Begitu pula aku, aku juga percaya padamu, Joon dan Soojin, kalian pasti akan menyelamatkan Fany bukan? Untuk itu, kita harus bisa mengambil sikap, kalian tetap pada tugas kalian dan aku juga akan tetap menyellesaikan kasus yang sudah sangat panjang ini, aku akan berusaha mengulur ulur waktu, dan kuharap kalian bisa menyelamatkan Fany sebelum aku membekuk Kim Jang Kook dan anak buahnya….” jelas Hwnag Hoejang dengan rencananya

“Oke, baiklah,terima kasih atas kepercayaan anda Hoejang-nim, kami akan menyelamatkan Fany, yakinlah…” kataku lagi dengan sangat mantap

“Tentu saja aku yakin, sejak awal aku sudah tau kalau kalianlah yang terbaik…” kata Hoejang-nim lagi

“Baiklah, semoga berhasil Hoejang-nim…”

“Nnnee, kalian juga…” dan akhirnya pembicaraanpun berakhir dan aku kembali memacu mobilku di jalanan menuju tempat Kris.

*******

Setelah 15 menit perjalanan akhirnya aku dan joon berhenti beberapa meter dari gerbang rumah Kris yang tampak dijaga oleh banyak bodyguard, beberapa saat kemudian kulihat Soojin Ahjumma juga datang dengan rombongan agen dari kedutaan besar Korea, iphoneku berdering dan kulihat Soojin Ahjumma yang menelfon, kami memang dekat tapi sedang berada didalam mobil mamsing masing, jadi berkomunikasi seeprti ini akan lebih aman.

“Siwon-ah… aku dan agen lain akan masuk dari samping dan belakang, kau dan Joon fokus mencari Tiffany, oke…?” kata Soojin ahjumma

“Yeee, Arraseo…” kataku

“Baiklah, kami bergerak, kau hati hati nneee….” kata Soojin Ahjumma lagi

“Nnnee, Ahjumma juga…”

Akupun melihat Soojin Ahjumma dan sekitar 10 anggota lain keluar dari van dan mulai memanjat tembok tinggi rumah Kris dan masuk, aku dan Joon kembali melihat sekeliling dan mendengar bunyi gaduh didalam pagar sana. Its Show Time! Aku ingin secepatnya mengakhiri kasus ini! Sudah cukup penderitaan Fany untuk kasus ini!

Author’s side :

Mendengar bunyi gaduh diluar rumah membuat Kris yang sedari tadi duduk menikmati pemandangan indah atas kesakitan Tiffany bangkit dan melihat dari jendela.

“Shit! Darimana orang sebanyak itu…? sungguh diluar rencanaku…” gerutunya

“Heuh… sudah kukatakan kau tiidak akan bisa lepas kali ini….” sahut Tiffany dengan nada mengejek dan tenaga yang masih tersisa.

“SHIT! Shut Up!” kata Kris yang marah besar dan menendang kursi tempat dimana Fany diikat hingga kursi itu jatuh begitu juga Fany.

“Aaaakkhh, ssshh…” Fanypun kembali meringis kesakitan untuk kesekian kalinya.

“Mereka tidak akan bisa mendapatkanmu!” kata Kris yang kini mencoba menanggalkan ikatan Fany dan menyeret Fany untuk mengikutinya.

“Kau kabur, Heuh… dasar pengecut!” kata Fany lagi di tengah kesakitannya

“Diam Kau Jalang! Atau kubunuh kau saat ini juga…!” kata Kris lagi dengan tatapan yang begitu mengerikan dan memasukkan Tiffany paksa kedalam mobilnya. Diapun segera masuk mobil dan menghidupkan mesin mobilnya.

“kenapa tidak sedari tadi kau membunuhku eoh…? kau tidak sanggup bukan? Kris-ah… kau sama sekali tidak punya bakat menjadi penjahat, akui saja itu…” kata Fany lagi yang tidak pernah berhenti memprovokasi Kris sedari tadi

“Diiiiaaaaammmm!!!!!” teriaaak Kris dengan menginjak pedal gasnya kasar hingga mobil melesat seketika memasuki pekarangan rumahnya yang kini ricuh dengan perkelahian bodyguardnya. Diia melajukan mobilnya dengan sangat kencang tanpa memperdulikan orang orang yang tengah berkelahi tersebut, ditambah beberapa orang agen polisi mencoba menghentikan mobilnya namun Kris tetap tak bergeming, Agen polisi khusus dari kedutaan besar korea itupun menembakkan beberapa tembakan ke udara dan ke arah mobilnya namun Kris tetap menerobos dengan mobilnya, disampingnya tampak Tiffany yang duduk meringkuk dan seakan sudah tidak berdaya lagi.

Siwon dan Joon yang melihat Tiffany dibawa Kris dengan mobilpun segera masuk mobil dan mengejar mobil Kris, mereka tidak mau kehilangan jejak apalagi kehilangan Tiffany. Siwon memacu mobilnya dengan sangat gila, mobilnya begitu membuntuti tepat dibelakang mobil Kris,

“Siwon-ah… hati hati…” kata Joon yang kelihatan sangat khawatir dan was was melihat kegilaan Siwon menyetir saat inni, namun Siwon tidak mengindahkan kata kata Joon dan tetap fokus dengan mobil yang ada di depannya, disanalah Tiffany berada, yeoja yang selama 2 tahun ini dijaganya, yeoja yang selama 2 tahun ini mengisi harinya, yang membuatnya bahagia, yang membuatnya merasakan hidup yang lebih hidup, dan yeoja yang selama 2 tahun ini ia bohongi, ia tidak mau melakukan kesalahan lebih banyak lagi dengan kehilangan jejak Fany, dia harus menyelamatkan Fany, hanya itu yang ada dipikirannya saat ini.

Krispun tak mau kalah, ia berusaha menginjak habis pedal gasnya guna secepat mungkin menghindar dari kejaran mobil Siwon yang sudah ia sadari mengikutinya sedari tadi.

“Siwon Oppaa…” seru Fany dengan nafas yang sudah sesak dan tubuh yang penuh kesakitan, luka di pelipisnya, tepi bibir higga  lutut dan tangannya namun tetap berusaha membuat satu simpul senyum ketika melihat Siwon yang ada di belakangnya berusaha menyelamatkannya

“Tidak bisakah kau diam…?” teriak Kris yang sudah sangat frustasi saat ini,

Tiffany kembali tersenyum melihat Siwon dan Joon melalui kaca spion, hatinyapun bekata “kau datang menyelamatkanku Oppa…?” namun kata kata itu juga tergantiikan oleh pertanyaan yang tak kalah menyakitkan “kau datang untukku atau untuk tugasmu Oppa…?” hingga cairan bening itu kembali turun dari pelupuk matanya.

Kejar kejaran mobil itupun terus berlangsung hingga Tiffany berusaha mengambil alih stir Kris dan membuat mobil oleng seketika.

“Hentikan mobilnya, dan lepaskan aku bodoh!” teriak Fany sambil mengganggu Kris dan memutar Stirnya,

“Yaaak! Apa yang kau lakukan bodoh…? kau ingin mati eoh…?” kata Kris lagi berusaha mengambil alih penuh stir mobilnya.

“Kau yang akan mati bukan aku…” kata Fany lagi, dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Fany membanting stir dengan kuat kekanan hingga Kris tidak bisa mengendalikan mobilnya ketika mobilnya memanjat pagar trotoar dan menabrak pohon di tepi jalan tersebut dengan sangat keras hingga membuat kepalanya terbentur, dan berdarah, iapun dengan segera berusaha menguasai dirinya dan melihat kebelakang dimana Joon dan Siwon sudah siap mengacungkan pistolnya dan berjalan mendekatinya. Krispun segara mengambil pistol disakku jaketnya dan membawa Fany yang sudah berlumuran darah di kepalanya keluar. Iapun menodongkan pistol ke arah kepala Tiffany dan mengancam Siwon dan Joon.

“Jangan mendekat… kalian ingin melihatnya mati eoh…?” kata Kris dengan kondisi tubuh yang sudah sedikit oleng dan pusing karena tabrakan tadi, sementara Tiffany lebih parah dari itu, darah segar kembali mengalir dari pelipis dan keningnya disamping darah di ujung bibir dan hidungnya yang sudah mengering. Siwon yang melihat kondisi Tiffany seperti itu semakin marah dan terbakar.

“Yaaak! Apa yang telah kau lakukan pada Tiffany, berani beraninya kau…” teriak Joon dengan kemarahan yang sangat jelas dimukannya saat ini

“Hahaha, hanya sedikit bermain, aku menawarkan kenikmatan dan cumbuan hangat padanya, namun sayang dia menolak, yah beginilah jadinya kalau yeoja berani menolakku…” seringai Kris yang sangat bahagia ketika melihat Siwon marah besar seperti itu. Kris menekankan pistol di kepala Fany, sedangkan Fany terlihat begitu sangat lemah hingga tak sanggup lagi berbicara atau untuk sedikit membuka matanya. Hal ini semakin membuat Siwon murka dan marah.

“YAAAAK! Berani beraninya kau BRENGSEK…!” teriak Siwon dengan menyepak sebongkah batu yang ada diujung kakinya dan mengarahkan tepat ke arah mata Kris tanpa bisa dicegah ataupun diprediksi Kris sebelumnya hingga membuat Kris jatuh terjerembab, dan dengan sigap Siwon datang dan memberi Kris pukulan sedangkan Joon berusaha meraih Fany yang sudah terlepas dari Kris dan segera membawa Fany ke dalam mobil. Sedangkan Siwon sepertinya akan masih melanjutkan dan melampiaskan kemarahannya pada Kris. Joon segera membaringkan Fany di kursi belakag mobil, dengan sigap seperti biasanya Joon memberi kabar pada Hwang Hoejangnim kalau Tiffany sudah bersama mereka dengan harapan hwang Hoejang juga bisa dengan segera membereskan Kim Jang Kook.

******

Siwon’s side :

Kemarahanku serasa mencapai puncaknya ketika kulihat keadaan Fany, wajah cantik dan indahnya dirusak oleh Kris hingga darah mengalir dari beberapa titik di wajahnya.aku sungguh tidak bisa memafkannya yang telah membuat Fany menjadi seperti ini. Aku spontan menendang batu yang kebetulan ada di ujung kakiku hingga tepat mengenai mata Kris dan membuatnya tersungkur dan membuat Tiffany terlepas seketika. Akupun segera datang padanya dan kemmbali memberinya pukulan, sedangkan Joon dengan cepat mengambil langkah guna menyelamatkan Fany. Aku terus memukuli wajah Kris,

“Aaaarrrgggghhhh…. BRENGSEK KAU! AAAkkkhhh…!” aku rasa darahku sudah meluap hingga ingin menghabisinya saat ini juga. Diapun mencoba beberapa kali memukulku dan juga berhasil membuat darah di ujung bibir dan hidungku, namun sepertinya semua perasaan marah, kesal dan murkanya diriku tidak akan bisa dilawannya. Akupun segera memukulinya habis habisan ketika dia tersungkur dan sudah tidak berdaya lagi.

“Siwon-ah… sudah, Siwon-ah… Geumanhae…” kata Joon berusaha menghentikanku ketika melihat Kris yang sudah penuh darah dan bahkan tidak bisa melawan dan bergerak lagi.

“BRENGSEK! Bukankah aku bilang aku akan membunuhmu jika kau menyakitinya eoh…” teriakku dengan rasa marah yang sudah tidak bisa dibendung dan dihentikan lagi

“Siwon-ah, sudahlah, geumanhae… tidakkah kau ingin melihat kondisi Tiffany…?” kata Joon lagi, pukulankupun terhenti seketika mendengar nama Fany, Joon benar Tiffany, bagaimana keadaannya..? Oh Tuhan, Fany… Tiffany… dimana dia, aku ingin melihatnya.

“Temuilah dia Siwon-ah…” kata Joon lagi, tanpa pikir panjang aku segera berlari ke arah mobil dan meninggalkan Kris yang memang sudah tidak berdaya sama sekali, akupun segera membuka pintu mobil dan mendapati Tiffany yang terbaring lemah di bangku belakang mobil. Aku begitu sedih dan hatiku terasa tersayat melihatnya keadaanya seeprti ini, Oh Tuhan, apa yang sudah aku lakukan padanya, kenapa aku bisa membiarkan orang brengsek itu menyakitinya seperti ini. Tanpa kusadari kini air mataku mulai mengalir megingat hatiku yang menangis melihat keadaannya seperti ini.

“O..Opp.. Oppaa-ah…” serunya yang berusaha terseyum dengan tenaganya yang masih tersisa dan menatap teduh ke arahku

“Nnee… Oppa disini… kau jangan takut…” kataku sambil membelai rambut dan pipinya, ingin rasanya aku menghilangkan semua luka ini atau mungkin memindahkan semua luka dan rasa sakit itu padaku. Aku tidak tahan melihatnya seperti ini.

“Jangan menangis… Nan Gwenchana…” katanya lagi sambil meraih pipiku dan menghapus air mataku, aku merasa semain sulit dan hatiku semakin menangis.

“Mianhae… Jeongmal Mianhaee… Mianhae Fany-ah…” kataku lagi sambil memegang dan menciumi tangannya, kurasa aku ingin mengucapkan kata itu sebanyak seribu kali padanya

“Anieyoo…” Fanypun berusaha duduk dan bangkit dari tidurnya, dan kembali menatapku teduh.

“Kau tidak salah Oppa-ah, akulah yang keras kepala, aku tidak bisa tanpamu Oppa…” katanya lagi sambil menangkup wajahku dan menatapku dengan saangaat teduh, kulihat air mata beningnya juga kembali keluar. Akupun segera menghapus air mata tersebut, tak ingin rasanya wajah cantik itu tambah dicemari oleh air matanya. Akupun menarik Tiffany kedalam pelukanku,hmm… aku sangat mengkhawatirkanmu Fany-ah…

“Anieyeoo… aku yang tidak bisa tanpamu Fany-ah, aku bisa gila jika kau tidak ada, kumohon, maafkan aku…” kataku lagi dengan mempererat pelukanku dan mengelus rambutnya, akupun menenggelamkan wajahku di lehernya, menghirup aroma tubuhnya dan seakan tidak ingin melepaskannya lagi. Kejadian ini sungguh membuatku bertambah sadar kalau aku tidak bisa tanpanya, kalau aku akan mati tanpanya dan aku saangaat mecintainyaaa…. yah cinta, perasaan yang sudah selama 1 tahun belakangan berusaha untuk kusangkal. Aku rasa aku mulai jatuh cinta padanya sejak intensnya waktu yang kami habiskan berdua, serta kepribadiannya yang dari hari ke hari selalu membuatku takjub dan tambah takjub. Banyak alasan yang membuatku jatuh cinta padanya, dan semuanya tidak bis kuungkapkan dalam kata kata. Karena kupikir itulah cinta, tidak bisa diartikan secraa harfiah ataupun dalam bentuk kata kata, karena cinta menyangkut hati dan perasaan yang dirasakan bukan diucapkan.

“Apa semuanya sudah berakhir…?” tanyanya lagi

“Nneee Fany-ah… semuanya sudah berakhir…kau tenanglah…”kataku lagi kembali memperat pelukanku guna membuatnya lebih nyaman. Terima kasih Tuhan! Terima kasih!

*******

Tiffany’s side :

Mataku begitu terusik ketika kurasakan sinar matahari yang merambat melalui jendela kamarku seakan akan ingin membangunkanku, akupun mengerjap beberapa kali dan perlahan membuka mataku, kemudian akupun mencoba untuk duduk menyandarkan tubuhku pada kepala tempat tidurku, namun kurasakan kepalaku sangat sakit hingga membuatku meringis, dan ditanganku saat ini juga kudapati jarum infus yang terpasang. Ough aku baru teringat akan kejadian kemarin, aku merasa malu dan begitu bodoh kemarin. Tapi sepertinya Tuhan masih menyayangiku dan menyelamatkanku. Tiba tiba pandanganku terpaku ketika menangkap seseorang yang tidur di tempat tidurku, kenapa aku tidak menyadarinya sedari tadi, Siwon Oppa, yah Siwon Oppa lah yang sepertinya menungguiku dari semalam. Hmm… akupun memandanginya dan menelusuri setiap inchi wajahnya, tidurnya begitu damai rasanya, Hmm… Jinja Gomawo Oppa-ah… aku memang keras kepala, aku memang tidak bisa bahkan tidak akan pernah bisa tanpamu Oppa. Akupun mengelus rambut dan bekas luka yang ada diwajahnya, hingga membuatnya bergerak dan akupun dengan segera menyingkir darinya dan duduk di sandaran tempat tidurku kembali.

“Eoh… kau sudah bangun Fany-ah…? bagaimana keadaanmu..?” tanyanya dengan mengucek matanya dan langsung menanyakan keadaanku.

“Sedikit baikan, walaupun masih pusing, kenapa Oppa tidur disini…?” tanyaku

“Aku hanya ingin memastikan keadaanmu…” jawab Siwon Oppa

“Eoh,,, Yaah, aku lupa, itu kan memang tugasmu…” kataku lagi dengan sedikit kecewa

“Kenapa kau bicaraseperti itu…?” tanya Siwon Oppa

“Bukankah memang begitu kenyataannya…?” jawabku lagi dengan pertanyaan.

Hmm… sudahlah, kondisimu masih lemah dan aku tidak mau berdebat lebih jauh denganmu, akan kupanggilkan dokter, kau tunggu disini…” kata Siwon Oppa sambil beranjak untuk memanggilkan dokterseperti apa yang dikatakannya,aku merasa sedikit kecewa dengan jawaban dan respon dari Siwon Oppa, bukankah seharusnya dia menjelaskan semuanya padaku? Tentang apa yang telah dilakukannya bersamaku 2 tahun ini dan tentang apa yang sebenarnya dia rasakan selama 2 tahun ini,

“Owwh, jadi itu benar…? semuanya kau lakukan hanya tuntutan profesi dan tugas dari Hoejang-nim mu…?” kataku lagi, dan seketika membuat langkahnya  terhenti, aku bisa melihatnya mengambil nafas besar dan menghembuskannya kasar, detik kemudian dia berbalik dan kembali duduk di kursi sampin tempat tidurku.

“Kau membuatku frustasi, sebenarnya aku ingin menunda mengatakan ini sampai kau benar-benar pulih, tapi aku rasa itu terlalu lama dan aku juga tidak tahan, Fany-ah… dengarkan aku,ini kulakukan bukan semata mata karena tugas ataupun janjiku pada Hwang hoejang, aku melakukannya tulus Fany-ah…” kata Siwon Oppa lagi sambil meraih dan menggenggap erat tanganku, kurasakan saat ini suhu tubuhku meningkat drastis, jantungku serasa berdetak lebih kencang dan keringat dingin yang membanjiri tubuhku. Benarkah…? aku tidak salah dengar bukan?

“Op.. Oppa-ah…Mwosun Marya…?” tanyaku bodoh, bukankah memang itu penjelasan yang aku inginkan? Kalau dia bersamaku selama ini bukan karena tugasnya.

“Kau tiidak mengerti maksudku…?” tanyanya lagi dengan mempererat genggaman tangannya dan menatapku lebih intens.

“A..Anniii…” kataku terbata

“Bisakah ini menjelaskannnya…?” kata Siwon Oppa lagi yang dengan sigap meraih tengkukku dan mencium keningku, ciuman yang begitu tulus kurasakan dan aku tidak tahu berapa lama dia menciumku, aku begitu sibuk mengendalikan detak jantungku yang sepertinya sudah berdisco melompat sana sini dengan perlakuan Siwon Oppa ini.

“Saranghae…” bisiknya, hingga membuat darahku mendesir seketika, dan memandangnya dengan tatapn tak percaya.

“Nde…?” tanyaku terkejut seperti orang boodoh dan linglung

“Kau tidak mengerti bahasa Korea, baiklah, Dasar BABO! Apa aku harus memakai bahasa planet lain untuk mengatakannya padamu eoh…?” teriak Siwon Oppa tiba tiba merusak suasana dan menjitak kepalaku.

“Aaauuwwwhh, Yaaak! Oppaa! Sudah kubilang jangan pernah mengataiku BABO lagi! Aiigoo.. kau mengatakannya terlalu cepat dan kecil sekali, aku tidak mendengarnya dengan jelas” gerutuku dengan teriakan yang tak kalah kerasnya.

“Hahaha, kau ini!  Baiklah, selain bodoh kau juga tuli ternyata, TIFFANY HWANG SARANGHAE…” teriak Siwon Oppa seketika

“Yaaak! Jangan berteriak begitu, aku malu jika Soojin Ahjumma mendengarnya,,,” kataku dengan sigap membekap mulutnya.

“Yaaak! Bukankah kau yang menginginkannya? Dasar! Jadi bagaimana…?” tanya Siwon  Oppa lagi

“MWO…? bagaimana apanya…?” tanyaku mencoba sedikit memainkan Siwon Oppa

“Tentu saja perasaanmu, bagaimana perasaanmu kepadaku…?  malhebwa…!” katanya lagi

“Ummm… Eung…. Hmm… Bagaimana ya…? Hmm….” kataku lagi mengulur waktu dan membuatnya kesal

“YAAK! Tiffany Hwang!” teriaknya

“Mmm… bisakah ini menjawabnya…?” katakku membalas cara Siwon Oppa tadi dengan mengecup singkat bibirnya, namun apa yang sudah kulakukan? Ini sungguh membuatku menjadi sangat malu, hingga membuat wajahku serasa terbakar dan tak berani menatap ke arah Siwon Oppa.

“Mmm… sepertinya jawabanmu kurang, aku butuh yang lebih jelas seperti ini…” kata Siwon Oppa dengan tiiba tiba meraih tengkukku dan mendaratkan bibirnya tepat dibibirku. Chuu~~, Ya Tuhan bagaimana ini, Siwon Oppa menciumku? Ciuman yang sangat tulus dan tidak menuntut, aku bisa merasakan perasaan cinta, sayang dan perlindungan rasa aman dalam ciuman yang diberikannya. Tanpa kusadari akupun membalas ciuman Siwon Oppa hingga bibir kami saling bertaut dan bergerak sesuai insting dan perasaan yang kami rasakan saat ini, Siwon Oppapun menurunkan tangannya ke arah pinggangku dan memelukku hingga lebih mendekap padanya. Siwon Oppa… Jinja Gomawo… Jinja Saranghaeyeooo….❤

Setelah beberapa saat kamipun melepaskan ciuman tersebut,,, siwon Oppa kembali menatapku intens dan merapikan rambutku,

“Aku berjanji akan selalu melindungimu dan menjagamu, karena aku adalah malaikatmu…” serunya lagi

“Jinja Gomawo Oppa, Saranghae…” kataku dengan kembali menghamburkan diriku kedalam pelukannya

“Nado, Jengmal Saranghae…” katanya

“Yuuhuuu… Chukkkaee…” terdengar suara teriakan dari ujung pintu kamarku hingga aku dan Siwon Oppa spontan melepaskan pelukan kami,

“Yaaak! Joon Oppa, Ahjumma…” kataku ketika melihat Joon dan Soojin Ahjumma yang tersenyum aneh dan tak berhenti meneriai kami berdua

“Fany-ah… lihat siapa yang datang…” kata Soojin Ahjumma, akupu mengalihkan pandanganku kepada sosok yang keluar dari belakang Soojin Ahjumma, alangkah terkejut dan senangnya hatiku melihatnya…

DADDY… Oh My God… DADDY, Miss you so bad…” teriakku dan langsung berjalan mengahamburkan tubuhku kedalam pelukannya tak perduli aku sedang sakit atau sedangdiinfus.

“Me Too honey… Bagaimana keadaanmu…? Mianhae, kau begitu menderita karena daddy..” kata Daddy lagi, aku merasakan seluruh kemarahan dan kekesalanku pada daddy hilang sirna ketika aku melihatnya saat ini, aku begitu merindukannya. Hingga tak ingin rasanya melepas pelukan ini.

“Aku sudah lebih baik, bahkan langsung sembuh ketika melihatmu…” kataku lagi

“Hahahaha, daddy juga  sangat senang sayang, yang penting semuanya sudah berakhir, Kim Jang Kook sudah ditangkap dan sesaat setelah daddy menangkapnya daddy langsung terbang kesini, daddy sangat merindukanmu…” kata Daddy lagi

“Hmm… Gomawo sudah datang daddy, aku sudah lama menunggu saat saat ini, saat dimana semuanya sudah berakhir dan kita bisa hidup normal lagi…. bukankah begitu?” kataku lagi

“Of Course… hidup bahagia bersamamu sayang…” kata Daddy lagi sambil mengecup keningku, Ya Tuhan inilah saat yang paling aku tunggu selama ini, aku melihatsekelilingku, bisa kulihat Soojin Ahjumma yang menangis bahagia, Joon Oppa yang terseyum bahagia serta namjaku Choi Siwon yang terlihat sangat bahagia seperti diriku.

“Jadi, kau terlibat cinta lokasi dengan Agen daddy…?” kata daddy tiba tiba merusak suasana hingga aku melepaskan pelukan dan menatapnya garang

“Daddy-aaahh…!” sungutku

“Hahaha, Gwenchana sayang, daddy sangat senang, Siwon adalah pria baik dan bisa daddy percaya menjagamu, bukankah begitu Siwon-ah…” kata Daddy lagi sambil melepar pertanyaan tiba tiba pada Siwon Oppa

“Eung…. MMmm.. Nnnee, aku akan menjaganya Hoejang-nim…” kata Siwon Oppa

“Aiigooo…. kenapa kau tidak memanggil Hoejangnim dengan sebutan Ayah mertua saja eoh…?” celetuk Joon Oppa

“Yaaak! Joon-ah… kau diam saja…!” kata Siwon Oppa memberikan death glarenya pada Joon Oppa

“Hahahahahahaha….” kami hanya bisa tertawa melihat ekspresi lucu dan babo Siwon Oppa.

Hahahaha, terima kasih Tuhan! Sepertinya aku bisa mengetahui bagaimana rasanya bahagia lagi…. J J

12 thoughts on “[FF Freelance] My Duty Love (Chapter 3 – END)

  1. Hwuaaaa, akhirnya happy ending… seru thor ceritanya…
    Sukses selalu dan cepet2 bikin ff siwon lg ya thorr,, heeee…

  2. huaaa keren bgt>_< daebak" author doh 10 jmpol dah keren bat aokaok /oke ini alay-_-v/ lanjut thor ff sifany nya '3'

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s