[FF Freelance] Blind Date

Blind_DateTitle : Blind Date

Author : @kikihae20 || Length : Vignette || Rating : PG-16 || Genre : Romance & Life

Main Cast : Girls Generation’s Tiffany & EXO’s  Byun Baekhyun

Support Cast : Super Junior’s Heechul

Disclaimer : Semua cast yang terlibat milik Tuhan, ide cerita sepenuhnya milikku.

Note : Fanfic ini pernah dipublish di wp pribadi http://kikifanyfiction.wordpress.com/

Komentar kalian sangat berguna bagi author yang masih abal-abal ini dan maaf banyak typo🙂

Happy Reading ^^

Byun Baekhyun.. Byun Baekhyun.. menghilanglah kau dari sini.

Pelan tapi pasti ku buka mataku dan samar-samar terlihat wajah yang sudah ku kenal dengan senyum seringaian yang memuakkan. Kenapa laki-laki itu masih di sana dan sosoknya belum juga lenyap?

Mati-matian kutahan emosi yang bergemuruh di dada. Sebisa mungkin ku katupkan mulut ini yang hampir meledakkan umpatan-umpatan pada laki-laki itu. Aku masih sadar betul ini cafe bukan lapangan yang bisa bebas berteriak sesuka hati. Bersyukurlah kau Byun Baekhyun hari ini aku tidak menghabisimu di sini.

Dengan sedikit berat, udara di dalam ruangan ini kutarik dalam-dalam agar memenuhi rongga paru-paruku. Lalu menghembuskannya keluar dari mulutku pelan-pelan. Yah, cukup untuk menahan amarah yang sebenarnya sudah membuncah naik sampai ke ubun-ubun.

Dia tertawa lebar entah apa yang ditertawakannya. Memang ada yang salah dengan penampilanku? Atau mungkin dia menertawakan keadaanku yang sekarang ini? Tawanya sungguh memekakkan telingaku. Walaupun aku tak tahu pasti benar atau tidak, terselip nada ejekan dari tawanya. Membuatku ingin melepaskan sepatu stiletto untuk menyumpal mulutnya itu.

“Kau pikir ini lucu Byun Baekhyun?” tanyaku tajam setajam mataku yang menatapnya. Baekhyun seketika berhenti tertawa lalu berdeham.

“Nde, noona seperti orang yang kalah judi. Berhentilah memasang wajah frustasi seperti itu noona. Terlihat jelek kau tahu,” sekarang bocah itu sudah berani berkomentar tentangku.

Ya, bagiku dia hanya bocah tukang rusuh dan masih kekanakan. Walaupun umurnya sudah 22 tahun, wajahnya terlihat seperti bocah 17 tahun. Apalagi dengan tubuh tinggi kurusnya itu tidak mendukungnya disebut pria dewasa. Lihat saja tingkahnya selalu menyebalkan seperti ini. Lihat dia bahkan belum berhenti tertawa.

Sepuluh menit tepatnya saat ku lihat jam Casio putih di tangan berlalu terasa lama. Tidak ada percakapan serius diantara kami berdua. Yang dia lakukan hanyalah tertawa dengan kehidupanku yang terasa lucu baginya. Memang dia pikir berdosa mengikuti kencan buta yang aku jalani ini? Tidak. Tidak ada yang salah. Ku pikir ini keputusan yang tepat, setidaknya di usiaku yang kini sudah tidak muda lagi.

“Kenapa kau di sini?” tanyaku singkat.

“Tidak penting. Lalu kau sendiri, kenapa melakukan kencan bodoh seperti ini?” tanyanya balik.

Keningku berkerut. “Mwo? Kencan bodoh katamu?” sahutku sedikit memekik. Bocah ini benar-benar.

“Apa namanya kalau bukan kencan dengan orang yang baru dikenal,” dia berdecak lalu tertaawa. “Lucu sekali. Kau seperti orang yang frustasi dengan percintaan noona,” lanjutnya lagi.

“Ya!” seruku keras cukup membuat hampir semua pengunjung cafe menoleh ke arahku. Baiklah, sepertinya aku sudah kelewatan. Lama-lama aku bisa jantungan menghadapi bocah tengil ini. Menarik napas dalam lalu menghembuskannya lagi. Oh hebat.. sepertinya aku menambah hobi baru ini ke dalam listku.

OK, sekarang saatnya mengibarkan bendera putih tanda menyerah dalam peperangan. Tunggu bahkan sebelum perang itu dimulai aku meyerah. Lebih baik mundur daripada maju lalu harus menanggung malu seumur hidup. Tidak.. tidak..

“Baiklah, apa maumu sekarang Byun Baekhyun? Kau tidak tahu siapa pria itu tadi? Dia itu Kim Heechul, pria mapan yang mungkin siap menikahiku tahun depan. Dan kau menggagalkan rencanaku,” jelasku membeberkan semuanya berharap ia cepat sadar lalu berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Aku menatapnya tajam. Pandangannya menerawang entah kemana. Sepertinya dia cukup tersentak dengan alasan yang kuutarakan tadi. Memalukan memang menceritakannya tapi tidak ada cara lain selain membuatnya mengerti apa yang sebenarnya kuinginkan.

Cukup lama dia berkutat dengan hal-hal yang dilamunkannya itu. Kulihat wajahnya berubah sendu namun dipaksakan seulas senyum mengembang di sana.

“Wae? Kau ingin cepat menikah?” tanyanya datar.

“Umurku sudah 25 tahun, sudah sewajarnya aku memikirkan masa depan bukan? Setiap wanita dewasa pasti ingin menikah Byun Baekhyun,” kataku menjelaskan. Ku lihat Baekhyun mengangguk pelan dan bibirnya telah separuh membuka tetapi tidak ada suara yang keluar. Matanya menatapku resah dan bimbang. Ada apa dengannya?

Pandanganku beralih pada gelas Americano latte yang masih tersisa setengah. Di sampingnya tergeletak selembar kertas bon bertandakan lunas. Jika bocah ini tidak datang dan merusaknya pasti saat ini aku masih bersama teman kencanku, Kim Heechul namanya. Pria itu tampak kecewa sewaktu Baekhyun datang mengaku sebagai kekasihku. Jelas sekali dia seperti anak kecil.

Kim Heechul, haruskah aku menelponnya dan bertanya apakah dia kecewa? Walaupun dia tersenyum tipis sebelum pergi, bukan berarti dia baik-baik saja. Aku tahu dia pergi membawa kekecewaan yang Baekhyun buat. Sedikit ragu-ragu antara menelpon atau tidak, akhirnya kupencet tombol hijau setelah melihat namanya di layar. Beberapa detik berlalu tapi panggilanku tidak diangkat. Mungkin dia sudah tidak ingin bertemu denganku lagi. Huft..

“Noo.. noona,” panggil Baekhyun saat aku menyampirkan tas selempang di pundakku hendak pergi. Aku mendongak menatapnya dengan heran.

“Wae?” tanyaku menyadarkannya dari kebingungan yang terlihat jelas di wajahnya.

“Oh, ani.. kau mau pergi kemana?”

“Pulang. Karena kau menghancurkan kencanku, jadi tidak bisa melakukan apa yang kuinginkan,” ucapku sambil mengerucutkan bibir kesal dan melangkah pergi dari hadapannya. Oh Tuhan semua rencana yang sudah kubayangkan dalam sekejap hilang melayang entah kemana.

Tiba-tiba sesuatu menahan langkahku tepatnya di pergelangan tangan. Ketika aku menoleh ke belakang wajah Baekhyun sedang mengulum senyum ada di hadapanku. “Oh, kau.”

“Katakan padaku apa yang kau inginkan.”

–> Blind Date <–

Pertama. Menonton Film.

“Bagaimana  kalau film horor?” tanya Baekhyun ketika kami berada di bioskop.

Aku mendesah kecewa. “Padahal aku berharap bisa menonton film romance.”

“Tenang saja Tiffany-ssi ada aku di sini,” jawabnya sambil terkekeh. Mwo? Kenapa dia tidak memanggilku ‘noona’ seperti biasa? Tidak sopan.

“Mwo? Tiffany-ssi?” tanyaku dengan nada tajam.

“Anggap saja kau dan aku sedang kencan buta dan kita tidak saling mengenal sebelumnya.”

“Ck, lucu sekali.” Aku mengangkat bahu tidak peduli. Malas sekali kalau bertengkar dengannya. “Terserah padamu Byun Baekhyun-ssi,” sahutku penuh penekanan.

Dia meringis lebar. Menampakkan deretan giginya yang putih. Dan sekarang dia sudah berani menggandeng tanganku. Bagus Tiffany, kau membiarkan tanganmu digenggam bocah itu. Ada apa ini? Memangnya tenagamu habis walaupun hanya untuk melepaskan cengkeramannya? Tapi sesaat kemudian perasaan hangat menjalar sampai ke pipi. Semoga saja wajahku tidak seperti kepiting rebus nantinya. Malu gila.

Kalian tahu, hal yang paling ku takutkan di dunia ini adalah hantu. Jadilah aku hanya bersembunyi di balik lengan Baekhyun tiap kali wajah hantu itu muncul tiba-tiba dan mengagetkanku.

“Hei, hantunya sudah berlalu,” gumam Baekhyun dengan mengetuk pelan kepalaku. Dalam sekejap kutegapkan bahu dan merapikan rambut yang berantakan. Berdeham sebentar menghilangkan salah tingkahku padanya. Pandangan mata kufokuskan pada layar besar di depan walau aku sepenuhnya sadar dia sedang menatapku.

“Kau takut hantu?” tanyanya santai.

Aku berdecak sebal. Disaat aku sedang ketakutan bisa-bisanya dia menanyakan hal itu dengan santainya dan wajah tak berdosanya itu. Aku mengangguk kesal.

“Dan sialnya kau menjebakku di sini,” ucapku ketus dan itu membuatnya tertawa.

“Baiklah aku minta maaf.” Dengan satu sentakan tanpa bisa menolak, dia menarik sikuku mendekat ke arahnya. Lalu sebelah tangannya menuntun kepalaku untuk bersandar di bahunya. “Kau boleh memukul, mencubit terserah kau mau melakukan apa padaku. Selama itu dapat menghilangkan ketakutanmu, aku akan di sini, di sampingmu Tiffany.”

–> Blind Date <–

Kedua. Makan Bersama

Mataku berbinar melihat makanan yang tersaji di depanku. Hanya makanan ringan seperti gimbap, tteobokki, sunde dan japchae. Aku mendongak melihat Baekhyun yang menggeleng-gelengkan kepala menatap semua makanan yang ada di meja.

“Kau yakin dengan semua ini?” tanyanya ragu.

Kepalaku mengangguk mantap. “Aku lapar dan butuh makan, kau tahu.”

“Lalu kau akan menghabiskannya?”

“Tentu. Memangnya kau akan kenyang hanya dengan melihatnya saja?” kataku asal. Dan kulihat dia tertawa.

“Wae? Kau malu kalau setelah ini aku berubah gendut seperti badan gajah begitu?” Lagi-lagi dia tertawa bahkan lebih keras dari sebelumnya. Aku mendengus kesal melihatnya seperti itu. Dia pikir aku sedang membuat lelucon untuknya. Oh, jangan sampai ia benar-benar membayangkan badanku yang melar dan pipi tambun berjalan di sampingnya seperti angka 10. Tidak. Itu terlalu mengerikan.

“Berhentilah menertawaiku Baekhyun-ssi atau aku akan pergi,” ancamku padanya. Dan seketika ia berhenti tertawa dan berdeham. Ia lalu meraih garpu dan menusukkannya pada tteobokki.

“Cha..” ucapnya dengan tangannya yang memegang garpu terulur ke depan. Tepatnya di hadapanku. Apa maksudnya ini?

“Hanya ingin menyuapimu, boleh kan?” pintanya halus.

Wajahnya yang memelas itu membuatku membuka mulut menyambut tteobokki masuk. Ku lihat ia menyunggingkan senyum puas.

“Anak pintar.”

Aku tersentak ketika sebelah tangannya dengan tidak sopan membelai kepalaku. Dia sudah berani melakukan sesuatu yang tidak pantas kepada orang yang lebih tua darinya. Dan yang lebih anehnya lagi, tubuhku sama sekali tidak bereaksi untuk menolaknya. Perasaan yang aku sendiri tidak tahu apa, pelan-pelan sedang merayap ke sudut hatiku. Perasaan yang sejujurnya sangat menyenangkan.

“Sekarang giliranmu menyuapiku.”

–> Blind Date <–

Ketiga. Bermain.

“Pastikan tanganmu tidak melepaskannya dan memegangnya erat Byun Baekhyun.”

“Aku tahu. Cepat kayuh sepedanya dan lihatlah ke depan nona Hwang.”

Dengan perasaan takut dan tegang yang bercampur menjadi satu, ku kayuh sepeda pelan dan hati-hati. Dari dulu kecil aku memang tidak bisa bersepeda dan sekarang Baekhyun sedang mengajariku bersepeda di taman dekat sungai Han. Aku tidak berhenti menggerutu terus saja berbicara, takut Baekhyun melepasnya dan membiarkanku jatuh. Setidaknya jangan di tempat yang seramai ini. Sungguh memalukan.

“Sekarang putar balik ke kanan,” seru Baekhyun. Tunggu. Kenapa suaranya terdengar dari jauh? Bukannya..

“Ya, Byun Baekhyun kau.. aww..”

Karena terus melihat ke belakang, aku jadi terjatuh. Oh Tuhan, apa yang sebenarnya kulakukan? Aku mempermalukan diriku sendiri. Tidak. Ini semua karena Baekhyun. Kalau saja bocah itu masih memegang sepedanya, tentu aku tidak akan jatuh seperti ini. Dan bagaimana perasaan kalian ketika ditertawakan anak kecil yang sedang bersepeda sewaktu kalian jatuh. Memalukan bukan? Aku seperti orang bodoh yang kalah dari anak kecil berumur lima tahun. Ku harap bumi mau menelanku hidup-hidup saat itu juga. Astaga.

“Gwaencanha nona Hwang? Maaf, ku kira kau..”

“Aku ingin pulang!” teriakku kesal padanya.

“Kau tidak luka kan?” tanyanya sembari memeriksa kaki dan tanganku. Dengan sebal aku menepisnya.

“Aku ingin pulang!” ulangku lagi. Kulihat dahi Baekhyun mengerut dan tersenyum tipis.

“Pulang? Kencan kita kan belum selesai nona Hwang.”

“Aku pulang sendiri,” kataku tegas. Tanpa pikir panjang aku bangkit berdiri, meraih tasku di keranjang sepeda dan pergi darinya. Sebelum benar-benar melangkah, sesuatu menahan lenganku.

“Naiklah, aku akan mengajakmu berkeliling dengan sepeda sebagai gantinya,” bujuk Baekhyun. Ia menepuk-nepuk jok penumpang di sepedanya. Aku memberengut dan menepis tangannya.

“Tidak mau.” Aku berjalan pergi. Lagi-lagi dia menahan lenganku untuk berhenti. “Apa lagi?” tanyaku geram.

“Buskin Robbin, kau menyukainya kan?”

–> Blind Date <–

“Aigoo.. dari caramu memakan es krim seperti anak kecil belepotan seperti itu. Makanlah pelan-pelan,” tukas Baekhyun dengan nada lembutnya. Seulas senyum kecil mengembang di wajahnya yang tampan itu. Tunggu. Tampan kubilang? Oh, tidak. Abaikan poin terakhir itu.

Duduk di bangku taman dengan hamparan sungai Han di depan sana dan menikmati segarnya es krim walaupun sinar matahari sedikit menyengat cukup membuatku tenang. Setidaknya perasaanku lebih baik dengan tidak berpura-pura menjadi dewasa. Dan kadang ada saatnya seorang wanita dewasa berperilaku seperti anak-anak. Seperti aku saat ini. Dan ku pikir itu sesuatu yang wajar.

“Kau kan sudah dewasa, wanita berumur 25 tahun kenapa makan es krim seperti anak umur 5 tahun eumm?” gumamnya sambil menuntun tubuhku untuk menghadapnya. Bagai terhipnotis, mataku tak berkedip memandangnya. Byun Baekhyun, untuk pertama kali aku melihat sosok pria dewasa ada pada dirimu saat..

Kau meraih sebelah tanganku yang kotor dan mengusap dengan telapak tanganmu yang bersih. Dan kau membuat tubuhku menegang hebat saat ibu jarimu menyapu bibirku yang penuh dengan es krim di sana.

Untuk pertama kali, jantungku berdebar dua kali lebih cepat saat matamu yang hangat itu menatapku dengan senyum magismu. Menularkannya padaku hingga tanpa sadar bibirku pun ikut mengembangkan senyum.

“Nah, ini baru Tiffany Hwang namanya. Yeppuda.”

Byun Baekhyun.. Dan untuk pertama kalinya kau membuatku terpesona.

–> Blind Date <–

“Kau boleh pulang sekarang dan terima kasih sudah mengantarku.” Tiba-tiba Baekhyun menarik lenganku dengan pelan namun yakin, menarikku mendekat. Terlalu dekat hingga manik hitamnya terlihat jelas di mataku.

“Satu permintaan, bisakah kau mengabulkannya?” Kedua alis matanya terangkat.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata lalu berkata, “Kau tidak memintaku untuk menikah denganmu kan?” sahutku asal.

Ku lihat kepala Baekhyun mengangguk. “Kenapa kau bisa menebaknya?” ucapnya. Sesaat mataku membulat menatapnya. Mwo? Apa katanya tadi? Bibirku sudah separuh membuka tapi lidahku terlalu kelu untuk berkata. Lebih tepatnya tidak tahu apa yang harus kujawab.

Kedua tangannya kini meraih bahuku. “Nona Hwang dengarkan aku. Walaupun itu memang salah satu keinginanku, tapi pria ini belum bisa memberikanmu segalanya kecuali yang ada di sini,” Baekhyun menunjuk dada kirinya sendiri.

“Jadi apa yang kau inginkan Byun Baekhyun?” tanyaku tanpa basa-basi.

Sebelum menjawab ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. Ku tatap matanya-yang tampak jelas keraguan di sana-dengan penuh tanya.

“Untuk saat ini, bolehkah aku memelukmu?” Baekhyun menggigit bibir bawahnya setelah mengatakannya.

Dan tanpa ragu kepalaku mengangguk ringan lalu tersenyum padanya. “Tentu,” jawabku lembut.

Sebelum Baekhyun sempat bergerak, kedua tanganku sudah merangkul leher Baekhyun dan memeluknya. Sesaat kemudian kurasakan sepasang lengan kokoh melingkar erat di pinggang. Astaga, perasaan menyenangkan ini datang lagi. Membuat darahku berdesir dan rasanya jantungku hampir rontok karena berdebar keras, berkali-kali lipat debarannya. Berada di pelukannya seperti ini sungguh nyaman dan hangat.

“Tiffany,” panggilnya pelan tanpa melepas pelukannya.

Aku hanya bergumam lirih menjawabnya. Entah itu karena terlalu menikmati kehangatan ini atau tidak mau diganggu sekecil apapun itu.

“Saranghae.”

Sepatah kata itu diucapkannya begitu lirih sampai telingaku hampir tidak mendengarnya. Aku berusaha melepaskan pelukannya, menatap matanya dan mencari-cari kesungguhan di sana. Namun Baekhyun tidak membiarkannya, justru kini ia mengeratkan pelukannya padaku.

“Baekhyun-ah..”

“Jika memang kau juga merasakan apa yang aku rasakan, bolehkah aku memintamu satu hal?”

Kupejamkan mata sejenak, berusaha meyakinkan diri sendiri tentang perasaan aneh ini.

“Apa itu?”

“Menungguku.”

“Berapa lama?”

Hening sejenak. Ia bergumam lalu berkata, “Mungkin dua tahun.”

Aku diam. Dua tahun bukan waktu yang singkat tapi entahlah, sepertinya tidak. Pelan-pelan kuanggukan kepalaku. Sesaat kemudian kudengar ada kelegaan terselip di helaan napasnya itu.

Suasana kembali hening membiarkan kami larut dalam pikiran masing-masing. Ia melepaskan pelukannya dan menatap lurus ke bola mataku. Sudut bibirnya kembali naik membentuk sebuah senyuman.

“Kau tidak bertanya apa yang akan kulakukan dengan dua tahun itu?” tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya heran.

Aku memiringkan kepala seperti sedang berpikir keras. “Berkencan sepuasnya?”

“Pabo,” celetuknya sambil menunjuk pelan kepalaku. Hei, bocah ini benar-benar seenaknya sendiri. “Memangnya kau pikir aku seorang playboy yang tergila-gila dengan wanita?” lanjutnya lagi.

“Ku kira tidak ada yang salah mengingat kau punya banyak penggemar wanita di kampus.” Ya, setidaknya sebelum lulus dari kampus setahuku Baekhyun-yang berada di bawah dua tingkat dari angkatanku-memang mempunyai banyak penggemar. “Ckck. Aku sungguh heran kenapa banyak perempuan yang memuja-mujamu seperti orang gila. Jika kuberitahu mereka betapa menyebalkannya dirimu, aku yakin mereka akan lari terbirit-birit.”

Kulihat Baekhyun justru tertawa. “Jangan bilang kau sedang cemburu?”

Mwo? Mataku membulat. “Aku? Cemburu katamu? Oh Tuhan.” Aku tertawa sejadi-jadinya. Yang benar saja aku cemburu dengan sekumpulan wanita aneh itu. “Tidak mungkin.”

“Benarkah? Sepertinya tidak salah kalau aku mengencani mereka,” ucapnya sambil mengusap-usap dagunya. Menyebalkan.

“Joha. Dan aku akan melakukan kencan buta lagi,” sahutku sambil melipat tangan di depan dada. Astaga, kenapa aku jadi kesal begini?

“Andwae!” pekik Baekhyun keras membuatku sedikit tersentak kaget. Sebelum aku sempat mengatakan sepatah katapun, kedua tangan Baekhyun sudah memegang erat bahuku. Menguncinya dari gerakan sekecil apapun dan membuatku hanya menatapnya tepat di bola mata hitamnya yang sedang memandangku lebih seksama.

“Jangan pernah melakukan kencan buta seperti itu lagi. Atau kalau kau masih bersikeras melakukannya, jangan salahkan aku yang datang merusaknya seperti tadi, bahkan mungkin lebih parah. Lihat saja, kubuat hidungnya bengkok baru tahu rasa.” Seulas senyum tersungging di wajahnya. Bukan senyum manis seperti biasa, tapi lebih ke sebuah seringaian.

Aku menatapnya tak percaya lalu tertawa berusaha menutupi debar jantungku yang tidak terkontrol ini. Kualihkan pandanganku darinya dan berkata, “Lucu sekali.”

“Aku tidak main-main nona Hwang. Bukankah kau sudah janji akan menungguku?”

“Hei, kapan aku menjanjikannya padamu?” protesku.

“Kuanggap itu sebagai janjimu. Setelah dua tahun berlalu, kau harus siap jika sewaktu-waktu aku membawamu ke pelaminan,” ucapnya sambil menunjuk hidungku dengan jarinya.

Aku terkekeh. “Dan pastikan juga di belakang namamu disertakan gelar sarjana hukummu, arasso?” balasku dengan nada tajam.

Baekhyun menegakkan bahunya dan tiba-tiba tangan kanannya diletakkan di dahinya seperti prajurit sedang memberi hormat. “Siap komandan,” serunya lantang dengan wajah serius.

Tawaku saat itu pecah melihat tingkahnya yang aneh itu. “Prajurit Byun Baekhyun pulanglah, sekarang sudah malam.

Belum sepenuhnya badanku memutar, Baekhyun lebih dulu menahan lenganku. Mau tak mau aku harus menatapnya lagi. “Apa?”

Tanpa Baekhyun memberikan sedikit kesempatan untuk berpikir, kurasakan sesuatu yang hangat menyentuh bagian atas keningku. Baekhyun baru saja mencium dahiku dengan lembut seakan menyalurkan seluruh perasaan kasihnya padaku. Kecupannya yang seringan kapas membuat nuraniku ikut melayang dibelai oleh kebahagian darinya. Astaga. Berkali-kali kau membuatku terpesona Byun Baekhyun.

“Selamat malam.”

End

10 thoughts on “[FF Freelance] Blind Date

  1. So sweet pake banget banget…
    Seorang byun baekhyun bisa semanis ini?
    Gag nyangka..nice story..
    Keep writing

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s