[FF Freelance] A Late Regret (Chapter 1)

coveralr

Title : A Late Regret (Chapter 1)

Author : @diani3007

Main Cast :

  • [Infinite] Kim Myungsoo
  • [A Pink] Son Naeun
  • [Miss A] Bae Sooji
  • [BTS] Kim Seokjin

Genre : Romance, School Life, Angst

Rated : Teen

Length : Chaptered

Disclaimer : ff ini ngga terinspirasi dari manapun. Idenya muncul tiba-tiba. Masalah endingnya MyungZy/MyungEun? Still secret! >.< pokoknya ngga bakal ketebak! /sokmisterius/ oh iya, untuk ‘Bloody School’ maaf belum update ya^^ tapi pasti bakal aku lanjutin kok ASAP~

Summary :

Penyesalan. Ya, penyesalan memang selalu datang di akhir. Jika penyesalan itu belum datang, kau tidak akan pernah berhenti dan menyadarinya, sampai ada pihak yang terluka atau bahkan pergi meninggalkanmu.

 

~Chapter 1~

Myungsoo tidak berhenti menatap gadis yang duduk berjarak dua bangku di depannya. Gadis itu selalu cantik di matanya. Gadis yang selalu jadi nomor satu di kelasnya, 11-2. Sedangkan Myungsoo? Dia hanya peringkat tengah-tengah di kelasnya. Dia juga tidak terlalu mempunyai banyak teman karena sikapnya yang sangat tertutup. Dia selalu dipanggil es batu oleh teman-temannya. Belum lagi, kacamata kotak yang tidak pernah lepas dari hadapan matanya. Kacamata yang membuatnya semakin jelas menatap gadis yang disukainya secara diam-diam.

Di tengah-tengah lamunan Myungsoo, gadis itu tiba-tiba beranjak dari tempatnya. Myungsoo tersenyum tipis. Dia sudah tahu tempat yang akan dituju gadis itu. Dengan langkah pelan, Myungsoo mengikutinya dari belakang. Di hadapannya, rambut bergelombang panjang yang berwarna hitam kecoklatan itu tergerai. Dia memang tidak pernah mengucir ataupun sekedar menjepit rambutnya. Namun bagi Myungsoo, mau bagaimanapun penampilannya, gadis itu tetap terlihat cantik.

Sampailah mereka di depan perpustakaan. Gadis itu segera masuk, tapi tidak dengan Myungsoo. Dia lebih memilih berdiam diri di pintu perpustakaan sambil memperhatikan gadi itu memilah-milih buku yang ingin dia baca. Hobinya membaca, tidak pernah seharipun dia tidak mampir ke perpustakaan sekolah. Myungsoo tahu itu. Sambil sesekali membetulkan kacamatanya, Myungsoo terus memperhatikannya.

Myungsoo dan gadis itu pernah sekelas juga saat mereka masih di bangku kelas 10. Tapi, ajaibnya, mereka tidak pernah sekalipun mengobrol. Dalam tugas kelompok pun, mereka tidak pernah bersama. Hal itu semakin membuat Myungsoo segan untuk mengajaknya mengobrol. Kalaupun itu berhasil, itu adalah kali pertamanya berbicara dengan gadis yang ia sukai itu. Jelas, berbicara sepatah kata saja tidak berani, apalagi sampai menyatakan cinta? Myungsoo memang payah.

~***~

TAK!

“Aahh, Eomma, appo!”

Wanita paruh baya itu baru saja memukul anak peremuannya dengan buku tebal.

“Ini karena kau tidak pernah belajar! Lihatlah akibatnya! Mana mungkin nilaimu bisa 20?! Kau semalas apa sih? Nilaimu parah sekali!”

“Aku sudah belajar, Eomma, soalnya saja yang diluar kemampuanku!”

Gotjimal! Kalau begitu berarti kemampuanmu jauh dibawah teman-temanmu, huh?”

“Mungkin.”

TAK!

Appo! Kenapa memukulku lagi, Eomma?”

“Kau harus pindah sekolah! Eomma menyesal menyekolahkanmu di sekolah bagus, malah jadi memalukan! Pergi ke kamarmu!”

Eomma…

“Masuk kamar!”

Dengan langkah berat, gadis itu berjalan ke kamarnya. Sebelum menutup pintu, gadis itu menatap wajah ibunya, mengerucutkan bibirnya kesal lalu menutup keras pintu kamarnya. Papan bertuliskan namanya yang digantung di depan pintu kamarnya saja sampai jatuh.

Aigoo, mimpi apa aku bisa sampai punya anak perempuan seperti dia?” keluh ibunya sambil memungut papan bertuliskan BAE SOOJI’S ROOM.

~***~

Eoh? Kau sudah selesai?” tanya seorang siswa laki-laki yang baru saja menegakkan tubuhnya setelah bersandar di motor besarnya, menunggu gadis yang juga satu sekolah dengannya. Karena berbeda kelas, mereka kadang tidak keluar pada jam yang sama.

Ne. Apa kau sudah lama menunggu?” tanya gadis itu sambil membenarkan posisi tasnya.

Aniyo, kajja.”

Dari kejauhan, Myungsoo memperhatikan laki-laki yang akhir-akhir ini dekat dengan gadis yang ia sukai. Hal itu membuatnya semakin terbebani dan merasa tersaingi. Apalagi, saingannya ini tampan. Namanya Kim Seokjin, siswa kelas 11-3 yang berada tepat di sebelah kelasnya. Tapi, sudah jelas, dengan teman sekelas saja Myungsoo tidak pernah akrab dan kenal dekat, apalagi dengan kelas lain?

“Sampai kapan mereka akan terus pulang bersama?” gumamnya.

~***~

Pagi ini, baru ada Myungsoo di kelas. Dia sedang sibuk berdoa agar yang datang setelahnya adalah gadis yang ia sukai, bukan orang lain. Dan benar saja, doanya terkabul. Gadis cantik itu memasuki kelas dengan langkah anggun. Bagi Myungsoo, tingkah laku gadis itu selalu terlihat anggun.

“S-s..,” Myungsoo berkali-kali mencoba memanggil nama gadis itu. Tapi dia terlalu gugup.

“S-sess-s…Son Naeun-ssi!”

Gadis yang dipanggil itu menoleh lalu mengerutkan dahi. “Kau, Kim Myungsoo?” tanyanya.

Sukses. Kini Myungsoo kesulitan untuk menghirup oksigen disekitarnya. Jantungnya berdetak tak karuan. “N-n..ne.”

“Woah, aku rasa ini pertama kalinya kita bicara ya? kuperhatikan kau selalu diam dan tak banyak bicara.”

Mwoya? Apa itu berarti dia juga memperhatikanku?” gumam Myungsoo tanpa suara.

“Apa kau mengatakan sesuatu?”

Aniya.”

“Naeun-ah!”

Naeun yang sedang mengobrol dengan Myungsoo harus terganggu dengan kehadiran Seokjin.

“Kim Seokjin?”

“Hari ini kau ada acara tidak?”

Myungsoo hanya bisa diam sambil melongo. Kehadirannya sama sekali tidak dianggap. Mereka terus mengobrol tanpa mempedulikan Myungsoo. Kenapa dia harus datang sih? Mengganggu saja!

~***~

Myungsoo menatap bayangan wajahnya di cermin kamar mandi siswa. Dia menghela nafas sebelum akhirnya melepas kacamatanya lalu membasuh wajahnya. Setelah selesai, Myungsoo dibuat kaget karena kacamata yang tadinya berada di sebelahnya sudah hilang. Padahal Myungsoo menaruhnya di meja wastafel, tapi sekarang sudah tidak ada. Entah hilang, atau jatuh kemana. Pandangan Myungsoo jadi kurang jelas karena tidak memakai kacamata.

KREKK

Myungsoo terlonjak. Dia melirik ke dekat ujung sepatunya. Payah! Dia baru saja menghancurkan kacamatanya. Myungsoo jadi bingung sendiri. Ya, dia memang masih bisa melihat walau tanpa kacamata, tapi dia akan kesulitan membaca tulisan di buku atau papan tulis nantinya. Ini gawat!

~***~

“Bae Sooji, ini dia seragammu!”

Sooji hanya menatap datar ibunya yang sedang mengeluarkan sebuah seragam sekolah barunya.

Eomma sudah mendapatkannya? Heol…”

“Kenapa tidak semangat begitu? Kau akan segera bersekolah di sekolah yang memang cocok untukmu. Jadi, jangan membantah!”

Arrasseo.”

Sooji mengambil seragamnya dengan tidak semangat. “Seharusnya Eomma memberiku kesempatan dulu, bukannya langsung memindahkanku! Menyebalkan!”

“Orang tua lain pasti lebih memilih untuk mempertahankan anaknya di sekolah Cheongdam! Bukannya malah memindahkannya ke sekolah biasa! Itu sama saja tidak ingin anaknya maju. Eomma memang aneh!”

Sampai di kamar, Sooji menghampiri cermin untuk menatap bayangan dirinya. Dia lalu menempelkan seragamnya pada tubuh bagian depannya. Dia hanya bisa mengendus kesal. Seragam berwarna coklat dengan rok krem dan dasi merah. Bahkan nametagnya sudah tertera di sana. Jikwon high school? Aku yakin sekolah itu tidak lebih bagus dari sekolahku.

Sooji lalu melempar sembarangan seragamnya ke atas kasur. Dia berjalan mendekati sebuah foto yang dipajang di dinding kamarnya. Fotonya bersama orang yang sangat ia cintai. Cinta pertamanya. “Aku harap, aku bisa satu sekolah denganmu. Bogoshipda.”

~***~

Seokjin sedang sibuk berkutat pada laptopnya. Tapi, kesibukannya itu harus terganggu ketika beberapa teman laki-lakinya berteriak begitu memasuki kelas. “Ya! sekolah kita akan kedatangan siswa baru!”

“Mwo? siswa baru? Di pertengahan semester?” gumam Seokjin. Setelah itu, dia memutuskan untuk tidak menghiraukan teman-temannya lagi.

BRAKK

“Seokjin-ah!” sapa salah seorang temannya sambil memukul mejanya. Tapi Seokjin tidak menjawabnya. Dia hanya melirik sekilas ke arah temannya itu.

“Kau sudah dengar tentang siswa baru itu? Katanya dia cantik sekali! Dia pindahan dari Cheongdam!”

Mendengar kata Cheongdam, Seokjin mengernyit. “Cheongdam? Pindah ke sini?” temannya hanya mengangguk.

“Dia pasti siswa yang bermasalah. Sudah jelas-jelas dia bersekolah di sekolah yang bagus, kenapa malah pindah ke sini?”

Molla, yang jelas dia akan masuk kelas kita.”

Mwo?

“Kenapa kaget seperti itu? Kelas kita kan 11-3, siswanya yang paling sedikit. Sudah pasti murid baru itu akan masuk kelas kita.”

Seokjin menghela nafas berat. “Semoga saja dia tidak membawa masalah bagi kelas kita. Kalau sampai dia mempermalukan kita, akan kuhajar!”

“Ekhem! Ngomong-ngomong, dia itu yeoja.”

Yeoja?”

~***~

Myungsoo berjalan pelan memasuki kelasnya. Dia menatap sekitar. Para siswa terlihat sedang duduk berkelompok. Ada apa ini? Apa sudah ada guru?

“Myungsoo-ya!”

Suara itu. Myungsoo sangat hafal.

Ne, Naeun-ssi?”

“Kemarilah!”

Dengan pelan-pelan, Myungsoo menghampiri meja kelompok Naeun. “Waeyo?” tanyanya begitu sampai.

“Kita satu kelompok. Duduklah di sini,” ucap Naeun sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.

Myungsoo menelan dengan susah payah air liurnya. Jantungnya berdetak tak karuan lagi. Apa tidak ada kursi lain? Aku bisa mati di tempat kalau duduk di sebelahmu! Batinnya.

Sonsaengnim!

Myungsoo menoleh ke salah satu rekan kelompoknya. “Aku izin ke toilet,” ucapnya seraya meninggalkan kursinya yang langsung diduduki Myungsoo. Naeun terlihat bingung. “Wae? Kau tidak mau duduk di sebelahku?” tanya Naeun. Dari raut wajahnya, dia terlihat sedikit kecewa.

Aniya, aku hanya ingin duduk di sebelah Baekhyun,” ucap Myungsoo sambil melirik Baekhyun yang duduk di sebelahnya dengan raut wajah bingung. “Mworagu?” tanya Baekhyun, tapi tidak dijawab oleh Myungsoo.

“Ah, keurae,” ucap Naeun sambil tersenyum tipis.

Myungsoo hanya tertunduk malu. Itu memang bukan alasan sebenarnya. Jelas dia hanya mengada-ngada. Beberapa menit kemudian, siswa yang barusan izin ke toiet sudah kembali. Dia terlihat agak heran tempat duduknya kini ditempati oleh Myungsoo. Tapi, untungnya dia tidak banyak bertanya dan langsung duduk di sebelah Naeun.

“Kemana kacamatamu?” tanya Baekhyun dengan setengah berbisik. Myungsoo tidak menjawab, dia sedang sibuk membaca perintah tugas pada buku pelajarannya.

“Kalau tidak bisa membacanya tidak perlu dipaksakan.”

Myungsoo merasa sesak nafas. Yang baru saja bicara itu Naeun. Naeun peduli padanya!

Eoh? Mian,” ucap Myungsoo singkat sambil menunduk. Tentu saja, itu karena dia tidak berani menatap Naeun.

Naeun menggeleng pelan. “Gwenchana,” ujarnya dengan senyum tipis yang membuat Myungsoo semakin gugup ketika ia mencuri pandang ke arah Naeun.

Mianhe, ini semua salahku, aku terlalu ceroboh sampai menginjak kacamataku. Aku jadi tidak bisa pakai kacamata lagi sekarang. Dan aku malah menyusahkan kalian.”

Keunde, apa kau benar-benar kesulitan tanpa kacamata itu?” tanya Naeun. Myungsoo hanya mengangguk pelan.

“Ah, sayang sekali,” gumam Naeun.

Myungsoo mengerutkan dahi. “Ne?”

“Padahal kau terlihat lebih baik tanpa kacamata.”

~***~

Seokjin asyik bersandar di pintu kelas 11-2. Seperti biasa, dia menunggu Naeun untuk pulang bersamanya. Hingga tak lama kemudian, Naeun menghampirinya. Tapi, Naeun tidak terlihat seperti akan pulang, karena dia tidak membawa tasnya.

Mianhe, Seokjin-ah. Hari ini aku akan kerja kelompok sampai sore. Tugas ini harus dikumpulkan besok. Sebaiknya kau pulang duluan saja.”

Gwenchana, aku akan menunggumu di luar.”

“Kim Seokjin!”

“Kita kan selalu pulang bersama. Kenapa hari ini tidak bisa?”

“Aku kan sudah bilang, hari ini aku ada tugas kelompok yang harus dikerjakan. Daripada lama manungguku, lebih baik kau pulang duluan saja.”

“Selama apapun, aku akan tetap menunggumu, Naeun-ah,” ucap Seokjin. Tiba-tiba, wajahnya berubah serius. Dia kini meraih kedua tangan Naeun. “Bukankah sudah kubilang? Aku tidak akan pergi darimu, aku akan terus menunggumu. Entah sampai kapanpun, aku yakin suatu saat kau akan bisa menerimaku.”

Naeun menggigit bibir bawahnya. “Apa yang kau bicarakan? Jangan mengalihkan pembicaraan.”

“Aku serius.”

Naeun memandang kedua bola mata Seokjin. Dengan perlahan, dia melepaskan tangannya dari genggaman Seokjin. “Mianhe, aku masih tidak yakin soal itu, Seokjin-ah,” ucapnya sambil menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuhnya.

Seokjin hanya merunduk. Sesekali dia mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya, terlihat seperti sedang berpikir sesuatu. Beberapa lama kemudian, dia mendongak. “Seperti yang sudah kubilang, aku akan menunggumu,” ucap Seokjin akhirnya, lalu pergi meninggalkan Naeun yang hanya bisa diam di depan pintu kelasnya.

Seokjin memang sudah pernah menyatakan cinta padanya, saat mereka masih duduk di bangku kelas 10. Naeun dan Seokjin memang cukup dekat. Walaupun mereka berdua tidak pernah satu kelas, tetapi mereka selalu pulang bersama. Itu semua atas permintaan Seokjin sendiri, yang pada saat itu tidak sengaja mengetahui rumah Naeun tak jauh dari rumahnya. Lama-kelamaan, akibat sering bersama dan menjadi sahabat, Seokjin memiliki perasaan khusus terhadap Naeun. Lama-kelamaan, perasaan itu semakin kuat. Mungkin, jika Naeun seorang yang peka, dia pasti bisa mengetahui perhatian Seokjin yang mulai berlebih padanya. Tapi sayangnya, Naeun tetap bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

Hingga suatu saat, dengan penuh keyakinan, Seokjin mencoba untuk menyatakan perasaannya pada Naeun. Tapi sayangnya, semua tidak seperti yang Seokjin kira. Dia berpikir Naeun akan menerimanya, karena selama ini mereka bersahabat. Justru, karena mereka bersahabatlah, Naeun jadi menolaknya. Dia tidak ingin kehilangan sahabat baik seperti Seokjin. Tapi bagi Seokjin, alasan itu konyol. Dia tetap tidak mau menyerah. Bahkan sampai sekarang pun dia masih menunggu Naeun membalas perasaannya. Ya, walaupun saat yang dinantinya itu entah datang, atau tidak.

Sementara itu, Myungsoo yang memperhatikan Naeun dari jauh jadi ikut bingung sekaligus was-was. Sebenarnya mereka itu ada hubungan apa? Mereka sering bersama. Dan baru saja, mereka berpegangan tangan. Apa mereka berpacaran?

Beberapa menit kemudian, Naeun kembali bergabung ke kelompoknya lalu duduk di kursinya. Naeun menatap Myungsoo bingung karena sedari tadi Naeun diperhatikan olehnya. “Mian, tadi aku ada urusan sebentar. Kajja, kita lanjutkan tugas kita.”

~***~

Myungsoo tak henti-hentinya memperhatikan bayangan dirinya di depan cermin. Dia baru saja mengganti kacamatanya yang rusak dengan soft lens. Tentu saja bisa ditebak kenapa dia melakukan ini. Kalau saja Naeun tidak memujinya di sekolah kemarin, Myungsoo pasti akan membeli kacamata baru, bukannya soft lens.

“Padahal kau terlihat lebih baik tanpa kacamata.”

Kata-kata pujian Naeun terus terngiang di kepalanya. dia bahkan kini sedang sibuk memikirkan dan menebak-nebak bagaimana komentar Naeun nantinya. Belum lagi, dia mengubah sedikit gaya rambutnya menjadi lebih agak ikal di bagian poni. “Apa aku berlebihan?” tanyanya pada diri sendiri. Tidak. Aku rasa tidak. Sikapku ini wajar saja untuk orang yang sedang jatuh cinta.

~***~

Flashback

“Myungsoo-ya, setelah lulus nanti, kau akan melanjutkan sekolah ke mana?”

“Aku, akan ke Seowon, yang dekat saja. Kalau kau?”

“Aku.. akan pindah ke Cheongdam dan bersekolah di sana.”

“Cheongdam? Daebak! Kau pasti senang bisa bersekolah di sana, iya kan?”

Sooji terdiam. Dia menatap Myungsoo penuh harap. “Kau tidak akan merindukanku?”

Kini myungsoo diam dan menundukkan kepala.

“Tenang saja, kau kan masih di Korea. Aku tidak akan jauh untuk mengunjungimu. Kau tidak perlu khawatir,” ucap Myungsoo yang mencoba tenang. Tentu saja, jelas sekali dari raut wajahnya yang sangat panik.

“Bagaimana kau bisa tenang? Kau tidak bisa lagi kabur dari rumah untuk menemuiku! Tidak seperti dulu.”

“Pasti bisa. Apapun akan kulakukan untuk bisa bertemu denganmu. Jadi, kau tenang saja, arra?”

“Kau yakin?”

“Tentu.”

Yakseok?”

Keurae, yakseok.”

*

From : Sooji ~ a

Kim Myungsoo! Bisa kau temui aku? Ayahku baru saja meninggal karena kecelakaan. Aku butuh kau saat ini. Jebal. Kalau kau ada waktu, temui aku di dekat taman kota Cheongdamdong. Hanya kau yang bisa menenangkanku.

Myungsoo tercengang. Saat ini dia tidak bisa meninggalkan sekolahnya. Apalagi lima menit lagi dia akan ujian matematika. Jantungnya bahkan berdetak cepat dan dia sulit bernafas.

To : Sooji ~ a

Jeongmal mianhe, Sooji-ya, aku sebentar lagi akan ujian. Aku baru bisa ke sana saat pulang sekolah nanti. Kau bisa tunggu aku sampai siang kan?

Ada sedikit perasaan lega ketika Myungsoo membalas pesan Sooji. Dia lalu memasukkan lagi ponselnya ke saku celana seragamnya. Belum sampai sepuluh satu menit, ponselnya kembali bergetar, bersamaan dengan detak jantungnya yang kembali cepat.

From : Sooji ~ a

Shireoyo! Kau harus ke sini sekarang juga, atau aku bisa mati!

Seluruh tubuh Myungsoo menegang. Mati? Andwae. Satu-satunya orang yang pertama kali membuat Myungsoo jatuh cinta harus mati? Andwae!

Myungsoo pun bangkit dari tempat duduknya. Dia mulai berjalan mondar-mandir di sekitar bangkunya. Perasaannya semakin tidak karuan. Baying-bayang tentang Sooji yang bunuh diri mulai berkumpul di otaknya. Pernafasannya terasa tersumbat. Rasanya dia bisa pingsan saat itu juga.

*

Myungsoo mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Di pikirannya hanya ada Sooji. Sooji satu-satunya. Dia bahkan sudah berkali-kali menerobos lampu lalu lintas. Jantungnya berdetak tak kalah cepat dengan laju motornya.

“Sooji-ya, tunggu aku, jebal.”

Di tengah ketegangannya saat itu, tiba-tiba ponselnya bordering. Tanpa bertanya siapa penelponnya, Myungsoo langsung mengangkatnya.

“SUDAH KUBILANG TUNGGU AKU! KENAPA MASIH MENELPON?!”

Suara isak tangis terdengar di telinga Myungsoo, yang bisa dipastikan kalau itu suara Sooji.

“ARRASSEOOO! AKU AKAN LEBIH CEPAT!”

Dia kini menambah kecepatan motornya hingga di luar kendali bahkan sampai keluar jalur. Hingga tiba-tiba sebuah truk dari arah berlawanan tidak diperhatikannya.

Kecelakaan pun tidak dapat ia hindari. Ponselnya terlempra jauh.

Yeoboseyo, Kim Myungsoo? Kim Myungsoo!”

 

“To be continued…”

 

Selesai sudah deh chap.1 muahahaha

Maaf ya, aku kayanya ngeselin readers banget, bukannya lanjutin ‘Bloody School’ sama ‘Blind’ malah bikin ff baru -_- maaf banget buat yang udah lama nunggu L

Tapi aku bakal lanjutin kok, SUER DEH!

Tapi ngga janji bakal cepet ya😀

Itu sih tergantung kalian yang setia apa engga nunggunya *halah ._. /slapped/

Maaf pendek

Maaf juga kalo di ff in Sooji agak alay T_T

Nanti bakal dijelasin kok, kenapa Sooji dipindahin ke sekolah biasa😉

 

21 thoughts on “[FF Freelance] A Late Regret (Chapter 1)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s