[FF Freelance] Love Is…

COVER LOVE IS

Title : Love Is… || Author : Luan || Rating : T || Genre : Romance, Fluff, Hurt || Lenght : Oneshoot || Cast : Taecyeon, Suzy, Wooyoung, Lee Jieun (IU), Nichkhun, Victoria|| Disclaimer : Tiga cinta, tiga waktu, tiga tempat yg berbeda. Udah pasaran emang ff kaya gini, tapi menurutku ff ku punya sisi yg beda dari yg lain walaupun temanya sama.

WARNING!!! : Cerita ini murni punya ku! No copas! Selamat menikmati ff yg dibumbui typo ini 😀


——–oOo——-

Love is…



Temaram malam terlihat begitu indah dengan pendar bulan-bintang menyatu, angin sejuk berhembus pelan, suara gemericik ombak yg menghempas karang pun ikut memperindah suasana. Di tepi sebuah pelabuhan yg sepanjang sisinya dihiasi gemerlap lampu, berdiri seorang gadis. Gadis yg berambut hitam panjang, kulitnya putih dan mulus, wajahnya cantik, dan hal lain yg membuat sang gadis terlihat begitu mendewi. Gadis itu berdiri sendiri di bawah lampu jalan sambil sesekali mengayunkan sebelah kakinya, padahal tak jauh darinya terdapat ramai orang yg mengerumuni sebuah kapal pesiar yg akan segera melaut.

Sekali lagi gadis ini menoleh pada keramaian disana. Matanya selalu saja tertuju pada seorang berseragam nahkoda lengkap dengan topinya. Tidak ada sedikitpun niat dalam diri gadis itu untuk menghampiri nahkoda berwajah tampan itu. Ia hanya menatap sambil berharap kalau-kalau si nahkoda akan turut menatapnya  lalu menghampirinya. Dan rupanya Dewi Fortuna sedang berbelas kasih padanya, harapannya terkabulkan. Nahkoda muda itu menatapnya sambil melambaikan tangan lalu menghampirinya.

Nahkoda yg memakai name tag bertuliskan ‘OK Taecyeon’  itu tersenyum. “Suzy-ya, apa yg kau lakukan disini? Sejak kapan? Kau tahu? Sejak tadi aku menunggu mu,” Dan pertanyaan beruntun itu terucap dari bibir tipisnya.

Gadis cantik bernama Suzy itu diam tidak bisa menjawab, hanya senyuman manis yg bisa ia berikan sebagai jawaban.

“Lupakanlah. Ayo! Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Ajak nahkoda itu sambil menggandeng tangan Suzy.

Nahkoda itu mengajak Suzy ke sebuah kapal yg besar yg didominasi warna putih. Ia mengajak Suzy untuk menikmati permadani malam di atas kapal dan menghabiskan sisa-sisa waktu yg ada. Keduanya sama-sama mendongak langit sambil mengumbar senyum― menunjukan pada langit kalau mereka bahagia. Tapi langit tidak mudah dibohongi, langit sangat jeli. Ia tetap tahu bahwa ada sedikit luka pada Suzy, walaupun gadis itu berhasil menipu Taecyeon dengan senyum sumringahnya.

“Akhirnya impianku tercapai juga.”

“Ya. Selamat Nahkoda Ok.”

Taecyeon tersenyum. “Eum. Tapi kau harus ingat, selama aku pergi, kau tidak boleh meminta laki-laki lain untuk menemani mu shoping, dinner, ataupun sekedar mengobrol.” Lalu ia mengacungkan jari kelingkingnya pada Suzy.

Suzy mengabaikan. Ia tatap permadani hitam bertabur bintang itu. Tidak ada senyuman lagi yg ia coba tunjukan untuk menutupi kesedihannya. “Wae? Kenapa tidak boleh? Itu hak ku, bukan?” Protes nya.

“Tentu saja tidak boleh.”

Suzy menghela nafas seraya wajahnya yg kemerahan karena menahan amarah yg sudah sampai ke ubun-ubun. “Mwo? Memangnya apa status kita? Kenapa kau melarangku bersama laki-laki lain sementara kau sendiri akan meninggalkan ku tanpa kepastian. Kita sepasang kekasih atau sekedar teman biasa? Kau tidak pernah memberi kepastian, Ok Taecyeon!!”

“Apa status itu begitu penting? Bukankah saat dua hati saling memiliki status itu tak lagi berarti?”

Dan dengan tegas Suzy menjawab,  “Mungkin tidak bagimu, tapi iya bagi ku. Aku tidak tahu harus menjawab apa saat orang lain menanyakan status hubungan kita. Aku terlalu lama menunggumu untuk kepastian itu!”

Suzy menatap mata pemuda itu penuh arti. Tapi pemuda itu masih tetap saja dengan ekspresinya yg datar dan tenang. Pemuda itu tidak membantah tapi juga tidak membenarkan. Hanya diam bersama sorot mata yg tidak ada yg tahu apa yg ada di baliknya.

“Baiklah jika itu seperti itu. Aku pergi.” Akhirnya Suzy memutuskan untuk pergi karena tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk meminta kepastian dari pemuda yg sudah lama dicintainya itu.

“Nona Bae Suzy!”

Suzy berhenti dan lalu membalikan tubuhnya. Tubuh yg tinggi tegap itu kembali telihat olehnya. Berdiri tegap dengan sebelah tangan dimasukan ke saku celana dan ditambah senyuman yg menawan, membuat pemuda itu begitu tampan di mata Suzy.

“Terima kasih kau telah bersedia mengenalku. Terima kasih selalu berada di sisi ku. Dan terima kasih karna kau telah menunggu ku,”

Dan saat pemuda itu melangkah mendekatinya sambil menuturkan kata-kata yg indah berirama, Suzy kembali diam terpaku. Seperti hujan yg turun setelah kemarau panjang, begitulah perasaan Suzy saat ini.

“Nona Bae Suzy,”

Kini, Taecyeon berdiri di hadapannya. Dua manik hitamnya itu berbinar seperti bintang, menatap sepasang manik yg rapuh dan mudah meneteskan air mata.

Will You Marry Me?”

Tidak ada cincin malam itu. Tapi bagaimana ia membuat sebuah kalimat tidak hanya terdengar di telinga tapi juga terdengar oleh nurani, itu sangat luar biasa. Jadi inilah sebuah kepastian yang didapatkan seorang gadis bernama Suzy dari seorang pemuda berekspersi datar bernama Ok Taecyeon. Sebuah kepastian yg berasal hati yg murni. Bukan dari status yg memanipulasi.

Cinta bukan tentang status. Cinta adalah tentang dua hati yang saling memiliki, mengasihi, dan menyayangi.

——–oOo——-


Love is…


Lagi-lagi Wooyoung mengacak-acak tatanan rambutnya, kemudian mulai menatanya lagi dari awal. Entah ini sudah yg keberapa kali ia mengubah model tatanan rambutnya. Menurutnya, model seperti apapun tetap saja tidak cocok jika kaca mata yg setebal ini terus bertengger di batang hidunganya. Mengetahui bahwa tipe ideal gadis itu adalah seorang namja yg keren dan bukan namja berkacamata yg culun sepertinya, membuat Wooyoung benar-benar susah hati. Ia tidak tahu apa yg harus ia lakukan lagi agar dapat merubah dirinya menjadi tipe ideal gadis itu.

“Di mana kaca mata mu? Mengapa kau melepaskannya? Bukankah itu akan membuat mu kesulitan untuk melihat?”  Salah seorang temannya yg turut berdandan di kaca toilet mulai menanyakan keberadaan kacamatanya yg selalu setia bertengger di hidungnya.

Wooyoung menoleh sambil menggaruk-garuk tengkuknya yg tidak gatal. “Tipe ideal Jieun adalah namja yg keren. Jika aku memakai kaca mataku saat menyatakan cinta padanya, aku pasti akan terlihat culun. Dan dia pasti akan menolak ku!” papar Wooyoung.

“Benar juga. Tapi kau memang terlihat sangat keren tanpa kaca mata!”

“Benarkah? Terima kasih.”

“Kalau begitu cepatlah temui dia!”

“Ya, aku pergi dulu ya? Bye!

Semua orang di buat bingung dan sesekali tertawa melihat tingkah lucu seorang namja. Namja itu berjalan seperti orang mabuk, dia tidak bisa berjalan dengan lurus. Sesekali ia menabrak tembok, pohon, dan benda-benda lain di sekitarnya karna letak hal-hal tersebut melenceng jauh dari perkiraannya. Tapi walau setiap orang menertawainya, ia tetap tidak peduli. Namja ini terus saja berlagak sok keren dengan mebenarkan kerah bajunya setelah ia menabrak sesuatu dan mendengar tartawaan orang lain. Padahal semua orang tahu ia adalah Jang Wooyoung, namja yg hidup bersama kaca mata. Termaksut seorang gadis cantik yg duduk bersama seorang pemuda di ujung sana. Sedari tadi gadis itu memperhatikan tingkah Wooyuong yg konyol. Gadis ini terlihat sangat terpukau dengan penampilan Wooyoung yg sangat keren tanpa kaca mata, tapi ia tidak suka namja itu berubah menjadi sok keren seperti itu.

“Hmm. Jieun, bisakah kita bicara sebentar?” Wooyoung menyebut namanya, tapi namja itu tidak menatap kearahnya dan justru menatap pemuda yg duduk disebelahnya.

“Bicara apa?”

“Jangan di sini.”

“Bicara saja disini. Jika kua tidak mau, ya sudah.”

Jieun menahan tawanya karna sepertinya Wooyoung mengira bahwa namja yg duduk di sebelahnya adalah dirinya. Begitupun namja yg duduk di sebelah Jieun itu, ia merasa risih karna Wooyoung terus saja memandanginya dengan tatapan yg aneh. Sudah sedari tadi namja itu bermaksud untuk pergi karna merasa risih, tapi Jieun terus saja memberikan isyarat agar ia tetap berada di posisi itu.

Wooyoung menghela nafas panjang. Ia rasakan jantungnya berdebar kencang. Dengan seluruh keberanian yg ada, ia berkata, “Aku.. Aku menyukaimu Lee Jieun. Apa kau mau menjadi pacar ku?” lalu Wooyoung kembali membali memberanikan diri untuk menggenggam tangan gadis yg disukainya itu. Tapi setelah menggenggam tangan itu, Wooyoung merasakan seseuatu yg sangat ganjal.

“Aneh, tangannya terlihat kecil dan halus. Tapi mengapa tangannya terasa besar dan kasar?” gumam Wooyoung.

Dan kebingungan Wooyoung semakin menjadi-jadi karna ia mendengar Jieun tertawa sangat geli. “Ige. Pakai dulu kaca matamu.” Lalu Jieun memakaikan memberikan kaca mata dan langsung memakaikannya pada Wooyoung.

Setelah benda itu kembali padanya, semua yg terlihat redup dan berbayang itu mulai terlihat dengan jelas. Dan ia betapa terkejutnya Wooyoung saat mendapati dirinya menggenggam tangan seorang namja. Wooyoung terperanjat, ia cepat-cepat melepaskan tautannya pada namja itu.

“Kau gila ya? Mengapa kau mengenggam tangan ku?!” hardik Wooyoung.

“Kau yg gila! Sudah jelas kau yg menggenggam tangan ku!!” bantah namja itu.

Wajah Wooyoung bersemu merah seperti kepiting rebus. Ia benar-benar sangat malu. “Mianhe.”

“Dasar aneh!!” cibir namja itu sambil beranjak pergi.

Wooyoung hanya diam. Ia merasa Jieun pasti akan menilainya sebagai namja yg aneh dan konyol. Dan ia pasti akan di tolak. Namja ini nampak putus asa, semangat yg tadi membara tiba-tiba saja hilang entah kemana.

“Harusnya kau tidak perlu melepaskan kaca matamu.” Ujar Jieun.

“Kalau aku memakai kaca mata, aku pasti akan terlihat culun. Kau tidak menyukainya, kan?”

“Jika itu seorang Jang Wooyoung, aku suka.”

Wooyoung tergegum. Rasanya seperti mimpi. Ia sulit lagi untuk mengembalikan kesadaranya. Kata ‘Aku suka’ dari Jieun mampu membuat raganya terbang melayang-layang.

Saranghae, Wooyoung-ssi…”

 

Cinta adalah perasaan yg tumbuh bukan karna terpesona terhadap penampilan seseoarang. Tapi cintalah mampu mengubah penampilan seseorang menjadi lebih baik.

——–oOo——-


Love is…

Sore itu Nichkhun berdiri termenung di bawah sebuah pohon yg amat rindang. Ia berdiri sambil menatap daun-daun yg berguguran ke tanah merah yg masih basah. Terpeta kesedihan yang amat sangat pada wajah tampannya, sorot matanya menerawang jauh, pikirannya melayang entah kemana. Lalu air matanya jatuh saat mendengar burung-burung itu menyanyikan lagunya yg melankolis. Nichkhun semakin larut dalam tangis kala melihat sang mentari sudah berada di barat. Kematian Ibu lah yg membuat Nichkhun menjadi seperti ini. Upacara pemakaman sudah selesai sejak tengah hari tadi, tapi Nichkhun masih dengan setia berdiri di tepi peristirahatan terakhir Ibu. Ia tidak mau pulang, ia takut ibunya akan kesepian, ia takut akan ada yg merusak persemayaman wanita itu. Walau Nichkhun amat sangat takut berada di tempat yg kelam ini, ia tetap memaksakan diri. Ia ingin mejaga Ibu, sebagaimana wanita itu menjaganya dulu.

“Khunie-ah! Apa kau tidak ingin pulang?” Nichkhun menolehkan kepalanya pada orang yg tiba-tiba saja datang itu. Dia adalah Victoria, gadis manis dengan rambut dikuncir kuda.

Shiro! Bagaimana jika Ibu ku kesepian nanti? Bagaimana jika nanti ada hewan buas yg merusak persemayamannya? Aku ingin menjaganya, Vic.” Nichkhun menolak ajakan gadis manis itu.

Gadis itu mengusap air mata Nichkhun sambil berkata, “Apa kau tahu? Mereka bilang, saat seseorang di panggil Tuhan, tempatnya tinggal adalah disisi Tuhan, bukan di bawah tumpukan tanah merah itu.” Ujar gadis itu.

Nichkhun terdiam. Tidak ada sepatah katapun yg terdengar darinya kecuali suara seruputan umbelnya.

“Katanya, satu-satunya cara untuk menjaga orang yg telah pergi adalah dengan selalu mendoakanya. Mintalah pada Tuhan agar Ia terus menjaga Ibumu dalam rengkuhanNya.”

Nichkhun menyudahi tangisannya. Ia tatap lekat mata gadis manis itu. “Benar seperti itu?”

Gadis itu mengangguk seraya bibirnya yg tersenyum lebar. “Jika memang kau menyayangi Ibumu, harusnya kau tidak menangisinya. Kau harus melepaskannya dengan senyuman. Karena ia bisa menjadi sangat sedih dan khawatir jika kau menangis. Kau tidak ingin ibumu sedih, kan?”

Nichkhun mengangguk. “Baik, aku tidak akan menangis lagi! Mulai sekarang, saat orang-orang yg ku sayangi pergi, aku akan melepaskannya dengan senyuman!” Dengan mantap Nickhun mengatakan hal itu.

“Itu artinya kau juga harus tersenyum saat aku pergi nanti. Kau menyayangi ku, kan?”

Nichkhun terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Yang ia katakan tadi itu adalah respon spontan yg terucap begitu saja.  Tapi setelah beberapa detik terdiam sambil menimang-nimang, akhinya Nichkhun menunjukan senyumannya dan mengangguk pasti walaupun, ia sendiri tidak yakin dapat melakukan hal itu.  “Ya, aku akan tersenyum.”


Sore itu berdiri termenung di bawah sebuah pohon yang amat rindang. Ia berdiri sambil menatap daun-daun yg berguguran ke tanah merah yg masih basah. Teringat akan kejadian yg berlangsung sepuluh tahun itu, sukses membuat air bening yg sedari tadi tertahan di pelupuk akhirnya jatuh juga. Seperti Ibu, Victoria, gadis yg dicintainya sejak kecil turut meninggalkannya. Sebenarnya ia sudah berjanji pada gadis ini untuk tersenyum saat ia pergi nanti. Tapi apalah daya, Nichkhun sudah mati-matian menahan tangisannya sejak tadi, namun hatinya terlalu sakit untuk tersenyum. Ia juga tidak mau memberikan senyuman palsu pada gadis itu, karna ia yakin gadis itu tidak akan suka. Jadi saat ini Nichkhun putuskan menangis sepuasnya di samping tumpukan tanah merah yg di tancap batu berukir di dua ujungnya. Sama seperti saat Ibu pergi.

Waktu berlalu, kerumunan orang yg mengelilingi persemayaman gadis itu pergi satu per satu, menyisakan seorang pemuda tampan berdiri sendiri disana. Pemuda itu menatap tanah merah yg masih basah itu dengan tatapan kosong. Dan setelah beberapa lama, pemuda itu mengangkat kepalanya yg sedari tadi tertunduk. Ia tersenyum lebar. Hatinya sudah terasa sangat lega sekarang. Ia sudah dapat tersenyum untuk mengatakan selamat tinggal pada gadis itu.

“Tolong katakan pada Ibu ku bahwa aku sangat merindukannya. Dan aku juga akan merindukan mu.” Pemuda itu tersenyum sembari menaruh setangkai mawar pada tumpukan tanah merah itu.

Walaupun cahaya mentari meredup, tapi pemuda itu tersenyum cerah.  “Aku sudah tersenyum. Aku menepati janjiku pada mu Vic. Jadi ku mohon kau jangan sedih dan mengkhawatirkan ku.”

“Aku akan selalu mendoakan kau dan Ibu  agar Tuhan selalu menjaga kalian dalam rengkuhanNya. ”

Cinta adalah keikhlasan untuk melepaskan seseorang. Tersenyum saat seseorang yg dikasihi pergi adalah suatu bentuk cinta. Karena mencintainya, kita tersenyum agar ia tidak khawatir. Karena mencintainya, kita tersenyum agar ia tidak sedih.


——–oOo——-


Love Is The End.

Cinta adalah akhir. Cinta adalah dermaga setelah perlayaran yg lama.

— T H E  E N D —

Hehe… Gimana menurut kalian? Aneh ya ceritanya? Please koment tentang gaya bahasa dan diksinya ya. Aku butuh bantuan kalian. Dan terima kasih sudah meyempatkan untuk membaca ff gaje ku ini 😀

11 thoughts on “[FF Freelance] Love Is…

  1. Aaaaa manisnya, walaupun cerita terakhir sedih, tapi masih kerasa manisnya
    Pemilihan katanya udah bagus kok, aku suka, ringan dan mudah dimengerti
    Nice ff..

  2. ffnya nggak gaje kok thor,malahan menurutku bagus banget,gaya bahasanya juga mudah dipahami,next ff ditunggu thor ..fighting!

  3. aaa aku suka taeczy couple,manis bgt >.< gaya bahasanya daebak chingu 😀 tpi aku sdikit terganggu ama beberapa typo nya. but after all,good job ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s