[FF Freelance] The K’s – Memory (Chapter 3)

CYMERA_20131007_142917

THE K’s

Author : @prileyy – Prils

Casts: Kay/Choi Hyona (OC), Kim Jong In/Kai, Cho Kyuhyun, Wu Yi Fan/Kris, Kim Cheryl (OC), Wu Hyera (OC)

Length : Series/Chaptered

Genre : Romance, Family, School life, Angst, Sad ? or  Happy? You decide

Rate : PG 13 – you know your age ?

Previous: Chapter 1, Chapter 2,

NOTE:  VOILA !! saya kembali lagi, session kali ini Prils kemaren habis diajak main roller coaster sama Kai makanya mendadak hilang ingatan dan lupa buat nerusin FF ini (?) oke langsung saja capcipcup sedikit tentang FF ini. Part yang tidak panjang, karena ide yang gampang muncul tetapi sulit untuk dituliskan. Yang masih belum ada bayangan wujud Kay itu gimana silahkan main ke blog,  nah disitu kalian bisa pilih yang kira-kira memungkinkan. Well, thanks before buat yang masih setia nungguin. Silahkan buat yang mau comment atau apa tetapi buat seorang author comment itu biarpun cumin seiprit itu perlu sebagai sebuah penghargaan dari hasil yang engga seberapa.

http://www.expressmyownideas.wordpress.com

selamat membaca

Bulan depan anniversary SOIA, semua siswa sibuk mempersiapkan apa yang akan mereka tampilkan untuk acara tersebut. Aku sama sekali tidak berminat untuk menampilkan sesuatu, bagaimana dengan teman-temanku? Jiwon sibuk berlatih vocal dia berencana untuk beralih profesi sementara dari model menjadi penyanyi. Hyera sibuk mendesign panggung di hall SOIA yang akan dipakai nanti, bahkan wujud Hyera sekarang sudah penuh dengan warna dari mukanya sampai sepatunya. Astaga aku seperti melihat lukisan hidup. Jihyun dan Cher juga tidak kalah sibuknya, tentu saja mereka akan menari. Terkadang aku melihat mereka, sebenarnya mereka berniat mengajakku tetapi aku menolak sepertinya menari bukan bakatku, daripada mengambil resiko menghancurkan acara lebih baik aku mundur.

Seperti sekarang aku sedang menemani Cher dan Jihyun latihan menari, sebenarnya tadi aku berniat untuk menemani Hyera saja tetapi Cher bersikeras bahwa aku harus ikut dengannya, Dia tidak mengizinkanku berkotor-kotor bersama cat seperti yang yang terjadi pada Hyera sekarang. Siapa yang bisa menentang omongannya? Aku sangat suka tarian yang dibawakan mereka, begitu lugas tidak terlalu energik. Aku tidak merasa bosan disini karena teman-teman Cher sangat baik, mereka mengajakku berbicara juga, daripada dirumah paling aku hanya berdiam dikamar.

“Ms. Choi?” kudengar seorang wanita memanggil namaku, sepertinya beliau salah satu mentor untuk kelas dancing. Cher juga mengikutinya dari belakang ketika beliau berjalan kearahku

“Kau bisa menari?”

“Aku hanya bisa menari ballet.” Jawabku jujur.

Wanita tersebut lalu berbicara dengan mentor yang lain, Cher bahkan juga bergabung. Membicarakan sesuatu sampai serius sekali. Yang kudengar hanya ‘Ya, sepertinya cocok, dia bisa latihan” dan lainnya yang tentunya tidak kumengerti.

Cher berjalan mendekatiku dan meraih salah satu tanganku. “Demi sahabatmu yang cute, beautiful, amazing, even freak would you do something for me?” perkataan yang membuatku memundurkan langkahku. Cher sangat tidak cocok melakukan aegyo seperti itu.

Do what?”

Lalu Cher berkata bahwa siswa yang seharusnya ikut dalam pertunjukan solo ballet kami bulan depan sedang cedera dan Cher memintaku untuk menggantikannya. Sebenarnya mereka bisa saja meminta siswa lain tetapi dikarenakan postur tubuhku yang sangat pas dengan siswa yang sedang cedera tersebut Cher mengandalkanku. Dan lagi aku cukup tau tentang menari ballet, tapi Tuhan tolong itu sudah lama sekali, aku hanya mengingat beberapa hal yang mendasar saja. Dengan tampang memelas dan iming-iming bahwa Dia bersedia melakukan apapun untukku selama seminggu. Aku masih mencoba untuk menolaknya.

“Mengapa bukan kau saja yang menggantikannya?”

“Karena passionku bukan di ballet baby. Dancing memang majorku tetapi ballet bukan kategoriku. Oh ayolah, kau tidak mungkin tegakan menambah bebanku lagi? Aku sudah berlatih 3 tarian untuk nanti dan kau mau menambah satu lagi? Yang benar saja. Kau mau membuat badanku hancur?” Mengapa Cher selalu mempunyai alasan yang bagus untuk menolakku.

Sebenarnya aku juga tidak tega menolaknya, tetapi aku takut malah menghancurkan acara. Sebulan waktu yang kurang untuk latihan. Bagaimana ini?

Akhirnya dengan memikirkan segala pertimbangan dan resiko aku memutuskan untuk menyetujuinya. “Tapi apa kau yakin aku bisa melakukannya? Maksudku dalam waktu sebulan?” tanyaku dengan perasaan cemas sambil memainkan jari-jari tanganku

“Tentu saja bisa, nanti Kau akan bertemu dengan senior kami, Dia yang akan mengajarimu menari. Dan kau tau? Dia tampan sekali” Cher menjelaskan seperti seorang marketing. Dan apa itu? Kukira senior kami perempuan.

“Ah ya, dan Kau bisa memulai latihanmu besok bersamanya, kalian bisa memakai ruang tari yang disebelah, setauku ruangan itu tidak dipakai karena anak ballet lebih memilih untuk latihan di markas mereka. Dan karena yang akan kau gantikan itu solo ballet jadi tentu saja tarianmu berbeda dengan yang group.” Cher melanjutkan perkataannya.

“Apa aku perlu menyiapkan sesuatu?”

“Kau hanya perlu menyiapkan mentalmu bertemu dengan senior. Ingat latihan jangan terpesona.” Cher berkata sambil menggodaku. Apa maksudnya? Sudahlah lupakan saja.

Aku pun memutuskan untuk keluar dari ruangan itu sebelum Cher meminta macam-macam. Sekolah sekarang tampak seperti bukan sekolah. Hampir semua siswa berkeliaran. Dan aku merasa seperti anak hilang. Bodohnya jika aku tersesat  disekolah yang benar saja aku bahkan sudah hafal seluruh ruangan seminggu pertama sejak aku masuk sekolah. Sambil masih mendengarkan lagu tiba-tiba handphone-ku bergetar dan tebak siapa yang menelepon? Yap, Appa.

Yes, Dad?” aku tidak mau berbasa-basi jika berbicara dengan Appa.

“Kau sedang dimana sayang?”

Aku hanya mengerutkan dahiku, kulihat masih jam 10 pagi. Astaga apa Appa tidak tahu jam 10 pagi itu orang-orang sibuk beraktivitas termasuk aku. Lalu kujawab saja bahwa aku sedang di Mall. Dan Appa percaya saja

“Sekarang masih jam 10 dan kau sedang di Mall?”

Daddy please, tentu saja aku disekolah, bagaimana bisa aku berada di mall sedangkan hari ini masih hari dan jam sekolah” Aku memprotes Appa, kurasa ada yang aneh dengan sikapnya hari ini. Ah tidak-tidak Appa memang aneh setiap hari -_-

Aku hanya mendengar suara tertawa bass Appa. “Lalu kau sedang apa?”

“Berenang. Tentu saja Aku sedang belajar My Lovely Daddy. Astaga aku tidak mengerti apa Appa sebegitu menganggurnya di kantor sampa-sampai meneleponku dan bertanya hal  aneh dan tidak masuk akal?”Aku hanya memutar bola mataku menghadapi Duda yang satu ini. Oops maaf Appa tapi itu benar.

“Appa hanya sedang bahagia sayang.”

“Apa Daddy baru membeli pulau baru? Atau saham keluarga Choi berada di peringkat atas?” Aku lalu menebak-nebak kira-kira apa yang membuat Appa menjadi aneh sekarang.

“Pokoknya Appa sedang bahagia.” Jawaban Appa semakin membuatku gemas.

“Aish, terserah Appa sajalah, kalau masih membicarakan yang tidak penting Aku akan menutup  teleponnya.”

“Nanti Appa yang akan menjemputmu sekolah ya sayang.”

Aku hanya menghela nafasku meratapi nasib menjadi anak dari seorang Appa yang berkelakuan seperti ini “Okay okay

 

***

 

“Appa tumben sekali menjemputku, memangnya kita mau kemana?” tanyaku penasaran. Sudah lama sekali rasanya tidak jalan-jalan berdua dengan Appa.

“Memangnya kita mau kemana?” Mengapa Appa malah balik bertanya padaku -_-

“Aku juga tidak tahu mau kemana seharusnya ketika Appa menjemputku Appa sudah tahu kita akan kemana bukannya malah bertanya padaku, Aku sebagai penumpang hanya ikut saja.” Aku lalu mendekap tanganku di dada dan memasang tampang kesal.

Dan setelah perdebatan panjang antara Aku dan Appa telah memutuskan bahwa kami akan pergi makan lalu jalan-jalan. Aku agak risih karena masih mengenakan seragam sekolah. Masih dengan rasa kesal kepada Appa karena acara dadakan ini. Kami cukup banyak menghabiskan makanan-makanan yang tersaji, well sebenarnya yang daritadi terlihat paling lapar adalah Appa. Seperti tidak makan setahun. Sejujurnya aku masih penasaran dengan apa yang terjadi pada pria dihadapanku ini. Setiba dirumah akan kutanyakan langsung pada Harabeoji. Setelah selesai makan Appa mengajakku belanja, sekalian aku mau membeli baju dan sepatu ballet. Tidak memakan waktu lama mendapatkan barang yang kuinginkan, Appa sepertinya tidak terlalu peduli dengan barang yang kubeli. Dia langsung membayar dan melenggang lagi, tetapi lihatlah Lelaki berumur alias Daddy ini, daritadi dia hanya memutar-mutar toko berkeliling seperti orang hilang. Jika aku bertanya apa yang Appa cari katanya dia mencari jas, dasi dan sepatu yang lain daripada yang lain. Maksudnya supaya keren.

Lalu kujawab saja “Appa sayang, setahuku Jas yang biasa dipakai ke kantor itu berwarna hitam atau abu-abu, rasanya aku tidak pernah menemukan pria mengenakan jas warna pink ke kantornya. Apa Appa mau menjadi yang pertama mempopulerkannya?

Tuhkan Appa hanya tertawa dengan aksinya yang masih memilih-milih Jas. Dan aku hanya mengekorinya dari belakang.

“Bagaimana dengan yang ini? Cocok tidak?” Appa menunjukkanku sebuah jas dengan dasi yang diselampirkan di jas itu. Well selera Appa tidak terlalu buruk. Jas biru tua dengan dasi biru muda bergaris.

“Bagus, Appa akan terlihat seperti Pria berumur yang telah memiliki seorang putri yang sangat cantik. Jadi wanita akan pikir-pikir jika ingin mendekati Appa.” Kataku dan langsung dibalas cubitan gemas di kedua pipiku oleh Appa.

“Baiklah yang ini saja, ayo bayar.” Appa langsung merangkulku ke kasir. Ini bukan disebut merangkul tetapi menyeret -_- “Langsung pulang, hm?”

Dan aku hanya membalas dengan anggukan karena hari ini rasanya lelah sekali.

 

***

            “Harabeoji” panggilku melangkahkan kakiku ke ruang tengah dan langsung menghempaskan tubuhku ke sofa disebelah Harabeoji. Sebelum bertanya aku sudah mengecheck Appa, dan syukurlah Appa sedang diruang kerjanya, berkencan dengan berkasnya seperti biasa.

“Ya, sayang?” jawabnya

“Apa sesuatu terjadi di kantor hari ini? Because I saw the unsual thing happened with Daddy. Like seriously, He just smiled all day” Aku merasa seperti sedang mengorek informasi tentang Appa ke Harabeoji.

I don’t think so,  yah memang setelah bertemu dengan seseorang Appamu menjadi agak sedikit aneh.” Hah, benar kan memang ada something terjadi hari ini. Semakin penasaran aku pun bertanya lagi “Memangnya Appa bertemu dengan siapa?”

“Rekan bisnis, seperti biasa. Untuk menangani proyek yang di Jepang Choi’s Group memang bekerjasama dengan mereka. Appa mu baru saja menemui CEO nya. Yang Harabeoji tahu CEO nya seorang wanita. Mungkin Appamu tertarik dengannya.”

“Benarkah? Apakah wanita itu baik?” Oke, benar-benar luar biasa. Appa mulai tertarik lagi pada wanita.

“Harabeoji tidak tahu sayang, proyek ini sepenuhnya urusan Appamu. Harabeoji hanya mengurus yang di Korea dan Inggris saja.” Jawabannya membuatku kecewa. Sepertinya aku harus bertanya langsung pada yang bersangkutan. “Mengapa tidak kau tanya saja pada Appamu? Harabeoji rasa Appamu tidak akan sungkan bercerita dengan putrinya.”

“Tentu saja, aku akan langsung bertanya pada yang bersangkutan. Good night, Harabeoji. Have a nice dream.” Seperti biasa Harabeoji mencium dahiku sebentar dan Aku beranjak ke tempat Appa.

Ruang kerja Appa tentu saja berada dikamarnya, Appa memang sengaja membuat ruangan berukuran sedang di kamarnya, tetapi harus menaiki tangga dulu jika ingin kesana. Benar-benar design yang unik. Seperti berada di lantai atas tetapi masih berada di dalam kamar. Di kamar ini, ketika aku kecil, aku selalu minta digendong Appa sebelum tidur. Karena aku tidak seperti Ken yang jika sudah mendengarkan music classic langsung tertidur.

“Appa, pandang aku.” Tanpa basa basi Aku berdiri disamping Appa yang masih berkutat dengan laptopnya. Appa langsung memutar kursinya menghadapku tetapi masih duduk, dengan begini Appa melihatku sedikit mendongak dan posisiku lebih tinggi daripada Appa, Appa lalu menyandarkan badannya di sandaran kursi kerjanya.

“Ada apa sayang?”

“Apa Appa sedang jatuh cinta?” tanyaku langsung, aku tidak mau berbasa-basi. “Karena hari ini Appa aneh sekali. Benar kan?”

Appa tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaanku “Menurutmu?

“Pertanyaan itu dijawab Appa bukan dipertanyakan lagi.”

“Yah, memang hari ini Appa bertemu dengan seorang wanita. Menurut Appa dia sedikit mirip dengan Eomma-mu.” Appa berkata dengan mata berbinar-binar

“Benarkah? Aku ingin melihatnya. Bisa?” Aku langsung duduk dipangkuan Appa dan menatapnya serius

“Bisa saja. Appa berencana bertemu dengannya di restaurant. Kau mau ikut?” ajak Appa. Aku tidak mungkin menolaknya. Ini kesempatan langka.

“Tentu saja. Terima kasih Appa sudah bersedia aku interogasi. Good Night, mwah” lalu aku beranjak dan menuju ke kamar.

“Mimpi yang indah, sayang” teriak Appa ketika aku berjalan sambil meloncat kecil menuju pintu kamarnya.

 

***

 

Seperti yang dikatakan Cher kemarin, aku akan bertemu dengan pelatih balletku atau bisa disebut seniorku di ruang latihan. Sudah setengah jam aku menunggu, jika 15 menit lagi dia tidak muncul lebih baik aku pulang. Sambil menunggu orang itu datang aku bermain game di iPad-ku. Gara-gara Appa yang sangat suka bermain Angry Birds aku jadi ikut-ikutan suka -_-

Dengan penuh konsentrasi kugerakkan tanganku cepat supaya lemparanku mengenai sasaran, ternyata permainan ini menyenangkan juga. Kudengar suara bantingan seketika itu aku menoleh ternyata sudah ada seorang pemuda sudah berdiri didepanku tasnya dilempar begitu saja di pojok ruangan ini. Lantas aku menengadahkan kepalaku dan siapa yang kulihat? Astaga ternyata dunia kecil sekali. Dan wait, what is he doing here?

“Whoaa, now I believe that we supposed to be together. Jadi kau yang menjadi muridku? Ternyata dunia memang mentakdirkan kita bersama, Kay” Lelaki itu berkata dengan senyum sumringahnya yang menurutku sangat menjijikkan.

“Oh God, seriously. Bagaimana bisa kau menjadi pelatihku? Yang benar saja.” Aku mendengus kesal. Dari sekian banyak alumni SOIA bagaimana mungkin makhluk menyebalkan ini salah satunya? Ya maksudku dia yang akan melatihku? Ballet? Kulirik dia dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tidak menunjukkan gejala bahwa dia orang yang berbakat dalam menari.

“Tentu saja bisa. Bukankah sudah kukatakan bahwa dunia mendukung kita bersama? Nah, ayo berlatih. tidak baik mengulur-ulur waktu.”

Dan aku hanya memutar bola mataku. Sambil mengikutinya dari belakang menuju ruang di tengah lalu kami saling berdiri berhadapan. Dia memperagakan beberapa gerakan yang harus kuikuti. Well, tidak terlalu buruk. Makhluk ini mempunyai bakat juga ternyata selain menjahili orang.

Sampai pada gerakan aku harus memutar, dimana aku menumpukan tubuhku hanya pada jari kaki seperti keseimbanganku akan goyah Kai langsung memeluk pinggangku dari samping dan otomatis ini membuat bibirnya berada di depan telingaku, oh tuhan. “Ini baru awal, jangan memaksakan dirimu. Apa kau sudah pemanasan?”

Aku tidak bisa membalas perkataannya maksudku jika kutolehkan kepalaku otomatis bibirnya yang errr seksi itu juga akan menyentuh wajahku. “Mmm sudah tadi sambil menunggumu aku pemanasan dulu. Bisakah kau lepaskan tanganmu? Aku tidak akan terjatuh.”

Seakan baru menyadari apa yang sedang diakukannya Kai pun melepaskan tangannya dari pinggangku.

“Oh, maaf. Aku tidak sengaja.”

“Ya, tidak apa-apa.”

Latihan berjalan cukup normal pasca kejadian itu. Normal maksudnya tidak ada tingkah abnormalnya Kai seperti menggodaku atau mendadak merubah tarian menjadi street dance dimana aku harus berguling-guling dan berputar dengan kepala berada di bawah -_-

Tidak terasa kami sudah cukup lama berlatih hingga aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Lalu aku membereskan peralatanku dan mengganti baju. Kai sepertinya tidak berniat mengganti baju, si dekil itu malah memainkan iPad-ku. Tuhkan ikut-ikutan main angry birds. Dasar anak-anak.

“Pulang sendiri” tanyanya ketika aku keluar dari ruang ganti.

“Seharusnya supirku sudah menjemput, aku sudah memberitahunya tadi.” Aku melihat ke keluar lewat jendela. Tidak ada mobilku.

“Ayo kuantar, daripada menunggu lama bukankah lebih menyenangkan pulang bersamaku? Ini juga sudah malam dan aku yakin sangat macet diluar”

Aku cukup lama menimbang-nimbang tawarannya. Pasti Tuan Shin terjebak macet dan aku tidak mau berlama-lama disekolah, ingin pulang dan langsung tidur. “Kau bawa kendaraan?”

“Tentu saja. Aku akan menjamin keselamatanmu sampai kau bisa menginjakkan kakimu di istanamu.” Tanpa menunggu jawabanku makhluk ini sudah menyeretku keluar dan dia langsung berdiri di depan pintu mobil, membukakannya untukku. Membungkuk sambil menggoyangkan tangannya “Silahkan masuk tuan putri”

“Aku tidak akan tersanjung Kai.” Dengusku. Tapi sebelum masuk kutahan pintunya, “Pelan-pelan ya?” Jujur saja aku masih takut. Dia menatapku sebentar, memperhatikan perubahan raut wajahku dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

Tanpa menunggu lama Kai sudah menjalankan mobilnya. Dan tanpa menunggu dia bertanya aku menyebutkan alamat rumahku, karena diantara kami tidak ada yang memulai percakapan aku memutuskan untuk menelepon orang rumah dan memberitahu bahwa aku sudah dalam perjalanan menuju rumah agar Tuan Shin langsung pulang saja. Kai cukup santai menjalankan mobilnya, dan syukurlah dia tidak melajukannya dengan cepat. Aku benci kecepatan. Tiba-tiba dia menyuarakan pikirannya karena sedari tadi dia hanya diam, dan itu bukan sifatnya

“Boleh aku bertanya?” tanyanya.

“Kau meminta izin dulu? Hahahaha” aku hanya tertawa membalasnya. Dan dia hanya menggaruk kepalanya, seperti tidak enak dengan apa yang dia akan lakukan “Mau bertanya apa?”

“Hanya menyangkut dirimu, aku berjanji pertanyaanku tidak akan melenceng kemana-mana. Bisa kau ceritakan tentang dirimu?”

Aku menimbang-nimbang untuk menjawab pertanyaannya, rasanya tidak adil kalau hanya aku yang diinterogasi. “Tetapi setelah itu kau juga harus menceritakan tentang dirimu. Bagaimana? Deal?”

Dan dia menyetujuinya, jalanan yang macet menambah waktu kami berlama-lama di mobil. Seoul sama saja dengan Jakarta, hanya lebih tertib dan bersih. Lagu yang ia putar menambah kesan santai, dan syukurlah bukan music rock, aku juga tidak suka itu.

“Aku tidak tau bagaimana memulainya.” Keluhku. Tetapi pada akhirnya aku mulai menceritakan tentangku padanya. “Namaku Kaysha, Choi Hyo Na nama koreaku, tetapi aku lebih suka nama Kay. Ayahku orang Korea tetapi dia juga memiliki darah Inggris. Selama ini Kami tinggal di Indonesia, kami hanya sesekali ke Korea mengunjungi Kakek dan Nenek.”

Kai melirikku dengan tatapan yang kurang puas, sepertinya dia akan bertanya lagi tetapi ragu. “Engg itu, begaimana dengan ibumu?”

Aku sudah menduga dia akan bertanya seperti itu. Setiap kali ada yang bertanya tentang diriku aku hanya menceritakan tentang Appa dan tanpa menyinggung nama Eomma sedikitpun. Dan jawabanku tentang Eomma tidak pernah ‘Aku tidak punya Eomma’, Ken pernah berkata bahwa kami punya Eomma, semua orang punya Eomma tetapi Eomma kami hanya tidak bersama kami, Ia sudah berada dirumah tuhan yang nyaman. Eomma kami bukan wanita yang mengurus dan menjaga kami, peran itu sudah menjadi milik Appa semenjak kami melihat dunia. Aku menyunggingkan senyum samar. “Eomma sudah tidak bersama kami, dihidupku sekarang hanya Appa yang sangat berarti”

“Kau anak tunggal?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dan aku langsung menatapnya. Kai tidak menyadarinya, masih fokus menyetir. Sekarang itu sudah menjadi pertanyaan paling sensitif bagiku.

“Status baruku selama setahun ini.” Kataku pelan sambil menundukkan wajahku. Kai kelihatan terkejut lalu dengan cepat mengubah ekspresinya. Dia lalu meminta maaf.

Aku mencoba mencairkan suasana dengan tertawa pelan tapi sepertinya itu tidak akan berhasil, aktingku sangatlah buruk. Aku jadi tidak enak dengan Kai, dia seperti merasa bersalah menyinggung soal itu. “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Lalu bagaimana denganmu? Kau juga harus menceritakan tentangmu, kita sudah sepakat”

Dia lalu tertawa pelan sambil mendengus, “Sama saja sepertimu, aku juga anak tunggal. Bedanya, orang tuaku masih lengkap tetapi mereka sudah tidak bersama. Aku menganggap mereka sudah tidak ada. Aku tinggal bersama kakekku.”

“Oh, aku mengerti. Tidakkah kau merasa tuhan begitu tidak adil? Aku benci mengungkapkan ini tetapi aku merasa sempat membenci tuhan dengan apa yang diberikannya untukku. Huh, I think I’m lookin for the place which has no pain in it” kataku sambil menerawang. Lalu Kai meletakkan telapak tangannya diatas tangan kiriku. Dia memberhentikan mobilnya.

“Believe me you are not the only one who thought bout it. I did. Aku sangat membenci hidupku ntah itu dulu atau sekarang. Aku selalu bertanya-tanya mengapa orang-orang begitu mudah menikah lalu bercerai, dan aku selalu membenci jawaban karena ketidakcocokkan. Mereka bercerai ketika aku baru saja berumur 6 tahun. Dengan mudahnya mengatakan padaku setelah kami merayakan ulang tahunku yang ke-6. Aku selalu merasa mainan mereka.” Kai berbicara tanpa melihatku, dia menatap kedepan, fokus pada sesuatu, seperti menerawang melihat kebelakang hidupnya, dia lalu melanjutkan ceritanya.

“Setelah perceraian itu ibuku pergi, meninggalkanku bersama Appa. Beberapa tahun kemudian ketika aku cukup mengerti baru kuketahui aku memang anak rancangan. Kau tahu apa? Orang tuaku tidak pernah saling mencintai. Mereka menikah karena Appaku harus mendapatkan anak laki-laki. Agar perusahaannya tetap menjadi miliknya dan penerusnya. Dan dari situ aku juga mengetahui bahwa disetiap menit hidupnya ibuku hanya melihatku seperti aku harta karunnya.” Kai menundukkan kepalanya pada stir mobil. Ada sedikit getaran dibahunya. Aku mendengar dengan serius setiap perkataan yang dia ucapkan. Disuatu kehidupan yang lain yang menurutku penderitaan yang lain, bukan hanya aku yang merasakan itu.

Aku tidak tahu mengapa tanganku dengan mudahnya meraih bahunya, melingkarkan tanganku disana. Posisi dimana Aku memeluknya dari samping, Kai masih tidak bergerak, menenggelamkan wajahnya pada tangannya, menyandarkan dahinya di stir mobil. Aku mengerti dia yang tidak ingin aku melihat kondisinya saat ini. “Aku mengerti, dan terima kasih telah berbagi denganku. Aku sangat menghargainya, untuk kisahmu.”

Sebuah pergerakkan kurasakan. Dia mengangkat wajahnya, sedikit sendu, hampir menangis. Aku sangat mengerti kesedihan yang ia rasakan. Mengetahui fakta apalagi yang menyakitkan. “Terima kasih sudah mendengar kisahku. Maaf sekali karena kau melihat kondisiku seperti ini, lain kali akan kubayar dengan senyumanku yang menawan.”

Astaga orang ini bagaimana bisa tiba-tiba dengan sekejap merubah suasana hatinya, baru saja bersedih dan sekarang dia sudah bertingkah yang membuatku mual. “Ya ya ya kau membuatku mual, bayarannya aku mau permen kapas saja, itu imbalan karena aku sudah dengan baik hati mendengar kisahmu, dan sebaiknya kau melanjutkan menyetir,mengantarkanku pulang dengan selamat. Lihat!”

Aku menunjuk jam yang sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. Hah pasti orang rumah sudah ribut menunungguku yang tidak juga pulang.

“Baiklah tuan putri, ayo kita pulang ke istanamu. Ah, bagaimana jika ke istanaku saja? Disana juga ada kamar yang hangat dan ranjang yang empuk. Dan pastinya ada aku yang akan menemani tidurmu.” Katanya sambil mengerling nakal padaku.

“Berhenti mengeluarkan kata-kata yang menjijikkan sebelum mulutmu kuolesi dengan nail polish berwarna pink yang tentu saja tidak akan hilang warnanya dalam waktu seminggu” aku mengeluarkan nail polish dari dalam tasku dan sedikit membuka tutupnya.

Tanpa banyak bicara Kai langsung melajukan mobilnya kerumahku.

 

–          To be continued kayak biasa – 

2 thoughts on “[FF Freelance] The K’s – Memory (Chapter 3)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s