IT HAS TO BE YOU

IT HAS TO BE YOU

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Oneshot||Genre: Romance, Sad, School-life||Main Characters: (B1A4) Sandeul & (OC) Jung Hyorim||Additional Characters: (B1A4) CNU, (B1A4) Jinyoung, (Infinite) Hoya & (A-Pink) Eunji||Disclaimer: Ini adalah sebuah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama/tempat/tokoh/adegan dengan FF lain, hal itu tidak disengaja. The plot is purely mine. The characters belong to God, themselves, their parents and their agency||Attention: FF ini sudah aku edit, tapi… mungkin masih ada typo(s) yang nyempil… ehehe. Terus, ada beberapa karakter yang OOC. Mohon maaf jika alurnya tidak jelas dan ceritanya membosankan.

HAPPY READING \(^O^)/

Aku duduk di salah satu bangku yang berada di dalam perpustakaan sekolah, membaca sebuah buku yang baru saja aku ambil dari salah satu deretan rak yang ada. Kedua mataku yang bersembunyi di balik kacamata terus saja menatap rangkaian tulisan yang tertera pada setiap halaman buku.

Sekitar seminggu terakhir, aku memang lebih sering menghabiskan waktu istirahatku di tempat ini. Aku juga tidak tahu kenapa. Sepertinya, aku mulai suka membaca buku, mengingat sebentar lagi aku juga akan mengikuti ujian akhir sekolah. Huft, waktu memang kejam. Secepat inikah dia berlalu? Padahal, baru kemarin aku merasakan bagaimana menjadi siswa baru.

“Ah, ini dia!” seru seorang yeoja di belakangku. Sedikit merasa terganggu, aku pun menoleh. Ingin tahu siapa yeoja yang berseru tadi. Ah, Hyorim.

“Akhirnya dapat. Ppalli! Kita pinjam,” kata temannya menghampiri. Yeoja itu, Hyorim, pun berjalan bersama temannya menuju meja Hyoyeon Noona, pegawai perpustakaan, sambil memegang buku yang ditemukannya. Kedua mataku yang masih setia bersembunyi di balik kacamata, memandangi punggung sempit yeoja itu sampai ia menghilang di belokan.

Sebuah potongan flashback kembali terlintas di pikiranku. Ya, aku masih mengingat hari pertamaku di sekolah ini. Pesona seorang Jung Hyorim—yang juga anak baru—sukses membuatku dibentak habis-habisan oleh seorang sunbae karena aku tidak sengaja menabrak sunbae itu. Kedua mataku terpaku pada sosok seorang Hyorim sampai-sampai aku tidak memperhatikan ada sunbae yang jalan berlawanan arah denganku.

Betapa malunya aku hari itu.

Tapi, di balik itu semua…, aku tahu bahwa aku telah menemukan seseorang yang aku cintai.

Yes, I’ve found somebody to love.

Jung Hyorim

@@@@@

Waktu terus berjalan tanpa ada yang tahu kapan dia akan berhenti. Tidak ada yang tahu kecuali Tuhan. Kurang lebih sama seperti perasaanku pada Hyorim. Hanya aku dan Tuhan yang tahu. Bahkan, sepupu yang tinggal di apartemen yang sama denganku, CNU, juga tidak tahu. Aku memang tidak pernah bercerita tentang Hyorim padanya. Entahlah, aku terlalu malu mengaku pada CNU Hyung kalau dongsaeng-nya ini pelan-pelan mulai beranjak dewasa. Ingin tahu lebih banyak tentang satu anugerah Tuhan yang dititipkan di setiap hati makhluk ciptaan-Nya, cinta.

Mencintai seseorang adalah sebuah hak. Dia tidak dapat dipaksakan. Terserah… kita mau mencintai siapa. Tapi, inilah masalahnya. Masalahku tepatnya. Kalau ada orang yang bertanya padamu, “Kau mencintai siapa?” dan jawabanmu adalah, “Aku mencintai seseorang, tapi dia sudah memiliki kekasih.”

Apakah itu sebuah kesalahan? Sebuah dosa?

Dan sayangnya, seperti itulah nasib cinta pertamaku.

Selama hampir 3 tahun aku menyukai seorang Jung Hyorim. Dan selama hampir 3 tahun itu pula, aku belum mengutarakan perasaanku padanya. Kenapa? Karena di saat aku sudah sangat terlanjur mencintainya, aku baru tahu kalau Hyorim… telah menjadi milik seseorang.

Baru 1 bulan aku berada di bangku SMA, aku mendengar kabar kalau Hyorim berpacaran dengan seorang sunbae. Kalau tidak ingat diriku adalah seorang pria, mungkin aku akan menangis meraung-raung saat itu. Tapi, aku tidak melakukannya. Sekuat hati aku menahannya. Apalagi, begitu aku tahu siapa sunbae beruntung yang menjadi namjachingu-nya.

Hoya Sunbae.

Sunbae yang aku tabrak di hari pertama sekolah.

Benar-benar….

Ah, aku tidak tahu.

“Sandeul-ah? Ya! Kenapa kau diam saja, eoh? Ya! Lee Sandeul!” CNU berseru heboh ketika aku dan beberapa penghuni apartemen lainnya—Gongchan, Baro dan Jinyoung—sedang makan malam.

Aku gelagapan. “A-Aniya. Nan Gwaenchana,” kataku, menatap CNU yang masih menyisakan mimik cemas di wajahnya.

“Kau ada masalah, eoh?” kali ini suara Jinyoung. Aku menggeleng pelan.

“Aku sedang tidak berselera. Aku permisi,” kataku, sebelum Baro dan Gongchan juga ikut mencemaskanku. Beranjak dari kursi menuju kamar.

Setibanya di kamar, aku duduk di atas tempat tidurku. Bersandar pada dinding sambil menekuk lututku dengan tangan yang saling bertautan menumpu di atasnya. Kutundukkan kepalaku, memandang Donald Duck yang menjadi motif sprei tempat tidurku.

Ah, aku tidak tahu harus berbuat apa.

Semakin hari, aku semakin mencintai yeoja itu. Bahkan, setiap aku menyadari kalau dia telah menjadi milik Hoya Sunbae, aku malah semakin ingin memilikinya. Bahkan sampai detik ini. Sampai kami sama-sama berada di bangku kelas 3.

Apa aku salah karena mencintai seseorang yang telah memiliki namjachingu?

@@@@@

Angin sore dengan lembut membelai setiap inci kulitku saat aku sedang berjalan menuju perpustakaan umum. Membiarkan apartemen dalam keadaan kosong karena semua penghuninya punya urusan di luar: CNU masih berada di tempat kerjanya, Gongchan dan Baro sedang kuliah sore, Jinyoung sedang pergi ke Namsan Tower—katanya mau kencan dengan yeoja yang mewawancarainya tadi di sekolah. Dan aku, seperti yang aku bilang, pergi ke perpustakaan umum untuk… melupakan sejenak perasaan yang mengganggu pikiranku.

“Sa-Sandeul-ah?” Sebuah suara menyebut namaku tepat di saat aku baru melangkahkan kakiku menapaki halaman perpustakaan umum. Aku menoleh ke belakang.

“Kau Lee Sandeul, kan?” tanyanya, Hyorim, yang sekarang berdiri di sampingku. Aku terkejut dibuatnya, namun aku masih menyempatkan diri untuk mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaannya barusan.

“Kau masih ingat aku, kan? Kita sekelas waktu kelas 2.”

Aku tidak menyangka kalau aku akan bertemu dengan Hyorim di tempat ini. Apalagi, diajak berbicara. Bahkan, ia tidak segan untuk bersikap sok akrab padaku. Dan…, dia juga masih mengingat namaku. Padahal, aku kira… dia sudah lupa mengingat kemarin di perpustakaan, ia tidak menegurku sama sekali.

“Sandeul-ah? Kau lupa, ya? Aku Jung Hyorim. Kita satu kelompok di mata pelajaran Biologi dulu.”

Celotehannya itu membuatku tersadar. Gelagapan, aku membalas ucapannya. “Ah, N-ne. Aku ingat.”

“Huh! Aku pikir kau sudah lupa. Mentang-mentang kita sudah beda kelas,” ujarnya lagi, sengaja menyenggol siku kananku. Aku tersenyum kalem.

Aku tidak pernah melupakanmu, Jung Hyorim. Setiap malam, semenjak aku melihatmu di hari pertama sekolah, aku selalu memikirkanmu. Sampai sekarang pun aku masih melakukan itu. Jadi, bagaimana bisa aku melupakanmu, eoh? Mungkin, jika seseorang bertanya padaku, ‘hal apa yang paling tidak bisa kau lakukan di hidupmu?’, aku akan menjawab, ‘melupakanmu, Jung Hyorim.’

“Eh, ayo masuk. Dari tadi kita hanya mengobrol di luar,” ajak Hyorim, berjalan mendahuluiku memasuki bangunan perpustakaan umum.

Setibanya di dalam bangunan, aku dan Hyorim berpisah. Katanya, dia ingin mencari bahan materi untuk makalahnya. Sedangkan aku, aku mencari-cari buku dengan judul menarik yang akan aku baca. Begitu aku mendapatkannya, langsung kubawa buku itu menuju tempat baca yang disediakan di dalam perpustakaan.

“Huuufff!” Hyorim menghampiriku, meletakkan 5 buah buku di atas meja. Lalu, ia pun duduk di salah satu bangku kosong yang berada di sekitarku.

“Kau mau meminjam sebanyak ini?” tanyaku sambil menunjuk buku-buku tersebut.

Ne. Aku tidak mau kalau sampai makalahku jelek. Makalahku harus jadi yang terbaik… hehehe,” candanya, membuatku ikut terkekeh. Salah satu sifat Hyorim yang aku suka. Dia orang yang selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik.

“Ng, kau baca buku apa?”

Aku memperlihatkan sampul buku yang aku baca.

“Wah, aku baru tahu kalau kau suka membaca bacaan berat, Sandeul-ah.” Lagi-lagi aku hanya tersenyum, lalu kuperbaiki letak kacamataku yang sedikit melorot.

“Kau sudah mau pulang?” tanyaku.

Ne. Tunggu Hoya Oppa menjemputku… hehe,” jawabnya malu-malu dengan pipi yang bersemu merah. Berbanding terbalik dengan mimik wajahku yang menunjukkan raut kecemburuan, tapi aku berusaha agar tidak terlalu nampak di mata Hyorim.

Sembari menunggu Hoya Sunbae, Hyorim membuka-buka setiap buku yang ia letakkan di atas meja. Membolak-balik halamannya, melihat-lihat setiap isi halaman di dalam buku tersebut secara sekilas. Aku pun jadi tidak begitu konsentrasi membaca buku yang sedang aku pegang.

“Aish, Hoya Oppa jadi menjemputku atau tidak, sih?!” gumam Hyorim gelisah setelah ia berusaha menghubungi namjachingu-nya.

“Mungkin dia sibuk,” kataku.

“Hm, mungkin. Tapi, kenapa dia tidak bilang?”

Hyorim pun memutuskan untuk pulang sendiri. Sebelum perpustakaan tutup, ia segera menemui pegawai perpustakaan, meminjam ke-5 buku tadi. Setelah itu, aku dan Hyorim berjalan keluar dari gedung.

“Kau tidak apa-apa pulang sendiri?” tanyaku cemas.

Ne, gwaenchana. Rumahku kan tidak terlalu jauh dari sini,” jawabnya, lalu tersenyum.

“Oh, ne.”

“Ya sudah, aku duluan, ya. Bye, Sandeul.” Hyorim melambaikan tangan kanannya padaku, sementara tangan kirinya memeluk ke-5 buku yang dipinjamnya. Aku pun membalas lambaian tangannya itu. Hmm… Hyorim-ya, kau harus tahu kalau hari ini aku sangat senang. Sangat senang karena aku bisa berbicara cukup banyak denganmu.

Kulangkahkan kakiku ke arah berlawanan dari arah yang diambil Hyorim. Baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara benturan yang cukup keras diikuti dengan suara teriakan di belakang. Aku langsung menoleh, mendapati orang-orang berkerumun. Sepertinya terjadi tabrakan. Kuhampiri kerumunan orang tersebut, berusaha menyeruak untuk melihat apa yang terjadi.

“HYORIM???”

@@@@@

Aku berdiri di depan pintu ruang IRD, mondar-mandir gelisah. Hyorim, dia menjadi korban tabrak antara motor dengan mobil tadi. Entah bagaimana ceritanya, Hyorim yang seorang pejalan kaki pun ikut menjadi korban dalam insiden itu.

Telapak tanganku sudah mengeluarkan keringat dingin sejak tadi. Mungkin, jika keringatku ditampung, sudah terkumpul 1 liter. Jantungku berdetak lebih cepat. Aku sungguh-sungguh mencemaskan keadaan Hyorim saat ini. Hyorim mengalami luka sobek di bagian kepalanya, luka lecet di kedua tangan dan di kaki kanannya.

“Ya! Apa kau yang meneleponku?” tegur seseorang, membuatku berhenti mondar-mandir. Aku melihat ke arah orang tersebut. Ah, ya, Hoya Sunbae. Tampak ia sedang mengatur nafasnya yang tersengal setelah berlarian.

Ne, Sunbae. Hyorim masih ada di dalam,” kataku.

Aku tidak tahu harus menelepon siapa tadi. Aku sungguh panik. Yang aku lakukan hanyalah menekan tombol dial di HP Hyorim dan ada nomor HP Hoya Sunbae tertera. Akhirnya, aku memutuskan untuk menghubunginya.

“Kenapa harus seperti ini?” sesal Hoya Sunbae, menyandarkan punggungnya pada dinding, menangkup hidung mancungnya seolah kejadian ini terjadi karena salahnya yang tidak menjemput Hyorim pulang. Bahkan, aku bisa melihat cairan bening di sudut mata kanan namja ini.

Dia terlihat sangat mencemaskan Hyorim.

Perlahan, dadaku pun mulai terasa sesak. Aku merasa minder. Sebegitu besarnyakah cinta Hoya Sunbae pada Hyorim? Kalau ya, maka aku memang tidak punya kesempatan untuk mendekati yeoja itu.

Tidak ada.

Pintu ruang IRD pun terbuka dan seorang dokter pun keluar. Hoya Sunbae dengan sigap dan antusias menanyakan keadaan Hyorim, sedangkan aku hanya bisa berdiri diam di dekatnya, ikut mendengar apa yang dikatakan dokter.

“Dia baik-baik saja. Lukanya pun sudah ditangani dengan baik.”

Aku bernafas lega mendengar kalimat itu.

“Boleh aku masuk melihatnya, Dok?” tanya Hoya Sunbae. Dokter pun mengangguk sebagai tanda ia meberi izin pada namja itu. Tanpa menunggu lagi, Hoya Sunbae pun masuk ke dalam ruangan tersebut.

“Kau tidak mau masuk melihat temanmu, anak muda?” tanya dokter padaku. Aku menggeleng pelan. Dokter menanggapinya dengan sebuah senyum, lalu berjalan meninggalkanku.

“BLAM.”

Pintu bercat putih itu pun tertutup rapat.

Aku pun membawa diriku melangkah, menjauhi ruangan itu. Berjalan pelan sambil menahan rasa sakit yang menyeruak di dadaku. Rasanya aku ingin sekali menggantikan posisi Hoya Sunbae yang saat ini berada di sisi Hyorim. Ingin sekali. Tapi, hal itu mustahil!

Hyorim dan Hoya Sunbae sudah saling mencintai.

“Ukh.”

Seseorang tidak sengaja menabrak bahuku, membuat ia menjatuhkan selembar kertas resep di dekat kakiku. Kubungkukkan badanku, memungut benda milik orang tersebut, lalu mengembalikannya. Lantas, aku pun kembali melanjutkan perjalananku pulang menuju apartemen.

@@@@@

A Week Later

Bel tanda jam istirahat baru saja berbunyi. Satu per satu teman-teman dalam kelasku pun keluar, bergegas menuju kantin untuk membungkam perut yang dari tadi meraung-raung. Sendirian, aku berjalan ke tempat yang sama. Biasanya ada Jinyoung, tapi… ya, kau tahu bagaimana tingkah orang yang baru saja pacaran. Aku ditinggal sendirian.

Setibanya di kantin, aku memilih duduk di sudut ruangan. Satu-satunya tempat dimana ada meja yang kosong dan satu-satunya tempat yang menurutku cukup sepi. Cocok untuk menyendiri di sana. Sambil menunggu pesanan, aku membaca buku yang aku bawa.

Annyeong.” Seseorang menghampiriku, menarik kursi kosong yang berada di hadapanku, lalu duduk di atasnya. Kualihkan pandanganku ke arahnya dan—

“Hyorim-ah? Kau sudah masuk sekolah?” tanyaku terkejut, disambut senyum hangat dari yeoja cantik itu. Buru-buru kututup bukuku.

Ne,” jawabnya singkat.

Selama seminggu sejak kejadian hari itu, Hyorim tidak masuk sekolah. Ia butuh istirahat untuk proses penyembuhan luka yang membekas di dahi kirinya dan untuk memulihkan kesehatannya.

“Sandeul-ah, gomawo sudah mau menolongku hari itu. Kalau kau tidak ada, entah apa yang terjadi padaku,” ucapnya tulus, lalu tersenyum.

Aku tersenyum kikuk sembari menggaruk belakang leherku yang sebenarnya tidak gatal. Rasanya malu dan gugup. “Ne, cheonmaneyo.”

Yeoja itu kembali tersenyum padaku. Menyihirku. Membuatku berdoa pada Tuhan untuk menghentikan waktu sejenak agar aku bisa memandangi wajah dengan senyumannya saat ini, dalam jarak yang sedekat ini.

Dan hal itu semakin menambah rasa sukaku padanya. Semakin menyadarkan diriku kalau aku memang benar-benar mencintainya. Sungguh, aku sangat ingin memiliki yeoja di depanku ini, tapi… kau tahu sendiri, kan? Dia sudah ada yang punya.

“Sandeul-ah, apa sore ini kau punya kesibukan?” tanyanya.

Aku menggeleng pelan. “Obso. Wae?”

“Bisa temani aku ke perpustakaan lagi?”

Aku tersenyum, lalu mengangguk. “Ne.”

Gomawo. Eum… Hoya Oppa tidak bisa menemaniku. Dia ada kuliah sore,” lanjutnya, membuat senyumku perlahan-lahan memudar. Aku… hanya dijadikan sebagai ‘ban serep’ dari Hoya Sunbae. Menyedihkan.

“Oh~”

@@@@@

Jam 4 sore. Kata Hyorim, dia akan menungguku di dekat pintu masuk perpustakaan umum pada jam itu. Dan sekarang, sudah bergeser 10 menit dari jam yang ia janjikan, tapi… dia tidak ada. Dia yang terlambat? Atau, aku yang datang terlalu cepat?

“Brrrmmm….”

Suara deru motor yang baru saja berhenti di depanku, sukses membuatku terkejut. Membuatku refleks menoleh ke arah pengendaranya.

O-Oh. Hyorim dan… Hoya Sunbae.

“Sandeul-ah, mianhae, aku terlambat. Salahkan Hoya Oppa! Dia terlambat menjemputku,” kata Hyorim dengan nada bersalah. Merasa bersalah karena dia datang terlambat dan membuatku menunggu. Padahal, jauh di dalam lubuk hatiku, aku berharap ia merasa bersalah karena telah menunjukkan kemesraan dia dengan Hoya Sunbae tepat di depan mataku. Kau tahu bagaimana rasanya aku melihat Hyorim melingkarkan tangannya di pinggang Hoya Sunbae?

Sakit!

Sangat sakit.

G-Gwaenchana,” balasku.

Yeoja itu pun turun dari motor Hoya Sunbae, berbicara sebentar dengan namja itu, lalu beberapa saat setelahnya, Hoya Sunbae pun meninggalkan kami berdua—mungkin menuju kampusnya karena Hyorim berkata sore ini Hoya Sunbae ada kuliah.

“Ayo, masuk,” ajak Hyorim kemudian.

Berbeda dengan hari itu, hari dimana aku secara tidak sengaja bertemu Hyorim, aku dan Hyorim mencari buku bersama. Buku yang berbeda judul, kemudian membacanya, duduk saling berdekatan. Sesekali, salah satu dari kami mengatakan hal menarik yang kami dapati di buku yang kami baca, memberikan komentar singkat dan… kembali membaca lagi.

Dan di saat itu, saat Hyorim sedang fokus membaca bukunya, aku malah fokus memperhatikan wajahnya dari samping. Seraut wajah itu tidak bisa membuatku konsentrasi membaca, membuatku mengalihkan perhatianku padanya.

“Sandeul-ah?” Hyorim mendapatiku sedang menatapnya, membuatku salah tingkah.

“Apa ada yang salah di wajahku?” tanyanya sembari menyentuh wajahnya.

Dengan keterkejutan yang masih tersisa, aku menggeleng. “Ani-Aniya. Gwaenchana. Tidak ada apa-apa di wajahmu,” kataku.

Yeoja itu menatapku sebentar, lalu kembali menekuni bukunya.

Setelah satu jam menghabiskan waktu dengan membaca, Hyorim mengajakku pulang. Tidak langsung pulang sebenarnya, hanya keluar dari bangunan perpustakaan dan mengobrol santai di bangku taman di halaman perpustakaan.

“Aku selalu melihatmu sendiri, Sandeul-ah. Wae?” Hyorim memulai pembicaraan.

Ani. Terkadang, aku memang suka menyendiri. Tapi, tidak sering. Biasanya aku bersama Jinyoung. Kau tahu, kan?”

“Ah, ne. Siapa yang tidak tahu dia… hehehe.”

Ne.”

“Tapi, akhir-akhir ini aku lebih sering melihat namja itu dengan Shinyoung. Apa mereka pacaran?”

Aku mengangguk.

Jeongmal? Aigoo. Pantas saja,” seru Hyorim, terlihat sedikit kaget dan tidak percaya. Ya, sama seperti reaksiku, CNU, Gongchan dan Baro ketika mendengar namja itu, Jinyoung, mengumumkan dirinya sudah punya yeojachingu.

“Lalu, kau? Kau sendiri saja? Maksudku, kau tidak punya yeojachingu?” tanya Hyorim lagi. Aku diam sejenak.

N-Ne. A-Aku… tidak punya,” jawabku lirih.

“Wah, sayang sekali. Padahal, kau ini orangnya baik,” ujar Hyorim. Sepersekian detik kemudian, dengan satu gerakan cepat, tangannya mengambil kacamataku. “Kau juga tampan tanpa kacamata ini,” lanjutnya sambil memegang kacamata milikku.

“Hyo-Hyorim-ah….”

“Mau aku bantu mencari yeoja, eoh?” tawarnya sambil tersenyum.

Aku hanya memandangi wajah yang tulus ingin memberiku bantuan itu. Tapi, tidakkah dia merasa kalau sejujurnya, aku tersinggung dengan perkataannya? Dia ingin membantuku mencari yeoja lain itu sama saja dengan menyuruhku untuk melupakannya secara tidak langsung. Seolah memang tidak ada kesempatan lagi untukku.

“Sa-Sandeul-ah? Ka-Kau… tersinggung, ya?” tanyanya cemas ketika melihat perubahan mimik wajahku. Ia kemudian mengembalikan kacamata milikku. Buru-buru aku memakai kacamata itu kembali. Ah, lebih baik. Aku bisa melihat wajah Hyorim dengan jelas.

Aku menggeleng, tidak mau membuatnya merasa bersalah. “A-Ani.”

“TIIIIN… TIIIN….”

Suara klakson motor Hoya Sunbae itu menandakan pertemuanku dengan Hyorim harus berakhir hari ini. Melihat namjachingu-nya, Hyorim pamit padaku, lalu berlari dengan riangnya ke arah namja yang duduk di atas motornya. Hyorim menyempatkan diri melambaikan tangannya padaku, sebelum Hoya Sunbae akhirnya mengantar yeoja itu pulang.

Aku pun beranjak dari bangku taman, berjalan pulang menuju apartemen sendirian.

@@@@@

“Kau belum tidur?” tegur CNU ketika ia baru saja masuk ke dalam kamar dan mendapatiku berbaring di atas tempat tidur dengan mata terbuka.

Ajik,” jawabku. Pandangan mataku mengikuti arah CNU yang bergerak menuju tempat tidurnya yang berada di seberang tempat tidurku.

“Ah, lelahnya,” gumamnya, setelah tubuhnya rebah.

“CNU-ya?” panggilku.

Ia menoleh padaku. “Ne?”

“Apa… apa salah kalau ada seseorang yang mencintai orang lain yang sudah memiliki kekasih?” tanyaku, balas menoleh padanya.

CNU diam sebentar. Terlihat berpikir atau sedang sibuk menyusun kata-kata untuk menjawab pertanyaanku. “Tergantung kondisinya. Itu benar kalau kekasih orang itu memperlakukannya dengan buruk dan ada seseorang yang bersedia mencintai orang itu sepenuh hati. Tapi, hal itu juga bisa jadi salah kalau sepasang kekasih itu saling mencintai, lalu ada seseorang yang mengganggu hubungan mereka. Wae?”

Ani. Gwaenchana.”

“Mencintai seseorang yang sudah punya kekasih itu akan menyiksa, Sandeul-ah. Kau tidak tahu apakah kau masih punya kesempatan untuk bersama dengan orang itu atau tidak. Terlebih, jika orang itu juga sangat mencintai kekasihnya. Tidak ada harapan lagi. Sebaiknya cari orang lain.”

“Tapi, bagaimana kalau kita tidak bisa… tidak bisa mencintai orang lain selain orang itu?” tanyaku lagi.

CNU pun bangkit, duduk di tepi tempat tidurnya, menghadap ke arahku. Dia menatapku sejenak, tampak curiga. “Apa kau yang mengalaminya, Sandeul-ah?” tebaknya 100% tepat.

Ani,” kilahku. CNU masih menatapku curiga. Dia pun kembali merebahkan dirinya, lalu menatap langit-langit kamar.

“Kau harus berusaha melupakan orang itu, Sandeul-ah. Kalau dia memang ditakdirkan bersamamu, Tuhan akan menunjukkan jalan untuk kalian bersama. Tapi jika tidak, jangan pernah berusaha merubah takdir, Sandeul-ah,” nasihat CNU padaku seolah dia yakin kalau memang aku yang sedang mengalami situasi tersebut.

“Maksudmu?”

“Jangan pernah berniat untuk mengganggu hubungan mereka. Jangan pernah berniat untuk merebut orang itu agar kau bisa bersamanya. Kita tidak tahu kapan karma akan berlaku. Kalau suatu hari nanti, kau punya yeojachingu dan yeojachingu-mu itu disukai oleh namja lain, apa kau mau kalau yeojachingu-mu direbut oleh namja itu?”

Aku diam.

“Jangan pikirkan perasaanmu sendiri, Sandeul-ah. Pikirkan juga perasaan kekasih orang itu, ara?”

Aku masih terdiam memikirkan kata-kata CNU. Dia ada benarnya. Bagaimana kalau aku yang berada di posisi Hoya Sunbae? Aku pasti… aku pasti kesal karena ada orang lain yang mau merebut yeojachingu-ku. Tapi, itu kalau aku yang berada di posisinya. Bagaimana dengan aku yang sekarang? Aku yang berada di posisiku sendiri. Aku yang mencintai yeoja yang telah mempunya namjachingu dan aku tidak pernah berusaha untuk berpaling dari yeoja itu.

NANEUN EOTTOKHAEYO?

WHAT SHOULD I DO?

AKH!

Dan perlahan, rasa kantuk itu pun menyapaku. Detik demi detik membawaku menuju alam mimpi. Satu-satunya tempat dimana aku…, satu-satunya tempat dimana aku bisa menjadi namjachingu Jung Hyorim.

@@@@@

Semenjak Hyorim tahu kalau aku belum punya pacar—dan mungkin ia merasa kasihan padaku—hampir setiap bulan dia men-set-up-ku, memperkenalkanku dengan beberapa teman-teman yeoja yang menurut dia cocok denganku. Bahkan sampai saat ini.

Sore ini, di dalam sebuah café, aku dan Hyorim duduk berhadapan. Hyorim tampak cantik seperti biasa dalam busana kasual—loose blouse pink dengan V-neck dan bawahan skinny jeans hitam. Sedangkan aku, ya, aku tampak biasa saja dengan baju kaos kuning bergambar Mr. Smile di depannya dan juga bawahan jeans. Tidak lupa, satu benda yang semakin menambah buruk kesan ‘biasa’ pada diriku, kacamata.

“Aku yakin pasti kau suka sama yang satu ini, Sandeul-ah,” seru Hyorim yakin. Menurut perhitunganku, yeoja ini adalah yeoja ke-5 yang diperkenalkan Hyorim padaku.

“Aku harap juga begitu,” balasku kalem.

Aku benar-benar tidak tahu harus merespon seperti apa ketika kulihat Hyorim—dengan semangat menggebu—mengatakan padaku kalau dia akan membantuku mencari yeojachingu. Selama proses pen-set-up-an itu, aku dan Hyorim jadi sering jalan bersama. Tentu, dia adalah matchmaker-nya.

Walaupun kelihatannya semakin hari kami semakin dekat karena ‘hal bodoh’ ini, dalam hatiku, aku merasa kalau aku dan Hyorim malah semakin menjauh. Menjodohkanku dengan orang lain itu berarti aku tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mendapatkannya. Belum lagi, sembari menunggu orang yang akan dikenalkan padaku, Hyorim cukup banyak bercerita tentang Hoya Sunbae seolah memberikan gambaran padaku tentang bagaimana indahnya pacaran itu.

Dan aku….

Yah, aku hanya bisa menulikan telingaku mendengar semua ceritanya.

Aku hanya bisa menahan diri untuk tidak menampakkan kecemburuanku di depannya.

Aku hanya bisa menahan rasa sesak di dadaku, yang terasa ingin membunuhku, setiap Hyorim menceritakan semuanya.

Sakit. Sakit sekali.

Dan aku juga terlalu bodoh untuk mengikuti semua apa yang dikatakannya.

Seharusnya aku bisa menolak semua ini, kan?

Seharusnya aku bisa mengatakan pada Hyorim untuk berhenti memperlakukanku seperti ini.

Berhenti memperkenalkan yeoja lain padaku.

Berhenti bercerita tentang Hoya Sunbae di depanku.

Ya, aku memang bodoh. Aku namja bodoh. Namja paling polos di dunia ini. Namja yang tidak tahu apa-apa tentang masalah cinta-cintaan.

Am i a LOSER?

MAYBE!

@@@@@

Namanya Jung Eunji. Yeoja yang diperkenalkan Hyorim padaku hari ini adalah Jung Eunji. Dia teman Hyorim di SMP dan sekarang yeoja itu sekolah di Bundang High School.

Aku akui, yeoja bernama Eunji itu cantik. Cantik sekali malah. Membuatku merasa minder padanya dengan wajahku yang biasa-biasa ini. Dia juga yeoja yang ramah, ceria dan sepertinya mudah bergaul. Dia hampir mirip dengan Hyorim. Tapi, bagiku, Hyorim-lah yang terbaik.

“Kau mau lanjut dimana setelah SMA, Sandeul-ssi?” tanya Eunji yang sekarang duduk berhadapan denganku. Hyorim, ah… dia pergi ke toilet. Sengaja memberikan waktu berdua khusus untukku dan Eunji.

“Ah, aku… aku mau lanjut di Seoul National University. Neo?”

Yeoja itu tidak langsung menjawabku, melainkan menyedot strawberry juice-nya terlebih dahulu. “Aku mau masuk di SNUA. Tapi, kalau tidak bisa tembus di situ, mungkin di Sungkyunkwan.”

“Oh.”

“Ish! Hyorim lama sekali ke toilet-nya,” gerutu Eunji sambil melihat ke arah jam tangan berwarna pink yang melingkar di pergelangan tangannya kirinya.

“Apa kau ada keperluan yang lain, eoh?”

Dia menatapku, lalu mengangguk. “Ne, jam 5, aku harus ke tempat les vokal.”

Kulirik jam di HP yang sengaja aku keluarkan sedikit dari saku bajuku. 15 menit lagi jam 5. “Kalau kau mau ke tempat lesmu, pergi saja duluan. Nanti akan aku beritahu Hyorim.”

Jeongmal? Tapi, apa Hyorim tidak akan marah?”

Ani. Gwaenchana. Serahkan saja padaku.”

Yeoja itu pun tersenyum. “Oh, geurae. Kalau begitu, Sandeul-ssi, aku duluan, ya? Senang berkenalan denganmu,” ucapnya ramah, lalu beranjak meninggalkan café.

Setelah 5 menit bergeser dari waktu dimana Eunji pergi, Hyorim keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan wajah sumringah, ia menghampiriku, duduk di tempatnya semula, berhadapan denganku. Lalu, mimik wajah sumringah itu pun berganti dengan mimik wajah antusias.

“Bagaimana menurutmu? Dia cantik, kan?”

Aku mengangguk. “Ne, dia cantik. Tapi, aku… tidak tertarik padanya.”

Dan wajah antusias itu pun kembali berganti dengan mimik wajah kecewa. Seolah dia merasa gagal (lagi) kali ini. “Susah juga, ya, tipemu,” sahutnya kemudian.

“Se-sebenarnya… tipeku ti-tidak susah, Hyorim-ssi,” kataku. Hyorim memandangku, menungguku untuk menjelaskan lebih.

“Aku… aku sudah menemukan yeoja yang memiliki semua apa yang aku sukai,” ucapku, lalu menunduk.

Jincca?” tanyanya antusias. “Ah, kenapa kau tidak bilang? Nugu? Apa dia anak di sekolah kita juga, eoh?”

Aku mengangguk.

“Wah? Bagus! Nugu? Akan aku bantu kau untuk berkenalan dengan yeoja itu. Serahkan pada Jung Hyorim,” serunya semangat.

Pelan-pelan aku mengangkat wajahku, menatap setiap inci wajahnya. Lalu, aku berucap pelan, “Kau, Jung Hyorim.”

Kedua mata Hyorim terbelalak. Wajahnya pucat. Dia diam, tidak tahu harus merespon seperti apa, sepertinya. Aku yakin dia pasti kaget dengan pengakuanku yang mendadak ini. Aku sendiri juga kaget, entah aku dapat kekuatan dari mana sehingga aku berani mengatakannya.

“A-Aku?” tanyanya. Aku mengangguk pelan.

“K-Kenapa?” tanyanya lagi.

“Aku… aku tidak tahu Hyorim-ssi. Yang jelas, aku mencintaimu sejak kita masih menjadi siswa baru. Aku menyukaimu di detik pertama aku melihatmu. Bahkan, sampai sekarang.”

“Ja-jadi….”

Ne. Aku mencintaimu. Tidak ada satu pun yeoja yang aku suka. Hanya kau….”

“Ta-tapi, aku….”

“Cukup. Aku tahu. Aku tahu kau sudah memiliki Hoya Sunbae.”

Hyorim terdiam. Dia menolehkan kepalanya ke arah jendela, memandangi orang-orang yang berlalu lalang di sana. Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Tapi, aku berharap kalau Hyorim tidak akan marah dengan pengakuan bodohku ini. Sepersekian detik setelah Hyorim menoleh, kulihat setitik cairan bening di sudut matanya. Lalu, dengan satu gerakan cepat, ia beranjak dari tempatnya.

Mianhae, Sandeul-ssi. Aku permisi.”

Bila cintaku ini salah

Hatiku tetap untukmu

Namun, kenyataannya parah

Dirimu bukanlah untukku*

@@@@@

Setelah kuutarakan perasaanku padanya, Hyorim seolah menjaga jarak padaku. Di sekolah, ia tidak pernah lagi menegurku. Ketika kami bertemu di jalan, ia hanya melempar senyum. Senyum biasa. Senyum yang tidak menunjukkan keakraban.

Bisa aku simpulkan kalau (mungkin) ia marah padaku.

Atau….

Ia sengaja menjauhiku agar aku bisa mencari yeoja selain dia.

Ya, sepertinya begitu.

Sampai akhirnya, aku dan Hyorim lulus dari Shinhwa High School. Kami benar-benar tidak pernah bertemu lagi. Kami sudah berada di tempat yang berbeda. Menjalani kehidupan baru masing-masing dengan cara yang beda.

“Kau sudah merelakan yeoja itu, eoh?” tanya CNU.

Saat ini, aku berdiri di depan cermin yang berada di dalam kamar, memastikan penampilanku rapi untuk menyambut hari pertamaku sebagai mahasiswa di Seoul University. CNU duduk di tepi tempat tidurnya, terlihat tampan dengan pakaian yang biasa ia kenakan sehari-hari untuk berangkat ke kantornya.

Di hari itu, di malam setelah aku mengungkapkan perasaanku pada Hyorim, CNU Hyung mendapatiku menangis di kamar. Oke, aku tahu ini memalukan untuk seorang namja. Tapi, aku tidak tahu harus bagaimana. Rasanya sakit sekali. Semua rasa sesak dalam dadaku yang berkumpul, langsung menyeruak begitu saja. Kuceritakan semua padanya dan ia dengan baik mendengarkan ceritaku itu.

Hanya CNU yang saat itu bisa menenangkanku. Sebuah pelukan dari CNU, sepupu yang sudah aku anggap sebagai saudara kandungku, pelan-pelan membuatku bisa menerima kenyataan. Entah apa jadinya aku tanpa CNU.

Ne. Aku ini namja. Aku tidak mau menyia-nyiakan hidupku untuk satu wanita yang kurasa sudah pasti tidak akan menjadi milikku,” kataku. Kupandangi wajahku di cermin. Ya, aku harus bisa melupakan Hyorim.

“Bagus. Aku senang kau sudah dewasa, Sandeul-ah. Aku yakin kau pasti bisa mendapatkan yeoja yang lebih baik dari Jung Hyorim….”

Ne.”

Seperti yang aku katakan tadi, aku tidak mau menyia-nyiakan hidupku lagi. Aku akan menikmati hidupku, mengikuti alur cerita yang sudah ditetapkan Tuhan padaku. I know it must be hard, but…, I’ll try it. Aku akan melupakan Jung Hyorim.

“GLETAK.”

Wae? Kenapa kau lepas kacamatmu, eoh?”

Aku menoleh ke arah CNU, memperlihatkan mataku yang sudah lengkap dengan soft-lens.

“Kata seseorang, aku terlihat lebih tampan tanpa kacamataku.”

CNU Hyung hanya menyunggingkan sebuah senyuman. “Heh! Kau harus ingat, eoh? Orang tuamu membiayai kuliahmu bukan untuk mencari yeoja!” Aku terkekeh.

Ne, arasseo,” balasku.

Dan aku benar-benar memulai hidupku yang baru sebagai mahasiswa di Seoul University. Memulai hidupku tanpa kacamata dan tanpa Hyorim. Melupakan kisah cinta pertamaku yang bisa dikatakan gagal.

Sekarang, aku hanya perlu mencari seseorang seperti contact-lens di kedua mataku ini. Seseorang yang bisa membantuku menjadi lebih baik.

APAKAH ORANG ITU ADALAH KAU?

-THE END \(^O^)/-

Anditia Nurul ©2013

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

A/N: FF ini pernah di-post di personal blog aku dan di HSF.

2 thoughts on “IT HAS TO BE YOU

  1. annyeong author nim ^^
    aku suka sama penyampiannya yg ringan dan ga berbelit-belit , tulisannya juga rapi. Dan ini kisah aku banget 3 tahun suka sama org itu tanpa berani ngungkapin wkwk #curcol
    Keep writing thor😉

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s