[FF Freelance] She’s Mine

She's mine-poster

Author: Ziajung

Genre: Romance, Comedy, Songfic

Length: Oneshoot

Rating: PG-16

Main cast:

–          Kim Kyung-Jae (Eli U-Kiss)

–          Go Jung-Won

Support Cast:

–          Jessica Jung

–          U-Kiss members

Disclaimer: Also posted at allfictionstory.wordpress.com

Note: Ini terinsiprasi dari lagu U-Kiss She’s Mine. Pas tau translate-nya langsung senyum-senyum sendiri ngebayangin ada cowok yang begitu protective tapi unyu kayak dilagunya wk

Enjoy the show, cingudeul^^

——————————-

She’s Mine

Her a.k.a is stealer

She steals guys’ heart

And pulls the strings like a pilot

Perpustakaan Universitas Inha memang tidak jauh berbeda dengan perpustakaan di universitas manapun. Rak-rak buku yang tersusun rapi, papan penunjuk yang teratur, dan petugas perpustakaan yang ramah. Suasana hening, sama seperti biasanya, di sini tercium aroma kopi dan bau khas buku yang kuat. Tidak ada yang pernah memprotes tentang ‘kopi’, karena jujur saja aroma kopi-lah yang justru membuat pikiran mereka lebih tenang.

Tapi ada yang sedikit berbeda pagi ini, perpustakaan Universitas Inha terlihat sedikit ramai. Well, ujian tengah semester memang sudah menunggu, tapi bukan itu penyebab kenapa hanya meja panjang yang berada di tengah-tengah perpustakaan saja yang dipenuhi orang. Tepatnya para pria.

Pria-pria itu membaca buku, memainkan laptopnya, atau hanya memainkan ponsel mereka sambil sesekali melirik sesosok yang mereka anggap indah. Seorang gadis. Padahal gadis itu bukan satu-satunya gadis yang duduk di meja panjang itu, ada sekitar lima orang lainnya. Tapi entah mengapa mereka lebih suka mengerubungi gadis itu seperti lebah yang mengelilingi bunga yang memiliki madu paling manis.

Gadis itu mengangkat kepalanya dari buku tebal yang tengah ia baca. Ia melihat sekeliling, dan menyadari perpustakaan itu terlihat lebih ramai. Ia pun melirik jam tangannya dan sedetik kemudian membereskan segala alat tulisnya. Ia melepas kacamata berlensa tipisnya, lalu tersenyum. Entahlah dia tersenyum pada siapa, yang pasti para pria itu sudah terbang ke awan melihat senyuman itu. Padahal mereka tahu, gadis itu suka tersenyum dimana saja dan pada siapa saja.

Gadis itu berjalan menuju meja peminjaman buku. Ia mendesah begitu melihat antrian cukup panjang di sana. Dengan setengah hati ia berdiri di belakang seorang pria dan berharap ia segera menyelesaikan ini semua.

Eoh, Jung-Wonssi!”

Go Jung-Won mengangkat kepalanya untuk menatap pria yang lebih tinggi darinya, yang berdiri di hadapannya. “Annyeong, Soo-Hyunssi,” gadis itu tersenyum.

Oh oke, Shin Soo-Hyun tidak bisa bernafas sekarang. Lihat! Go Jung-Won tersenyum padanya! Padanya!

“Soo-Hyunssi, gwaenchanhayo?”

Soo-Hyun kembali sadar ketika mendengar suara halus Jung-Won. Rasanya ia mau meledak dan berteriak sekarang. Tapi pada akhirnya ia hanya bisa tersenyum kaku pada Jung-Won.

“Ka-kau mau duluan?” Soo-Hyun menggaruk belakang kepalanya sambil menawarkan posisinya.

Gwaenchanhayo, aku masih bisa menunggu.”

“Ah, tidak, tidak, jangan pikirkan aku. Ka-kau saja duluan,” tanpa memikirkan penolakan halus Jung-Won, Soo-Hyun segera bertukar tempat dengan Jung-Won.

Jung-Won memutar tubuhnya lalu tersenyum manis pada Soo-Hyun. “Gomawoyo, Soo-Hyunssi.”

Soo-Hyun benar-benar merasa nyawanya melayang sekarang, terbang jauh menembus awan sampai atmosfer terluar bumi. Nyawanya terus terbang mendekati matahari dan terbakar di sana. Astaga… kenapa Go Jung-Won sangat cantik dan baik hati?

Aish… kenapa lama sekali!”

Jung-Won mendengar gerutuan dari pria di depannya. Tidak keras memang, tapi tentu saja Jung-Won yang berada tepat di belakangnya mendengarnya dengan jelas. Tidak mau memperdulikan orang itu, Jung-Won kembali membuka-buka buku yang akan dipinjamnya.

“Go Jung-Wonssi?”

Jung-Won kembali mengangkat kepala dari buku di tangannya. Lagi-lagi pria tinggi yang berada di depannya menyapa. Jung-Won tersenyum sambil mencoba mengingat nama pria di depannya. Terkadang—karena saking banyaknya pria yang berkenalan dengannya—ia lupa dengan sebagian orang yang dikenalnya.

Eung…”

“Ki-Seop. Lee Ki-Seop.”

“Ah… Lee Ki-Seopssi. Annyeong.” Jung-Won menjentikkan jarinya lalu menyapa sopan Lee Ki-Seop. Sekarang ia ingat pria di depannya ini. Pria yang berkenalan dengannya di kafetaria universitas.

“Kau mau duluan?”

“Ah, gwaenchanhayo, kau sepertinya sangat terburu-buru.”

Well, bukankah itu benar? Lee Ki-Seop baru saja menggerutu beberapa saat yang lalu.

“Tidak, tidak sama sekali!” Ki-Seop membantah. “Aku masih bisa menunggu untukmu.”

Jung-Won menatap Ki-Seop tidak mengerti, namun akhirnya mengangguk pelan. Ki-Seop menggeser tubuhnya dan membiarkan Jung-Won bertukar tempat dengannya. Ah… Ki-Seop merasa seperti pahlawan sekarang.

Jung-Won menggaruk lehernya, lalu mengangkat bahu. Ini memang bukan kejadian yang aneh untuknya, ia sering mendapat perlakuan seperti ini. Ia melongokkan kepalanya untuk melihat berapa lama lagi gilirannya akan tiba. Namun saat ia melongok, pandangannya bertemu dengan seorang pria berkacamata yang berada jauh di depannya.

Pria itu terlihat kaget melihat Jung-Won berada di barisan belakang. Pria itu kemudian meletakkan buku di tangannya ke lantai di mana ia berdiri tadi, lalu dengan cepat ia menghampiri Jung-Won, membuat beberapa mahasiswa memandangnya tidak mengerti. Dalam hati Jung-Won menyesali perbuatannya untuk melongok ke barisan depan.

“Jung-Wonssi, mau bertukar tempat denganku?”

***

                Jung-Won keluar dengan beberapa buku di tangannya. Tatapan para pria yang dilewatinya—mulai dari yang seangkatan dengannya sampai mahasiswa baru—terus mengiringinya sampai akhirnya ia memasuki koridor fakultasnya, sosiologi.

Jung-Won kembali melirik jam tangannya kemudian terkekeh sendiri. Jam sepuluh tepat. Ia yakin orang itu pasti akan menggerutu tidak jelas kalau bertemu dengannya.

“Go Jung-Wonssi!”

Jung-Won berhenti memikirkan ekspresi kesal orang itu dan mengangkat wajahnya. Lagi-lagi seorang pria memanggilnya. Sejenak Jung-Won mengalihkan pandangannya untuk mengingat nama pria itu. Ah! Dia ingat sekarang.

Waeyo, Hoon-Minssi?”

Yeo Hoon-Min, yang sudah berdiri di depan Jung-Won, mengibaskan tangannya. “Sudah kubilang jangan terlalu formal padaku. Panggil saja aku Hoon.”

Jung-Won terkekeh membuat Hoon ikut terkekeh. “Mianhae.”

“Ada apa kau memanggilku?”

Hoon memukul dahinya. Aish… hanya gara-gara melihat Jung-Won terkekeh saja sudah hampir membuatnya hilang ingatan. Hoon diam sejenak untuk menyusun ulang kata-kata yang tadi sempat hilang di otaknya.

“Ah… kau sudah mengerjakan tugas Dong Seonsaengnim? Ada sedikit yang tidak kumengerti,” Hoon melanjutkan kalimatnya sambil mengeluarkan buku dari tasnya.

“Kau mau kan membantuku?” tanyanya kemudian dengan wajah harap-harap cemas.

Jung-Won mengangguk sambil tersenyum sopan. “Ne.”

 

I see their trecherous insides, so it’s really annoying

Let go of that hand

I’m the guy on her phone background

                Kim Kyung-Jae memutar-mutar tongkat baseball-nya malas sambil menatap sekeliling. Kakinya terus melangkah menyusuri koridor fakultas sosiologi untuk mencari gadisnya. Sial! Gadis itu tidak memberitahunya untuk berangkat sepagi itu, sehingga Kyung-Jae tidak sempat mengantarnya. Kalau sudah seperti ini, sama saja Kyung-Jae memberikan kesempatan pria lain untuk mendekati gadisnya—walau hanya dua jam.

Matanya kemudian terhenti pada sisi koridor di depan ruang jurnalistik. Benarkan, padahal hanya beberapa jam Kyung-Jae tidak bersama gadis itu, tatapan para pria yang melewati gadisnya sudah berbeda. Aish… ingin sekali Kyung-Jae mencolok mata pria-pria itu sampai keluar.

Lima detik kemudian, mata Kyung-Jae membulat sempurna begitu melihat kejadian yang membuat hatinya benar-benar mendidih. Apa-apaan pria itu! Padahal Kyung-Jae sudah terlampau baik dengan membiarkannya berbicara dengan gadisnya sedekat itu, dan kini… tanpa ada takut sedikitpun pria itu memegang tangan gadisnya—walaupun itu terlihat sama sekali bukan disengaja.

Hei! Kim Kyung-Jae disini! Kim Kyung-Jae, namjacingu Go Jung-Won disini!

Aish… Kyung-Jae benar-benar tidak tahan lagi!

Chagiya…” Kyung-Jae sengaja mengeraskan dan memanjakkan nada suaranya.

Jung-Won menoleh bersamaan dengan pria di sampingnya. Ia mengangkat tinggi-tinggi tangannya sambil tersenyum lebar melihat Kyung-Jae. “Oppa!”

Kyung-Jae segera merangkul Jung-Won dengan tangannya yang memegang tongkat baseball, seolah ia sedang mengacungkan tongkatnya itu pada pria di samping Jung-Won. Kyung-Jae pun membenarkan rambut Jung-Won yang tidak semuanya terikat ke belakang.

“Kenapa kau tidak bilang kalau mau berangkat pagi?” tanya Kyung-Jae sambil mengerucutkan bibirnya.

Jung-Won terkekeh. Benarkan apa yang diduganya tadi, pria ini pasti akan menggerutu sambil memasang wajah sok imut. “Mianhae. Jessica menyuruhku datang pagi untuk membantunya menyelesaikan tugas Jang Seonsaengnim.”

“Kau kan bisa memberitahuku sebelumnya,” Kyung-Jae masih belum bisa menerima.

Arraseo, mianhae,” jawab Jung-Won, tapi Kyung-Jae sama sekali tidak merubah ekspresinya. “Ya, aku akan mentraktirmu nanti siang, eotte?”

Shireo!” bantah Kyung-Jae langsung. “Maksudku, kau tidak perlu mentraktirku!” lanjut Kyung-Jae. Ia sama sekali tidak mau dianggap pria yang memanfaatkan seorang gadis, apalagi di depan pria brengsek ini. Tidak sama sekali!

“Aku akan mentraktirmu,” kata Kyung-Jae lagi sambil menyentil hidung Jung-Won pelan. “Dan sebagai gantinya, kau harus menonton pertandinganku besok, eotte?”

Jung-Won terlihat berpikir, dan itu membuat Kyung-Jae gemas sendiri. Ingin sekali ia membawa Jung-Won lari dari sana dan mengunci diri bersama Jung-Won di mobilnya. Sedangkan Jung-Won yang sengaja membuat Kyung-Jae kesal melihat tingkahnya akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tertawa juga.

Arraseo.”

“Ehm… Jung-Wonssi.”

Jung-Won mengalihkan pandangannya dari Kyung-Jae. Astaga… ia sama sekali lupa kalau Hoon masih di sana, menunggunya meminta penjelasan tentang tugas tadi. Jung-Won pun meminta Kyung-Jae untuk menunggu sambil melepaskan rangkulannya, sementara dia melanjutkan penjelasannya pada Hoon.

Kyung-Jae mendengus kesal. Bagus… ternyata bocah tengik itu berhasil mengalihkan perhatian Jung-Won padanya. Ingin rasanya Kyung-Jae melempar bocah itu dengan sebelumnya memukulnya dengan tongkat baseball. Pasti bocah tengik itu tengah menertawainya diam-diam.

Sial!

Kau akan mati…—siapapun namamu—besok! Desis Kyung-Jae dalam hati.

Kesal karena obrolan mereka—yang sama sekali tidak Kyung-Jae mengerti—yang tidak selesai-selesai, Kyung-Jae pun menjadi ingin tahu. Ia melongokkan kepalanya dari balik bahu Jung-Won dan melihat buku yang tengah dicoret-coret Jung-Won. Kyung-Jae mengangkat alisnya, apa maksudnya itu? Well, wajar saja Kyung-Jae tidak mengerti. Dia kan mahasiswa fakultas teknologi dan informatika.

Tapi Kyung-Jae tidak mau begitu saja membiarkan perhatian Jung-Won terus beralih pada pria bau itu.

Aigu… begitu saja kau tidak mengerti?” sindir Kyung-Jae sambil menunjuk buku di tangan Jung-Won. “Kau ini bodoh atau apa?!”

Ya, Kim Kyung-Jae.” Jung-Won memperingatkan.

Gomawo, Jung-Wonssi, aku mengerti sekarang,” Hoon menutup buku catatannya lalu tersenyum takut-takut pada Jung-Won.

Eoh?”

“Kau dengar, Chagiya, dia sudah mengerti, jadi ayo kita pergi,” Kyung-Jae kembali merangkul Jung-Won dan membawanya pergi dari sana. Beginilah kalau sifat merajuk Kyung-Jae sudah muncul, semua pria akan mundur teratur menjauhi Jung-Won.

Annyeong, Hoonssi!” Jung-Won berbalik sejenak lalu membungkuk kecil.

Melihat itu, Kyung-Jae buru-buru menarik Jung-Won sebelum para pria yang melewati mereka berhenti sejenak hanya untuk memandangi Jung-Won yang sedang tersenyum manis dengan pipi memerah. Aish… itu salahsatu yang dibenci Kyung-Jae dari Jung-Won! Gadis itu selalu tersenyum dengan pipi memerah. Tidak tahukah dia kalau itu bisa membuat orang lain salah paham padanya? Bisa-bisa para pria itu mengira Jung-Won juga menyukai mereka!

Dan satu lagi yang ia tidak suka dari Jung-Won. Kenapa gadis ini terlalu baik kepada semua pria??!

Ya, Chagiya, kenapa kau terlalu baik pada semua pria, eoh?” ini bukan kali pertamanya Kyung-Jae menanyakan itu, dan sebenarnya ia juga sudah tahu apa jawaban Jung-Won, yaitu…

“Aku tidak hanya baik pada pria, Oppa, aku bersikap seperti itu pada semuanya.”

Ya, seperti itu.

Jung-Won memang tidak bohong. Ia adalah mahasiswi terbaik di Inha, dan itulah alasan kenapa para pria tidak mau menjaga matanya pada Jung-Won padahal mereka tahu Jung-Won tidak lagi sendiri. Jung-Won ramah pada siapa saja, pintar, dan suka membantu. Lalu semuanya itu diikat menjadi satu dengan kecantikan Jung-Won. Darah Jepang, Korea, dan Inggris yang ada di diri Jung-Won menyatu sempurna membuatnya tidak pantas sama sekali dibilang gadis jelek.

Semua menganggap Kyung-Jae adalah makhluk yang paling beruntung setelah keluarga Jung-Won. Well, pria mana yang tidak mau menjadi kekasih Jung-Won. Bahkan ada beberapa alumni universitas ini yang sengaja datang hanya untuk bertemu Jung-Won.

Tapi mau bagaimanapun kelihatannya, ini seperti dua sisi mata uang. Semua ada baik dan buruknya. Jung-Won terkadang merutuki nasibnya. Ia tidak pernah mencoba menjadi baik ataupun mencari perhatian para pria, tapi… ini sudah sifat alaminya. Sama sekali tidak bisa diubah. Tapi beberapa gadis—yang iri pada Jung-Won—menjauhi Jung-Won dan mengatakan Jung-Won selalu mencari perhatian dari para pria. Ia bahkan pernah mengatai Jung-Won murahan hanya karena berbicara pada salahsatu alumni tertampan padahal ia sudah memiliki Kyung-Jae.

Dan itu menyebabkan Jung-Won tidak banyak memiliki teman wanita. Hanya beberapa, dan itu bisa dihitung dengan jari.

Sedangkan untuk Kyung-Jae, ia harus bersikap ekstra untuk melindungi Jung-Won. Jung-Won bagai permata mahal yang dipajang di tengah-tengah jalan Dongdaemun. Sangat rawan dicuri. Kyung-Jae selalu berusaha menjadi yang terbaik. Ia tidak peduli para pria itu akan memusuhi Kyung-Jae seumur hidup, yang penting Jung-Won selalu berada di tangannya.

I’ll protect my girl, a goal keeper to her heart door’ itu adalah motto hidup Kyung-Jae untuk Jung-Won yang tertulis jelas di hati dan kamar tidurnya (yang ia tulis besar-besar pada sebuah karton).

 

She’s mine, she’s mine, stop stealing glances at her

She’s mine, she’s mine, you dare to look at her?

She’s mine, don’t touch

You can’t compete with me

                Kyung-Jae mengeratkan rangkulannya pada bahu Jung-Won sambil mendengus jengkel begitu tahu tatapan pria-pria itu masih mengarah pada Jung-Won—walaupun secara diam-diam—padahal sudah jelas-jelas ia ada di samping Jung-Won. Oh ayolah… apakah sekarang Kyung-Jae sudah menjadi tembus pandang?

Well, Kyung-Jae memang tidak asing dengan suasana ini tapi tetap saja ia merasa jengkel. Setidaknya walaupun mereka tidak tahu kalau Kyung-Jae adalah pacar Jung-Won, mereka pasti tahu kalau Kyung-Jae adalah kapten baseball Universitas Inha yang tampan dan patut ditakuti. Kyung-Jae sudah sering membawa tim baseball Inha menjuarai beberapa turnamen, apalagi yang paling banyak mencetak homerun adalah dirinya. Aish… apa mereka tidak pernah melihat papan pengumuman?

“Kau tahu, rasanya aku ingin sekali mencongkel mata mereka,” ucap Kyung-Jae sambil menatap tajam beberapa pria yang ketahuan sedang mencuri pandang ke Jung-Won.

Jung-Won tertawa renyah. “Dan kemudian kau akan membiarkanku sendiri, karena kau ditangkap dengan tuduhan pembunuhan?”

Kyung-Jae menoleh ke Jung-Won yang lebih pendek darinya. “Bukan begitu…”

Jung-Won kembali tertawa. “Oppa, kau benar-benar lucu.”

Kyung-Jae tertegun melihat tawa Jung-Won. Lihat, bahkan dirinya saja yang sering melihat Jung-Won tertawa masih merasakan debaran jantung sekencang ini saat Jung-Won tertawa. Kyung-Jae tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan pria-pria itu. Ah! Kyung-Jae kembali kesal!

Aish, haruskah aku menciummu di tengah lapangan agar mereka berhenti menatapmu?” gerutu Kyung-Jae lagi.

Mendengar kalimat ‘mencium-di-tengah-lapangan’ membuat pipi Jung-Won memanas karena ia mengingat kejadian lima bulan lalu, saat kalimat itu terjadi padanya. Kyung-Jae—yang notabennya adalah seonbae Jung-Won—mengungkapkan perasaannya di tengah-tengah lapangan baseball universitas, sebelum akhirnya mencium Jung-Won di sana.

Sama hal-nya dengan Jung-Won, Kyung-Jae juga mengingat momen itu kembali. Niat awalnya ia hanya mau mempermainkan Jung-Won, karena Jung-Won adalah mahasiswi populer dari fakultas sosiologi. Well, Kyung-Jae adalah pria populer di fakultas informatika yang terkenal playboy. Melihat ada mangsa baru, tentu Kyung-Jae tidak mau menyia-nyiakannya.

Dan setelah ia berhasil mendapatkan Jung-Won, justru ia yang terjebak dalam permainannya. Pesona Jung-Won sangat kuat, membuat Kyung-Jae benar-benar melupakan niatan awalnya. Kyung-Jae pun jatuh cinta pada Jung-Won hanya berselang satu minggu dari hari pengungkapannya. Jung-Won cantik luar dalam, dan Kyung-Jae jadi ambisius sendiri untuk melindungi Jung-Won dari mata-mata terkutuk para pria itu.

Shireo,”  jawab Jung-Won setelah mendengar kalimat yang membuatnya wajahnya memerah.

Shireo? Wae? Bukankah dengan begitu semua akan lebih jelas, kalau kau tidak lagi sendiri?” Kyung-Jae memainkan alisnya untuk menggoda Jung-Won. Gadis itu sangat cantik saat tersipu.

“Tapi tidak harus seperti itu…,” Jung-Won menundukkan wajahnya yang memerah. “Oppa pikir aku tidak malu?”

Aiguyeojacingu-ku ini tidak suka dicium ternyata,” Kyung-Jae berhenti sambil berdecak. Ia pun melepas rangkulannya. “Joha, kita tidak akan melakukannya lagi.”

Ya, Oppa bukan begitu…,” jawab Jung-Won. Ia sama sekali tidak menyadari ekspresi aneh  tercipta di wajah Kyung-Jae saat tahu Jung-Won tidak mengiyakan perkataannya tadi.

“Itu kan… tidak boleh ada yang tahu,” Jung-Won mengutuk dalam hati menyadari kalau dirinya mengatakan hal aneh. Ia padahal mau mengatakan kalau tidak mau ada yang melihatnya berciuman dengan Kyung-Jae, tapi ternyata kegugupannya membuat mulutnya mengatakan hal lain.

“Kau benar,” ucap Kyung-Jae sambil mengangguk sok pintar. “Itu privasi kita, tidak boleh ada yang tahu,” ia menunudukkan kepalanya agar sejajar denga wajah Jung-Won lalu tersenyum.

Melihat senyum itu, Jung-Won benar-benar sesak nafas. Paru-parunya seperti tidak mau menghirup udara sama sekali, apalagi Kyung-Jae berada sedekat ini dengannya. Astaga… apakah wajah Jung-Won memerah sekarang?

AiguChagiya… kenapa kau sangat manis…,” Kyung-Jae mencubit pelan kedua pipi Jung-Won yang memerah. “Ah… aku ingin menciummu.”

Oppa!”

Kyung-Jae tertawa. “Wae? Kau mau mencari tempat sepi dulu?”

Oppa…,” wajah Jung-Won benar-benar memerah sekarang.

“Tapi kita tidak punya banyak waktu,” ucap Kyung-Jae sambil pura-pura cemberut. Ia pun meletakkan tongkat baseball-nya begitu saja lalu mengambil dua buku dari tangan Jung-Won. Jung-Won tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat Kyung-Jae menutupi sisi kiri-kanan wajah mereka dengan buku-buku itu lalu mencium bibir Jung-Won lembut—sangat lembut.

Seberusaha apapun mereka menutupi itu, orang-orang itu pasti tahu apa yang sedang mereka lakukan. Dalam kurungan kedua buku yang masih dipegang Kyung-Jae, pria itu masih mencium bibir Jung-Won dengan lembut. Jung-Won sendiri tidak berniat untuk mengakhiri ini. Perlahan ia membalas lumatan Kyung-Jae sama lembutnya. Tidak ada yang tahu pasti sudah berapa lama mereka melakukannya, baik Kyung-Jae maupun Jung-Won sama-sama tidak peduli.

Jung-Won mengakhiri ciuman manis mereka lalu tersenyum malu-malu. Pipinya masih memerah, dan itu malah membuat Kyung-Jae mengalihkan ciumannya ke pipi Jung-Won sebelum akhirnya menyingkirkan buku-buku itu.

Saranghae.” bisik Kyung-Jae tepat di telinga Jung-Won.

***

Everyday is like a battlefield because of her

She gets so many fan letters like an idol

I can’t give her up

                “Jung-Wona, ingat! Besok kau harus membawa catatan Teori Kritis dari Jang Seonsaengnim! Aku sama sekali belum mengerti tentang itu.”

Jessica mengacak rambut pirang panjangnya frustasi. Ia benar-benar tidak menyangka kalau tadi diadakan kuis dadakan dari Jang Seonsaengnim, padahal ia sama sekali tidak mengerti mata pelajaran dosen gendut itu. Jessica tidak hadir dua hari kemarin karena harus melakukan pemotretan terbarunya. Well, Jessica adalah seorang model  walaupun ia belum seterkenal itu.

“Kau harusnya memintaku membawanya tadi pagi,” jawab Jung-Won.

“Aku kan tidak tahu kalau ada kuis hari ini,” Jessica mengerucutkan bibir lalu membuka pintu lokernya. “Kau sendiri tidak memberitahuku!”

Ya, aku sendiri juga tidak tahu kalau Jang Seonsaengnim akan memberi kuis,” balas Jung-Won lalu ikut membuka lokernya yang berada di sebelah Jessica.

Tepat saat Jung-Won membuka lokernya, beberapa pucuk amplop meluncur begitu saja ke lantai koridor loker. Jung-Won meletakkan beberapa bukunya, sebelum akhirnya berjongkok untuk mengambil tiga amplop yang masing-masing berwarna pink dan biru.

Jessica memekik kagum. “Fan letters again?” tanyanya dengan gaya Amerika-nya.

Jung-Won berdiri sambil meneliti tiga amplop di tangannya. “Sepertinya.”

“Kau memang sangat populer, Jung-Wona,” komentar Jessica lalu menutup pintu lokernya. “Kapan aku mendapat surat penggemar seperti itu?”

Jung-Won tertawa renyah. “Bukankah kau juga mendapatkannya? Minggu lalu?”

Jessica mengangkat bahunya lalu menyenderkan tubuhnya di pintu loker sambil melipat tangan. “Ternyata dia hoobae kita. Kau tahu kan aku tidak suka pria muda.”

Ya, itu benar. Jessica sangat anti dengan pria yang lebih muda darinya. Mungkin baginya lebih baik berkencan dengan kepala rektor daripada dengan hoobae mereka.

“Kenapa kau tidak langsung membuangnya, sih?” tanya Jessica bingung saat Jung-Won malah membuka salahsatu surat itu dan membacanya dalam hati. Jung-Won memang aneh. Mungkin kalau Jessica berada di posisi Jung-Won, dimana dia sudah memiliki Kim Kyung-Jae, dia pasti akan membuang semuanya sebelum Kyung-Jae tahu.

“Aku suka kata-kata mereka,” jawab Jung-Won sambil tersenyum. “Bagus kan untuk referensi novelku nanti?”

Jessica tertawa pelan mendengarnya.

“Lagipula, walaupun aku tidak bisa menerima perasaan mereka setidaknya aku harus menghargai usaha mereka,” Jung-Won melipat surat yang dibacanya dan memasukkannya kembali ke amplop wangi surat itu.

“Aku tidak mau menjadi orang jahat.”

Ya, itulah Jung-Won, dia adalah gadis terbaik yang pernah Jessica kenal. Sekarang Jessica mengerti kenapa Jung-Won tidak pernah berteriak sekalipun pada para pria yang jelas-jelas kentara sekali menyukainya. Ia hanya bersikap biasa, menganggap semua teman, karena ia tidak mau menyakiti siapapun. Diam-diam, dari hati Jessica yang paling dalam, ia sangat mengaggumi sifat Jung-Won yang seperti itu.

“Surat lagi?”

Jung-Won dan Jessica sama-sama menoleh saat mendengar nada tidak suka yang pasti mereka sudah tahu siapa pemiliknya. Kim Kyung-Jae sudah berdiri di samping Jung-Won sambil menatap tidak suka surat-surat berwarna pastel di tangan Jung-Won.

“Aku dapat tiga.”

Jessica meringis melihat Jung-Won dengan bangganya menunjukan surat itu pada Kyung-Jae. Terkadang Jung-Won bisa bersikap seperti anak kecil juga.

Mwo?!”

“Tenang, Seonbae, ini lebih sedikit dari minggu lalu,” komentar Jessica saat Kyung-Jae memekik tidak percaya.

Kyung-Jae tidak habis pikir, ternyata Jung-Won lebih populer darinya. Kyung-Jae segera merebut surat-surat itu dari tangan Jung-Won lalu membuka salahsatu surat tanpa sisi lembut sedikitpun.

Ya! Oppa!” Jung-Won mencoba merebut surat itu kembali, tapi Kyung-Jae segera menjauhkannya dari jangkauan tubuh Jung-Won.

Aish… apa-apaan ini! Benar-benar pengecut!” cibir Kyung-Jae sambil membaca kata demi kata dalam surat itu. “’Jantungku selalu berdebar saat melihatmu’? Ya! Kalau jantungmu tidak berdebar itu artinya kau sudah mati, bodoh!”

Jessica menahan tawanya, begitu pula dengan Jung-Won. Menjadi hiburan tersendiri saat membuat seorang Kim Kyung-Jae cemburu seperti ini.

Kyung-Jae melipat surat itu asal-asalan lalu berjalan menuju loker Jung-Won. Ada kalimat dalam surat itu yang membuatnya harus segera melihat sendiri isi loker Jung-Won. Ya, pengirim surat itu menuliskan kalau ia juga memberikan Jung-Won hadiah yang ia taruh di loker Jung-Won. Kyung-Jae membuka loker Jung-Won, lalu mendengus sendiri melihat ada lebih satu hadiah yang berada di sana.

Jung-Won ikut melirik isi lokernya. “Eh?” ia sama sekali tidak menyadari kalau kotak coklat, teddy bear putih, dan tiga tangkai mawar yang masing-masing berwarna putih dan merah ada di sana sedari tadi. Melihat dari bentuk hadiah tersebut, mungkin pengirimnya lebih dari satu orang.

“Wow, Jung-Wona. Wow…,” hanya itu yang bisa Jessica ucapkan saat ikut melihat isi loker Jung-Won.

“Tapi hadiahnya lebih banyak dari minggu lalu, Seonbae,” lanjut Jessica.

Kyung-Jae merasa otaknya memanas. Aish… ia ingin segera memukul pria-pria itu dengan tongkat baseball-nya. Perlukah ia membuat banner besar di loker Jung-Won, kalau ini adalah loker Go Jung-Won, bukan tempat penitipan barang atau kotak pos?!

Jung-Won sendiri hanya tersenyum melihat hadiah-hadiah itu. Walaupun begitu, dalam hatinya ia sangat lelah. Ia terus mendapatkan itu semua, dan membuatnya tidak enak hati pada Kyung-Jae. Tidak, bukannya Kyung-Jae tidak pernah membelikan itu semua untuk Jung-Won—Kyung-Jae termasuk loyal dalam hal itu pada Jung-Won—tapi karena harusnya ini memang tidak boleh terjadi, mengingat Kyung-Jae adalah pacarnya.

“Apa-apaan,” dengus Kyung-Jae. “Aku bisa membelikanmu lebih dari ini!”

Jung-Won tertawa pelan lalu mengambil mawar-mawar itu dan mencium aromanya. Kyung-Jae yang kesal melihat tingkah Jung-Won merebut kasar bunga itu dari Jung-Won dan memasukkannya kembali ke loker dan menutupnya kasar.

“Jung-Wona, bolehkah aku minta teddy bear-nya?”

Mendengar permintaan Jessica, Kyung-Jae segara mengambil teddy bear itu dan menyerahkannya pada Jessica tanpa meminta persetujuan dulu dari Jung-Won. Jessica memekik senang begitu teddy bear mungil itu ada di tangannya. Ya, ia seorang teddy bear addicted. Lihat saja kamar tidurnya atau lihat isi lokernya. Semua pasti teddy bear.

Ya, Oppa, kenapa begitu?” kata Jung-Won tidak terima saat Kyung-Jae menyerahkan begitu saja teddy bear dari loker Jung-Won pada Jessica.

“Aku akan membelikanmu yang lebih besar!” jawab Kyung-Jae dengan nada percaya-saja-padaku. Itu terdengar sangat lucu bagi Jung-Won.

“Tapi itu kan dari penggemarku,” Jung-Won pura-pura tidak suka. Ia mengerucutkan bibirnya.

Ya!”

Dan kemudian ekspresi tidak suka Jung-Won langsung berubah menjadi tawa keras. Benarkan, sangat lucu menggoda pria yang satu ini. Jung-Won meredakkan tawanya lalu mencubit pelan kedua pipi Kyung-Jae yang sedang kesal.

Aigunamjacingu-ku ini sedang cemburu ternyata.”

Chagiya…,” Kyung-Jae mengerucutkan bibirnya, sedikit tidak terima Jung-Won sudah berhasil menggodanya.

Jung-Won kembali membuka lokernya dan mengeluarkan beberapa buku serta hadiah-hadiahnya. Ia tersenyum lembut pada Kyung-Jae sambil menutup pintu lokernya. Kyung-Jae tertegun. Hilang sudah semua rasa kesalnya.

Waeyo?” tanya Jung-Won.

An—“

Ucapan Kyung-Jae terpotong karena tiba-tiba saja Jung-Won mengecup bibirnya dan pergi begitu saja sambil tersipu malu. Kyung-Jae membeku. Jantungnya berdebar lebih cepat. Astaga… kenapa Go Jung-Won satu itu pintar sekali merebut hatinya.

Ya, Chagiya! Wait for me!”

Kyung-Jae segera berlari mengejar Jung-Won sebelum para pria hidung zebra itu melihat Jung-Won yang sedang tersipu manis. Jessica mendesah melihat adegan itu.

“Kapan aku punya pacar?”

***

She’s mine, don’t touch her

Don’t you know what I’m saying?

No matter who you are, I can’t give her up

                Kyung-Jae dan Jung-Won kembali berjalan beriringan seperti biasa—dengan tangan Kyung-Jae yang melingkar di bahu Jung-Won. Kyung-Jae terus mengawasi beberapa pria yang tertangkap basah tengah menatap Jung-Won sambil sesekali menoleh ke Jung-Won. Ia akhirnya berdecak jengkel melihat Jung-Won sedang asik memakan coklat pemberian pria-pengecut-yang-tidak-tahu-malu itu.

Oppa mau?”

Ternyata Jung-Won salah mengartikan tatapan Kyung-Jae yang terus menatapnya tajam. Jung-Won mengangkat kotak coklat di tangannya.

Shireo! Aku tidak akan pernah sudi memakan itu!” Kyung-Jae mengalihkan pandangannya.

“Ini sangat enak,” Jung-Won masih belum juga menyerah.

Ya, kenapa kau tidak membuangnya saja?!” erang Kyung-Jae jengkel. Jung-Won ini benar-benar… kenapa ia terlalu baik??!

“Ayo buka mulut Oppa,” ah.. Jung-Won sama sekali tidak mendengar kata-kata tidak suka Kyung-Jae. Lihatlah, ia malah menyodorkan satu coklat pada Kyung-Jae dan menyuruh pria itu membuka mulut.

“Jung-Wona…”

“Ayo, Oppa, ini enak!”

Kyung-Jae yang tidak berhasil menggunakan nada merajuknya, akhirnya membuka mulutnya dan membiarkan Jung-Won menyuapkan coklat itu. Coklat itu langsung meleleh di mulut Kyung-Jae. Benar kata Jung-Won, ini sangat enak! Walaupun sedikit pahit, tapi Kyung-Jae masih bisa merasakan sensasi manis khas coklat.

Eotte? Enak, kan?”

Kyung-Jae berdeham lalu memasang wajah sedatar mungkin. “Biasa saja,” dustanya. “Aku bisa memberikanmu yang lebih enak dari ini. Langsung dari Belgia.”

Jung-Won terkekeh, tapi toh dia mengangguk. “Arraseo.”

Tiba-tiba saja Kyung-Jae merebut kotak coklat itu dari tangan Jung-Won. Jung-Won memekik tidak suka melihatnya. Enak saja! Tadi Kyung-Jae sendiri yang bilang tidak sudi memakan coklat ini.

“Kau akan gendut kalau terlalu banyak makan coklat,” cibir Kyung-Jae sambil terus menjauhkan coklat itu dari jangkauan Jung-Won. Sesekali Kyung-Jae mengambil coklat dari sana dan memakannya sendiri.

Ya, Oppa….”

Jung-Won terus melompat-lompat untuk mengambil kotak coklatnya. Bagaimanapun itu coklat, makanan terlezat di dunia—baginya.

“Jung-Wonssi.”

Jung-Won berhenti melompat dan membalik badannya. Di depannya sudah berdiri pria tinggi yang sangat dikenal seantero kampus. Woo Seung-Hyun, atau sering juga dipanggil Kevin, karena ia lama tinggal di Amerika. Kevin adalah ketua senat, jadi wajar saja Jung-Won mengenalnya.

Seonbaenim,” Jung-Won membungkuk sedikit. “Ada apa?”

Kyung-Jae resmi berhenti berulah sekarang, ia pun mendengus sebal. Entah kenapa sepertinya hari ini ia terlalu banyak mendengus. Untuk apa ketua senat itu menemui Jung-Won? Kenapa ia tidak rapat saja dengan yang lain?!

“Ah… itu…,” Kevin menggantungkan kalimatnya sembari menggaruk belakang kepalanya. Hei! Jangan bilang dia mau mengatakan perasaannya pada Jung-Won. Apa dia tidak lihat Kim Kyung-Jae disini, hah?! Kyung-Jae yang kesal pun akhirnya kembali merangkul Jung-Won dengan erat.

“Ada apa, Ketua?” tanya Kyung-Jae ketus.

“Apa kau sudah menerima coklat dariku, Jung-Wonssi?”

Tambah lagi kejengkelan Kyung-Jae begitu tahu tatapan ketua senat itu hanya tertuju pada Jung-Won. Dan.. tunggu. Apa yang baru saja dia katakan?? Coklat?

Jung-Won tersenyum kaku lalu matanya beralih pada coklat yang ada di tangan Kyung-Jae. Kevin mengikuti arah pandang Jung-Won, dan ia sedikit tersentak. Kevin terdiam. Tanpa perlu dijelaskan lagi, semua sudah terlanjur jelas. Jung-Won menolaknya.

“Ah… mianhaeyo sudah mengganggumu. Ak-aku…. aku pergi.”

Jung-Won tidak bisa membalas apa-apa. Ia hanya bisa menatap Kevin dengan pandangan menyesal dan minta maaf. Setelah Kevin pergi, Jung-Won mengalihkan pandangannya pada Kyung-Jae. Haah… tentu saja, pria ini pasti kesal.

Oppa…”

Kyung-Jae tidak mendengar panggilan Jung-Won. Ia segera saja menghabiskan seluruh coklat di kotak itu dengan kesal. Melihat itu, mau tidak mau Jung-Won tertawa pelan. Walaupun Kyung-Jae sangat lucu ketika sedang cemburu, tetap saja Jung-Won tidak mau itu terus-terusan terjadi di dalam hubungannya.

Oppa, kenapa dihabiskan?”

Kyung-Jae menatap Jung-Won tidak percaya. Aish… benar-benar! Tidak tahukah dia kalau Kyung-Jae sedang kesal?! Lihat siapa tadi yang datang?! Ketua senat! Haah… bahkan sampai ketua senat pun mengejar gadisnya ini. Tapi Kyung-Jae tetap teguh pada pendiriannya. Siapapun pria yang menyukai Jung-Won, ia tidak akan pernah mau menyerahkan Jung-Won begitu saja. Tidak akan pernah!

Oppa, aku tanya, kenapa dihabiskan?”

“Aku akan menggantinya, arraseo?!”

Kyung-Jae menjawab dengan nada sedikit ketus sebelum akhirnya ia meninggalkan Jung-Won. Aish… sadarlah Go Jung-Won! Aku ini sedang kesal! Teriak Kyung-Jae dalam hati.

Melihat Kyung-Jae pergi, Jung-Won hanya terkekeh. Baiklah, baiklah, ini sudah cukup. Ia pun segera berlari mengejar Kyung-Jae yang berjalan cepat ke arena parkir universitas.

 

She’s mine, don’t touch her

Don’t you know what I’m saying?

She’s my one and only girl

She’s mine

                “Oppa! Kau mau meninggalkanku?”

Jung-Won berusaha menyeimbangi langkah besar-besar Kyung-Jae. Pria ini sudah berada di ambang batas kecemburuannya, Jung-Won tahu itu. Makanya ia bersikap seserius mungkin agar tidak membuat Kyung-Jae makin jengkel.

Kyung-Jae terus melangkah, mengabaikan panggilan Jung-Won. Ia sungguh ingin berbalik dan langsung menggendong Jung-Won ke mobil agar mata-mata pria itu tidak terus mengikuti gadisnya, tapi mau bagaimana? Egonya kali ini berhasil mengalahkan rasa sayangnya.

Kyung-Jae mematikan alarm mobilnya begitu sudah dekat, dan masuk ke dalam mobil. Ia sengaja tidak langsung menjalankan mobilnya, karena tahu Jung-Won pasti sedang mengejarnya. Meninggalkan Jung-Won sendirian di sini sama saja memberikan sekarung uang pada koruptor. Dan Kyung-Jae tidak mau mengambil resiko itu.

Sudah satu menit, tapi Jung-Won tidak juga muncul. Padahal tadi gadis itu memanggilnya dan Kyung-Jae yakin Jung-Won mengejarnya. Aish… tidak bisakah lima menit saja ia kembali menjadi bad boy, yang tidak peduli terhadap bagaimanapun gadis itu? Dan nyatanya ia memang tidak bisa sekarang. Jung-Won membawa pengaruh terlalu besar terhadap perubahan sifatnya.

Satu menit tiga puluh delapan detik koma dua sekon kemudian, Jung-Won menyusul Kyung-Jae masuk ke mobil. Nafasnya terengah. Kyung-Jae menatapnya lega, dan sedetik kemudian ia kembali merasa jengkel melihat apa yang dibawa Jung-Won selain tas dan buku-buku.

Hadiah? Lagi? Aigu

Oppa, wae geurae?” tanya Jung-Won mengawali pembicaraan.

Ya, Go Jung-Won, aku tidak mengerti denganmu.”

Jung-Won menahan nafas mendengar kalimat dari Kyung-Jae. Terkadang, saat Kyung-Jae memanggilnya dengan nama lengkap itu artinya sama sekali bukan pertanda baik. Mood Kyung-Jae pasti sangat buruk.

“Kau ini bodoh apa memang tidak tahu?!” Kyung-Jae melanjutkan dengan nada sedikit kasar. “Kenapa kau bersikap terlalu naif di depan para pria?!”

Jung-Won merasa bibirnya bergetar. Sifat asli Kyung-Jae kembali.

“Aku—“

“Kau tidak tahu apa yang dipikirkan mereka, eoh?” tanya Kyung-Jae.

Arrayo,” jawab Jung-Won pelan sambil menunduk.

“Kalau begitu kenapa kau tidak menghentikannya?!” Kyung-Jae mengerang frustasi. “Aku ini namjacingu-mu! Kau tidak menghargaiku?”

“Bukan begitu…,” ucap Jung-Won. “Aku… aku tidak mau menjadi orang jahat.”

Haah… selalu begitu! Jung-Won selalu mengatakan itu. Tidak mau menjadi orang jahat? Apa dia kira, dia tidak jahat sekarang? Secara tidak langsung Jung-Won sudah memberi harapan mustahil pada pria-pria itu dan… tidak sadarkah kalau Jung-Won juga menyakiti Kyung-Jae?!

“Aku tahu. Aku tahu persis perasaan mereka, tapi aku selalu berusaha membuat diriku tidak tahu,” suara Jung-Won terdengar bergetar. “Setidaknya dengan begitu tidak ada yang sakit hati.”

“Tidak ada?” Kyung-Jae mendengus. “Lalu kau anggap aku ini apa?”

Oppa, mianhae,” Jung-Won mengangkat kepalanya dan menatap Kyung-Jae yang tengah menahan amarah. “Walaupun begitu aku selalu menutup mataku. Aku tidak pernah memandang mereka.”

Mianhae, Oppa, mianhae…,” dua bulir air mata turun mengaliri pipi Jung-Won. Seketika Kyung-Jae panik. Astaga… apa yang baru dia lakukan??

Y-ya, uljima…,” dengan panik, Kyung-Jae menarik beberapa lembar tisu dan mengusap air mata Jung-Won. Ia baru sadar sekarang kalau sedari tadi ia membentak Jung-Won hanya karena kesal dengan pria-pria mata keranjang itu.

Kyung-Jae tahu persis, Jung-Won memang tidak menganggap pria-pria itu lebih dari sekedar teman atau seonbae. Kyung-Jae juga berani bertaruh hanya dirinya dan saudara laki-laki Jung-Won saja yang Jung-Won panggil ‘Oppa’. Jung-Won hanya terlalu baik. Dan apa yang baru saja ia lakukan? Menyuruh seorang malaikat berubah menjadi iblis? Astaga…

Mianhae..,” ucap Kyung-Jae sambil mengusap sisa air mata Jung-Won dengan ibu jarinya. “Aku hanya kesal, mereka terus memandangmu seperti serigala.”

Keundae, apakah aku harus operasi plastik?”

Andwae!” dengan cepat Kyung-Jae menjawab. Apa itu? Operasi plastik? Kenapa tidak sekalian saja Jung-Won menyuruhnya pacaran dengan Barbie. “Aku tidak akan pernah mengizinkanmu melakukan itu.”

Jung-Won terkekeh pelan. “Ya… appa dan eomma juga pasti akan membunuhku.”

Chagiya, mianhae.”

Jung-Won tersenyum lalu mengusap punggung tangan Kyung-Jae. “Dwaesseo, aku mengerti. Aku juga minta maaf.”

“Pokoknya kau jangan pernah menerima kencan dari siapapun selain aku, arraseo?”

Oppa juga!” kini tatapan Jung-Won berubah, menjadi sedikit lebih tajam dan… jengkel. “Kau pikir aku tidak tahu kalau Oppa pergi bersama Tan Wo-Hee ke museum Seoul?”

Ya, itu untuk tugas kuliah,” jawab Kyung-Jae langsung.

“Tetap saja.”

Jung-Won membuang wajahnya, berpura-pura kesal. Kyung-Jae mendesah melihat tingkah Jung-Won yang seperti ini. Ya, Jung-Won memang malaikat, tapi sekalinya merajuk Kyung-Jae harus mengeluarkan berpuluh-puluh liter keringat dahulu agar Jung-Won mau memaafkannya.

Ya, percaya padaku, Chagiya…”

Jung-Won berdeham sekali lalu memutar tubuhnya berhadapan dengan Kyung-Jae. Kyung-Jae pun melakukan hal yang sama. Dan, well, Kyung-Jae lagi-lagi tertipu. Jung-Won tidak sedang merajuk. Buktinya gadis itu tengah tersenyum padanya—sangat manis.

“Baiklah, kita buat perjanjian.”

“Hm?”

Jung-Won mengulurkan kedua tangannya lalu menutup mata Kyung-Jae. Kyung-Jae diam, menunggu apa yang selanjutnya Jung-Won lakukan.

Oppa tidak boleh melihat gadis manapun—selain aku—jika aku tidak ada bersamamu,” ucap Jung-Won masih menutupi mata Kyung-Jae. Kyung-Jae terkekeh.

Jung-Won pun menjauhkan tangannya dari wajah Kyung-Jae dan sekarang ia menutup matanya sendiri dengan tangannya. Kyung-Jae terkekeh melihat tingkah manis Jung-Won. “Dan aku—Go Jung-Won—juga tidak boleh melihat pria lain jika Kim Kyung-Jae tidak ada bersamaku.”

Jung-Won membuka tangannya lalu tersenyum pada Kyung-Jae. “Eotte?”

Kyung-Jae memajukan tubuhnya dan mencium singkat bibir Jung-Won. “Perjanjian diterima,” kemudian ia memukul dashboard mobilnya tiga kali, seolah ini adalah pengadilan.

Melihat Jung-Won yang tersenyum lebar dengan pipi memerah, Kyung-Jae berdecak sendiri. “Ya, jangan membuat wajahmu memerah,” gerutunya. “Kau tahu? aku tidak tahan untuk menciummu lagi.”

Geurae?”

Chagiya…”

Tok tok tok

Jung-Won menjauhkan wajah Kyung-Jae yang sudah mendekat padanya saat mendengar ketukan kecil dari kaca mobil. Jung-Won berbalik, mengabaikan Kyung-Jae yang mendengus sebal. Dari balik kaca mobil, Jung-Won bisa melihat seorang pria yang diduga sebagai pengetuk kaca tadi.

Jung-Won menurunkan kaca mobil lalu tersenyum pada pria itu. Ah… sepertinya dia hoobae Jung-Won.

An-annyeong, Jung-Won Seonbae. Aku Lee Tae-Min, mahasiswa tingkat satu fakultas seni. A-aku… aku mau memberikanmu ini,” pria bernama Lee Tae-Min itu menyerahkan sebuah amplop pink beserta sebatang coklat yang diikat pita merah pada Jung-Won.

Jung-Won menerima itu sambil tersenyum manis. “Gomawoyo.”

Ya! Ijjashigi (bocah sialan)!” pekik Kyung-Jae. Padahal baru beberapa menit lalu ia membuat Jung-Won menangis lalu bermaafan, kini ada lagi lebah pengganggu yang kehausan akan Jung-Won.

Mendengar teriakan itu, Tae-Min segera beranjak dari tempatnya, sedangkan Jung-Won terkekeh sendiri. Kyung-Jae tentu tidak mau kalah. Ia pun keluar dari mobilnya dan mengejar pria sialan itu. Lihat saja! Dia akan mati sebentar lagi!

 

~End~

————————————————–

 

 

 

 

 

See ya at another story^^

Regards: Ziajung

One thought on “[FF Freelance] She’s Mine

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s