I Found You [Chapter 1]

ify 2

Author: ree

Genre: AU, thriller, action, romance

Rating: PG-15

Length: chaptered

Main Casts: Im Yoona SNSD, Lee Jonghyun CNBLUE, Lee Donghae Super Junior

Other Casts: Im Yoonji (OC), Krystal Jung (Jung Soojung) f(x)

Previous: Prologue

Disclaimer: Just my imagination

***

Seoul, South Korea

06.15 PM

 

Jinjja? Jadi menu baru buatanmu akan dipromosikan besok?! Aigo… Oppa, kau hebat sekali! Harusnya kau sudah jadi executive chef sekarang!” pekik Yoona girang, tidak peduli pada pandangan heran orang-orang yang berlalu-lalang didepannya karena tingkahnya yang heboh sendiri saat menelepon.

“Ahahaha, aku belum sehebat itu, Yoona-ya!” sahut Donghae di seberang telepon.

Ya! Kau ini rendah diri sekali! Semua orang di restoran itu pasti mengakui kalau kau adalah chef yang hebat!” jika saja Donghae ada disamping Yoona sekarang, gadis itu pasti sudah memukul-mukul tangannya karena gemas. Sayangnya saat ini pria itu masih sibuk berkutat di dapur restoran tempatnya bekerja sehingga mereka hanya bisa berkomunikasi lewat telepon.

Lee Donghae adalah pria berusia 27 tahun yang bekerja di salah satu restoran di kawasan Itaewon. Dia baru saja menyelesaikan studinya di Le Cordon Bleu Culinary Arts School, Paris, dan baru kembali ke Korea beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya banyak sekali restoran bintang lima di Perancis yang menawarkannya pekerjaan sebagai chef disana, namun Donghae lebih memilih pulang ke Korea dan menjadi chef di restoran milik ayahnya. Meskipun baru beberapa bulan bekerja, ia sudah menunjukkan tanda-tanda seorang master chef masa depan. Minat dan bakatnya pada dunia kuliner memang sangat mengagumkan. Dia begitu tergila-gila pada memasak, sampai-sampai dia lebih sering mementingkan masakan daripada Yoona, kekasihnya. Awalnya kesal, memang, tapi lama-kelamaan gadis itu bisa memakluminya. Kita tidak bisa mengekang seseorang untuk melakukan hal yang disukainya bukan?

Yoona dan Donghae saling mengenal sejak SMA. Donghae adalah kakak kelas Yoona yang terpaut dua tahun. Mereka pertama kali bertemu saat tanpa sengaja Yoona melihatnya di restoran ayahnya. Saat itu ia baru tahu kalau Donghae sangat jago memasak. Sejak itu mereka menjadi teman dekat, saling bercerita mengenai berbagai hal satu sama lain. Saat itulah Yoona baru menyadari, senyum dan sikap Donghae sangat menawan, membuat gadis manapun yang melihatnya pasti langsung jatuh hati. Dan itulah yang terjadi padanya.

Yoona tak menyangka Donghae juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Donghae menyatakan perasaannya pada gadis itu saat hari kelulusannya, dan Yoona langsung menerimanya, tentu saja. Siapa juga yang bisa menolak pesonanya yang sangat menyilaukan itu? Sampai saat ini─dan berharap sampai seterusnya─Yoona merasa sangat, sangat bangga menjadi kekasihnya. Gadisnya.

“Hmmm… jadi malam ini kau tidak jadi membuatkanku makan malam?” tanya Yoona kemudian. Mengingat tadi siang Donghae berjanji untuk memasak makan malam di apartemennya.

Jeongmal mianhae, Yoona-ya. Aku harus menyiapkan masakanku untuk promosi besok. Restoran akan buka lebih awal dan ayahku tidak ingin ada masalah sekecil apapun.” nada suara Donghae terdengar kecewa.

Gwaenchanha, Oppa. Kau tidak perlu merasa bersalah begitu. Aku akan memasaknya sendiri. Kau tinggal memberi saran padaku kira-kira bahan makanan apa saja yang harus kubeli. Aku sudah dekat supermarket sekarang.” kata Yoona menenangkan.

“Apa kau yakin bisa melakukannya sendiri? Ah, aku benar-benar merasa tidak enak. Haruskah aku meminta izin pada ayahku untuk pergi ke rumahmu sebentar?”

Ya! Aku memang tidak sejago dirimu, tapi setidaknya aku masih bisa memasak! Tidak perlu berlebihan begitu.” Yoona mengerucutkan bibirnya, sedikit tidak terima kalau pria itu menganggapnya sama sekali tidak bisa memasak. Padahal sebetulnya, Yoona terbilang cukup terampil dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Ara, jangan marah begitu, Yoona-ya. Aku hanya khawatir karena kau tinggal sendirian.” Donghae terkekeh.

“Aish… dia pasti sedang membayangkan ekspresi wajahku sekarang!” batin Yoona.

“Baiklah, nanti aku akan mengirimkan daftar belanjaan yang harus kau beli lewat e-mail. Sekarang aku harus segera menemui ayahku.” lanjut Donghae.

Yoona mengangguk walaupun ia tahu pria itu tidak bisa melihatnya, “Baiklah, sampai nanti, oppa.”

“Hati-hati, Yoona-ya. Sampai nanti.” Donghae memutuskan sambungan.

Yoona pun kembali meneruskan langkahnya menuju ‘e-mart’ yang jaraknya tinggal beberapa ratus meter lagi. Hari sudah mulai gelap, tapi suasana Seoul masih ramai layaknya siang hari. Bahkan semakin malam semakin ramai, seolah tidak pernah tertidur.

Tak lama kemudian Yoona merasakan ponselnya bergetar. Cepat-cepat ia melihat display-nya. E-mail dari Donghae. Pria itu mengirimkan daftar beberapa bahan makanan sesuai janjinya tadi.

To: Donghae oppa ♥

Gomawo, Oppa!🙂

Setelah membalas e-mail dari Donghae, Yoona bergegas masuk kedalam supermarket itu dan langsung berjalan menuju booth sayuran, buah-buahan serta bumbu masak yang lain dan mengambil bahan makanan sesuai dengan yang disarankan Donghae tadi.

Yoona sedang melintas didepan rak yang berisi berbagai macam sereal kotak dan memutuskan untuk menghentikan langkahnya.

“Hmm… beberapa kotak sereal untuk persediaan sepertinya boleh juga.” pikirnya. Kemudian ia pun memutuskan untuk mengambil sereal madu berbentuk bintang kesukaannya.

Tapi sayangnya, letak kotak-kotak sereal itu cukup tinggi sehingga gadis itu tidak bisa menjangkaunya. Ia pun berjinjit untuk menambah jangkauan tangannya, namun tidak berhasil. Yoona mencoba dua kali, tiga kali, namun tetap tidak berhasil. Ia lalu menoleh ke kiri dan kanan untuk sekedar meminta bantuan, namun tidak ada siapapun yang lewat di lorong itu.

Yoona mendengus dan memandangi sereal yang letaknya lebih tinggi darinya itu. Mumpung sedang ada disini, jadi bagaimanapun juga ia harus mendapatkannya.

Akhirnya ia mencoba berjinjit dan menggapai kotak itu untuk yang kesekian kalinya. Namun mungkin karena kurang hati-hati─dan sedikit kesal juga─tanpa sengaja tangannya malah menepuk kotak itu. Padahal hanya tepukan ringan, tapi akibatnya kotak-kotak itu malah berjatuhan ke arahnya. Tidak hanya satu atau dua, tapi banyak! Yoona merasa hampir semua kotak sereal itu berjatuhan dan sebagian ada yang menimpa kepalanya. Ia hanya bisa meringis dan berusaha melindungi kepalanya dengan tangan sambil menunggu kotak-kotak sereal sialan itu selesai menjatuhkan dirinya.

“Aish…!! Kenapa malah jadi kacau begini?!” gerutu Yoona sambil cepat-cepat mengambil kotak-kotak sereal itu dan mengembalikannya ke rak sesegera mungkin sebelum ada SPG yang memergokinya. Kalau sampai SPG itu melihat banyak kotak yang penyok seperti ini, bisa-bisa ia disuruh membayar semuanya.

“Tapi masalahnya sekarang adalah, bagaimana aku bisa mengembalikannya ke tempat semula kalau mengambilnya saja aku gagal? Aish… seandainya saja Donghae oppa ada disini. Oppa, tolong aku!!”

Tiba-tiba saja Yoona melihat seseorang dengan pakaian serba hitam sudah berjongkok didepannya. Orang itu membantunya memungut kotak-kotak sereal yang masih tergeletak di lantai dan mengembalikannya ke tempat semula.

“Ah, gomabseumnida.” sahut Yoona sambil ikut berdiri dibelakangnya.

Pria itu berbalik, melihat ke arahnya sekilas, namun tidak mengatakan apapun. Ia langsung merebut kotak-kotak sereal yang dipegang gadis itu dan menyusunnya kembali di rak.

“Kalau tidak sampai, setidaknya kau bisa meminta bantuan.” ujarnya dingin tanpa menoleh ke arah Yoona. Dia masih sibuk merapikan kotak-kotak itu. Tentu saja pria itu bisa melakukannya dengan mudah karena postur badannya yang jauh lebih tinggi dari gadis itu.

Yoona sedikit bergeser ke samping pria itu dan memperhatikannya sejenak. Pria itu bisa berbahasa Korea dengan fasih, namun aksennya terdengar sedikit aneh. Yoona berpikir mungkin dia bukan orang asli Korea.

Joisonghamnida. Tadi tidak ada siapa-siapa di sekitar sini.” kata Yoona jujur.

Setelah selesai merapikan kotak-kotak itu dan memberikan salah satunya kepada gadis itu, pria itu kembali melirik Yoona sekilas dengan tatapannya yang dingin, kemudian berjalan meninggalkannya.

“Ah, sekali lagi terima kasih. Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tahan Yoona sebelum pria itu berjalan menjauh. Namun bukannya menjawab, ia malah kembali melanjutkan langkahnya.

Yoona memperhatikan punggung orang itu, “Sepertinya umurnya tidak beda jauh denganku. Tapi kenapa sikapnya dingin sekali?” Dan sekilas tadi, Yoona melihat dahi dan sudut bibir pria itu berdarah. Lengan mantelnya yang sebelah kanan juga sedikit robek. Setelah diperhatikan, caranya berjalan juga sedikit tidak stabil dan ia sering memegangi perutnya, “Apa dia sedang terluka parah? Jangan-jangan dia adalah berandalan yang baru saja berkelahi di sekitar sini?”

Yoona menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Ah, sudahlah! Untuk apa juga aku memikirkan hal itu? Toh itu bukan urusanku dan aku juga tidak mengenalnya.”

***

Yoona mengangkat kantong belanjaannya dan memperhatikan isinya dari balik kantong plastik berwarna putih yang membungkus bahan-bahan makanan yang baru saja dibelinya itu. Sekadar untuk memastikan bahwa tidak ada yang lupa dibelinya. Setelah dirasa semua sudah lengkap, gadis itu pun tersenyum puas.

BRUK!!!

Ketika sedang melintas didepan sebuah gang, tiba-tiba saja ia mendengar suara sesuatu menghempas tanah. Yoona menoleh ke kiri dan ke kanan, namun tidak ada sesuatu yang aneh yang terjatuh.

Baru berjalan satu langkah, tiba-tiba Yoona merasa menginjak sesuatu yang empuk. Betapa terkejutnya ia ketika melihat ke bawah, rupanya ia salah menginjak tangan orang! Buru-buru Yoona mengangkat kakinya dan membungkukkan badannya untuk meminta maaf, tapi orang itu tidak mengatakan apa-apa dan anehnya tidak bereaksi apa-apa. Tubuhnya hampir tidak bergerak. Hanya rintihan pelan yang terdengar.

Yoona berlutut dihadapan orang itu, “Omo, gwaenchanhaseyo?” tanyanya kemudian. Karena gelap, jadi ia sedikit kesulitan melihat orang itu. “Joisonghaeyo, tadi aku benar-benar tidak sengaja.”

Karena orang dihadapannya itu tidak juga menjawab, Yoona pun mengguncang-guncangkan tubuhnya. Ia hampir tidak bisa bernapas ketika menyaksikan orang itu malah roboh ke tanah. Dari situ Yoona baru bisa melihat dengan jelas wajah pria itu yang berlumuran darah.

“Di…dia kan orang yang tadi menolongku!”

Ya! kau kenapa?! Ya! bangunlah!!” pekik Yoona panik sambil tetap mengguncang-guncangkan tubuh pria itu. Kali ini lebih kencang. Namun mata orang itu tetap terpejam dan napasnya putus-putus. Sesekali ia meringis sambil memegangi perutnya, kemudian terbatuk-batuk.

“Gawat! Dia sekarat! Aigo… eotteokhaji?!” Yoona menoleh ke setiap sudut jalan itu, namun kebetulan daerah itu sepi dan tidak banyak orang yang lewat.

Yoona tidak punya pilihan. Ia tidak bisa begitu saja meninggalkan pria yang sedang berjuang melawan mautnya ini sendirian. Bagaimanapun juga ia harus menolongnya. Tapi bagaimana caranya? Ia takut darah dan tidak bisa memapah pria itu sendirian sambil membawa belanjaannya yang cukup banyak.

Yoona memperhatikan wajah pria itu dengan panik. Kelihatannya dia sangat menderita dan tampaknya tidak akan bertahan hidup lama jika ia tidak segera menolongnya.

Tidak ada cara lain. Yoona menghela napas kuat dan memantapkan hatinya untuk menolong pria itu. Dengan susah payah ia pun memapah pria itu sambil menenteng kantong belanjaannya. Tentu ini bukanlah pekerjaan yang mudah karena pria itu sudah sangat kepayahan. Tubuhnya lemas dan kakinya sudah tidak kuat menopang tubuhnya sehingga seringkali hampir terjatuh. Yoona dengan sekuat tenaga menahan tubuh pria itu dan memapahnya sampai ke halte bus terdekat.

***

Jonghyun membuka matanya perlahan. Sambil mengumpulkan nyawa, ia berusaha mendudukkan badannya. Cukup sulit karena kemudian ia langsung merasa pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Ia kembali meringis pelan dan dengan refleks menyentuh dahinya. Ia baru sadar sepenuhnya ketika merasakan yang disentuhnya bukanlah kulit, melainkan kain kasa. Pria itu memperhatikan tangan kanannya yang terasa kaku. Tangan itu sudah terbalut oleh gips dan penyangga, begitu juga dengan kaki kirinya. Baju yang dikenakannya juga sudah diganti dengan piyama berwarna putih dengan motif polkadot kecil yang menghiasinya.

Jonghyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Bau ini… bau rumah sakit. Entah bagaimana ia bisa sampai di tempat ini, dan siapa orang yang sudah berbaik hati mengantarkannya.

Ruangan yang didominasi warna putih itu terasa sangat sunyi. Yang terdengar hanyalah suara jam. Saking sunyinya, bahkan suara asap yang keluar dari alat penghangat di samping ranjang yang ditempatinya pun dapat terdengar olehnya. Pandangannya lalu tertuju ke arah gadis yang sedang tertidur disamping ranjang sambil membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya yang terlipat. Jonghyun memang tidak bisa melihat wajahnya, tapi dari penampilannya pastilah dia seorang gadis.

Jonghyun memperhatikan gadis itu dengan wajah datar. Ia tidak berniat untuk membangunkannya atau apapun, karena sejujurnya dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada gadis itu.

Tak lama kemudian, gadis itu pun terbangun dengan sendirinya. Sambil menguap, ia pun membuka matanya. Ia nampak terkejut ketika melihat pria itu sudah sadar dan sekarang sedang memandang ke arahnya.

“Kau… sudah sadar?” tanya Yoona kemudian. Pertanyaan yang tidak penting sebetulnya karena ia sudah bisa melihatnya dengan jelas.

“Kau yang membawaku kesini?” Jonghyun balik bertanya. Matanya menatap tajam ke arah Yoona.

Gadis itu tersenyum, “Ah, ne. Tadi tanpa sengaja aku menemukanmu terkapar di tengah jalan. Jadi aku langsung membawamu kesini.”

“Kenapa?”

“Eh?”

“Kenapa kau harus repot-repot? Aku tidak mengenalmu dan juga sebaliknya. Harusnya kau tinggalkan saja aku di gang itu.”

Yoona mengerjapkan matanya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan pria itu barusan. Bukannya berterima kasih karena sudah ditolong, tapi dia malah berkata tidak sopan seperti itu.

“Ng… anggap saja ini sebagai balas budi karena kau sudah menolongku di supermarket tadi. Lagipula aku tidak bisa diam saja melihatmu sekarat. Bagaimana kalau kau sampai mati, hah?!”

“Cih!” Jonghyun menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dengan kasar dan berusaha turun dari ranjang.

Eodie gayo?” Yoona ikut bangkit dari tepat duduknya.

“None of your business.” Jonghyun berusaha melangkah ke arah pintu dengan susah payah sambil berusaha berpegangan pada apapun yang ada didekatnya. Namun karena belum terbiasa, ia pun sempat beberapa kali hampir terjatuh. Beruntung dengan sigap Yoona langsung menahan tubuh pria itu.

“Kau baru saja siuman. Sebaiknya jangan bangun dulu. Luka-lukamu ini cukup serius. Dokter bilang kau mengalami patah tulang di tangan kanan dan retak di kaki kiri. Ada luka lebam di perutmu dan untungnya tulang rusukmu tidak ikut patah.” Yoona berusaha menjelaskan.

“Apa pedulimu? Hanya patah tulang saja tidak akan membuatku mati kan?”

Ya! Tentu saja aku peduli! Aku yang menemukanmu dan aku sudah menolongmu! Kau menjadi tanggung jawabku sekarang!” Yoona merasa gemas karena pria ini benar-benar keras kepala.

Yoona mendengus, berusaha mengontrol emosinya agar tidak meledak-ledak. Bagaimanapun juga dihadapannya sekarang adalah orang sakit dan ia harus bisa menghargainya.

“Sekarang aku akan membantumu berbaring.” lanjut Yoona. Nada suaranya sudah kembali normal.

“Shireo! Aku harus keluar dari tempat ini.” Jonghyun tetap bertahan di posisinya.

Yoona menatap pria itu, “Dimana rumahmu?”

Eobseo.”

“Jadi… kau tidak punya tempat tujuan?”

Jonghyun tidak menjawab. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Gadis itu benar, ia tidak punya tempat tujuan.

Jonghyun menepiskan tangan Yoona dari tangannya dan berbalik ke arah ranjang. Ia menumpukan tangan kirinya pada tembok agar tidak terjatuh. Retak di kaki kirinya cukup membuatnya sulit berjalan.

Melihat hal tersebut, entah kenapa perasaan iba muncul dalam diri Yoona. Kasihan sekali orang itu, batinnya. Badannya penuh dengan luka dan cedera, juga tidak punya tempat tujuan. Sepertinya dia baru datang ke Korea dan tidak punya kerabat disini.

“Kalau begitu kau bisa menginap di rumahku.” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Yoona.

Jonghyun menghentikan langkahnya, namun tidak menoleh ke arah gadis itu.

“Kalau kau memang benar-benar ingin keluar dari rumah sakit ini, sebaiknya kau beristirahat di rumahku.” lanjut Yoona.

Jonghyun menolehkan kepalanya ke samping, kemudian tersenyum sinis, “Kau pikir kau tinggal dimana sekarang? Mungkin di barat hal itu terdengar biasa, tapi ini Korea. Mana mungkin aku mau begitu saja tinggal di rumah seorang gadis? Memangnya pria macam apa aku ini?”

“Kurasa kita harus mengesampingkan hal itu dulu. Ini demi keselamatanmu juga. Memangnya kau mau tinggal dimana dengan keadaan seperti itu? Bahkan uang sepeser pun kau tidak punya.”

Jonghyun terdiam. Ia tidak bisa menyangkal kata-kata gadis itu karena memang semuanya benar.

“Tunggu sebentar. Akan kubereskan barang-barangku dulu.” Yoona kemudian bergegas membereskan barang-barangnya.

***

“Jadi kau baru datang dari New York?” tanya Yoona. Saat ini ia dan Jonghyun sedang menikmati makan malam di rumah gadis itu. Setelah perdebatan kecil mereka di rumah sakit tadi, akhirnya Yoona berhasil juga membujuk pria itu untuk tinggal sementara di rumahnya.

Yoona tentunya masih menggunakan akal sehatnya untuk memutuskan hal ini. Ia sudah memikirkan semua resikonya seperti bisa saja Donghae memergoki dirinya tinggal bersama seorang lelaki yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu. Tapi selama ia bisa menyembunyikan hal ini dengan baik, rasanya hal yang ditakutkannya itu belum tentu akan terjadi. Toh pria ini hanya tinggal sementara sampai kondisinya pulih dan ia sungguh-sungguh bermaksud baik ingin menolongnya.

Sambil memperhatikan piring berisi kimchi bokkeumbap─hidangan hasil karya Yoona malam itu─Jonghyun mengangguk, “Keluargaku keturunan Jepang. Aku lahir dan dibesarkan di San Fransisco. Dan baru kali ini datang ke Korea.”

Yoona menepukkan kedua telapak tangannya, “Ternyata dugaanku benar. Kau berwajah asia, bahasa Korea-mu cukup lancar, tapi aksennya terdengar aneh.” ia terlihat bangga dengan analisisnya, “Benarkah kau baru pertama kali datang kesini?”

“Yah, tuntutan pekerjaan.”

“Apa pekerjaanmu?”

“Aku bekerja di sebuah perusahaan Korea di Amerika.”

Yoona memperhatikan pria dihadapannya itu. Jika saja wajahnya tidak penuh dengan luka seperti itu, sebenarnya dia cukup tampan. Ah tidak, dia memang tampan. Kulitnya putih bersih dan bibirnya berwarna merah alami. Sayang, dibalik wajahnya yang imut, sikap yang ditunjukkannya pada orang lain sangat dingin.

“Aish, Im Yoona! Apa yang kau pikirkan? Ingat, kau sudah punya Donghae oppa!”

Sementara itu, Jonghyun terlihat masih sibuk memasukkan sesendok nasi goreng kimchi kedalam mulutnya. Maklum, karena tangan kanannya patah, ia terpaksa harus makan dengan menggunakan tangan kiri. Dan ia tidak terbiasa melakukan hal itu.

Yoona geli sendiri melihatnya. Ia berusaha menahan tawanya agar tidak membuat pria itu kesal. Wajah Jonghyun yang jengkel karena tidak juga berhasil menyuapkan satu sendok pun ke mulutnya benar-benar lucu.

“Sini, biar aku yang menyuapimu.” Yoona beranjak dari tempat duduknya dan pindah ke kursi disamping tempat pria itu duduk.

Shireo! Memangnya aku anak kecil?!” tolak Jonghyun mentah-mentah.

“Jadi kau lebih memilih tidak makan malam? Aku tidak tanggung kalau kau sampai kelaparan!” ancam Yoona.

Jonghyun mendecak. Tidak ada pilihan lain. Akhirnya ia pun pasrah dan menuruti keinginan gadis itu untuk menyuapinya.

“Oh, ya, siapa namamu?” tanya Yoona sambil menyuapkan nasi goreng kimchi buatannya pada pria itu layaknya seorang ibu yang menyuapi anaknya yang masih balita.

“Jonghyun. Lee Jonghyun.”

“Aku Im Yoona.” balas Yoona, “Boleh aku memanggilmu Jonghyun-ssi? Sepertinya kita seumuran.”

“Terserah.” jawab Jonghyun singkat.

Yoona tersenyum. Senyumnya sangat manis sehingga membuat pria itu tidak mampu mengalihkan pandangannya untuk beberapa saat. Sepertinya ada cahaya menyilaukan yang muncul saat gadis itu tersenyum menatapnya.

“Cih! Apa yang kupikirkan?!”

“Jadi, apa maksud kedatanganmu ke Korea?” tanya Yoona setelah beberapa saat. Cukup ampuh membuat pria itu kembali ke alam sadarnya.

“Urusan pekerjaan.” jawab Jonghyun singkat.

Yoona mengangguk-angguk. Tampaknya pria itu tidak berniat menjelaskan panjang lebar soal pekerjaannya. Dan ia juga tidak akan memaksa untuk mengetahuinya.

“Lalu, kenapa kau tidak membawa barang sedikitpun?”

“Tadinya aku hanya membawa ransel. Tapi dirampas oleh geng berandalan di dekat Yongsan.” jelas Jonghyun.

“Jadi, waktu aku bertemu denganmu di Yongsan kau sudah terluka?”

Jonghyun tidak menjawab. Ia mendengus sambil memalingkan wajahnya. Namun sikapnya itu cukup menjadi jawaban bagi Yoona.

Gadis itu terdiam. Berarti benar dugaannya waktu itu. Andai saja ia menyadarinya lebih awal, ia bisa langsung membawa Jonghyun ke rumah sakit dan tidak perlu sampai terkapar di tengah jalan seperti itu.

“Jadi, tidak ada yang tersisa?”

“Hanya tinggal dompetku. Tapi yang ada didalamnya hanyalah uang tunai yang jumlahnya tidak seberapa.”

“Dompet? Dompet yang mana?”

“Kutaruh dalam saku celanaku.”

Yoona tersentak, “Mi…mianhae, baju yang kau pakai sebelum masuk rumah sakit itu sudah kubuang karena robek disana-sini dan berlumuran darah…”

MWO?!

Yoona menunduk takut. Ia dapat merasakan tangannya sedikit gemetar, “Jeo…jeongmal mianhae… aku benar-benar tidak kalau masih ada dompet didalamnya…”

Jonghyun meringis. Rasanya kepalanya jadi bertambah pusing. Bagaimana mungkin gadis ini bisa seenaknya saja membuang pakaiannya seperti itu?! Dia benar-benar tidak punya apa-apa sekarang. Ingin rasanya ia membentak gadis itu habis-habisan, tapi mengingat dia sudah berbaik hati menolongnya dan bahkan memberikannya tempat tinggal sementara, ia jadi tidak tega melakukannya.

Jonghyun menggigit bibir bawahnya dan menutup mata, berusaha meredam emosinya dalam-dalam. Setidaknya ia bukan pria kurang ajar yang bisa dengan mudah bersikap kasar pada wanita.

“A…aku akan coba mencarinya di tempat sampah.” Yoona bangkit dari tempat duduknya dan hendak bergegas keluar, namun Jonghyun keburu menahan tangannya.

“Sudahlah, kau tidak perlu melakukannya.”

“Tapi…”

“Biarkan saja.” kata Jonghyun tegas, namun tidak bermaksud membentak. Yoona pun akhirnya menurut.

“Sekarang kau makanlah.” lanjutnya.

“Kau sudah selesai?”

“Ya. Aku mau tidur di kamar saja.” Jonghyun berusaha bangkit dan berjalan terseok-seok menuju kamar tamu yang sudah disiapkan Yoona sebelumnya. Nafsu makannya tiba-tiba saja menjadi hilang.

“Perlu kubantu?” tawar Yoona.

“Tidak usah. Kau makan saja.”

Yoona memandang punggung Jonghyun sampai pria itu menghilang dari balik pintu kamar. Ia merasa sangat, sangat bersalah.

***

Yoona baru saja menyelesaikan sarapannya ketika mendengar suara pintu ditutup. Tak lama kemudian muncul Jonghyun yang berjalan perlahan menuju meja makan.

“Ah, Jonghyun-ssi! Kau sudah bangun?” sapa Yoona riang. Ia seolah sudah melupakan kesalahannya semalam, “Maaf aku tidak menunggumu untuk sarapan. Aku harus berangkat kerja.”

“Kau bekerja dimana?” tanya Jonghyun datar. Namun sikapnya tidak menunjukkan kalau ia masih marah pada gadis itu karena sudah menghilangkan─atau lebih tepatnya membuang─satu-satunya harta bendanya yang tersisa.

“Di daerah Gangnam. Aku bekerja sebagai ilustrator.” jelas Yoona. Ia lalu menarik kursi disebelahnya dan menepuk-nepuknya pelan, “Duduklah, aku akan menyuapimu.”

“Tidak usah. Aku akan berusaha membiasakan diri makan dengan tangan kiri.” jawab Jonghyun. Rasanya sudah cukup sekali saja ia merepotkan gadis itu untuk menyuapinya, demi kebaikan gadis itu dan kesehatan jantungnya juga. Lagipula menu pagi itu adalah roti panggang. Ia bisa memakannya tanpa menggunakan alat makan.

“Baiklah kalau itu maumu.” Yoona melihat jam yang melingkar di tangannya. Rupanya ia sudah hampir terlambat. Dengan terburu-buru gadis itu bangkit dari tempat duduknya menyampirkan tasnya di pundak, “Aku akan pulang sebelum makan malam. Kau disini saja, jangan kemana-mana dulu. Cederamu kan belum sembuh.”

Gadis itu lalu memperhatikan Jonghyun yang berdiri di sudut meja makan dari atas ke bawah dengan seksama. Pria itu masih mengenakan piyama rumah sakit dan belum mengganti bajunya dari kemarin karena memang tidak ada pakaian yang tersisa.

“Benar juga, Jonghyun-ssi, dari kemarin kau belum ganti baju kan? Aku akan mencarikan pakaian ganti untukmu!” Yoona bergegas masuk ke kamarnya dan langsung membuka lemari pakaiannya. Ia berharap ada pakaian yang ukurannya pas dengan badan pria itu, namun sangat sulit karena hampir semua pakaiannya berukuran kecil dan bermodel feminin. Gadis itu mencoba mencari siapa tahu ada mantel atau jaket milik Donghae yang pernah dipinjamkan untuknya yang tertinggal, namun hasilnya nihil.

Sementara itu di luar kamar, Jonghyun hanya bisa berdiri terdiam di tempatnya. Sebenarnya ia ingin menghampiri gadis itu dan menanyakan apa dia benar-benar punya pakaian yang pas karena jujur saja, ia sendiri merasa tidak yakin. Namun karena malas menyeret kaki kirinya yang cedera, jadi ia memutuskan untuk menunggu gadis itu sambil bersandar di pinggir meja makan.

“Jonghyun-ssi! Aku sudah menemukannya!” seru Yoona yang tiba-tiba keluar kamar sambil menunjukkan sebuah jersey berwarna kuning pastel dengan garis abu-abu di pinggirnya.

Gadis itu menghampiri Jonghyun dan menyodorkan jersey yang dipegangnya didepan tubuh pria itu, menilai apakah ukurannya pas atau tidak, “Kurasa cocok untukmu. Ini jersey ayahku. Sepertinya dia lupa membawanya waktu terakhir kali menginap disini.”

“Menginap?” Jonghyun merasa ganjil dengan kata-kata itu.

Yoona mengangguk, “Ayahku sibuk mengurusi proyeknya di luar negeri. Dan hanya dua kali dalam setahun ia mengunjungiku disini.”

Entah hanya perasaan Jonghyun saja, namun sekilas ia mendengar nada kecewa dalam suara gadis itu saat menyebutkan kalimat terakhir.

“Nah, sekarang coba kau pakai. Ini!” suara Yoona kembali terdengar ceria. Ia menggenggamkan hanger baju itu ke tangan Jonghyun, “Maaf, aku tidak bisa menunggumu berganti pakaian. Aku sudah hampir terlambat.”

“Ng… Apa kau yakin ini cocok untukku?” tanya Jonghyun ragu.

Geureom!” Yoona mengacungkan jempolnya mantap, “Sudah ya, aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, Jonghyun-ssi!” gadis itu tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah Jonghyun, kemudian bergegas menuju pintu keluar. Meninggalkan pria itu yang masih berdiri terpaku di tempatnya sambil memperhatikan jersey kuning itu.

***

Donghae sedang sibuk menuangkan saus di pinggir piring berbentuk persegi dengan sendok sebagai hiasan terakhir dalam hidangan yang baru saja dibuatnya. Ia sedikit terkejut ketika mendapati Yoona sudah berada dihadapannya, melipat tangannya di atas meja dan menyandarkan kepalanya di atasnya. Wajahnya sedikit mendongak memperhatikan setiap gerak-gerik pria itu sambil tersenyum.

“Yoona-ya, kau membuatku kaget saja! Sejak kapan kau ada disitu?” tanya Donghae.

“Kira-kira lima belas menit yang lalu. Apa kau tidak menyadarinya?”

Donghae tertawa kecil, “Jadi sudah selama itu? Mianhae, aku terlalu serius membuat pesanan untuk para pelanggan.”

Yoona menggeleng, “Gwaenchanha. Teruskan saja pekerjaanmu.” lagi-lagi ia tersenyum.

Ini bukanlah pertama kalinya Yoona mengunjungi Donghae di tempat kerjanya. Duduk diam di belakang meja yang berbatasan dengan dapur sambil memperhatikan pria itu memasak. Biasanya para chef akan membunyikan bel yang ada didekat situ dan memberikan hidangan yang sudah jadi kepada para pelayan, jadi kehadiran Yoona tidak terlalu mengganggu pekerjaan orang-orang itu. Gadis itu sangat suka melihat pria itu memasak, entah kenapa dia terlihat sangat… tampan dan berkharisma. Entahlah, ia tidak bisa menemukan kata-kata yang pas untuk menggambarkannya. Yang jelas, ia sangat menyukai kegiatannya yang satu itu.

“Kau tidak bekerja, Yoona-ya?” tanya Donghae setelah memberikan hidangan yang baru saja diselesaikannya pada salah satu pelayan.

“Ini sudah jam empat sore, Oppa. Aku keluar kantor jam tiga. Kau ingat?”

Donghae menepuk dahinya, “Ah iya, benar juga. Aigo, kenapa aku jadi pelupa begini? Kau sudah makan?” tanyanya kemudian.

Yoona menggeleng, “Belum. Aku sengaja datang kesini untuk mencicipi hidangan baru buatanmu.”

Donghae tersenyum, “Kalau begitu kau tunggu saja di tempat biasa. Nanti aku menyusul.”

Arasseo.”

***

“Silakan menikmati pesanan anda, nona.” Donghae meletakkan sebuah piring dihadapan Yoona sambil membungkuk layaknya seorang pelayan kepada para tamunya.

Yoona hanya bisa tersenyum, “Gomawo.”

“Sepertinya pelanggan yang datang banyak juga. Mereka pasti penasaran dengan hidangan buatanmu.” ujar Yoona setelah Donghae duduk dihadapannya, “Wah, ternyata kau populer juga!”

“Tentu saja. Semua chef mengakui kalau aku ini memang berbakat.”

“Aish, kenapa kau jadi narsis begini? Bukankah biasanya kau akan bilang ‘Ah, aku tidak sehebat itu’ begitu?” Yoona berusaha meniru gaya bicara Donghae.

Pria itu terkekeh, “Mungkin aku sudah tertular virus narsismu!”

Melihat Donghae yang tertawa puas seperti itu, Yoona lagi-lagi hanya bisa tersenyum. Mungkin kehadirannya bisa sedikit mengurangi rasa lelah yang dirasakan Donghae. Karena rasa lelah dan jenuh yang menghinggapi dirinya selama di kantor tadi juga menghilang seketika setelah bertemu dengan pujaannya itu.

“Hmmm… gnocchi?” tanya Yoona setelah memperhatikan piring dihadapannya.

“Bukan hanya sekedar gnocchi. Ini ricotta gnocchi. Aku mencampurkannya dengan gochujang dan sedikit ginseng. Campuran antara masakan eropa dengan bumbu tradisonal Korea.”

Jinjja? Biar kucoba dulu.” Yoona menyuapkan sesendok gnocchi itu kedalam mulutnya. Merasakan rasa pedas dari gochujang bercampur rasa segar dari ginseng yang tercipta dari potongan kecil gnocchi itu. Rasanya benar-benar unik. Yoona tidak pernah menyangka sebelumnya kalau masakan eropa yang dicampurkan dengan bumbu khas Korea akan seenak ini rasanya.

Mashijji?” tanya Donghae.

Yoona mengangguk-angguk, “Ini benar-benar enak! Aigo… Oppa, kenapa kau bisa membuat makanan seenak ini?!”

Donghae tersenyum puas, “Baguslah kalau kau menyukai rasanya.”

Pria itu kemudian menatap Yoona yang sedang sibuk menikmati makan siangnya yang sudah terlambat itu. Ia lalu tersenyum. Senang rasanya melihat gadis itu tersenyum seperti sekarang. Biasanya jika menemukan menu baru, ia pertama kali menunjukkannya pada gadis itu dan memintanya untuk mencicipinya lebih dulu daripada orang lain. Namun karena waktu yang mepet dan kesibukan mereka berdua, terpaksa ia membiarkan orang lain menikmati hidangan yang dibuatnya sebelum Yoona.

“Lain kali jangan seperti ini. Kau harus makan tepat waktu. Aku tidak mau kau sampai sakit karena tidak makan dengan teratur.” lanjut Donghae kemudian.

Ne, Appa. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”

Ya! Tadi kau panggil aku apa?! Seenaknya saja memanggilku Appa!”

Yoona hanya cengar-cengir, “Kadang-kadang kekhawatiranmu itu seperti ayah yang mengkhawatirkan anaknya.”

“Bagaimana aku tidak khawatir kalau punya anak perempuan yang nakal sepertimu?”

Yoona tertawa renyah. Ia lalu kembali melanjutkan makannya. Entah kenapa, ia senang melihat wajah Donghae yang khawatir. Rasanya ada kepuasan sendiri.

“Yoona-ya, bagaimana kalau nanti malam aku memasak di apartemenmu? Anggap saja sebagai ganti karena kemarin aku tidak bisa datang.”

Mendengar perkataan Donghae, tiba-tiba saja Yoona tersedak. Rasanya sebagian kecil makanan yang baru saja ditelannya masuk kedalam tenggorokannya. Cepat-cepat Donghae menyodorkan gelas berisi air putih yang ada dihadapan gadis itu.

Dengan refleks Yoona menepuk-nepuk dadanya. Setelah meminum beberapa teguk air putih, akhirnya ia bisa bernapas normal kembali.

“Ku…kurasa tidak usah. Hari ini kau pasti lelah. Aku bisa memasaknya sendiri kok, tenang saja.” jawab Yoona kemudian. Ia menyunggingkan seulas senyum yang agak dipaksakan agar bisa terlihat wajar dihadapan kekasihnya itu. Bagaimana tidak, di apartemennya sekarang ada Jonghyun, pria yang baru dikenalnya satu hari dan saat ini tinggal sementara di rumahnya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Donghae jika mengetahui hal itu nantinya.

Dahi Donghae mengernyit, sedikit heran dengan sikap gadis itu yang menolak permintaannya untuk memasak di apartemennya. Padahal biasanya dia sangat senang jika dia mengatakan hal itu, “Benarkah? Tumben sekali.”

Mianhae, Oppa. Lagipula aku kan sedang mencicipi masakanmu sekarang. Sama saja kan?”

Walaupun masih merasa sedikit bingung, akhirnya Donghae mengangguk, “Baiklah kalau itu maumu.”

“Mianhae, Oppa. Jeongmal mianhae.” ujar Yoona dalam hati. Sebenarnya ia sendiri masih merasa bimbang untuk menceritakan soal Jonghyun kepada kekasihnya itu atau tidak. Ia takut pria itu akan merasa marah dan kecewa akan keputusannya ini.

***

“Jonghyun-ssi! Coba lihat ini!” seru Yoona antusias. Jonghyun yang sedang menonton TV di ruang tengah menoleh. Padahal gadis itu baru saja masuk, tapi sudah ribut seperti ini.

“Tadaaaaa…!!! Aku sudah membelikanmu beberapa potong baju! Ini!” ia menyodorkan tiga buah tas karton besar bertuliskan nama butik yang cukup ternama kepada pria itu.

Jonghyun menerimanya dengan tatapan heran, “Apa ini tidak terlalu boros? Untuk apa kau repot-repot membelikanku pakaian-pakaian ini?”

“Aish, sudahlah, terima saja! Anggap saja sebagai permintaan maaf karena tanpa sengaja aku sudah membuang dompetmu.” Yoona kemudian duduk disamping Jonghyun, mengeluarkan semua pakaian itu dari dalam tasnya, dan mencocokkannya satu per satu ke badan pria itu. Ia pun mengangguk puas, “Sepertinya semuanya cocok untukmu.”

“Tapi…”

“Kau coba saja dulu baju-baju itu. Aku akan menyiapkan makan malam.” ujar Yoona tanpa menghiraukan perkataan Jonghyun. Ia lalu bergegas menuju ke dapur.

Setelah merapikan baju-baju pemberian Yoona dan meletakkannya di kamarnya, Jonghyun menghampiri gadis itu dan duduk didepan meja makan. Memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu yang masih sibuk berkutat dengan sayuran dan alat-alat dapur.

“Sepertinya kau sangat suka memasak.” ujarnya kemudian.

Yoona yang sedang sibuk memotong-motong sayuran menoleh sekilas, “Benarkah? Apa kelihatan seperti itu? Mungkin karena Donghae oppa seorang chef dan dia suka memasakkan makanan untukku. Aku jadi termotivasi untuk meningkatkan keahlian memasakku juga.”

“Donghae? Pacarmu? Ah benar juga, kenapa aku bodoh sekali? Gadis seperti dirimu tidak mungkin tidak memiliki pacar.”

“Kenapa kau berkata seperti itu? Kau ingin menggodaku, hah? Sayang sekali, kau terlambat tujuh tahun.” kata Yoona setengah bergurau.

“Tujuh tahun? Kalian sudah berpacaran selama itu?”

“Ya. Sebenarnya aku juga tidak percaya ketika mengetahui hubungan kami sudah berjalan tujuh tahun. Karena kami menjalaninya dengan santai, jadi tidak terasa sudah selama itu.”

“Biar kutebak, kau tidak mengizinkannya datang kesini untuk memasakkan makan malam untukmu karena ada aku kan?”

Yoona tersenyum, “Kau ini percaya diri sekali! Tapi sayangnya, itu memang benar. Aku merasa belum siap untuk mengatakan padanya.”

“Ternyata lamanya hubungan tidak menjamin pasangan dapat mengerti satu sama lain.” Jonghyun bergumam.

“Masalahnya tidak sesederhana itu, Jonghyun-ssi.”

Jonghyun memandangi punggung gadis itu. Berusaha mencerna setiap kata yang diucapkannya barusan. Namun tiba-tiba saja ia mendengar gadis itu meringis dan langsung melepaskan pisau yang dipegangnya. Cepat-cepat Jonghyun beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Yoona walaupun sedikit sulit dengan kondisi kakinya itu.

Gwaenchanha?” tanyanya kemudian. Ia melihat jari telunjuk gadis itu mengeluarkan darah. Pasti tergores pisau karena kurang hati-hati.

Gwaenchanha. Ini bukan pertama kalinya terjadi kalau aku memasak.” Yoona mengibas-ibaskan jari telunjuknya yang berdarah, “Aku punya kotak obat di laci.”

“Biar kuambilkan.” kata Jonghyun. Setelah mengambil kotak yang dimaksud, ia mencucikan luka Yoona dengan air dan mengajaknya duduk di depan meja makan untuk diobati.

“Kelihatannya kau takut darah.” ujarnya setelah melihat ekspresi Yoona yang bergidik saat ia membersihkan luka gadis itu dengan kapas.

“Ah, ya, begitulah.” jawab Yoona. Sesekali ia menutup matanya ketika melihat noda darah di kapas yang dipegang Jonghyun.

“Tapi kau masih nekat memasak.”

Bukannya menjawab, Yoona malah memperhatikan Jonghyun yang sedang sibuk membuka bungkus plester, “Ternyata orang yang serius sepertimu bisa bercanda juga ya.” ujarnya mengingat kata-kata yang dilontarkan pria itu sebelumnya.

“Aku tidak sekaku yang kau kira.”

“Lain kali kau harus lebih berhati-hati.” lanjut Jonghyun setelah selesai menempelkan plester di jari telunjuk Yoona.

Yoona mengangguk dan tersenyum seperti anak kecil, “Ne, algesseo.”

Jonghyun terdiam menatap Yoona. Lagi-lagi gadis itu memamerkan senyum manisnya didepannya. Jika sudah seperti ini, ia sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa.

Tiba-tiba saja ponsel Yoona berdering. Cepat-cepat gadis itu mengambil ponselnya yang diletakkan di dekat papan potongnya didapur dan mengangkatnya.

“Ah, ne, Oppa.” Yoona melirik ke arah Jonghyun dan menempelkan telunjuknya didepan bibirnya, mengisyaratkan agar pria itu tidak mengeluarkan suara.

“Ya, aku sudah menyiapkannya. Baru saja aku mau makan malam. Kau tidak perlu khawatir begitu.” terdengar percakapan Yoona dengan orang di seberang telepon. Ia berjalan menjauhi Jonghyun agar percakapannya tidak terdengar.

Dan Jonghyun tahu, yang menelepon gadis itu pastilah pria bernama Donghae itu.

***

Donghae sedang memasukkan satu per satu lauk-pauk seperti telur gulung, tempura, dan sosis goreng kedalam tempat makan persegi berwarna biru─warna kesukaan Yoona─bersamaan dengan nasi yang sudah dihias sedemikian rupa dengan nori sehingga tampak sangat menarik.

“Kau mau menemui gadis itu lagi?” tiba-tiba terdengar suara seseorang. Donghae menoleh. Tampak ayahnya sudah berdiri tidak jauh darinya, menatapnya dingin sambil melipat tangannya.

“Ya. Aku akan mengantarkan makan siang untuknya. Kasihan juga kalau setiap hari dia harus datang kesini hanya untuk makan makanan buatanku.” jelas Donghae sambil tersenyum menatap lunch box kuning bertingkat dua yang sudah penuh dengan berbagai makanan itu.

“Donghae-ya, bukankah aku sudah bilang padamu untuk tidak berhubungan dengan gadis itu lagi? Kalau bisa kau jangan lagi bertemu dengannya.” kata ayahnya dingin.

Donghae menghentikan pekerjaannya. Senyum di wajahnya perlahan-lahan menghilang. Ia menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan serius, “Dan sudah berapa kali aku bilang aku tidak akan memutuskan hubunganku dengannya?”

“Kenapa kau selalu tidak mau mendengar perkataanku? Dengar, kau tidak pantas berhubungan dengannya. Masih banyak gadis lain yang menunggumu di luar sana. Carilah gadis yang lebih baik daripada dia.”

“Kurasa aku tidak perlu melakukannya. Karena aku tidak pernah menemukan gadis lain yang sebaik Im Yoona.”

“Kalau begitu biar kutanya beberapa hal padamu. Selama tujuh tahun kau berhubungan dengannya, apa pernah sekalipun kau bertemu dengan orangtuanya? Atau gadis itu mengenalkanmu pada kedua orangtuanya? Apa pekerjaan mereka? Bagaimana respon mereka terhadapmu? Dimana mereka tinggal? Bagaimana keadaan ekonomi mereka? Kau bahkan belum pernah bertemu dengan mereka. Dia itu hanya gadis biasa yang asal-usulnya saja tidak jelas!”

BRAK!!!

Donghae menghentakkan tangannya ke atas meja stainless steel dihadapannya. Kesabarannya hampir habis mendengar kata-kata ayahnya yang selalu saja memojokkan gadis yang dicintainya itu.

“Dengar Abeoji, yang berhak menentukan masa depanku adalah aku sendiri. Aku bisa menilai mana yang gadis yang baik untukku dan mana yang bukan. Aku tidak sepertimu yang selalu menilai sesuatu berdasarkan dia kaya atau tidak, ataupun dia bisa dimanfaatkan atau tidak!!” tukas Donghae tegas. Ia tidak suka jika ayahnya mulai mengungkit-ungkit masalah ini dan tidak ingin berdebat dengannya. Setelah merapikan lunch box yang sudah ditatanya dan memasukkannya kedalam tas jinjing kecil, ia pun bergegas keluar meninggalkan ayahnya yang masih tetap bertahan pada posisinya.

“Jangan salahkan aku jika kau menyesal nantinya.” ujar ayahnya pelan, namun dengan nada yang cukup mengancam. Donghae terus melanjutkan langkahnya. Ia tidak peduli akan kata-kata yang diucapkan ayahnya karena ia yakin akan keputusannya.

***

Yoona menggoreskan pensil di atas sketch book-nya sambil bertopang dagu. Sesekali ia menguap. Entah kenapa pekerjaannya hari ini sangat membosankan. Rasanya ia ingin jam makan siang segera datang sehingga ia bisa langsung melesat ke luar kantor. Tidak harus ke restoran tempat Donghae bekerja, yang penting dia bisa keluar, itu saja. Yah, kadang-kadang pekerjaan sebagai ilustrator juga bisa membosankan jika sedang tidak punya ide.

Yoona melirik jam meja berbentuk bulat di sudut meja kerjanya. Waktu makan siang masih lima belas menit lagi.

“Haaaah…!!! Apa waktu tidak bisa lebih cepat lagi?!” keluhnya dalam hati.

“Yoona-ya, ada yang mencarimu.” tiba-tiba Jung Soojung, rekan kerjanya, menghampirinya.

Yoona mendongak, “Nugu?

Soojung hanya mengedikkan bahu sambil tersenyum penuh arti, “Check it out yourself.”

Melihat ekspresi Soojung, Yoona jadi makin penasaran. Ia beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menuju lobby di lantai bawah, tempat yang ditunjukkan rekan kerjanya itu.

Sesampainya disana, ia menyunggingkan senyumnya ketika melihat siapa orang yang datang mencarinya. Orang itu membalas senyumannya sambil menunjukkan tas jinjing kecil berisi lunch box yang dibawanya.

“Oppa?”

***

“Tumben sekali kau mau repot-repot datang kesini.” celetuk Yoona, “Dan kau mengajakku makan siang di atap. Bagus sekali!”

“Asal jangan sampai ada helikopter yang mendadak mendarat disini.” sahut Donghae setengah bergurau.

Yoona ikut tersenyum. Sepertinya selera humor oppa-nya yang satu ini semakin hari semakin meningkat.

“Nah, sekarang kita mau makan dimana?” tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke setiap sudut atap bangunan kantor itu sejauh jangkauan matanya, mencari tempat yang kira-kira pas untuk menikmati makan siang.

Bukannya ikut mencari posisi yang pas, Donghae malah menatap Yoona lekat-lekat. Ketika Yoona menyadari siapa objek yang sedang dilihatnya, ia langsung menarik gadis itu kedalam pelukannya.

“O…Oppa, ada apa?” Yoona merasa terkejut sekaligus heran, karena tidak biasanya pria itu bersikap seperti ini.

“Tidak apa-apa. Aku hanya merindukanmu. Itu saja.” jawab Donghae pelan. Ia mempererat pelukannya pada gadis itu seolah tidak ingin melepaskannya.

Saranghae, Yoona-ya…”

***

 

Detroit, USA

06.00 PM

 

BRAK!!!

Terdengar suara pintu didobrak dengan kasar. Masuklah tiga orang pria berbadan tegap dan berpenampilan rapi dengan setelan jas hitam.

“Cepat geledah!” perintah seorang pria berusia sekitar lima puluh tahunan yang berdiri di tengah. Dengan sigap dua orang pria dibelakangnya mengeluarkan pistol dari balik jas yang mereka pakai, mengangkatnya dalam posisi siaga, dan mulai berpencar ke setiap sudut rumah yang sudah kosong itu.

Pria yang tampaknya adalah atasan dari kedua pria tadi memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana, lalu mulai berjalan santai menyusuri lorong di rumah itu. Sesekali ia menghentikan langkahnya sekedar untuk melihat-lihat kumpulan foto yang sudah dibingkai dengan rapi dan beberapa pajangan lain yang tertempel di dinding. Kebanyakan dari foto-foto itu adalah foto keluarga bahagia yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak perempuan. Namun, semakin lama foto-foto keluarga itu hanya tersisa tiga orang saja. Tak tampak wajah wanita cantik yang senyum manisnya selalu menghiasi beberapa foto sebelumnya. Dilihat dari kondisi foto yang sudah cukup tua dan beberapa masih berwarna hitam putih, sepertinya sudah cukup lama wanita itu telah tiada.

Pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu bernuansa minimalis itu. Kentara sekali pemiliknya terburu-buru melarikan diri sehingga belum sempat mengambil barang-barangnya di rumah ini melihat dari perabotan yang masih tertata rapi di tempatnya. Namun, keadaan seperti ini justru menguntungkan. Cepat atau lambat, sang pemilik rumah pasti akan kembali kesini.

“Bos!” panggil salah satu anak buah pria itu sambi menuruni anak tangga, “Semua ruangan kosong. Mereka benar-benar sudah pergi.”

“Let me go!!” belum sempat pria itu berujar, tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang gadis. Ketiga pria dalam ruangan itu menoleh. Tak lama kemudian masuklah seorang anak buahnya yang lain sambil menggiring seorang gadis berusia sekitar enam belas tahun. Gadis itu meronta agar bisa melepaskan diri dari cengkeraman pria berbadan kekar itu, namun kekuatan yang dimilikinya jelas kalah jauh.

Gadis itu menatap tiga pria didepannya. Pandangannya tertuju pada pria paruh baya yang berdiri di tengah sambil memasukkan kedua tangannya didalam saku celana.

“Who are you?!” gadis itu menoleh ke kiri dan kanan dengan panik, “What’s goin’ on?!”

“Just calm down, Im Yoonji.” ujar pria itu. Ia berjalan perlahan menghampiri gadis bernama Im Yoonji itu, “Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kau disini?”

Yoonji terbelalak, “Kau… orang Korea? Ba…bagaimana kau bisa tahu namaku?”

Pria itu tersenyum. Senyum yang tenang, namun penuh dengan tipu muslihat, “Duduklah dulu, Miss Im. Kita bicara baik-baik.” ia mengisyaratkan anak buahnya untuk melepaskan Yoonji dan mendudukkannya di sofa tidak jauh dari situ.

Pria paruh baya itu lalu duduk dihadapan Yoonji dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu, “Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang dilakukan gadis kecil sepertimu di tempat ini?”

“I…ini rumahku. Aku ingin mengambil barang-barangku disini.” jawab Yoonji jujur. Ia merasa sedikit ngeri melihat tatapan mata pria itu. Sepertinya dia adalah pria yang berbahaya. Pembawaannya yang tenang dan aura dingin menusuk yang dipancarkannya membuat gadis itu merinding.

“Lalu, kenapa kau mengambilnya sendirian? Dimana ayahmu?” tanya pria itu lagi.

Yoonji terkesiap. Sebenarnya siapa orang-orang ini? Kenapa mereka mencari ayahnya? Ia teringat, ayahnya berpesan untuk tidak mengatakan pada siapapun tentang keberadaannya. Ini demi keselamatan mereka berdua.

Yoonji melirik ke arah tiga orang berbadan tegap yang usianya lebih muda daripada pria dihadapannya. Sepertinya mereka adalah bodyguard pria ini. Terlebih lagi jika melihat senjata yang mereka pegang di tangan masing-masing.

“Ayolah, Yoonji. Mereka bukan orang baik-baik. They’re no good guy.”

“Kau tidak mau buka mulut?”

Yoonji merasa gugup setengah mati. Bisa ia rasakan jantungnya berdetak cepat. Tangannya bergetar dan keringat dingin mulai mengucur di dahinya. Yoonji menelan ludah, diam-diam menyiapkan ancang-ancang untuk kabur dari situ secepatnya. Setidaknya itu yang harus ia lakukan jika ingin selamat.

Ketika pria itu lengah, cepat-cepat Yoonji bangkit dari tempat duduknya dan melesat menuju pintu keluar. Namun ia lupa memperhitungkan keberadaan para anak buah pria paruh baya itu sehingga mereka bisa menangkapnya kembali dengan mudah.

“Lepaskan!!” geram Yoonji. Ia meronta-ronta dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan para penjahat itu dari tangannya, namun sia-sia saja.

“Nyalimu besar juga, nona. Aku kan sudah mengatakan kita akan bicara baik-baik.” pria itu menarik tangan Yoonji dan melingkarkan tangan kirinya di leher gadis itu, sementara tangan kanannya mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan menempelkannya di pelipis gadis itu.

Yoonji benar-benar sangat ketakutan. Napasnya memburu, keringatnya bercucuran, bercampur dengan air mata yang sekarang mengalir deras membasahi pipinya. Apakah pria ini benar-benar akan membunuhnya?

“Karena kau tidak mau menurut, terpaksa aku harus memaksamu.” ujar pria itu tenang. Sangat kontras dengan ekspresi Yoonji yang hanya bisa berdoa dalam hati, memohon kepada Tuhan agar menyelamatkan nyawanya.

“Call your dad. Now.” perintah pria itu.

Karena ditodong pistol seperti itu, Yoonji hanya bisa pasrah. Dengan tangan gemetar ia pun mengambil ponsel dari dalam saku mantelnya dan menekan beberapa tombol.

“Y…yeo…yeoboseyo, A…Appa…” ucapnya terbata-bata. Ia berusaha menyembunyikan suara tangisnya agar ayahnya tidak curiga, namun tidak berhasil.

“Yoonji-ya, ada apa?” terdengar nada panik sekaligus cemas dari seberang. Pria itu pasti bingung mengapa anak perempuannya itu meneleponnya sambil menangis.

Belum sempat Yoonji menjawab pertanyaan ayahnya, pria paruh baya yang menodongkan senjata ke arahnya merebut ponsel yang ada dalam genggamannya. Sebagai gantinya, ia menyuruh salah satu anak buahnya untuk memegangi tangan Yoonji agar gadis itu tidak kembali kabur.

“Hello, Mr. Im Donghyuk.” ujarnya menyeringai.

“Kk…kau…?! Bagaimana kau bisa bersama putriku, hah?! Kau apakan dia?!” suara ayah Yoonji terdengar gusar.

“Tenang saja. Aku tidak akan melakukan apa-apa padanya. Tapi itu kalau kau mau bekerja sama denganku.” pria itu menekan pelatuk pistolnya perlahan, membuat tangis Yoonji semakin keras, “Kau harus tiba di rumahmu di Detroit dalam waktu kurang dari lima detik.”

“Kau sudah gila?! Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, hah?!”

“Appa, tolong aku!!” teriak Yoonji sekencang-kencangnya.

“Diam kau!!” pria itu semakin menekankan pistolnya di pelipis Yoonji, membuat gadis itu kembali tidak bisa berkutik.

Setelah Yoonji terdiam dan hanya bisa menangis sesenggukan, pria itu kembali menempelkan ponsel itu di telinganya, “Mudah saja, Donghyuk-ssi. Penyerahan dirimu.”

Pria itu melirik ke arah Yoonji yang panik, “Lima…, empat…”

“Mana mungkin aku sampai disana dalam waktu lima detik?! Itu tidak masuk akal?!!”

“Tiga…, dua…”

“Jauhi tangan kotormu itu dari anakku!! Dasar keparat!!!”

“Satu…”

“APPA!!!”

“DORR!!”

 (to be continued)

__________________________________

Hai! Setelah pertimbangan yang singkat akhirnya aku mutusin buat publish chapter 1 hari ini🙂

Ternyata main cast-nya Yoona dan Jonghyun. Ada yang suka couple ini? Hehe…

Jujur sebenernya aku bukan shipper mereka. Aku pilih mereka karena kayaknya cocok dengan karakter tokoh yang aku buat. Chapter ini panjang, memang, semoga readers ga bosen bacanya ._. Mungkin ada yang masih bertanya-tanya, atau ada juga yang udah nebak-nebak jalan ceritanya. Tunggu aja chapter selanjutnya, ya…

Jangan lupa tinggalkan comment ya. Sorry for typo. Sampai ketemu di chapter selanjutnya🙂

24 thoughts on “I Found You [Chapter 1]

  1. Keren ceritanya .. dari part 1 udah mulai complicated …
    apa ayah donghae tahu tentang keluarga yoona ?
    sebenarnya ada masalah apa antara appa yoona dgn para gangster itu ?
    lanjut next part …😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s