[Chapter 6] Hard to Love

Hard to Love

“Love? Never!”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo, Son Naeun || Support Cast : Lee Howon, Jung Eunji || Genre : Romance, School Life || Length : Chapter 6/? || Rating : PG-15 || Credit Poster: 

Hard to Love  Chapter 6  The Lost Memories

oOo

Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5

oOo

London, United Kingdom – 7 am.

Mrs-.

Gadis yang tengah menikmati angin sejuk pagi Kota London itu menyuruh asistennya untuk diam sejenak. Gadis itu kemudian kembali tersenyum sambil menghirup dalam nafasnya. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya lalu memotret kesibukan penduduk Kota London pagi itu. “Karine, can you prepare my bag?” tanya gadis itu sambil terus memotret kepada asistennya.

Yes, Mrs. Do you want me to take some cookies with you? You haven’t had breakfast yet.” Tanya asisten gadis itu dengan nama lengkap Karine Rivers. Karine Rivers tampak mengkhwatirkan direkturnya itu.

Gadis muda yang berumur sekitar 20 tahun itu menganggukkan kepalanya. “Ah, ya! I want some cookies and coffee latte too. Can you?” tanya gadis itu lalu menghentikan aktifitasnya. Karine menganggukkan kepalanya, kemudian berlalu pergi.

“Ah, pagi yang menyenangkan!” kata gadis itu dalam Bahasa Korea yang sangat fasih. Kemudian ia berjalan masuk kembali ke dalam kamar hotelnya. Lalu ia berjalan menuju kamar mandi dan membiarkan rambutnya tergerai. Lalu ia menatap cermin sekilas dan berhenti di depannya. “Ah, kerutan!”

Already prepared. You can go now, Mrs.” Karine berujar dari luar kamar mandi. Gadis itu tersenyum kemudian ia mengalihkan pandangannya dari cermin. Gadis itu kembali mengikat rambutnya yang panjang lalu membiarkan poni indahnya menutupi dahinya yang putih bersih.

Lalu ia melangkah keluar. “Car?”

Yes, the car has just prepared. Do you want Mr. Mario to drive it?

Of course. He’s my driver.

**

“Tuan muda, hari ini anda akan rapat dengan seorang gadis muda asal Inggris. Gadis itu tampak masih sangat muda. Kira-kira 1 tahun lebih muda dari anda. Mungkin juga, ia tampak lebih cerdas dari tuan muda.”

Laki-laki yang dipanggil tuan muda itu menatap kesal ke arah asistennya. “Tidak mungkin! Apa aku pernah bertemu dengannya?”

“Kurasa tidak, Tuan Kim.”

“Baguslah, kemudian karena hari ini adalah hari pertama dimana kau menjadi asistenku, aku meminta sesuatu. Lee Sungyeol, berhentilah memanggilku tuan muda atau juga Tuan Kim. Aku tidak menyukainya. Kau bisa memanggilku Myungsoo.” Kata laki-laki yang bernama Kim Myungsoo itu.

Lee Sungyeol menganggukkan kepalanya. “Ah ya, nama gadis itu adalah Theresa Son.” Kata Sungyeol sambil tersenyum. Kim Myungsoo menatap Sungyeol heran. Jarinya mengetuk-ngetuk meja kerjanya.

“Son?” tanya Myungsoo. “Dia orang Korea?”

“Sebenarnya ia keturunan-.”

“Tuan Kim? Rapat akan segera dimulai.” Ujar seseorang setelah ia membuka pintu kamar hotel Myungsoo. Myungsoo menganggukkan kepalanya kemudian ia mengumpulkan materi-materi yang akan dipresentasikannya. Ia menatap keluar gedung.

Kemudian ia menghela nafas panjang. “London. Kurasa aku harus menetap beberapa hari disini sebelum pulang ke Korea. Bukankah begitu, Sungyeol?” tanya Myungsoo. Sungyeol yang sibuk merapikan kertas-kertas Myungsoo hanya bisa bergumam ‘ya’.

“Baiklah, kau bisa menjadi temanku nanti!”

Mereka memasuki ruangan rapat yang gelap. Masih belum ada gadis yang bernama ‘Theresa Son’ itu. Myungsoo dibuat penasaran karena gadis itu. Sial, apa jangan-jangan dia bukan Son Naeun yang aku cari.

Tak lama kemudian, beberapa orang memasuki ruangan rapat, memenuhi ruangan rapat Hotel London All Stars itu – lebih tepatnya, hotel milik Theresa Son. Demi mendapatkan investasi yang cukup besar, Myungsoo yang sebenarnya tidak mau berpegian ke luar negeri, harus ke luar negeri untuk membahas pembangunan hotel baru kerjasama antara CTS Group dan KMS Group.

“Mari kita sambut Catherine Theresa!” ujar MC rapat tersebut. Beberapa orang sudah bertepuk tangan, termasuk Sungyeol – asisten dari Myungsoo – yang sudah tak sabar menanti Theresa.

Ketukan hak sepatu Theresa membuat beberapa orang terkesan bagaimana penampilan Theresa kali ini. Apakah ia akan secantik dewi? Seperti apa yang dikatakan orang-orang. Menjadi orang kaya memang membuat Theresa bisa secantik dewi, namun operasi plastik terus dihindarinya. Ia ingin cantik alami.

Masuklah gadis itu dengan senyum khasnya. Semua orang segera bertepuk tangan kecuali Kim Myungsoo. Lelaki itu terdiam menatap gadis itu. Seakan-akan gadis itu sudah menghipnotisnya. “Son Naeun?!” teriak Myungsoo.

Seluruh anggota rapat menatap ke arahnya. Termasuk Theresa, ia menatap Myungsoo heran. Myungsoo berdiri lalu melangkah mendekati Theresa. Sungyeol mencoba menahan Myungsoo namun usahanya sia-sia saja.

“Son Naeun?”

Yes, my Korean name is Son Naeun. But, who are you?” tanya Theresa sambil menatap Myungsoo heran.

Deg!

Rasanya jantung Myungsoo berhenti seketika. “Kau tidak mengenalku?” tanya Myungsoo dalam Bahasa Korea. Theresa menggelengkan kepalanya pelan. “Ibumu Son Yejin bukan?” tanya Myungsoo lagi akhirnya. Theresa kembali menganggukkan kepalanya.

Mianhaeyo. Aku tidak mengenalmu.” Kata Theresa membuat hati Myungsoo terasa tertusuk begitu saja dari belakang. Rasanya Theresa seperti menancapkan pecahan beling ke arah jantungnya. “Maaf, Kim Myungsoo-ssi? Benar bukan? Bisa kita lanjutkan rapat ini?” tanya Theresa.

Dengan cepat Sungyeol menarik Myungsoo yang masih tercengang disana. Myungsoo dipaksa duduk oleh Sungyeol. Myungsoo menatap Theresa tidak percaya. Bagaimana bisa ia melupakan Myungsoo?

I’m sorry about this problem. So, can we continue?” tanya Theresa. Para peserta rapat menganggukkan kepalanya. “Okay, I’ll build a hotel with the best facilities. As you’re all know, we want to build the best hotel ever! And we will build this hotel in the center of London. So, everyone can find this hotel easily!…..”

Theresa terus melanjutkan pidatonya. Sedangkan Myungsoo, bukannya menyatat poin-poin yang dijelaskan oleh Theresa, ia justru terus memperhatikan Myungsoo. Rasanya sakit saat ia melihat Theresa.

“Myungsoo, kau harus memperhatikannya dan mendengarkannya.”

Ah, arasseo.”

Sungyeol justru sibuk mencatat poin-poin sehingga Myungsoo tidak kesulitan jika ia ditanya tiba-tiba oleh Theresa. Theresa berhenti sejenak kemudian ia menatap ke arah Myungsoo yang masih menatapnya kosong. Seluruh anggota rapat heran dengan sikap Myungsoo. Cepat-cepat Sungyeol menyenggol tubuh Myungsoo.

“Theresa memperhatikanmu!” bisik Sungyeol dan berhasil membuat Myungsoo tersadar dari lamunannya. Theresa yang berada di tengah-tengah meja rapat berbentuk lonjong itu berjalan mendekati Myungsoo.

Theresa tersenyum. “Sepertinya kau menyukaiku ya, Kim Myungsoo-ssi?” tanya Theresa dan disambut oleh tawa kecil dari para anggota rapat. “Aku tanya, apa yang kau sukai dariku?” Theresa tertawa kecil. Seluruh anggota rapat tersenyum kecil mendengar pertanyaan yang muncul dari mulut Theresa.

“Kau bukan Son Naeun yang kucari.”

**

“Kim Myungsoo-ssi.”

Myungsoo membalikkan tubuhnya. Dilihatnya Son Naeun – Theresa – yang tengah berjalan mendekatinya. Bajunya kini sudah berganti dengan dress panjang berwarna hitam panjang yang memamerkan punggungnya yang indah. Rambut panjang bergelombangnya ia biarkan terurai menutupi punggungnya. Lipstik di bibirnya tampak berwarna pink muda, tidak terlalu mencolok. Juga bedak yang menutupi pipinya dibiarkan tipis. Haknya tampak lebih tinggi daripada yang tadi ia kenakan saat ia rapat. Walaupun begitu, tinggi Myungsoo tetap menyainginya.

“Oh, Son Naeun.”

Naeun tersenyum kecil menatap Myungsoo kemudian ia melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Kau memanggilku seperti itu seakan-akan kau sudah mengenalku.” katanya. Myungsoo menatapnya tak percaya. “Kau mau pergi kemana? Jika ingin makan di luar, aku ikut.”

Mulutnya terasa berat ketika ingin mengatakan ya. Ia tidak bisa lama-lama memandang Naeun. Cukup sakit hati ketika melihat Naeun yang kini sangat jauh berbeda. Kini Naeun tampak lebih cantik dan lebih elegan. Dulu, Naeun dimata Myungsoo hanyalah seorang adik kelas yang ia sukai.

Gadis itu kini menunggu jawaban dari Myungsoo. Sampai akhirnya ia mendengus kesal karena tak ada jawaban dari bibir Myungsoo.Ia melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Myungsoo. Tak ada tanggapan dari Myungsoo. Laki-laki itu masih terhanyut dalam pikirannya.

Apa laki-laki ini sudah gila?!

Akhirnya dengan terpaksa, Son Naeun menjitak kepala laki-laki itu. Myungsoo akhirnya tersadar dari lamunannya. “Ada apa? Maaf tadi aku tidak mendengarmu.” Myungsoo menatap Naeun dengan perasaan sedikit bersalah. Naeun hanya bisa menghela nafas dan memutar kedua bola matanya.

Heol. Apa kau akan pergi ke kafe?”

Myungsoo mengangguk ragu. Namun, akhirnya ia menganggukkan kepalanya mantap namun tidak semantap hatinya. Ia masih bisa merasakan sakit yang mendalam saat mengetahui Naeun sama sekali tidak mengenalnya. Jelas-jelas itu adalah Son Naeun. Namun, kenapa Son Naeun bisa melupakannya?

“Baiklah, kau bisa membawa mobilnya, aku akan membayar minumanmu sebagai perayaan dari kerjasama pembangunan hotel kita. Hm, yang terakhir, juga karena ulah lucumu di ruang rapat.” Naeun melangkah mendahului Myungsoo. Myungsoo mengikutinya dari belakang, namun akhirnya ia berusaha berjalan disamping Naeun.

Myungsoo berpikir sejenak. Ulah lucu? Memangnya dia komedian. Lagipula, apanya yang lucu? Ia merasa bahwa adegan tadi adalah adegan yang seharusnya tidak dipertontonkan karena Naeun sama sekali tidak mengingatnya bahkan mengenalnya.

“Adegan? Lucu?”

Naeun akhirnya tertawa kecil kemudian melangkah masuk ke dalam lift yang kosong itu. Kemudian Myungsoo menekan tombol B dimana mobilnya diparkirkan. Tak lama kemudian lift itu tiba di lantai yang diharapkan. Mereka berdua melangkah keluar.

Myungsoo memimpin jalan. Ia tidak terlalu mempedulikan Naeun yang berjalan di belakangnya. Toh, Naeun sudah tidak mengenalinya. Namun, setiap ia menatap Naeun, kekecewaannya meningkat. Mobil itu segera berbunyi ketika Myungsoo menekan kuncinya. Laki-laki itu melangkah masuk ke dalam mobilnya lalu segera membuka pintu yang satunya untuk Naeun.

Gadis itu tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil Myungsoo. Myungsoo segera menyetir mobil itu dengan kecepatan penuh. Ya, maklum, mobil mahal. Naeun yang sibuk dengan ponselnya tidak menyadari bahwa diam-diam Myungsoo memperhatikan Naeun.

“Son Naeun, apa kau benar-benar tidak mengingatku?”

Aniyo.”

“Apa kau mengalami lupa ingatan?”

Naeun terdiam sejenak. Kemudian ia berhenti memainkan ponselnya, ia tampak berpikir. “Setahuku tidak. Aku mengalami hari-hari yang biasa saja.”

“Kalau begitu apa kau kenal Jung Eunji?”

“Ya, aku mengenalinya.”

Myungsoo langsung menginjak remnya. Sontak membuat Naeun hampir menabrak bagian depan mobil Myungsoo. Myungsoo menoleh ke arah Naeun lalu menatapnya tajam. “Bohong, Naeun-ah, kau pasti berbohong bukan?” tanya Myungsoo marah.

“Sebenarnya apa yang kau mau dariku? Aku bukanlah Son Naeun yang kau sebut-sebut. Aku berbeda dengannya! Aku tidak mengenalimu!”

Myungsoo menatapnya marah. “Lalu kenapa kau mengenali Jung Eunji?” Kekesalannya meningkat. Ia akhirnya menyetir lagi. “Kenapa?”

“Dia sahabatku. Aku tidak mengenalmu sama sekali! Kenapa kau sangat memaksaku, Kim Myungsoo-ssi?” tanya Naeun kesal. Myungsoo akhirnya menyerah. Mungkin, Theresa bukanlah Son Naeun yang dicarinya selama ini. Namun, ia tidak akan menyerah mencari Son Naeun yang asli.

“Lee Howon? Nam Woohyun?”

“Tidak, aku tidak mengenal kedua nama itu.” jawab Naeun tegas. Kemudian ia melanjutkan aktifitasnya. Ia merasa seperti sedang diintrogasi oleh seorang polisi. Bagaimanapun, Naeun harus menjawab pertanyaan Myungsoo. Myungsoo pun memarkirkan mobilnya di depan kafe itu.

**

“Terimakasih, Kim Myungsoo-ssi.” Naeun mencoba tersenyum lalu mencoba melangkah keluar dari mobil Myungsoo. Namun, Myungsoo menahan lengannya kuat. Akhirnya Naeun membalikkan tubuhnya, kemudian ia menatap Myungsoo cukup kesal.

“Ada apa?”

Tangan laki-laki itu mengeratkan genggamannya pada pergelangan tangan Naeun.

“Ada apa?”

“Tidak.”

Myungsoo melepaskan tangan Naeun. Naeun hanya mendecak kecil sambil menatap Myungsoo heran. Kemudian ia pergi melangkah meninggalkan Myungsoo yang masih menatapnya dari dalam mobil. Siluet gadis itu semakin menjauh meninggalkan Myungsoo.

“Tidak, dia bukan Son Naeun.”

**

Kepenasaran Myungsoo semakin menjadi-jadi ketika ia sudah tiba di kantor polisi London pagi itu. Ia mengajak Sungyeol – asistennya – untuk pergi bersamanya. Sebenarnya Sungyeol menolak ajakan Myungsoo, namun demi pekerjaan akhirnya ia pun mengangguk dengan setengah hati.

“Ya, Sungyeol, lebih cepat!”

“Tapi ini masih pagi. Jika kita kecelakaan bagaimana?”

“Ya itu salahmu tidak berhati-hati.”

“Ah, baiklah.”

Sungyeol pun menginjak gas nya lalu ia menyetir dengan kecepatan 130 km/jam. Myungsoo tersenyum kecil. Namun, orang-orang yang tengah menyetir di jalan raya kaget karena kecepatan mobil Myungsoo yang pagi itu. Myungsoo hanya bisa tertawa puas.

“Myungsoo, kita sampai.”

“Bagus, karena kau asistenku maka pergilah dulu dan tanyakan pada polisinya.”

“Apa?!”

“Ya, tentu saja.”

“Jangan-jangan kau tidak bisa berbahasa Inggris?”

Myungsoo menatapnya kesal. “Tentu bisa! Sudah pergi sana!” Myungsoo mendorong Sungyeol keluar dari mobilnya. Akhirnya dengan wajah menyesal, Sungyeol menuju kantor polisi itu. Entah apa yang dilakukan kedua pria ini di pagi hari, sampai-sampai harus pergi ke kantor polisi.

“Ada yang bisa aku bantu?” Seorang polisi mencuatkan pertanyaannya begitu saja ketika Sungyeol mengintip ke dalam kantor polisi London itu. Dengan sedikit takut, Sungyeol menganggukkan kepalanya. Kemudian laki-laki itu mendekati Sungyeol.

Sungyeol mengeluarkan kartu identitasnya. “Aku Lee Sungyeol. Dan aku sedang mencari seorang polisi disini yang bernama Jang Dongwoo. Kalau tidak salah dia bag-.”

Laki-laki itu memotong perkataan Sungyeol dengan cepat. Sepertinya laki-laki itu adalah bawahan dari polisi yang disebut-sebut oleh Sungyeol. “Ah, Jang Dongwoo. Dia ada diatas. Kau bisa ikut aku.”

“Sebentar. Aku harus memanggil bosku untuk ikut ke dalam. Dia yang akan berbicara dengan Dongwoo.”

Laki-laki itu menganggukkan kepalanya. “Ah, begitu. Baiklah.” Setelah itu, Sungyeol langsung melayang pergi menuju mobil Myungsoo dan mengetuk jendela mobil. Myungsoo keluar dari mobilnya kemudian segera menekan tombol kunci dari kunci mobilnya.

“Ayo, Dongwoo hyung. Dia ada di dalam.”

“Bagus. Tunggu apa lagi, ayo kita temui dia.”

**

Nuna!”

Chorong membalikkan tubuhnya, dilihatnya adik angkatnya yang tengah berlari-lari kecil menuju ke arahnya. Kemudian Chorong tersenyum kecil menatap adiknya yang lucu itu.

“Ah, Sungjong-a. Sudah selesai dengan kuliahmu?”

“Ya, ayo kita pulang bersama.”

Chorong menganggukkan kepalanya pelan sambil menatap getir ke arah gedung universitas adiknya itu. Kemudian Chorong menepuk-nepuk kepala adiknya itu. Lalu ia masuk ke dalam mobil.

“Ada apa denganmu, nuna? Ceritalah padaku.”

Aniyo. Hanya saja aku merindukan Nam Woohyun, Sungjong-a.”

Sungjong menghentikan mobilnya. “Nuna , kau belum menemukannya?” Chorong menggelengkan kepalanya pelan. Sungjong akhirnya hanya bisa menepuk punggung Chorong.

“Kita pasti menemukannya.”

Kalaupun tidak, aku siap mencintaimu, nuna.

**

Hyung!”

Laki-laki yang tengah sibuk dengan laptopnya itu langsung menolehkan kepalanya ketika ia mendengar suara yang tampak khas dengan telinganya. “Aigo. Sungyeol dan Myungsoo?”

Mereka bertiga langsung berpelukan layaknya tiga pria yang baru saja mabuk asmara. Atau juga tiga pria yang lama tidak bertemu. Dongwoo yang pertama melepaskan pelukan itu. Kemudian ia menepuk pundak Myungsoo dan Sungyeol secara bersamaan. “Ada apa?”

“Begini, hyung.” kata Sungyeol sambil duduk di sofa yang ada di ruangan kerja Dongwoo. Diikuti oleh Myungsoo yang ikut duduk di dekat Sungyeol. “Sebenarnya dia mencari data seorang perempuan.”

“Apa?! Perempuan. Gila, kau gila. Myungsoo, kau sudah dewasa rupanya.”

“Dari dulu.”

Heol.” Sungyeol mendecak. “Myungsoo, kau saja yang jelaskan padanya.” katanya sambil meraih sebuah cangkir kopi dan menyeruputnya.

Myungsoo memutar kedua bola matanya. “Arasseo. Kau minum saja.” katanya. “Son Naeun namanya.”

“Son Naeun?”

“Iya.”

“Aku kenal dengannya.”

“Apa?!”

Dongwoo menganggukkan kepalanya. Kemudian ia mengambil sebuah foto yang terletak diatas mejanya. Kemudian foto itu ia tunjukkan pada Myungsoo  – foto dirinya dan Naeun yang tengah berada di tengah-tengah kota London. Myungsoo tertawa kecil ketika melihat betapa lucunya wajah Naeun.

“Iya. Dia.”

“Baguslah, ada apa dengan perempuan itu? Jangan-jangan kau berpacaran dengannya.”

“Bukan. Aku yang menyukainya.”

“Oh, terlihat dari wajahmu.”

“Sial.” Umpat Myungsoo sambil menatap wajah Dongwoo kesal. Kemudian ia melipat kedua tangannya. “Apa dia pernah kecelakaan?”

“Setahuku tidak,” kata Dongwoo sambil tersenyum. “Aku mengenalnya sejak ia pindah ke London. Ia tiba di bandara bersama ibunya yang kemudian dua hari kemudian ibunya ditusuk oleh para penjahat dan meninggal.”

Mata Myungsoo melebar. “Apa?”

“Kau tidak tahu? Katanya kau menyukainya,” kata Dongwoo. “Maksudku, bagaimana bisa kau tidak mengetahuinya?”

Myungsoo melepaskan kedua tangannya. “Aku kehilangan kontak dengannya.”

“Aku tidak mengerti.”

Akhirnya dengan kepasrahan penuh, Myungsoo menceritakan semuanya pada Dongwoo dan Dongwoo hanya bisa menganggukkan kepalanya mengerti. Sebenarnya, ada sebagian cerita yang tidak ia mengerti namun untuk mempersingkat waktu ia hanya menganggukkan kepalanya saja.

“Dia tidak pernah menyebut dirimu.”

“Bantu aku, hyung,” kata Myungsoo sambil menatap Dongwoo dengan penuh harap. “Kumohon. Aku tidak tahu apa dia benar-benar lupa ingatan atau dia memang sengaja lupa ingatan.”

“Sekarang Kim Myungsoo benar-benar berada di tingkat paling bawah hanya karena seorang perempuan,” kata Sungyeol. “Hehe.”

“Diam kau,” Myungsoo menatapnya kesal. “Jadi, hyung?”

“Baiklah.”

**

Setidaknya, ini adalah malam yang paling indah. Dan kini gadis itu tengah berada Jalan Jembatan Westminster yang artinya ia berdiri tak jauh dari jam terkenal di London itu, Big Ben. Tapi, dia sudah tiga kali masuk ke dalam jam Big Ben yang menurutnya sama sekali tidak menarik. Jadi ia memutuskan untuk menaiki London Eye malam ini. Segera saja, ia menekan nomor 3 pada ponselnya.

Oppa,” katanya. “Eodiseo?” tanya Naeun sambil melangkah mendekati pinggir jembatan untuk melihat keindahan Sungai Thames yang sama sekali tidak indah sebenarnya. Kemudian ia melemparkan sebuah koin ke arah sungai. Pluk, begitulah suara air yang dihasilkan oleh tenggelamnya koin itu. “Ah, arasseo.

Tak lama kemudian seseorang menepuk pundak Naeun. Naeun menolehkan kepalanya lalu tertawa. Ia memukul pundak laki-laki itu. “Ah, mwoya?! Tadi katanya Oppa yang akan menungguku, sekarang justru aku yang menunggumu.”

Mian.” katanya. Kemudian ia menepuk kepala Naeun pelan. Lalu ia mengeratkan jaketnya, udara malam itu sangat dingin. Ditambah bulan Desember yang dituruni salju, membuat tubuhnya terasa membeku.

“Dongwoo oppa, kau yang mentraktirku kan?”

“Tentu.”

Kemudian tak lama, ia mengeluarkan ponselnya. Dilihatnya nama Myungsoo di ponselnya itu. “Aigo, anak ini.”

Nugu?” tanya Naeun sambil mengintip ke arah layar ponsel Dongwoo.

“Kim Myungsoo. Dia daritadi terus-terusan menelponku.”

“Myungsoo?”

Dongwoo menolehkan kepalanya dan memasang wajah pura-pura tidak tahu. “Kau mengenalnya?” tanyanya sambil menerima panggilan masuk itu. Kemudian membiarkannya begitu saja.

“Apa dia tinggi dan putih? Apa dia dulu sekolah di Hankeum High School?”

“Iya. Kau mengenalnya?”

Naeun menundukkan kepalanya. “Iya, aku mengenalnya. Dia. Cinta pertamaku.”

“Hahahaha. Setua ini, dia adalah cinta pertamamu?!” tanya Dongwoo. “Kau ini benar-benar aneh. Kau menyukainya? Dia sekarang ada di London. Mau aku membuat pertemuan antara dirimu dengannya?” tanya Dongwoo lagi sambil tertawa.

Aniyo! Aku tidak menyukainya lagi.”

**

“Myungsoo, ibumu menyarankan agar kita pulang besok. Ayahmu dalam keadaan kritis.”

“Pulang malam ini saja.”

“Tiketnya habis.”

Myungsoo menganggukkan kepalanya sambil merapikan kamarnya. Lalu ia memberes-bereskan barangnya sampai akhirnya ia menemukan sebuah foto dirinya dan Naeun dalam bentuk tercetak. Foto yang berasal dari kamera polaroid milik Naeun itu masih disimpannya. Ia hanya bisa tersenyum getir. Apalagi setelah mendengar Naeun hanya berpura-pura tidak mengenalnya selama ini.
**

Seoul, South Korea – 6 pm.

“Kim Myungsoo! Tunggu dulu!” teriak Sungyeol ketika Myungsoo berlari keluar dari rumahnya. Ternyata, ayahnya sudah dipindahkan menuju ruang rawat inap di Asan Medical Center. Untungnya rumah Myungsoo yang berada di distrik Gangnam, hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai distrik Songpa.

Sebenarnya, semuanya akan lebih cepat jika ia naik kereta menuju Distik Songpa. Karena itu ia meminta  Sungyeol untuk mengantarnya menuju Stasiun Apgujeong yang dekat dari rumahnya. Dan tepat seperti dugaan Myungsoo, hanya membutuhkan waktu 20 menit ia sudah sampai di distrik Songpa. Dengan cepat ia memesan taksi menuju Asan Medical Center dan sesampainya disana, ia segera berlari menuju ruang rawat inap ayahnya itu.

“Myungsoo-a. Kenapa kau baru datang?”

Myungsoo yang terengah-engah harus mengatur nafasnya dulu. Lalu ia segera duduk di sofa yang berada di dekat pintu kamar rawat inap ayahnya itu. Ia meletakkan buah-buahan yang dibawanya di atas meja di depan sofa yang ia duduki. Kamar itu tampak bersih dan bau obatnya sangat khas.

“Aku mengambil pesawat jam 5,” kata Myungsoo akhirnya. “Abeoji, apa dia baik-baik saja?” tanya Myungsoo khawatir. Namun, berbeda dengan dirinya yang sangat mengkhawatirkan ayahnya, kakaknya justru diam saja dari tadi tanpa menatap Myungsoo sedikitpun.

Ibunya menganggukkan kepalanya. “Dia baik-baik saja. Terimakasih sudah berlari-lari kesini.”

“Bukan masalah, sudah menjadi kewajibanku sebagai anak.”

Kemudian ibunya duduk disampingnya lalu menepuk pundak anaknya itu. “Ayahmu meminta agar perusahaan harus tetap berjalan. Kau sebagai direktur harus mengatur saham-saham yang ada. Dan jangan mudah percaya. Percaya saja pada Sekretaris Choi.”

Myungsoo melebarkan matanya. “Apa Abeoji menyerahkan jabatannya padaku?”

“Iya.”

Kim Jongwoon, kakak Myungsoo, langsung melangkah keluar dari ruangan itu. Dia tidak suka mendengar hal itu. Ia membenci ayahnya yang lebih menyukai adiknya daripada dirinya. Dan Myungsoo hanya bisa menghela nafas pelan, ia sebenarnya juga tidak menyukainya tapi bagaimanapun itu kewajibannya.

“Jangan pedulikan kakakmu, aku sudah memberikannya pelajaran. Dia harus kuliah di Spanyol.”

“Apa?”

“Ya, ayahmu bilang begitu. Jadi mulai besok, kakakmu akan tinggal di Spanyol. Mungkin dia harus mencari pencerahan. Aku akan mengundang seseorang untuk menemaninya disana dan menjaganya. Memastikan bahwa ia benar-benar kuliah disana.”

Myungsoo mengangguk pelan.

**

“Kenapa kau tidak bilang padaku bahwa kau harus ke Seoul hari ini?”

Naeun menarik kopernya kemudian ia menyetop sebuah taksi. “Mian ne, Oppa? Aku harus menjenguk seseorang yang penting bagiku. Aku sangat berutang padanya. Mungkin aku akan kembali nanti lagi. Atau minggu depan.” kata Naeun sambil menyerahkan kopernya pada supir taksi  lalu masuk ke dalam.

Aigoo. Baiklah. Telepon aku lagi ya nanti.”

“Aku tidak bisa nanti. Karena itu jangan putuskan sambungannya dulu,” kata Naeun sambil memindahkan ponselnya ke telinganya yang kanan. “Asan Medical Center, ya, Pak.”

“Distrik Songpa?”

“Iya,” kata Naeun. “Oppa, aku pasti akan merindukanmu.”

“Aigo, kau membuatku tersipu malu,” kata Dongwoo sambil tertawa kecil. “Maaf, tapi aku harus menikah bulan depan.”

“Yah. Bomi unni cepat benar,” kata Naeun. “Oh ya, sudah dulu ya, Oppa. Aku ingin tidur. Aku lelah perjalanan 10 jam benar-benar membuatku butuh istirahat panjang. Hibernasi tepatnya.”

Dongwoo tertawa. “Apa yang kau lakukan di pesawat jika bukan tidur?”

“Kau tau kan? Aku main games. Aku tidak bisa tidur.”

“Kenapa? Kau memikirkan Kim Myungsoo kan? Sudahlah, berhenti dengan adegan berpura-puramu itu. Sudah untung, aku tidak memberitahunya tentang perilakumu. Kalau aku-.”

Naeun mendecak kecil. “Sudah ya, Oppa. Kututup teleponnya.”

**

Songpa-gu, Seoul, South Korea – 9 am.

“Hoam. Apa sebaiknya aku menginap dulu di rumahmu?”

Eunji mengangkat bahunya. “Terserah. Aku sebenarnya punya apartemen dan aku akan pindah ke sana, kalau mau kau bisa membawa perabot rumahmu disana. Jadi rumahmu ada dua. Apartemen di London dan apartemen di apartemenku. Lebih tepatnya menumpang.”

Aigo, kau berbicara seperti tidak ikhlas padaku.”

Ani. Ayo, kalau mau bawa saja kopermu dan kita berangkat kesana. Aku tinggal menyiapkan beberapa pakaian lagi untuk dibawa kesana.”

Naeun menganggukkan kepalanya kemudian ia menenggelamkan dirinya dibalik selimut hangat Eunji. Eunji hanya bisa tertawa kecil.

“Ngomong-ngomong, apa Tuan Kim tahu kau sudah sampai disini?”

“Sudah. Sebenarnya, istrinya.”

“Oh, ibu mertua.”

“Aish, Eunji.”

Eunji tersneyum licik ke arah Naeun sambil memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper. “Maksudku, sampai kapan kau harus terus berakting seperti ini. Jika Myungsoo benar-benar tidak mencintaimu dan dia menikahi orang lain? Kau harus bagaimana?”

“A–aku tidak tahu,” kata Naeun sambil keluar dari balik selimut. Kemudian ia merapikan rambutnya. “Aku benar-benar kehabisan akal. Apalagi saat di London, dia benar-benar mempercayai bahwa aku bukanlah Son Naeun yang dia cari.”

Eunji tersenyum. Kemudian ia menutup kopernya. “Buat apa kau terus berakting? Kalau dia memang mempercayai bahwa kau bukan Son Naeun. Lalu, apa dia akan menemukan Son Naeun yang asli?”

“Maksudmu?”

“Kau Son Naeun yang asli. Tapi, aku terus berakting seakan-akan kau bukan Son Naeun yang asli.”

“Aku memang berakting.”

“Oh, ayolah, Son Naeun. Hentikan aktingmu itu. Kau memang pandai dan luar biasa terlatih menjadi seorang aktris. Tapi, ini bukan waktunya. Kim Myungsoo benar-benar mencintaimu. Apa kau tidak tahu bagaimana tersiksanya dia saat dia mendengar kau pergi?”

Gadis itu menganggukkan kepalanya pelan. Kemudian ia menatap keluar jendela dari kamar Eunji. Pagi yang dingin. Sangat dingin. Dengan suhu setiap paginya -6°C, membuat Naeun semakin dingin. Ia mengeratkan jaketnya kemudian bangkit dari tempat tidur Eunji.

“Kita lihat saja nanti. Apa aku kuat untuk berakting seperti ini terus menerus.”

**

Asan Medical Center – 388-1 Pungnap 2(i)-dong, Songpa-gu, Seoul – 12 pm.

“Kamarnya nomor 322. Artinya tidak jauh dari sini.” kata Naeun. Eunji menganggukkan kepalanya mengerti sambil ikut mencari kamar yang disebut-sebut oleh Naeun. Mereka terus mencari sampai akhirnya mereka tiba di lantai 3, dan mereka segera menemukan kamar itu. Mereka berhenti di depan kamar itu.

“Oh, bagus. Ini pasti ruang VIP. Rumah Sakit Internasional dan ruang VIP. Son Naeun, kau sangat beruntung. Ayah Myungsoo benar-benar menyayangimu pasti. Sampai membiayaimu ke London,” kata Eunji sambil membenarkan tasnya. “Ya, konglomerat.”

Naeun menarik nafas dalam-dalam sampai akhirnya ia mengetuk pintu kamar itu. Lalu terdengar suara seorang laki-laki yang menyuruhnya masuk. Sebelum Naeun membuka pintu kamar itu, Eunji menahan lengannya kemudian menatapnya waspada.

“Bagaimana jika yang ada di dalam sana adalah Myungsoo?”

“Myungsoo masih di London.”

“Kau yakin?”

Naeun menganggukkan kepalanya yakin. “Lagipula, dia masih ada urusan di London. Jadi kemungkinan dia pulang hari ini. Paling tidak, ia sudah sampai sekarang jika ia mengambil penerbangan malam.”

“Bagus, jika itu pendapatmu. Pemikiran yang sempurna. Anak pintar. Sekarang masuk dan temui Tuan Kim. Setelah itu kita bisa pulang dan tidur sepuasnya di apartemenku.” Eunji tersenyum lebar.

Tangan Naeun akhirnya meraih gagang pintu kamar rawat inap itu. Mungkin, ia tidak bisa membayangkan betapa menyeramkannya suasana nanti jika ternyata ada Myungsoo atau Jongwoon di dalam sana. Naeun membuka gagang pintu itu. Dan ia segera mengintip masuk.

Benar, dugaan Eunji.

Ruang rawat inap itu benar-benar tingkat VVIP. Mungkin V nya harus ditambah 5 lagi. Kamar itu benar-benar kelas hotel tingkat 4. Dengan TV LED yang ada di depannya dan AC yang menyala terus. Ada juga pemanas ruangan dan juga jendela kamar yang menampilkan pemandangan Songpa-gu.

Namun, Eunji juga benar tentang dugaannya.

Bahwa, Myungsoo ada di dalam sana tengah duduk di atas sofa yang dekat dengan pintu rawat inap itu. Naeun tak berkutik. Ia menatap Myungsoo tak percaya. Sedangkan itu Myungsoo menatapnya dengan pandangan normal. Apa jangan-jangan dia sudah tau yang sebenarnya?

Nuguseyo?” tanya Myungsoo akhirnya.

Mulut Naeun terbungkam rapat.

 

**

to be continued.

>> Chapter 7 – Stupid Act

16 thoughts on “[Chapter 6] Hard to Love

  1. naeun tega ni ama myungsoo, dah tau myungsoo cinta ma dia, knp pula masih sok”an ga kenal ama myungsoo?
    dan ternyata yg ngebiayain naeun kuliah di luar itu ayah myungso? apa jgn” perusahaannya naeun itu sebenernya perusahaan ayahnya myungsoo juga?

  2. AAAAAAA
    jadi ceritanya myungsoo ngga tau kalo ayahnya ngebiayain naeun kuliah di london?
    terus pas naeun jenguk ayah myungsoo, di dalem kan ada myungsoo. myungsoo ngeliat naeun ngga? kok dia malah bilang ‘nuguseyo?’ ?
    apa jangan2 myungsoo yg jadi amnesia ? :O
    uuaaaaaa, ngga sabar!
    ditunggu chap.7 nya yaaaa, semangat^^

  3. ini kenapa semua pura pura lupa ingatan ?!?!
    Myungsoo itu ceritanya mau balas dendam sama Naeun gara gara yg lupa ingatan apa gimana?
    ah, pokoknya ditunggu chap 7 nya thor, jangan lama lama ya updatenya😀

  4. haduh naeun ini bener2 deh seriusan :”””D lucu bgt ya =_= myungsoo ikut2an aja lagi/? pls deh ah… Itu pas myungsoo tlp dongwoo, dia tau dong naeun pura2?😐 ditunggu next chapternya. Fighting!😀

  5. Kenapa Lagi Myungsoo itu , Sudah naeun pura’ Lupa ingatan , Malah Myungsoo lagi .-_- .
    Kyaknya Myungsoo beneran balas dendam deh..
    karena sudah di Bohongin Sma Naeun ..
    di tunggu Next Chapter berikutnya…
    Faighting Buat FFnya thor

  6. kaka maaf aku komennya dari part ini ya, tapi di part2 selanjutnya bakalan ada komenku kok😉
    karena pas tadi aku berkunjung di wp ini aku liat postingan ini terus aku buka dan ternyata ceritanya aku suka banget, jadi aku langsung cus buka dari part 1 tapi komennya dijadiin satu disini aja hehe
    part ini kenapa naeun pura-pura lupa ingatan ?
    kenapa juga myung ikutan pura-pura enggak inget siapa naeun ?
    kamu mau bales dendam gitu ceritanya ?
    loh jadi yang ngebiayain naeun itu ayahnya myung, tapi myungnya enggak tau ?
    gimana nasib woorong ?
    gimana juga nasibnya hoji ?
    next partnya ditunggu kak😉

  7. ayo thor next chap. seru thor
    kok jadi malah saling amnesia gini, pas diterakhir akhir aku malah ngakak pas myungsoo bilang nuguseyo

  8. hiks,😥
    Ko nyesek ya bacanya?😦
    Ngapain juga Naeun sampai harus akting gitu. Sekarang Myungsoo juga kaya gitu kan? -_-
    Eh ko ada Sungjong?
    Terus sama chorong. Lah Woohyun’nya kemana?
    Terus gimana nih cerita HoJi?
    Ko ilang?
    Daebakk😀

  9. Kok ngakak sih liat tingkah myungsoo-naeun. Pura2 lupa ingatan smua-_- ckck
    Itu jg knapa woohyun pk acara ngilang segala? Heol. Next deeh cuss

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s