Fault (Vignette)

Image

Fault

By

Arabella Xia

Cast: F(x)’s Krystal (Soojung) | Other Cast: F(x)’s Sulli, EXO-K’s Jongin | Genre: Life & Friendship | Rating: Teen

Ini kesalahanku.

Ini semua terjadi karena ke egoisanku.

Tapi dalam beberapa hal,  bukan aku saja yangpatut disalahkan, mereka juga masuk dalam  kategori orang bersalah atas kejadian ini.

Ini semua dimulai sejak Jongin—pemuda tak tahu diri yang dengan seenaknya membuatku terobsesi padanya–menyatakan perasaanya kepada seorang gadis yang tergabung dalam grup persahabatanku, Sulli. Sejak saat itu juga, aku makin membenci gadis itu. Sebenarnya, Sulli adalah gadis yang manis, baik, dan lucu. Tetapi, keberadaanya didalam grup ku membuat posisi ku tersingkisingkirkan.

Dulu, sebelum grup kami masih berempat  (Aku, Suzy, Jiyoung dan Jiyeon), aku lah yang paling dimanjakan oleh mereka, selain umur yang membuatku paling muda, juga karena  akulah satu-satunya orang yang haus akan perhatian keluarga diantara Meraka, tapi

sejak Sulli datang, perhatian mereka mulai beralih padanya, ia tak lebih muda dariku, tapi dia juga orang yang haus akan perhatian keluarga. Ibu nya meninggal dan ayah nya selalu meninggalkan nya untuk pergi untuk keluar kota. Lebih menyedihkan ketimbang posisiku.

Tapi tetap saja aku tak terima, disini aku juga butuh perhatian, orang tua ku bercerai. Appa dan Jessica (Kakakku) tinggal di California, sedangkan aku bersama Eomma disini. Hubunganku dengan Jessica jiga tidak berjalan baik, kami selalu berselisih pendapat. Dia tak mau mengakui ku sebagai adik dan aku pun tak sudi mengakuiny, itu lah salah satu alasan mengapa orang tua kami memisahkan kami. Jessica beruntung bersama Appa disana, meskipun Appa sibuk dia masih menyempatkan diri untuk menjaga Jessica (tapi tidak dengan menyempatkan diri untuk memperhatikan ku walaupun hanya untuk sekedar menelpon). Seda ngkan aku disini tak pernah sekalipun mendapat perhatian dari Eomma. Wanita itu hanya sibuk dengan karirnya sebagai wanita karir dan sibuk dengan pacar-pacar mudanya.

Masalah tentang posisiku yang tergantikan itu sudah menjadi kotoran yang tersisa sedikit dihatiku. Masalah lain yang membuatku makin membencinya adalah dia berhasil merebut Jongin dariku. Malam itu, saat kami sedang mengumpul, Jongin dengan tiba-tiba berlutut dihadapan Sulli dan berkata dengan kata-kata yang seharusnya ditunjukannya untukku, dia meminta Sulli menjadi pacarnya. Sorakkan teman-temanku tak lagi bisa ditahan, mereka menyoraki Sulli untuk menerima cinta Jongin. Hanya aku mungkin yang tak bersuara, menatap mereka dengan wajah mereka dan mata yang juga memerah menahan tangis.

Sejak saat itu, aku bertekat. Apapun caranya aku harus bisa memisahkan mereka! Jika Jongin tidak bisa menjadi milikku, maka siapapun tak boleh memilikinya termasuk Sulli. Aku muak melihat kemesraan mereka yang menjijikan. Aku muak melihat wajah khawtir Jongin dan ketiga sahabatku ketika Sulli demam, dan tak memperlihatkan wajah seperti itu ketika aku terbaring lemah di rumah sakit akibat kekurangan darah (mereka bahkan tak menjengukku. Hanya Suzy yang bersedia datang memberiku sedikit semangat walaupun hanya sekali). Aku muak melihat sikap manja Sulli yang membuatku ingin menjambaknya atau memakannya hidup-hidup. Dan ku putuskan, aku akan membuat Sulli hancur.

Dengan tekat yang kuat, aku mencoba mencari perhatian Jongin dengan berpura-pura jatuh ketika Jongin hendak kencan bersama Sulli, berpura-pura butuh pelukan dan muemeluk Jongin dihadapan Sulli, berpura-pura sedih karena menginginkan perhatian keluarga di  hadapan ketiga sahabatku. dan itu semua tak ada yang berhasil untuk membuat Sulli terlupakan. Mereka tetap lebih memperhatikan Sulli. Persetan! Akhi rnya terbesit sebuah ide licik di otakku. Yaitu dengan cara menipu semua orang. Ku mulai dari Jongin, aku menjebak Sulli dengan Sehun agar mereka terlihat jalan bermesraan, lalu aku mengajak Jongin melihat itu. Ketika rahannya mengeras, aku semakin memanasinya dengan kata-kata sarkatisku tentang Sulli. Itu cukup berhasil, sesudah itu Jongin mendiami Sulli. Selanjutnya, ketiga sahabatku. Aku pernah membuka buku diarinya ketika aku masuk ke dalam kamar nya. aku mendapati catatan berisi keluhannya tentang teman-temannya yang kuper, dan di manfaat kannya demi mendapatkan jawaban ulangan, sebenarnya tulisan itu ditulisnya ketika dia di china dulu, dan aku mengubah semuanya, ku tulis ulang tulisan itu ke sebuah buku diari yang bentuknya persis seperti punya Sulli. Dengan perjuangan yang berat (aku menyuruh seseorang untuk menulis mirip seperti tulisan Sulli) akhirnya mereka percaya denganku dan menjauhi Sulli, menudingnya sebagai penghianat.

Aku berhasil sejauh itu. Mereka kembali padaku! Jongin tak memperhatikan Sulli lagi, dan Jongin semakin dekat padaku, hubungkanku dengan nya juga semakin intim. Walaupun terkadang dia masih terpikirkan Sulli, tapi aku selalu mengingatkannya tentang tingkah busuk Sulli. Bayangkan! Selama tiga tahun aku menyimpan perasaanku  untuk Jongin, dan tak pernah sekalipun berani untuk mendekatinya, akhirnya aku berhasil dekat dengannya, yah walaupun dengan cara licik seperti itu dulu.

Melihat kedekatanku dengan Jongin, Sulli selalu menatapku dengan raut wajah kecewa, aku tidak peduli. memang! selama ini aku selalu menutup diriku untuk Sulli. Bahkan tak pernah menanggapinya saat dia berbicara padaku. Aku tak akan menganggapnya sahabat dan bagian dari kelompok ku.

Tiga minggu setelah kemenanganku atas Sulli, Sulli menarik tanganku menuju taman belakang sekolah. Dia bertanya, kenapa ketiga sahabat ku itu menjauhinya dan  kenapa aku bisa dekat dengan Jongin—yang masih berstatus pacarnya—sementara dia selalu di hiraukan oleh Jongin. Dia lebih berani kali ini. Dia berani menuduhku sebagai penyebab atas semua ini. Aku akui, memang akulah penyebabnya, tapi aku tak ingin mengaku dihadapannya, aku tak menjawabnya dan hanya menatapnya dengan sinis lewat mata.

Dan hari ini, adalah akhir dari kemenanganku. Sulli berhasil merebut semuanya kembali. Rupanya, sejak dia menarikku ke taman, dia telah membuat kubu dengan teman-teman sok lugunya yang dikenalnya di kelas bawah, dan mereka berhasil membuka aibku.

Mereka semua, bahkan sudah menamparku dengan kata-kata tajam mereka untukku,  mereka bertanya kenapa aku menipu mereka, kenapa aku membenci Sulli, untuk apa aku melakukan ini.

Dengan tangisan yang mulai membanjiri pipiku, aku berkata, “Hidupku hancur sejak kedatangan Sulli. Tidak ada yang salah dengannya, dia baik, sangat baik malah! Tapi kedatangannya membuat posisiku tersingkiran. Jika dulu kalian selalu menginap tempatku ketika aku kesepian, memelukku, selalu bertanya apa aku sudah makan, selalu memaksaku untuk bercerita ketika aku sedang bersedih. Tapi sekarang? Kalian bahkan tak peduli lagi denganku. aku menganggapku ada, kalian selalu menginap tempat Sulli tidak ditempatku lagi,

bahkan kalian tak mengajakku. Kalian juga tak pernah mengajakku jalan bersama bukan? poin kedua yang membuat perasaan ku semakin lenyap adalah, Sulli berhasil merebut hati Jongin. Aku memang tidak pernah bilang soal

erasaan ku yang sudah ku simpan tiga tahun lamanya karena takut. Kalian sendiri tahu sifatku seperti apa bukan? Aku pendiam dan menutup diri. Apa kalian tidak pernah melihatku yang terpojokkan saat kalian mendukung mereka?”

tangan kekar milik Jongin berhasil melayang di pipiku. Rasanya sangat sakit. Bukan, bukan karena perih pipiku, tapi karena hatiku yang

ikut tertampar dengan teriakannya yang menyebutku gadis tak tahu diri.Aku menatapnya dengan wajah sedih.

 Hatiku hancur.

Hidupku sudah tidak ada guna lagi. Semua orang menganggapku rendah. Aku tak punya apa-apa lagi. Keluargaku, Sahabatku sudah asing lagi untukku. Dari ujung mataku, aku melihat Sulli terdiam.

Bibir mungil Sulli akhirnya terbuka, “Tapi ini semua juga bukan salahku. Ini takdir, Soojung-ah. Kau pasti akan mendapat  yang lebih baik setelah ini. Aku juga ingin berbahagia, aku juga mencintai Jongin. Maaf jika aku merebut semuanya darimu, tapi aku juga menyayangi mereka.”

Munafik. Dasar sok polos.

Aku berlari kearahnya, menampar pipinya hingga tubuhnya terhempas ke lantai. Aku muak mendengar teriakannya yang mengeluh sakit. Tanganku kembali bergerak hendak memukulinya lebih jauh atau kalau bisa aku ingin membunuhnya sekalian. Tapi tangan Jiyeon mengehentikanku, dia membalas tamparanku pada Sulli sampai aku terjatuh. Dua tamparan dari orang yang ku sayang semakin membuatku marah. Sulli bangkit, kali ini wajah sok polos yang biasanya ditunjukkannya menghilang. Hanya wajah dingin yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Dia menatapku sinis.

“Sudah cukup aku bersabar. Kau memang tak tahu diri! Egois! Apa semuanya milikmu? Apa harus selalu menjadi milikmu? Apa semua kehendakmu harus dikabulakan, nona?” lalu tangannya berhasil melayang ke pipiku.

Kurasa, pipiku perlu diamputasi karena mendapat tiga pukulan seperti ini.

Aku berlari, tak menghiraukan sorakan teman-temanku yang lain, suara mereka sangat berisik dan cukup terngiang ditelingaku. Aku mengemudikan mobil ku dengan pikiran kacau, aku juga mengemudikan kecepatan paling tinggi, aku diluar kendali seluruh tubuhku benar-benar seperti api. Aku benci dunia ini. Tiba-tiba dari arah kanan mobilku, ada sebuah truck besar yang dalam beberapa detik berhasil membuatku tak sadarkan diri lagi.

Sekarang aku terbangun dengan badan yang kaku. Tubuhku sangat lemas, dan aku tak sanggup bergerak sedikitpun. Banyak alat-alat sialan yang terpasang ditubuhku. Di sekelilingku juga ada mereka, mereka yang kemarin membuatku kehilangan kendali. Kali ini mereka benar-benar khawatir, Jiyeon memelukku, mencium keningku dan terus menerus mengucapkan kata maaf. Suzy dan Jiyoung memegang kakiku, tangis mereka juga kencang, mereka berkata jika aku harus kuat. Di sudut ruangan, Aku melihat Jongin dan Sulli, Jongin menatapku dengan tatapan bersalah, dan Sulli terlihat pucat, genangan air mata juga memenuhi wajahnya.

Sayup-sayup, aku mendengar Sulli memanggil namaku, dan berkata, “Aku menyayangimu. sahabatku.” sebelum jiwa ku benar-benar terangkat menuju cahaya putih.[]

Author’s Note: Halo! Aku balik lagi setelah hampir sebulan lebih ga muncul TT_TT aku ganti username juga, username ku dulu intantriyana. makasih kalau ada yang udah nyempetin waktu untuk baca fanfict ini, See ya! ^-^

Advertisements

5 thoughts on “Fault (Vignette)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s