[FF Freelance] Genosida – Midnight Bus (Part 1)

PART 1

GENOSIDA

 

Scriptwriter: April (@cici_cimol) | Main Cast: Kwon JiYong (Big Bang), Sandara Park (2NE1) | Support Cast:  Seungri (Big Bang), Jo Kwon (2AM), Thunder (MBLAQ) | Rating: PG-15 | Genre: Fantasy, Mistery, Romance | Length: 8 Part

Disclaimer:

Human and thing belong to God. I only own the plot. Terinspirasi dari Novel Harry Potter dan The Hobbit.

GENOSIDA

Sebuah dunia dari dimensi lain yang sedang dalam tahap percobaan gila. Menarik manusia untuk menjadi bagiannya. Genosida merupakan pembantaian besar-besaran secara sistematis pada suatu kelompok dengan maksud memusnahkan. Siapakah diantara mereka yang berhasil keluar hidup-hidup?

.

.

The Story Begin

PART 1 [ MIDNIGHT BUS ]

Sandara Park menguap lebar dari balik buku tebal seukuran kotak sepatunya. Matanya menyipit menatap bingkai-bingkai kaca dibalik rak yang terang-benderang oleh cahaya mentari. Gadis itu meregangkan tubuhnya yang kaku akibat diam di satu posisi dalam waktu yang lama.

Inilah dirinya. Gadis yang hanya berteman dengan tumpukan buku diperpustakaan. Ibunya yang sudah meninggal dan ayahnya yang hanya bekerja sebagai penjaga perpustakaan umum di kotanya membuat gadis itu harus mengalah dari adik laki-lakinya yang sekarang pergi ke Universitas Seoul. Yeah, gadis pintar itu tidak bisa pergi ke Universitas. Dia tidak tega jika harus membuat adik laki-lakinya itu bekerja dan bukannya belajar.

“Dara-yaa, ada paket untukmu.” Suara ayahnya mengaburkan lamunan singkatnya mengenai betapa malang dirinya sekarang. Dengan malas gadis itu bangkit dan berjalan terseok-seok ke meja tempat ayahnya berkutat dengan daftar peminjam buku. Dia melongok sambil menampilkan wajah masamnya.

“Aigoo, tidak bisakah sehari saja kau tersenyum saat menatapku?” Ayahnya berkata sambil mengerutkan keningnya. Tidak habis pikir dengan anak gadis satu-satunya ini. Semenjak ibunya meninggal Sandara jadi tidak suka berteman dan lebih memilih menjadi gadis penyendiri yang hobi membaca buku horror dan menonton DVD yang penuh dengan adegan sadis.

“Aku masih membayangkan adegan sadis saat sang gadis mati di tombak diperutnya, makanya aku tidak sempat tersenyum pada ayah.” Sandara menggembungkan pipinya. Meneliti kotak disamping meja ayahnya. Kotak yang sangat aneh dan mencurigakan itu berwarna hijau toska menjijikan. “Apa ini?”

“Entahlah, saat aku kembali dari toilet, tiba-tiba ada dimejaku begitu saja.” Ayah Sandara mulai menatap kotak itu sambil mengerutkan keningnya yang keriput. “Apa mungkin ini dari pacarmu?”

Sandara mendengus mendengar perkataan ayahnya yang tidak masuk akal. “Kapan aku berkencan? Aku bahkan malu, sangat sangat malu karena tidak bisa pergi ke Universitas.”

Sandara mula merobek kotak itu dengan asal, Dan dia mendapati sesuatu yang cukup mengejutkan. Sebuah surat dengan amplop sangat tebal berwarna hijau toska dan sebuah Jaket bertudung berwarna dark blue.

“Huh, apa ini?” Sandara bergumam. Ayahnya sekarang kembali berkutat dengan pekerjaannya dan membiarkan anak perempuan tidak bergunanya itu “bermain” sendiri.

Sandara merobek amplop tebal dengan sebuah simbol aneh itu dan mengeluarkan sebuah surat. Surat itu berwarna cokelat, ditulis pada selembar kain sutera yang sangat lembut dengan tinta emas. Sandara bahkan yakin, kalau emas yang digunakan sebagai tinta itu adalah emas asli.

†GENOSIDA†

Kepada Caedere Yang Terpilih

VIZ (Air)  LEVEGO (Udara) TUZ (Api) FOLD (Tanah)

Ms. Sandara Park

Selamat bergabung dalam keluarga Genosida. Anda akan mengikuti 7 semester hingga mencapai kemenangan, kemakmuran, kejayaan, dan kekayaan dalam hidup anda. Bus yang akan membawa anda akan berangkat tepat jam 00.00 malam ini. Berikut tempat dan syarat yang harus dipatuhi:

Tempat: Didepan perpustakaan umum Seoul

Jam      : 00.00 tepat, akan ada sanksi tegas pada keterlambatan.

Tidak diperkenankan membawa apapun. Hanya mengenakan pakaian kasual dan dilapisi Jaket yang telah diberikan. Datang sendiri, tidak diperkenankan ada sanak saudara yang mengantar.

Atas perhatiannya, kami ucapkan terimakasih.

NB: Jika anda menolak, silahkan bakar paket ini dalam hitungan lima detik mulai dari sekarang.

Dengan kebingungan sandara hanya menatap kertas itu, Apa ini? Dia tidak bisa berpikir, bahkan kesempatan menolak hanya diberikan lima detik, dan lima detik itu pasti sudah habis akibat otak bodohnya yang tidak bisa berfungsi disaat yang tepat. Sandara menarik napas perlahan, dan mulai mengamati Jaket berwarna dark blue yang keren itu.

Jaket itu sangat tebal, besar, dan panjang. Mungkin jika dia memakainya, jaket ini akan menutupi tubuhnya hingga ke lutut kaki. Dibagian kiri dada depan terdapat sebuah nametag yang diukir dengan huruf indah dan dirajut dengan emas. Namanya jelas tertera disana. Dilengan kiri jaket itu terdapat sebuah simbol aneh dengan tulisan melingkar membentuk kata “VIZ

Sandara ingat buku berbahasa Hungaria yang pernah dibacanya beberapa bulan lalu, “VIZ” artinya adalah air. Dengan kening berkerut Sandara menatap ayahnya.

“Ayah, aku rasa, aku diterima di Universitas Internasional. Bahkan mereka mengirim surat ini dengan beberapa kata yang tidak ku mengerti.” Sandara menatap ayahnya sambil menggoyang-goyangkan surat itu didepan hidung sang ayah.

“Aiish, mana mungkin gadis bodoh sepertimu? Lagi pula, kita tidak punya biaya. Tolak saja.” Ayahnya menyambar surat itu dan mulai meremasnya asal.

“Yeah, gadis bodoh ini pernah menempati peringkat pertama disekolahnya yang lalu, lagi pula aku sudah tidak bisa menolak.”

“A-Apa?”

Sandara melebarkan Jaket keren yang dimilikinya sambil tersenyum bangga.

“Bahkan namaku sudah tertera di seragam ini. Aku hanya perlu melewatkan 7 semester. Kemudian aku akan kembali dengan ijasah keren dan gelar keren yang bisa dibanggakan ayah. Aku bisa mencari pacar kaya raya. Hidup kita akan sempurna! Disini juga tidak dilampirkan rincian biaya apapun!” Sandara bertepuk tangan sendiri. Rasa bahagia terpancar dari dirinya. Akhirnya sekarang dia bisa keluar dari cangkang yang membosankan. Tidak ada lagi hari-hari menyedihkan ketika dia duduk sendirian di salah satu rak buku sambil membaca.

“Baiklah. Kau sudah dewasa dan tidak ada kerjaan. Kemasi barangmu sekarang.” Ayahnya berkata malas pada putrinya yang sedang berbinar itu. “Jaga dirimu dan kembali dengan selamat”

“Aku tidak perlu repot mengemasi barang, jangan khawatir ayah.” Sandara bangkit, memeluk paketnya, mencium ayahnya dan berlari keluar perpustakaan berbau apak buku itu menuju kebebasan.

.

.

00.00

Sandara berdiri diam didepan gedung usang bercat putih. Sepi, jalanan tampak sangat sepi, hanya beberapa mobil yang lewat. Matanya terus memperhatikan. Mereka mengancamnya untuk tidak terlambat. Tapi, apa ini? Merekalah yang terlambat! Dengan kesal Sandara menghentakkan kakinya yang terbalut sneakers berwarna hitam. Tangannya bersembunyi dibalik blue jeans usangnya. Yah, penampilannya tidak lebih seperti pengemis sekarang. Bahkan dibalik Jaket kerennya, dia hanya mengenakan T-shirt putih bergambar Spongebob.

Sambil menahan dinginnya udara musim gugur, Sandara terus memikirkan hal-hal yang menyenangkan yang akan menyambutnya nanti, hingga tanpa disadarinya decit mobil terdengar.

Sandara memicingkan mata, cahaya lampu bus itu sangat menyilaukan ditengah pencahayaan yang redup disekitarnya. Sandara berjalan pelan, berusaha melihat bentuk bus yang akan mengantarkan kebahagiaan padanya. Tapi mata bulatnya yang besar langsung terpana akan pemandangan yang sekarang menyambutnya.

Bukan pemandangan yang indah, tapi sesuatu yang sangat aneh sedang terjadi sekarang.

Bus itu terlihat sama seperti bus yang sering mengitari kota Seoul, Perbedaannya adalah, Bus itu memiliki empat  tingkat. Menjulang tinggi ke atas langit yang gelap. Warna bus itu hitam pekat. Kau tidak akan menyadari ada sebuah bus jika lampu-lampu terang dari setiap kaca bus tidak menyala. Bus itu tidak memiliki tulisan atau corak apapun, semuanya hitam.

Masing-masing bangku dari setiap tingkat itu mulai terisi penuh, kepala-kepala melongok keluar jendela. Beberapa orang menunjuk-nunjuk Sandara sambil tertawa.

“Ms Sandara Park yang terhormat.” Sandara melonjak mendengar seorang laki-laki berkata dengan nada kaku dan berwibawa. Gadis itu menoleh, dan mendapati seseorang sedang berdiri tegak didepan pintu masuk bus yang sudah terbuka lebar. Laki-laki itu tersenyum pelan, senyum yang bisa kau temui dalam iklan komersial di televisi. Laki-laki itu mengenakan setelan Jas lengkap, seolah ia akan mendatangi upacara kematian, karena semuanya berwarna hitam. Di tangan kirinya terdapat sebuah tas ransel berwarna sama dengan Jaket yang dikenakan Sandara. Disalah satu kancing ransel itu terdapat sebuah gantungan yang terbuat dari perak berkilau yang mengukir nama Sandara. Laki-laki itu menyerahkan tas ransel itu kearah Sandara dengan tingkat kesopanan diluar batas.

“Aku Kondektur Jo Kwon, akan mengantar anda ketempat nyaman anda.” Lagi-lagi pria itu tersenyum, menampilkan merah bibirnya yang aneh.

Sandara hanya mengangguk kaku kemudian menyematkan ranselnya ke punggung. Ransel itu berkelontang pelan, seolah ada benda tajam didalam sana. Dengan perlahan gadis itu melangkah masuk.

Sandara tidak sempat memberi salam pada sopir bus karena suara riuh yang menyambutnya ketika dia masuk. Lagi-lagi Sandara mendapat keanehan. Didalam mobil itu terdapat dua sisi tempat duduk dikanan dan kiri yang sudah terisi penuh, orang-orang yang menempatinya semua seumuran dengannya. Mereka mengenakan Jaket dengan berbagai warna, simbol, dan nametag yang diukir berbeda bagi setiap orang. Mereka bukan hanya orang Asia. Beberapa dari mereka adalah orang asing, dengan warna rambut pirang, kulit pucat atau gelap. Kebanyakan dari mereka sedang bercanda, berteriak, dan memakan makanan yang disediakan dengan rakus tanpa memperdulikan keberadaan Sandara.

“Tempat anda ada di tingkat ke 4 miss, harap jaga konsentrasi anda. Naiki tangga dengan hati-hati” Jo Kwon berkata pelan, mengaburkan lamunan Sandara akan tempat yang baru dia datangi ini. Pada bagian bus paling belakang terdapat tangga yang terbuat dari besi. Tangga ini sama sekali tidak mewah, tapi cukup nyaman dinaiki untuk ukuran sebuah mobil bus.

Tingkat kedua maupun ketiga tidak berbeda dari tingkat pertama. Suara gaduh bahkan lebih parah lagi. Mereka bahkan sempat melemparkan pizza  kearah Sandara dan mengenai ujung blue jeans-nya.

Ketika Sandara sampai pada tingkat keempat, dia tercengang. gadis itu sama sekali tidak menyangka kalau tingkat ke empat itu tanpa atap. Angin dingin berhembus kencang menerpanya, tidak heran kalau penumpang ditempat ini juga sedikit. Hanya terdiri dari beberapa orang berjaket hitam dan cokelat.

“Tempatmu di pojok sana, miss” Jo Kwon kembali berkicau.

Sandara sampai pada tempat duduk di paling belakang. Tubuhnya mulai menggigil karena angin yang sedang menamparnya sekarang. Dengan susah payah gadis itu berhasil duduk dengan manis.  Matanya mulai berair dan wajah Jo Kwon mulai terlihat aneh.

“Jangan membuka ransel anda. Dan tolong berikan ponsel anda kepada saya.” Jo Kwon mengulurkan tangan kanannya.

Sandara berdecak kesal, kenapa kondektur sialan ini tahu kalau ada ponsel disaku Jeans-nya? Dengan kesal Sandara menyentakkan benda –yang menurutnya paling berharga didunia- berwarna Pink itu kepada Jo Kwon. Jo Kwon memamerkan senyumnya lagi, kemudian dia memberi hormat dan pergi. Meninggalkan Sandara dalam kesunyian yang aneh.

.

.

Sandara tidak tahu, harus berapa lama lagi dia duduk dengan wajah ditampar angin malam seperti ini. Dengan kesal dia menutupi rambutnya dengan tudung jaket dan membenamkan wajahnya pada tas ransel yang sekarang lumayan menghangatkannya. Dia sama sekali tidak bisa memperhatikan keadaan sekitarnya karena laju bus yang super duper kencang. Bahkan bayangan lampu jalanan hanya terlihat seperti kunang kunang yang kecil dan menghilang dikegelapan malam.

Hingga suatu suara aneh bergema disetiap sendi otaknya. Suara aneh itu berdengung memenuhi kepalanya dan membuat telinganya sakit.

“Kepada Caedere yang terpilih. Selamat datang di Genosida. Temukan kemenangan, maka kau akan mendapatkan Kemakmuran, kejayaan, dan kekayaan tiada batas”

Suara berat itu berdengung. Sepertinya itu adalah suara Ajjushi dari zaman Joseon karena kata-katanya sangat kaku. Sandara mulai merasakan kepanikan. Apakah suara itu berasal dari pengeras suara dalam bus? Tetapi kenapa suara itu seperti berasal dari dalam otaknya?

“Persiapkan dirimu. Dalam hitungan tiga detik. Semester pertama tahun ini akan dimulai.”

“APA? TIGA DETIK?!!!” Sandara berteiak keras. Tidak peduli jika semua orang memperhatikannya.

“SATU”

Sebuah gelombang aneh menekan perut Sandara, rasa mual dan sesak napas mulai menghantuinya. Seolah tubuhnya menciut tanpa alasan yang  logis.

“DUA”

Mati. Itulah yang ada dipikiran Sandara saat matanya sudah tidak dapat melihat apapun selain bintik-bintik kecil berwarna terang. Kepalanya seolah ditekan sesuatu yang sangat berat. Dia benar-benar kehabisan napas.

“TIGA”

Sandara mulai kehilangan kesadarannya. Yang dia ingat hanya kata-kata terakhir yang diucapkan oleh sang ayah “Jaga dirimu dan kembali dengan selamat”

.

.

Sandara berusaha membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Hingga kenangan mengerikan menyeruak masuk kedalam otaknya yang kecil, dia terkesiap dan bangkit tanpa berpikir lagi.

Cahaya matahari bersinar dengan damai. Sandara berusaha mengembalikan penglihatan matanya yang menolak untuk terbuka lebar. Hingga gadis itu merasakan hembusan angin menerpanya, matanya mulai melihat sesuatu yang sangat aneh. Bahkan sebagian dari dirinya mengira kalau dia sudah ada disurga.

Sandara sedang terduduk diam disebuah padang rumput berwarna hijau. Dikejauhan, gadis itu dapat melihat hutan lebat dengan pepohonan yang menjulang kelangit. Langitnya begitu biru, udaranya sangat sejuk. Bahkan ada beberapa kupu-kupu yang terbang kesana kemari. Mungkin pemandangan ini sama sekali tidak aneh kalau tidak diganggu oleh jeritan-jeritan kesakitan disana sini.

Ada kira-kira sepuluh orang bejaket sama dengannya dalam berbagai warna. Ada yang mengenakan jaket hitam, hijau, dan cokelat. Mereka mengerang kesakitan dan berusaha membunuh sesuatu yang tidak terlihat oleh mata Sandara.

Suara menghisap menjijikan mulai terdengar. Sandara menoleh pada tas ransel yang tergeletak tepat disebelahnya dengan pandangan takjub. Dan disanalah makhluk itu berada.

Makhluk itu cukup kecil. Bentuknya mirip lintah. Panjang, kenyal, dan bergeliut aneh, yang berbeda adalah ukurannya yang sebesar anak kucing, dan warnanya yang abu-abu seperti daging membusuk. Makhluk itu melata meninggalkan lendir bau mayat dengan bunyi yang membuat Sandara ingin muntah.

Makhluk itu merangkak perlahan, mencari celah masuk kedalam ranselnya. Dengan panik gadis itu bangkit, dan apa yang dilihat selanjutnya oleh Sandara benar-benar membuat gadis itu membeku ketakutan.

Seorang gadis berambut pirang  dengan jarak tiga meter dari Sandara mengerang kesakitan saat lintah sialan itu masuk melalui mulutnya. Mata gadis itu melesak keluar, hendak lepas dari kantung matanya. Untuk beberapa detik gadis itu mengejang hebat. Hingga kulitnya berubah sepucat orang mati. Tetapi bukannya mati. Gadis malang itu malah tertawa terbahak-bahak dengan mata berwarna merah darah.

Sandara membeku melihat hampir seluruh orang disekelilingnya mengalami hal serupa. Otaknya serasa mati dengan horror yang sedang melingkupinya. Apa ini? Apa yang sedang terjadi? Kenapa aku disini? Pertanyaan itu melesak masuk dan Membuatnya tersadar. kemudian bunyi berderak aneh kembali terdengar diantara keributan disekitarnya. Lintah yang berusaha masuk kedalam ranselnya sedang menciut seperti balon kempis dengan lendir yang membuat ranselnya basah semua.

Sandara menyadari kalau lintah itu baru saja tergores oleh benda tajam didalam ranselnya. Dengan gerakan cepat, gadis itu menyingkirkan lintah yang sekarang hanya berbentuk kulit lembek. Membukanya dengan cepat dan melihat benda-benda tajam berwarna perak dengan beberapa ukuran tersemat rapih disetiap sudut ransel itu.  Sandara menarik keluar sebuah pisau yang bentuknya mirip pisau daging, menyampirkan ransel itu dipunggung dan berdiri dengan siaga.

Sandara bertekad tidak akan mati konyol disini.

Suara berdecak terdengar dari punggungnya. Rupanya, lintah itu berhasil merangkak naik ke punggungnya dengan bantuan tas ransel yang super bau. Makhluk itu melata dengan cepat menuju wajah Sandara.

“TIDAK AKAN KU BIARKAN KAU MASUK KE DALAM MULUTKU, BITCH!!!” Sandara berteriak frustasi sambil menebas pisau dalam gerakan asal, tidak peduli jika pisau daging itu melukai dirinya. Lebih baik mati ditebas pisau dari pada harus mati dengan makhluk yang akan membuatnya jadi zombie ini.

Rupanya tebasan putus asa Sandara mengenai lintah itu. Lintah yang berada di lehernya itu kini menciut dengan cairan bau yang tumpah membasahi tubuh Sandara. Dengan terengah, gadis itu melempar kulit lintah yang berkerut dan penuh lendir itu. Dan tanpa diduga, kulit basah itu mengenai sepatu mahal milik seseorang yang berdiri beberapa meter darinya.

“Uh Oh…” Seorang pria dengan rambut berantakan menatap Sandara, tetapi bukannya marah, Pria dengan jaket berwarna hitam kelam itu tersenyum cerah pada Sandara. Senyum yang manis. “WOWOW, Anak baru?! Kau penebas pertama di semester ini!!!”

Sandara memicingkan mata sambil terengah, berusaha menenangkan jantung dan otot-otot sarafnya yang menegang. Sepertinya seluruh lintah sialan itu sudah habis dipadang ini, hanya ada beberapa zombie yang masih berjalan tak tentu arah. Gadis itu mengacuhkan tuan cerewet yang baru saja berbicara padanya dan mengambil pisau daging yang tergeletak berlumuran lendir.

“WOWOWOW, Apa kau tidak takut? Kau sangat berani untuk ukuran anak baru Sandarassi.” Pria itu kembali berceloteh dan berjalan mendekati Sandara. Sandara bisa melihat nametag pria itu dengan jelas. Lee Seungri.

Sepertinya dia sudah berada lama di tempat ini. Karena pria itu memanggil Sandara dengan sebutan anak baru. Ah, dia bisa menanyakan sesuatu mengenai tempat ini. Dimana dirinya berada? Dan apa yang harus dilakukannya?

“Kau ada didunia dari dimensi lain. Namanya Genosida.” Seungri menjawab pelan.

Sandara tersentak menatap pria yang sudah tepat berada dihadapannya itu, Wajahnya masih terus tersenyum bahagia. Dengan cepat, pria itu manarik tangan Sandara dan menyeretnya pergi meninggalkan padang rumput.

“Yeah, aku bisa membaca pikiran seseorang yang sedang kebingungan. Sebaiknya kita masuk ke hutan. Disini sangat berbahaya.” Seungri benar-benar menyeret Sandara yang memang bertubuh kecil. Kesal dengan perlakuan pria yang tidak dikenalnya ini, Sandara mengayunkan tangannya dan memukul pelan kepala Seungri.

“YAAA!!! Kita bisa kan berjalan pelan-pelan dengan tenang sambil bicara? Banyak sekali pertanyaan diotak ku ini dan aku merasa seperti bom yang ingin meledak!!!” Sandara mengambil napas, kemudian berusaha tidak terlihat jijik dengan dirinya sendiri yang penuh lendir bau mayat. “Padahal aku baru saja mencuci rambutku dengan shampoo mahal!”

“WOWOW, Okay, keep calm girl. Kita mulai perlahan, oke? Tenangkan dirimu.” Seungri berkata pelan, walau Sandara tahu kalau pria itu sedang menahan tawanya.

Dengan kesal Sandara berjalan pelan disamping Seungri. Mereka mulai memasuki area hutan yang dipenuhi pohon-pohon pinus. Kicau burung seolah menenggelamkan kejadian mengerikan di padang rumput.

“Jadi, Jelaskan padaku.” Sandara berkata lemah. Dia hanya berharap kalau keberadaannya saat ini hanyalah mimpi. Akan tetapi, tanah dan rumput yang sedang di injaknya terasa sangat nyata.

“Seperti yang kukatakan tadi, kau berada dalam dunia dalam dimensi lain. Namanya Genosida. Dunia ini di program untuk menemukan individu yang dapat digunakan dalam peperangan mereka.”

“Peperangan mereka?” Sandara membeo, menatap Seungri yang sekarang tampak sangat serius.

“Yeah, kami tidak tahu peperangan mereka seperti apa. Tetapi mereka menjebak kita untuk masuk kedalam dunia ini. Jika kau dapat bertahan sampai semester 7. Kau akan keluar dari dunia ini dengan kekayaan berlimpah.” Seungri menampilkan senyumnya saat mengatakan kekayaan berlimpah. “Setiap tahunnya setting dunia ini berubah. Tahun kemarin aku masuk kesini dalam setting gurun es. Itu sangat buruk. Sungguh, kau termasuk beruntung karena setting tahun ini hanya hutan tropis.”

“Hutan tropis. Beruntung? Yeah, lintah itu hanya mengubahmu jadi zombie kok.” Sandara mengangguk dengan antusias. Berusaha meyakinkan Seungri kalau dia memang “Beruntung”.

“Kita memiliki kelompok untuk bertahan disini. Satu kelompok terdiri dari 7 orang dengan elemen yang sama.” Seungri melanjutkan. “Elemen air dengan Jaket dark blue. Emelen api dengan jaket hitam. Elemen udara dengan jaket abu-abu. Elemen bumi dengan jaket cokelat. Setiap elemen membentuk dunia ini, dan setiap elemen memiliki kekuatan dan kelemahan.” Seungri menatap Sandara dan menepuk dadanya dengan bangga “Aku dari elemen terkuat. Api.”

Sandara hanya mendengarkan dan malas berkomentar. Gadis itu berusaha mencerna kata-kata konyol Seungri dengan akal sehatnya. Setidaknya dengan pikiran ter-waras yang dimilikinya. Kini mereka masuk semakin dalam ke hutan. Sinar matahari yang masuk sangat sedikit karena terhalang oleh daun dan ranting pohon yang lebat. Keadaan sekitarnya lembab dan gelap.

“Kau harus menemukan kelompokmu. Mereka pasti sedang mencarimu.” Seungri berkata pelan.

“Bagaimana mereka mengenali aku sebagai bagian kelompok? Aku baru menginjakan kaki selama enam puluh menit.”

“Setiap kelompok memiliki seorang pemimpin. Pemimpin adalah orang yang tidak akan pernah keluar dari dunia ini karena mereka sudah terikat kontrak antara hidup dan mati. Pemimpin kelompok memiliki banyak informasi mengenai anggota mereka. Jadi jangan khawatir.” Seungri menepuk bahu Sandara sambil tertawa riang. Mencoba memberikan sedikit semangat pada gadis itu.

“Apa kau pemimpin kelompok?” Sandara bertanya dengan kening berkerut. Pria ini jelas sudah cukup lama disini.

“Eheeey, tentu bukan. Aku hanya tidak lulus tahun kemarin. Jadi aku harus menyelesaikan permainan konyol ini sekarang.”

Sandara mengangguk perlahan. Jadi kalau dia gagal tahun ini, maka dia harus mencoba lagi tahun berikutnya. Membayangkan dirinya kembali ke tempat ini membuat tubuhnya menggigil walau udara tidak dingin.

“O oww…” Seungri tiba-tiba berhenti, tubuhnya menegang panik. “Sepertinya kelompokku sudah berhasil menemukanku.”

Sandara melihat beberapa orang berjaket hitam berjalan kearah mereka. Semua orang itu memakai tudung menutupi rambut dan wajah mereka. hingga sandara tidak dapat melihat wajah mereka dalam sinar matahari yang seadanya.

“Lari…” Seungri berbisik dengan suara gemetar.

“A, APA?!”

“Pemimpin kelompokku sangat membenci orang dari elemen air. Kau tahu kan? Air dan api tidak akan pernah bersatu. Dia tidak akan segan-segan membunuhmu.” Seungri berbicara cepat. Tanpa menoleh pada Sandara.

Sandara membeku. Enam orang asing dihadapannya berhenti. Menatap kearah Seungri dan Sandara dalam keheningan. Jarak mereka hanya sekitar satu meter.

“Kwon Ji Yong. Dia benar-benar akan membunuhmu.” Seungri menoleh pada Sandara. Wajahnya penuh penyesalan.

Pemimpin kelompok api itu berjalan mendekat. Pria itu tidak terlalu tinggi, tapi Sandara tahu betapa kuat dan menakutkannya dia. Karena Jaket hitam yang dipakainya berbeda dari yang lain. Penuh ukiran aneh dan simbol-simbol Yunani yang tidak dipahami Sandara.

“Lari… atau kau memilih mati ditangan Kwon Ji Yong.”

TO BE CONTINUED

Note:

Holla readers!!! *Nongol disebelah Jidong* Huaaah, akhirnya part 1 selesai! Author mohon maaf kalau ceritanya aneh. Karena ini FF pertama Author yang dipublish dan genre-nya fantasy. Mohon komentarnya. Kritik, saran, dan juga bashing diterima kok, huehuehue Author benar-benar membutuhkan komentar kalian untuk melanjutkan FF ini. JEBAAAL *Lebay* Maaf juga kalo romance-nya belom ada, karena Jidong baru nongol diakhir part. Dan juga terimakasih banyak untuk admin yang sudah sudah payah nge-post FF ini. HOPE U LIKE IT, GUYS!

25 thoughts on “[FF Freelance] Genosida – Midnight Bus (Part 1)

    • Hehe padahal gak pede sama ide cerita ini -___- makasih banyak udah nyempetin baca^^ Harap sabar nunggu next part di pos, FF Freelance nunggu antrian kkkkkk

  1. ahaayy,,, nEmu FF fantasy lain yg gk kalah sEru Disini PaDahal Dah ktinggalan 4 Part malah,,, MEnarik Critanya… OkE… Lanjut baCa nExt Dah gw… daebak thorr

  2. Suka……..Ah~ Apalagi genrenya kayak begini semakin aja aku sukaa….Air, Api, Bumi dan udara, weheh berasa jadi avatar. Hem..ngarep bgt sih semoga kosa kata asing makin banyak gitu, pakai matra dari harpot gitu atau pakai bahasa peri di the hobbit.
    Ayo thor semangat !

  3. Anyeong haseo author yang paling keren kalo bikin ff😀 aku readers baru disini pas aku baca ff ini 1 kata buat author yang bikin ff ini DAEBAKKKK GOOD GOOD aku suka bangetttt bangetttt ama ff ini imajinadi author tinggi bangett ãмρέ. Aku aja melongo disetiap baca kata Demi kata di ff ini😀 sumvehh keren bangett ff ini aku suka aku suka *ala meimei

  4. Annyeong author! hihihi aku reader baru dan aku sangat tertarik sama ff author yang satu ini.. Alurnya yang tak terduga menarik perhatianku
    Fantasynya dapet terus kata-katanya mampu mendeskripsikan tiap suasana.. Aku ngerasa kayak baca novel pas baca ff ini😀

  5. Kyaaaaaaaa !!!! Ffnya seru.. Walaupun pertamanya harus ngebaca berulang kali buat ngerti, tapi akhirnya seru … Ngebayangin mereka jadi inget film avatar haha😄 . Semuanya keren..
    Authornya daebak lah.. Semangat thor !!!

  6. hah, Jiyongnya ketua kelompok ? Jadi dia ga bisa keluar dari dunia itu dong ?

    bener ga thor ?
    /lagi lemot/

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s