[FF Freelance] A Late Regret (Chapter 2)

coveralrTitle : A Late Regret (Chapter 2)

Author : @diani3007

Main Cast :

  • [Infinite] Kim Myungsoo
  • [A Pink] Son Naeun
  • [Miss A] Bae Sooji
  • [BTS] Kim Seokjin

Genre : Romance, School Life, Angst

Rated : Teen

Length : Chaptered

Previous : Chapter 1,

Disclaimer : ff ini ngga terinspirasi dari manapun. Idenya muncul tiba-tiba. Masalah endingnya MyungZy/MyungEun? Still secret! >.< pokoknya ngga bakal ketebak! /sokmisterius/ oh iya, untuk ‘Bloody School’ maaf belum update ya^^ tapi pasti bakal aku lanjutin kok ASAP~

Summary :

Penyesalan. Ya, penyesalan memang selalu datang di akhir. Jika penyesalan itu belum datang, kau tidak akan pernah berhenti dan menyadarinya, sampai ada pihak yang terluka atau bahkan pergi meninggalkanmu.

 

~Chapter 2~

Still Flashback

 

“Yeoboseyo? Kim Myungsoo! Apa kau tidak mendengarku?”

*

Omo, eottokhe?”

Nyonya Kim tak kuasa menahan tangis melihat anaknya terbaring lemah di ranjang serba putih rumah sakit. Di sana juga ada Tuan Kim, ayah Myungsoo. Hanya satu orang yang mungkin Myungsoo harapkan ada, mungkin. Tapi ternyata tidak ada.

Myungsoo yang masih terpejam itu mulai menggerak-gerakkan jarinya perlahan. Dan beberapa saat kemudian, matanya terbuka. Dia lalu melirik ke arah ibunya yang sedang menggenggam erat tangannya. “Ige eodiyo?” tanyanya yang baru sadar.

“Kau di rumah sakit Myungsoo-ya. syukurlah kau sudah sadar. Eommoni sangat senang!”

Eommoni?”

Keurae, wae? Apa kau lupa dengan Eommoni?”

Nugu?”

Ne?”

“Apa kau baru saja bilang kalau kau adalah ibuku?”

Nyonya Kim mendongak untuk menatap suaminya penuh harap. Tetapi, Tuan Kim justru menggelengkan kepalanya dan terlihat pasrah menerima kenyataan, bahwa anaknya terkena amnesia. Nyonya Kim pun tak kuasa menahan air matanya.

“Kenapa kau menangis? Apa kau benar-benar ibuku? Kalian bukan orang jahat kan? Sebenarnya aku ini siapa? Kenapa kalian memasang wajah seperti itu?!” Myungsoo mulai terlihat panik dan meninggikan suaranya.

“Tenanglah, Myungsoo-ya, kau akan baik-baik saja. Kami orang tuamu.”

 

Flashback off

~***~

Myungsoo berjalan sendirian di koridor sekolahnya yang masih sepi. Kepalanya sibuk menolah-noleh ke segala arah berharap menemukan sosok yang dicarinya, Naeun. Lama kelamaan, langkah Myungsoo berhenti. Dia berbalik lalu berlari ke arah perpustakaan.

Benar saja, sesampainya di sana, setelah memasuki perpustakaan, ia bisa melihat Naeun sedang duduk manis sambil membaca buku. Myungsoo pun tak kuasa menahan senyumannya yang perlahan mengembang. Tanpa basa-basi, ia segera duduk di samping Naeun. Namun, sampai beberapa menit, tidak ada respon apapun dari Naeun. Bahkan menoleh ke arah Myungsoo pun tidak.

“Ekhem!”

Naeun tetap diam. Myungsoo jadi salah tingkah sendiri. Untung saja ini masih pagi dan perpustakaan masih sepi. Ya, karena biasanya banyak sekali siswa yang memenuhi perpustakaan. Siswa-siswa Seowon memang rajin membaca.

“Naeun-ssi,” ujar Myungsoo hari-hati. Tentu saja dia takut mengganggu keseriusan Naeun yang terlihat jelas.

Baru saat detik ke lima Naeun menanggapi Myungsoo. Walau hanya sebuah senyuman tipis, hal itu dapat membuat Myungsoo membeku hebat.

“Aku, sudah tidak memakai kacamataku lagi.”

Naeun mengalihkan pendangannya ke depan, lalu menoleh ke arah Myungsoo. Dia mengedipkan matanya beberapa kali lalu tersenyum. “Keurae, kau terlihat bagus. Aku hampir saja tidak menyadarinya. Mianhe karena aku terlalu serius membaca buku sehingga tidak tahu maksud kedatanganmu.”

Myungsoo jadi merasa bingung. Justru ialah yang merasa tidak enak karena mengganggu Naeun yang sedang membaca bukunya. Naeun memang benar-benar gadis yang ramah dan manis. Myungsoo sepertinya benar-benar jatuh cinta pada Naeun.

Di saat dia sedang asyik-asyiknya memandangi wajah Naeun, seorang namja datang menengahi mereka dengan seenaknya duduk di tengah-tengah Myungsoo dan Naeun.

Aigoo, kenapa harus ada dia segala, sih? Tanya Myungsoo dalam hatinya.

“Annyeong, Naeun-ah!” sapa Seokjin yang sengaja mengabaikan Myungsoo.

“Annyeong, Kim Seokjin,” balas Naeun sambil tersenyum ramah.

~***~

Sooji hanya bisa mematung di depan pintu rumahnya. Ibunya sedang dibentak bahkan sesekali didorong oleh beberapa orang pria berjas hitam, yang Sooji yakini adalah rentenir. Tapi, sejak kapan ibunya punya hutang? Apa hutangnya sangat banyak sampai cara menagihnya sekasar itu?

Beberapa lama kemudian, setelah para rentenir itu pergi, Sooji memasuki rumahnya. Dihampirinya ibunya yang sedang meringkuk di lantai rumahnya dengan keringat dan genangan air mata.

Eomma…”

Nyonya Bae hanya mendongak sekilas lalu kembali menunduk sembari menggelengkan kepalanya, seolah menyesal setelah melihat Sooji.

Eomma, jangan bilang kalau aku pindah sekolah karena–“

“Nanti akan Eomma jelaskan. Lebih baik sekarang kau masuk ke kamarmu.”

Aniyo!”

Sooji menggantungkan ucapannya untuk menatap ibunya sejenak.

“Jelaskan sekarang!”

Nyonya Bae hanya menghela nafas berat. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi Sooji jika mengetahui semuanya.

~***~

Flashback

Sooji duduk termenung di kamarnya. Sudah dua hari dia tidak keluar kamar. Dia tidak memakan dan meminum apapun selain air putih. Wajahnya sudah pucat pasi. Nyonya Bae sampai kebingungan sendiri melihat keadaan anaknya.

Rasa bersalah yang teramat dalam tidak bisa Sooji tolak saat itu. Apalagi, saat dia mendengar suara tabrakan mobil tepat di telinganya. Walaupun hanya suara, tetapi Sooji tak kuasa membayangkan bagaimana keadaan Myungsoo saat itu. Suara tabrakan itu besar sekali. Sooji yakin bukan motor ataupun mobil biasa yang menabrak Myungsoo, pasti truk atau mobil besar lainnya.

TUK TUK TUK

“Sooji-ya! mau sampai kapan kau mengurung dirimu terus? Ada tamu yang ingin bertemu denganmu, cepat keluar! Jangan membuat Eomma malu!”

Dengan gerak lamban, Sooji turun dari ranjang empuknya yang seprainya sudah berantakan. Dia lalu membuka kunci kamarnya, keluar kamar tanpa menghiraukan ibunya yang hanya menatapnya bingung.

Begitu sampai di ruang tamu, Sooji menghentikan langkahnya. Di hadapannya, berdiri dua orang sepasang suami istri dengan tatapan tajam.

“Bae Sooji?”

Ne?”

“Apa seperti ini sopan santunmu ke pada orang tua namjachingumu?”

Sooji menelan ludah. Ia lalu maju selangkah kemudian membungkukkan badannya Sembilan puluh derajat.

Annyeonghaseyo,” ujarnya sambil membungkuk.

Nyonya Kim hanya diam. Dia sibuk memperhatikan Sooji dari ujung kepala sampai kaki.

“Kau menarik dan juga cantik. Aku ingin tanya,” ucap Nyonya Bae dengan nada bicara dan tatapan mata yang tidak bersahabat.

“Bicara apa saja kau dan anakku di telepon?”

Sooji terdiam. Dia tidak mungkin menceritakan permintaannya kepada Myungsoo untuk menemaninya yang baru Sooji sadari itu adalah hal yang paling bodoh. Saat itu perasaannya Sooji sangat kacau dan tidak karuan. Dia bingung kepada siapa dia ingin bersandar, selain kepada Myungsoo.

“Aku yakin kau tidak akan menjawabnya. Apa kau sadar?”

Nyonya Kim menggantungkan ucapannya lalu berjalan mendekati Sooji yang masih membeku.

“Kau hampir membunuh anakku,” lanjutnya.

Sooji kini menegang. Dia yakin, dia tidak akan bisa bertemu Myungsoo lagi setelah ini. Hubungannya dengan Myungsoo akan berakhir saat itu juga.

Flashback off

~***~

“Ada apa kau memanggilku?” tanya Seokjin sambil bersandar di tembok yang mengitari balkon sekolah.

Myungsoo diam saja. Dia tidak menjawab pertanyaan Seokjin.

“Jangan bilang ini soal Naeun?” Seokjin sudah bertanya lagi.

Myungsoo hanya mengangguk sekali.

“Apa yang mau kau tanyakan?”

“Ada hubungan apa kau dengan Naeun?”

“Ah, jadi kau bertanya soal itu. Sudah kuduga.”

“Jawab saja.”

“Aku pernah mengakui perasaanku padanya.”

Myungsoo yang semula hanya menunduk, kini mulai menegakkan kepalanya menatap Seokjin.

“Kalian tidak pacaran kan?”

Seokjin tersenyum kecut mendengar pertanyaan Myungsoo. “Sayangnya begitu,” ucapnya.

“Baguslah! Aku lega.”

“Kau bisa saja lega sekarang. Keunde, suatu saat nanti, aku yakin dia akan menjadi yeojachinguku!”

“Tapi kenyataannya dia sudah menolakmu.”

“Seseorang boleh berharap kan? Sama seperti kau yang berharap Naeun akan menyukaimu.”

“Aku tidak punya banyak waktu. Gomawo, kau sudah mau menemuiku.”

Myungsoo pun pergi begitu saja meninggalkan Seokjin. Setelah kepergian Myungsoo, Seokjin tetap tidak beranjak dari tempatnya.

“Kau pikir kau bisa dengan mudahnya memiliki Naeun? Tidak akan kubiarkan! Aku tidak akan pernah mengorbankan perasaanku padamu. Aku juga punya hak untuk memiliki Naeun.”

~***~

“Naeun-ssi, apa hari ini kau sudah ada janji pulang dengan siapa?”

Naeun tersenyum lalu menggeleng.

“Bisakah… hari ini…” Myungsoo menggantungkan ucapannya. Dia bingung bagaimana cara untuk mengajak Naeun pulang bersamanya. Dia sangat malu. Wajahnya terasa hangat, dan ia yakini pasti sudah memerah sekarang.

Arra, aku mau. Kajja,” ucap Naeun sembari berjalan mendahului Myungsoo.

Myungsoo mendadak membulatkan matanya. Apa dia sudah mengerti maksudmu? Atau jangan-jangan dia salah paham?

“Naeun-ah, tunggu aku!” ucap Myungsoo sambil berlari menyusul Naeun.

Naeun justru tersenyum dam malah mempercepat langkahnya.

Sementara itu Seokjin yang melihat dari jauh hanya bisa mendesah kesal.

“Ada apa dengan namja  itu? Bisa-bisanya dia mengajak Naeun pulang bersamanya? Itu kan sudah tugasku. Lama-kelamaan posisiku akan digantikan olehnya! Awas saja, besok Naeun harus pulang denganku! Kalau perlu, aku akan menjemputnya, lalu mengantarnya ke sekolah,” gerutu Seokjin sambil mengerutkan kedua alisnya.

“Huh, seandainya saja aku dan Naeun satu kelas. Pasti, aku sudah menjauhkannya dari Myungsoo! Sial!”

Seokjin pun berjalan menghampiri motornya di tempat parkir. Dia lalu mengendarai motornya, pulang. Dia terus mengendarai motornya dengan kecepatan yang di luar batas normal. Hingga dia tidak sadar kalau dia menyerempat seseorang yang sedang menyebrang hingga terjatuh.

BRUK

“Akhh!” erang seorang gadis sambil memegangi lututnya yang luka.

Seokjin menghentikan motornya tiba-tiba karena kaget mendengar suara jatuhnya gadis itu. Dengan cepat ia berlari menghampiri gadis yang menjadi korban kelalaiannya.

Omo! Neo gwenchana? Akan kuantar kau ke rumah sakit,” ujar Seokjin sambil mengulurkan tangan, mencoba membantu gadis itu bangun. Namun, tangannya itu justru ditepis kasar oleh si gadis.

“Tidak usah! Ini hanya luka biasa. Kau pergi saja!”

Mworagu? Ya, kau tidak sopan sekali kepada orang yang hendak menolongmu.”

“Menolong? Sebelumnya aku baik-baik saja sebelum kau menyerempetku hingga terluka! Kau pasti berpikir akan membawaku ke rumah sakit lalu kau yang membayar tagihannya, iya kan? Keunde, aku tidak butuh itu semua. Itu semua tidak akan membuatku memaafkanmu!”

“Kau ini galak sekali! Niatku kan baik! Arrasseo, mian.”

“Huh! Sungguh menyebalkan!”

Gadis itu pun memaksakan diri untuk berdiri dan berniat meninggalkan Seokjin. Tetapi yang ada ia justru terjatuh dan untung saja Seokjin menangkapnya. Bahkan, tangkapannya hampir seperti sebuah pelukan.

Ya, lepaskan aku!” teriak gadis itu.

“Kau ini bodoh atau apa? Kakimu pasti terkilir! Kau akan kesulitan berjalan nanti, lebih baik kau kugendong saja!”

Mwo? Micheoso? Shireo!”

Arrasseo, aku akan pergi. Selamat berjalan sendirian.”

Gadis itu hanya memperhatikan punggung Seokjin yang semakin menjauh. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Empat detik. Lima detik. Tepat saat Seokjin akan menaiki motornya, gadis itu berubah pikiran.

YA!” teriaknya. Seokjin menoleh lalu menggeleng pelan. Dia lalu kembali menghampiri gadis itu.

“Jangan bilang kau berubah pikiran? Di mana rumahmu?” tanya Seokjin.

“Tidak jauh dari sini. Kau harus membantuku sampai ke rumah dengan selamat.”

~***~

“Sudah sampai, di sini saja.”

Seokjin mengerutkan kening. “Kau tidak mau diantar sampai dalam?”

“Tidak usah.”

Seokjin pun berjongkok untuk menurunkan gadis itu. Dengan hati-hati dan pelan, gadis itu melangkah memasuki rumahnya. Saat memngawasi gadis itu, tanpa sadar Seokjin melihat bungkusan yang sedari tadi dibawanya. Seragam Seowon.

Chankaman!”

Gadis itu berhanti sejenal lalu menoleh. “Apa lagi?”

“Dari mana kau mendapatkan itu? Apa itu milikmu?” tanya Seokjin sambil menunjuk bungkusan yang berisi seragam Seowon di tangan gadis itu.

“Ah, ini. Keurae, ini milikku. Mulai besok aku akan bersekolah di Seowon.”

Jinjjayo? Di kelas mana?”

“Besok kau akan tahu.”

Tanpa berbicara apapun lagi, gadis itu memasuki rumahnya. Rumahnya yang terbilang cukup besar.

“Aneh. Rumahnya cukup besar, kelihatannya dia anak orang kaya. Keunde, kenapa dia pindah ke Seowon? Itu kan hanya sekolah biasa yang tidak ada istimewanya?”

Seokjin baru saja akan meninggalkan halaman depan rumah gadis itu setelah teringat sesuatu.

“Bagaimana bisa dia tahu aku murid Seowon?”

Ia lalu menatap seragam yang dipakainya, lalu menepuk dahinya. Dia merasa dirinya konyol. Tentu saja, karena dia sedang memakai seragam Seowon.

~***~

Sooji memperhatikan bayangan dirinya di cermin dengan tatapan kosong. Dia kini tengah mengenakan seragam Seowon yang dibelinya kemarin. Ya, walaupun harus ada kecelakaan yang menyebabkan cara berjalannya menjadi pincang, dan juga lututnya yang kini ditutupi perban. Seperti itulah kesan pertama yang akan terlihat dari seorang Bae Sooji oleh teman-teman barunya di Seowon nanti. Setelah merasa cukup memandangi diri, Sooji mengambil tas sekolahnya lalu keluar kamar untuk sarapan.

Di ruang makan, ibunya tengah berdiam diri dengan mata yang berkaca-kaca. Sooji menghela nafas berat lalu menghampiri meja makan dan duduk di hadapan ibunya.

Wae gurae, Eomma?”

“Sooji-ya, mulai besok, kita harus kosongkan rumah ini.”

Mwo?! Apa Eomma bercanda? Mereka menyita rumah kita?”

Nyonya Bae mengangguk lemas. Ia hanya bisa pasrah menerima keadaan.

Andwaeyo! Eomma, apa tidak ada cara lain untuk membayar hutang selain sengan menyerahkan rumah ini? Kalau rumah ini disita, kita akan tinggal dimana?”

“Kau tidak perlu pikirkan itu. Kewajibanmu hanyalah sekolah. Sekolahlah yang rajin dan kelaklah kau bisa membahagiakan Eomma.”

Eomma!”

“Makanlah. Biar Eomma yang bereskan kamar dan barang-barangmu. Pulang sekolah nanti, jangan pulang ke rumah. Nanti Eomma akan kirimkan alamat baru rumah kita lewat pesan.”

~***~

Annyeonghaseyo, joneun Bae Sooji imnida. Bangapseumnia. Mohon bantuannya!” Sooji memperkenalkan dirinya dengan senyuman manis.

Yeoja itu memang aneh. Dia beda sekali dengan saat aku bertemu dengannya, dia sangat galak!” gerutu Seokjin yang duduk di bangkunya di paling depan.

Arrasseo, Bae Sooji, kau bisa duduk di sebelah Seokjin,” ucap guru Lee.

Ne, sonsaengnim.”

Seokjin memperhatikan cara berjalan Sooji yang pincang. Dia hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya.

“Jadi kau Bae Sooji?” tanya Seokjin begitu Sooji duduk di bangkunya. Sementara itu Sooji hanya diam, memperhatikan guru Lee yang mulai mengawali materinya. Dia merasa pertanyaan Seokjin tidak memerlukan jawaban. Sangat tidak penting, dan mengganggu.

~***~

Bel istirahat berbunyi. Semua murid kelas 11-3 pun berhamburan keluar kelas. Kecuali dua orang, Sooji dan Seokjin yang masih berdiam diri di bangku mereka. Ketika Seokjin hendak bangkit dari duduknya, tiba-tiba Sooji meringis. Seokjin pun refleks menolehkan kepalanya ke arah Sooji.

Gwenchana?” tanya Seokjin. Dia pun kini memusatkan pandangannya pada lutut Sooji. Dia lalu tersenyum tipis. “Kurasa, kau perlu mengganti perbanmu.

~***~

“Jalanlah pelan-pelan, tidak perlu terburu-buru,” ujar Seokjin yang masih sibuk menuntun Sooji berjalan.

Arra.”

“Kita sudah sampai, masuklah pelan-pelan.”

“Seokjin-ah!”

Seokjin yang baru saja hendak membantu Sooji memasuki ruang kesehatan sekolah itu kini justru menghadap Naeun dan melepaskan pegangannya dari tubuh Sooji yang mengakibatkan Sooji hampir terjatuh.

“Naeun-ah,” balas Seokjin agak gugup. Dia bahkan melupakan keberadaan Sooji.

Naeun tersenyum menanggapi Seokjin, begitu juga sebaliknya. Namun, senyum Seokjin tak bertahan lama ketika melihat seseorang yang muncul dari belakang Naeun, Kim Myungsoo.

“Kalian… akhir-akhir ini, sering bersama ya,” ucap Seokjin.

“Ah, keurom! Kita kan berteman baik akhir-akhir ini. Iya, kan, Myungsoo?”

“Hm, ne.”

Melihat sikap Myungsoo yang tenang, Seokjin justru mencibirnya.

“Siapa yeoja yang bersamamu, Seokjin?” tanya Naeun.

Seokjin yang baru menyadari kalau dia sedang bersama Sooji pun hanya bisa menganga. Dengan cepat ia kembali membantu Sooji memasuki ruang kesehatan yang tadi sempat tertunda karena sapaan Naeun. Tapi, bukannya masuk, Sooji justru diam di ambang pintu. Wajahnya terlihat pucat. Tatapannya lurus ke arah Myungsoo.

“Sooji-ssi, wae gurae?” tanya Seokjin yang heran dengan tatapan Sooji.

Myungsoo yang ditatap Sooji hanya diam. Entah apa yang membuatnya tidak berpaling dari tatapan itu. Tatapan yang Myungsoo rasa pernah ia dapatkan sebelumnya. Tatapan dari orang yang dicintainya.

“Kim Myungsoo?”

“Kau kenal Myungsoo?” tanya Seokjin yang kini sibuk menatap Sooji dan Myungsoo secara bergantian.

“Myungsoo-ya, apa kau mengingatku?”

“Kau… Bae Sooji?”

To be continued…

 

Annyeong readers!^^

Akhirnya aku bisa update chap.2, rasanya lega 😀 rencananya, setelah update chap ini, aku bakal hiatus. Maaf banget buat ff ‘Bloody School’ & ‘Blind’ yang belum bisa dilanjut 😥 Hiatusku ini bakal cukup lama dikarenakan dua minggu lagi aku bakal melaksanakan UAS dan setelahnya TO. Mohon dimaklumi ya, karena aku udah kls 9. Walaupun gitu, kalau emang ada (kalau) waktu senggang, pasti aku lanjutin fanfic2 aku yg belum beres. Aku harap, readers keep waiting  ya 😀

RCL juseyo~^^

 

 

Advertisements

12 thoughts on “[FF Freelance] A Late Regret (Chapter 2)

  1. Wah ff nya makin keren, tapi kecepetan alurny
    Bloody schoolnya mana nih? Ditunggu lanjutannya juga ┏̲O̶̲̥̅̊┓̲┏̲K̶̲̥̅̊┓̲..

  2. Annyeong ^^ ah..jadi begitu toh. Wah kayaknya sih ini udh si seokjin sm sooji bakal kerja sama/? -_-)/ tp moga2 gak deh huhu biar myungsoo sm naeun aja/? /apasih/ ditunggu kelanjutannya! Fighting! ^^

  3. Aigoo saengieee~ ternyata myungsoo hilang ingatan..kasian suzy 😦 suzy udah cukup berat masalah hidupnya, semoga nanti dengan kembalinya dia ketemu sm myungsoo dia bisa jd bahagia yaaa XD wkwk, masih sama aku harap endingnya myungzy^^ fighting buat uas sama TO nya saeng. Belajar yang rajin dan serius ya, biar setelah itu nulis FF nya bisa lega ㅋㅋㅋ

  4. Kasiaaan suzy… Aku lebih ska ending sma suzy… Feel nya lebih dpt.. #Pdhal aku myungeun shipper-__- . Tpi di ff ini suzy lebih gmnaa gtu. Klo ending nya suzy , ini bakal jdi ff. Terbaik yg pernah aku bca 🙂 wkwkwkkwkwk Myungzy jjang

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s