[FF Freelance] Forever Not Hate You (Part 4)

asliJudul : Forever Not Hate You (Part IV)

Author : Mettugi

Rating : General

Lenght : Chapter

Genre : Family and Romance

Main Cast :

–          Moon Chae Won as Han Seung Mi

–          Park Yoochun as Park Tae Woo

Disclaimer : FF asli buatan sendiri and no plagiarism. Tiba-tiba pengen pairing ini ada dalam FF-ku dan berharap suatu saat mereka bakal main drama bareng. Hehe..

Previous: Part 1Part 2, Part 3,

Seung Mi merasa sedikt pusing. Entah sudah berapa jam ia tertidur. Hari sudah pagi. Ya hari ini adalah hari minggu. Dia berjalan di sepanjang rumahnya. Sepi tidak ada orang. Hanya ada pembantu.

Seung Mi memilih keluar, pergi ke peternakan. Dia melihat Asisten Jung yang sudah rapi. Meski hari minggu, tapi dia tetap bekerja.

“Nona Seung Mi, kenapa anda masih disini?”

Seung Mi diam. “Memangnya aku harus kemana?”

“Tadi pagi, tuan memintaku jika anda sudah bangun, anda disuruh menyusul ke Seoul.”

“Tidak perlu Pak Jung. Aku sudah tidak peduli lagi dengan perjodohan konyol itu.”

“Tapi Nona, jika yang Tuan jodohkan nona Jin Yi, maka semua akan berakhir. Aku sudah mencari tahu orang yang menyebarkan rumor itu. Dia adalah ibu tiri anda Nona. Mereka tahu jika kelemahan anda di peternakan ini. Mereka menjebak anda. Aku tahu jika perjodohan ini sangat membuat anda benci, tapi setidaknya, demi nasib peternakan ini. Tolong anda pertimbangkan Nona.”

Seung Mi yang awalnya cuek kini mulai mencerna kembali perkataan asisten Jung. Semua ada benarnya. Bagaimanapun juga, jika ia menerima perjodohan itu, ia masih bisa memiliki dan mengurus peternakan ini. Tapi jika ia menolaknya, mungkin ia tidak bisa bekerja lagi di peternakan miliknya.

Seung Mi langsung berlari ke rumah. Ia harus sampai disana sebelum semua berakhir sia-sia.

***

Seung Mi sudah sampai di Bandara. Hanya butuh beberapa jam untuk ke hotel yang dimaksud. Pertemuan kedua keluarga itu akan berlangsung di restoran sebuah hotel berbintang. Terlalu terburu-burunya, Seung Mi menabrak seorang laki-laki. Berkali-kali dia membungkuk dan meminta maaf tanpa melihat wajah laki-laki itu. Dia lalu pergi dan menyetop taksi.

“Dasar gadis aneh.” Laki-laki itu memandang Seung Mi yang langsung pergi begitu saja. Dia adalah Park Tae Woo. Tiba-tiba dia menginjak sebuah buku kecil. “Apa ini?” Tae Woo memungutnya. “Diary??” Diary itu hendak ia buang, tapi tertahan. Dia berfikir, mungkin dia bisa bertemu dengannya dan memberikan itu padanya.

Mobil jemputannya sudah datang. Dia masuk ke dalam dan langsung tancap gas menuju tempat yang ia tuju. “Kita ke Hotel sekarang.”

Pintu lift hotel terbuka, Seung Mi langsung masuk. Dia memencet tombol 4, menuju lantai 4 tempat pertemuan itu. Dia mendapatkan informasi tersebut dari Asisten Jung yang disuruh Seung Mi untuk menanyakan pada ayahnya tanpa menyertakan namanya. Pasti ayah tidak akan menjawab jika ia yang meminta.

Tiba-tiba seseorang menahan pintu lift yang akan tertutup itu. Dia adalah Park Tae Woo.

“Oh..” Seung Mi kaget. Sepertinya dia pernah bertemu dengannya sebelumnya. Dia terus mengingat-ingat.

Sebelum lift sampai lantai 4, Seung Mi ingat. “Kau, bukankah kita pernah bertemu di hotel Inggris?”

Tae Woo mengedikkan bahu.

“Ya itu benar, kau, kau yang merebut kamar pesananku. Bukankah itu kau?”

“Kau? Pencerca itu?” Tae Woo juga ikut menatap gadis yang ada di hadapannya. Sepertinya ia sudah ingat siapa gadis ini.

“Pencerca? Apa kau bilang? Seenaknya sekali kau bicara.”

“Apa kau pikir aku tidak tahu apa yang kau bicarakan saat di koridor hotel itu?”

Seung Mi menunduk malu. Dia pikir orang itu tidak tahu apa yang ia maksud. “Maaf. Aku tidak tahu jika kau orang Korea. Tapi, aku sempat bertanya padamu, apa kau orang Korea? Dan kau tidak menjawab. Jadi ku pikir tidak. Maaf.” Seung Mi langsung berjalan keluar begitu lift dibuka.

Dia merasa diikuti oleh laki-laki itu. Dia akhirnya berhenti dan berbalik. Ternyata laki-laki itu sudah tidak ada. Seung Mi tidak tahu, ruangan mana yang dimaksud. Dia bertanya pada pelayan restoran tersebut. Akhirnya sang pelayan mengantar ke tempat yang dimaksud.

“Maaf aku terlambat.” Seung Mi membuka pintu dan mengejutkan semua orang yang ada disitu. Ayah, ibu tiri, saudara tiri, presdir Park, istrinya, seorang gadis cantik, dan yang lebih membuatnya terkejut adalah laki-laki itu. Park Tae Woo sudah duduk di sebelah Presdir Park. Tae Woo sepertinya juga tak kalah terkejutnya dengan kehadirannya. Seung Mi berusaha tenang dan duduk di kursi yang masih kosong.

“Kenapa kau kemari? Bukankah ayah sudah melarangmu datang?” Jin Yi yang duduk di sebelah Seung Mi berbisik pada kakaknya itu.

“Ayah yang memintaku kemari.” Seung Mi berusaha cuek dan tenang.

“Baiklah, bagaimana denganmu Park Tae Woo, apa kau mau dijodohkan dengan putriku Han Jin yi ini?”

“Aku.. ”

“Tidak.” Seung Mi berdiri dan memotong kalimat Tae Woo.

“Seung Mi..” Ayah mmebentaknya tegas. Tanda bahwa dia harus diam tidak boleh ikut campur.

“Dari awal yang akan dijodohkan adalah aku. Sebagai kakak, aku tidak akan mengijinkan adikku melangkahiku dulu.” Seung Mi mmandang Jin Yi, lalu beralih ke arah Presdir Park. “Aku kemari juga ingin meminta maaf pada Presdir atas sikapku yang keterlaluan beberapa hari yang lalu. Aku akui salah. Maafkan aku, presdir.” Seung Mi membungkukkan badan.

Park Tae Woo masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

Presdir Park tertawa memecah keheningan. “Aku suka hal seperti ini. Kau memang sangat mengesankan Seung Mi.”

Keheranan tak henti-hentinya nempel di semua wajah semua orang yang ada disitu, termasuk Seung Mi sendiri.

“Aku yang tidak setuju. Siapapun dari mereka, aku akan menolaknya. Permisi.” Park Tae Woo memilih berdiri dan langsung pergi.

Entah hantu apa yang sedang ada di dalam tubuh Seung Mi. Dia pamit dari pertemuan keluarga itu dan keluar mencari sosok Tae Woo.

Sekilas ia melihat wajah Tae Woo dibalik lift yang akan tertutup. Menuju lantai bawah. Seung Mi berlari ke lantai darurat untuk sampai ke bawah.

Seung Mi lega, karena Tae Woo masih ada di hotel. Dia sedang duduk sambil meminum soft drink.

“Kenapa kau kemari?”

“Aku perlu bicara padamu.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Semua sudah jelas tadi, aku menolak.” Jawabnya tegas dan dingin.

Seung Mi memegang tangan Tae Woo agar dia tidak pergi. “Kumohon.” Sebenranya kata itu sangat Seung Mi benci, tapi untuk situasi seperti ini, dia sudah banyak kehilangan harga diri.

Akhirnya dengan perasaan sedikit enggan Tae Woo kembali duduk.

“Terdengar bodoh memang, jika aku yang awalnya menolak perjodohan ini, pada akhirnya yang memintanya. Aku memiliki alasan. Setidaknya aku tahu dan memahami kondisimu. Apa yang kau rasakan sama dengan apa yang aku rasakan. Aku paling benci dengan sesuatu yang menyalahi prinsipku, tapi saat ini, aku memiliki alasan. Tidak bisakah kau membantuku?”

Tae Woo menatap Seung Mi penuh kekesalan. “Alasan apa? Kau tidak ingin hartamu jatuh ke tangan kelaurgaku? Itukah alasanmu?” Ucapnya sedikit kasar dan dingin. “Dan kau.. kau tahu apa tentangku? Apa sebelumnya kita saling mengenal?” dia melengos.

Seung Mi merasa tersinggung dengan ucapan Tae Woo. Dia menampar pipi Tae Woo. “Benar. Aku salah telah mengucapkan kata-kata yang telah merendahkan diriku. Aku salah sudah datang jauh-jauh kesini. Anggap kata-kataku tadi hanya angin lalu saja.” Seung Mi berdiri dengan mata berkaca-kaca dan hati sesak menahan emosi yang sudah berkumpul jadi satu. Dia pergi meninggalkan Tae Woo.

***

Sebuah diary jatuh dari tas yang ia buka tadi. Dia memandangnya sekilas dan kembali menghadap cermin. Pipinya sedikit merah setelah ditampar oleh Seung Mi tadi. Tamparan gadis itu sepertinya cukup kuat.

“Dasar gadis brengsek.” Umpatnya.

Tae Woo melihat lagi diary yang tergeletak itu. Akhirnya dia penasaran dengan diary itu dan mengambilnya. Di sampulnya tertulis nama pemiliknya, Han Seung Mi.

“Han Seung Mi?” Tae Woo berusaha mengingat-ingat nama itu. Ia pernah mendengarnya. Dia membuka matanya. “Gadis yang menamparku?” dia mengingat kejadian tabrakan sewaktu di bandara dan di hotel. Ya, pakaian yang dikenakannya sama.

Karena kesal dia melempar diary itu ke tembok. “Biar saja dia khawatir. Sampai kapanpun kau tidak akan bisa menemukan diary itu.”

Tae Woo berusaha untuk memejamkan mata, tapi sulit. Banyak perasaan yang bercampur di hatinya saat ini, kesal, geram, bingung, gelisah, dan sedih.

 

Sinar matahari perlahan memasuki kamar Tae Woo. Dia masih tertidur pulas karena semalam sulit memejamkan mata.

“Oppa.. Oppa..” Seol Ri membangunkan kakaknya itu. “Bangun..”

“Ehmm..” Tae Woo hanya merespon sebentar lalu tidur lagi.

“Ayah mencarimu, jika kau tidak bangun, maka tamat riwayatmu. Cepat bangun..” kali ini Seol Ri mengeraskan suaranya.

Tae Woo bangun. Dia melihat jam. Benar saja, hari ini dia sudah ada janji dengan klien. Jika tidak tepat waktu maka bisa hilang semua kontrak itu.

“Gomawo Soel Ri-ya..” Tae Woo mengacak-acak rambut adiknya itu. Dan bergegas ke kamar mandi.

Sementara itu Seoul Ri mengambil sebuah buku, yang tak lain adalah diary yang ditemukan oleh Tae Woo. Dia membuka dan membacanya.

“Oh, Oppa.. ini..”

Tae Woo tidak menggubris ucapan adiknya. Dia langsung keluar kamar dan meninggalkan Seol Ri yang masih duduk dan membacanya.

***

“Diary-ku dimana?” Seung Mi membuka seluruh isi tasnya. Dan mengacak-acak kamarnya mencari diary itu. Baginya itu adalah buku penting melebihi dokumen yang ada di kantor ayahnya.

Wajahnya sudah pucat pasi mencarinya. Dia ingin menangis namun terhenti saat Jin Yi masuk ke kamarnya.

“Siapa yang suruh kau masuk tanpa seijinku?”

“Kamarmu terbuka. Aku sudah mengetuknya dan tidak ada respon. Apa aku salah jika aku langsung masuk?”

“Pergilah. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.” Seung Mi masih mencari diarynya yang hilang.

“Kau mempermalukan semuanya Seung Mi. Siapa yang menyuruhmu datang? Kau sudah jelas sendiri kan jika perjodohan itu bukan kau tapi aku?”

Seung Mi menghentikan aktivitasnya dan menghampri adik tirinya itu. “Lalu siapa yang menyebarkan rumor itu? Bukankah itu kau? Lebih memalukan mana?” Seung Mi manatap ke adiknya. “Sudahlah. Lagipula, perjodohan ini sudah berakhir. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi dari peternakan kita. Pergilah.” Seung Mi membukakan pintu kamarnya lebih lebar. Menyuruh Jin Yi keluar.

“Kau benar-benar..” Jin Yi meolotot ke arah saudara tirinya iti dengan tatapan kesal dan penuh kebencian.

Seung Mi menutup pintu kamarnya. dia mengambil foto ibunya lagi. “Bu, maafkan aku. Rumah impian kita sudah menjadi milik orang lain untuk menyelamatkan peternakan kita. Tapi aku janji akan membuatkan rumah yang lebih bagus dari itu, Bu.”

Pertemuan kemarin malam, Seung Mi memberikan dokumen aset rumahnya yang dulu ia tinggali bersama sang ibu sebagai jaminan. “Aku pikir, akan lebih baik berakhir seperti ini. Tidak akan ada lagi pihak yang terbebani dan tersakiti. Aku sudah ikhlas memberikan rumah ini pada anda.” Seung Mi menyerahkan dokumen itu pada Presdir Park.

Ayahnya hanya bisa diam. Beberapa hari yang lalu, memang ayahnya meminta ijin pada Seung Mi untuk menjual rumahnya yang dulu, untuk membayar kerugian itu. Awalnya Seung Mi menolak, tapi pada akhirnya dia menyadari jika sudah tidak ada gunanya mempertahankan rumah itu. Meski penuh kenangan, tapi begitu melihat kenyataan yang sedang ia hadapi, ia kemudian mengesampingkan egonya.

Seung Mi menatap lurus ke arah jendela kamarnya. Kejadian kemarin malam masih teringat jelas dalam benaknya. Ia tidak menyesali keputusan yang ia perbuat. Ia yakin jika ibunya pasti akan menyetujui keputusannya jika masih hidup.

***

 

2 thoughts on “[FF Freelance] Forever Not Hate You (Part 4)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s