[FF Freelance] Flashback

171213Tittle: Flashback

Author: dlwnsghek11

Cast: Bae Suzy ‘Miss A’ and Oh Sehun ‘EXO’

Genre: Romance, Sad maybe

Type: Oneshoot

Rating: PG-13

Disclaimer: Sebelumnya ini ada versi Seohyun dan Kyuhyun, udah di share juga di salah satu fanbase fanfict seokyu di fb.. tapi kali ini aku ganti castnya jadi Sehun dan Suzy dan ada beberapa alur yang aku ganti

Suzy dan Sehun jelas hanya milik Tuhan, aku cuma minjem nama aja. Ff ini dibuat bukan untuk tujuan komersil.

Happy reading! Sorry for typo ^^

 

Italic = flashback

Bold = cerita dalam buku harian

 

ALL SUZY POV

Siang ini sudah cukup tenagaku terkuras untuk membantu eomma membersihkan gudang belakang rumah. Sejak pagi tadi aku dan eomma asik bermain-main dengan debu yang menempel di sekitar buku yang sudah tidak digunakan.

Aku merebahkan badanku ke ranjang. Tak lupa sebelumnya aku menyalakan AC dengan suhu yang tidak terlalu dingin juga untuk mengurangi udara panas yang sejak tadi membuatku pengap. Aku memejamkan mata berusaha merilekskan seluruh badanku.

“Buku itu…” gumamku lalu membuka kembali mataku.

Aku seakan teringat dengan buku yang aku temukan di gudang tadi pagi. Buku harianku tiga tahun lalu. Buku yang berisi tentang cerita-ceritaku bersama dengannya. Ya, dia! Dia yang sempat mengisi hari-hariku selama beberapa bulan dahulu.

“Bawel…”

Ku dudukkan diriku di atas ranjang. Suara itu! Tiba-tiba saja suara itu terdengar kembali dipendengaranku. Tapi aku yakin itu hanya halusinasiku saja. Jelas-jelas sekarang aku sedang sendirian dikamar. Mungkin aku hanya merindukannya sampai berhalusinasi seperti ini.

Aku langkahkan kakiku menuju meja belajar. Disana terlihat buku yang sudah aku ambil dari gudang tadi. Dan tentunya sudah aku bersihkan dari debu-debu yang melekat di buku tersebut sebelumnya.

Ku tarik bangku dan duduk didepan meja belajar. Lalu ku buka halaman pertama, disana tertulis “Suzy Bae”. Seakan ingin cepat-cepat memutar memori indah dulu, aku langsung membuka lembaran demi lembaran yang ada. Sempat terkekeh sendiri membaca curhatanku dua tahun lalu.

Entahlah hari ini aku harus senang atau kesal, hari ini aku mengalami keduanya. Awalnya, aku kesal dengan Wooyoung oppa yang terus saja membuat moodku jelek. Dia terus mengomel tidak jelas. Aku bosan mendengar omelan tidak jelas itu. diam-diam aku keluar rumah dan tanpa sengaja aku bertemu dengan dia, Oh Sehun. Moodku berubah 180 derajat saat dia menyapaku, apalagi dia mengajakku main bersama. Aaaaahhhhh rasanya seperti ada kupu-kupu beterbangan diperutku. Semoga saja dengan kejadian ini aku semakin dekat dengannya^^

 

~*~

 

Ku lirik ke kiri dan ke kanan seperti maling yang sedang mencuri kesempatan untuk masuk kerumah mangsa, bedanya kalau maling mengendap masuk kerumah seseorang sedangkan aku ingin keluar dari rumah. Setelah dipastikan kalau tidak ada orang yang melihat, aku keluar diam-diam sambil menjinjitkan kakiku saat melangkah. Kupakai sendal ungu milikku, lalu lari keluar rumah.

Setelah merasa jarak rumah dan arah kemana aku berlari jauh, ku hentikan lariku lalu kutaruh telapak tangan di dengkulku sambil berusaha mengatur nafas yang begitu memburu karena lari barusan.

“Uuuhhh… akhirnya bisa keluar dari kandang ayam,” ujarku sambil mengelap dahiku dari keringat.

Yang sebelumnya tatapanku terarah pada satu arah, yaitu kakiku. Tiba-tiba tatapanku beralih pada kaki lain yang ada di depanku. Ku dongakkan kepalaku untuk melihat siapa pemilik kaki itu. Detak jantungku yang sebelumnya sudah stabil lalu mulai berdetak lebih cepat daripada setelah lari tadi. Tatapanku juga tak henti-hentinya menatap pemilik kaki itu, seakan tidak mau kehilangan objek indah yang baru saja aku dapat hingga aku terhipnotis dengan keindahan tersebut.

“Kau kenapa berlari seperti itu? Sedang bermain kejar-kejaran?” tanya seseorang dihadapanku sambil melihat ke kiri-ke kanan seperti mencari sesuatu, entah apa yang dia cari.

Aku langsung tersadar kealam sadarku, lalu berdiri. Ku garuk tengkukku yang sebenarnya tidak gatal, itu caraku berusaha untuk mengurangi rasa gugupku sekarang. “Ah aniyo, aku hanya baru keluar dari kandang ayam,” jawabku seadanya.

Dia langsung melongo mendengar jawaban polosku lalu tertawa sambil memegang perutnya. ‘Ya tuhan, kenapa dia semakin indah dipandang saat tertawa? Tak apa jika aku yang jadi bahan tawaannya asal dia tertawa. Mungkin aku sudah gila, gila karenanya’ batinku sambil menatap sosok namja tampan dihadapanku ini.

Namja itu berusaha mengatur diri untuk menjawab jawaban anehku itu. “Kau ada-ada saja. Kau mau bermain denganku? Kebetulan aku baru membeli layang-layangan,”

Sebuah lengkungan langsung terlihat jelas diwajahku. “Kajja… dimana layang-layangannya? Nanti kau juga harus mengajariku, arraseo?” jawabku semangat.

“Layangannya ada dirumahku. Jadi, kita mampir dulu kerumahku. Arra, aku akan mengajarimu bawel,” ujarnya sambil tertawa dan mengusap rambutku.

Aku mengerucutkan bibirku. “Aish, aku tak bawel, kau tau?! Ya sudah kajja, aku takut nanti ayam itu akan datang mencariku,” kataku sambil menarik tangannya berjalan menuju rumahnya yang tak jauh dari sini.

Setelah mengambil layang-layangan dirumahnya dan dia tak lupa menawari air minum padaku, lalu kami langsung berjalan riang menuju taman terdekat.

“Cepat ajari aku!” pintaku langsung.

“Kita baru sampai, duduk dulu saja,”

Aku langsung menggeleng. “Aniyo. Aku ingin belajar bermain layang-layangan sekarang! Nanti kalau aku sudah bisa, kau boleh duduk-duduk santai. Otte?” paksaku.

Dia menghela nafas sebentar. “Jinjjayo? Arraseo, sekarang kau pegang gulungan ini,” perintahnya.

Aku hanya menurut saja apa yang dia jelaskan sambil mengangguk jika mengerti dan bertanya jika tak mengerti. Tak jarang dia memegang tanganku saat mengajariku, bahkan terkadang seperti ingin memelukku. Itu sudah cukup membuat dadaku sesak dan salah tingkah. Tetapi aku berusaha untuk senormal mungkin agar dia tak curiga dengan gelagatku yang menurut diriku sendiri itu sangatlah aneh.

Aku berteriak dan tertawa keras saat layang-layangan itu sudah terbawa angin. Senangnya bisa membawa layang-layang itu menari indahnya di langit.

“Gomawo Sehun-ah kau sudah mengajariku,” kataku masih menatap layang-layang yang baru kuterbangkan bersamanya, tak lupa lengkungan terpetak indah diwajahku.

Dia mengangguk. “Cheomaneyo. Ah sepertinya seru, aku ikut bermain kalau begitu,”

Kulirik sekilas kesamping. Dia tidak duduk-duduk seperti yang dia inginkan tadi, malah ikut menerbangkan layang-layang yang memang sudah disediakan dua, untuknya dan untukku. “Bukan sepertinya lagi, ini memang sangat seru,” jawabku sambil terkekeh.

Aku dan dia terus asik menerbangkan layang-layang bahkan sempat benangnya saling melilit, untungnya tidak putus. Senyumku tak dapat terhapus dari wajahku. Hari ini aku benar-benar senang dia bisa mengajakku main. Sebelumnya sangat jarang. Meskipun kita satu sekolah dan berteman, tapi selama dia pindah kerumah yang tak begitu jauh dari rumahku, dia sangat jarang bahkan untuk mengajakku main bersama. Aku merasa mendapatkan keajaiban jatuh dari langit. Sangat lucu!

 

~*~

 

Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Aku yang sekarang dengan yang dulu memanglah berbeda. Haha

Boyband? Girlband? Aku kurang suka. Ah tidak, mungkin memang akunya saja yang kurang ingin mengenali dunia entertainment sekarang. Meskipun aku tinggal di Seoul, Korea Selatan. Tempat yang banyak menampung boyband dan girlband yang bahkan sudah mendunia, tetap saja aku tidak mengetahui satupun dan sesuatupun dari mereka. Ck, aneh? Begitulah aku.

 

~*~

 

Aku mulai dekat dengannya. Yaa walaupun hanya disekolah, tapi itu sudah cukup untukku. Saat ini aku, Sehun dan tiga teman yang lain masih berada digedung sekolah meskipun bel pulang sudah berbunyi sejak satu jam yang lalu. Hari ini kami sangat malas untuk pulang kerumah masing-masing, akhirnya kami sepakat untuk disekolah sampai sore.

Saat ketiga teman yang lain sedang ke kantin membeli minum, dikelas hanya ada aku dan dia. Gugup memang, tapi aku berusaha menghilangkan rasa gugup itu. Kami sedang duduk berdua di satu meja. Lalu dia memasangkan sebuah headset ke telinga sebelah kiriku.

“Dengar saja lagunya,” katanya.

Aku tidak tahu kenapa aku bisa menyukai namja yang suka sekali melakukan sesuatu sesuka hatinya dan selalu menyuruh-nyuruh. Mungkin ini nasib buruk yang Tuhan berikan untukku, Oh God!. Akhirnya aku hanya menurut dan mendengar lagu yang sedang diputarnya. Entahlah aku tak tahu lagu apa, penyanyi-nya pun aku tak tahu.

“Lagu siapa ini? Kenapa aku baru mendengarnya?” tanyaku lalu mulai membaca kembali novel yang ada ditanganku.

“Kau tidak tau? Ini lagu EXO, Suzy-ah,”

“EXO? Nugu?” tanyaku dengan memasang wajah yang sangat polos sepertinya

“Kau benar-benar tidak tau? EXO itu boyband terkenal, Suzy-ah. Lagu-lagunya sangat bagus. Mereka sangat keren! Meskipun tak kalah keren dariku. Contohnya si magnae mereka itu, dia tak ada apa-apa dibandingkan denganku,” jawabnya dengan senyum andalannya lalu membusungkan dadanya dan menepuk dadanya itu dengan bangga. Lagi-lagi aku harus menghela nafas. Selain suka memerintah seenaknya, kenapa aku bisa menyukai namja yang narsis seperti ini, eoh? Benar-benar nasib buruk.

“Ah terserah kau saja,” aku yang memang sedang tidak mau membuat jiwa narsisnya terus meningkat.

 

~*~

 

Lalu ku buka lagi lembaran-lembaran yang lain dan membacanya. Yang benar saja, memori dulu mulai menari-nari diotakku. Bahkan sampai saat dia menembakku satu bulan setelah kejadian itu. Lagi-lagi aku tertawa geli mengingatnya.

Apa-apaan dia tidak ada romantis-romantisnya sedikitpun! Dia menembakku atau ingin menghinaku? Apa dia belum pernah menembak perempuan sebelumnya? Dia menembak dengan berkata seperti ini, “Bawel jelek, kau mau tidak menjadi yeojachingu-ku?” awas kau nanti, akan ku suapi cabai hijau sekarung!!! Asdfghjkl

 

~*~

 

Hari ini terakhir ulangan semester genap dan hanya satu pelajaran yang di ulangan-kan. Aku dan teman-teman sangat senang akhirnya sebentar lagi penderitaan kita menghadapi soal-soal yang membuat bulu alis rontok akan berakhir. Apalagi hari ini hanya satu pelajaran dan tidak begitu sulit pelajarannya, aku jadi tidak terlalu extra belajar dari jam setengah tujuh sampai sepuluh malam seperti hari-hari sebelumnya.

Saat menghadapi ulangan pun aku hanya menggunakan waktu tiga puluh menit untuk mengerjakan soal, tiga puluh menit untuk memeriksa kembali, dan sisanya satu jam aku gunakan untuk tidur. Itu sudah menjadi kebiasaanku.

Setelah keluar kelas, aku dan beberapa temanku ke toilet berombongan. Saat keluar aku merasa ada yang aneh, karena Sehun terus mengikuti kami meskipun tidak masuk toilet dan hanya menunggu diluar. Tapi aku berusaha berfikir positif saja,  dia memang setiap hari pulang bersamaku karena jarak rumah kami yang tak terlalu jauh.

Perasaan aneh itu semakin menjadi saat semua teman-temanku meninggalkan kami berdua. Aku hanya bertanya-tanya dalam hati. Kenapa jadi aneh begini? Bahkan saat aku ingin mengikuti teman-temanku, mereka malah menyuruhku bersama Sehun sebentar. Wae geurae?

“Kajja, kita pulang!” ajakku.

“Sebentar, wel,”

“Panggil aku bawel lagi, dijamin sebentar lagi sepatuku sudah melayang ke kepalamu!”

Dia hanya terkekeh geli. “Aku hanya bercanda, Suzy-ah. Kenapa kau galak sekali,”

“Bukan urusanmu,”

“Kau sudah besar, Suzy. Jangan bertingkah seperti anak kecil seperti itu,” tawanya lagi.

“Siapa yang seperti anak kecil, eoh?!”

“Kau, memang siapa lagi,”

“Anni. Untuk apa kita  disini? Kajja pulang!” ajakku lagi yang mulai gugup.

“Sebentar,” ujarnya menghalangiku yang sudah siap untuk melangkah ke teman-temanku yang berada di dalam kelas 2-2.

“Wae?”

Dia tarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan. “Bawel jelek…”

Ada apa dengannya? Masih saja panggil aku bawel, bahkan sekarang ditambah jeleknya. Aku cantik tau!

“Mwo?” tanyaku ketus.

“Bawel jelek, do you want to be my girlfriend?”

Mau tak mau bola mataku membulat sempurna. Dia barusan ngomong apa? Apa telingaku sedang bermasalah? Meskipun begitu, rona merah dikedua pipiku tidak bisa disembunyikan.

“Mwo? Maksudmu?” tanyaku yang mulai seperti orang bodoh.

“Kau tau kan aku putus dengan Krystal, itu karena aku mulai menyukaimu,”

Kukerjapkan mataku berkali-kali. Apa aku tidak salah dengar?

“Lalu?”

Dia melengos pelan. “Do you want to be my girlfriend, Bae Suzy?” ulangnya.

“Really?”

Aku terus berusaha mengulur-ulur waktu. Aku ingin terus mengisi memori dan moment-moment di otakku saat dia menembakku seperti ini. Aku berusaha menghapus senyum yang sebenarnya sudah tidak bisa ditahan lagi untukku lukiskan diwajahku.

“Apa kau tak percaya, eoh?” jawabnya yang mulai geregetan sepertinya.

Teman-temanku yang berada didalam kelas itu ternyata menguping pembicaraanku dengan Sehun sejak tadi. Wajahku sudah benar-benar seperti kepiting rebus saat ini, sungguh memalukan. Memalukan memang, tapi aku senang.

Aku hanya menjawab dengan sebuah anggukan.

“Itu belum aku anggap sebagai jawaban,” ujarnya sambil tersenyum senang.

“Iya aku mau,” ucapku sambil tertunduk.

Tiba-tiba, teman-temanku yang sudah mengintip dibalik jendela langsung berlari keluar kelas lalu teriak tidak jelas seperti cacing kepanasan.

“Wah Chukkae!!!”

“Sehun-ah,  kami butuh traktiranmu! Ini semua karna kami juga, ingat itu!”

 “Sehun-ah ingat janjimu!”

Dan akhirnya aku tau satu jawaban. Ternyata teman-temanku ikut ambil andil dalam kejadian ini. Rasanya aku ingin memeluk semua teman-temanku, berusaha menyembunyikan rona merah yang sudah sangat memerah ini.

 

***

 

Aku masih ingat betul, hari-hariku saat itu begitu berwarna seperti pelangi. Dulu kalau aku begadang hanya untuk membaca novel saat malam minggu, ada yang menemaniku di sms. Senyumpun tak pernah hilang dari wajahku seakan-akan aku makhluk yang paling bahagia di dunia saat itu.

Semakin lama aku membaca curhatanku sendiri itu, akhirnya aku sampai pada hal yang tak bisa terhapus dari ingatanku.

Apa namja sekarang tidak ada yang setia? Apa aku masih kurang? Rakus sekali dia semua yeoja diucapkan cinta olehnya. Apa maksud dia? Sudah berapa air mata yang aku keluarkan hari ini untuk orang seperti dia? Malang sekali nasibku. Hari ini juga aku ingin mengakhiri semuanya. Aku tidak ingin sekolahku terganggu hanya untuk hal yang tidak bermutu seperti ini!!

Ku alihkan tatapan mataku ke depan. Kejadian itu masih terlihat jelas dalam ingatanku.

Tessss…..

“Air mata ini lagi?” gumamku lirih sambil tersenyum miris.

 

***

 

Sore ini aku dengannya pergi ke taman saat bermain layang-layang dulu. Aku tersenyum simpul saat melewati tempat itu lalu menggaruk tengkukku. Saat itu aku belum memilikinya, saat kembali kesini lagi aku sudah menjadi miliknya. Sungguh masih tak dapat aku percayai kenyataan ini.

“Suzy-ah? Waeyo?” tanyanya.

Langsung ku alihkan wajahku padanya lalu tersenyum kikuk. “Ah, gwenchana,”

“Kau duduk dulu saja disini. Aku membeli bubble tea dulu. Aku titip jaketku,” ucapnya sambil menyerahkan jaket padaku lalu pergi ke toko tak jauh dari sini. Dia memang sangat menyukai bubble tea. Jika aku bertengkar ringan dengannya aku bisa menyogoknya dengan segelas bubble tea, lucu sekali.

Lagi-lagi aku hanya menuruti katanya untuk duduk di bangku taman yang sudah disediakan. Tanganku memang ditakdirkan jahil, aku langsung membongkar semua isi kantong dijaketnya. Ternyata hanya ada handphone-nya saja. Tapi tak apalah.

Aku semakin jahil saja membuka galeri foto yang ada di handphone-nya. Senyumku mengembang saat melihat beberapa fotoku ada di handphone-nya yang jelas-jelas hanya ada dihandphone ku. Bagaimana dia bisa mengambilnya? Ah aku baru ingat, dulu dia sempat meminjam handphoneku lama sekali sampai aku ngomel-ngomel tak jelas padanya. Apa dia mengirim beberapa fotoku ke handphone-nya? Dasar tak sopan, tapi aku menyukainya.

Entahlah bagaimana ceritanya aku tiba-tiba sudah membuka item terkirim di olahpesan yang ada di handphone-nya. Aku seakan tertarik untuk membaca pesan yang dia kirim ke beberapa temannya.

Mataku membulat sempurna saat membaca kata “Iloveyou” yang dia kirim ke temannya yang bernama Sulli itu. Aku berusaha berfikir positif, mungkin mereka sedang bercanda. Seakan mendapat bisikan setan, aku membaca semua sms yang Sehun dan Sulli lakukan. Ternyata pikiran positifku berakhir dengan negatif. Mereka tidak sedang bercanda, tapi memang sedang bermain dibelakangku.

“Hai, kau sedang apa? Apa yang kau lihat di handphone-ku?” sahut seseorang lalu mengambil handphone yang ada digenggamanku, sudah ku pastikan pasti itu pacarku. “Wae? Ka…u… kena…pa na…ngis?” tanyanya sedikit tergagap, mungkin karena takut rahasianya aku ketahui.

Kuusap air mata yang sudah banjir dipipiku dengan telapak tanganku. “Aku sudah mengetahui semuanya, tentang kau dan Sulli. Gomawo untuk semuanya. Aku permisi” gumamku lirih lalu pergi meninggalkannya yang hanya terpaku mendengar kata putus sepihak dariku.

Sejak saat itu aku dengannya sudah mulai menjaga jarak. Bahkan setelah aku putus, aku semakin mengetahui sebuah kebenaran. Selain Sulli, masih ada dua perempuan lain yang dia gombali. Hatiku tentu sangat sakit. Aku mulai menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas untuk melupakannya.

 

***

 

Aku menggeleng-gelengkan kepala setelah mengingat akhir dari ceritaku dan Sehun. Semua manusia memang tidak selama bahagia dan aku percaya itu. Yasudahlah, yang lalu sudah berlalu. Tetapi aku harus melanjutkan kelanjutan dari semuanya, drama yang Tuhan berikan untuk jalan hidupku.

“Suzy-ah!!”

“Waeyo eomma?” kulihat eomma sudah berada didepan kamarku segera kututup buku harian itu.

“Apa kau bisa ke supermarket sekarang? Ternyata persediaan sayur kita habis. Eomma ada urusan mungkin akan pulang larut. Eomma tak ada waktu itu ke supermarket,”

Aku mengangguk. “Ne, eomma percayakan saja padaku,”

“Baiklah, eomma pergi dulu, chagi. Wooyoung juga kemungkinan akan menginap dirumah temannya. Jangan lupa mengunci pintu dan jendelanya jika nanti kau sudah mengantuk, arra?”

“Arraseo eomma. Aku bukan anak kecil lagi,” kekehku sambil mendorong eomma keluar rumah.

“Arra arra. Jaga dirimu baik-baik. Dari supermarket jangan berkeliaran, langsunglah pulang. Eomma pergi,” nasihat eomma lalu mencium pipiku.

“Ne, eomma,”

Setelah eomma pergi, aku segera mengambil jaket dan dompet lalu mengunci pintu rumah. Setelah merasa keadaan rumah aman, aku segera berjalan menuju halte bus. 15 menit aku menunggu, aku langsung masuk ke dalam bus dan mengambil tempat duduk di nomor kedua belakang, pojok. Selama perjalanan aku hanya memandang keluar jendela. Pikiranku berkeliaran entah kemana.

Tiba-tiba ada sebuah tangan merangkul pundakku. Langsung ku alihkan pandanganku kearah tangan itu berasal. Mataku menatapnya tajam.

“Wae?” ujarnya santai, bahkan semakin mengeratkan rangkulannya padaku.

“Bagaimana kau bisa disini, eoh? Lepaskan,” jawabku garang sambil berusaha melepas rangkulannya tapi tetap saja tidak bisa. Tenaganya lebih besar dariku.

Pemilik tangan itu menyedot segelas bubble tea-nya yang ada ditangan kirinya. “Aniyo. Aku tak mau melepasmu,” jawabnya dengan mulut penuh dengan bubble tea miliknya.

‘Aish, jorok sekali dia.’ batinku. Aku mulai pasrah menerima rangkulannya. “Habiskan dulu yang ada didalam mulutmu. Baru kau berbicara, dasar tak sopan,”

Sehun hanya terkekeh setelah menelan bubble tea-nya. “Mianhe, chagi. Aku tak akan mengulangnya,”

‘Mwo?’ bola mataku langsung membulat lalu menatapnya tajam. “Chagi? Siapa kau? Aku sudah bukan siapa-siapa mu. Cepatlah menyingkir dariku,” kesalku.

Aku tak tahu apa yang terjadi. Beberapa hari belakangan ini Sehun kembali menampakkan sosoknya setelah lamanya menghilang sejak kejadian di taman beberapa tahun lalu. Bahkan sekarang dia lebih berisik dari sebelumnya, dia selalu menceritakan kegiatannya selama menghilang dulu. Tapi apa peduli ku? Aku sudah terlanjur sakit hati mungkin. Meskipun begitu aku tetap mendengarkan semua cerita-ceritanya dari A sampai Z.

Setelah lulus dari Senior High School, dia tinggal selama setahun di Paris. Sebenarnya dia ke Paris hanya untuk menghadiri acara pernikahan noonanya, Oh Seohyun. Tetapi dia ditawarkan melanjutkan kuliah disana. Aku tak tau apa yang dia fikirkan sehingga tak ingin berlama-lama disana dan tak menyelesaikan kuliah disana. Dia hanya setahun disana lalu kembali ke Seoul.

Selama di Paris dia bisa menghabiskan lima bubble tea dalam sehari. Katanya untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Lagi-lagi aku tak mengerti mengapa dia bisa jenuh seperti itu. Bukankah keadaan di Paris lebih menyenangkan daripada disini? Aku masih tak mengerti dengan jalan pikirnya yang aneh itu. Aku juga belum mendengar sedikit pun tentang pacar-pacarnya setelah putus dariku. Apa dia menyembunyikannya dariku? Takut aku semakin sakit hati? Baiklah dalam hal ini kau sangat baik Oh Sehun. Aku berterima kasih padamu.

Sehun berdecak kesal. “Aish, mulai sekarang kau kembali menjadi yeojachigu-ku. Aku tak menerima penolakan apapun darimu,”

Sepertinya mataku akan benar-benar keluar karena terlalu terkejut dengan perkataannya. “Mwo? Kau tak bisa seenaknya,”

Sehun segera menyumpal mulutku dengan gelas bubble tea yang ada di tangan kirinya. “Minumlah, kau semakin bawel, Suzy-ah. Aku ingin bercerita lagi. Kau jangan berisik, arraseo?”

Aku hanya memajukan bibirku kesal lalu mengangguk menurut dan meneguk bubble tea-nya. ‘Biar saja bubble tea ini ku habiskan, tau rasa kau Oh Sehun’

“Kau tau? Setelah aku putus darimu aku memutuskan semua pacarku. Aku sangat terpuruk saat itu. Aku baru menyadari sesuatu, aku benar-benar mencintaimu. Aku tak mencintai mereka, hanya kau yang selalu menghantui pikiranku. Selama di Paris, aku memang termasuk namja dari luar negeri yang disukai banyak yeoja. Tapi aku acuh pada mereka. Karena aku terlalu mengharapkanmu kembali padaku. Aku seperti orang gila disana. Bahkan Seo nuna bilang padaku, kalau aku sangat berbeda aku menjadi sangat pendiam. Aku menyesal Suzy-ah, sangat menyesal. Jika aku mendapat kesempatan untuk menjadi orang yang special dihatimu kembali, ku pastikan aku tak akan menyia-nyiakannya seperti dulu,” jelasnya.

Aku termenung mendengarnya, aku hanya menatap pantulan cahaya diwajahnya, aku tak percaya. Apa aku sedang bermimpi? Jika benar, tolong jangan bangunkan aku. Meskipun aku sangat sakit hati, tapi tetap hanya dia yang memenuhi isi otakku. Sampai sekarang belum tergantikan oleh siapapun. Sudah beberapa namja di tempatku kuliah menyatakan cintanya padaku, contohnya seperti Kris sunbae, Myungsoo sunbae, Chanyeol sunbae,  dan teman dikelasku, Kim Jongin. Mereka aku tolak, entah apa yang aku pikirkan sampai menolak mereka.

“Sehun-ah,” lirihku.

“Ne?” dia menatapku dalam.

“Jinjjayo?”

Kulihat dia menghela nafas pelan. “Mungkin kau memang susah untuk menerima ini kembali. Tapi aku berkata yang sejujur-jujurnya. Tak ada kebohongan sekarang. Sudah cukup aku menahannya beberapa tahun ini,”

Lekukan indah terpancar dari wajahku. “Kau masih menempati tempat teratas dihatiku, Sehun-ah,”

Sehun terlihat kaget lalu memegang pundakku kuat. “Suzy-ah, a…apa benar itu?”

Aku mengangguk yakin. “Ne, Sehun-ah,”

Sehun langsung memelukku erat, aku membalasnya tak kalah erat. “Gomawo, jeongmal gomawo. I won’t make you hurt again, my promise,” Sehun tersenyum senang, tak lama dia melepas pelukan kami.

Ku lihat wajahnya seperti sedang mencari sesuatu. “Waeyo?”

“Bubble tea. Dimana bubble tea ku?” Aku terkekeh geli, ku perlihatkan segelas bubble tea yang sudah kosong didepan matanya. Dia langsung menatapku tajam. “SUZY!! KAU APAKAN BUBBLE TEA KU!!”

 

END

32 thoughts on “[FF Freelance] Flashback

  1. awal” so sweet trus sad….aku pikir bkal sad ending ternyata happy ending ^^
    ngakak pas sehun nyariin bubble tea wkwkwk
    daebak ff nya i like ~

  2. bubble tea masih jadi puncak teratas di hati sehun. wkwkwk,
    daebak!!! ditunggu ff hunzy lainnya dari author.

  3. Wkwkwkwk kereeen thor lucuu
    seneng banget sama couple ini
    bikin senyum2 sendiri bacanya hehehe
    Bikin ff suzy sehun lg ne yg banyaaaak thor😀 fighting fighting

  4. huaaa legany…
    kirain ini sad ending, cman mengenag masa lalu aj…
    bagus deh hunzy bersama…
    sehun-ah, dihatimu bubble tea yg no 1 huh…?
    endingny lucu.. suka bgt.. hahaha
    d’tnggu ff suzy lainny…

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s