[FF Freelance] Where Are You? (Chapter 1)

where-are-youAuthor: Ghina

Cast: Lee Sungmin & Han Jinhye

Support Cast: Cho Kyuhyun & Jung Soorin

Genre: Romance, Angst, Married Life

Length: Chapter

Rating: PG-15

 

Note: Saya kembali lagi membawa lanjutan dari Why dan I’m Sorry. Maaf karena lama banget baru ngirim ke SJFF. Selamat menikmati aja deh. Oiya, kalo berminat silahkan kunjungi blog pribadi aku: specialoves.wordpress.com

 

***

Hatiku yang terluka mencarimu

Tubuhku yang lelah berusaha menemukanmu

Dimana kau sekarang?

 

Mobil Ferrari putih yang Lee Sungmin kendarai melesat dengan kecepatan diatas rata-rata, membelah keramaian di jalanan Seoul. Beberapa kali dia melanggar lampu merah bahkan nyaris menabrak seorang pejalan kaki. Beruntung tidak ada polisi yang melihat aksi gilanya atau dia terpaksa harus menunda kegiatannya mencari Jinhye dan mendekam di kantor polisi selama beberapa jam. Tujuannya adalah klinik sekarang. Biasanya jam segini, gadis itu akan sibuk dengan pasien-pasiennya di klinik.

 

Dia melemparkan ponselnya ke kursi penumpang, merasa panik setengah mati. Sudah berulangkali ia mencoba menghubungi gadis itu, tapi tak satupun mendapat jawaban. Ponselnya mati dan hal itu cukup memperkuat perkiraan Sungmin bahwa gadis itu salah paham. Gadis itu melihatnya berciuman dengan gadis lain. Parahnya, gadis lain itu adalah seseorang yang pernah menjalin hubungan bersamanya.

 

Sungmin mengacak rambut dibagian belakang kepalanya. Pikirannya sedang kacau dan hatinya diliputi perasaan khawatir. Juga takut. Hubungan mereka kurang baik selama beberapa minggu ini, mengingat seorang Lee Sungmin terlalu banyak menghabiskan waktu bersama mantan kekasihnya dan mengabaikan istrinya dirumah sendirian. Bisa saja gadis itu merasa bosan, cemburu tentu saja. Lalu memilih pergi dan meninggalkannya.

 

Dia memukul setir dengan keras saat berbagai kemungkinan terburuk menghampiri pikirannya. Rasa-rasanya dia tidak sanggup mengalami itu semua. Han Jinhye, dia sudah mencintai gadis itu habis-habisan. Dan dia tidak mau kehilangan gadis itu. Meskipun Sungmin menyadari dengan jelas kalau semua adalah salahnya. Seharusnya dia bisa maklum dan menerima jika gadis itu memilih menjauh dari kehidupannya. Karena bagaimana pun juga, setiap manusia memiliki batas kesabarannya masing-masing. Dan mungkin saja, hari ini adalah terakhir kalinya gadis itu menyimpan rasa sabar untuknya.

 

Gadis itu sudah terlalu banyak mengalah. Dia tidak pernah mendebat tiap kali Sungmin pulang malam karena terlalu lama menemani Soorin di rumah sakit. Atau ketika Sungmin mengabaikan bekal makan siang yang dibuat gadis itu dengan susah payah. Gadis itu memberi kebebasan pada Sungmin untuk melakukan segala hal yang ia inginkan, asalkan tidak melanggar hukum dan merugikan seseorang. Jinhye memberikan kepercayaan dan cintanya begitu banyak pada Sungmin. Tapi dia dengan teganya mengkhianati semuanya.

 

Sungmin menginjak rem saat lampu jalanan berubah menjadi merah. Mulutnya mengumpat  sedangkan kepalanya mulai terkulai lemah di setir. Dia sudah menghubungi ibu mertuanya dan menanyakan istrinya. Tapi sialnya, beliau juga tidak tahu keberadaan anak gadisnya. Mertuanya itu bahkan merasa bingung karena Sungmin mencari anaknya.

 

Yah, Sungmin cukup tahu kalau gadis itu enggan membagi rasa tidak nyaman dihatinya kepada siapapun. Apalagi menceritakan kisah rumah tangga mereka pada ibunya dan kabur ke rumah orang tuanya saat hubungan mereka mendapatkan sedikit kendala. Jinhye bukan orang seperti itu. Meskipun manja masih mendominasi sifatnya, tapi dia jauh lebih dewasa dari Sungmin. Dan hal itu pulalah yang membuatnya begitu menyayangi gadis itu. Seorang gadis mandiri yang tidak bisa melukai hati siapapun dan membuat seseorang menderita. Gadis itu istrinya, Han Jinhye.

 

Suara klakson yang menggema membuat Sungmin mengangkat kepalanya dan mengusap wajahnya dengan gusar. Lampu sudah berubah menjadi hijau, tapi dia masih belum menjalankan mobilnya sehingga terjadi sedikit kemacetan. Dia mulai menginjak pedal gas saat matanya menangkap sosok polisi gendut yang memperhatikan mobilnya. Masalahnya sudah sangat banyak dan dia tidak berniat menambahnya walau hanya satu saja. Sungmin mempercepat laju mobilnya.

 

Dia ingin segera sampai di klinik dan menemukan Jinhye duduk di kursi kerjanya dan beberapa pasien mengantri di depan ruangannya. Lalu ketika melihat Sungmin datang, gadis itu akan tersenyum padanya seolah tidak terjadi apa-apa dan memintanya menunggu sebentar dikantin. Dan selanjutnya mereka akan menghabiskan waktu berdua dengan berbincang. Ditemani secangkir cappucino, mereka akan mulai membicarakan kejadian yang dialami hari ini. Memuaskan Sungmin akan wajah gadis yang mendadak ia rindukan. Dia benar-benar berharap hal yang ia pikirkan itu terjadi sesaat setelah ia sampai disana.

 

Pemikiran itu membuat semangatnya menjadi setingkat lebih banyak. Dia mulai berbesar hati dan memberikan dukungan untuk dirinya sendiri. Kakinya mulai menekan pedal gas dengan sangat keras, membuat mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Senyum tipis terukir di bibirnya seiring dengan secercah harapan yang ia yakini akan terkabulkan. Mulutnya bergerak-gerak tanpa suara, mencoba mengabaikan detak jantungnya yang berada diluar kendali karena perasaan khawatir. Tangannya memainkan jari-jemarinya, mengurangi kegugupan yang bersarang di hatinya.

 

Dan ketika mobilnya telah sampai di tempat yang ia inginkan, ia segera mematikan mesin dan mencabut kuncinya. Berlari masuk dan mengabaikan beberapa orang yang melihatnya dengan tatapan heran. Pasalnya, dia masih mengenakan mantel musim gugurnya, sedangkan udara didalam sudah cukup hangat dan mampu membuat alat ekskresi seseorang bekerja, menghasilkan titik-titik air keringat.

 

Begitu sampai di depan meja resepsonis, Sungmin disambut oleh seorang gadis bertubuh mungil yang dengan refleksnya memberikan senyuman sebagai sambutan. Gadis itu mengerutkan keningnya ketika menyadari pakaian Sungmin dan sebiji peluh yang mengaliri pelipis lelaki itu. Sungmin mengatur napasnya yang terasa putus-putus selama beberapa detik.  Perjalanan dari pintu masuk ke meja resepsionis tergolong tidak pendek. Jadi, dia harus berlari dengan terburu-buru agar sampai ditempatnya berdiri sekarang dalam waktu singkat.

 

Dia mendongakkan kepalanya dan menatap gadis yang ada dihadapannya.

 

“Apa Han Jinhye masuk kerja hari ini?”

 

Gadis itu nampak berpikir sekilas lalu tersenyum sedikit. “Tunggu sebentar.”

 

Tangan gadis itu mulai sibuk menekan-nekan keyboard di komputernya, mencari data absen. Sedangkan Sungmin menunggu dengan perasaan tidak tenang.

 

“Maaf, apakah yang anda maksud adalah Han Jinhye dokter spesialis THT itu?”

 

Sungmin tersadar dari lamunannya lalu menganggukkan kepalanya dalam satu gerakan cepat. Membuatnya bisa mendengar suara kecil yang berasal dari tulang lehernya. Disusul oleh rasa sakit yang menyerang setelahnya. Tidak begitu terasa jadi Sungmin memilih mengacuhkannya dan memberikan keseluruhan fokusnya pada sang resepsionis yang tengah memeriksa data-data di komputernya itu.

 

“Dia sudah tidak bekerja disini lagi.”

 

“Apa?”

 

Kedua bola mata Sungmin membesar sedangkan perasaan takut itu menyerangnya secara bertubi-tubi. Dia tidak mau mempercayai ini dan berharap kalau-kalau indera pendengarannya mengalami sedikit masalah.

 

“Dokter Jinhye memberikan surat pengunduran dirinya kemarin sore.”

 

“Kenapa?”

 

Resepsionis itu tersenyum canggung saat mendengar sebuah kata yang terlontar dari mulut Sungmin. Pandangan lelaki itu kosong, seolah ia hanya mengigau ketika mengajukan pertanyaan tadi.

 

“Saya tidak tahu. Maafkan saya.”

 

Dan Sungmin langsung melangkahkan kakinya manjauhi meja resepsionis tadi. Otaknya mendadak tidak bisa diajak berpikir dengan baik. Dia tidak bisa  memikirkan cara yang tepat untuk mencari istrinya saat keadaannya sedang seperti ini. Jadi, Sungmin memilih masuk ke dalam mobilnya, duduk di kursi kemudi dan terdiam selama beberapa saat. Kilasan kejadian beberapa minggu lalu berputar dikepalanya seperti film. Begitu jernih, begitu jelas. Perlahan tapi pasti, puluhan tetes air mata jatuh membasahi wajahnya dengan sangat angkuh.

 

Lelaki itu merasa bersalah. Dan dia terlalu bodoh karena baru menyadarinya sekarang.

 

***

Summer, 2009

 

Lee Sungmin menyandarkan lengan kanannya pada dinding bercat putih yang berada disebelahnya. Sepasang headset terpasang di telinganya. Dia sedang berada di depan gerbang kampus, menunggu Cho Kyuhyun mengambil mobilnya di parkiran. Dua orang sahabat itu berencana untuk membeli beberapa buku di daerah Myeongdong demi menyelesaikan tugas mereka yang tak kunjung menemukan titik terang.

 

Dosennya itu memang terkenal tegas dan suka sekali menguji kesiapan murid-muridnya dengan tumpukan tugas yang mencekik leher. Dan dia sedang tidak berminat sedikitpun untuk mengulang mata kuliah yang sama pada semester depan. Jadi, dia terpaksa harus meluangkan waktunya yang berharga ini agar bisa menyelesaikan tugas itu secepatnya.

Dia membenamkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjang yang ia kenakan lalu melepaskan headset yang menyumpal telinganya. Matanya mulai bergerak liar, mengamati beberapa orang yang berlalu-lalang disekitarnya. Tidak ada yang menarik perhatiannya sehingga ia memilih mengalihkan pandangannya ke arah berlawanan. Dan pada saat itulah kedua bola matanya menangkap sesosok gadis yang duduk sendirian di salah satu bangku kantin.

 

Gadis itu nampak cantik dengan setelan baju musim panasnya—kaos hitam pendek dan celana jeans yang berwarna senada. Sebuah syal berwarna merah cerah melilit leher jenjangnya yang menggoda. Sedangkan rambut panjangnya ia gulung asal-asalan, menyisakan helai-helai anak rambut yang sedikit menutupi wajah manisnya. Gadis itu masih nampak menawan seperti pertama kali dia melihatnya.

 

Matanya terpaku pada gadis itu, membiarkan dirinya tenggelam pada pesona gadis mungil yang berada beberapa meter dihadapannya. Dia memuaskan indera penglihatannya itu dengan wajah gadis itu. Merasa senang setelahnya saat mendapati jantungnya berdetak diluar batas normal. Sensasi yang ia dapatkan setiap kali gadis itu berada pada jarak pandangnya.

 

Sungmin memiringkan kepalanya, mengamati gadis itu lebih intens lagi. Gadis yang menarik perhatiannya habis-habisan itu sedang mengunyah semangkuk jajangmyeon dalam porsi besar dengan sangat lahap. Cara makan gadis itu mengerikan sekali, seolah-olah ia belum makan seharian ini. Meskipun begitu, Sungmin tidak merasa risih sedikitpun. Dia malah menyeringai kecil melihat betapa berantakannya gadis itu menghabisi makanannya. Sudut bibirnya terkena saus kecap dan gadis itu tak berniat untuk menghapusnya.

 

Gadis itu meneguk minumannya dan mengelap area sekitar mulutnya dengan tisu yang tersedia. Membuang tisu itu ke dalam tempat sampah lalu mengorek isi tasnya. Dia mengambil pelembap dari dalam sana dan mengoleskannya di permukaan bibirnya yang tipis. Dan hal itu cukup membuat Sungmin terpana untuk yang kesekian kalinya. Tanpa sadar kakinya bergerak, menghampiri gadis itu. Dan ketika dia sudah berdiri dihadapan gadis itu, dia hanya bisa terdiam tanpa tahu harus melakukan apa. Sedangkan beberapa orang dikantin mulai berkumpul dan menatap mereka berdua dengan penuh minat.

 

Gadis itu mendongak, membuat Sungmin bisa menatap langsung ke manik mata cokelatnya. Dia menatap Sungmin dengan wajah bingung. Pasalnya, ia mendapati seorang lelaki yang tak dikenal sedang berdiam diri didepannya dan mengamati dirinya dengan raut wajah aneh. Mungkin gadis itu terlalu bodoh hingga tak menyadari arti tatapan Sungmin. Tapi orang-orang yang berlalu-lalang disekelilingnya pasti dapat menebak kalau lelaki dingin itu sedang tergila-gila dengan seorang gadis.

 

“Ada apa?” tanya gadis itu tanpa mau repot-repot mengucapkan kata sapaan terlebih dahulu. Dia menunggu selama beberapa menit, namun tak kunjung mendapat respon. Sebagai gantinya, dia menggigit bibir bawahnya, nampak menimbang-nimbang antara harus pergi atau tetap disini. Dia penasaran akan maksud pria itu menemuinya. Tapi, dia juga harus menemui salah satu dosennya untuk mendiskusikan tugasnya.

 

Gadis itu tidak memiliki banyak waktu. Jadi, dia memberi sepuluh detik agar pria itu bisa menjelaskan maksud kedatangannya yang tiba-tiba. Tapi hingga ia selesai menghitung, pria itu tidak juga membuka mulutnya dan masih menatapnya dengan intens. Kontan saja hal itu membuatnya merasa canggung dan salah tingkah. Maka dari itu, dia memutuskan untuk mengambil tasnya dan segera pergi dari hadapan pria aneh ini.

 

Dia berjalan melewati pria itu. Dan dilangkahnya yang kedua, dia bisa merasakan seseorang menarik lengan atasnya dengan kasar. Sedetik kemudian, material lembut sudah bergerak-gerak diatas bibirnya. Membuatnya membulatkan kedua matanya dan menahan napas saat menyadari bahwa itu adalah bibir pria tadi. Lalu seperti tersengat listrik, Sungmin menjauhkan wajahnya dari gadis itu dan menilik gadis itu yang nampak terkejut.

 

Sungmin menelan ludahnya dengan susah payah, tiba-tiba merasa menyesal melakukan hal seekstrim itu. Bukan, bukan karena ia tidak menyukainya, tapi karena sesuatu yang sudah ia lakukan tadi berpengaruh sangat besar bagi kendali tubuhnya. Dia sudah memikirkan hal ini sejak beberapa hari lalu. Bagaimana jadinya jika ia menyentuh gadis itu sedikit saja? Dan dia tidak perlu mencari tahu lagi karena ia sudah mendapatkan jawabannya sekarang.

 

Dia mengabaikan sekelompok orang yang sudah mengelilinginya dan berbisik-bisik dengan heboh. Wajahnya ia tundukkan sehingga hidung mereka berdua saling bersentuhan. Kedua tangannya terkepal di sisi-sisi tubuhnya, menahan gejolak dirinya yang ingin menarik gadis itu ke dalam dekapannya dan mencumbunya sampai kehabisan napas. Matanya menatap gadis itu tajam, membuat gadis itu merasa terintimidasi dan anehnya berdebar-debar.

 

“Sepertinya aku menyukaimu. Bagaimana kalau kita berpacaran saja? Nona Han?”

 

***

SungHye’s Private Home, Gangnam

11:09 PM

 

Lima jam hanya duduk diam tanpa melakukan apapun tidak membuat Sungmin merasa lelah. Dia baru saja pulang dari flat salah satu teman dekat Jinhye, mencari gadis itu. Tapi nihil. Dia tetap tak menemukan keberadaan gadis itu. Ini sudah hari kedua sejak kepergian gadis itu. Dan yang ia lakukan selama itu adalah sibuk menemui teman-teman Jinhye. Lalu beiristirahat sejenak di kafe mertuanya  untuk mengisi perutnya yang kosong dan merenung di rumah. Dia menolak untuk bekerja dan menjalankan tugasnya sebagai seorang direktur sebelum ia berhasil menemukan gadis itu.

 

Seperti sekarang, masih dengan pakaian yang ia kenakan tadi, Sungmin melamun di salah satu sofa ruang tamu. Kedua bola matanya terpaku pada sebuah bingkai besar yang dipajang disana. Foto pernikahannya. Di foto itu, dia bisa melihat betapa cantiknya wanita yang bersanding bersamanya meski hanya mengenakan riasan dan gaun pengantin sederhana. Mata gadis itu terlihat sembab tapi tidak menutupi wajahnya yang berbinar-binar, terlihat sangat bahagia. Begitu pun dengannya.

 

Sungmin ingat saat itu dialah yang paling ingin menikahi gadis itu. Dia terlalu takut jika gadis itu akan menghilang dan meninggalkannya seperti kisah kelamnya bersama cinta pertamanya. Gadis itu sudah menjadi urutan teratas dalam daftar gadis yang tidak ingin ia lepaskan. Maka dari itu, dia memaksa orangtuanya yang sedang berada di luar negeri untuk segera pulang ke Korea dan melakukan pertemuan keluarga dengan ibu gadis itu. Dan proses pelamaran pun terjadi.

 

Sungmin tidak keberatan saat gadis itu memintanya melakukan suatu hal yang mudah dan tidak penting sekalipun. Tidak keberatan saat menyadari gadis itu tidak pandai memasak sama sekali. Tidak keberatan saat gadis itu menyuruhnya menemani belanja padahal dia baru saja sampai di rumah setelah melakukan berbagai kegiatan yang melelahkan di kantor. Tidak keberatan saat dia mengetahui gadis itu sangat amat membenci warna merah muda yang menjadi warna kesukaannya. Dia tidak keberatan memiliki kewajiban untuk menjaga gadis ceroboh itu di sepanjang sisa hidupnya. Tidak pernah merasa keberatan. Apapun. Jika itu menyangkut seorang gadis bernama Han Jinhye.

 

Dia selalu mencoba memberikan hal-hal yang disukai gadisnya dan menjauhkan hal-hal yang dibencinya. Sebisa mungkin dia akan membahagiakan gadis itu dan selalu menjadikan gadis itu prioritas utamanya. Termasuk menyingkirkan egonya demi mendapatkan wajah berbinar gadis itu dan senyum manisnya. Mungkin terdengar sangat tolol dan tidak masuk akal sama sekali. Tapi itulah kenyataannya.

 

Cukup sekali dia harus melihat gadis itu murung dan menangis dalam diam di pemakaman ayahnya. Dia tidak bisa jika mendapati wajah sedih gadis itu lagi, tidak mampu bernapas dengan benar jika segores luka terdapat ditubuh gadisnya, dan merasa sakit luar biasa jika melihat air mata gadis itu terbuang sia-sia. Terutama jika gadis itu mengeluarkan air matanya hanya karena menangisi pria tidak tahu diri sepertinya.

 

Sebut dia pria paling bodoh di dunia—atau apa saja, tapi dia begitu mencintai gadis itu. Dan dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan perasaannya yang semakin membesar setiap menitnya.

 

Awal-awal menikah menjadi sesuatu yang tak mudah dilupakan. Sehabis mengucap janji dan menggelar pesta, mereka langsung dibawa ke sebuah rumah mewah di daerah Gangnam. Rumah bertingkat dua dengan taman yang sangat luas itu dirancang sendiri oleh Sungmin. Sebenarnya, kedua orangtuanya sudah berniat untuk memberikan rumah dan segala fasilitas yang dibutuhkan sebagai hadiah atas pernikahan mereka. Tapi Sungmin menolak dengan sopan. Sudah cukup orangtua dan mertuanya membantu mengatur pernak-pernik pernikahan mereka. Dia tidak ingin ayah dan ibunya juga ikut andil dalam hal ini.

 

Bukan bermaksud sombong atau menjadi anak durhaka, namun Sungmin memiliki pemikiran lain. Dia yang memutuskan untuk menjadikan gadis itu sebagai istrinya dengan perencanaan yang matang. Statusnya yang sebelumnya hanya seorang anak dan pemimpin perusahaan kini sudah bertambah menjadi seorang suami dan kepala keluarga.

 

Dia memiliki pekerjaan tetap, fisik yang sehat dan kemampuan yang bisa diandalkan. Ketiga hal itu membuatnya yakin kalau dia bisa membiayai kehidupan mereka berdua—dan anak-anaknya kelak—bahkan lebih dari sekedar mewah. Jadi, dialah yang berkewajiban untuk menafkahi dan membahagiakan gadis itu. Memberikan segala sesuatu yang diinginkannya, membiayai kehidupan gadis itu.

 

Tidak menggunakan uang ayahnya, tidak pula uang ibu dan mertuanya. Tapi dengan uang yang ia dapatkan dari hasil jerih payahnya sendiri. Uang yang ia hasilkan dari kerja membanting tulang.

 

Ayahnya mengerti alasan Sungmin dan diam-diam merasa bangga. Beliau membiarkan anak lelaki pertama dan menantunya itu memilih tempat tinggal mereka sendiri. Dan Sungmin akhirnya memutuskan untuk membawa istrinya ke rumah pribadinya.

 

Mereka memulai malam pertama tanpa melakukan apapun. Kesunyian masih sering terjadi karena rasa canggung terasa mendominasi. Mereka menghabiskan ‘malam penting’ itu dengan makan bersama sembari bercengkerama, dilanjutkan menonton televisi hingga tengah malam dan bangun kesiangan di pagi harinya. Tidak ada hal-hal istimewa yang patut dikenang. Kegiatan yang ‘semestinya’ baru mereka lakukan terhitung tiga hari setelah menikah. Dan dia berani bersumpah bahwa itu adalah hal terhebat yang pernah ia lakukan.

 

Sungmin tersenyum miris. Terlalu banyak kebahagiaan yang digoreskan gadis itu. Terlalu banyak cinta dan kasih sayang. Sungmin tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan itu semua. Dia sudah jatuh terlalu dalam pada pesona gadis ceroboh itu dan menganggap gadis itu sebagai seseorang yang berpengaruh pada kelangsungan hidupnya, oksigen pribadinya.

 

Jadi, apa yang bisa dilakukannya jika gas paling penting bagi mahkluk hidup sepertinya memutuskan menjauh dari kehidupannya?

 

Dia memijat keningnya yang mendadak saja terasa sakit. Melakukan olah pernapasan agar setidaknya tubuhnya menjadi lebih terkontrol. Dia bangkit dari duduknya dengan pelan. Membiarkan kedua bola matanya menikmati foto pernikahannya selama beberapa menit sebelum dia memilih pergi menjauh dari ruang tamu dan berjalan menuju lantai atas. Langkahnya nampak terhuyung dan tidak fokus. Beberapa kali ia nyaris menabrak dinding ataupun perabotan rumah lainnya. Sejenak berhenti di salah satu anak tangga dan memegangi kepalanya yang terasa pusing.

 

Sungmin sampai di kamarnya dengan keadaan utuh. Dia membuka pintu dan menutupnya dengan pelan. Bersandar pada benda kayu itu sembari mendongakkan kepalanya, membuatnya dapat melihat langit-langit kamar yang berwarna putih terang. Tangannya terlulur untuk mengusap wajahnya. Lelah. Tubuh dan pikirannya sangat lelah. Hidup tanpa gadis itu membuat semangatnya turun ke titik terendah.

 

Dia memperhatikan seluruh penjuru kamarnya. Tidak ada kata rapi dan nyaman ketika matanya melihat keadaan ruang pribadinya ini. Bantal berantakan diatas ranjang, seprai terlepas, selimut tergeletak begitu saja di lantai, dan guling yang entah bagaimana caranya sudah berada dibawah kursi. Baju-baju kotor berserakan di sudut-sudut ruangan sedangkan piring dan gelas sisa makannya dibiarkan begitu saja diatas meja.

 

Dia tidak pernah merapikan tempat ini lagi sejak gadis itu pergi dan melarang bibi Jung masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak mau aroma tubuh gadis itu yang tersisa di kamar ini hilang karena seseorang berusaha merapikan tempat ini. Hanya disini ia bisa merasakan seolah-olah gadis itu berada disisinya.

 

Sungmin memejamkan matanya dan memutuskan untuk merendam dirinya dalam air hangat. Badannya terasa remuk. Padahal ia hanya berkunjung ke lima tempat yang bahkan tidak jauh dari rumahnya. Dia melangkahkan kakinya secara perlahan. Masuk ke kamar mandi lalu menutup pintunya tanpa terpikir untuk menguncinya. Dia berdiri di depan wastafel dan membasuh wajahnya beberapa kali.

 

Dia mematikan keran dan menghela napas dengan pelan. Lalu menatap pantulan dirinya di cermin yang ada di depannya. Dia dapat melihat rambutnya yang acak-acakkan, matanya yang sembab dan lingkaran hitam dibawahnya. Bibirnya pucat dan hidungnya memerah. Sementara kemeja putih yang ia kenakan nampak tidak pantas. Kemeja itu mulai keluar dari selipan celananya diikuti dengan beberapa kancing atasnya yang telah terbuka.

 

Sungmin bergerak mendekati shower. Berdiri dibawahnya lalu menghidupkannya. Membuat kemeja yang ia kenakan menempel sempurna ditubuhnya. Dia mengabaikan dinginnya air yang menyiraminya tanpa ampun dan memilih untuk menikmati sensasi menusuk yang ia rasakan. Sementara fisiknya tengah berusaha mengurangi rasa frustasi yang mendera, pikirannya malah melayang-layang entah kemana. Otaknya mengulang tiap kejadian yang ia alami bersama gadis itu. Dan hal itu cukup membuat kelenjar airmatanya kembali berproduksi.

 

“Lee Sungmin, apa yang kau lakukan?!”

 

Pintu terbuka, menampakkan sosok Cho Kyuhyun yang mentapnya dengan syok. Lelaki itu baru saja pulang dari kantor dan berniat mengunjungi Sungmin karena tidak masuk sejak tiga hari lalu. Jadi, dia memutuskan untuk datang dan membeli sekantong jeruk, berjaga-jaga jika lelaki yang dianggap sebagai hyungnya itu sakit.

 

Dia sudah sampai sedari tadi dan menunggu di depan karena lelaki itu tak kunjung membukakan pintu untuknya. Merasa kesal, lelaki berumur 24 tahun itu berinisiatif untuk menggedornya, tapi terbatalkan ketika tangannya tak sengaja menyentuh kenop dan menyadari bahwa pintu itu tidak terkunci. Kyuhyun merasa heran, jadi dia langsung menuju atas dan terkejut bukan main mendengar suara air yang berasal dari kamar mandi. Dan dia merasa lebih terkejut lagi mendapati Lee Sungmin yang melakukannya.

 

Kyuhyun berjalan dengan langkah besarnya dan dengan segera mematikan shower. Dia menarik kerah baju Sungmin, menunjukkan tatapan matanya yang tajam dan menyeramkan.

 

“Kau gila, hah?”

 

Kyuhyun tidak bisa meredam teriakannya sendiri. Dia begitu emosi melihat sahabatnya itu melakukan hal konyol seperti ini. Sekarang sedang musim gugur dan Sungmin dengan santainya malah membiarkan tubuhnya terkena air dingin. Pria itu ingin mati cepat sepertinya.

 

“Cho Kyuhyun…” panggil Sungmin lemah. Membuat Kyuhyun melepaskan cengkeraman tangannya di kerah pria itu secara perlahan. Sungmin mendongak, sehingga Kyuhyun bisa melihat wajahnya yang nampak menyedihkan. Apa yang terjadi pada lelaki ini?

 

“Gadis itu pergi.”

 

“Apa maksudmu?”

 

Sungmin tersenyum miris. “Gadis itu… meninggalkanku. Han Jinhye… dia pergi.”

 

Kyuhyun terdiam, mencerna semuanya baik-baik. Lalu merasa terkejut setelahnya. Dia kenal gadis itu. Dan Han Jinhye jelas bukan tipe gadis yang akan menyerahkan orang disukainya begitu saja. Gadis itu bisa bersikap sangat egois dengan segala sesuatu yang sudah menjadi miliknya dan tidak membiarkan siapapun mengambilnya. Jadi, ada apa yang terjadi sehingga gadis itu memutuskan untuk menyerah?

 

Seolah mengerti jalan pikiran Kyuhyun, Sungmin menjawab dengan suara lirih. “Dia melihatku mencium Soorin.”

 

“Apa? Mencium—astaga! Kau sinting.”

 

Sungmin tersenyum tipis, menertawai kebodohannya. “Benar. Aku pasti sangat tolol karena menyakiti hati gadis itu. Tapi, aku tidak menyesal melakukannya, Kyuhyun-ah. Satu-satunya hal yang kusesali adalah membuat gadis itu terluka terlalu banyak.”

 

Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya, menahan dirinya agar tak meninju wajah sahabatnya itu. Dia tahu kalau Sungmin sedang berada pada posisi tertekan saat Soorin kembali. Pria itu memang merasa di persimpangan pada waktu itu. Bagaimana pun juga, dia mengerti jika kisah kelam dengan cinta pertama di masa lalu akan terus berbekas dihati Sungmin. Dan Sungmin yang mengalaminya, pasti sempat terpikir untuk mencoba mengulang kisah mereka. Kyuhyun mengerti itu dan tak mau mempermasalahkannya. Tapi yang membuatnya begitu kecewa adalah cara pria itu yang tidak bisa ditolerir.

 

“Soorin meninggalkanku karena dia ingin berobat. Dia berbohong padaku agar aku tidak terluka, Kyuhyun-ah. Kau tahu bagaimana perasaanku saat itu? Aku merasa kalau aku adalah lelaki paling brengsek di dunia ini.”

 

Kyuhyun terdiam. Merasa terkejut untuk yang kesekian kalinya dihari ini. Nafsunya untuk menghancurkan wajah pria itu hilang sudah.

 

“Dia menangis. Dan itu membuatku tidak tega. Aku sudah memeluknya, menenangkannya. Tapi dia meminta. Dia ingin aku menciumnya. Setelah aku menyakitinya begitu banyak, menurutmu apa aku pantas menolaknya? Jadi, aku melakukannya dan berharap hal itu dapat ia kenang selamanya. Aku hanya ingin menghapus kenangan buruknya bersamaku dan menggantikannya dengan akhir yang manis.”

 

Kyuhyun menatap Sungmin dengan pandangan prihatin. Dia tidak menyangka kalau kejadiannya menjadi serumit dan sesulit ini. “Hyung…”

 

“Dia melihatnya, Kyuhyun-ah. Gadis itu melihat perbuatanku dan salah paham. Lalu dia pergi tanpa mau mendengar penjelasanku.”

 

Suara Sungmin mengecil diiringi dengan sebulir air mata yang jatuh membasahi wajahnya. Kyuhyun tidak pernah melihat lelaki dingin seperti hyungnya ini menunjukkan kelemahannya. Bahkan saat Soorin meninggalkannya, dia masih mencoba tegar dan tak menangis di depan orang lain. Tapi sekarang, dia malah terang-terangan memperlihatkan rasa sakitnya pada Kyuhyun. Dan hal itu hanya dikarenakan patah hati oleh seorang gadis bernama Han Jinhye. Semua yang Kyuhyun lihat, cukup membuatnya merasa iba.

 

“Cho Kyuhyun, bagaimana ini? Aku… aku merindukan gadis itu. Apa yang harus kulakukan?”

 

Sungmin menjambak rambutnya frustasi. Air matanya menetes tanpa bisa ia cegah. Rasa nyeri mendadak hinggap di dada kirinya. Apakah sakit ini pula yang dirasakan gadis itu ketika mendapati dirinya mencium gadis lain? Kalau benar begitu adanya, tidak heran jika gadis itu memilih menjauh dan meninggalkannya. Rasanya terlalu menyakitkan dan menyesakkan. Seolah udara disekelilingnya diambil secara paksa sehingga membuatnya kesulitan bernapas dengan benar.

 

Kyuhyun yang melihatnya hanya bisa termangu. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Hyungnya itu, benar-benar terlihat sangat kesakitan.

 

Isakan kecil mulai terdengar seiring dengan bulir-bulir air mata yang semakin deras mengalir turun di kedua belah pipinya. Tangannya yang bebas memukul-mukul dadanya, berharap hal itu dapat mengurangi—sedikit saja—rasa sakitnya. Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan teriakannya agar tak keluar.

 

Dan dia berpikir, mungkin mati adalah alternatif yang paling baik.

 

TBC

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s