[VIGNETTE] Forecast

jijung

Forecast

by Atikpiece

Main Cast :

Kim Yoojung | Yeo Jingoo

Genre : Fluff, Friendship, Romance, School-life

Rated : G

Length : Vignette

 

 

Summary

Jingoo hampir tidak percaya pada Yoojung jika selama 16 tahun lamanya gadis itu masih memercayai jumlah presentase ramalan cintanya bersama seseorang—idola terbaiknya sejak kecil.

.

.

.

Coba kita lihat mana yang lebih banyak.

Aku, atau dia?

.

.

.

 

“Yoojung.”

 

 

“Hm…?”

 

 

“Yoojung-ah…”

 

 

“…”

 

 

“Jung…”

 

 

“…”

 

 

“Yoo-ya!”

“Apa, sih??”

Jingoo memberengut usai mendengar Yoojung memekik lalu melotot ke arahnya. Raut gusar gadis itu terlihat karena Jingoo baru saja menginterupsi jalan pikirannya di saat ia sedang serius memecahkan soal Matematika di buku catatannya, sementara Jingoo lalu bersikeras untuk meringis demi menutupi isi hatinya yang diam-diam mengomel akibat pekikan teman sebayanya barusan.

“Jangan seperti itu, dong. Aku kan cuma mau tanya.”

Yoojung menghentikan gerak bolpoinnya sekaligus mendengus membelakangi Jingoo. Pria ini benar-benar tidak mengerti bahwa sekarang ia sedang tidak ingin diganggu barang sedikitpun. Bagaimana tidak, soal statistika yang berjibun banyaknya ini memang membuatnya harus berpikir ekstra untuk membabat habis semuanya (karena besok lusa harus segera dikumpulkan). Ia pikir ia dapat menyelesaikannya selama jam kosong yang kini sedang berlangsung. Tetapi, sepertinya itu tidak akan berhasil, karena sekitar satu menit yang lalu hingga sekarang, Jingoo benar-benar telah menghancurkan konsentrasinya.

Desahan Jingoo terdengar ketika Yoojung meliriknya, lalu mengerutkan alis mendapati pria di sampingnya memasang senyum—yang sepertinya memang agak dipaksakan.

“Tanya apa? Cepatlah sedikit. Aku sedang sibuk.”

“Kenapa kau marah?”

Yoojung mematung. Matanya membelalak diikuti alisnya yang terangkat tinggi. Ia menatap setiap lekuk wajah Jingoo, kemudian beringsut membelakanginya. Yoojung tak habis pikir mengapa setiap kali dirinya sedang menyembunyikan sesuatu, pria ini selalu bisa menebak isi dalam otaknya? Padahal dari perawakannya saja, Jingoo termasuk pria yang dikategorikan bukan sebagai anak jenius. Lihat, dia bukan keturunan ahli membaca pikiran.

“A—aku tidak marah.”

“Aku tahu kau sedang marah, Nona Kim.”

Lagi-lagi Yoojung membisu, melupakan sejenak tugas-tugasnya yang masih menumpuk. Karena mendadak mood-nya anjlok, ia lalu bergegas menutup bukunya hingga menimbulkan bunyi berdebam. Sejurus saja uap putih meluncur lewat bibirnya seiring keningnya yang berkerut samar. Oke, sepertinya ia berhak untuk menyalahkan Jingoo sekarang, karena semenjak pria itu bertanya, tiba-tiba saja ia teringat akan peristiwa 10 tahun lalu yang merupakan kejadian paling konyol dan menyebalkan seumur hidupnya, meskipun ia hanya mempeributkan masalah kecil.

“Akhir-akhir ini aku merasa ada yang berbeda darimu. Ada apa lagi, sih? Kau marah padaku?” tanya Jingoo kemudian cemberut.

Gadis itu menengok, mengulas raut membingungkan di hadapan Jingoo. “Mengapa aku harus marah padamu? Lagipula, tidak ada yang salah darimu.”

“Lalu kenapa? Kau tahu, aku tidak suka melihat wajahmu yang kusut itu setiap hari.”

Yoojung lebih memilih diam, tidak menanggapi ucapan pria itu walau hanya berdeham sekalipun. Dan tanpa mengulur waktu, sebuah jentikan jari sontak membuat Yoojung agak terkejut lalu menaikkan kedua bahunya.

“Aku tahu,” ucap Jingoo sembari membulatkan matanya dan tersenyum sangat lebar. Kelihatannya saat ini kepalanya sudah menyembulkan lampu bohlam dengan sinarnya yang terang benderang. Yoojung pun tidak yakin jika senyum Jingoo yang menurutnya pas-pasan namun memikat itu dapat mewakili pria yang—menurut gadis-gadis sepenjuru sekolah—teramat tampan itu menebak pikirannya dengan benar. Tetapi anehnya, di balik kedua sudut bibir Jingoo yang tertarik, hati Yoojung sama sekali tidak merasa tenang. Walau bagaimana pun, ia tahu benar bahwa pria ini pasti mengerti apa itu hanya dengan melihat eskpresi wajah.

“Biar aku tebak.” Jingoo menyipitkan matanya, kemudian mendekat hingga wajahnya berjarak sepuluh sentimeter dari pipi Yoojung, dan secara otomatis membuat Yoojung lupa bagaimana caranya bernapas.

“Ini pasti soal love tester yang kau coba waktu itu. Iya, kan?”

Wajah Yoojung mendadak memerah, lalu berkedip beberapa kali kemudian memekik.

“Ti—tidak! Bu—bukan seperti itu!”

“Ah, tidak usah menyangkal. Tebakanku benar, kan? Lihat, kau sampai salah tingkah begitu.” Jingoo tersenyum menggoda, menunjuk wajah Yoojung yang sudah semerah tomat disusul tawanya yang hampir memenuhi setiap sudut ruangan. Beruntung suasananya sedang ramai, bila tidak, bisa habis Yoojung dengan berbagai macam pertanyaan dari teman-temannya mengenai love tester yang saat ini sedang marak di kalangan remaja. Apalagi jika mereka mendengarnya langsung dari seorang Yeo Jingoo. Astaga, jangan sampai kejadian sewaktu ia digosipkan dengan Jingoo tengah berpacaran terulang kembali.

Sungguh, itu benar-benar mimpi buruk.

Masih menampakkan ekspresi memalukannya, kening Yoojung berkerut sembari mengerucutkan bibir. Entah hal apa yang bisa ia lakukan jika sudah melihat Jingoo cekikikan setelah mengetahui sesuatu yang ada di balik otaknya. Paras menyenangkan dari pria di sampingnya itu seolah mengejeknya, dan membuatnya jengkel setengah mati.

“Di saat seperti ini kau masih percaya dengan permainan bodoh itu?” Lagi-lagi Jingoo tertawa. “Aigo, Yoo-ya, kuberi tahu, ya. Mau kau mencobanya sampai hari kiamat pun, pasti hasilnya juga seperti itu. Kalian itu tidak cocok, tahu,” tambahnya, tanpa mempedulikan seberapa sakit hatinya Yoojung ketika mendengar kata ‘tidak cocok’ meluncur bebas melewati bibir Jingoo. Seakan tiada beban, ditambah Jingoo berkata dengan ekspresi cerah seolah tanpa dosa. Hal itulah yang justru membuat gadis itu bertambah sebal padanya.

“Atau jangan-jangan, kau masih menyimpan screen capture dari permainan itu?”

Yoojung terkejut disusul menelan ludah, dan sialnya, Jingoo melihat mimik terkejutnya itu dengan tatapan penuh selidik. Akan tetapi, dengan melihat ekspresi dari teman masa kecilnya itu, sepertinya Jingoo tidak harus mendengar jawabannya langsung dari bibir Yoojung, karena ia sendiri sudah tahu jawabannya.

“Kemarikan ponselmu.”

“Hei, tidak mau—eh, tunggu!”

Terlambat, Jingoo telah berhasil mengambil ponsel Yoojung dari dalam laci bangkunya, kemudian cepat-cepat menyentuh screen dan membuka kunci sambil menyeringai puas.

Yak, Jingoo-ya, kembalikan! Kembalikan ponselku! Hei!”

Jingoo tidak memedulikannya, sehingga ia tidak merasakan seberapa kuat dan sudah keberapa kalinya Yoojung memukulinya dan hendak merebut ponsel gadis itu dari tangannya. Seakan tubuhnya terlindung perisai baja, jika Jingoo sudah menemukan hal-hal memalukan yang berhubungan dengan Yoojung, mau dipukul sekeras apapun, ia tidak akan merasa sakit. Ajaib, bahkan ada saja orang seperti itu di dunia ini.

Namun sekarang, sepertinya Jingoo benar-benar telah membuka kunci ponsel Yoojung kemudian bergegas mengacak-acak isinya.

 

Ah, bagaimana ini? Aku harus bagaimana?

 

Oh, tidak, Jingoo pasti sudah melihatnya.

 

 

Kim Yoojung & Choi Seunghyun

15%

Maaf, sepertinya tidak ada kecocokan antara kamu dengan pasanganmu. Di dalam hubungan kalian akan ada banyak masalah. Keluargamu mengalami krisis ekonomi berkepanjangan dan pasanganmu berpotensi terkena penyakit epilepsi. Suatu hari nanti kamu akan menjadi tukang kayu, dan pasanganmu menjadi pekerja bengkel. Kalian tidak akan memiliki seorang anak dan kalian akan bercerai dalam waktu dekat.

 

 

“BAHAHAHAHA!” Tawa Jingoo pun meledak, seiring Yoojung yang tengah berusaha menekan rasa malunya di sela pria itu memegangi perut karena terlalu banyak tertawa. Padahal itu hanyalah love tester yang menunjukkan jumlah presentase rendah dan itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa itu lucu.

Dasar bodoh. Dalam hal apa sih, yang membuat ini begitu lucu di matanya?

“Aku tidak bisa membayangkan kalau gadis sepertimu bisa menjadi tukang kayu. Ditambah, Seunghyun-hyung terkena epilepsi. Astaga…” Jingoo kembali tertawa, seakan tidak memperhatikan jika Yoojung tengah bersungut-sungut menatapnya.

“Bukankah aku sudah bilang? Kalian itu tidak cocok. Lagipula, Seunghyun-hyung hanya menganggapmu sebagai adik, ditambah umur kalian yang terpaut sangat jauh. Tidak baik kau memaksakan dirimu sendiri, Yoojung-ah.”

“Aku tidak memaksakan diri, tahu!”

Yoojung berteriak, kemudian mengambil paksa ponselnya dari tangan Jingoo, meskipun pada akhirnya ia mendapat cibiran singkat dari pria itu. Adakalanya Jingoo terlihat sangat baik ketika membantu pekerjaan rumahnya, menjadi pekerja sambilan di kedai ayahnya, atau menyelamatkan anjingnya sebelum menabrak truk di malam hari. Akan tetapi, di mata Yoojung, Jingoo kali ini berubah menjadi seratus persen benar-benar menyebalkan. Sangat amat menyebalkan. Bukan hanya karena Jingoo telah menertawakannya, tetapi juga karena Jingoo teramat serius mengatakan bahwa Kim Yoojung dan Choi Seunghyun, idola terbaik Yoojung ketika masih 6 tahun, ditetapkan sebagai pasangan yang sangat tidak serasi baginya.

“Lagian, kau juga sama sekali tidak cocok kalau dipasangkan dengan Min Ah-unni.”

Secepat kilat Jingoo menoleh, menatap Yoojung dengan alis terangkat.

Apa yang baru saja anak ini katakan?

“Kau bilang apa, huh? Tidak cocok?” Jingoo memandang Yoojung tak percaya, lalu tersenyum meremehkan. “Kau tidak tahu, ya? Min Ah-noona itu cantik, sedangkan aku tampan. Tentu saja kami sangat cocok!”

“Hah? Sangat cocok katamu?” Yoojung membelalak, mendecakkan bibirnya sebal dan memasang raut wajah tak percaya yang selaras dengan Jingoo sebelum mendengar ucapannya yang dirasa cukup membuat hatinya memanas. Ia mendengus amat keras semenjak Jingoo sungguh membuatnya merasakan kesal yang berlipat-lipat. “Oke, kalau begitu, akan kutunjukkan padamu bahwa kalian itu tidak cocok!”

Yoojung memegang ponselnya kuat-kuat, mulai menyentuh huruf-huruf yang tertera pada layar sembari menautkan alisnya. Sementara Jingoo sengaja curi-curi pandang ke layar ponsel Yoojung, berharap hasilnya tidak semengerikan dengan milik Yoojung sebelumnya. Oh, ya, bukankah itu hanyalah sebuah love tester konyol yang jelas-jelas cuma menunjukkan ramalan presentase kococokannya dengan pasangannya? Ingat, hanya ramalan! Dan itu tidak pasti terjadi.

Namun, mengapa Jingoo merasa agak gugup sebelum mengetahui kebenarannya?

Hah, aku benar-benar tolol.

Jingoo berdecak kemudian mengusap anak rambutnya perlahan. Sebelum lensa matanya terfokus ke arah layar ponsel Yoojung, seketika rasa gugupnya mereda, mendapati Yoojung menggembungkan pipi seraya menutup mulutnya sendiri.

 

 

Yeo Jingoo & Shin Min Ah

25%

Maaf, tidak ada tanda-tanda kecocokkan antara kamu dengan pasanganmu. Keluargamu bisa dibilang cukup harmonis. Tetapi hati-hati, pasanganmu akan bersikap sangat sensitif dalam waktu dekat. Sudah ada banyak tanda-tanda keuanganmu bakal anjlok drastis, namun tidak menyebabkan rumah tanggamu jatuh miskin. Suatu hari nanti pasanganmu akan menjadi masinis, dan kamu akan menjadi babysitter. Kalian akan mempunyai dua anak laki-laki, tetapi yang satu akan mengalami cacat mental selama hidupnya.

 

“AHAHAHAHAHA!”

Yoojung tertawa lantang setelah Jingoo berhasil merebut ponselnya. Matanya pun membulat bak kelereng, kemudian berdecak tidak puas dan meletakkan ponsel Yoojung ke meja dengan raut jengkel, seolah gadis itu telah berhasil balas dendam dengan memperlihatkan angka yang sama rendahnya dengan punya Yoojung.

“Hahaha, ya ampun, Jingoo-ya…”

Jingoo menengok, menyipitkan matanya lalu mendengus.

“Itu tidak lucu.”

“Itu lucu sekali, bodoh.”

Yoojung masih meneruskan tawanya, lalu semakin lama semakin mereda hingga menyisakan senyum bahagia di wajahnya. Memang kelihatannya berlebihan, tetapi untuk Yoojung, melihat rendahnya jumlah presentase di layar saja sudah membuktikan bahwa dugaannya terhadap pasangan Jingoo-Min Ah ternyata benar. Mereka sungguh tidak cocok, maka tidak dapat dipungkiri lagi bila Yoojung teramat sangat senang mendapatinya.

“Ya, ya. Bagimu itu lucu, lucu sekali sampai kusangka mulutmu itu bakal robek.” Jingoo menyilangkan tangannya dan melirik Yoojung dengan angkuh. “Tapi setidaknya, jumlah presentasenya lebih besar 10% daripada kau. Otomatis aku yang menang, kan?”

Yoojung yang tadinya tersenyum, tiba-tiba melotot. “Hei, kita tidak sedang bertanding, kau tahu?”

Jingoo mendesah, tidak ingin menjawab pertanyaan itu dan beralih menatap ke luar jendela di sebelah kanannya. Sementara Yoojung masih berkutat dengan ponselnya sesekali melirik Jingoo dan melayangkan senyum cerianya meski hanya ditanggapi oleh tatapan sinis pria itu. Yoojung tidak begitu memedulikannya, dan ia pun merasa seolah mood-nya telah kembali normal. Merasa berterima kasih dengan permainan konyol yang ia mainkan bersama Jingoo barusan, seraya tersenyum ia mengambil screen capture jumlah presentase kecocokan pria itu dengan artis terkenal Shin Min Ah, lalu menyimpannya dan berakhir dengan mengembalikan ponselnya ke dalam laci.

Sebelum Yoojung bisa benar-benar mengonsentrasikan diri lagi dengan tugas di buku catatan Matematikanya—dan masih tidak memedulikan Jingoo tentunya—ternyata ia tidak menyadari bahwa pria yang duduk sebangku dengannya sudah menghabiskan waktu sekitar satu menit untuk memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi, termasuk menyimpan screen capture memuakkan itu kemudian mengerutkan alis dan menggumam.

“Kenapa disimpan?”

Yoojung menghentikan gerak bola matanya, lalu menoleh dan berkata, “Oh, kau melihatnya, ya? Ini lucu. Kenapa? Tidak suka?”

“Iya, aku tidak suka.” Jingoo memberengut. “Kenapa sih harus disimpan? Padahal gambar itu tidak akan membuatmu selamanya bakal tertawa. Masih bagus kalau presentasenya di atas 50%, dan aku akan senantiasa tersenyum selebar mungkin kalau itu terjadi. Tetapi itu tidak, Yoo-ya, dan itu tidak lucu.”

“Hei, ayolah, katamu ini hanya permainan bodoh. Jadi, kenapa kau menanggapinya seserius itu?” Yoojung menyikut lengan Jingoo dan masih mempertahankan senyumannya. Melihat pria itu mendesah panjang dan menggelengkan kepalanya membuat Yoojung berpikir bahwa tidak biasanya Jingoo akan sesebal itu bila mereka tengah memainkan sesuatu. Sesalah itukah dirinya, sampai membuat Jingoo mau tak mau mengerutkan keningnya sedalam mungkin? Toh, biasanya pria itu akan langsung kembali ceria setelah bermain, lalu sejurus saja melupakan apa yang baru saja dilakukannya.

Aneh.

Yoojung menggaruk kepalanya seiring masih menyibukkan diri dengan pikirannya. Tetapi kemudian ia menatap bingung ketika tiba-tiba saja Jingoo mengambil ponselnya lagi dari laci dan kembali mengacak-acak love tester itu. Entah apa yang bocah ini lakukan sekarang, meski pada akhirnya Yoojung suka melirik ke arah layar ponselnya sendiri.

Namun sebelum gadis itu benar-benar mencapainya, Jingoo pun segera memperlihatkannya pada Yoojung, hingga membuat si gadis tercengang saat itu juga.

“Bagaimana menurutmu? Bagus, kan?”

Mata Yoojung membelalak tidak percaya, kemudian memekik. “Yak, Apa-apaan ini? Kau apakan love tester-nya?”

Alis Jingoo berpaut, tetapi kemudian ia tersenyum. “Aku tidak melakukan apapun. Hanya mencobanya sekali lagi, itu saja.”

“Ta—tapi kenapa harus dengan nama—“

“Hei, sudahlah, tidak apa-apa. Toh, kau juga tidak perlu memercayainya. Yang terpenting adalah, aku suka melihat hasilnya seperti itu.” Jingoo terkekeh geli melihat raut wajah Yoojung yang terasa sulit sekali untuk ditelaah. Manakala kedua pipinya sendiri hampir menimbulkan semburat merah yang cukup membuat pria itu mau tak mau menampakkan senyum dikulumnya.

Oh, astaga, berani-beraninya dia mencobanya tanpa bilang-bilang padaku.

“Nih, aku juga sudah menyimpan screen capture-nya.”

Dan sekarang ia pun menyimpannya begitu saja tanpa meminta izin padaku?

“Hei, kau gila.”

“Iya, aku memang sudah gila, kurasa.” Desahan panjang itu keluar lagi dari bibir Jingoo, disusul menatap Yoojung dengan tatapan teduh dan menenangkan. Ia masih mampu tersenyum walau yang ada di depan matanya tengah berusaha menjaga tatapannya dan bersikap senormal mungkin. Akan tetapi itu terbaca jelas di mata Jingoo, dan secara tidak langsung ia telah menangkap basah Yoojung yang diam-diam menyembunyikan semburat bak tomat yang kini berhasil menghias di pipinya.

“Tetapi, sebagai teman baik, memang semestinya kau harus tahu bagaimana perasaanku.”

Gadis itu tidak berniat menjawab, karena memang ia tidak bisa menjawab. Dan ia juga lupa, bagaimana caranya menghirup udara dengan leluasa. Sekali lagi Yoojung menganggapnya terlalu berlebihan, namun ketika ia berpapasan dengan wajah Jingoo yang kini memperlihatkan senyum kecil disertai jemari yang secara perlahan menyentuh jemarinya, Yoojung hampir melupakan detak jantungnya yang tadi sempat berguncang hebat.

“Yah, ini memang di luar dugaan.” Jingoo menutup mulutnya sejenak disusul anggukan kecil.

“Namun kuharap kau bisa mengerti apa yang kumaksud.”

Bola mata Yoojung kembali mengarah ke layar ponsel, menatapnya lekat-lekat, hingga semenit dua menit ia kembali memandang manik Jingoo. Memang kelihatannya tidak begitu penting, namun dari sinilah, Yoojung berusaha untuk memahami sesuatu yang terasa menggelikan di perutnya. Meski di dalam hatinya ia juga kewalahan sendiri menenangkan kondisi jantungnya yang kini tengah asyik melompat, akan tetapi seburuk apapun, ia berusaha untuk membuat dirinya bersikap seolah-olah perasaan dan kata hatinya tidak dapat terbaca langsung oleh insting Jingoo.

“Kau—“ Gadis itu berhenti sejenak, tersenyum geli kemudian melanjutkan. “Kau pasti bercanda.”

Jingoo berjengit. “Hei, aku tidak sedang bercanda.”

“Kau yakin?”

“Aku serius!”

Yoojung langsung tertawa lepas saat melihat raut kesal yang kembali merayap di paras Jingoo, namun ia tahu itu tidak akan bertahan lama. Karena ia yakin jika di balik wajahnya yang tampan dan menyebalkan (karena ia sedang kesal), masih tersimpan rasa bahwa ia tidak akan terus-terusan memasang ekspresi seperti itu di depan wajah seseorang yang baginya kini teramat istimewa.

“Aha, jadi sekarang kau percaya dengan ramalan yang kau sangka bodoh itu, huh?” katanya seraya tersenyum menggoda seiring meliuk-liukkan jari telunjuknya di hadapan Jingoo. “Dasar kau pembual.”

“Ah! Aku tidak percaya! Tidak akan percaya meskipun hanya… sedikit.”

Yak, itu sama saja kau percaya.”

“Tidak, aku tidak percaya!” Jingoo berteriak seraya tersenyum sangat lebar, membuat Yoojung jadi ikut tersenyum lalu tertawa lagi, sampai keduanya mendengar bel pergantian jam diikuti seorang pria paruh baya masuk dan mempersiapkan materi Fisika hari ini. Walau pada kenyataannya Jingoo masih bersikeras untuk tidak berhenti tersenyum, tetapi di saat ia kembali melihat tingkah Yoojung yang diam-diam berkutat dengan ponselnya, tiada hambatan sedikitpun kedua sudut bibirnya naik untuk kesekian kalinya.

Well, itu memang tidak buruk, namun jangan sampai ia disangka para penghuni kelas orang gila apabila terus memperlihatkan senyumnya ke segala arah.

 

Hingga pada akhirnya ia merasakan bibir gadis itu mendekat ke telinga ketika kepalanya kembali menghadap ke papan tulis.

 

 

 

 

“Tapi, Jingoo-ya, apa kau percaya jika suatu hari nanti kita punya enam anak?”

 

*****

.

.

.

Kim Yoojung & Yeo Jingoo

90%

Kamu dengan pasanganmu bisa dibilang cocok dan serasi. Begitu pula ketika kalian telah menjadi suami istri. Kalian akan hidup bahagia, aman, dan tanpa masalah. Kalian tidak perlu memusingkan penghasilan dari pekerjaan, tetapi yang terpenting ialah kesetiaan. Suatu hari nanti kamu akan menjadi pramugari, dan pasanganmu menjadi aktor terkenal. Kalian akan dikaruniai enam anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Dan di dalam keluarga kalian nanti, kalian hanya akan merasa tercukupi oleh dua hal.
Yaitu cinta dan kasih sayang.

-Fin-

A/N : FF ini dibuat karena terinspirasi dari temen saya yang kebetulan lagi nyoba-nyoba love tester di ponselnya. Padahal waktu itu kita masih ada tes dua mapel buat UAS, tapi gara-gara mainan itu, kita-kita jadi nggak belajar deh😛 *anak pintar-_-* tapi biarlah, yang penting sekarang nilai UAS saya enggak jelek-jelek amat kok ye ye! xD *menari hula-hula*

Oke, maafkan saya karena banyak cingcong -_- Toh, saya sendiri juga nggak tahu fic ini layak publish atau enggak gara-gara bahasanya yang masih abal-abal. Tapi terimakasih buat yang udah baca. Dikomen boleh?😀

20 thoughts on “[VIGNETTE] Forecast

  1. Huaaaa aktor & aktris cilik jingoo sama yoojung>< keren-keren penulisan dan gaya bahasa nya bgus he he

  2. Waaaa xD, ngakak sendiri bacanya …
    Jail bngt deh nyoba” gitu wkwkw , bagus chingu (y) suka deh banyakin buat ff yeo-jung ya ^^ *ngarep

    • Halooo😀
      Yuup, selain jail juga menurut saya agak kurang kerjaan sih wkwk😄
      Makasih ya, nanti kalo ada waktu saya bikin fic yoojung-jingoo lagi deh😉

  3. wkwkwk geontaenya mana nih ?
    Haha/ parah suka bgt ama ffnya min :*
    Unik and fresh.. tau aja aku suka yeoyoo couple haha
    fighting min ^^

  4. Uwaahhh daebak thor! Ini couple kesukaankuu >< Ffnya kocak heheheeen keep writing thor! Nanti tulis ff YeoYoo lagi yaaa♥♥

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s