Because It’s You (Saranghae) Part 7

ul-300x192Title: Because It’s You (Saranghae) Part 7

Author: Keyindra_94

Cast: Yesung Super Junior, Yuri SNSD, Yoona SNSD, Siwon Super Junior,

Other Cast: Woohyun Infinite

Disclaimer: this FF is owned by my self,  all cast borrow by GOD, The Family, and SM Entertaiment.

Dont copy paste them without my permission.

So please don’t be a silent readers.

@*@*@*@*@*

Sepasang bola mata hitam yang terlihat teduh itu memandang penuh kasih dan kehangatan itu terpancar jelas dari sosok laki-laki yang kini terbaring dan memiringkan badannya menghadap sosok cantik yang kini masih terlelap dari tidur semalamnya. Lelaki itu tersenyum manis saat gadis yang dicintainya itu mulai menggeliat pelan dan mulai terbangun dari alam mimpinya. Ia membelai penuh kasih pipi gadis itu dan merapikan anak rambutnya jatuh agar tak menghalangi cantiknya wajah itu.

Gadis itu, Kwon Yuri mulai mengerjapkan matanya pelan saat sinar matahari mulai menyeruak masuk mengganggu tidurnya. Rasanya badannya sakit semua, saat ia mulai sadar dari tidurnya. Selain itu ia merasakan sebuah tangan hangat membelainya, sedikit! mengganggunya.

“Uugghh… “Lenguhnya pelan. Yuri mulai membuka matanya saat itu juga ia dapat merasakan genggaman tangan seseorang.

“sudah bangun hmm?.” Tanya suara itu. suara itu tak asing bagi Yuri. Ia yakin dan hafal betul jika suara itu adalah lelakinya. Siapa lagi kalau bukan lelaki itu, kekasihnya. Kim Jongwoon.

Yuri tersentak kaget seketika mendapati Jongwoon kini tengah berada disisinya, bahkan mereka kini berada dalam satu ranjang. Ia tersenyum sangat manis, bahkan terkesan hangat untuk menyambut pagi.

“opp..oppa…”.kagetnya. ia terbata dalam menyebut orang itu. Bagaiman tidak mendadak orang itu muncul dihadapannya bahakan kini tidur disampingnya. Setahunya mereka berdua sedang dalam keadaan bersalah paham, namun kesalah pahaman itu belum terselesaikan. Atau setidaknya Jongwoon masih marah padanya, tapi kenapa lelaki itu meuncul dengan manisnya dihadapannya saat ini?.

“tunggu sebentar, aku cek dulu, suhu badanmu sudah turun apa belum?. diamlah ditempat tidur.” Dengan cekatan dan telaten ia mengukur suhu tubuh Yuri yang sepertinya sudah mulai turun. Ia mendengus kecil seraya berpikir dalam beberapa detik. Suhu tubuhnya memang sudah turun tapi ia masih terkena demam. Lebih tepatnya demam musim dingin.

“Yul..” Untuk beberapa saat pandangan mata Yuri masih mencerna apa yang ada didalam pemikirannya kini. ‘kenapa bisa lelaki itu muncul didalam kamarnya?’

“Yul…Kwon Yuri..” panggilnya kembali. Tak sadar jika kini didekatnya sudah ada lelaki yang memanggilnya. suara itu mampu membuatnya berpaling. Ia menatap lurus kearah sana dimana kini tengah berdiri sesosok pria berpostur tinggi dengan senyum manisnya yang kini terduduk disebelahnya.

Apa yang kini tengah tersaji dihadapannya seakan mimpi bagi Yuri. Matanya tak dapat berkedip saat satu buah kecupan manis mendarat hangat dikeningnya. Ukiran senyum manis itu kini semakin dapat ia lihat dari jarak dekat saat pria itu merapikan anak rambut yang terjatuh didahinya.

“syukurlah panasmu sudah turun. Kau tahu bahkan tadi malam suhu tubuhmu mencapai 39 derajat dan bagaimana kau membuatku khawatir?. Sudah tahu musim dingin, kenapa masih saja senang pergi keluar?.” Lelaki itu sedikit merasa sebal karena sedari tadi malam Yuri lah yang membuatnya khawatir seperti ini. Bahkan ia tak memberitahukan sesuatu apa yang terjadi pada dirinya. Benar-benar.

“Ada apa? Kenapa sedari tadi diam saja?.” Jongwoon mulai bertanya. Jelas saja merasa sosok dihadapannya terlihat hanya diam saja. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Tidak satu kalipun wanitanya menjawab setiap kalimat yang ia lontarkan.

Apa yang terjadi pada wanitanya….?

“A—ku…Meng—apa oppa bisa berada disini?.” Balasan itu terlihat kikuk. Bagaimana tidak, saat pertama kali bangun Jongwoon-lah yang berada didekatnya.

“kau pingsan tadi malam saat pulang kerumah. Bahkan badanmu demam karena kehujanan. Bagaimana aku tidak khawatir dan berada disini?.”

Pingsan?. Demam?. Sejak kapan ia pingsan. Pikiran Yuri kembali menglalang buana mengingat-ingat kejadian tadi malam. Terakhir kali yang ia lakukan adalah berjalan pulang, karena hujan salju mulai turun cukup lebat. Dan tentunya…kejadian itu..

            **

Termenung duduk sendirian dalam diam disebuah halte yang cukup sepi siang hari ini. matany menatap lurus kearah jalanan yang terlihat basah akibat terguyur oleh air hujan. Hujan dibulan Desember seperti ini, tidak terlalu deras memang namun itu cukup membuat Yuri kembali memandang kosong pemandangan lalu lalang jalanan basah didepannya matanya. Masih terngiang dalam telinganya yang terespon jelas dalam otaknya sebuah pernyataan beberapa jam yang lalu, yang membuatnya tak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya. Saat ini ia tak tahu harus melakukan apa.

‘Selamat nona, anda positive hamil. Usianya menginjak 4 minggu. Janinnya sehat dan anda harus menjaganya dengan baik.’

Masih terekam jelas dalam ingatannya kejadian malam itu diwaktu hujan pula. Kejadian yang tak akan pernah dilupakannya, dan kejadian yang merubah hidupnya. Kenangan bersama pria yang dicintainya itu, pria yang berstatus sebagai ayah kandung dari calon individu baru yang ada didalam rahimnya.

Sejenak Yuri memejamkan matanya untuk menenangkan diri. Refleks ia menurunkan kedua tangannya diatas perut datarnya dan mengusapnya dengan lembut. Segalanya sedikit membaik memang, bagaimanapun ia harus tersenyum menghadapi kenyataannya. Ia tak mau calon  anak yang dikandungnya merasakan sedih sama seperti apa yang ia rasakan. Ya, mungkin inilah yang terbaik baginya.

20 menit pun berlalu, dan kelihatannya hujan sedikit mereda. Diputuskannya untuk segera melangkahkan kakinya dari tempat itu, sebelum tubuhnya semakin menggigil kedinginan. Digesernya pelan slide ponsel tersebut sebelum akhirnya ia mengernyit bingung dengan isi pesan pendek yang baru saja ia terima beberapa detik yang lalu.

 

From: Kim Jongwoon

Aku ingin bertemu dan Ada yang harus ku bicarakan denganmu!. Maaf untuk semuanya.

 

Senyuman tipis itu langsung saja tersungging dari bibir merah milik Yuri. Untuk beberapa saat Yuri mencoba menetralkan hatinya yang masih tak percaya akan semuanya ini. Jongwoon mengajaknya bertemu. Beberapa hari terakhir ini ia seperti orang gila memikirkan tentang cara memperbaiki hubungannya dengan Jongwoon atas salah paham oleh dirinya dan tentunya lelaki tengil sepeti Nam Woohyun.  

Satu hal yang masih mengganggu pikirannya. Bagaimana cara memberi tahu pria itu akan kehamilannya. Tapi sekarang yang terpenting bukan itu terlebih dahulu, tapi adalah bagaimana menjelaskan kesalahpahaman itu pada Jongwoon. Untuk berita kehamilannya itu sebaiknya ia memepersiapkan mental dan waktu yang tepat untuk memberitahukan semuanya. Dan tentunya ia harus siap dengan resiko yang akan diambilnya itu.

Langkah kaki itu akhirnya pergi menjauhi tepat tersebut. Tapakan kaki itu akhirnya terhenti begitu saja ditempat. Saat sebelum benda berkecepatan tinggi itu hendak menabraknya. Namun itu hanya ketakutan dalam pikirannya. Dan pada akhirnya mobil itu berhenti tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri untuk menyebrang.

Mobil sedan mewah buatan Eropa tersebut mendadak berhenti. Pintu pun terbuka menampakkan seseorang dengan pakaian nyonya besar keluar dari dalamnya. Dengan langkah kaki angkuh, wanita paruh baya datang menghampiri sosok Yuri yang masih menatapnya tak percaya.

“senang bertemu dengan anda Sajangnim..” ujar Yuri ramah. Ia membungkukkan badan 90 derajat tanda memberi hormat.

“kebetulan sekali kita tak sengaja bertemu disini. Tanpa harus repot-repot aku mencarimu. Kau jangan berpura-pura Kwon Yuri!!. Jangan kau tampakkan wajah manismu itu!!.” Ucapan sinis itu seketika menghentikan semuanya.

“Ada sesuatu yang harus segera ku bicarakan denganmu. Ini semua tentang Im Yoona. Putriku. Tentu kau mengenalnya!. Bukan orang asing bagimu bukan?!. Langsung saja Kwon Yuri, aku ta ingin bertele-tele.” Tatapan tajam itu seolah menyudutkan Yuri dalam segala hal. Namun bagi Yuri justru saat ini waktunya telah tiba.

Entah karena dosa yang telah diperbuat terlalu besar hingga rasanya takdir terlalu kejam bagi Yuri. Atau memang ini hanya kebetulan. Kebetulan yang tak disengaja. Tapi bukankah di dunia ini tak ada yang kebetulan? Semuanya sudah diatur oleh takdir, kan?

Kebisuan saat ini hanya bisa yang ia sajikan didepan wanita itu. Ia muak dengan semuanya. Muak dengan semua kemunafikan dan dusta yang telah dilakukan terhadap masa lalunya. Sejak saat dirinya diposisikan pada sebuah kenyataan yang ironis jika penyebab semuanya adalah Im Yoona dan Ibunya. Untuk saat ini ia tak mendapat satu kalimat hardikan atau ucapan apapun yang membuatnya ingin menghancurkan orang itu saat ini juga. Keduanya hanya bisa bertatapan penuh kebencian yang sangat jelas terpancar dari raut wajah keduanya.

Dan sekarang, tanpa terlihat sebagai manusia yang terhormat, wanita paruh baya itu segera menyeret Yuri masuk kedalam mobilnya, mengajaknya pergi menjauh untuk berbicara empat mata. Untuk apa lagi, tentu saja untuk membicarakan masa lalu pahit yang dialami Yuri akibat ulah ibu dan anak tak berhati itu.

Pandangan mata itu sangat sulit diartikan saat keduanya bertemu pandang untuk kesekian kalinya. Kwon Yuri menatap benci wanita munafik dihadapannya itu. Bagaimana tidak, selain wanitta bernama Yoona ada wanita jalang yang bernama Hyorin,juga yang ikut andil mengahncurkan hidup kakak lelakinya.

“Kita tidak saling mengenal!.”  Ucap Yuri datar. Tak ada sama sekali sopan santun dan kelembutan yang diperlihatkan. Hanya ada pertaruangan antar musuh bebuyutan yang terasa.

 “aku tidak ingin berbicara tentang itu!.” katanya dingin dan pelan. Ia tatap penuh selidik wajah Kwon Yuri. “langsung saja pada tujuan utamaku!.” Tekannya. Kilatan perasaan benci itu semakin mendarah daging dalam dirinya.

“sama seperti yang pernah kukatakan 6 tahun lalu sebelum kematian lelaki yang menghancurkan hidup putriku.”

Kalimat itu seolah menjadi cambuk bagi Yuri sampai kapanpun juga. saat fakta dan realita diputar balik oleh rekayasa omongan manis namun berbisa. Yuri merupakan salah satu korban dari kejamnya orang yang telah dibutakan harta dan tahta.Ketika dendam dan rasa sakit hati tengah menyelimuti, tidak pernah sekali pun ia hela napasnya dengan lega. Selalu resah yang dirasakan wanita itu rasakan. Ada rasa bersalah namun dia sendiri tidak mengetahui pada apa dia harus merasakan perasaan itu. Jika dia ingat sang oppa, dirinya akan berubah drastis. Seharusnya ia sudah merasa tenang, namun apa yang terjadi? Semuanya sama saja. Mungkin sampai mati pun ia tak akan pernah dapat memaafkan wanita itu bahkan terlebih lagi Im Yoona. Wanita jalang yang membuang putrinya sendiri.    

“perlu diralat nyonya Kwon Hyorin yang terhormat. Lebih tepatnya adalah akibat ulah putrimu yang membuat Lee Donghae meninggal!. Jika tidak karena insiden malam itu, tidak mungkin sekarang dia meninggal karena tersakiti akan cinta. Putrimulah yang menyebabkannya meninggal, dan membuat sakitnya semakin parah dan sengsara karena luka cinta yang membekas terlalu dalam hatinya. Tentu kau tahu penyebabnya. Tak lain dan tak bukan adalah putrimu sendiri sebagai biang keladinya.”

“perlu kau ketahui saja!. Aku bukanlah lawanmu orang bodoh!. Kau sama sekali bukan lawanku. Masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Aku tak ingin mengungkitnya kembali. Kenyataan jika putriku pernah melahirkan seorang bayi perempuan bahkan tak pernah ia akui sama sekali. Ia terlalu benci dengan hidupnya saat itu karena keterpaksaan mencintai Lee Donghae.”

“sebenarnya berapa banyak kebohongan dan kemunafikan dalam hidupmu?. Hingga karma menjadikan anda manusia nista seperti ini. tak heran jika purimu sama seperti anda. Bahkan sekarang putrimu adalah sampah dalam hidup putri yang pernah ia lahirkan sendiri. Tak pernah dihargai sedikit pun!.” Senyuman licik itu Yuri sunggingkan dibibirnya. Terlebih lagi melihat wanita itu terpojok adalah kesenangan tersendiri baginya.

Sudut hati Yuri merasakan sesuatu yang teramat menyesakkan. Wanita itu kembali mengungkit masa lalu diantara mereka. Terlebih lagi menjadikan Donghae adalah penyebab dari semua yang terjadi pada Yoona.

“sudah terlalu jauh aku hidup dan melangkah. Tentunya aku harus bersyukur atas kecelakaan yang menimpa putriku hingga menyebabkan ia terkena prospanogsia. Dan kehilangan semua ingatan masa lalunya.

Geram. Rasa itu kini yang menggebudalam diri Yuri. Rasanya ia ingin sekali membunuh wanita didepanya kini.

“kau tahu seberapa banyak kesalahan yang pernah dilakukan putrimu terhadapnya?. Tahu apa putrimu tentang cinta, jika semua yang dilakukannya membuat orang menderita!.

“Terlalu rumit dan mengada-ngada jika kau memaksakan semuanya nyonya. Sampai  kapan kau akan berbohong?. Kebohongan yang hanya bisa dipercaya oleh orang idiot seperti putrimu yang menderita hilang ingatan?!.” Yuri mencoba menengadahkan wajahnya, ia pandang sosok didepannya penuh kebencian. Bibirnya bergetar saat ia mencoba untuk bersuara, namun semua ini haruslah diperjelas.

Dengan air mata yang tertahan dan akan segera mengalir liar dari pelupuk matanya, Yuri tetap coba kuatkan diri. Tidak mendengar sepatah kalimatpun yang diberikan wanita itu sebagaii tanggapan membuat dirinya merasa yakin jika wanita itu juga memang menghendaki apa yang dia ucapkan.

“dan contoh orang idiot adalah seperti anda nyonya. Terlalu naif pada kenyataan jika semua yang terjadi tak lain dan tak bukan adalah ulah putrimu sendiri. Dan apa yang terjadi, putrimu sendirillah yang mengemis cinta pada Lee Donghae.” Lanjut Yuri.

Hyorin beranjak dari tempat duduknya. Ia hadapkan dirinya tepat didepan Yuri. Wanita itu pandang datar namun tersirat sebuah marah yang suatu saat akan meledak seketika.

Plakk…

Satu tamparan keras Hyorin berikan pada sebelah pipi Yuri. “kau sama sekali bukan lawanku. Tidak peduli siapapun yang menghalangi jalanku, tidak aka nada maaf baginya. Karena itu jangan terlalu sok pintar untuk memeritahu sesuatu. Lebih baik kau pergi menjuh dengan anak haram itu dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku!.” Dengan nada suara berubah manis, Hyorin menyibak rambut Yuri dan menyuruhnya untuk pergi menjauh.

“pikirkan itu kembali Kwon Yuri!. Aku tak akan pernah membiarkan satu orang pun terutama dirimu mengusik kembali ingatan masa lalu dengan lelaki miskin macam Lee Donghae. Dan jangan pernah memberi tahu jika aku pernah memiliki cucu dari putriku sendiri!. Atau ku hancurkan hidupmu!!”

 

**

Dalam hening dan jalan yang tertatih Yuri mencoba menahan rasa sakit didadanya. Fakta kembali tertutupi, sesungguhnya ia hanya ingin orang yang pernah menyakiti Lee Donghae menyesal dan meminta maaf. Tapi justru sebaliknya, mereka yang mengajak Yuri untuk menutupi semua fakta menyakitkan ini.  

Kebencian memang tidak pernah memandang siapapun. Tidak melihat dari segi dia saudara, orang tua, atau teman. Terlebih lagi jika kebencian itu sudah mengakar. Perasaan buruk itu sudah melingkari hati seseorang, maka siaplah untuk jatuh dalam dasar kepahitan karena hidupnya yang tidak akan tenang dan selalu resah.

Masih terekam jelas bak roll film yang mengalir begitu saja dalam pikirannya. Kebencian yang begitu dalam pada masa lalunya hanya karena satu orang. Im Yoona. Yang ada sekarang hanya ingin membuat satu orang itu merasakan kesakitan yang dulu pernah ia dan mendiang Donghae rasakan.

 

“aku ingin setelah ini semuanya berakhir. Kita bercerai, dan jangan pernah menganggapku masuk kedalam hidupmu. Karena aku sama sekali tak mencintaimu.”

“Yoong—tap..tapi..” pria bermarga Lee yang kini sudah berubah marga menjadi Kwon itu memandang tak percaya wanita hamil didepannya. Ia tak percaya dengan semua yang terlontar dari mulut istrinya itu.

“sejak awal aku sudah mengatakan jika aku tak menginginkan anak haram ini. dan kata-kataku mencintaimu adalah sebuah pelampiasan belaka. Kau terlalu naif untuk semua itu dan kau menganggapnya terlalu nyata!.”

“aku tahu kesalahanku tak bisa termaafkan. Aku telah menghancurkan masa depanmu. Tapi saat itu kita melakukannya atas dasar cinta dan ketidaksadaran!.”

“kau bilang cinta?!. Kita berdua sama-sama mabuk. Dan saat itu pula kita melakukannya, bukan karena cinta. Dan aku menyesal telah mengenalmu, jika kejadian itu akhirnya menghasilkan anak haram yang kukandung ini!.” Pekik Yoona dengan penuh amarah dan air mata yang sudah mengalir.

“jika bukan karenamu mungkin aku sudaah menggugurkan anak haram ini. dan perlu kau ingat Kwon Donghae. AKU TIDAK PERNAH MENGHARAPKAN ANAK INI LAHIR!!. Kau terlalu buta akan cinta Donghae!.”

“IM YOONA!. DIA BUKAN ANAK HARAM!!. AKU AYAHNYA!!.

“kau tahu selain kau kehilangan masa depanku. Aku juga kehilangan semuanya karenamu!. Bahkan aku menyesal pernah mencintaimu sesaat! Buta akan pesonamu!.”

“dan satu lagi jangan sebut dia anakku. Karena aku bukanlah ibunya!!. karena sama sekali aku tak mengharapkan kehadiran anak ini.”

 

“kau jahat Im Yoona..” tubuh Yuri kian bergetar hebat. Tubuhnya sudah mulai menggigil karena butiran salju yang mulai turun semakin lebat harus tetap ia pertahankan agar hatinya bisa kuat. Ia menangis dan hanya mampu  diam. Meski tanpa sadar air matanya mengalir deras mengalir dipipinya.

“Aahhkk” Tubuhnya berhenti seketika. Ia mulai meringis merasakan sesuatu yang seolah bergejolak di bagian perutnya. Yuri mencoba bersandar pada dinding dan berjongkok untuk meredakan sakit diperutnya beberapa saat. Napasnya mendadak tiba-tiba saja tersenggal. Bukan karena tangisan yang terlalu lama.. Melainkan sebuah napas yang bercampur dengan rasa sakit di bagian perut itu.

Samar-samar ia melihat langkah kaki yang berjalan cepat menghampirinya. Satu hal yang ia lupa. Jika ia tak boleh banyak pikiran, karena didalam tubuhnya ada seorang individu baru yang akan tumbuh. Meski lemah kedua mata itu masih bisa melihat secara jelas siapa orang yang berada didekatnya dan menolongnya. Namun karena terlalu lelah, Kedua matanya semakin mengabur dengan kini tertutup seketika. Ia lelah. Yuri merasa tubuhnya terasa sudah lelah yang pada akhirnya membuat ia jatuh pingsan. Terlalu banyak beban yang harus ia pikul hingga seperti ini.

Rasa panik itu dengan cepat menyelimuti benak dan pikiran lelaki itu. Tubuh gadis itu kedinginan, suhu tubuh Yuri terasa panas. Tak banyak berkomentar, dengan sekuat tenaga ia coba bawa tubuh Yuri pergi ketempat dimana ia dapat membuat kondisi wanita itu membaik.

**

“sudah istirahatlah dulu. Akan kuambilkan obat dan makanan. Jangan terlalu banyak bergerak.”

Dan kini Jongwoon dengan telatennya menjaga Yuri yang terbaring sakit karena suhu badan Yuri tak kunjung reda. Sejak semalam, pria itu belum sadarkan diri. Tanpa lelah, Jongwoon tunggui dan rawat Yuri engan penuh sayang. Memakaikan handuk dingin dikeningnya, mengecek suhu badannya, sampai tak tidurpun Jongwoon relakan asal dia dapat terus memastikan kondisi Yuri.

Masih tetap sama, perkataan yang terlontar dari lelaki itu tak ia hiraukan kembali. Pikirannya masih berpusat pada kejadian kemarin. Haruskan rasa sakit dan penderitaan itu datang kembali?. Setelah bersusah payah keluar dari masalah yang tak berujung itu.

Yuri posisikan badannya berpaling dari lelaki yang masih terduduk disampingnya, ia memalingkan tubuhnya untuk memunggungi Jongwoon. Air matanya mengalir tanpa sebuah suara isakan. Lagi-lagi ia hapus lagi air matanya yang sudah terlalu sering untuk ia tumpahkan. Ia tak tahu lagi sampai dimana batas kesabaran dalam cobaan yang dilaluinya itu. semuanya sudah ia relakan saat ia terima semua itu dengan tangan terbuka. Semua yang ia alami Yuri anggap sebagai bagian dari alur jalan hidup yang harus ia jalani. Semuanya memang tidak akan pernah selalu berjalan mulus. Selalu ada sisi berliku yang harus manusia alami walau mungkin kadar berlikunya akan berbeda dari setiap orang tersebut mengalaminya.

“kau ada masalah lagi?.” Tanya Jongwoon lembut. “apa ini menyakut dengan Yoona?.” Lanjutnya.

Yuri mulai tersiksa sendiri pada perasaannya. Ia bingung harus bersikap seperti apa karena rasa egios dirinya yang mengatakan jika ia terluka masih saja mendominasi. Ia lupa jika dibalik kepahitan yang ia alami, ada sosok yang sebenarnya sama terluka seperti dirinya katakanlah itu adalah Hana, Lee Hana.

“cepat atau lambat Hana pasti akan mengetahui siapa ibu kandungnya. Dan aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat waktu itu datang. Apa aku terlalu jahat menyembunyikan semua ini?.” Yuri mulai membalikkan matanya, menatap wajah Jongwoon lalu untuk beberapa detik ia pejamkan matanya yang memanas.

“ada kalanya kepahitan dalam hidup kita yang kita terima adalah awal dari indahnya kehidupan yang diberikan Tuhan. Dan jika pun waktu itu datang, Tuhan sudah menentukan kapan terjadinya karena itu bagian dari takdir. Tuhan tak pernah tidur, ia menyaksikan semuanya apa yang dilakukan oleh umatnya. Apa kau tahu rencana Tuhan?. Tuhan selalu merencanakan yang terbaik bagi umatnya. Hana, adalah sosok yang tegar dan menerima apa adanya. Aku yakin dia mengerti jika kau melakukan ini untuk kebaikannya. Namun akan lebih baik lagi jika rahasia itu kau sendiri yang membukanya. karena setiap manusia yang memiliki rasa benci, pasti ada sisi kehangatan dalam hatinya untu menerima semua keadaan.”

Yuri memang terdiam untuk berpikir pada apa yang Jongwoon utarakan. Banyak yang wanita itu pertimbangkan dari ucapan itu. Sudut hatinya bertanya apakah ia harus membuka semuanya. Titik balik terselesaikan masalah saat ini ada pada dirinya. Ia harus segera menyelesaikannya apapun yang terjadi. Cukup lama Yuri terdiam dan berpikir akhirnya Yuri mengangguk pelan. Lalu memeluk lelaki itu dengan hati yang cukup lega.

“semuanya pasti akan baik-baik saja. Pelan-pelan kau beritahu Hana. Pasti ia akan mengerti.”

“aku akan melakukannya. Memberitahu Hana, meski terkesan pahit namun itulah yang terbaik bagi Hana. Setidaknya ia tahu jika ia masih memiliki ibu yang pernah melahirkannya, walau Yoona tak pernah menerima kehadiran Hana dalam hidupnya.”

Yuri menatap kosong hingga beberapa saat senyuman manis itu ia sungginggan pada Jongwoon. Hatinya cukup mengecap rasa lega karena ternyata dengan keputusannya, kini ia merasa telah berada pada tempat

Sebuah kelegaan menghinggapi hati Yuri.

“Jangan menangis lagi” katanya dengan ia masih menatap wajah Yuri. Tidakkah menangis justru akan membuatmu tambah lebih sakit dan tentunya wajahmu akan cepat menua.” Jongwoon hapus airmata itu dengan ibu jarinya.

Yuri sedikit kesal dengan ucapan itu. Apa kekasihnya terlalu senang jika melihatnya sakit?. Ia pukul pelan dada Jongwoon karena ia menggoda orang yang sedang sakit.

Merasa sudah tenang keadaan Yuri. Jongwoon segera beranjak keluar untuk menyiapkan segalanya. Namun sebuah tangan sukses menarik kemeja yang dikenakan Jongwoon tanpa berani memandang wajah itu.

“maaf merepotkanmu.” Ucap Yuri lirih.

Jongwoon tersenyum kecil sebelum ia pergi melangkah keluar “aku juga minta maaf. Karena waktu itu aku terlalu lelah dengan pekerjaan hingga mood ku memburuk dan membuat salah paham kita.” Jongwoon mengangkat tangannya dan membelai rambut Yuri.

“tentang kejadian waktu itu aku minta maaf. Sungguh aku tak ingin kau menjadi salah paham. Aku dan lelaki bernama Nam Woohyun itu hanya teman saja, kami sudah berteman selama 12 tahun.” Ucapnya merasa bersalah.

“hey. Sudahlah jangan menyalahkan dirimu sendiri.”  Jong Woon menyentuh pipi Yuri dengan kedua tangan-nya, menaikkan wajahnya agar bisa menatapnya secara langsung.  “sekarang sudah saatnya minum obat. Apa kau mau sakitmu bertambah parah?.” Kali ini pria itu mengalihkan pembicaraan yang membuat Yuri seketika itu hanya bisa tersenyum kecil.

**

Lagi-lagi mendadak Yuri melenguh sakit kembali. Dia duduk dalam diam. Kedua matanya sedikit ia picingkan dengan ia pegangi sebelah kepalanya menahan sebuah denyutan hebat. Ia pijat-pijat pelan dengan jemarinya. Rasa itu kembali datang lagi. Apakah yang sering dirasakan oleh orang hamil?.

Dengan gerak secara tiba-tiba tubuhnya mulai bangkit. Langkahnya ia tujukan kearah toilet. Di atas sebuah wastafel ia keluarkan semua yang ada pada tenggorokannya serta mencengkeram perutnya. Namun nihil, tak ada sesuatu apapun yang keluar dari dalam tenggorokannya, selain saliva bening. Yuri elap bibirnya yang baru saja ia basuh dengan air. Lalu ia menatap dirinya pada pantulan cermin toilet. Wajahnya benar-benar pucat. Merasa mual diperutnya sudah membaik, Yuri membalikkan badannya hendak kembali ke tempat tidur.

Mendadak Yuri terdiam begitu saja ditempat saat mendapati sosok Jongwoon tengah berdiri tepat dihadapannya saat ia membalikkan badannya. “apa kau sedang tidak baik-baik saja?.” Tanya Jongwoon menelingsik, ia pincingkan matanya tepat menghadap Yuri seolah menyelidiki.

“anii..Gwencana..” kilah Yuri.  Ia masih mematung dengan mata tak berkedip untuk beberapa saat.

“jangan berbohong aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja?.” Selidiknya.

“Sudah ku bilang kan? Aku tidak hhmmmppp..” Yuri menutup rapat mulutnya kembali dengan telapak tangan saat tiba-tiba ia merasakan ada dorongan kuat dari dalam perutnya yang mendesak untuk keluar lagi.

Oh Tuhan. Kenapa semuanya harus seperti ini. ia belum siap memberi tahu Jongwoon tentang bagaimana keadaannya yang sebenarnya.

Yuri mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk di depan wastafel dan menatap dirinya di cermin yang ada dihadapannya. Ia masih bisa merasakan jika tengkuknya ada yang memijit. Ditangkapnya bayangan diri Jongwoon yang berdiri dibelakangnya masih sambil memegang pundaknya. Tersenyum. Apa?. Tersenyum?. Apa ia bersyukur melihat keadaanya seperti ini?.

“Wae? Apa kau pikir ini lucu?” tanya Yuri ketus, merasa kesal melihat seorang Kim Jongwoon itu tersenyum sementara dirinya sedang dalam keadaan yang menyedihkan.

“Kemari..” ucap Jongwoon sambil membalikkan tubuh Yuri untuk berhadapan dengannya. Jongwoon menarik tubuh Yuri lembut kedalam pelukannya, memeluknya erat.

“kau jangan suka meyembunyikan sesuatu dan berbohong dengan lihai wanita licik!. Kau pikir aku tak tahu keadaanmu yang sebenarnya Humm?.” Ucapnya sambil memeluk Yuri. Yuri menjauhkan tubuhnya, melepaskan pelukan mereka.

“berbohong?.. aku tak pernah berbohong padamu?.”

“sampai kapan kau akan berbohong dan menyembunyikan semua ini dariku?. Aku tahu ada dia sedang berada disini.” Ujarnya lagi. Ia mengelus perut datar Yuri lalu tersenyum memandangnya.

DAMN..

Kata-kata Jongwoon membuat Yuri gelagapan dan terdiam seketika. Ia tak percaya dengan semua ini. Jongwoon sudah mengetahuinya?. Bagaimana ia bisa tahu. Tapi bagaimanapun juga, cepat atau lambat Jongwoon pasti akan mengetahuinya.

“kau jangan berkilah lagi jika kini kau sedang mengandung anakku. Aku tahu aku yang telah melakukan itu padamu. Dan tentunya yang sekarang kau kandung pasti calon anakku.”

Masih terpaku. Yuri hanya bisa bungkam dan membisu tak percaya. Sepertinya kegilaanya akan terus-terusan menghantuinya. Setelah frustasi memikirkan bagaimana cara memberitahu pria itu dan respon apa yang akan diberikan oleh Jongwoon yang bertolak belakang dengan harapannya. Kini ia semakin frustasi meski sebagian masalahnya dengan Jongwoon telah selesai, tapi darimana pria itu tahu jika dirinya tengah hamil?.

“darimana kau mengetahu—uinya?.” Ucapnya terbata karena gelagapan.

“simple dan mudah saja. Aku ini seorang dokter. Semalam kau pingsan, dan aku menemukanmu didekat rumahmu sendiri dalam kondisi memegangi perut. Aku pikir jika kau menderita usus buntu atau karena kedinginan. Lalu setelah aku memeriksamu lebih lanjut ternyata kau positif ..hamm—mil..dan tentunya yang lebih meyakinkan lagi adalah amplop berwarna putih yang terjatuh dari dalam tas mu itu bertuliskan positif itu itu adalah bukti konkrit dari hasil pemeriksaanmu nona Kwon Yuri.”

“Amm—plop?..”

“Hmm..amplop…” Jongwoon mengangguk mengiyakan. “amplop bertulisakan jika kau divonis dokter tengah mengandung anakku dalam usia 4 minggu.”

“aku bahkan sama sekali belum siap untuk memberitahukannya…” Respon Yuri dengan suara yang sangat kecil, nyaris seperti berbisik.

“Yuri-ya..” panggilnya pelan yang seketika itu langsung membuatnya tersadar dari lamunan sesaat. “Maaf karena telah membuatmu merasa menanggung semua beban ini sendirian”

Ia gigit bibir bawahnya merasa geli saat hembusan napas pria itu mulai menggelitik area lehernya dengan lembut dan hangat. Oh dear.. pria itu terlalu mencintai dirinya. Ia hembuskan napasnya berulang kali untuk menetralkan hatinya sambil merasakan degub jantungnya yang cepat.

“jadi..apa kita akan mempercepat pernikahan kita dalam waktu dekat ini?. Aku tidak sabar untuk segera menikahimu. ”  terang Jongwoon.  Yuri terkekeh  lalu melayangkan pukulan pelan pada lengan Jongwoon.

“bagaimana jika tidak?.” Ujar Yuri menggoda yang langsung membuat Jongwoon bereaksi merengut sebal.

“ya!. Bagaimana bisa kau menolak pernikahan ini. aku adalah ayah dari anak kita!.” Pekiknya kesal.

*****

Wanita itu melajukan mobil dengan kecepatan diatas rata-rata membelah jalan ibukota Negara yang sangat padat akan lalu lalang kendaraan. Ia tepikan secara mendadak mobil yang ia kendarai dihalaman besar apartemen elite lalu bergegas turun dari mobil dan masuk kedalam apartemennya. Pikirannya begitu kacau hingga membuatnya tak berniat melanjutkan pekerjaan yang seharusnya diselesaikan di kantor hari ini. Biarlah, dia merasa harus mengambil izin cuti setengah hari kalau tidak mau pekerjaannya ikut kacau.

Im Yoona wanita itu melangkah memasukki apartemen mewahnya dengan pikiran yang bercampur aduk dan melemparkan tasnya secara asal keatas tempat tidur sebagai pelampiasannya. Yoona mengikat rambut dan menatap pantulan dirinya didepan cermin.

Bodoh. Yoona sendiri tak tahu sejak kapan linangan air asin itu bergulir diwajahnya. Dia hanya sibuk menetralkan hatinya, memastikan jika apa yang baru saja didengarkanya tadi adalah sebuah diagnosa yang salah.

“hasil  CT-Scan mengatakan jika semuanya dalam keadaan baik.”

            “lalu sebenarnya apa yang terjadi padaku uisanim?. Belakangan ini kepalaku terkadang merasakan sakit yang luar biasa. Dan terkadang juga aku bisa mengingat suatu kejadian yang tak kuketahui sama sekali. Sering sekali tiba-tiba muncul gambaran bersama orang tersebut dikepalaku.”

            “apa anda pernah mengalami insiden kecelakaan yang masih terekam dalam ingatan anda?.”

            “ne..kecelakaan itu membuatku kehilangan sebagian ingatanku karena prospagnosia. Tapi dokter memvonisku telah sembuh dari penyakit itu. Apa sebenarnya yang terjadi padaku ini?.”

            “nona Im. Tolong lanjutkan ceritanya!.” Perintahnya sekali lagi.

            “kapan hari juga begitu, saat aku bertemu dengan anak kecil itu. Ada sebuah ingatan dalam memory ku tentang sesuatu yang bahkan aku tak mengetahuinya sama sekali. Sepertinya ingatanku kembali pada masa lalu, namun aku bahkan tak ingat sama sekali.”

            “Ada lagi?.”

            “apa kau ingat sedikit saja masa lalumu sebelum atau sesudah kecelakaan itu terjadi?.”

            “aniimida. Semuanya cukup sampai disana.”

            Dokter itu mengangguk lalu melanjutkan arah kemana pembicaraannya itu. “prospagnia yang kau derita sudah sembuh, namun amesia berkelanjutan membuat ingatanmu satu-persatu ingatanmu hilang. Benturan keras yang kau alami saat kecelakaan itu membuatmu kehilangan sebagian memori masa lalumu dan lupa jika pernah memiliki masa lalu.”

            “apa aku tak bisa mengingat masa laluku kembali?.”

            “kemungkinan itu ada namun hanya sedikit. Tapi masih ada cara lain. Sakit dikepalamu akibat kau terlalu banyak memkirkan masalah. Namun neuron diotakmu kembali mengingat dan bekerja saat kau pernah mengalami masalah itu seperti De Javu.”

            “satu hal yang bisa kau lakukan. Jangan pernah melarikan diri dan menghilangkan pikiran itu.   Buka matamu lebar-lebar!. Cobalah untuk mencari kembali ingatan tersebut!.”

            “nde?.”

            “menurutku nona Im Yoona. Karena tidak bersedia mengingat kembali ingatan tersebut, karena tidak ingin mengakui, kau lebih memilih untuk menghindar. Karena tidak ingin terluka kau menyembunyikan diri. Didalam sebuah tempat yang aman, yaitu secara paksa menghilangkan memori itu yang disebut dengan ‘Kehilangan Ingatan’, dan saat kau bertemu dengan orang yang kau ceritakan tadi, kau seperti membuka memori pikiran lamamu yang telah kau hilangkan.”

            “a—ku. Aku tidak mengerti apa yang baru anda katakana?.”   

            “analisisku mengatakan. Didalam hidup nona Im Yoona…ingatan yang membuatmu menderita dan ingin mati, harus kau gali semuanya. Jangan takut!. Jangan gentar! Karena yang menjadi hambatan bagi ingatan Im Yoona dimulai dari sana.

Kedua tangan yang menangkup dan berisi air itu akhirnya membasuh muka Yoona yang terlihat seperti orang frustasi. Frustasi akan hidupnya, dimana ia sama sekali tak bisa mengingat-apa-apa tentang masa lalunya. Inilah kehidupan, semuanya seperti misteri, bahakan masa lalu seharusnya yang menjadi pelajaran bagi setiap insan untuk bercermin guna mendapankan masa depan yang lebih baik bahakan hilang bak ditelan bumi. Menyedihkan, kata itulah yang pantas untuknya. Apakah sebenarnya yang terjadi pada masa lalunya?.

Pikiran atas spekulasinya yang masih transdental itu seakan berimajinasi membayangkan wajah seseorang. Saat ia mengamati secara detail wajahnya. Ia teringat sesuatu, ia merasa jika wajahnya mengingatkan pada sesorang yang pernah ia temui namun siapa.

Dan mata itu membeliak begitu saja saat pikirannya membayangkan sesuatu yang dengan kasat mata diperlihatkan oleh bayangan dirinya. Hana…

Hana…gadis kecil yang selalu ia temui akhir-akhir ini.

 

“ahjumma tahu jika aku mempunyai satu harapan yang aku ingin menjadikannya kenyataan?.”

“apa itu?. Bolehkah ahjumma tahu?. Apa kau ingin sesuatu yang sangat kau inginkan didunia ini?.”

“eomma..Hana ingin bertemu eomma. Dan melihatnya walau sedetik saja.”

Merasakan ada sesuatu yang janggal dengan pikiran-pikiran abstraknya. Ingatan Yoona beralih pada hal yang pernah diucapkan seseorang. Entah itu akibat dari delusi yang menghantui pikirannya.

“mata itu. Kenapa aku tak asing dengan mata indah itu..dan seakan-akan aku bisa  melihat bayanganku didalam tubuh Hana. Wae?..kenapa?. kenapa denganku dan gadis kecil itu.”

Otak Yoona mulai memproses potongan-potongan ingatan yang baru saja imbul dari dalam pikirannya. Semuanya seperti terkait, sejak pertemuan pertamanya dengan gadis kecil itu, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda. Taatkala saat dengan seksama mengamati garis wajah Hana. Sama persis dengan dirinya yang terlihat difoto saat masih kecil. Padahal ia tahu jika Hana bukanlah siap-siap baginya. Bahkan hanya gadis kecil yang ia baru saja kenal, tapi mengapa hati kecilnya mengatakan jika gadis kecil itu memiliki kemiripan.

Harus kemana ia mencari tahu tentang semua hal itu?.

Dan pemikiran itu menggiringnya pada sebuah kalimat yang pernah dilontarkan seseorang. Kwon Yuri, wanita jalang yang menjadi batu sandungan mematikan dalam hidupnya. Wanita itu merupakan ibu Hana, tapi anehnya ia sangat menyayangi sosok Hana yang merupakan putri dari Yuri. Ralat…lebih tepatnya bukan putrinya, melainkan ia hanya merawatnya saja.

“sebaiknya kau jauhi putriku. Aku tidak ingin wanita berwajah cantik tapi berhati iblis bergaul dengan putriku yang tak tahu apa-apa!.” Tekan Yuri. Ia memandang remeh wanita yang baru saja mengantarkan putrinya pulang kerumah.

“aku tidak berkepentingan bertemu denganmu Kwon Yuri. Aku hanya berhubungan dengan Hana.” Mata Yoona berkilat angkuh menampakkan sisi kebencian terhadap yeoja itu.

“jauhi Hana sekarang juga!. aku tak mau jika putriku bernasib sama seperti orang yang pernah kau hancurkan hidupnya!.” Geram. Mata Yuri mulai memrah, memandang benci sosok wanita didepannya.

Kupikir saat pertama kali bertemu dengamu kau adalah yeoja yang sangat baik dan tepat dipilihnya. Orang seperti anda kenapa masih diberi kebahagiaan setelah menghancurkan kehidupan seseorang dan memberikannya harapan palsu!. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan pikiranmu, kau tak mengenalku?!. Lama sudah kita tak bertemu Im Yoona-sshi sejak peristiwa itu. Ternyata Tuhan masih memberimu kesempatan pada wanita sepertimu.”

“apa maksudmu Kwon Yuri?!!. Apa aku pernah ada hubungan denganmu?.”

“aku tak akan pernah membiarkan Hana tersakiti olehmu. Aku tak mau ia bernasib sama seperti lelaki yang pernah hadir dalam hidup anda 7 tahun lalu

“Arghh…” ia melenguh kesakitan dibagian kepalanya. Rasanya seperti ditusuk-tusuk. Tubuhnya ambruk begitu saja dalam kamar mandi. Masih dalam keadaan setengah sadar Yoona berjalan tertatih menuju ranjang tempat tidurnya. Dokter sudah memperingatkannya jika ia harus pelan-pelan untuk mengingat semuanya.

“arrrgghh..kenapa sakit sekali..oh Tuhan. Arrgghhh…”

Tanpa banyak pikir panjang lagi, ia tekan beberapa digit nomor yang terpampang pada slide ponselnya, berharap jika pria yang ia kenal segera mengangkatnya. Namun nihil justru hanya suara operator saja yang terdengar dari panggilannya. Ia harus memperoleh jawaban atas pertanyaannya masa lalunya secepatnya. Untuk kesekian kalinya ia menghubungi nomor orang itu, dan akhirnya….Ternyata Tuhan masih menyayangi dirinya.

“yeoboseo..”

“ah..Nam Woohyun-shhi..”

“ne..Yoona noona..eer…maksudku ne.sajangnim?.”

“apa kau bisa membantuku sekarang ini..aku..” ia gigit bibir bawahnya menahan rasa dakit dikealanya yang semakin menjadi-jadi. Dengan sekuat tenaga yang a punyai, ia berusaha turun dari atas ranjang. Sungguh ia tak kuat rasanya. Kepalanya serasa berputar-putar tak tentu arah.

“aku tak boleh seperi ini.” gumamnya.

“waeyo noona?. Apa yang terjadi denganmu?.” Rintihan kecil itu tak sengaja ia dengar. Lebih tepatnya rintihan kesakitan yang bercampur dengan napas yang menderu.

  “kepal–aaaku sakit sekali..aku tak kuat menahan ini. kumohon tolong bantu aku dan cepatlah datang kemari. Arrghh..”

“ne..noona aku akan segera datang.”                

Klik…buru-buru ia mematikan ponselnya.

Brak…dengan kasar ia membuka pintu apartemennya dan beranjak keluar masih dalam keadaan lemah dengan kepala yang semakin sakit.  Ia sandarkan tubuhnya pada dinding didekatnya agar tubuhnya bisa seimbang.

Dalam keadaan mengenaskan seperti ini. lagi-lagi Tuhan memberikannya sebuah pertolongan kembali. Ia lihat sosok pria yang baru saja keluar dari dalam apartemen miliknya. Terlalu lama jika ia menunggu Nam Woohyun untuk menolongnya.

“jeogiyo..mianhae, anda akan pergi kemana?.” Tanyanya. Suaranya terlihat agak sedikit parau.

Sosok yang diketahui berjenis kelamin laki-laki itu dengan cepat segera menolehkan pandangannya menghadap Yoona. Yang ia rasa sedikit aneh saat memanggilnya.

Keget. Itulah kata yang tepat untuk didefinisikan oleh lelaki itu. Betapa tidak ia terkejut saat mendapati orang itu. Bahkan ia akrab dengan orang itu. Sama hal nya dengan Yoona, wanita itu sedikit membelalakkan mata saat bertemu pandang dengannya.

Choi Siwon kini tengah berdiri didepannya. Dan lelaki itu sepertinya telihat panik mengetahui keadaan Yoona dalam kondisi seperti ini. Yoona terima ulura tangan itu tanpa ia pedulikan siapa yang menolongnya, terlalu sulit untuk dimengerti tetapi yang saat ini terjadi adalah rasa sakit yang mendominasi Yoona dibagian kepalanya.

“Yoong!!…” panggilnya panic.

“Yoong…Gwenchanayo?. Kenapa kau kesakitan seperti ini?.”

“bisakah kau menolongku untuk pergi kerumah sakit. Badanku sedang tidak sehat dan kepalaku rsanya akan pecah.” Pintanya memelas. “akk—ku mohon..je—balyo..” pintanya sekali lagi sebelum semuanya mengabur dari pandangan dan gelap…

“noona…Yoona noona…” teriak sebuah suara sekali lagi. Kali ini bukan Choi Siwon melainkan lelaki yang baru saja menerima panggilan darinya. Nam Woohyun.

“Hyung…Yoona Noona?…”

“Nam Woohyun?!!..ppalii bantu aku membawanya kerumah sakit..”

*****

Kreek..

Pintu ruangan steril berukuran agak besar itu berdecit pelan, knop pintu burlapis kaca itu bergerak seraya menampakkan sosok lelaki muda. Kim Jongwoon—yang barusan membukannya kembali menutupnya dengan pelan. Terlihat sebuah raut wajah kecemasan yang tergambar dari wajah Siwon. Kabar apa yang ia dapat dari salah satu teman dekatnya ini.

“bagaimana Yoona, Dokter Kim?. Apa dia baik-baik saja?. Kenapa dia merasakan kesakitan seperti itu?.” Choi Siwon menghujani Kim Jongwoon dengan berbagai pertanyaan..

“sebelum aku menjawab pertanyaanmu?. Kutanyakan terlebih dahulu. Apa hubunganmu dengan Im Yoona, sahabatku.” Jongwoon bertanya penuh selidik saat melihat raut wajah Siwon yang terlihat khawatir.

“aku tunangannya.” Spontanitas Siwon menjawabnya yang membuat Jongwoon seketika itu membulatkan matanya. Ia tak percaya dengan semua ini. seperti tak dikira, bahkan sama sekali Yoona tak pernah memberitahu tentang identitas dari calon suaminya.

“mwo?.”

“bagaimana keadaannya?.” Tanya Siwon mengulangi.

“jadi begini..” Jongwoon menghela nafas selama beberapa detik sebelum melanjutkan kalimatnya, “trauma masa lalu akibat kecelakaan yang pernah dialaminya cukup membuatnya kehilangan separuh memori ingatannya. Dan sakit kepala yang diderita Yoona adalah efek ia terlelu berpikir keras untuk mengingat semuanya, padahal dari segi waktu Yoona telah menghapus atau kehilangan memory itu hampir 7 tahun yang lalu.

“kenapa bisa begitu?.”

“hal seperti ini memang seringkali terjadi diluar perkiraan. Amesia yang Yoona derita bukan salah satu alasannya. Tapi masa lalunya. Dulu ia pernah bilang jika ingin melupakan semua masa lalunya yang menjijikkan dan kelam.”

“masa lalu?.”

Siwon terdiam sesaat ia mengiyakan apa yang telah dikatakan oleh Jongwoon. Terkejut memang. Ia memang mengatup mulutnya. Masih bingung dengan semua yang ia alami.

**

“Hyung..” panggilan berlawanan arah memanggilnya sebentar untuk mengikuti sumber suara itu. Pria itu lagi. Pria itu datang dengan setengah berlari menghampiri sosok kedua lelaki yang masih serius dalam pembicaraan.

Pria itu menoleh menatap Heran lelaki bernama Nam Woohyun itu. Tak kalah dengan Jongwoon ia menelingsik penuh tanya siapa sebenarnya lelaki itu. Setelah kemarin dengan Kwon Yuri kali ini dengan Im Yoona. Apa maunya lelaki itu.

“Hyung—bagaimana keadaan Yoona noona?. Apa dia baik-baik saja?.” Woohyun terlalu bingung dengan keadaan disekitarnya, ia ditatap aneh oleh mereka berdua. Apa ada yang salah dengan ucapannya.

“trauma masa lalu menghantuinya yang menyebabkan ia memaksakan diri untuk mengingat semua memory masa lalunya.” Jelas Siwon.

“kk—kau…bukankah kau yang bersama ” ujar Jongwoon terkaget. Ia masih mengingat betul wajah pria yang bersama Yuri tempo hari lalu.

“masa lalu Yoona noona?. Apa jangan-jangan Yoona noona…”

Omongan itu langsung dipotong langsung oleh Choi Siwon.  “Woohyun—aa. Ada yang ingin kutanyakan padamu?. Apa hubunganmu dengan Yoona?.” Pria itu menatap tepat bola mata calon adik iparnya itu yang kini seolah ingin tahu maksud pertanyaan tersebut.

Woohyun menghela napas. Bukan wajah ketakutan yang ia tunjukkan melainkan sebuah senyuman kecil yang sarat akan sebuah teka-teki yang masih mengganjal. “aku mengenalnya, kami saling mengenal karena Yoona noona adalah….

“nde?..”

“…kakak ipar Kwon Yuri,.” Ucapnya pelan, nyaris seperti berbisik.

“mwo?!!.”

“jjj—jadi benarkah semua itu?..”

“masksud kalian?..”

*****

            Mereka bertiga masih menyelami dengan pemikiran mereka masing-masing mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Nam Woohyun. Ketiganya terlalu bingung mengkaitkan semuanya. Sesekali mereka menyesap Moccanino panas untuk menjernihkan pikiran mereka, namun tak ada hasil. Rasa bingung itu sungguh membuatnya semakin bergulat dalam pemikirannya.

“kau apa yang harus kau jawab untuk semuanya ini?.”

Woohyun menelan ludahnya berusaha membunuh rasa gugup itu. Terlalu  tolol, jika ia sama sekali tak mengerti arah pembicaraan mereka. Toh, jika bukan karenanya mengatakan jika ia mengenal Im Yoona dan Kwon Yuri, tidak mungkin ia dihadapkan pada keadaan seperti ini.

“Yoona noona dan Yuri punya masa lalu yang pernah mereka lalui bersama.”

Jongwoon paham, karena ia sudah mengetahui jika Yoona adalah ibu kandung dari Hana, selaku putri yang Yuri besarkan. Tapi semuanya masih menjadi problematika rumit yang menimbulkan tanda tanya dalam dirinya. Sedangkan Siwon, lelaki itu justru terperanjat dan mulai menatap Woohyun intens.

Dan sepertinya bukan Yuri dan Yoona lah yang membuka masalah mereka melainkan orang ketiga diantara mereka berdua. Dan bersiaplah Nam Woohyun jika kau pasti akan dibunuh oleh salah satu dari mereka berdua.

Jongwoon berdeham, seolah meminta Woohyun segera kembali pada topic yang akan mereka bertiga bicarakan.

“Yoona noona pernah menikah dengan kakak lelaki Kwon Yuri, dan meninggalkannya.”

Ingatan itu seketika kembali. ‘kakak lelaki Kwon Yuri?’ kakak lelaki Kwon Yuri adalah sahabatnya. Lee Donghae. Jika Yoona pernah menikah dengan kakak lelaki Kwon Yuri…Maka Yoona adalah mantan istri dari Lee Donghae..

Keyakinan itu semakin menguat, taatkala ia mencoba menghubungkan potonga-potongan cerita dan informasi yang ia peroleh dengan pesan terakhir Lee Donghae.

 

“Ketika kau berada didua pilihan, salah satu harus aku korbankan untuk orang yang paling cinta dalam hidupku. Aku memilih pilihan itu dan aku titipkan sesuatu untukmu. Cintai dan sayangi dia karena aku tak bisa melakukan itu.”

“buat di melihat dirimu, bukan aku. Jangan berputus asa untuk mencintainya. Aku terlalu terobsesi mencintainya. Cintai dan Lihatlah dia jika kalian dipertemukan. Aku ingin kau melindunginya bukan karena untukku, melainkan kau mencoba untuk mencintainya.”

            Dahi Siwon mulai berkerut, matanya mulai memanas—namun ia tak tampakkan raut wajahnya yang meyedihkan itu. Tubuhnya mematung seolah nyawanya sudah pergi meninggalkan raganya. Tangan pria itu mencengkeram kuat pinggiran meja, menunjukkan adanya sebuah ketegangan dan kekhawatiran atas spekulasi pemikirannya dengan ucapan yang dilontarkan oleh Nam Woohyun.

“Le—ee Dong—hae..” ulang Siwon terbata yang memberikan penekanan pada kedua kata itu.

“ya..Lee Donghae menikahi Yoona noona karena Yoona noona hamil anak Donghae Hyung. Dan sampai waktu itu tiba..Donghae Hyung mengetahui segalanya..”

“Yuri pernah bercerita padaku. Jika mereka pernah bertengkar hebat karena Yoona noona tak mau menerima jika itu anaknya. Sederhana saja, Yoona noona merupakan salah satu keturunan konglemreat Korea. Sedangkan Donghae Hyung, ia hanya seorang rakyat jelata yang bekerja sebagai asisten dosen dalam berbagai penelitian yang dirancang, jadi mereka berbeda kelas. Dan untuk pernikahan mereka, pernikahan itu hanya semu belaka, meski terdaftar, tapi itu hanya sebuah formalitas belaka.  Cinta Yoona noona seakan hilang saat ia lebih memilih meninggalkan lelaki itu dan memilih untuk pergi meninggalkan kenangannya bersama Donghae Hyung.”

“lalu apa hubungannya dengan kematian Lee Donghae karena kanker otak yang ia derita?.” Kali ini Jongwoon menambahkan. Ia butuh penjelasan sedetailnya saat ini juga,

“untuk itu aku tak kurang tahu untuk mengetahuinya. Yang pasti Yoona noona meninggalkan Donghae Hyung karena ia tak ingin memiliki kehidupan yang suram. Ia punya harta dan bahakan punya jabatan. Setelah melahirkan putrinya, lekas ia meninggalkan semuanya yang pernah ia lalui bersama Donghae Hyung. Dan Donghae Hyung saat itu dalam keadaan terpukul karena frustasi atas kepergiannya.”

“jadi..” lirih Siwon dengan suara yang bergetar dan sarat akan rasa sakit yang ia ketahui dari kalimat-kalimat cerita itu. Dan detik itu juga, ia menangis. Menangisi kenapa semua ini bisa terjadi, bahkan ia terlalu menutup mata untuk menggali alasan kenapa ia mencintai Im Yoona. Dan Surat Donghae telah menggambarkannya.

“Yoona noona mencintai cinta pertamanya. Dan karena frustasi ia menjadikan Donghae Hyung sebagai pelampiasan. Tapi meski begitu Donghae Hyung tetap mencintainya walau cinta yang ia rasakan hanya sepihak. Lepas dari semua itu Kwon Yuri-lah yang paling terluka. Ia tak pernah menyangka jika hidup kakak lelakinya hancur karena seorang wanita yang tidak bernurani. Dan saat itu pula Yuri memutuskan untuk menghapus semuanya, meninggalkannya dan memulai kehidupan baru. Tanpa Lee Dongahe ataupun Im Yoona.”

*****

                Cukup dia pejamkan kedua matanya lagi saat kalimat-kalimat cerita masa lalu itu  itu mengalir dengan sendirinya dari saksi perjalanan hidup mereka. Scenario Tuhan tak ada yang pernah bisa menebaknya. Masih Siwon cob kuatkan hatinya saat ia memsukki ruangan steril berukuran agak besar itu—Siwon barusan membukanya kembali menutupnya pelan sekali, takut menggangu yang sedang terbaring disana. Matanya memanas seolah cerita itu sulit dipercaya.

Siwon cengkeram erat ujung jas yang ia kenakan. Ia ingat potongan memoru akan kebersamaannya dengan Lee Donghae. Dia ingat dulu Donghae pernah bercerita jika ia menyukai gadis yang sangat menyukainya, bahkan bisa dibilang, ia mencampakkan gadis itu dan Donghae-lah yang enerimanya. Sungguh ini gila. Takdir seolah mempermainkannya.

 

“Hmmh..” Siwon mengangguk. “mungkin aku akan cukup lama tinggal di New York. Dan ini pertama kalinya aku bisa minum seperti ini. untuk itu aku mengadakan pesta perpisahan ini.”

Selayaknya sepasang sahabat, mereka nampak menikmati kebersamaan itu dengan mengeluarkan celotehan-celotehan ringan. Jujur saja susana ini rasanya sudah lama tidak mereka rasakan.  

“namun sebelum kau pergi ke Amerika untuk waktu yang lama. Aku akan menyampaikan pesan dari seorang gadis yang mencintaimu?.”

“gadis yang menyukaiku?. Fansgirl begitu maksudmu?. Aigoo..sudah terlalu banyak fansgirl yang menyukaiku. Bahkan mereka sikapnya seperti baja saat aku menolaknya, masih kuat dan tahan. Padahal sudah jelas kutolak” ia pandang Donghae sekilas lalu ia kembali teguk minumannya.

“Aku ingin melakukan sebuah pengakuan yang membuatmu sedikit terkejut.” Kata Donghae yang membuat Siwon mengernyit bingung.

“pengakuan apa?.” Selidiknya. “nuguya?. Apa sifat ke-playboy-an ku terhadap wanita kini telah terluar padamu?.”

Donghae terkekeh. “karena kau telah menolak gadis itu, tapi aku rasa aku menyukai bahkan mencintainya. Bukan hal yang tabu kalau aku memang tipikal orang yang sedikit sulit dalam hal perasaan.” ada jeda disana. Donghae teguk lagi minumannya kemudian ia kembali berucap.

“aku menyukai bahkan mencintai gadis itu. Gadis yang beberapa waktu lalu, menyelamatkan nama baikmu, saat kau dituduh tengah memasukiki kamar wanita dan meniduri wanita itu, dalam keadaan mabuk setelah pesta perpisahan sekolah itu.. gadis itu yang menyelamatkan nama baikmu sebagai pura sulung keluarga Choi. Karena saat yang bersamaan ia berada dalam kamar itu, dan au sedang mencaci maki Ahn Sohee..gadis yang memfitnah dirimu tidur dengan Sohee..”

“makk—sudmu..gadis berkacamata itu?..aku mengaggapnya sebagai malaikat penolongku saja. Tak lebih. Bahkan aku sama sekali tak mencintainya.”

Donghae mengangguk. “dan karena kau menolaknya  cintanya. Maka jangan salahkan aku jika gadis itu suatu saat akan menyukaiku. Aku mencintai Yoona.”

Dan predikat pria tolol patut ia berikan pada dirinya sendiri. karena tidak peka sedikitpun pada setiap ucapan Donghae dan pesan terakhir yang ia berikan kepadanya. Donghae mengatakannya dalam potongan surat terakhir sebelum ia meninggal dunia.  seharusnya ia tak sebodoh ini. Haruskah ia marah? Tentu itu pantas. Dia yang telah masuk kedalam lubang yang ia gali sendiri.  7 tahun lalu ia tak pernah member harapan cinta bagi seorang gadis yang mencintainya, dan Donghae-lah yang menjadi pelabuhan hati wanita itu. Tapi dibalik itu semua perasaan cinta wanita itu terlalu besar terhadapnya. Bahkan Donghae rela untuk mengesampingkan hatinya karena mencintai wanita itu.

“maafkan aku Donghae-ya..”

*****

Jika waktu boleh untuk di putar, maka keinginan untuk kembali itu pasti ada. Rona kehidupan berganti seiring waktu yang silih berganti, menyajikan semuanya sebagai perjalanan hidup. Langkah untuk kembali masa lalu yang ingin rasanya diulangi agar bisa diperbaiki sudah tertutup. Andai waktu bisa dihentikan saat ini juga, ia ingin ada lorong waktu agar semuanya bisa sicegah dan diperbaiki dan sebagai manusia tetap diharuskan mengikuti waktu yang ada. Memang sulit, segala sesuatu yang telah terjadi memang tak akan pernah bisa untuk di ulangi. Yang bisa dilakukan sekarang adalah memanfaatkan waktu sebaik mungkin memperbaiki masa depan dengan bercermin pada masa lalu agar semuanya tak berulang

Dari ruangan itu, tepatnya didalam ruangan praktek tersebut. Tangan Jongwoon terdorong membuka kembali sebuah amplop berwarna biru itu itu, amplop yang baru saja ia keluarkan dari laci meje kerjanya. Ia buka amplop itu mengeluarkan kertas isinya. Kertas yang pernah ia baca 7 tahun lalu itu seolah menggambarkan semuanya. Potongan-potongan cerita yang diungkapkan oleh Nam Woohyun seakan sama dengan apa yang terjadi saat ini.

       

New York, 2007

Untuk Seseorang yang baru saja kukenal…

Mungkin saat kau membaca surat ini kau pasti sudah dalam keadaan sadar. Tentu kata yang terucap pertama adalah heran. Kenapa heran menerima surat dari orang yang belum kenal sama sekali denganmu. Perkenalkan aku Lee Donghae atau kau bisa menyebutnya dengan nama Kwon Donghae.

Meskipun kita tidak pernah bertemu dalam kehidupan nyata, atau bahkan lebih tepatnya. Ini pertemuan pertama kita. Singkat saja aku hanya ingin sedikit berkomunikasi denganmu melalui surat ini..

Kau tahu hidup seseorang tidak ada yang tahu kapan berakhirnya. Itulah yang kini terjadi pada semua orang, termasuk diriku sendiri. Aku tak tahu kapan Tuhan akan memanggilku. Yang pasti sejatinya hidupku didunia hanya tinggal sebentar lagi. Aku mendapat kabar jika kalian berdua terlibat dalam sebuah kecelakaan beruntun karena bus yang Yuri tumpangi terbalik begitu saja karena kehilangan rem keseinmbangan dan menabrak pembatas jalan. Tapi aku bersyukur kalian berdua masih selamat dalam kejadian itu.

Sejujurnya kau pasti tahu siapa orang yang telah menyelamatkanmu dari kecelakaan mengerikan itu setelah kau sadar. Orang itu adikku satu – satunya Kwon Yuri. Sekaligus orang yang mendonorkan sebagian hatinya untuk dirimu. Tapi bukan itu yang akan aku utarakan terhadapmu.

Aku sadar mungkin ini terlalu lancang. Mealui surat ini aku titipkan Kwon Yuri, adikku. Orang yang telah menolongmu Terkesan eksentrik memang, tapi entah atas dasasr apa, mengapa hati kecilku mengatakan jika kau bisa menjaga adikku. Jujur aku tak tahu bagaimana mencari alasannya. . Tapi sisa waktuku tinggal sebentar lagi. Aku ingin pergi dengan tenang, dan menitipkan Kwon Yuri padamu.

Hanya itu yang bisa kukatakan. Jika kau membuka mata untuk pertama kalinya, mungkin Tuhan telah memanggilku. Dan aku tahu pasti ia sangat terpukul mendengar berita kematianku. Untuk itu komohon sekali saja untuk jaga dia untukku meski kalian belum saling mengenal. Tapi percayalah, jika apapun yang terjadi aku sangat berterima kasih karena kebaikanmu.

Jagalah dia baik-baik….

 

Lee Donghae

Surat itu lagi-lagi membuat Jongwoon terenyuh. Sudah berulang kali ia membacanya, namun surat itu berhasil membuat Jongwoon menangis kembali. lebih dari 5 tahun lalu ia terbaring koma karena kecelakaan dan Kwon Yuri-lah penyelamat hidupnya. Namun setelah ia terbangun dan mengetahui semuanya, ia cari wanita yang mendonorkan hati sekaligus penyelamat hidupnya. Namun nihil, semuanya telah terjadi wanita itu sudah pergi setelah kematian kakak lelakinya. Kwon Yuri, wanita itu. Dan itulah alasan mengapa ia bersusah payah menemukan gadis yang ia cintai dan harus ia jaga itu. Begitu banyak hal yang terjadi saat dirinya dalam keadaan koma. Ya. Walau ia sama sekali tak mengenal Lee Donghae, tapi ia berjanji akan menjaga Yuri dengan sepenuh hatinya. Sama seperti amanat yang telah ia tuliskan untuknya. Semua tulisannya menyatakan suatu kebenaran yang akan tergambar. Dan sekarang, itu menjadi kenyataan. Jika kini ia mencintai Yuri.

Melindungi..ya, melindungi. Ia teringat akan sesuatu dengan kata melindungi. Jongwoon teringat sebuah kata-kata yang cukup mengusik telinganya. Ia harus melindungi Yuri dari Yoona. Ingatannya tertuju pada percakapan yang beberapa hari lalu ia lakukan dengan Yoona. Sedikit dia berpikir apakah yang akan dilakukan Yoona pada Yuri?. Apa dia akan melakukan kejahatan frontal dan anarkis pada Yuri. Ini tidak bisa dibiarkan. Ia harus mengklarifikasikan lebih lanjut pada Yuri.

“Jongwoon-aa..”

“wae..”

“kupikir kau tak datang?.”

“sudahlah Yoong..cepat bicara aku tak punya waktu banyak…aku sedang dalam mood yang kurang baik. Bicaralah!!.”

“apa gadis itu yang membuatmu dalam keadaan mood seperti ini?. alangkah benar jika oppa meninggalkannya. Wanita itu hanya membuatmu stress..”

“oppa..aku mencintaimu. Tidak bisakah kau membuka sedikit hatimu padaku. Aku janji. Jika kau bersamaku aku akan memberikanmu kebahagiaan.”

“Yoong..jika kau ingin bertemu denganku membahas hal seperti ini. masih sama jawabanku. Aku mencintainya Yoong!!. Dan seluruh hatiku telah ia miliki. Bagaimana bisa kau mengatakan hal yang tak mungking terwujud seperti itu?.”

Yoona sedikit tercengang karena baru kali ini ia lihat sebuah luapan emosi yang keluar dari Jongwoon. Ia mengatup mulutnya tidak percaya. Kwon Yuri benar-benar membuat lelaki itu semakin frustasi karena mencintainys.

“kau adalah pria yang hangat dan penuh kasih. Kenapa oppa berubah seperti ini oppa!!..apa kurangnya aku daripada dirinya.”

“Cukup Im Yoona!!.” Sentak Jongwoon.

“sudah banyak masalah yang ia lalui. Dan kau masih saja ingin membuat masalh dengannya!. Justru sekarang aku yang bertanya. Kenapa kau bisa seperti ini Yoong!!!..” teriaknya sekali lagi.

Bulir-bulir air mata itu semakin lama berubah menjadi tangisan yang menyakitkan pada Im Yoona. Bagaimana tidak jika cintanya bertepuk sebelah tangan. Air matanya sudah berlinang sejak tadi. Sejak dia mulai berani berkata dengan nada yang cukup tinggi dari biasanya. “aku serius jika kau masih mencintai Kwon Yuri, aku akan melakukan apa saja untuk menghentikannya!!.”

“jangan berbicara yang tidak-tidak Yoong!!. Dia sudah terlalu banyak beban hidup yang ia pikul.”

“jika aku tak bisa mendapatkan hatimu..maka dia juga tak bisa mendapatkanmu oppa!.”

 Yoona berperang dengan hatinya. Tapi dia juga tak bisa untuk membiarkan wanita itu dimilikki oleh Jongwoon. Rasanya dia sangat tidak ikhlas.

Egois bukan?

Tubuhnya ia paksakan untuk bergerak. Ia menatap intens Jongwoon dengan pandangan yang sarat akan sebuah ambisi yang akan ia gapai dengan mengorbankan apapun. Jangan tanyakan dimana rasa bersalahnya sehingga ia mampu untuk bersikap begitu. Ia juga manusia. Ia sudah cukup memelas untuk mendapatkan cinta.

“untuk kesekian kalinya oppa. Aku katakana jika aku mencintaimu. Aku tak peduli siapaun orang yang akan menghalangiku. Yang pasti aku akan menghancurkan semua orang yang menghalangiku. Termasuk Kwon Yuri.”

Benar memang. Mungkin sekarang saatnya. Sekaranglah waktunya ia harus benar-benar meninggalkan semua kepahitan yang selalu ia rasakan. Ia harus mendapatkan Kim Jongwoon saat ini juga. disaat hubungannya tengah renggang dengan Kwon Yuri.

“kau gila Yoong.. Micheoso?!!.” Teriakanya.

“ya aku gila karena mencintaimu.”

Terlalu buta akan cinta memang. Kini dia hanya bisa menggunakan nalurinya sebagai tindakan. Ketika ia bawa lagi tubuh itu agar tidak menyisakan jarak sedikitpun, Yoona membungkam paksa bibir Jongwoon dengan ciumannya. Ia terlalu emosi dalam menghadapi masalah perasaannya. Gila. Ini memang gila, Jongwoon berusaha melepasakn dirinya dari ciuman sarat emosi itu. Yoona memaksa menciumnya secara sepihak. Meski tak ada balasan, Yoona terus mengecup bibir lelaki itu dengan penuh air mata kekcewaan yang sulit untuk diartikan

 

“Kwon Yuri..” desahnya pelan.

“aku berjanji Hyung akan menjaga dan mencintai Yuri.” Ia segera mengambil mantel yang ada didekatnya. Ia sangat merindukan wanita itu. Dan sepertinya rasa rindu itu akan terobati jika ada pertemuan antar keduanya.

“Dokter Kim!!..”

Suara panic itu lantas membuyarkan lamunan Jongwoon tentang berbagai masalahnya. Langkahnya terhenti saat ia mendapati asistennya memanggilnya dengan raut wajah panic. Sepertinya ada yang urgent. “wae?.”

“gadis kecil bernama Kwon Hana itu sekarang berada di unit gawat darurat. Dan keadaannya semakin melemah…”

“mwo?.”

*****

Rasa takut itu kembali menghampiri Yuri. Takut jika semuanya akan terjadi dan terulang kembali. Yuri takut akan apa yang akan terjadi setelah ini. Ia takut kehilangan Hana—putri yang sangat disayanginya. Semuanya begitu cepat terjadi.  Saat ini rasa khawatir dan panic menyelimutinya, bagaimana keadaan Hana?.

            Hana, putrinya tengah meregang nyawa agar tetap hidup.

“Yuri-ya apa yang terjadi?. Hana kenapa?.” Tanya Kristal yang baru saja sampai bersama dengan sang ibu.

“entahlah Soojung. Hana kembali merasakan sakit didada sebelah kirinya.” Jawab Yuri, gurat-gurat kekhawatiran amat terlihat dari wajahnya.

“tenang saja Yuri-ya. Hana pasti akan baik-baik saja.” Jung ahjumma—ibu Kristal menepuk pundaknya pelan dan memeluknya sejenak, mencoba menenagkan sebisanya.

“aku takut ahjumma. Aku takut…”

“sudahlah nak, kuatkan hatimu..”

“semuanya pasti ada jalan keluarnya Yul..” kali ini pria bernama Woohyun itu menambahi.

“Woohyun-aa..kenapa bisa terjadi seperti ini?.”

Semua orang yang mengkhawatirkan Hana terduduk harap-harap cemas. Sudah hampir satu setengah jam tapi belum ada informasi apapun dari dokter dan itu membuat Yuri semakin khawatir dengan kondisi Hana. Bagaimana keadaan Hana?. Ada apa lagi dengan jantungnya.

“sudah berapa jam ini tapi kenapa dokter itu belum keluar juga?! bertele-tele sekali pemeriksaannya..” kesal Soojung. Sang ibu menepuk punggungnya pelan. “sabarlah chagi…dokter pasti sedang melakukan yang terbaik. bersabarlah..” ujarnya lembut.

“Yul, maafkan aku.  Semua ini terjadi karenaku. Sebenarya tadi kami terlalu asyik bermain berlari-larian dengannya. Tapi kemudian ia bilang kalau dadanya terasa sesak dan tiba-tiba saja ia pingsan. Demi Tuhan Yul, aku tak punya niat apa-apa untuk mencelakai Hana. Dan ku tidak melakukan apa-apa padanya. Tapi ini mungkin salahku.” Woohyun bersuara. Semenjak tadi ia memang tidak membuka mulutnya sedikit pun. Mungkin ia merasa bersalah.

Yuri mencengkeram ujung bajunya dadanya yang sudah terasa sesak  sejak tadi. Ia menangis dan hanya mampu  diam. Namun sekeras apa ia menangis, suara yang keluar hanyalah sebuah isakan akibat kebodohannya.

“Anni,  jangan begitu Woohyun-aa. Ini murni kesalahanku. Akulah yang tidak peka terhadap penyakit yang ada di dalam tubuh Hana. SEHARUSNYA AKU SAJA YANG MENGIDAP PENYAKIT INI, BUKAN DIA!” ujarnya sambil terisak. Nyonya Jung yang ada disampinya pun hanya bisa menenangkannya.

“Sst, nak. Tidak ada yang patut kita salahkan atas masalah ini. Ini semua sudah takdir. Kau juga tidak sendiri. Ada kami disini. Lebih baik kita berdoa agar Hana kuat menghadapi penyakit nya ..”

Pintu ruang emergency kemudian terbuka bersamaan dengan seorang dokter muda keluar dari ruangan itu. Ia kenal dengan sosok lelaki itu. Yuri kenal dengan siapa dokter yang menangani Hana.  Dengan segera ia menghampiri Jongwoon yang berjalan kearahnya.

“bagaimana oppa saat ini keadaannya?.”

“saat ini. kondisi Hana sangat kritis. Tadi Hana mengalami serangan jantung mendadak. Dan terlambat membawanya saja akan terlambat. Kita tunggu saja bagaimana keadaan selanjutnya. Tapi sekarang keadaannya sangat darurat sekali. Karena kondisisinya saat ini masih lemah. Hana harus sesegera mungkin mendapatkan donor jantung itu.”

Mata Yuri semakin deras mengeluarkan air mata dan darahnya berdesir dengan kencang mendengarnya.

“kumohon oppa.. AKU HARUS MENYELAMATKAN PUTRIKU! APAPUN CARANYA! TOLONGLAH IA!, TOLONGLAH IA! Jebal …” geramnya terisak. Langsang ia tekuk kedua lututnya dihadapan Jongwoon, seolah meminta sebuah belas kasihan.

“Jebal…Jebal…” berulang kali ia lontarkan kata-kata memohon itu dalam keadaan terisak. Jongwoon tak tega melihatnya, ia justru merasa sesak melihat orang yang dicintainya dalam keadaan seperti ini. tangan kanannya ia ulurkan untuk membantu Yuri berdiri. Sungguh jika diperbolehkan Yuri ingin sekali menukar nyawanya untuk Hana, menukar tubuhnya agar Hana una tidak perlu merasakan sakit lagi.

“Kwon Yuri!, kumohon jangan seperti ini. aku tahu bagaimana saat ini perasaanmu. Aku akan berjuang semampuku untuk menyelamatkan putrimu—putri kita. Jadi kita pasrahkan semuanya pada Tuhan.”

“temuilah Hana. Ia butuh dorongan darimu untuk kesembuhannya.”

**

“eomma..” Hana memanggilnya dengan sangat lirih dan pelan.

“hmm….chagi. eomma disini..” terlihat dengan sangat jelas wajahnya yang pucat. Seluruh kuku dan bibirnya membiru. Ia sungguh sangat lemah.

‘bodoh dan tolol!!. kenapa aku tidak menyadarinya. Aku bukanlah ibu yang baik baginya.’

“apa kau masih merasakan akit pada dadamu chagi?.” Ia belai kepala itu penuh sayang.

“aniyo.” Jawabnya singkat.

“Jangan bohong. Eomma tahu selama ini kau sering kesakitan. Tapi kenapa kau tidak mengatakannya pada eomm . Waeyo?. Raut wajah itu terlihat menyesal.

““Mianhae, eomma. Aku tidak ingin membuat eomma cemas. Apalagi eomma kan lelah bekerja untuk Hana, eomma itu penyemangat hidup Hana.”

Runtuh sudah pertahanan Yuri. Rasa haru itu timbul pada perasaan Yuri. Ia sangat merasa sedih dan tak berguna sebagai wanita. Ia telah gagal dalam menjaga amanat dari Donghae.

“sstt..tidurlah. ini sudah malam. Tidak baik bagi orang sakit.”

*****

Malam datang menjelang menyapa semua di dunia ini. Berbagai kegiatan nampak masih menghiasinya walau katakanlah ini adalah waktunya untuk beristirahat. Rehat dari aktivitas masing-masing.

Jongwoon akhiri aktivitasnya di rumah sakit itu. Ia menghela napas panjangnya dan mengeluarkannya agar sedikit merefreshingkan dirinya dari penatnya hari ini. langkah santainya berjalan menuju lobby rumah sakit tempatnya bekerja. Tujuannya tidak pulang, melainkan menemui Yuri.

Baru saja ia membelokkan arah di koridor rumah sakit. Langkahnya terhenti saat ia lihat seseorang tengah berdiri sambil memandang kearahya. Ia beru saja keluar dari ruangan tempatnya dirawat. Ia cukup terkejut melihat sosok itu. Untuk apa ia keluar dari ruangan saat kondisinya masih belum diperbolehkan untuk pulang.

“Yoong..” panggilnya.

            Pijakan kaki Jongwoon berhenti lemah saat ia telah dekat dengan sosok itu. Keningnya berkerut merasakn suatu kebingungan. Bibir Yoona bergerak guna mengukir senyum. Sementar Jongwoon hanya bisa mebalasnya dengan senyuman tipis.

“annyeong oppa.” Sapa Yoona ramah

“Yoong!. Kenapa kau keluar ruangan?. Kau tahu kondisimu masih belum dalam keadaan stabil?.”

“aku sudah tidak apa-apa oppa. Aku justru ingin pergi keruangan oppa dan menemuimu!. Ruangan itu benar-benar membuatku stress!.”

“oppa mau menemaniku malam ini hanya untuk sekedar berjalan-jalan. Aku penat oppa terkurung dalam ruangan.”

Yoona memberanikan diri melangkah mendekati Jongwoon yang masih terdiam ditempat. Ia berjalan sedikit tertatih dan kemudian meraih tangan Jongwoon sebagai tumpuannya. Sadar akan itu, Jongwoon buru-buru menjauhkan dirinya dari Yoona.

“kau jangan seperti ini Yoong!.” Pekiknya.

“oppa aku ingin tanya sesuatu padamu?…Apa kau sudah bisa mencintaiku?.”

Arrggghh…untuk kalimat itu kenapa semua ini bisa terjadi. Ini tak seperti yang dibayangkan. “Jongwoon-aa. Saranghaeyo..” Yoona memegang bahunya pelan lalu memeluknya.

“kau salah jika mencintaiku. Karena kita adalah sahabat. Aku menganggapmu hanya sebagai adik saja. Tak lebih dari itu. Aku mencintanya Yoong. Aku mencintai Kwon Yuri.”

Cukup jelas apa yang ia lihat. Wanita itu masih saja tak bergeming. Pandangannya saat ini tengah tertuju pada sesuatu yang terfokuskan untuknya. Kwon Yuri melihat orang itu dengan seksama. Matanya bahkan tak berkedip  sama sekali saat menyaksikannya. Bagaimana tidak, saat ini kedua matanya secara nyata dan sekasama melihat kedekatan mereka berdua. Kim Jongwoon dan Im Yoona sedang berpelukan. Meski Jongwoon berkali-kali mengatakan jika ia sama sekali tak pernah mencintai Yoona. Tapi bagaimana dengan wanita itu, wanita itu sangat mencintai Jongwoon dan akan melakukan apapun untuk mendapatkan lelaki itu. Termasuk dengan menyingkirkannya. Bahkan Jongwoon pun sepertinya menikmati kebersamaannya dengan wanita bermarga Im tersebut. Yuri mencoba meredam rasa sesak yang menyeruak dari dalam dirinya. Saat secara kasat mata ia melihat dengan jelas kedekatan mereka berdua.

“Yul,..”

Masih tefokus dan matanya menatap lurus kedepan. Pria itu, pria yang berada tak jauh dibelakang Yuri,  memandang Yuri yang sedari tadi belum terkoneksi dengan seruan atas panggilannya. Ia mengernyitkan alis dengan kebingungan yang tergambar jelas. Saat kedua mata yang ia miliki mengekor mengikuti pandangan mata Yuri yang sedari tadi membuat wanita itu tak berkutik sama sekali.

Im Yoona!!..

“Yul..” panggilnya kembali. Tak sadar jika kini didekatnya sudah ada lelaki yang memanggilnya.

“Kwon Yuri?!.” Kali ini Yuri melonjak terkaget.

“Yoona noona!.” Kali ini suara itu beralih menyebut nama. Woohyun mengkerutkan keningnya. Sama seperti pandangan Yuri. Ia melihat sosok Im Yoona sedang berpelukan dengan kekasih Yuri.

“Gwenchanaseumnika?.” lanjut Woohyun.

“hhmm..”

“Yul..Yoona noona.” Lirih Woohyun.

“aku tahu jika perlakuan Yoona noona padamu tentu masih terngiang jelas dalam pikiranmu terutama perlakuannya terhadap Donghae Hyung. Aku minta maaf jika justru malah membuatmu bertemu dengan Yoona noona disini. Tapi sungguh aku tidak..”

Ucapan itu terpotong seketika saat setetes air asin itu mulai keluar dari sudut matanya. Yuri bingung harus bersikap seperti apa. Sakit hatinya dimasa lalu yang belum tersembuhkan hingga sekarang dan tentunya rasa sesak dalam dada saat melihat kekasihnya berdua dengan Im Yoona.

“aniyo…semuanya sudah terjadi. Kekecewaaan itu sudah terlanjur membelenggu. Aku tak tahu apa kata maaf sudah cukup untuk merubah keadaan seperti semula, meski tak bisa mengembalikannya seperti keadaan itu?.”

Woohyun masih diam. Ia lihat dengan nanar wajah Yuri yang mencoba menahan tangisnya. Hati Yuri masih terasa sesak dan bergejolak. Semuanya sungguh tak bisa dibayangkan. Kedaannya justru malah semakin pelik. Sifat Yoona justru malah semakin berubah drastis seperti tak mengingat sama sekali perihal tentang kehidupan masalalunya.

“tapi justru itu yang terbaik bagi kami. Ia melupakan Hana dan bahkan secara jelas mengatakan jika Hana adalah anak haram yang tak pernah diharapkan kehadirannya.”

“Jongwoon oppa Sarangahaeyo..”

Dan ucapan itu sukses membuat hati Yuri hancur berkeping-keping. Tak hanya itu saja lelaki yang baru saja melangkahkan kaki itu menghentikan langkahnya, Choi Siwon membeku ditempat. Ia sama terisaknya dengan Yuri. Meski tak tampak ia menangis dalam diam.

“maaf..maafkan aku atas semuanya..aku mencintaimu Im Yoona..terlalu bodoh aku baru saja menyadarinya..”

haloo…*tereak pake toa* semuanya..baru sempet nongol..hehe..

Bagaimana part 7nya? Masih jelek yah? Hiks maafkan aku U,U

Pendek yah?

Ga asyik rasanya kalau cerita itu g sampai konflik+penyelesaiannya.

Di setiap part akan ada flashback. jadi buat yg belum paham, santai….
semua ada waktunya wkwkw….

sorry bangt baru bisa nge-post soalnya baru ada waktu buat bikin epep. .ide ada tapi pas ada ide g sempet nulis. #kagak ada yang nunggu ni epep.

ada yang nanya siapa itu Woohyun itu siapa..hey eperibodi, Woohyun itu main vocalnya INFINITE yang wajahnya kaya angel. *yang nonton OGS INA pasti tahu Woohyun itu siapa. * #Plakk promosi..T_T* #U,U Galau OGS uda berakhir

maaf ga bisa bales komen para readers satu persatu soalnya aku ga sempet buka blog tiap hari. Jadi bukan karena aku sombong ga mau bales….kalo di fb atau twitter pasti aku bales yah walau kadang ada juga yg terlewat/plak.

buat kakak unyu bernama Ekha Leesunhi selaku Yurisistable yang kemaren uda nagih di twitt sampe ane lupa kalo gak diingetin. maaf yah jika tulisanku masih berantakan dan jalan ceritanya masih banyak keganjalan atau amburadul. Aku makasih atas komenannya. Moga sedikit demi sedikit dapat aku perbaiki hehehe..awas kalo gakomen panjang..#ngancem/plak

ah, dan juga buat para readers yang komennya panjang2..aku berterima kasih sekale.panjang bingit wkwkwkwk tapi aku suka ko/tingkatkan yah readers-readers tersayangku….. ^^

mumpung lagi semangat-semangatnya aku ada mood buat ngelanjutin epep..ayo donk yang baca juga ga boleh loyo, ayo donk semangat!. aku usahain part selanjutnya kelar cepet.

aku sadar jika tulisanku masih jauh dari kata sempurna dan gaya bahasa serta diksi yang masih g beraturan. #maklumlah aku hanya author amatiran yang tulisannya geje..dan maaf jika ga dapet feel sama sekali.

so, 60 komentar g sulitkan bwt cepet kelar jd semangat aku buat bikin epep. oh ya mungkin part selanjutnya akan aku PW karena kemarin aku sempet cek lewat dasbor banyak yang siders.

sekian..

MATUR SEMBAH NUWUN..

♥ Merry Christmast and Happy New Year bagi yang merayakan ♥

Love You all..

115 thoughts on “Because It’s You (Saranghae) Part 7

  1. .q kira ff ini gag dterusin lagi un. trnyata mlah uda smpai 8. dn nemu2 lgsg part 7. saya msh kbyang xg yoona di stay with 1 love . dy dstu kn jd baik. e dsni kblikannya..

  2. Donghae Oppa sayang banget sama Yuri…Hana masuk rumah sakit lagi :(… Jongwoon oppa cinta banget sama Yuri…udah Yoona sama Siwon aja yang jelas2 cinta sama dia

  3. annyeong… aku reader baru ^^
    mianhae aku cuma bisa comment di part ini + part selanjutnya
    woaaaahhh keren thor *-*/\
    rasa sayang yesung besar banget buat yuri…

  4. Gila ya yoong eonnie tetep aja kyk gitu:(
    Eonn bkn happy end dong plss
    Nggk tega ngeliat yul sm wonpa kyk gitu apalagi hana:'(
    Nextnya ditunggu lohh.. Fighting eonnie^^

  5. semoga hana bs sembuh, jg jongwoon & yuri cpt menikah dn berkeluarga trus ad part marrieage life merekaa, hehehhe
    tmbh menarik ff nya,
    semangat trus ya author,
    tulisannya menarik ko, udah kaya novel

  6. Omg ternyata kehidupan mereka saling bersangkut paut, tapi kenapa dengan hana benarkah dia menderita serangan jantung ??

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s