Knock!

Knock!

[icydork] | Jiyeon, Jinwoon & Areum | Fantasy, Horror | Rated for 17+

Ketakutan itu datang lagi ketika gadis itu mendengar ketukan pelan di daun pintu rumahnya. Dia menggigit bibir bawahnya dengan kencang untuk menahan rasa takutnya. Dia duduk di pojokkan ruangan, lebih tepatnya di samping komputer yang menyala da nada seorang gadis yang sedang menatap layar monitor tersebut.

“Areum, temani aku. Aku takut!” Suaranya terdengar bergemetar.

Gadis yang di depan komputer itu menyeringai pelan, “Kau yang membuatku terjebak seperti ini, Jiyeon unnie.”

Gadis yang dipanggil Jiyeon itu langsung menutup kedua telinganya, perlahan air matanya jatuh dari matanya, mengalir di pipinya yang berwarna putih lobak itu dengan lancar.

“Ini semua salahmu.”

.

.

.

.

.

Sore itu di depan rumah klasik putih ada seorang gadis sedang duduk di bangku panjang sambil meneguk teh hangat manis yang diwadahi dengan cangkir putih elegan itu. Teh yang mengenai permukaan bibir gadis itu membuat dia nampak lebih manis dari sebelumnya.

“Jiyeon!” Panggil seseorang dari belakangnya dan menarik bando yang dikenakan oleh Jiyeon.

Jiyeon mendecak kesal dan menatap jengkel orang tersebut yang kini sudah duduk di sampingnya.

“Kau membuat rambutku berantakan, aish!” Dengus Jiyeon sambil merebut bando miliknya kembali dan memakainya lagi.

“Gadis manis tidak boleh marah-marah seperti itu.” Goda pria yang masih lengkap memakai seragam sekolahnya itu.

“Diamlah Jinwoon! Aku mual mendengar rayuanmu itu.” Kata Jiyeon.

“Bukannya kau menyukainya?” Tanya Jinwoon sambil tersenyum aneh ke arah Jiyeon.

“Aku ini menyukaimu, bukan menyukai rayuanmu.” Jawab Jiyeon.

“Ha? Bukannya kau mencintaiku?” Pertanyaan yang keliar dari mulut Jinwoon itu langsung diacuhkan oleh Jiyeon.

BRAK!

Pagar rumah Jiyeon terbuka begitu saja. Jinwoon dan Jiyeon, keduanya tersentak mendengar suara tersebut. Munculah seorang nenek-nenek dengan penampilan yang acak-acakkan memasuki halaman rumah Jiyeon dan disusul oleh satpam rumah Jiyeon yang menyusul dari belakang.

Nenek tersebut melototi Jinwoon dan Jiyeon satu persatu.

“Tolong aku!” Teriak nenek itu.

Jinwoon dan Jiyeon sontak berdiri, Jiyeon langsung berlari ke belakang Jinwoon, dia mengenggam lengan Jinwoon dengan erat.

“Siapa dia?! Usir sekarang juga!” Perintah Jinwoon. Jiyeon hanya mengumpat di balik badan Jinwoon.

“Jinwoon-ah, jangan kasar seperti itu!” Larang Jiyeon.

“Tolong aku! Dia mengikutiku! Tolong!!” Nenek itu masih berteriak meminta tolong sedangkan satpam tersebut sudah menahan lengan nenek tersebut yang hendak menghampiri Jinwoon dan Jiyeon.

“Tolong aku! Dia mengejarku! Dia ingin mencabikku! Dia penyihir terjahat di dunia ini!” Nenek itu nampak susah payah untuk mengeluarkan ucapan tersebut.

“Kalian harus menolongku atau dia akan menghampiri kalian!” Ucap sang nenek tua itu lagi sambil menahan tarikkan dari satpam.

“Dia akan mengetuk pintu rumah kalian!”

“Diam kau!” Bentak Jinwoon.

Jiyeon ketakutan. Dia langsung memasuki rumahnya dan Jinwoon mengikuti dari belakang.

“Dia akan mengikuti kalian kemanapun! Kemanapun! Bahkan ke liang kubur kalian!”

.

.

.

“Nenek itu siapa?” Tanya Jiyeon. Wajahnya terlihat pucat. Mungkin dia masih terkejut dengan hal yang tadi.

“Aku tidak tahu.” Jawab Jinwoon.

“Aku takut, Jinwoon-ah! Aku takut!” Ulang Jiyeon.

Jinwoon menghampiri Jiyeon yang sedang duduk di atas sofa sambil menggigit jari-jarinya.

“Tenanglah, aku akan tetap disini.” Jinwoon berusaha menenangkan Jiyeon.

“Tidak, aku butuh appa dan umma. Ya, mereka dimana?” Jiyeon nampak panic, dia melihat jarum jam dinding.

Jam 7 malam, batin Jiyeon.

“Mereka masih belum pulang? Tidak mungkin! Pasti terjadi sesuatu dengan mereka!” Jiyeon langsung berlari menuju pintu keluar rumahnya. Sedangkan Jinwoon mengikuti Jiyeon dari belakang.

Jiyeon membuka pintu tersebut dan berlari menuju pagar rumahnya lalu –TINNNN!

Suara klakson yang panjang memasuki pendengaran Jiyeon. Lututnya melemas, dia hampir saya mati tergencet dengan sebuah mobil yang sedang diparkir, lebih tepatnya mobil orang tuanya.

“Jiyeon!!” Teriak Jinwoon lalu menghampiri Jiyeon dan membantunya berdiri.

Seorang wanita tua yang cantik keluar dari mobil tersebut, “Jiyeon!” Teriaknya.

Umma!” Panggil Jiyeon lalu memeluk umma-nya, perlahan cairan bening keluar dari mata Jiyeon.

“Kamu kenapa, huh?” Tanya umma-nya sambil mengelus rambut Jiyeon.

Tak ada jawaban.

“Mungkin dia butuh waktu untuk istirahat.” Jinwoon yang menjawabnya.

“Baiklah. Kamu pulang saja, Jiyeon bersamaku, ada appa-nya juga.” Ucap umma Jiyeon.

“Ada apa? Jiyeon bagaimana?” Appa-nya Jiyeon pun muncul dari dalam mobil sambil menghampiri Jiyeon.

“Baiklah. Ahjumma, Ahjussi, saya pamit dulu. Permisi.” Pamit Jinwoon lalu berlalu dari rumah Jiyeon.

Umma, aku takut!”

.

.

.

Jiyeon masih duduk di atas kasur sambil menatap dinding berwarna putih yang kosong. Umma-nya yang maish setia menemaninya mulai nampak khawatir pada anaknya yang cantik itu.

“Jiyeon-ah.” Panggil umma-nya pelan.

Jiyeon menoleh, wajahnya lesu sekali.

“Kau kenapa?” Tanya umma-nya.

“Sore tadi ada seorang nenek tua mendobrak pagar rumah. Awalnya, dia meminta tolong tapi akhirnya, dia mengancam aku dan Jinwoon. Dia mengatakan bahwa kami akan diikuti oleh seorang penyihir dan dia akan mengikuti kami kemanapun. Bahkan sampai ke liang kubur kami.” Cerita Jiyeon itu cukup mengagetkan umma-nya.

“Ne-nenek?”

“Iya, seorang nenek tua, penampilannya sangat berantakan. Matanya melototi kami dalam-dalam, bahkan bola matanya seperti ingin keluar.”

“Nenek itu juga menghambat perjalan umma dan appa.

“A-apa?!” Jiyeon terkejut. Dia langsung mencengkram pundah umma-nya. Perlahan air matanya jatuh kembali, dia sangat ketakutan.

Umma, jangan pernah meninggalkan rumah!” Pesan Jiyeon.

“Jiyeon, ini sakit. Lepaskan umma!” Pinta umma-nya dengan sikap setenang mungkin.

“Tidak, umma! Ini akan jauh lebih baik! Jangan tinggalkan rumah!” Ulang Jiyeon sambil menambah cengkramannya pada pundak umma-nya.

“Tidak, Jiyeon! Umma bilang tidak!” Bentakkan pun keluar dari mulut sang umma.

Jiyeon diam, dia langsung memeluk kakinya sendiri.

“Istirahatlah, kau ini terlalu banyak begadang untuk menonton film yang tidak bermutu.”

.

.

.

Pagi ini Jiyeon tidak masuk sekolah. Dia lebih memilih mengurung di dalam kamarnya. Tidak berkutik dari kasurnya. Bahkan dia tidak berani menginjakkan ibu jarinya ke lantai kamarnya.

Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Jiyeon meraih ponselnya yang berada di sebelahnya dan mengangkat panggilan tersebut.

“Halo?” Suara serak Jiyeon keluar dari kerongkongannya.

“Jiyeon-ah, aku ada dibawah.”

“Jinwoon?”

“Iya, aku ada dibawah, turunlah.”

“Tidak, kau saja yang naik.”

“Masa aku masuk ke kamarmu? Percayalah, tidak akan terjadi apa-apa.”

“Jin—“

“Aku tunggu dibawah, apapun yang terjadi.”

Mau tidak mau, Jiyeon menginjak lantai kamar itu juga dan turun menghampiri Jinwoon yang berada di bawah.

.

.

.

“Jinwoon?” Panggil Jiyeon sambil menuruni tanggan rumahnya satu persatu. Dia melihat seseorang duduk di atas sofa. Tapi, dia yakin itu bukan Jinwoon.

Rambut Jinwoon itu tidak panjang.

“Jinwoon?” Suara Jiyeon makin mengecil. Orang tersebut menoleh, Jiyeon terkejut. Itu nenek yang kemarin.

“Tolong aku!!” Teriak sang nenek lalu berlari ke arah Jiyeon. Jiyeon langsung berlari menuju ke kamarnya namun dia tersandung di anak tangga paling atas sehingga dia terjatuh. Beruntungnya,d ia tidak jatuh ke tangga.

“Tolong!! Dia mengikutiku! Tolong!” Teriak nenek itu. Jiyeon menoleh ke belakangnya. Nenek itu sedang menaiki tangga. Jiyeon berusaha berdiri namun sia-sia. Pergelangan kaki kirinya terkilir. Akhirnya dia mengesot hingga punggungnya menyentuh dinding.

“TOLONG! Jinwoon! Tolong aku!!” Jiyeon langsung menutup wajahnya. Dia tidak mau melihat rupa nenek yang menyeramkan itu.

“Tolong!!” Jiyeon mengulangi kata-kata itu.

“Dia akan mencabikmu, mengeluarkan isi perutmu, dia akan megikutimu kemanapun!!”

“Tolong!” Teriak Jiyeon.

.

.

.

“Tolong!” Teriak Jiyeon.

“Jiyeon, ini aku!”

Jiyeon membuka kedua matanya. Dia bingung. Tadi terpampang jelas bahwa sang neneklah yang mengejarnya, bukan Jinwoon.

“Jiyeon?”

“Ba-bagaimana?”

“Bangunlah.” Jinwoon membantu Jiyeon untuk bangun dari duduknya.

“Akh—“ Erang Jiyeon sambil memegang pergelangan kaki kirinya.

“Kau terkilir?” Tanya Jinwoon sambil memegan pergelangan kaki kirinya.

“Iya.” Jawab Jiyeon singkat.

“Hhhh—“ Jinwoon menghelakan nafasnya. “Ayo ke kamar. Aku akan mengobatimu.”

.

.

.

Jarum jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam namun Jiyeon masih duduk di atas kasurnya sambil memeluk ponselnya. Dia masih menunggu kedua orang tuanya untuk pulang.

Tiba-tiba terdengar mesin mobil dari pekarangan rumahnya, Jiyeon langsung berdiri melihat pekarangan rumahnya dari jendela. Benar, orang tuanya sudah pulang.

Setidaknya, Jiyeon bisa tidur nyenyak malam ini.

.

.

.

Jiyeon terbangun karena suara berisik dari luar kamarnya. Matanya melebar tak berkedip. Jantungnya berdegup kencang. Dia takut. Jiyeon takut.

Perlahan, dia meraih ponselnya. Dia mengetik pesan untuk Jinwoon.

Tolong aku, Jinwoon-ah!

Jiyeon tahu betul bahwa Jinwoon belum tidur. Jinwoon itu maniak game.

Benar saja, tiba-tiba ada balaan dari Jinwoon. Dengan cepat, Jiyeon membuka isi pesannya. Namun…

Pintu kamarnya terbuka pelan. Suara denyitan pintu itu bisa membuat bulu kuduk Jiyeon naik begitu saja. Dengan cepat Jiyeon meletakkan ponselnya dan berpura-pura untuk tidur.

.

.

.

Jiyeon mengintip pelan apa yang terjadi di kamarnya. Dia bisa melihat orang tuanya duduk di atas bangku tepat di depan kasurnya dengan keadaan mulut ditutup dengan kain, mata kedua orang tuanya tertutup, bahkan mulutnya mengeluarkan darah.

Mata Jiyeon memanas, dia terus mengintip dari balik selimutnya. Dia menurunkan pandangannya dari kedua wajah orang tuanya menjadi keseluruhan tubuh kedua orang tuanya.

Bola mata Jiyeon hampir saja keluar dari habitatnya, isi perut kedua orang tua Jiyeon keluar begitu saja. Dia hampir saja muntah melihat itu semua.

Tiba-tiba dia melihat orang yang membuka pintunya tadi dan yang menarik kedua orang tuanya lalu mengikatnya di kedua kursi itu. Orang tersebut sedang menulis sesuatu di dinding kamarnya dengan darah dari tubuh orang tuanya.

Jiyeon membaca tulisan yang tertulis…

Aku tahu kau sudah bangun

Saat itu juga Jiyeon meloncat dari kasurnya dan berlari keluar dari kamar—rumahnya.

.

.

.

Jiyeon berlari ketakutan, dia berusaha membuka pintu rumahnya yang terkunci. Sungguh kecerobohan yang luar biasa, dia tidak membawa kunci rumahnya. Baru saja dia berbalik untuk menganbil kunci rumah yang tergantung tapi dia sudah meliaht orang—nenek yang sering mengancam dan membayangi Jiyeon selama ini turun dari tangga rumahnya.

“Tolong!!” Dia menggedor rumahnya sendiri.

“Tolong! Tolong aku!” Jiyeon mulai terisak. Dia takut, dia takut hidupnya diakhiri oleh nenek aneh itu.

Jiyeon menoleh ke belakang lagi, dia melihat nenek itu bergumam sambil berjalan ke arahnya dengan tangan yang dipenyhi dnegan darah, “Akulah penyihirnya, aku butuh kau. Aku butuh dirimu sebagai santapanku.” Gumam nenek itu berulang-ulang.

“Tolong!!” Jiyeon menggedor lagi sampai tangannya memar kebiruan.

.

.

.

Jinwoon memanjat pagar rumah Jiyeon, dia tahu pasti pagar itu terkunci. Dia sudah mendengar gedoran kencang dari dalam rumah Jiyeon.

“Tolong! Tolong aku!” Jinwoon mendengar suara Jiyeon. Dia berlari menuju pintu rumahnya.

“Tolong!!” Ulang Jiyeon. Suara gedorannya semakin menjadi-jadi.

“Jiyeon!” Seru Jinwoon. Dia mendobrak pintu rumah Jiyeon.

BUK! BUK! BUK!

Dan akhirnya, pintu rumah Jiyeon terbuka. Jiyeon langsung keluar dari rumahnya dengan keadaan yang sedikit menyeramkan. Kantung matanya besar, matanya memerah karena menangis, dan tangannya bermemar.

“Jiyeon, kau kenapa?”  Tanya Jinwoon khawatir.

“Jinwoon, ayo!” Jiyeon menarik Jinwoon untuk keluar dari rumahnya.

.

.

.

Jiyeon memanjat pagar rumahnya yang terkunci dengan lamban. Ini pertama kalinya Jiyeon memanjat, tentu saja dia tidak bisa.

“Cepat, Jiyeon! Cepat!” Jinwoon terus membantu Jiyeon memanjat sambil menoleh ke belakangnya. Nenek itu sudah berada dekat mereka. Jarak mereka dengan nenek itu semakin mengecil.

“Jiyeon! Cepat—“

Ternyata nenek itu jauh lebih cepat. Nenek itu sudah menarik rambut Jinwoon sampai Jinwoon terjatuh.

“Jinwoon!” Teriak Jiyeon.

“Pergilah! Pergi!” Suruh Jinwoon berulang kali sambil ditarik oleh nenek itu. Jiyeon langsung melompat dari puncak pagarnya ke atas tanah.

“Argh!” Erangnya kesakitan.

Jinwoon, maafkan aku.

Jiyeon langsung berlari sekuat tenaga dengan kaki yang penuh luka. Dia tidak mau melihat Jinwoon yang akan diperlakukan sama seperti orang tuanya oleh nenek itu. Dia tidak mau.

.

.

.

“Areum! Areum!” Panggil Jiyeon ketakutan sambil mengetuk pintu rumah Areum, adik kelasnya yang sangat dekat dengannya.

Pintu itu terbuka.

“Ada apa?” Muncullah Areum dari balik pintu tersebut.

Jiyeon langsung masuk dan menutup—mengunci pintu rumah itu rapat-rapat lalu dia berlari mengunci seluruh jendela rumah Areum dan menutupnya dengan tirai.

“Ada apa, unnie?” Tanya Areum.

TOK! TOK! TOK!

Pintu rumah Areum tiba-tiba terketuk. Areum berjalan ke arah pintunya.

“Jangan!” Teriak Jiyeon.

Areum menoleh, “Memangnya kenapa? Kau dikejar oleh preman?”

“Lebih menyeramkan dibanding preman, Areum.” Balas Jiyeon.

“Maksudmu?”

“Jadi, begini…”

.

.

.

Areum menatap Jiyeon dengan kesal. Jiyeon yang ditatap seperti itu hanya bisa diam dnegan perasaan bersalah dan sedih. Banyak orang yang menjadi korban karena dirinya.

Kedua orang tuanya, Jinwoon, bahkan sekarang Areum.

Mungkin sekarang Areum akan membenci Jiyeon selamanya. Ya, selamanya.

.

.

.

Ketakutan itu datang lagi ketika Jiyeon itu mendengar ketukan pelan di daun pintu rumahnya. Dia menggigit bibir bawahnya dengan kencang untuk menahan rasa takutnya. Dia duduk di pojokkan ruangan, lebih tepatnya di samping komputer yang menyala dan ada Areum yang sedang menatap layar monitor tersebut.

“Areum, temani aku. Aku takut!” Suara Jiyeon terdengar bergemetar.

Areum menyeringai pelan, “Kau yang membuatku terjebak seperti ini, Jiyeon unnie.”

Jiyeon itu langsung menutup kedua telinganya, perlahan air matanya jatuh dari matanya, mengalir di pipinya yang berwarna putih lobak itu dengan lancar.

“Ini semua salahmu.” Ucap Areum dengan tatapan yang mematikan.

END

4 thoughts on “Knock!

  1. Bagus, horrornya dapet cuman kenapa ga dijelasin asal usul ceritany kok tiba2 si nenek itu pengen bunuh jiyeon dan endingnya gantung hehe

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s