[FF Freelance] Forever Not Hate You (Part 5 – END)

asliJudul : Forever Not Hate You (Part V- End)

Author : Mettugi

Rating : General

Lenght : Chapter

Genre : Family and Romance

Main Cast :

–          Moon Chae Won as Han Seung Mi

–          Park Yoochun as Park Tae Woo

Disclaimer : FF asli buatan sendiri and no plagiarism. Tiba-tiba pengen pairing ini ada dalam FF-ku dan berharap suatu saat mereka bakal main drama bareng. Hehe..

Previous: Part 1Part 2Part 3, Part 4

“Setelah rapat ini selesai, datang ke ruanganku.” Ayah Tae Woo sudah duduk di sebelah putranya itu.

Tae Woo hanya mengangguk. Dia sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh ayahnya. ‘Pasti tentang kejadian kemarin malam.’ Batinnya.

Rapat selesai beberapa menit yang lalu. Tae Woo ingat jika ayah tadi memintanya untuk bertemu. Dia memberikan dokumen pada sekretarisnya untuk diletakkan di ruangannya.

Tae Woo masuk ke dalam ruang ayahnya. Sang ayah mempersilakan Tae Woo duduk. Dengan sedikit enggan dia duduk berhadapan dengan ayah.

“Jika ayah ingin membicarakan masalah kemarin, aku masih tetap pada pendirianku. Aku tidak setuju.” Ucapnya langsung ke intinya. Wajahnya melengos ke arah lain, ia tak ingin menatap ayahnya.

“Itu sudah berakhir.”

Tae Woo menoleh ke ayahnya. “Maksud ayah?”

“Perjodohan ini tidak akan terjadi lagi.”

“Benarkah??” Tae Woo  tersenyum bahagia. Akhirnya dia bisa terbebas dari hal konyol itu.

“Kau begitu bahagia?”

Tae Woo mengangguk. “Tentu.”

“Ck ck ck.. kau benar-benar anak yang rugi. Kenapa kau menolak gadis sebaik dan secantik Seung Mi?”

“Ayah, aku tidak pernah mengenalnya, lagipula dia tidak sebaik yang ayah pikirkan.”

“Sudahlah. Kau pergilah. Ayah masih banyak pekerjaan yang harus ditangani.”

Tae Woo mengangguk dan pamit pergi. Dia tersenyum lega dan bahagia. Masalah yang satu ini sudah selesai.

***

Pintu kerja terbuka. Tae Woo yang sedang mengetik sesuatu di laptopnya tiba-tiba berhenti dan melongokkan wajah melihat siapa yang datang. Seol Ri.

“Ada apa kau kemari? Aku sedang sibuk.”

Seoul Ri mencibir. “Oppa, dari mana kau mendapatkan ini?” seol Ri memegang diary milik Seung Mi.

Tae Woo terkejut dengan diary itu yang tiba-tiba sudah ada di tangan adiknya. “Dari mana kau mendapatkan itu? Sini kembalikan.” Tae Woo berusaha meraih, namun dengan cepat Seol Ri menyembunyikan ke balik punggungnya.

“Buku ini tergelatak begitu saja di lantai kamarmu. Jadi aku membacanya. Apa tak boleh?” Seol Ri masih menyembunyikan agar tidak bisa direbut oleh kakaknya. “Darimana kau mendapatkannya? Apa sebelumnya kalian pernah saling kenal?”

“Tidaklah, aku menemukannya. Tapi aku malas untuk mengembalikannya. Kau buang saja buku itu.”

“Oppa, kau benar-benar tidak berperasaan ya, bagaimana jika dia mencarinya? Aku sudah membacanya, dan semua isinya itu sangat penting, kurasa.”

“Hei, kenapa kau membaca buku yang bukan milikmu? Sini berikan padaku.”

“Apa? Tadi kau bilang suruh membuang, sekarang diminta. Apa Oppa juga ingin membacanya?”

Tae Woo merasa dijebak oleh adiknya. “Hei, kau. Ya sudahlah, kau buang saja.”

“Baiklah. Aku yang akan mengembalikan buku ini ke dia. Dan bilang jika buku ini dibuang oleh Oppa. Bagaimana?”

Kali ini Tae Woo benar-benar sudah dikerjai oleh adiknya. “Baiklah. Sini, biar aku yang mengembalikannya.”

Seol Ri memberikan diary itu ke kakaknya. “Tapi Oppa, aku benar-benar penasaran kemarin. Apa yang kalian bicarakan, sampai Seung Mi unnie yang awalnya menyetujui perjodohan itu pada akhirnya dia yang meminta untuk membatalkannya?”

Tae Woo menatap adiknya. “Dia yang memintanya?”

Seol Ri mengangguk-angguk. “Ya, dia memberikan aset rumah lamanya ke ayah. Dan meminta untuk tidak mewujudkan perjodohan ini. Dia juga bilang, daripada ada pihak yang terbebani dan teraskiti, lebih baik perjodohan ini tidak ada. Bukankah itu keren? Dia yang masih begitu muda, tapi semangatnya untuk peternakan itu luar biasa. Aku tahunya dari diary itu.” Seol Ri menunjuk diary yang sudah dipegang kakaknya menjelaskan maksud kalimat terakhirnya.

Tae Woo cukup tertegun dengan ucapan adiknya. Ia mulai berpikir pada dirinya sendiri, apakah dia sudah keterlaluan dengan sikapnya tempo lalu pada gadis itu? ia memandangi diary itu cukup lama. Menimbang-nimbang apakah ia harus membacanya atau tidak.

Tae Woo akhirnya membuka diary tersebut dan membacanya. Entah di halaman berapa dia membaca.

8 Agustus 2009

Akhirnya cita-citaku terwujud. Aku lulus dan siap menjadi seorang dokter hewan profesional. Ayah, kau tidak akan sendiri lagi, aku akan selalu membantumu. Untuk kita, ibu, dan masyarakat di desa kita. J.

Ibu, apa kau bahagia disana? Aku sudah bisa menjadi sepertimu. Aku tahu pasti jika kau masih hidup, kau lebih menyukai aku untuk tidak menjadi profesi sepertimu. Tapi jujur saja, sosok yang aku kagumi sejak kecil itu adalah ibu. Ibu berani, penyanyang, dan selalu bersemangat meski ibu sakit. Aku akan terus membuat ibu dan ayah bahagia.

4 Januari 2010.

Aku kira memiliki keluarga baru itu menyenangkan, tapi ternyata tidak. Mereka berdua hanya bermuka manis di awal-awal, dan sekarang aku tahu jika mereka punya maksud lain.

Ibu tiriku tidak mencintai ayah. Dia hanya mengejar harta saja. Sedangkan adik tiriku, dia hanya tahu bagaimana cara meminta uang dan menghabiskannya.

Meski aku beberapa kali mengatakan pada ayah, tetap saja ayah tidak terpengaruh atau marah. Dia selalu bilang padaku, jika kau percaya dan berhati-hati maka semua yang kau khawatirkan tidak akan terjadi. Api jika diberi minyak, akan semakin meluap. Maka kita harus menjadi air yang bisa memadamkannya. Mereka berdua masih perlu waktu untuk menyesuaikannya.

Ya.. aku tahu. Perlu waktu. Baiklah ayahku,,, J

4 Februari 2013.

Aku sudah tidak percaya akan cinta. Buat apa aku mencintai seseorang jika dia tidak pernah melihatku?

Sudah cukup 2 kali aku menjadi pihak yang tersakiti. Aku tidak akan mencintai laki-laki lagi. Entah sampai kapan.

10 Februari 2013

Inggris.. akhirnya aku sampai disini. melanjutkan studi dan melepas semua masalah yang telah aku hadapi di Korea. Lupakan yang lalu dan pikirkan yang sekarang ada. Semangat!!

Sialnya, hari pertama disini, langsung mengeluarkan buget yang banyak untuk bayar kamar hotel VIP. Heran juga, apa perempuan itu begitu mudahnya menyukai laki-laki? Aku melihatnya juga tidak terlalu tampan. Ya mungkin hanya senyumnya saja yang membuatku terkesan. Upss.. lupakan. Aku tidak mau lagi menyukai laki-laki. Dia mungkin juga tipe laki-laki brengsek seperti yang lain.

Tae Woo yang membaca bagian ini langsung menutup diary itu. Dia memang sangat sensitif. “Dasar perempuan sialan.” Tapi dia membuka lagi. Tepat di halaman terakhir.

6 Agustus 2013

Ya Tuhan.. aku berharap perjodohan ini tidak pernah terjadi. Bagaimana bisa ayah menjodohkanku pada orang yang belum aku kenal, kita juga belum pernah bertemu?

Teman masa kecilku? Aku sudah lupa.

Jika bukan demi nasib peternakan kami, aku pasti akan segera kembali ke Inggris. Tapi melihat ayah yang sudah tua dan sakit-sakitan, melihat tingkah ibu tiri dan adik tiriku yang lebih peduli pada menghabiskan harta, dan melihat para pegawai peternakan yang banyak membantu kami, aku akhirnya memutuskan untuk melepaskan prinsip yang selalu aku pegang teguh. Aku harap semua bisa berjalan sesuai rencana.

Ibu, maafkan aku. Aku harus memberikan aset rumah ini jika semua tidak berjalan sesuai dengan apa diharapkan.

Tanggal itu tepat saat mereka bertabrakan dan Seung Mi menjatuhkan diarynya. Tanggal dimana mereka bertemu untuk kedua kalinya.

Sekretaris Kang. Tolong kau kosongkan jadwalku besok. Aku akan pergi ke Jeju untuk urusan penting lain. Dia mengirim pesan itu ke nomor sekretarisnya.

***

Seung Mi tampak serius memeriksa sapi perah yang sakit. Sapi itu positif terkena radang. Penyakit radang pada ambing yang cukup banyak dan mudah menyerang sapi perah. Dia memberikan suntikan obat melalui puting sapi perah tersebut. Kemudian mengoleskan antiseptik sesuadah memeriksa, agar tidak ada kuman yang masuk.

“Dia harus dikandangkan sendiri. Kau bawa sapi ini di tempat karantina ya.” Seung Mi melepas sarung tangan yang ia pakai. Dan keluar dari kandang sapi tersebut.

“Nona Seung Mi. Ada seseorang yang mencari anda.”

“Siapa?”

Pegawai itu mengedikkan bahunya. “Dia seorang pria muda yang tampan. Aku tidak tahu namanya.”

Seung Mi penasaran dengan pria yang dimaksud itu. Dia berjalan ke kantor depan masih dengan baju safarinya.

Pria yang dimaksud ternyata adalah Park Tae Woo. Dia sudah duduk di sofa kantor tersebut.

“Untuk apa kau kemari?”

Tae Woo menoleh padanya dan tersenyum tapi segera berhenti begitu melihat ekspresi dingin Seung Mi. “Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu. Duduklah.”

“Ini kantorku. Kau tidak perlu menyuruhku.” Seung Mi masih bersikap dingin. Tapi akhirnya dia duduk.

“Aku ingin mengembalikan ini padamu.” Tae Woo memberikan diary itu. “Maaf tidak memberikannya segera. Aku baru tahu jika pemiliknya itu kau.” Tae Woo melihat ekspresi kaget Seung Mi.

“Diaryku..” seung Mi langsung memeluknya. Dia tersenyum bahagia, tapi beralih kembali dengan ekspresi dingin. “Kau membukanya?”

Tae Woo menggeleng. “Tidak..”

Seung Mi mengamati diarynya yang sudah agak lecek dan sobek. “Bohong.”

“Adikku yang membacanya. Aku hanya membuka halaman awal, tengah dan akhir. Itu saja.” Ucapnya sembari terbata-bata.

“Sama saja kau juga membukanya.” Seung Mi bangkit berdiri. “Jika tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan. Kau bisa pergi.”

“Apa kau masih marah karena kejadian itu?”

Seung Mi tertawa. “Ya, aku marah. Apa tidak boleh? Jika kau ingin marah dan membenciku, silahkan. Bukankah waktu itu aku juga menamparmu tiba-tiba? Kau juga boleh marah.”

“Aku sudah marah padamu, tapi sekrang aku tahu jika aku yang salah. Maafkan aku sudah menilaimu buruk.” Kali ini Tae Woo bicara serius. Dia menatap Seung Mi yang sekarang juga menatapnya dengan ekspresi heran. “Aku datang kemari bukan karena masalah perusahaan, tapi pribadi, aku meminta maaf.”

Seung Mi tertegun dengan penuturan Tae Woo. Baru pertama kali dalam hidupnya, ada laki-laki yang meminta maaf dengan sungguh-sungguh padanya.

“Apa kau memaafkanku?”

Seung Mi diam memikirkan kembali permintaan itu. Maaf tidak hanya sekedar di ucapan saja, tapi semuanya. dia paling sulit mengatakan kata itu. Tapi ia benar-benar yakin akan kesungguhan Tae Woo dari pancaran matanya.

Seung Mi akhirnya mengangguk. “Baiklah. Lagipula, semua sudah berakhir. Kita tidak perlu terbebani lagi dengan perjodohan itu.”

 

Tae Woo sudah akan masuk mobil. Dia akan kembali lagi ke Seoul. Seung Mi mengantar kepergiannya di depan kantor.

“Han Seung Mi.” Tae Woo mengurungkan niatnya untuk masuk ke mobil. Dia menghampri Seung Mi. “Bisakah kita berteman?” Tae Woo mengulurkan tangannya. “Seperti waktu kita kecil. Kau ingat?”

Seung Mi tertegun. Dia memandang tangan Tae Woo dan sorot matanya bergantian. Mencari kesungguhan itu. Seung Mi akhirnya tersenyum dan menjabat tangannya.

“Baiklah, kita berteman.”

Kedua tangan mereka saling bertemu. Terpancar senyum di antara kedua wajah mereka. Langit terpapar luas dan cerah. Secerah hati mereka yang sedang berbahagia.

Keputusan untuk berteman tidaklah buruk bagi mereka. Bukankah seiring berjalannya waktu, maka cinta akan tumbuh?

***

-END-

 

4 thoughts on “[FF Freelance] Forever Not Hate You (Part 5 – END)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s