[FF Freelance] A Late Regret (Chapter 3)

coveralrTitle : A Late Regret (Chapter 3)

Author : @diani3007

Main Cast :

  • [Infinite] Kim Myungsoo
  • [A Pink] Son Naeun
  • [Miss A] Bae Sooji
  • [BTS] Kim Seokjin

Genre : Romance, School Life, Angst

Rated : Teen

Length : Chaptered

Previous : Chapter 1, Chapter 2

Disclaimer : ff ini ngga terinspirasi dari manapun. Idenya muncul tiba-tiba. Masalah endingnya MyungZy/MyungEun? Still secret! >.< pokoknya ngga bakal ketebak! /sokmisterius/ oh iya, untuk ‘Bloody School’ maaf belum update ya^^ tapi pasti bakal aku lanjutin kok ASAP~

Summary :

Penyesalan. Ya, penyesalan memang selalu datang di akhir. Jika penyesalan itu belum datang, kau tidak akan pernah berhenti dan menyadarinya, sampai ada pihak yang terluka atau bahkan pergi meninggalkanmu.

 

~Chapter 3~

“Kau… Bae Sooji?” tanya Myungsoo. Sooji diam saja.

“Kau murid baru ya? Pindahan dari mana?”

Pertanyaan itu agak aneh terdengar di telinga Sooji. Kenapa Myungsoo justru bertanya seperti itu? Apa dia benar ingat dengan Sooji?

“Kenapa diam saja? Kau mengenalku, kan? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Sooji tak kuasa menahan air matanya. Entah apa yang membuatnya menangis. Sementara itu, Naeun dan Seokjin sedang menatapnya heran.

“Kau, mau menangis, ya?” tanya Naeun yang terlihat khawatir. Dia lalu menghampiri Sooji dan mengelus bahunya pelan.

Sooji menggeleng. “Aniyo, gwenchana. Aku akan masuk dan mengganti perbanku.”

Tanpa menghiraukan Naeun dan Myungsoo, Seokjin berjalan mengikuti Sooji ke dalam ruang kesehatan lalu menutup pintu. Setelah dirasa hening, Naeun pun mulai bertanya soal Sooji pada Myungsoo.

“Kau mengenalnya?”

Ani, aku hanya membaca nametagnya,” Myungsoo menjawab dengan enteng lalu pergi meninggalkan Naeun yang masih kebingungan. Myungoo butuh waktu untuk sendiri. Entah mengapa setelah bertemu Sooji, perasaannya menjadi tak karuan.

~***~

Gwenchana?” tanya Seokjin setelah selesai mengganti perban di lutut Sooji. Sooji hanya mengangguk pelan.

“Apa kau mengenal Myungsoo?”

Sooji diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Myungsoo. “Apa kau perlu tahu? Aku merasa ini tidak ada hubungannya denganmu,” ucap Sooji dingin. Dia bangkit dari duduknya di atas ranjang lalu berjalan pelan meninggalkan Seokjin.

Ah.” Sooji menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh. “Gomawo, rasanya lebih nyaman setelah mengganti perban.”

Seokjin pun hanya mengangguk dan setelahnya lebih memilih diam. Dia yakin, kalaupun dia bertanya sekarang, tidak akan mendapat jawaban apapun dari Sooji.

~***~

Sooji memasuki kamarnya dengan cara berjalannya yang masih pincang. Ia melemparkan tasnya sembarangan ke atas ranjangnya. Setelah beberapa detik melamun, dia menghampiri cermin.

Diperhatikannya wajahnya dengan seksama. Sesekali dia menolehkan wajahnya ke kanan, untuk melihat wajah bagian kanannya, dan juga ke kiri, bahkan memutar tubuhnya.

“Apa dia hanya ingat wajahku tapi tidak ingat siapa aku?”

Tch! Keunde, apa dia memang tidak teringat apapun tentangku?”

“Apa jangan-jangan…”

Sooji menatap ke arah nametagnya.

“Dia hanya membaca nametagku?!”

~***~

Eomma,” panggil Myungsoo setelah menelan makanan di mulutnya.

Tidak hanya Nyonya Kim, Tuan Kim bahkan ikut mendongak menatap anak semata wayangnya.

“Aku, ingin bertanya sesuatu,” ucap Myungsoo. Dia menghela nafas sejenak. “Apa pernah ada seseorang yang belum berhasil aku ingat?”

Nyonya dan Tuan Kim kini terdiam. Mereka menatap satu sama lain sebelum mereka kembali menatap Myungsoo.

“Myungsoo-ya, bagaimana bisa kau bertanya seperti itu?” tanya Nyonya Kim.

“Tadi di sekolahku, ada murid baru. Namanya Bae Sooji.”

PRANG

Nyonya Kim yang baru saja hendak menyuapkan makanannya ke dalam mulut justru menjatuhkan sendoknya. Tatapannya menatap Myungsoo seolah tak percaya. Tuan Kim hanya terdiam menatap Myungsoo tajam.

“Jadi kau berpikir, yeoja yang bernama Bae Sooji itu bagian dari masa lalumu?” tanya Tuan Kim

“Mungkin.”

Aniyo. Jangan mempercayainya.”

“Memangnya kenapa? Padahal, aku merasakan sesuatu yang aneh saat menatap matanya.”

“Jangan pernah menatapnya lagi.”

Wae?

“Dia berbahaya. Aku jamin, kau akan menyesal jika mengenalnya lebih jauh.”

~***~

“Seokjin-ah, apa menurutmu Sooji itu cinta pertama Myungsoo?”

Sudah kesekian kalinya Naeun menebak-nebak soal hubungan Myungsoo dan Sooji. Telinganya rasanya sudah panas karena terus mendengar nama laki-laki itu. Ingin sekali Seokjin menyuruh Naeun agar diam dan tak perlu membahas Myungsoo lagi. Tapi, rasanya ia tak tega.

“Seokjin-ah, kenapa diam saja?” tanya Naeun yang kini tengah duduk di belakang Seokjin yang sedang mengendarai motornya. Mereka kini berangkat sekolah bersama, Seokjin sendiri yang menjemput Naeun.

Molla. Kenapa kau begitu penasaran?”

Aniya, keunyang, mereka terlihat bersikap tak biasa. Tidak seperti orang yang baru pertama kali bertemu, iya, kan? Mungkin saja di masa lalu Sooji dan Myungsoo pernah menjalin hubungan, aku bisa melihatnya dari cara Sooji menatap Myungsoo,” ujar Naeun.

“Sudahlah, untuk apa membicarakan hal yang tak pasti?”

“Kau benar juga. Mianhae, pasti sejak tadi kau merasa terganggu, ya?”

Ne? Ani.”

Seokjin agak gugup ketika Naeun menyatakan perasaan bersalahnya. Naeun memang benar-benar gadis yang baik. Dia memang selalu mengerti perasaan Seokjin. Tapi sayangnya, dia belum bisa membalas perasaan Seokjin.

~***~

“Myungsoo-ya!” panggil Naeun sambil menepuk bahu Myungsoo.

Hari ini, Myungsoo terlihat tak bersemangat. Bahkan, disapa oleh Naeun tak membuatnya gugup sama sekali. Dia bahkan tidak menatap Naeun sedikitpun.

Ya, Kim Myungsoo. Apa kau tidak mendengarku?” tanya Naeun sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah muram Myungsoo.

Naeun menghentikan kegiatannya itu dan kini berdiri tegak sambil menatap Myungsoo kesal.

“Kau ini sebenarnya kenapa?”

Beberapa lama kemudian, setelah tidak mendapat respon apapun dari Myungsoo, Naeun menghela nafas. “­Arrasseo, mungkin kau memang butuh waktu untuk sendiri.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Naeun benar-benar tidak bertanya apapun lagi pada Myungsoo dan lebih memilih untuk pergi ke bangkunya. Sementara Myungsoo masih sama. Seperti Naeun memang tidak pernah menanyainya apapun.

~***~

“Ada hubungan apa kau dengan Kim Myungsoo?” tanya Seokjin. Sooji hanya menghela nafas lalu memutar bola matanya.

“Apa kau tertarik padaku?”

Ne?”

“Jawab saja, apa kau menyukaiku?”

Woah! Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu? Apa aku terlihat seperti tertarik padamu?”

Ne,” jawab Sooji enteng.

Mworagu? Ya, aku sama sekali tidak tertarik padamu. Ehm, mungkin sedikit. Lagipula, kenapa kau berpikir seperti itu?”

“Kau sepertinya sangat penasaran dengan kehidupanku. Kau terus bertanya siapa itu Myungsoo dan apa hubunganku dengannya. Apa kau cemburu?”

Seokjin jadi salah tingkah. Dia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal itu. Dia meringis lalu memperlihatkan deretan giginya. Namun dengan sekejap, ekspresinya berubah dengan mata yang membulat. “Apa kalihatannya seperti itu? Aku sama sekali tidak cemburu!”

Sooji hanya memutar bola mata lalu pergi dari hadapan Seokjin. Beberapa detik setelah kepergian Sooji, Seokjin mengerutkan alis.

“Kenapa aku bersikap seperti ini? Apa yang terjadi denganku?”

~***~

Naeun sebisa mungkin menahan tangisnya. Buku yang ia baca di perpustakaan kini sudah basah karena air matanya yang tak tertahan. Ia merasa bodoh. Naeun berpikir dirinya terlalu berlebihan. Ia terlalu takut untuk kehilangan Myungsoo di saat Myungsoo dan dirinya sudah mulai dekat. Bayangan tentang Myungsoo dan Sooji di masa lalu terus berkeliling di otaknya. Naeun memang tidak tahu persis ada hubungan apa antara Sooji dan Myungsoo di masa lalu. Yang jelas, ia takut. Takut kehilangan orang yang dicintainya sejak lama.

Naeun mengatur nafasnya yang sesenggukan karena tangisnya. Ia mengedarkan pandangannya. Biasanya, Myungsoo selalu mencarinya ke perpustakaan saat ia tidak di kelas. Tapi sekarang, sejak tadi pagi, Myungsoo berubah. Dan Naeun harap, esok hari, Myungsoo yang lama kembali. Entah kembali sebagai Myungsoo pemalu yang sangat dekat dengan Naeun, atau justru kembali seperti Myungsoo sebelum kecelakaan. Naeun tidak tahu. Dia hanya tahu Myungsoo yang lama adalah, Myungsoo yang sudah melupakan Bae Sooji, pendiam dan sangat dekat dengannya.

Gwenchana?” tanya Seokjin yang tiba-tiba datang menepuk bahunya lalu duduk di sebelahnya. Naeun hanya diam. Dia bahkan sama sekali tidak berniat untuk menghapus air matanya dan berkata ‘Tidak apa-apa’ atau ‘Aku tidak menangis’ kepada Seokjin.

“Apa yang terjadi?”

Naeun menggeleng. Dia merasa bukan saatnya untuk bercerita pada Seokjin soal perasaan takutnya yang tak pasti. Mungkin, orang lain akan menganggapnya cengeng dan berlebihan jika mendengarnya.

“Apa kau tidak mau bercerita? Siapa tahu aku bisa membantu?”

Naeun kembali menggeleng. “Aniyo. Aku rasa, belum saatnya aku bercerita padamu. Mungkin nanti.”

Seokjin hanya menatap Naeun iba. “Wae geurae? Apa ini soal Myungsoo lagi?”

Naeun tidak menjawab.

“Benar, kan? Kenapa kau selalu memikirkannya? Apa kau menyukainya?”

Seokjin masih terus menatap Naeun yang tidak menjawab pertanyaannya. Dia tahu. Naeun pasti menyukai Myungsoo.

“Tidak bisakah kau berhenti menangis? Masalah yang kau tangisi saja masih belum jelas, Naeun-ah.”

~***~

Keesokan harinya, Myungsoo masih diam. Dia tidak bicara sepatah katapun pada Naeun. Sementara Naeun yang sedari tadi memperhatikan Myungsoo dari bangkunya hanya bisa khawatir. Khawatir apabila Myungsoo sakit, sedang banyak masalah, atau justru, memikirkan gadis lain.

Karena merasa gusar, Naeun pun berjalan menghampiri bangku Myungsoo untuk sekedar membuyarkan lamunannya. “Kim Myungsoo,” panggilnya pelan. Tapi, tidak disahut oleh si pemilik nama.

“Myungsoo-ya!”

Myungsoo mengedipkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya menatap Naeun.

Eoh? Naeun-ssi?”

Naeun menghela nafas. “Kau ini kenapa? Kenapa akhir-akhir ini kau banyak diam?” tanya Naeun, berusaha untuk tetap tersenyum.

Aniyo, keunyang, akhir-akhir ini aku diibebani banyak pikiran.”

“Tentang yeoja itu? Bae Sooji?”

Myungsoo tidak menjawab. Ya, memang setelah Myungsoo mengenal Sooji, ia jadi penasaran tentang gadis itu. Dia bahkan seringkali tak sadar sudah mengacuhkan Naeun. Tetapi, sampai sekarang Myungsoo masih penasaran soal perkataan ayahnya.

“Jangan pernah menatapnya lagi.”

Wae?”

“Dia berbahaya. Aku jamin, kau akan menyesal jika mengenalnya lebih jauh.”

Apa perkataan ayahnya menandakan bahwa Myungsoo akan menyesal jika mengenal Sooji lebih jauh? Entahlah, Myungsoo sendiri ingin mencari tahu soal itu.

“Naeun-ssi,” panggil Myungsoo.

“Naeun saja, kita kan teman sekelas.”

Arrasseo, Naeun-ah, mianhae. Selama ini pasti kau terganggu dengan sikapku yang tidak jelas. Kau pasti marah ya?”

“K-kenapa aku harus marah?”

“Jadi kau tidak marah?”

Naeun menggeleng sambil mengerutkan kening.

“Lagipula untuk apa aku marah? Aku kan bukan yeojachingumu.”

“Yakin bukan?”

Mwo? Apa maksudmu?”

Naeun seketika gugup saat Myungsoo bangkit dari duduknya lalu meraih tangannya untuk berpegangan dengan tangan Myungsoo. Detak jantung Naeun semakin cepat. Tangannya tiba-tiba terasa dingin. Bukan tangannya, tapi tangan Myungsoo.

“Myungsoo-ya, tanganmu dingin.”

Sebisa mungkin Myungsoo menahan kegugupannya. Tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin. Ini perama kalinya ia melakukan skin ship dengan Naeun. Jika bukan sekarang, kapan lagi dia akan memulai mendekatkan dirinya dengan Naeun. Dia tidak ingin terus-menerus menjadi pemuda yang pendiam dan kaku. Untuk mendapatkan hati Naeun, dia akan menunjukkan perasaannya.

“Tentu saja dingin, karena kau memegangnya.”

Myungsoo semakin gugup setelah selesai mengucapkan kata-kata itu. Kim myungsoo, dia sudah membuat keputusan untuk tetap berada di samping Naeun dan meninggalkan bayang-bayang tentang gadis bernama Sooji. Dia merasa sia-sia memikirkan ada hubungan apa dirinya dengan Sooji. Oleh karena itu, Myungsoo lebih memilih Naeun, gadis yang jelas ia kenal dan ia cintai. Ya, dia sudah membuat keputusan. Keputusan, yang entah mungkin bisa berubah, seiring berjalannya waktu.

~***~

Aigoo, ahjumma! Itu berat! Sini biar kubantu bawakan!” ujar Seokjin sambil berlari kecil menghampiri wanita paruh baya yang membawa belanjaan yang cukup banyak. Seokjin lalu mengambil sebagian besar kantung belanjaan milik wanita itu. Wanita itu tersenyum ramah.

Gomawo, kau baik sekali, nak.”

Seokjin membalas senyuman wanita itu lalu berjalan beriringan dengannya.

“Pulang dari sekolah?”

Ne.”

“Kau murid Seowon?”

Ne.”

“Putriku juga bersekolah di sana.”

Ah, keurae?

Oh, dia di kelas 11-3.”

Itu kan kelasku? Batin Seokjin.

“Sudah sampai.”

Seokjin segera membawa masuk belanjaan yang dipegangnya. Setelah menyimpan semuanya di dapur, Seokjin keluar dari rumah wanita itu.

Jeongmal gomawoyo.”

Gwenchanayo, ahjumma.”

Mian, gara-gara harus membantuku, kau harus menunda perjalananmu ke rumah.”

Aniyo. Itu rumahku,” ucap Seokjin sambil menunjuk rumah sederhana di sebelah rumah wanita itu.

“Jadi ternyata kita bertetangga?”

Ne. Keurom, aku pamit dulu. Annyeonggigaseyo,” ujar Seokjin sambil membungkuk sopan lalu berjalan memasuki rumahnya.

Wanita itu terus menatap Seokjin sampai Ia masuk ke dalam rumahnya yang sederhana hingga tak terlihat lagi. Wanita itu tersenyum.

Eomma.”

Wanita itu menoleh, masih dengan senyumannya. Anak perempuannya sudah pulang.

“Kenapa Eomma senyum-senyum seperti itu? Ada apa dengan rumah itu?”

Ani. Tadi ada pemuda yang baik sekali membantu Eomma membawakan barang belanjaan. Dia sangat tampan dan satu sekolah denganmu.”

~***~

Seokjin berjalan pelan keluar dari rumahnya. Hari ini ia akan berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Motornya tiba-tiba mogok dan harus dibawa ke bengkel kemarin. Akibatnya, kemarin ia juga harus pulang dengan berjalan kaki. Dia juga jadi tidak bisa mengantar Naeun hari ini.

Ketika Seokjin berjalan melewati rumah di sebelahnya, tepatnya rumah wanita yang kemarin ia tolong, ia melihat seorang gadis keluar dari rumah tersebut mengenakan seragam yang sama dengannya.

“Bae Sooji? Kenapa ia tinggal di rumah itu? Bukankah rumahnya bukan di sini? Rumahnya kan mewah. Kenapa justru ia berada di daerah komplek yang rumah-rumahnya sederhana seperti ini?”

Langkah Sooji terhenti ketika melihat Seokjin di depan rumahnya, menatapnya bingung. Sooji memutar bola matanya. Dia malas berurusan dengan lelaki itu. Jadi ia putuskan untuk berjalan saja, tanpa menghiraukan keberadaan Seokjin.

Seokjin sendiri juga memutuskan untuk diam. Dia tidak ingin banyak bertanya yang iya yakini akan membuat Sooji tidak nyaman.

~***~

Setelah bel istirahat berbunyi, Naeun dan Myungsoo pergi ke taman belakang sekolah atas permintaan Naeun. Naeun bilang ia ingin memberikan Myungsoo sesuatu. Ia kini membawa dua buah kotak yang sama persis.

“Aku akan buka! Satu… dua… tiga! Tada!”

Naeun membuka tutup kotak itu dan memperlihatkan sebuah sepatu berwarna hitam yang lucu. Ini aku membelikannya untuk kita.

“Kita?”

Naeun mengangguk semangat lalu memperlihatkan lagi isi kotak yang satunya. Sepatu untuk pasangan. Myungsoo tersenyum melihat perlakuan Naeun. Ia gadis yang baik.

“Lain kali, aku ingin kita bisa berjalan bersama memakai sepatu pasangan ini!”

Tiba-tiba, senyum Naeun yang sedang merekah itu hilang ketika melihat Myungsoo yang mengerutkan alis sambil memegangi kepalanya, seolah sedang merasakan sakit.

“Aku akan buka! Satu… dua… tiga! Tada!”

Myungsoo duduk di taman belakang sekolah bersama seorang gadis yang saat ini membelikannya sepatu pasangan berwarna hitam.

“Lain kali, aku ingin kita bisa berkencan memakai sepatu pasangan ini!”

 

Setelah Myungsoo merasa sakit kepalanya hilang, ia menatap Naeun kebingungan.

“Naeun-ah, apa kau pernah memberikan sepatu ini sebelumnya padaku?”

Ya, Myungsoo bertanya seperti itu karena tiba-tiba ada sebuah ingatan di otaknya bahwa ia juga pernah mendapat sepatu pasangan seperti ini dari seorang gadis, yang tidak ia ingat wajahnya.

Aniyo, mana mungkin? Aku kan baru memberinya sekarang.”

Keunde, aku juga pernah mendapat sepatu seperti ini sebelumnya.”

Mwo? dari siapa? Apa jangan-jangan… cinta pertamamu?”

“Cinta pertama?”

Myungsoo terdiam. Mungkinkah dari cinta pertamanya? Tapi siapa?

~To be continued…~

Leave your comment please~

15 thoughts on “[FF Freelance] A Late Regret (Chapter 3)

  1. SAENGIEE!!! JEBAL ENDINGNYA MYUNGZY NE???? AIGOO GAK TAHAN LIAT MYUNGZY SEPERTI ITU, MEREKA HARUS BERSATU😥 AAA STRES SENDIRI BACANYA, KARENA PAS BACA PASTI JALAN CERITANYA KEBENTUK SENDIRI DI OTAKKU DAN AKU DAPET BGT FEEL RASANYA JD SUZY, JUGA MYUNGSOO YANG BERUSAHA NGINGET MASALALUNYA😦 JEBAL SAENG:(
    Semangat utk TO-nya yaa, goodluck! Fighting~ hehe maaf caps jebol._.

  2. MYUNGEUN PEULIIIIISSSSSHHHHHH THOOOORRR!!!! *BAWA BANNER MYUNGEUN*
    JIN SUKA SAMA SUJI AJE YE /WINK/
    KALO MYUNG TAU MASA LALUNYA NTAR DIA TINGGALIN NAEUN GIMANA? KASIAN NAEUNNYA ATUH T^T NTAR NAEUNNYA POTEK LAGI, TERUS DATENG JIN. JIN NAEUN PACARAN /APA INI?/

    JEBAAAAAAL THOOOORRRRR MYUNGEUUUN!!!!! [MAKSA BENER DEH LU JI -_-]
    LANJUUUUT THOOOR TAREEEEEK MAAANG/?

  3. myungzy aja thor, kan lebih menantang karena masalah mereka banyak. kalo sama naeun mreka jadian terus nanti selesai deh ceritanya, kurang konflik yg menantang thor.hehe *sotoy
    pokoknya next ya thor.

  4. huaaaaa… iiih Myungsoo udah mau inget masa lalunya sama Sooji. tapi kaloun dia inget Sooji itu siapanya, Myungsoo tetep cinta sama Naeun dan ngga akan berpalng sama Sooji. aku berjarap seperti itu thor. yeah Myungeun😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s