[FF Freelance] Genosida – Semester 1 Destroying Pioca (Part 2)

PART 1GENOSIDA

 

Scriptwriter: April (@cici_cimol) | Main Cast: Kwon Ji Yong (G-Dragon of Big Bang), Sandara Park (2NE1) | Support Cast:  Find the other cast while reading^^ | Rating: PG-15 | Genre: Fantasy, Mistery, Romance | Length: 8 Part

Previous: Part 1,

Disclaimer:

Human and thing belong to God. I only own the plot. Terinspirasi dari Novel Harry Potter dan The Hobbit.

GENOSIDA

Sebuah dunia dari dimensi lain yang sedang dalam tahap percobaan gila. Menarik manusia untuk menjadi bagiannya. Genosida merupakan pembantaian besar-besaran secara sistematis pada suatu kelompok dengan maksud memusnahkan. Siapakah diantara mereka yang berhasil keluar hidup-hidup?

 

Previously at Genosida:

Sandara Park, yang mengira dirinya diterima disebuah Universitas akhirnya terjebak masuk kedalam dunia Genosida. Setelah berhasil mempertahankan diri dari lintah yang menyebabkan manusia menjadi zombie. Sekarang dirinya harus berhadapan dengan pemimpin salah satu kelompok TUZ (Api) yang bernama Kwon Ji Yong. Kwon Ji Yong yang sangat membenci kelompok VIZ (Air) tidak segan-segan untuk membunuh siapapun dari kelompok VIZ (Air) yang dilihatnya.

.

.

PART 2  [SEMESTER 1:  DESTROYING PIOCA ]

 

“Lari… atau kau memilih mati ditangan Kwon Ji Yong.”

Sandara menatap Seungri. Tidak percaya akan kata-kata pria itu. Semudah itukah membunuh seseorang? Seolah nyawa seseorang itu tidak berharga sama sekali. Lalu apa bedanya dirinya dengan binatang?

Bukannya lari ketakutan, Sandara hanya merasakan marah. Marah pada orang yang bisa membunuh hanya karena dia tidak suka pada kelompok atau etnis apapun. Lihat saja, seberapa menakutkannya pria yang bernama Kwon Ji Yong ini.

“Dara-yaa…” Seungri merengek disampingnya ketika dilihatnya Sandara malah berdiri dengan tatapan sama menakutkannya dengan tatapan Ji Yong. “Kumohon, jangan paksa aku melihatmu mati dibakar api.” Seungri berkata putus asa. Ketika pria itu tahu kalau Sandara tidak akan bergeming dari tempatnya berdiri. Dengan gugup dia mulai mendekati Ji Yong. Berusaha menenangkan pria itu.

“H-Hyung! Wah senang sekali aku melihatmu hyung!” Seungri menepuk bahu Ji Yong sambil tertawa gugup. “Kau sangat merindukanku kan hyung? Aiiish, aku sangat merindukanmu! Bahkan aku selalu bermimpi tentang hyung setiap malam! Hahaha.”

Hening

Bahkan tawa Seungri terdengar lebih bergetar saat disadarinya tangan kiri Ji Yong mengeluarkan sedikit percikan api.

Sandara memperhatikan Ji Yong yang sekarang berjalan kearahnya. Wajah kecil pria itu terlihat saat sinar matahari berhasil sedikit menerobos lebatnya dahan pohon. Tampan. Pria itu tampan. Dan dia tidak kotor sama sekali, tidak seperti penampilan Sandara yang dipenuhi lendir bau mayat. Pasti penampilannya sangat jelek dan menjijikan sekarang, dan dia yakin, tidak ada satupun pria di Seoul yang akan menoleh kearah gadis yang lepek dan kotor seperti dirinya. Dan kenapa dia harus mengkhawatirkan hal semacam itu? Pria ini jelas mendekatinya untuk membunuhnya. Bukan untuk mengajaknya berkencan.

Jarak diatara mereka kurang lebih 30 sentimeter. Sandara hampir merasa berhenti bernapas karena keheningan sialan yang melingkupinya dan fakta bahwa pria ini sangat tampan.

“Anak baru?” Ji Yong bertanya pelan, sebelah alisnya terangkat dan senyumnya mengembang. Oh, Holly mother father fucking cheesenut! Shit! Pria ini benar-benar hot. Sandara sibuk merutuk dalam hati karena sesaat dia terbuai dengan senyum pria itu. Sandara berusaha mempertahankan dirinya, berusaha terlihat biasa saja walau ini pertama kalinya dia berdiri begitu dekat dengan seorang pria yang – sulit dipercaya – keren, tampan, dan manis disaat bersamaan.

“Yeah.” Sandara mengangguk-anggukan kepalanya cepat “Kau ingin membunuhku?” Sandara mencibir, berusaha terlihat berani.

Ji Yong mendengus menahan tawa, gadis dihadapannya benar-benar tidak tahu bahaya apa yang sedang dihadapinya. “Aku punya sedikit kenangan buruk pada Caedere dari elemen air.” Ji Yong menggulung jaket pada kedua lengannya. Menampilkan tattoo yang menghiasi kulitnya. “Aku terlalu tidak suka pada kenangan itu, sehingga saat aku melihat orang dari elemen air, aku merasa mual dan ingin sekali memanggang mereka dengan api-ku.”

Sandara tidak mengerti dengan kata-kata Ji Yong. Terutama kata Caedere, tetapi ini bukan waktunya untuk bertanya pada Seungri. Mengingat pria gila dihadapannya benar-benar mengeluarkan api dari ujung-ujung jarinya.

“Baiklah tuan pendendam.” Sandara bersiap untuk berlari. Yeah, dia tidak punya senjata atau kekuatan ajaib yang bisa membantunya sekarang. Lari memang pilihan bijaksana. “Kau bisa menyebabkan kebakaran hutan, loh.”

Ji Yong seolah tidak mendengarkan kata-kata Sandara. Dia sedang sibuk membuat bola api seukuran bola baseball ditangan kanannya. Lengkap dengan asap hitam yang mengepul disekelilingnya. Sandara memperhatikan bagaimana mudahnya pria itu menciptakan api, Seolah api adalah bagian dari dirinya.

Ketakjuban Sandara tidak dapat bertahan lama, karena detik berikutnya, bola api itu terlempar tepat kearahnya. Mata Sandara melebar panik. Dengan susah payah, Sandara berusaha mendorong otot-otot kakinya untuk bergerak. Berkelit cepat menghindari bola yang mengarah kewajahnya. Dirinya masih dikatakan beruntung, karena bola api itu lewat tepat dipipi kirinya. Bahkan Sandara dapat merasakan uap panas berhembus cepat diwajahnya. Gadis itu terjatuh dengan posisi terduduk di tanah yang basah.

Dan, gelak tawa meledak disekelilingnya.

Dengan kesal Sandara menatap Ji Yong yang tertawa sambil memegangi perutnya. Tiba-tiba amarah gadis itu meluap. Ternyata, sesuatu yang nampak bagus dan indah diluar bisa menjadi racun yang sangat mematikan. Pria itu benar-benar menyebalkan.

“Hyung!” Seungri memecah gelak tawa disekitarnya. “Hentikan saja, lagipula dia anak baru dan belum tahu apa-apa mengenai dunia ini. Dalam waktu 5 menit saat kita tinggalkan, dia pasti sudah mati.”

“Ya! Bodoh! Kenapa kau sangat membela gadis air itu? Apa kau menyukainya?” Seorang pria bertubuh kekar keluar dari bayang-bayang pohon dan mendekati Seungri. Rambutnya yang berdiri semua itu menjelaskan betapa menakutkannya dia.

“Ehey, Yongbae Hyung… bukan begitu hanya saja…”

“Hanya saja aku ingin menghabisi gadis ini dan membuat si sial Chaerin menderita dengan rasa bersalah karena dia kehilangan anggotanya dengan cepat.” Ji Yong tersenyum sambil membuat bola api lagi ditangannya.

Sandara tahu, serangan kali ini mungkin akan membuatnya terbunuh. Dia tidak akan bisa lolos. Tetapi setidaknya gadis itu merasa sangat berterimakasih pada Seungri. Dengan cepat, Sandara berdiri. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia sangat merindukan rumah. Bahkan dia sangat merindukan bau buku diperpustakaan. Kali ini, dia pasti sudah benar-benar gila, bahkan ia sangat ingin memeluk adik dan ayahnya.

“Seungri-yaa, terimakasih!” Sandara berteriak, Seungri menoleh kearahnya. Menatapnya dengan sedih. “Kau harus lulus dan keluar dari sini! Setelah itu, ketika kau kembali kedunia normal, datanglah ke perpustakaan Seoul. Katakan pada penjaga perpustakaan disana bahwa aku sangat mencintainya, dan aku sangat minta maaf padanya.” Sandara merasakan air hangat menggenang dimatanya.

Detik berikutnya, hujan bola api berhembus kearahnya. Bahkan, karena bola api itu sangat banyak dan datang tanpa henti, Sandara tidak dapat melihat hal lain kecuali warna orange dan kepulan asap hitam. Dengan gerakan cepat penuh amarah, gadis itu mendorong otot-otot kakinya dan memaksa otaknya bekerja cepat untuk menghindari bola-bola api itu. Bola api itu menabrak beberapa pohon pinus dan menyebabkan api menyebar lebih besar. Sekarang, yang dapat didengarnya hanya suara api membakar kayu-kayu kering disekitarnya dan rasa panas yang membuatnya sesak.

Hingga sebuah bola api tepat mengarah ke kaki kirinya dan menghantam betis kirinya dengan bunyi gedebuk. Seperti benar-benar dihantam bola baseball, hanya saja, bola ini membakar kulit dan dagingnya.

“AAARRRGHH.” Sandara mengerang, rasa perih dan panas bahkan sampai ke ubun-ubun kepalanya. Detik itu juga gadis itu membenci Kwon Ji Yong. Ini pertama kalinya dia bisa menyukai dan membenci seseorang hanya dalam waktu beberapa menit.

Dengan lelah, Sandara menyandarkan dirinya kesebuah batu besar. Mungkin hanya sampai disini, setidaknya dia sudah berusaha untuk menyelamatkan dirinya. Setidaknya, dia sudah menghargai dirinya yang tidak ingin menyerah. Kepalanya mulai pusing, kesadarannya perlahan menghilang. Hal terakhir yang didengar dan dilihatnya adalah, percikan bola api yang sangat besar mengarah tepat pada Sandara. Dan suara seseorang. Suara seorang gadis yang meneriakan kata “TIDAK!” untuknya.

.

.

“Semester pertama. Misi untuk para Caedere yang bertahan dalam kelompoknya. Hancurkan danau Pioca.”

Suara itu bergema di pikiran Sandara. Untuk kedua kalinya, dia bertanya-tanya apa dia sudah ada di surga?

“Unni, lukanya sudah semakin membaik berkat obat yang unni buat semalam. Tapi kenapa dia belum sadar?” Suara seorang gadis berbisik didekatnya.

AH, Sial. Ternyata aku belum mati. Yeah, Sandara jelas belum mati karena dia bisa merasakan rasa sakit pada kaki kirinya. Gadis itu memaksakan diri membuka matanya. Saat itu juga sesosok wajah muncul dalam jarak penglihatannya.

“Unni!!! Dia sadar!!!” Gadis itu berteriak nyaring. Sandara menyadari dirinya terbaring disesuatu yang empuk dan nyaman. Dengan susah payah, Sandara bangkit, merasakan sakit dikaki, kepala, dan seluruh tubuhnya yang kaku.

Sandara mengedarkan pandangannya. Dia sedang ada didalam sebuah tenda. Lengkap dengan kantung tidur dan beberapa obat, kain kasa, dan air mineral disampingnya. Gadis itu tampak sangat kaget saat dia menyadari bahwa dirinya sangat bersih. Bahkan Sandara dapat mencium harum Lavender dari rambutnya yang lembut. Perlahan, Sandara menyingkap selimutnya. T-shirt warna putih bersih dengan jeans longgar, bahkan pakaian dalamnya juga baru! Diperhatikannya kaki kirinya yang diperban. Perban itu tampak bersih dan terawat.

Dua orang wanita masuk kedalam tenda dengan terburu-buru. Yang satu adalah gadis yang tadi sempat dilihatnya sekilas. Wajah bulat dengan pipi berisi. Mata almond-nya menatap Sandara khawatir. Umurnya kira-kira hanya 17 tahun. Dan satunya lagi wanita yang lebih tua. Wajahnya sangat cantik. Rambut hitamnya yang ikal lembut dan panjang tampak jatuh anggun dipunggungnya. Bibirnya merah cherry, dan matanya yang seperti kucing itu dibubuhi eyeliner dan mascara yang tebal. Entah, Sandara tidak habis pikir bagaimana wanita itu meluangkan waktu untuk bersolek dalam tempat seperti ini.

“Kau baik-baik saja?” Wanita itu berkata pelan, dia menyentuh kening Sandara, berusaha mengukur suhu tubuhnya. “Ah, sepertinya kau sudah tidak demam. Bagaimana rasanya? Apa ada sesuatu yang terasa salah?”

“Banyak sekali yang salah.” Sandara mengangguk pelan dan menyadari suaranya yang sangat serak. “Dimana aku? Dan kenapa aku masih hidup?”

“Kau ada dalam kelompokmu. Kami menemukanmu hampir terbunuh oleh kelompok Tuz. Namaku adalah Lee Chaerin. Panggil aku CL. Aku adalah pemimpin kelompok Viz.

“Aku Lee Ha Yi.” Gadis menggemaskan itu tersenyum pelan dan menyodorkan air pada Sandara. “Aku anggota paling muda disini. Diluar ada 1 orang unni dan 3 orang oppa. Kelompok kita sudah lengkap dan siap menjalankan misi yang diberikan.” Mata almond Ha Yi menatap kaki Sandara “Tentu saja jika kaki unni sudah sembuh.” Dia menambahkan dan tersenyum.

“Terimakasih.” Sandara tersenyum dan merasa bersyukur bisa bertemu orang-orang yang baik. “Aku Sandara Park. Dan aku tidak tahu kenapa aku bisa berada didunia sial ini.” Sandara terkekeh dan meneguk air mineralnya.

“kita semua seperti itu. Ha Yi juga anak baru sepertimu. Dan aku bangga pada kalian.” CL berkata pelan sambil menepuk punggung Ha Yi “Aku punya anggota baru yang sangat pemberani seperti kalian. Ini daebak!!!”

Mereka semua mulai tertawa. Ini pertama kalinya Sandara dapat tertawa lepas semenjak dia “terdampar” dalam dimensi ini.

“Dari mana semua ini berasal? Pakaian, obat, air mineral, tenda, bahkan kantung tidur!” Sandara menatap takjub.

“Tentu saja mereka memfasilitasi kita semua ini. Saat kita merasa haus, ingin beristirahat, atau memerlukan apapun yang mendesak. Mereka akan memberikannya secara langsung.” CL Menjelaskan, kemudian dia melongok keluar tenda dan berteriak pada seseorang diluar sana. “Suzy-yaa! Mana makanannya? Pasienmu sudah sadar dan sekarang dia tampak sangat pucat! Dia pasti benar-benar lapar!!!”

Gadis bernama Suzy muncul sambil membawa nampan. Gadis itu sangat cantik, rambut panjang dan gigi kelincinya menyambut Sandara yang tersenyum saat melihatnya tergopoh-gopoh memberikan sup hangat untuknya.

“Wah, unni, kau cantik sekali saat tersenyum!” Suzy berkata ceria. “Aku Baek Suzy, aku sudah 2 tahun tidak lulus. Jadi aku kembali lagi kesini. Semoga saja tahun depan aku tidak datang kesini lagi.”

Sandara hanya mengangguk menanggapi celotehan Suzy, dirinya tengah sibuk menyantap sup hangat. “Siapa lagi anggota kelompok ini?” Sandara bertanya sambil menggigit kentang kukus.

“Oppa Junhyung, Oppa Daesung, dan Oppa Jo Kwon.” Ha Yi berkata pelan. Detik berikutnya Sandara tersedak kentang kukusnya.

“JO KWON? SI KONDEKTUR JO KWON?!!!”

“Yeah, memang ada Jo Kwon yang lain?” Suzy menimpali sambil mengambil kentang tumbuk didalam mangkuk Sandara dan mulai memakannya.

“Dan mereka sedang menyusun rencana untuk menghancurkan danau Pioca.”

Sandara tiba-tiba merasa mual. Apa itu Pioca? Dan kenapa Jo Kwon bisa berada disini? Satu team dengannya? “Guys, aku rasa, aku butuh tidur.”

.

.

Sandara tidak ingin tahu bagaimana kisah penyelamatan dirinya saat hampir terpanggang. Jadi dia tidak banyak bertanya mengenai hal itu. Ada alasan lain dia tidak ingin mengenang kejadian itu. Kwon Ji Yong. Entah apa yang sudah terjadi pada dirinya, yang pasti Sandara sangat ingin bertemu kembali dengan pria itu. Dengan pria yang jelas-jelas melakukan pembunuhan hanya untuk bersenang-senang. Mungkin otaknya sudah benar-benar rusak sekarang.

Dan sekarang disinilah dia. Sinar rembulan menembus ranting-ranting pohon. Menampilkan bayang-bayang kehidupan hutan yang gelap dan penuh kekerasan. Sandara berkumpul dengan teman-temannya. Mendengarkan kata-kata CL dan memperhatikan peta yang ditunjuk CL dengan sebuah ranting. Mereka akan melakukan ekspedisi malam hari. Dan ini harus berhasil.

Sandara merapatkan jaket dark blue-nya, berusaha berkonsentrasi dan mencoba mengerti taktik penyerangan mereka.

“Kolam itu ada didekat sini. Kira-kira jarak antara kita kekolam itu hanya 4 meter. Itulah alasan ada bau tidak sedap menguar ditempat ini. Ketika sampai di kolam Pioca, usahakan jangan sampai berpencar.” CL Mengakhiri penjelasannya. Menatap keseluruh anggota kelompoknya.

“Apa itu Pioca ? Dan kenapa harus malam hari? bukankah akan lebih berbahaya bergerak dimalam hari?” Sandara bertanya, keningnya berkerut. Dia sangat takut tempat-tempat yang gelap. Dia benci kegelapan seperti sekarang.

Pioca itu lintah yang masuk kedalam pori-pori otak. Dia akan menjadi pengendali dari tubuh yang dia ambil.” Junhyung menjawab pelan. Mata hitam pria itu tidak melihat kearah Sandara. Dia sibuk memperhatikan peta rumit yang tidak di mengerti Sandara.

“Dan, malam hari. Pioca itu tidak memiliki kekuatan, mereka bergantung pada matahari.” Daesung menambahkan. “Ini diketahui berkat Jo Kwon. Dia meneliti Pioca yang sudah mati dan mendapatkan hasil yang sangat berguna.”

Jo Kwon hanya tersenyum malu. Sandara menatap pria itu curiga Hanya meneliti, atau dia memang sudah tahu itu sejak awal?

“Baiklah, kita bergerak sekarang. Kita pengendali air, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan danau-nya.” Junhyung berkata pelan. Ditangannya terdapat sebuah pedang yang lumayan panjang. Laki-laki ini sepertinya penuh ambisi.

“Errr… tapi, kami tidak tahu caranya menggunakan elemen itu.” Ha Yi mencicit pelan. Sandara menatap gadis kecil disampingnya dan mengangguk setuju.

“Kalian akan tahu bagaimana, ketika kalian sudah berhadapan dengan bahaya yang cukup besar. Ayo pergi!” CL Berkata tegas. Kali ini tidak ada interupsi lagi, Dalam diam Sandara memakai tas ranselnya dan berjalan pelan. Menembus kegelapan yang sangat dibencinya.

.

.

Cahaya rembulan bersinar menerangi danau hitam pekat dihadapan Sandara. Bau mayat benar-benar menusuk disekitarnya, seolah ribuan tubuh tak bernyawa tertidur didalamnya. Air sehitam tinta itu mengeluarkan cahaya aneh di atas permukaannya. Dikejauhan, Sandara dapat melihat sebuah pulau kecil yang dipenuhi bebatuan.

“Ugh, baunya benar-benar membuatku ingin muntah.” Suzy mengeluh dengan wajah pucat, sementara Jo Kwon yang berdiri disampingnya benar-benar memuntahkan kentang kukus yang baru lima menit lalu disantapnya.

“Aku rasa, rumah mereka ada dipulau kecil itu.” Junhyung menyipitkan mata, mencoba melihat kearah tumpukan bebatuan diseberangnya.

“Bagaimana caranya kesana?” Ha Yi menatap khawatir pada air hitam yang bahkan tidak bergerak sedikitpun walau angin sedang berhembus dengan kencang. “Kenapa air ini tidak beriak? Apa ini benar-benar air?”

“Tentu saja ini air, kalau bukan air, kenapa mereka menamakan tempat ini danau?” Daesung berjongkok dan menatap kedalam kegelapan danau. “Sepertinya kita harus berenang kesana.”

“A-APA?! BERENANG? M-MAKSUDMU, MASUK KEDALAM SITU?” Sandara berteriak ngeri sambil menunjuk air yang berpendar aneh dan berbau mayat dihadapannya.

“Tentu saja kedalam situ bodoh.” CL berkata kesal dan tidak sabaran “Lagi pula jarak tepi danau ke pulau bebatuan disana itu hanya kurang lebih tiga meter.” CL mengangguk yakin, kemudian menurunkan tas ranselnya, mengaduk-aduk isi tas itu dan mengeluarkan benda bulat. Bom dan granit. “Kita hanya perlu memasang ini dan meledakkan pulau itu, maka kita akan lulus semester pertama.” CL melemparkan benda berbentuk bulat dan lonjong kepada masing-masing membernya. Bangkit berdiri dan menatap anggotanya dengan percaya diri. “Waktu kita tidak banyak, ada sekitar 25 kelompok yang sedang menuju kemari.” CL berkata tenang.

Sandara menatap granit ditangannya, kemudian memasukan benda itu kedalam kantung Jaketnya. Bagaimana CL tahu ada sebanyak itu kelompok yang sedang menuju kemari? Apa dia memiliki antena tidak terlihat dikepalanya?

“Siap atau tidak, ini adalah pilihan kalian. Pilihan kalian untuk bertahan hidup, pilihan kalian untuk keluar dari sini. Aku hanya mencoba memimpin dan memberikan jalan keluar untuk kalian.” CL melanjutkan. Mata kucingnya berkilat. “Kita mulai, ikuti aku.”

CL berbalik, kemudian detik berikutnya gadis itu terjun kedalam kegelapan danau. Air sama sekali tidak bergerak. Seolah danau itu tidak berisi air dan hanya terdiri dari udara kosong. CL tidak terlihat sama sekali. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda keberadaannya.

Sandara menoleh kearah teman-temannya. Mereka semua terlihat yakin dan berani. Tapi tidak dengan Sandara. Sandara paling benci dengan kegelapan, dan danau itu terlihat gelap sekali. Junhyung melambaikan tangan singkat dan menceburkan diri tanpa berkata apapun.

Kemudian Suzy, Jo Kwon, Daesung.

Ha Yi menatap Sandara dengan mata almond-nya yang bersinar dibawah rembulan. “Aku harap, aku bisa bertemu denganmu lagi unni.” Ha Yi tersenyum sedih. “Ayo kita berjuang!”

Sandara mengangguk, dengan perlahan dia menarik Ha Yi dan memeluknya. Ingin merasakan keberanian gadis kecil itu. “Kita harus bertemu lagi, sampai jumpa.”

Ha Yi mengangguk lemah, Sandara melihat air bening menetes dari matanya dan jatuh dipipi lembut gadis itu. Dengan kasar Ha Yi menghapus jejak air matanya, melambai dan melompat ringan tanpa ragu.

Kini tinggal Sandara sendiri. Pilihannya adalah, terjun kedalam danau gelap itu dan berusaha keluar dari tempat terkutuk ini. Atau diam disini dan menunggu sampai semester berikutnya dimulai. Sandara menarik napas dan mengambil oksigen banyak-banyak kemudian menjatuhkan diri kedalam kegelapan yang segera menenggelamkannya.

Ini bukan air, benar-benar bukan air! Sial! Sandara merutuk dalam hati, karena yang dirasakannya adalah gumpalan-gumpalan jelly disekelilingnya. Jelly hitam ini sangat padat, Sandara membuka matanya, isi danau terlihat dari temaramnya cahaya bulan yang berhasil masuk. Dan dalam sekejap, tenggorokannya tercekat. Matanya melebar penuh kengerian.

Ribuan tubuh tak bernyawa bergelantungan disekelilingnya. Mereka sama sekali tidak membusuk, mereka hanya terlihat seperti sedang tertidur lelap. Sandara menendang kakinya kuat-kuat berusaha mendorong tubuhnya untuk mencapai permukaan.

Saat dirinya sudah mencapai permukaan, gadis itu sibuk mengisi paru-parunya dengan oksigen. Sandara sekarang sudah berada tepat ditengah danau, dia dapat melihat bebatuan curam didepannya. Dengan penuh ketakutan, Sandara menendang jelly dengan kedua kakinya. Berusaha membuat tubuhnya bergerak maju.

Berhasil, sedikit lagi Sandara akan menggapai bebatuan. Harapannya muncul kembali, sekarang dia hanya perlu memasang bom yang ada di kantung jaketnya. Setelah itu selesai. Tetapi sesuatu membuatnya terpekik, kaki kirinya ditarik oleh sesuatu.

Sandara tahu kalau tubuhnya akan kembali masuk ke lautan jelly hitam bau mayat. Dengan kesal, gadis itu berusaha melepaskan diri, tapi gagal. Dirinya kembali tenggelam, dan matanya melebar takut menyadari apa yang tengah mencengkram kakinya dengan kuat. Seorang gadis berambut panjang, dengan kulit pucat, berlendir dan mata semerah darah. Gadis itu terus menarik Sandara ke dasar danau yang sangat gelap.

Aku akan mati… pasti mati… Sandara tidak mau menyerah, akan tetapi oksigen yang mengisi paru-parunya sudah habis. Sampai dirasakannya sesuatu menarik tudung jaket Sandara dengan kuat. Tangan mayat hidup itu terputus di pergelangan kaki Sandara, dia ditarik ke permukaan dengan begitu kuat.

Sandara menghirup udara disekelilingnya sambil terbatuk hebat saat dirinya sudah sampai di permukaan, tudung jaketnya ditarik oleh sesuatu hingga tubuh kecil Sandara membentur bebatuan kecil dipinggir pulau.

“SHIT! kenapa malah gadis brengsek ini?!”

Sandara bangkit dengan susah payah, kakinya bergetar hebat, matanya masih dipenuhi horror yang mengerikan. Dengan ketakutan dia mencari asal suara yang terdengar tidak asing lagi.

Binggo! Disanalah Kwon Ji Yong berdiri dengan sebuah alat aneh ditangannya yang mirip dengan alat yang digunakan untuk memancing ikan, hanya saja alat itu terlihat begitu kuat karena dilapisi besi baja. Pria itu menatap Sandara dengan kesal.

“YA! Aku sama sekali tidak berniat menyelamatkanmu. Aku berniat menyelamatkan Seungri yang tadi tenggelam ditarik mayat hidup. Jadi tidak usah berterima kasih dan enyah dari hadapanku.”

“Seungri?!” Suara Sandara bergetar hebat, sial! Dia masih belum bisa mengendalikan ketakutan yang seolah menyebar ditiap pori-pori kulitnya. “Maksudmu Seungri ada didalam sana?!”

“Yeah, dan sepertinya dia sudah mati sekarang.” Ji Yong mengangkat bahu acuh. Seolah kematian Seungri adalah masalah sepele.

“KAU!”  Sandara mendekati pria itu dengan penuh amarah. “Kau benar-benar manusia kejam! Bagaimana bisa kau membiarkan temanmu mati dan kau sama sekali tidak merasa sedih sedikitpun!” Sandara menggertakan giginya dan melotot kearah Ji Yong.

Ji Yong mendengus pelan, gadis ini benar-benar berani terhadapnya “Hei, otak kosong. Kau pikir aku tidak mencoba menyelamatkan si panda gila itu?! Lalu untuk apa aku susah payah menggunakan alat konyol ini!?” Ji Yong menggoyangkan alat aneh ditangannya dan melemparnya kasar ke bebatuan. Sekarang pria itu benar-benar mirip orang gila, dengan frustasi Ji Yong mencengkram rambut blonde-nya dan mengacak-acaknya kasar. “Lalu kau harusnya merasa bersalah kan? Karena kau yang tersangkut dialat sensor! Harusnya kau yang mati! Bukan Seungri!”

Hening

Sandara berusaha mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Ji Yong. Dan dalam beberapa detik gadis itu merasa seperti habis ditampar. Bahkan, rasa sakitnya hampir benar-benar membunuhnya. Cairan hangat yang berusaha ditahannya tumpah begitu saja. Dia benar-benar terlihat seperti pecundang dihadapan pria brengsek itu.

“La, lalu, haruskah aku kembali kesana?” Sandara tercekat, tenggorokannya seperti dicekik kuat oleh sesuatu.  “Kalau itu bisa membuat Seungri kembali, aku dengan senang hati akan melakukannya.” Sandara berkata sambil terisak, dengan kesal dia menghapus air mata yang terus turun “Tapi, ijinkan aku melakukan sesuatu sebelum terjun kembali kesana.”

“Apa?” Ji Yong berkata malas dan menaikan sebelah alisnya. Dia lelah berhadapan dengan gadis cengeng seperti Sandara.

Sandara menghampiri Ji Yong dengan langkah cepat, detik berikutnya, tangan Sandara melayang dan mendarat keras di pipi Ji Yong. “Itu untuk mengingatkanmu tentang gadis yang kau ingin bunuh ini! Ketika aku jadi hantu, aku akan terus menempel padamu!” Sandara berkata dengan segenap kebencian yang dia miliki terhadap laki-laki itu.

Tanpa memperdulikan ekspresi Ji Yong yang seperti ingin muntah karena wajahnya yang pucat pasi itu, Sandara berbalik dengan cepat menuju pinggiran danau. Kali ini, dia tidak akan berpikir panjang untuk menenggelamkan diri disana. Lagi pula, keberadaannya selama ini memang selalu menyusahkan orang lain, entah menyusahkan ayahnya, adiknya, atau teman-temannya. Jadi mereka mungkin akan lebih senang kalau Sandara menghilang dari dunia selamanya.

Sandara mulai menjatuhkan dirinya perlahan. Matanya terpejam, merasakan angin dingin yang menerpanya, merasakan setiap hembusan napas yang dimilikinya. Mengenang setiap tawa yang pernah mengisi hidupnya. Tubuhnya dengan perlahan jatuh.

Akan tetapi, tangan seseorang mencengkram lengannya dengan kuat, menarik tubuh Sandara. Sandara berbalik, keseimbangan gadis itu goyah, kaki kanannya kikuk dan tersandung bebatuan kecil, dia terjatuh pelan, menindih tubuh seseorang yang mencoba mencegahnya mati.

Mata gadis itu masih terpejam, mencoba berpikir jernih, siapa orang yang menariknya? Tidak ada orang lain dibebatuan kecuali dirinya dan… Kwon Ji Yong. Tapi, tidak mungkin pria iblis itu menolong Sandara, jelas bahwa pria itu menginginkan dirinya mati.

Sandara tidak dapat menggerakan bibirnya karena bibirnya menyentuh sesuatu yang lembut dan basah, dengan perlahan dia membuka matanya.

Dan apa yang dilihatnya benar-benar membuatnya ingin menjerit keras-keras. Tepat didepan matanya, Sandara melihat bola mata cokelat milik Kwon Ji Yong. Pria itu menatap Sandara dengan mata super lebar, bahkan Sandara dapat melihat bayangan dirinya di bola mata bening pria itu.

Dan yang paling parah adalah, bibirnya menyumpal bibir pria itu, Sandara hampir menyingkir dari tubuh Ji Yong saat sesuatu menarik dirinya dan membuat tubuhnya tidak dapat bergerak. Sandara terpaku pada bola mata berwarna cokelat milik Ji Yong. Dan sesuatu yang aneh terjadi.

Sandara Seolah melihat bayangan aneh dari kilat mata Ji Yong, bayangan itu semakin lama semakin nyata dan memasuki pikiran Sandara, sekarang bayangan itu seperti sebuah film documenter yang diputar langsung didalam otak Sandara. Dan semakin lama Sandara seolah semakin masuk kedalam bayangan itu, seolah dirinya adalah bagian dari film yang berputar itu.

Sandara melihat, tidak, lebih tepatnya Sandara berada disuatu jalan yang sempit. Jalan itu sepertinya jalan kumuh yang ada di kota Seoul. Hujan turun dengan sangat deras. Sandara berjalan pelan, berusaha mencari si pemilik suara yang menangis kencang. Dan disanalah dia, Seorang bocah berusia sekitar 7 tahun meringkuk dibalik tempat sampah, bocah itu terus menerus menangis dengan tubuh menggigil kedinginan.

“Keluar”

Sebuah suara menarik Sandara, Sandara merasa seperti disedot kesuatu dimensi lain. Dan dengan cepat seseorang mendorong tubuh Sandara ke bebatuan yang dingin. Sandara mengerang pelan karena siku kirinya tergores bebatuan yang cukup tajam. Kepalanya terasa sangat sakit.

“KAU! BERANI-BERANINYA KAU MASUK KE DALAM PIKIRAN KU!” Sandara berusaha bangkit dan melihat Ji Yong berteriak marah padanya.

“Kau… Sandara Park… jangan harap kali ini bisa lari dariku.” Ji Yong mendesis dan menatap Sandara dengan penuh kebencian.

Sandara hanya menatap kosong kearah Ji Yong. Entah kenapa dia sama sekali tidak takut dengan ancaman pria itu. Sandara hanya merasa sedih, sedih dan simpati pada pria yang ada dihadapannya.

 

TO BE CONTINUED

 

 

 

NOTE:

Fiuuuhh… akhirnya nyampe di part 2. Terimakasih banyak untuk readers yang sudah meluangkan waktunya yang berharga untuk baca FF ini *HUG* author hanya berharap review dari readers sekalian sehingga author dapat menyelesaikan part 3 dan selanjutnya^^ Okiedokieee, seperti biasa, semoga FF ini bisa menghibur kalian yang lagi BETE😀 Thanks to admin RFF juga❤ HOPE U LIKE IT GUYS >3

 

 

 

 

 

 

 

14 thoughts on “[FF Freelance] Genosida – Semester 1 Destroying Pioca (Part 2)

  1. Ya ampun! Ini keren, sangat
    Lintah lendir mayat dan kawan kawannya seketika bikin mual, tapi feelnya jadi dapet karena itu
    Ah iya yang anak kecil kumuh dipikiranya jiyong itu, masalalunya jiyong bukan? Nebak aja sih
    Oke next part soon..

  2. Hem menurut aku ff nya dpt inspirasi dari harpot dan the hobbit itu dari hal aneh didalam kedua cerita itu. Yah misalkan Sandara yg bisa msk ke dlm ingatann masa lalu Jiyong terus juga makhluk aneh. Lewat dari itu, aku suka pemikiran/ide gila dari authornya sendiri. Good Job Thor ^-^

  3. Bisa melihat masa lalu jiyong lewat bola matanya jiyong whoaaa daebakkk andai aja bnr ada dimensi genoshida pasti ngeri keknya *apaan dahh malah jadi ngaco😀

  4. Wah power yang dimiliki setiap player ternyata berbeda-beda ya? Jadi Dara dapet power yang berunsur air.. Dara juga bisa lihat kenangan seseorang.. Daebak!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s