[FF Freelance] The Star

2. The StarMain cast             : Oh Sehun (EXO)

                                    Jung Daeun (2Eyes)

Genre                   : teenage life, lil’ bit romance

Length                 : Oneshot

Autho                 : Luhoney77 (@chikacharlotte)

Disclaimer      : This is my second attempt writing fanfic. Well, genre dan alurnya klasik banget. This fanfic is originally written by me. Pairing dan jalan cerita terinspirasi dari ‘thanks to’-nya Sehun di album xoxo yang bilang “Jung Daeun keke Dani~~ let’s become closer friends!!” dan ‘the star interview’-nya Daeun yang intinya Sehun suka bilang ke Daeun kalo dia harus rajin latihan biar bisa cepet nyusul Sehun di stage. I hope you like it. Enjoy. Don’t forget to leave a comment. I’m new, need critics and advices.

BRUUK!

“Dani-ah, berhentilah. Ini sudah larut. Apa kau akan terus keras kepala seperti ini? Kau sudah berlatih sejak sekolah usai 8 jam lalu.” Aku berusaha membantu Jung Daeun bangkit setelah ia menginjak kakinya sendiri. Daeun menampik tanganku, dan berusaha untuk bangkit sendiri. Dia masih tidak bisa melupakan apa yang aku katakan kemarin rupanya.

“Ya, Jung Daeun! Gadis keras kepala yang berharga diri tinggi! Kau masih marah dengan perkataanku kemarin? Ya Tuhan, kau ini seperti baru mengenalku sehari saja. Aku tidak serius mengatakan itu Dani-ah.” Ucapku berusaha meluluhkan hati Daeun.

“Pergilah, aku akan melanjutkan latihanku.” Daeun menjawab sambil memalingkan muka dan berjalan tertatih menjauhiku, kakinya sedikit terkilir saat terjatuh tadi sepertinya.

Aku menghampiri Daeun yang sedang berdiri mengelap keringatnya.

“Ya! Oh Sehun TURUNKAN AKU ALBINO CADEL!” teriaknya ketika aku menaikkan tubuhnya ke punggungku.

Aku tidak menghiraukan teriakan nyaring yang aku rasa mencapai 250 decibel itu, dan berusaha merapikan tas Daeun, kemudian bergegas keluar dari tempat latihan.

Daeun terus mengeluh di sepanjang perjalanan. “Pervert, Bodoh, Albino cadel, tidak tahu di untung. Turunkan aku sekarang juga!”

“Kau lapar? Apa kau ingin makan sesuatu? Katakan saja, aku akan membelikannya. Anggap saja, tanda permohonan maafku.” Aku terus berusaha merayu Daeun untuk bisa memaafkanku.

Daeun terdiam mendengar tawaranku. Sepertinya tawaran ini cukup ampuh.

“Ya, aku lapar. Aku ingin makan jjampong bibi kwangja di samping sekolah.” Daeun menjawab setelah cukup lama berpikir.

Kalian tahu, aku senang sekaligus menderita mendengar jawaban Daeun. Aku senang karena Daeun masih mau memaafkanku, tetapi kalian tahu? Aku sudah berjalan sejauh 800 meter dari sekolah, dan kedai jjampong bibi kwangja berada tepat di samping sekolah, yang artinya aku harus kembali berjalan 800 meter dengan Daeun yang aku ketahui memiliki berat badan lebih dari 45 kg berada di punggungku, dan 2 tas sekolah yang masing masing seberat 1 kg di pundakku. Bukankah itu cukup menyiksa dan membuatku menderita?

“ng. Ayo kita makan jjampong.” Ucapku, aku berusaha tidak memikirkan bagaimana rasanya badanku ketika tiba di rumah nanti.

“Jadi, kau sudah memaafkanku?” aku berkata memecah kesunyian setelah suapan kedua jjampongku.

Daeun terdiam, setelah beberapa suap berlalu, baru ia menjawab.

“kau tau Sehun-ah, apa yang kau katakan itu benar. Aku harus berlatih keras dan menjadi bintang jika aku ingin terus berdiri sejajar di sampingmu…”

“Dani-ah, bukan begitu..”

“tidak Sehun-ah, kau benar. Angkasa akan menjadi indah ketika semua bintang bersinar terang. Bintang kecil yang kusam jika berada di samping bintang terang, hanya akan menjadi bahan tertawaan.”

Aku terdiam sejenak mendengar penjelasan Daeun. Bukan ini yang aku inginkan, aku salah.

“Dani-ah, dengarkan aku.” Ucapku menghentikan Daeun yang saat itu telah siap membombardirku dengan berbagai statementnya yang akan membuatku semakin merasa bersalah dan tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya ingin aku sampaikan. Aku meraih tangannya.

“Dengar, lupakan apa yang aku katakan beberapa waktu lalu. Saat itu aku tidak bisa berpikir dengan baik. Aku baru menyelesaikan rekaman jam 5 pagi, dan hanya sempat beristirahat 1 jam kemudian aku pergi ke sekolah. Di sekolah aku mendengar beberapa orang berkata buruk mengenai kemampuanmu, dan itu membuatku marah. Hanya saja apa yang aku lakukan salah, bukannya memaki orang yang berkata buruk tentangmu, aku melepaskan semua rasa kesalku padamu. Mianhae (I’m sorry) Dani-ah, nomu mianhae (I’m so sorry).” Jelasku.

Daeun terdiam dan merunduk memandangi semangkuk jjampongnya yang mulai dingin. Aku bisa melihat Kristal air mata membasahi pipinya. Aku mengangkat dagunya.

“Jung Daeun, aku ingin kau berlatih dan segera menyusulku. Aku ingin kita berdiri di atas panggung bersama, dan membuktikan pada mereka yang mengumpatmu bahwa mereka tidak sedikitpun lebih baik darimu.” Tambahku kemudian mengusap air mata di pipi lembutnya.

Daeun mengangguk.

“Kalau begitu, mulai saat ini, berlatihlah sesuai jadwal, dan jangan memaksakan diri. Berhenti mengerucutkan bibirmu, dan tersenyum.” Aku menarik sudut bibir Daeun.

Daeun tersenyum manis, sangat manis.

“ng, araso (I got it). Aku akan berlatih sesuai jadwal dan tidak memaksakan diri, sehun-ah.”

***

                “Kau gugup?” Aku bertanya setelah melihat Daeun berulang kali mengusap rambutnya, dan hal itu menandakan Daeun sedang merasa tidak nyaman.

Daeun tidak menjawab, ia hanya menoleh mendengar pertanyaanku, kemudian tertunduk. Aku mengerti apa yang sedang Daeun rasakan saat ini, sama seperti 1 tahun lalu ketika aku duduk di bangku audisi entertainment tempatku saat ini bekerja menunggu namaku dipanggil.

“Peserta nomor 1131 Jung Daeun, Peserta nomor 1131 Jung Daeun.” Suara seorang announcer dari microfon terdengar menyebutkan nama Daeun, itu berarti Daeun harus segera memasuki ruang audisi.

Na, eoteokkhae (what should I do) Sehun-ah? Na, eoteokkhae (what should I do)? Musowo (I’m scared)..” Daeun terdengar sangat terkejut mendengar namanya di panggil. Ia berdiri dengan kaki yang gemetar, aku juga bisa merasakan tangannya yang memegangi jaket tebal yang aku gunakan bergetar hebat.

Gwenchana (It’s alright) , Dani-ah, aku tahu kemampuanmu. Kau bisa Dani-ah.” Jawabku meyakinkannya.

Daeun mengangguk tidak yakin mendengar jawabanku, kemudian melepaskan genggamannya dari jaketku, ketika ia melangkahkan kakinya hendak menuju ruang audisi, aku menarik tangannya, melepas scarf yang sejak awal menutupi wajahku, dan mencium keningnya.

“Kau yang terbaik, Jung Daeun, kau yang terbaik.” Ucapku kemudian berbalik dan meninggalkannya sebelum semua orang yang berada di tempat itu mengenaliku, mengerumuni kami, dan membuat Daeun semakin gugup.

***

                “Kau tahu Oh Sehun, aku tidak pernah kesulitan mencarimu di televisi meskipun ada 12 member dalam group mu.” Ucap Daeun sore itu. Kami sedang bersantai di halaman rumahku di Busan, Daeun menyandarkan kepalanya di pundakku.

“Ya, aku tahu, aku paling tampan dibandingkan dengan 11 orang yang lain.” Jawabku dengan percaya diri.

“kau bercanda? Bagaimana kau menjelaskan tentang Luhan yang termasuk salah satu dari 5 dewa pria di Cina?” Jawaban Daeun cukup menusuk, tapi itu benar.

“Well, ya, setidaknya aku lebih tampan dari 10 orang sisanya kan.” Aku menimpali masih dengan rasa percaya diri.

Daeun mendengus kencang, tertawa kecil, kemudian menjawab dengan serius. “kau tahu, kau sangat bersinar diantara 11 yang lain. Di setiap penampilan kalian, aku selalu bisa melihat semangat di matamu. Itulah sebabnya aku bisa dengan mudah melihatmu ketika kalian tampil.”

Ucapannya sangat tulus, sungguh, aku tersentuh dengan apa yang Daeun katakan. Jika saja aku tidak memikirkan pride ku sebagai lelaki, aku mungkin sudah menitikkan air mata mendengarnya.

“Oooooh… Jung Daeun, kau rajin membaca buku pepatah akhir-akhir ini sepertinya.” Alih-alih menjawab perkataan Daeun dengan kata-kata romantis lainnya, aku malah mengeluarkan gurauan.

Daeun menatapku kemudian memutar matanya. Itu menggemaskan sungguh, dia seperti anjing kecil, aku mencubit pipi lembutnya karenanya. Bukan salahku, dia yang membuatku melakukan itu.

“AAAAAAAAAAAAAAAAKKKK… Oh Sehun albino cadel! Kau ini.” Teriakannya sangat memekakan telinga.

“Hahaha, aku akan merindukan tawamu yang tidak akan aku dengar 2 minggu kedepan.” Ucapku.

Daeun terdiam, kemudian kembali menyandarkan kepalanya di pundakku.

“Kau tidak bisa melihat penampilan perdanaku. Kau juga tidak bisa menghadiri showcaseku. Kenapa promosimu di Cina harus bertepatan dengan waktu debutku.” Ia sedih, sangat sedih, juga kecewa. Aku bisa merasakan dari suaranya yang mengecil dan bergetar.

“Dani-ah, aku hanya akan berada di sana selama 2 minggu, aku juga akan memastikan untuk menyaksikan penampilan perdanamu, kita tidak sedang berada di zaman pra sejarah. Aku dengar dari Luhan hyung, koneksi internet di Cina sangat bagus, kau tidak perlu khawatir, dan focus berikan yang terbaik dalam penampilan perdanamu nanti.” Ucapku kemudian memeluknya.

“Aku akan merindukanmu albino cadel, sungguh, aku akan sangat merindukanmu.”

***

                “SEHUN-AAAAHHHHHHH, Sehun-ah, Sehun-ah, Sehun-ah.” Aku menjauhkan ponsel dari telingaku, aku tau dia akan berteriak.

“Ya! Kau bisa memecahkan gendang suaraku.” Ucapku.

Mian (sorry), aku sangat merindukanmu. Kau tidak menghubungiku sama sekali selama 2 minggu ini.” Ia menjawab dengan suara manja, aku benci itu, karena suaranya yang biasa saja terkadang membuat jantungku berdebar kencang, apalagi suara manjanya ini, aku rasa jantungku bisa meledak mendengarnya.

mian (sorry), jadwalku sangat padat. Aku bahkan tidak sempat tidur selama 3 hari awal ada disini. Tapi tenang saja, aku tidak melewatkan penampilkan perdanamu. Oooh, Jung Daeun, kau telah menjadi bintang rupanya.” Aku berkata jujur, sangat jujur, aku tidak pernah berbohong kalian tahu. Penampilan perdana Daeun memang sangat memukau.

“Terimakasih sehun-ah, berkat nasihat darimu, aku berhasil.” Aku tau dia tersenyum ketika mengucapkan terimakasih. Hei, aku bilang aku bisa merasakannya dari suaranya bukan?

“mm.. itu juga berkat usaha kerasmu, Dani-ah. Ini baru awal, kau harus terus berusaha keras Jung Daeun. Ingat, kau harus tetap rajin berlatih, sesuai jadwal, tetapi jangan memaksakan diri. Kau juga harus selalu tersenyum, kau jelek sekali ketika cemberut.” Ucapku memberi nasihat panjang. Sejujurnya aku bukan tipe orang yang rajin memberi nasihat seperti ini.

Mwoya (what’s this) Oh Sehun? Kau sepertinya benar-benar kelelahan dengan jadwal padatmu. Atau jangan-jangan kau berniat tidak akan kembali dari Cina? Jangan coba-coba meninggalkanku disini, karena kita bahkan belum sempat berdiri berdampingan di atas panggung.” Jawabnya.

“Hahaha, aniya (no). Aku akan pulang hari ini. Tunggu saja, 8 jam lagi temui aku di kedai jjampong bibi Kwangja, aku akan mentraktirmu, ucapan selamat atas berhasilnya debut dan showcasemu.”

Assa (yes)! Kau sudah berjanji ya. Baiklah, sampai ketemu 8 jam lagi Sehun-ah.”

“mm.” aku sudah hampir menutup teleponku.

“A, Dani-ah.” Ucapku.

wae (why)?”

Aniya (nothing) . Oke, sampai ketemu 8 jam lagi, kedai bibi Kwangja, jangan terlambat Jung Daeun.” Aku menutup teleponku. Lagi-lagi aku gagal mengatakannya, mungkin nanti 8 jam lagi di kedai bibi Kwangja, aku akan mengatakan apa yang selama ini ingin aku katakan, semoga saja Tuhan memberiku cukup keberanian. Ya, semoga saja.

***

                “Bagaimana disana? Kau baik baik saja kan?”

“Kau tidak sedang berlatih, kan? Jangan memaksakan diri.”

“Apa kau sudah makan? Aku tidak bisa membawakanmu jjampong dari kedai bibi Kwangja lagi, kedainya tutup, bibi Kwangja pindah ke Daegu, dan beralih profesi menjadi penjual smile tteokbukki, kau tahu.”

“Well, aku minta maaf aku datang sangat terlambat ke kedai bibi Kwangja.”

“Alih-alih datang 8 jam seperti yang kujanjikan, aku datang setelah 8 bulan.”

“Aku bertemu teman-teman di sekolah, mereka semua merindukanmu.”

“Aku…”

“Ya, aku juga…”

“aku juga merindukanmu… ”

“dan aku..”

“aku mencintaimu Jung Daeun, aku ingin kau menjadi gadisku.”

Akhirnya aku mengatakan apa yang ingin ku sampaikan sejak lama, apa yang ingin aku sampaikan lewat telepon ketika aku berada di Cina, dan apa yang ingin aku sampaikan 8 bulan lalu di kedai jjampong bibi Kwangja.

Pengecut ini akhirnya mengungkapkan semua isi hatinya yang terpendam selama 9 tahun. Ya, aku tahu aku bodoh, aku hanya berani mengungkapkan perasaanku di hadapan guci porselin putih bercorak bintang-bintang indah, di hadapan potret cantik Daeun dengan senyum manisnya.

“Berhentilah menangis, Daeun tidak menginginkannya.” Ucap Luhan hyung.

“Sehun-ah, kau ingat bagaimana bangganya Daeun dengan semangat yang ada di matamu? Jangan hapus semangat itu dengan air matamu.” Suho hyung menepuk pundakku.

“kajja sehun-ah.” Kai membantuku bangkit.

Aku sudah berbalik dan melangkahkan satu kakiku.

“Sebentar hyung, aku harus mengingatkannya satu hal lagi.” Ucapku kemudian kembali menghadap guci porselin indah itu.

“Kau tahu Dani-ah, sejak pertama kali kita bertemu, kaulah bintang yang terindah yang pernah aku lihat. Kau lah bintang yang bersinar paling terang di antara bintang-bintang lainnya. Aku mencintaimu Jung Daeun, melebihi sinar bintang yang paling terang.”

Aku berbalik dan meninggalkan guci porselin itu, berjalan mendongakkan kepalaku, menahan tetesan air yang terus berusaha keluar dari mataku.

***

“Dani berpamitan untuk menunggumu di kedai bibi kwangja, tidak seperti biasanya ia tidak meminta supir menemaninya.”

“Sepertinya Dani mendengar berita pesawat yang kau tumpangi gagal mendarat dan terbakar di Incheon.”

“Menurut saksi mata dan penuturan bibi Kwangja, Daeun sangat terburu-buru dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.”

“Ia tidak mengindahkan lampu lalu lintas, itu yang menyebabkan ini semua terjadi.”

“Bukan salahmu Daeun pergi.”

“Jangan terlalu menyesal karena tidak bisa menemani Daeun di saat terakhirnya, karena ketika saat itu nyawamu juga sedang di persimpangan jalan Sehun-ah.”

“Terimalah apa yang sudah Tuhan gariskan, yakinlah bahwa ini yang terbaik untukmu dan Daeun.”

Seharusnya saat ini aku tidak sedang duduk di ruang tunggu dan mendengarkan semua penjelasan unnie-unnie mu. Seharusnya saat ini kau sedang mengusap usap rambutmu dengan gelisah karena akhirnya kita bisa berdiri berdampingan dalam satu panggung dan menjadi bintang yang bersinar dengan sangat terang.

Advertisements

4 thoughts on “[FF Freelance] The Star

  1. uuuyyyeeah, jadi sebenernya di sini mereka ada sesuatu dari awal kan ya thor, feelnya dapet, sweet tapi pas, buat saya. bahasanya juga udah okesip 😀 selamat berkarya lagi thooor!!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s