[FF Freelance] Quatre

quatreQuatre

::

by Hanseora

Main Cast: [CNBLUE] Lee Jongyun & [SNSD] Im YoonAh || Genre: AU. Romance. Fluff.  || Length: Vignette || Rating: Teen

.

. . .je t’aime. . .

 ♥

Malam pun bertandang, matahari telah bersembunyi di ufuk barat. Bersamaan dengan itu, sekumpulan awan yang diselimuti kabut perlahan datang menumpahkan ribuan bahkan jutaan partikel air ke seluruh daratan yang ada dibawahnya.

Hujan turun membasahi permukaan kota Paris. Semua aktivitas sedikit terhambat oleh kedatangan hujan yang begitu mendadak, namun kecantikan kota Paris di malam hari kian terlihat romantis. Interior bangunan-bangunannya yang minimalis dan klasik, menciptakan esensi keindahan tersendiri bagi siapa saja yang memandangnya. Terlebih dengan paduan warna-warni yang dihasilkan oleh gemerlapnya lampu pertokoan serta lampu dari berbagai kendaraan yang melaju di jalan raya.

Beautiful.

Im Yoona—gadis berparas Asia tersebut mengagumi keindahan kota Paris dalam hati. Ia masih berdiri di depan pelataran toko, berteduh sejenak sampai hujan akhirnya mereda. Di sebelahnya, terdapat seorang pria—yang tak jauh berbeda dengan Yoona—sedang melakukan aksi yang sama seperti apa yang dilakukan Yoona.

Lee Jonghyun—nama pria itu, tampak menikmati setiap partikel air hujan yang turun membasahi telapak tangannya. Dan tak lama setelah itu, keduanya tersenyum kikuk satu sama lain, saat menyadari bahwa tindakan mereka mulai diperhatikan banyaknya pasang mata yang turut berteduh di sekitar mereka.

Jonghyun mundur beberapa langkah sampai merasakan bahwa punggungnya sudah menempel di dinding toko dan langsung diikuti oleh Yoona. Alhasil, keduanya pun saling merapat satu sama lain dengan jemari tangan mereka yang dapat saling bertaut jika mereka mau.

Suasana canggung kembali hinggap di antara keduanya. Sudah beberapa kali hal ini terjadi dan keduanya hanya dapat menciptakan suasana hening; sibuk dengan perasaan mereka masing-masing. Memang sudah sewajarnya, jika mereka dapat saling mengutarakan perasaan satu sama lain nantinya. Namun, baik Jonghyun ataupun Yoona, belum ada yang berani ingin memulainya terlebih dahulu. Perasaan yang sejatinya telah mereka pahami dengan baik itu pun, terpaksa mereka pendam hingga dua tahun lamanya.

Sejauh ini mereka telah saling mengenal, bahkan lebih dari sekadar rekan kerja sebagai editor di sebuah produksi majalah fashion ternama di kota Paris. Hubungan mereka juga dapat dikatakan lebih dari hubungan pertemanan biasa dan justru lebih mengarah pada keseriusan. Setidaknya hal itu yang selalu diinginkan oleh Yoona, sejak kali pertama ia merasa jatuh cinta kepada Jonghyun. Entah apa yang dirasakan dan diinginkan oleh Jonghyun sendiri. Yang jelas, sebagai wanita, tentu Yoona berhak mendapatkan status yang jelas mengenai hubungannya dengan Jonghyun sekarang. Dan sepertinya, hal tersebut tidak terlalu berlebihan. Yoona hanya ingin mendapatkan kepastian. Itu saja.

Lamat-lamat Yoona mulai memberanikan diri untuk menidurkan kepalanya di atas bahu kanan milik Jonghyun. Tak segan-segan, Yoona pun turut merangkul lengan pria itu hangat. Menggenggamnya erat seakan-akan tak ingin melepaskannya lagi. Jonghyun sontak terkejut mendapati aksi Yoona yang cenderung membuatnya gugup. Apalagi mereka sedang berada di tengah-tengah keramaian, para pejalan kaki lain yang berteduh di tempat yang sama.

“Kau tidak peka, Jonghyun. Bahkan sekarang kau merasa risih jika aku memperlakukanmu seperti ini di depan umum,” ujar Yoona dalam bahasa Korea yang tentu saja tak dapat dimengerti oleh mayoritas orang-orang yang ada di tempat tersebut. Yoona mulai melepaskan rangkulannya dari lengan Jonghyun dan segera mengangkat kepalanya lagi. Bibirnya sedikit mengerucut ke depan dan membuat wajah gadis itu terlihat menggemaskan.

Sedangkan Jonghyun, ia menggaruk belakang kepalanya—menunjukkan bahwa ia tidak paham dengan perkataan Yoona barusan. Tidak peka?

“Apa maksudmu?”

Satu hal yang Yoona benci dari sikap Jonghyun. Pria itu pasti akan selalu balik bertanya dan berpura-pura bodoh jika Yoona memancingnya untuk membahas hubungan di antara keduanya.

“Terserah kau saja. Kau juga tidak akan pernah mengerti apa maksudku.” Yoona melipat kedua tangan dan memasang wajah tak bersahabat—meski tetap saja wajahnya terlihat menggemaskan di mata Jonghyun.  “Kau menyebalkan, Jonghyun.”

Jonghyun memang tidak mengerti apa yang harus dilakukannya tatkala mendapati Yoona sedang marah—tanpa alasan—yang jelas seperti ini. Jadi reaksi yang dapat dilakukannya sekarang hanyalah diam dan yeah, terlihat tidak peduli padahal sesungguhnya ia merenung keras untuk memikirkan jawabannya sendiri.

Tidak peka? Apanya yang tidak peka?

***

Hujan yang semula turun dengan deras, perlahan telah berganti menjadi rintik-tintik. Tak terasa telah empat puluh menit Jonghyun dan Yoona menghabiskan waktu berteduh mereka di depan pelataran toko. Dalam kurun waktu tersebut, beberapa orang sudah banyak yang nekat menerombos hujan dan kini hanya menyisakan mereka saja di sana. Selama itu pula, keduanya juga masih saling terdiam. Yoona sibuk membaca buku novel yang baru saja ia beli tadi pagi, sementara Jonghyun sibuk dengan pikirannya dan sesekali bersiul, seraya melirik Yoona untuk menarik perhatian gadis cantik tersebut.

Jonghyun kemudian berdeham singkat sebelum akhirnya mulai bersuara. Ia semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Yoona, namun tiap kali Jonghyun mulai merapat ke sisi Yoona, dengan pasti Yoona akan selalu menjauh. Dan begitu seterusnya sampai Yoona akhirnya merasa kesal lalu menutup buku yang dibacanya dengan kasar.

“Kau kenapa sih?” tanya Jonghyun tanpa basa-basi. “Apa salahku? Memangnya aku kurang peka terhadap apa? Aku sering menolongmu, membelikanmu es krim saat musim panas dan juga—”

“Bukan peka dalam hal itu yang kumaksud, bodoh!” sahut Yoona yang secara langsung membuat perkataan Jonghyun menggantung di udara. Yoona menatap Jonghyun secara tajam. Tak peduli jika Jonghyun akan bereaksi apa nantinya.

“Oh.” Dan Jonghyun pun hanya menyahut singkat, tentu saja semakin membuat Yoona kesal. Namun, gadis itu bisa apa selain berdecak sebal dan menghela napas?

“Kalau peka yang kaumaksud adalah hal itu, sepertinya kau yang tidak peka—”

Oh, ternyata kalimat Jonghyun masih belum berhenti pada itu saja. Ia pun melanjutkan, “Aku bahkan telah melakukannya empat kali. Empat!” Jonghyun mengacungkan empat jari tangannya dengan raut wajah serius yang jenaka.

Setelah mendengar perkataan Jonghyun yang klise tersebut, mata Yoona pun membulat secara sempurna. Untung saja mulutnya sedang kosong, tidak diisi dengan makanan yang bisa saja membuatnya tersedak di saat bersamaan.

“Apa maksudmu dengan empat?” tanya Yoona dengan nada yang mulai melunak, tidak seketus yang sebelumnya terdengar. Jonghyun pun tak tahan untuk tidak terkekeh saat mendapati perubahan ekspresi Yoona secara drastis.

“Benar dugaanku, kau memang tidak peka. Atau jangan-jangan kau sengaja untuk tidak mengetahuinya padahal kau menikmatinya ‘kan?”

Jonghyun benar-benar membuat Yoona tersipu malu sekarang, kendati ia belum tahu pasti apa yang dimaksud Jonghyun sebenarnya. Tapi, saat melihat ekspresi Jonghyun yang seolah menggodanya, terlebih dengan perkataannya yang cukup membingungkan, agaknya Yoona dapat menebak dengan pasti bahwa lelaki itu pasti telah mengakui perasaannya. Ah, semoga saja begitu.

“Apa kaubilang? Cepat katakan yang sejujurnya padaku, Lee Jonghyun!” seru Yoona menuntut Jonghyun agar segera menjawab, sembari mencubit lengan Jonghyun hingga membuat pria itu mengaduh kesakitan.

QuatreKisseu,” ucap Jonghyun  di sela-sela rasa sakitnya. Ia mengucapkan dalam bahasa Perancis dan Korea menjadi satu. Hal tersebut jelas membuat Yoona semakin tidak mengerti.

Quatre. Kisseu?

Tunggu, quatre adalah angka empat dalam bahasa Perancis dan kisseu adalah… kecupan?! Kalau digabungkan berarti empat kecupan.

Yoona lantas menutup mulutnya dengan tangan dan sangat terkejut. Jantungnya hampir mencelos saat itu juga. Seperti ada seekor kupu-kupu cantik yang berterbangan di dalam perutnya dan mengajaknya untuk terbang bersama hingga ke angkasa sekali pun!

“Sekarang siapa yang tidak peka?” ujar Jonghyun yang sangat menyukai ekspresi Yoona sekarang. Gadis itu terlihat cantik dan imut dengan reaksi malu-malunya.

“Katakan padaku, kapan kau melakukannya?” tanya Yoona dengan nada yang terdengar sangat penasaran dan tidak menyangka.

“Saat kau tertidur di meja kerjamu, di dalam bus, di café, dan terakhir saat aku berada di rumahmu.”

Yoona mencubit lengan pria itu lagi karena ia tak menyangka bahwa Jonghyun sudah menciumnya sebanyak itu. Betapa bodohnya Yoona sampai ia tidak sadar dan tidak tahu di mana saja bagian tubuhnya yang dikecup oleh pria yang dicintainya tersebut. “Siapa yang memberimu izin untuk menciumku?”

“Tanpa kau memberi izin, kau pasti juga tidak akan menolaknya, bukan?”

Gadis mana yang bisa menahan semburat merah untuk tidak merona di wajahnya ketika mendapati pria yang disukai mengatakan hal seperti itu?

Ehm, baiklah. Akan kuterangkan lebih jelas lagi. Kecupan pertama pada saat kepalamu terbentur pintu café, dan mungkin kau ingat jika saat itu aku langsung mengecup keningmu untuk meredam rasa nyeri yang kaurasakan. Selanjutnya kecupan kedua dan ketiga ada di pipi kanan dan kirimu; saat kau tertidur di dalam bus. Dan kecupan keempat ada di…”

Lagi, kalimat Jonghyun menggantung di udara. Sepertinya pria itu sengaja membuat Yoona penasaran setengah mati. Alasannya sederhana, ia suka sekali melihat ekspresi Yoona yang akan jauh terlihat lebih cantik jika sedang tersipu seperti ini.

“Ada di sini, saat aku mengerjakan berkas di rumahmu hingga larut malam pada minggu lalu. Dan saat itu, kau sedang tertidur.” Jonghyun meletakkan ibu jarinya, tepat di bibir Yoona; mengusapnya secara lembut dan perlahan. Gadis itu kini tak kunjung bereaksi dan hanya dapat diam seperti patung.

Sial! Ini artinya, Jonghyun telah mencuri ciuman pertama Yoona, saat ia tertidur.

“Ah, iya! Aku lupa, sepertinya aku membawa payung,” imbuh Jonghyun kemudian sembari mencari keberadaan payungnya di dalam ransel kerjanya.

Payung pun terbuka lebar dan Jonghyun segera menarik lengan Yoona untuk berjalan bersisian, menerombos hujan—menuju rumah mereka masing-masing.

Sebelum kedua kaki mereka hendak berjalan, Yoona membisikkan sesuatu di telinga Jonghyun.

“Jonghyun, je t’aime[1].”

Tak lama setelahnya, bibir keduanya pun saling bertaut satu sama lain dan hanyut dalam suasana romantis kota Paris yang indah.

FIN

 

Note: [1]  Aku cinta kamu (dalam bahasa Perancis).

saya sangat menghargai bagi siapa saja yang mau memberi kritik dan saran mengenai fic ini dalam bentuk komentar, baik di sini ataupun lewat twitter: @hanseoraeo 🙂

 

14 thoughts on “[FF Freelance] Quatre

  1. Wowwww….. so sweet banget…. paling suka bila deerburning… sayang kurang panjang thor… hehehe…. harusnya bersambung thor…..

  2. /sampe sekarang masih ngga terima lee seunggi-yoona/😦
    aku bakal tetep jadi deerburning shipper! >.<
    btw, ffnya unyu banget sih^^ suka deh!🙂
    keep writing yaaaa~

  3. aaaaa so sweet aaaa gimana yoona mau terus malah kalau jonghyun langsung so sweet gitu. jonghyjn nakal, tapi yoona pasti suka sama kenakalan jonghyun haahaha😄
    bikin lagi dong cerita jonghyun yoona, tapi yg lebih panjang dong hehehehe

  4. Urie jonghyunnie diam2 menghanyutkan mencuri ciuman disaat yoona tidur.. Hadduuww x_x
    Nice ff .. Aku tunggu ff deerburning yg lain yaa🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s