[Chapter 7] Hard to Love

Hard to Love

“Love? Never!”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo, Son Naeun || Support Cast : Lee Howon, Jung Eunji || Genre : Romance, Life || Length : Chapter 6/? || Rating : PG-15 || Credit Poster: 

Hard to Love  Chapter 7  Stupid Act

oOo

Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

oOo

“Kau tidak mengenalku?”

Perkataan itulah yang pertama diucapkan oleh Naeun ketika mendengar pertanyaan dari Myungsoo. Bagaimana bisa Myungsoo bertanya, “Nuguseyo?”. Jelas-jelas bahwa Myungsoo mengenalnya sebagai Theresa saat mereka berada di London. Padahal itu baru saja berlalu 3 hari dan Myungsoo sudah melupakannya?

Rasanya Naeun seperti ditusuk kembali. Perasaan itu. Ia tidak bisa menyembunyikannya, ia masih mencintai Myungsoo. Bagaimanapun, ia jelas-jelas masih memendam perasaan itu. Akhirnya, Naeun menghela nafas panjang kemudian ia berusaha untuk menahan air matanya.

“Kita bertemu di London 3 hari yang lalu. Aku Theresa.”

Myungsoo mengerutkan keningnya, kemudian ia mencoba tersenyum. “Oh, ya. Aku mengingatmu, Son Naeun,” katanya sambil mengambil botol air mineralnya. Ia meneguknya sedikit kemudian meletakkan kembali. Myungsoo menatap Naeun. “Tidak duduk?”

“Tidak, aku hanya akan membawakan beberapa buah-buahan untuk Kim sajangnim. Apa dia baik-baik saja?” tanya Naeun begitu saja. Myungsoo menganggukkan kepalanya pelan sebelum Naeun menyerahkan parsel buah-buahan itu kepada Myungsoo, kemudian ia menerimanya dengan senang hati.

“Kau mengenalnya?”

Naeun terdiam. “Iya, aku pernah ditawari sahamnya.” Myungsoo membulatkan bibirnya sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya mengerti. Tak mau berlama-lama disana, Naeun akhirnya melangkah keluar lalu ia menatap Myungsoo sekilas. “Sampaikan salamku padanya.”

“Baiklah.”

Suasana ruang rawat inap itu langsung sepi begitu saja sesudah Naeun keluar dari ruangan itu. Naeun menepuk pundak Eunji yang tampak kesal menunggunya. “Ayo, kita pulang,” kata Naeun. “Aku tidak mau berlama-lama disini.”

“Sungguh, aktingmu itu membuat dirimu tampak bodoh.”

“Baguslah,” kata Naeun sambil tersenyum getir, lalu mencoba mengingat-ingat apa yang dilakukannya tadi. “Myungsoo sekarang berpura-pura tidak mengenalku.”

Heol. Kalian berdua memang bodoh.”

**

“Jadi?”

“Apanya?” tanya Naeun sambil mengaduk-ngaduk gelas coffee cream-nya. Lalu ia duduk diatas kasurnya – lebih tepatnya, kasur milik Eunji. “Aku tidak mengerti.”

Eunji mengangkat bahunya. “Terserah kau. Menurutku, lebih baik kalian menghentikan akting bodoh kalian berdua itu. Sangat tidak lucu,” katanya sambil mengerutkan keningnya sehingga kedua alisnya bertemu. “Apalagi kau yang memulainya.”

“Oh, ayolah, Eunji. Lee Howon tengah mencampakkanmu atau apa? Aku benar-benar sedang tidak berakting, dialah yang berakting!” ujar Naeun kesal. Lama-lama ia kesal juga dengan sahabatnya itu.

“Jujur saja, aku tidak suka melihat kalian berdua seperti itu.”

“Oke, aku akan menghentikannya.”

Naeun meneguk semua kopinya lalu mengambil tasnya dan keluar dari apartemen Eunji. Membanting pintu kamar apartemen Eunji dan berlari begitu saja. Eunji hanya bisa menghela nafas panjang, “Ya, Son Naeun. Paling tidak, kau tidak benar-benar marah. Aku hanya memberitahumu.”

**

“Aish, Son Naeun! Dimana dia?” tanya Howon pada Eunji. ” Jangan mengajaknya bertengkar. Jika sudah seperti ini, makin parah keadaannya. Bisa-bisa dia minum-minum di bar!”

Eunji tersentak. “Tidak mungkin!”

“Mungkin saja! Dia kan sudah 20 tahun!”

Eunji menyerah kemudian ia menatap ke arah Myungsoo yang diam saja dari tadi. “Yak! Oppa! Kenapa kau diam saja?! Seharusnya kau tidak berakting seperti itu tadi. Aku benar-benar tidak mengerti dengan kalian berdua.” Kesal Eunji.

“Salah kau sendiri, kenapa kau tidak memberitahuku bahwa dia adalah Son Naeun yang asli?” Myungsoo mencoba membela dirinya. “Kau juga Lee Howon. Kalian benar-benar hebat.”

“Bagus! Semuanya berakting dengan bodoh,” kata Chorong yang baru saja angkat suara. “Lagipula, kalian semua! Ah, aku tidak mengerti. Naeun berakting, dan sekarang Myungsoo juga berakting! Aku tidak mengerti dengan jalan pikir kalian semua.”

Eunji tertawa sinis. “Benarkan kataku, kita semua berakting bodoh. Dan Myungsoo oppa, kau dan Naeun benar-benar yang terbodoh diantara kita semua.”

“Aish, sudahlah. Lebih baik kita mencari Naeun, daripada berdebat.”

“Baiklah, aku cari denganmu, Oppa!” kata Eunji sambil menatap Howon dengan penuh harap. Howon menganggukkan kepalanya pelan. “Chorong unni dengan Sungjong,” katanya sambil menatap kedua saudara bukan sedarah itu. Yang ditatap hanya menganggukkan kepala mereka.

“Aku cari sendiri,” kata Myungsoo sambil bangkit dari tempatnya duduk dan ia pergi melangkah keluar dari kafe. Begitu saja masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat parkir kafe tersebut.

**

“1 gelas lagi.”

“Tap-.”

“1 gelas lagi, ayolah!”

Akhirnya bartender tersebut menyerahkan segelas wine ke arah gadis yang tengah mabuk itu. Namun, sebelum gadis itu sudah merebut gelas itu, sebuah tangan menghentikannya dan mengambil gelas itu.

“Son Naeun, neo michyeoseo?

Gadis itu berhenti terdiam kemudian ia tampak menangis. “Nuguya?” tanya Naeun ke arah laki-laki tersebut. Kemudian Naeun tertawa kecil.

“Aish, kau bawalah dia ke rumahnya. Dia sudah memesan 5 gelas,” ujar bartender tersebut. “Kau mengenalnya bukan?”

“Iya,” jawab Myungsoo kemudian ia mengeluarkan kartu kreditnya. “Ini biar aku yang bayar.”

Bartender tersebut menggelengkan kepalanya sambil menolak kartu kredit yang diserahkan oleh laki-laki itu. Kemudian ia tersenyum. “Tidak usah, aku mengenal gadis ini. Dia sudah kuanggap adik.”

“Ah, begitu.”

Laki-laki tersebut menganggukkan kepalanya kemudian ia menarik Naeun yang terus meronta-ronta menuju mobilnya. Lalu ia masuk ke dalam mobilnya dan membenarkan posisi Naeun. “Naeun?”

Nuguya?” tanya Naeun lagi. Lalu ia tertawa kemudian ia tersenyum. “Oh, kau, Kim Myungsoo. Myungsoo oppa?” katanya dengan wajah polosnya. Ia sedang mabuk, kalau seperti ini dia pasti akan mengungkapkan segalanya, kata Myungsoo dalam hati.

Myungsoo kemudian menyalakan mobilnya lalu ia melaju dengan cepat. “Tidurlah.” Katanya sambil melirik sekilas ke arah Naeun. “Kenapa kau mabuk segala?”

**

“Eh?”

“Kau sudah bangun?”

Naeun gelagapan saat ia melihat Myungsoo. Bagaimana bisa ia bangun di kamar Myungsoo? Myungsoo meneliti wajahnya, mencoba menebak apa yang sedang dipertanyakan oleh Naeun. Akhirnya ia berdeham kecil. “Aku menemukanmu yang tengah mabuk tadi malam di suatu bar, karena kita kerja sama dalam perusahaan, aku akhirnya memutuskan untuk membawamu pulang.”

Gadis itu menganggukkan kepalanya mengerti kemudian menatap Myungsoo. “Maaf, sudah merepotkanmu, Myungsoo-ssi.”

“Tidak masalah,” jawab Myungsoo sambil melangkah keluar. Dengan cepat, Naeun merapikan rambutnya kemudian ia mengambil tasnya dan mengikuti Myungsoo dari belakang. “Kau mau sarapan?” tanya Myungsoo kemudian duduk di kursi ruang makannya.

Naeun menggelengkan kepalanya kemudian membungkuk. “Aku harus pulang.”

“Oh, benar. Mau kuantar?”

“Tidak usah, terima kasih. Maaf sekali lagi.”

“Anggap saja, ini baru permulaan.”

“Eh?” Naeun menatap Myungsoo heran. Namun kemudian ia menghilangkan rasa penasarannya itu.

**

“Ya! Naeun?!” Eunji berteriak saat Naeun memasuki apartemennya tanpa membunyikan bel. Naeun yang mengetahui password apartemen Eunji, hanya bisa mengangkat bahunya. “Kenapa kau baru pulang?! Apa kau tidak tahu betapa khawatirnya aku dan Howon oppa?!”

Naeun membanting tubuhnya ke atas sofa. Ia mengucek kedua matanya kemudian menatap Eunji yang sudah kesal berdiri di depannya. “Aku minta maaf. Tapi, Myungsoo oppa, apa dia tahu tentang ulahku?”

“YA! Dia sudah tau semuanya!”

Tanpa dia sadari, air matanya jatuh begitu saja. Ia tidak kuat menahan air matanya yang terus-terusan menggenang di matanya. Sampai akhirnya, Eunji duduk di sampingnya kemudian menatapnya dengan pandangan khawatir. “Apa yang terjadi antara kalian?”

“Myungsoo oppa, dia pasti ingin membalaskan dendamnya padaku,” ujar Naeun sambil mengusap air matanya. “Dia mengatakannya tadi pagi.”

Mata Eunji melebar. “Kau? Kau tidur di apartemennya?”

Ne. Dia menemukanku tadi malam, dan mengajaknya ke apartemennya. Dan sialnya, aku tidak mengingat apapun yang kukatakan tadi malam.”

Setengah menyerah, Eunji akhirnya bangkit. “Sudahlah, hentikan saja ini. Tidak ada gunanya,” Eunji melangkah menuju dapurnya. “Lihat sekarang, justru kau yang menangis. Kau yang dibuat sakit. Bukan Myungsoo oppa yang merasakan sakitnya. Lagipula, apa ini jalan terbaik agar Kim sajangnim berhenti mengusikmu?”

Naeun terdiam.

“Tuh, kan. Sekarang kau cuma bisa diam,” Eunji berkata sambil mengaduk cream coffee-nya. “Aku sudah bilang saat kau pergi ke London. Ini bukan jalan terbaik, aku sudah mengatakannya padamu berkali-kali. Apa kau masih ingin melakukannya? Demi Kim sajangnim? Toh akhirnya, kau kehilangan ibumu.”

Naeun kembali terdiam. Dia tidak bisa berkata apapun, yang dikatakan oleh Eunji benar. Dia tidak seharusnya melakukan hal itu. Itu hanya akan membuatnya merasakan kepedihan mendalam. Dan itu benar-benar terjadi sekarang padanya.

Suasana hening. Tak ada yang berbicara, sampai akhirnya Eunji meletakkan sendoknya dan mulai meminum cream coffee-nya. Lalu ia meletakkan kembali dan menatap Naeun yang tengah diam melamun. “Apa yang kau lakukan? Jangan melamun. Lebih baik kau bertemu dengannya.”

“A–aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Aku tidak–aku benar-benar tidak bisa menemuinya dalam keadaan seperti ini,” kata Naeun lalu menatap Eunji lurus. “Apa yang akan kukatakan padanya?”

Heol. Sudahlah, kau putuskan saja sendiri.”

**

Myungsoo menatap keramaian Songpa-gu pagi itu. Kebetulan Hari Minggu, jadi tidak ada alasan untuk pergi menuju perusahaan ayahnya. Lagipula, perusahaan itu sudah dilimpahkan padanya kan? Karena tidak ada kerjaan, akhirnya Myungsoo mengganti bajunya lalu mengambil jaket tebalnya karena Bulan Desember semakin merajalela suhu Kota Seoul.

Diambilnya kunci mobil miliknya dan keluar dari apartemennya. Dengan langkah yang cukup lebar, ia dapat mencapai pintu lift dengan cepat. Pintu lift pun terbuka dan kosong, jadi ia bisa leluasa berdiri dimanapun. Kemudian ia menekan nomor B2, dimana mobilnya di parkirkan.

Tak usah menunggu cukup lama, karena tidak ada satupun orang yang ikut masuk ke dalam liftnya. Kemudian ia melangkah keluar  menuju bagian blok C, dan tepat saat itu ia menemukan mobilnya yang masih terparkir disana dengan posisi rapi. Tidak ada yang berusaha untuk mencuri mobilnya, menurutnya. Kemudian ia menekan kunci mobilnya, lalu masuk ke dalam.

Diliriknya ponselnya yang menunjukkan waktu masih pukul 8 pagi. Akhirnya ia membuka ponselnya, dan menuju aplikasi sms. Tak ada sms, atau juga yang mencoba menghubunginya pagi itu. Namun, tanpa ia sadari, ia menyimpan nomor seorang gadis.

Son Naeun.

Ia sempat mengutak-ngatik ponsel Naeun tadi malam ketika Naeun yang mabuk itu tengah tertidur. Kemudian ia menyimpan nomor Naeun diam-diam dengan cara menelpon nomornya melalui ponsel Naeun. Dan, berhasil. Jadi kapanpun dia membutuhkan Naeun, ia cukup menekan angka 2 yang sudah ia masukan menjadi speed dial-nya. Kemudian ia menutup ponselnya.

“Huft. Aku harus kemana?” tanyanya pada diri sendiri sebelum ia menyalakan mesin mobilnya. Namun akhirnya otaknya tertuju ke arah itu. “Sekolah?”

Ingatan sekolah membuatnya teringat akan percakapannya dengan Eunji 3 tahun yang lalu, ketika umurnya masih 18 tahun dan ia duduk di bangku kelas 3 Hankeum High School. Bayang-bayangan itu dimulai.

Hankeum High School; 3 years ago

Perpustakaan setelah jam pulang sekolah memang sangat sepi. Namun, sang penjaga perpustakaan hanya bisa tutup disaat jam yang diinginkan oleh laki-laki terakhir pengunjung perpustakaan. Tak ada teman, sendirian. Ia selalu begitu. Ke perpustakaan itu dan tidur. Namun, hari itu sahabatnya datang menemuinya.

“Hoi, Kim Myungsoo!”

Myungsoo terbangun dari tidur lelapnya itu. Kemudian ia melepaskan headphone-nya dari telinganya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Howon. Matanya melirik ke arah gadis yang ada disamping Howon, disana ada Eunji juga. Perempuan yang dicarinya selama ini, namun selalu menghindar dari Myungsoo.

“Akhirnya aku bertemu denganmu, Jung Eunji. Dimana Son Naeun?”

“Beritahu saja, dia sudah seperti orang frustasi karena kehilangan Son Naeun. Aku barutahu kalau dia menyukai sahabatmu itu.” bisik Howon kepada Eunji. Akhirnya Eunji menganggukkan kepalanya.

“Sebenarnya Naeun tidak ingin kau mengetahuinya.”

“Kenapa?”

“Ia membencimu.”

“Apa?”

Mata Myungsoo menatap Eunji tak percaya. Hanya itu yang bisa ucapkan dari mulutnya ketika mendengar Eunji mengatakan hal itu.

“Naeun membencimu karena kau, ia jatuh cinta padamu.”

“Kau gila?” tanya Myungsoo. “Jantungku hampir meledak ketika mendengar ia membenciku. Saat mendengar alasannya rasanya aku ingin menggantungmu tinggi-tinggi. Sialan. Lanjutkan ceritanya.” Kata Myungsoo sambil tertawa kecil.

Eunji menganggukkan kepalanya ragu. “Itu saja yang aku tahu.”

“Apa? Ya! Jung Eunji, setelah selama ini aku mengejarmu, hanya ini yang kau ceritakan padaku? Benar-benar!” kesal Myungsoo. Karena kekesalnnya itu, ia bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Howon dan Eunji yang cukup menyesal.

“Aish, sial benar Jung Eunji. Padahal dia mengetahui lebih. Dan selebihnya, dia baru memberitahuku kemarin malam,” ujar Myungsoo kesal kemudian ia melajukan mobilnya. Lalu ia menyerahkan kartu identitas apartemennya ke arah penjaga parkir. Penjaga parkir itu menganggukkan kepalanya kemudian ia menyerahkan kartu identitas milik Myungsoo.

Mobil Myungsoo melaju cepat meninggalkan tempat parkir. “Kafe saja lah.”

**

“Hei, Naeun? Mau kemana?” tanya Eunji ketika Naeun mengeratkan jaketnya lalu mengambil kunci mobilnya. Dengan cepat Eunji berlari menuju Naeun kemudian berhenti di depan Naeun.

Naeun menatapnya heran. “Waeyo? Aku mau ke kafe,” ujar Naeun sambil mengerutkan keningnya. “Ada apa? Kau mau ikut?” tanya Naeun akhirnya. Dia tahu sahabatnya yang satu ini pasti mau ikut jika ditinggal sendirian. Sebenarnya, Naeun agak sedikit tidak tega juga meninggalkan Eunji sendirian di apartemen.

Apalagi, mendengar kata-kata tetangga sebelah yang mengatakan bahwa apartemen ini katanya horror. Cepat-cepat Naeun menghela nafas panjang kemudian ia menatap Eunji yang sudah hilang dari pandangannya.

“Ya! Jung Eunji! Kau dimana?” tanya Naeun sambil mencari-cari ke seluruh penjuru apartemen. Namun, untungnya Eunji menjawab pertanyaan Naeun dari dalam kamarnya. Sepertinya benar dugaan Naeun bahwa Eunji akan ikut dengannya.

Tak lama kemudian, Eunji keluar dari kamarnya dengan baju casual dan celana jeans-nya. Tidak lupa dengan jaket tebalnya yang memiliki tudung. Jaket hitam itu sudah disimpannya selama 5 tahun dan Naeun menyarankannya untuk membeli baru namun Eunji menolaknya.

Alasannya adalah jaket itu adalah hadiah ulang tahun dari Howon oppa, kekasih tercintanya itu. Kadang-kadang Naeun sering berbisik-bisik ke arah Howon agar membelikan Eunji jaket baru. Jaket itu tampak usang dan jelek menurut Naeun. Tapi tidak bagi seorang Jung Eunji yang sangat membanggakan jaketnya itu.

“Aish, kau pake jaket itu lagi,” ujar Naeun jengkel sambil melangkah keluar dari apartemennya. Yang dibicarakannya hanya tertawa kecil sambil mengunci pintu apartemennya.

Mereka berdua melangkah menuju lift dan tak usah menunggu lama, pintu lift pun terbuka. Mereka segera masuk dan Eunji menekan tombol B1 dimana mobil Naeun diparkirkan. Ya, karena Naeun punya mobil, jadi Eunji tidak perlu membawa mobilnya ke apartemen.

Setibanya, mereka segera melangkah keluar dan mencari mobi Naeun yang diparkirkan di blok L. Tidak jauh sebenarnya untuk seorang Jung Eunji yang rajin berolahraga, tapi sangat melelahkan bagi seorang Son Naeun yang jarang berolahraga dan sibuk berkutat dengan pekerjaan-pekerjaannya.

“Ah, itu mobilmu!” Eunji menunjuk ke arah mobil Naeun yang terparkir rapi disana. Belum dicuri orang, pikir Naeun. Gila memang gadis itu setiap menemukan mobilnya yang terparkir rapi disana. Sebenarnya dia hanya bercanda.

“Belum dicuri orang,” ujar Eunji sambil tertawa kemudian ia masuk ke dalam mobil Naeun. “Kafe apa?” tanya Eunji sambil menyalakan pendingin mobil.

Si pemilik mobil masuk ke dalam dan menghela nafas. Dia memasang sit belt-nya. Lalu menyalakan mobilnya. “Entahlah, kau sendiri?”

“Kafe kita biasanya saja,” ujar Eunji sambil menekan layar dasbor mobil. Kemudian ia menekan gedung kafe yang ada di layar dasbor itu.

**

“Myungsoo-ssi?”

Kim Myungsoo mengangkat wajahnya dari hadapan laptopnya yang sempat ia sambar dari jok belakang mobilnya. Kemudian ia sempat terkejut sedikit saat melihat Naeun dan Eunji yang berdiri di depannya. Laki-laki itu tersenyum kecil.

“Duduk saja disini, kebetulan aku sendirian, Son Naeun-ssi dan…………………” Myungsoo menoleh ke arah Eunji, kemudian tersenyum kecil. “Jung Eunji-ssi,” ujarnya sambil tersenyum kecil. Tersenyum meledek lebih tepatnya.

Kedua gadis itu menganggukkan kepala mereka kemudian duduk di depan Myungsoo.  Naeun memanggil salah seorang pelayan untuk datang dan mereka segera memesan.

“Biar aku yang bayar,” kata Myungsoo sambil tersenyum. Kemudian ia menyerahkan kartu kredit-nya ke arah pelayan tersebut. Cepat-cepat pelayan tersebut menerima dan membawa pesanan serta kartu kredit Myungsoo ke arah meja kasir. Lalu menghilang ke arah dapur.

Naeun tersenyum kecil. “Terima kasih, Myungsoo-ssi.”

“Bukan masalah.”

Myungsoo menatap laptopnya lagi sambil terus mengetik kemudian ia menyeruput american coffee latte-nya. “Oh ya, apa kalian sering minum disini juga?”

“Iya,” jawab Eunji tegas. “Kita langganan disini.”

Jari-jari Myungsoo seketika berhenti mengetik. Dia tahu bahwa sebenarnya Eunji akan membantunya jika sudah seperti itu. “Oh begitu, aku juga sering disini. Aku punya teman, Son Naeun-ssi. Kau mau kukenalkan dengan mereka?”

Naeun terdiam. “Siapa?” tanyanya mencoba tidak panik. “Jika tidak keberatan maka aku mau dikenalkan dengan mereka.”

“Oh, baguslah kalau begitu. Mungkin sekitar 5 menit lagi mereka akan tiba,” ujar Myungsoo sambil melirik ke arah jam tangannya dan tersenyum ke arah Naeun. “Oh ya, Eunji-ssi, apa kau punya pacar?”

“Tentu saja, dia kan temanmu, bodoh.”

“Oh iya, aku baru ingat.”

Sial, apa yang mereka lakukan? tanya Naeun dalam hatinya. Naeun akhirnya bangkit dari bangkunya, kemudian menarik tasnya. Myungsoo dan Eunji menatapnya heran.

“Ada apa, Naeun-a?” tanya Eunji sambil menahan tangan Naeun.  Naeun melepas tangan Eunji.

“Aku mau pulang,” ujar Naeun sambil menatap Eunji kesal. Eunji tersenyum dalam hatinya, ini pasti bekerja.

Eunji menatap Naeun dalam. “Jangan pulang dulu, Naeun-a. Aku masih ingin ngobrol dengan Myungsoo-ssi. Memangnya ada apa denganmu?” tanya Eunji.

Keadaan semakin menegang ditambah Myungsoo yang mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Lima. Empat. Tiga. Dua. Satu,” katanya. Tepat saat itu Howon masuk ke dalam kafe. Howon menoleh ke arah Myungsoo dan tersenyum. Namun, ia terkejut saat ia melihat Naeun disana tengah berdiri.

“Naeun-a, ayo duduk dulu,” ujar Eunji yang masih belum sadar kehadiran Howon disana. Naeun akhirnya menyerah, kemudian ia duduk dengan wajah masam.

Howon segera datang dan duduk disamping Myungsoo. Eunji melonjak kaget saat ia melihat kekasihnya yang sudah duduk di samping Myungsoo.

“Ya! Howon oppa, apa yang kau lakukan?”

“Eh?”

Kaget karena pertanyaan Eunji, dia cuma bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Kemudian ia menoleh ke arah Naeun yang diam saja tanpa menatapnya sama sekali. “Hei, Naeun-a!”

Naeun mengangkat kepalanya kemudian ia menatap ke arah Myungsoo yang tersenyum penuh kemenangan. Myungsoo menjetikkan jarinya. “Jadi, kalian berdua saling mengenal?” tanya Myungsoo.

Sekarang giliran Howon yang bingung. Memang, hanya Eunji seorang yang tahu tentang ‘kepura-puraan Naeun tidak mengenal Myungsoo’. Howon menatap Myungsoo dan Naeun lalu tertawa. “Ya! Apa yang kalian lakukan? Bukankah kalian ini kekasih?” tanya Howon. “Naeun-a, apa yang kau lakukan? Kenapa diam saja? Bukankah kalian memang saling mengenal? Apa jangan-jangan kalian sedang bermain drama?”

Rupanya kekesalan Naeun memang sudah mencapai puncaknya. Sial memang, dia tidak memberitahu Howon yang sebenarnya terjadi. Maka ini lah yang terjadi. Ia bangkit dari tempat duduknya, kemudian pergi meninggalkan kafe.

Kepergian Naeun, hanya bisa ditatapi oleh Eunji, Howon, dan Myungsoo. Kemudian Eunji mengangkat tangannya tinggi-tinggi, disana terdapat kunci mobil Naeun. Mereka bertiga tertawa. Myungsoo mengangkat tangannya untuk bertos bersama Eunji dan Howon.

“Kalian hebat!” ujar Myungsoo. “Terimakasih, Eunji-ya. Howon-a! Kalian memang yang terbaik!”

Eunji tersenyum kecil. “Bukan apa-apa, sebenarnya aku juga tidak tega melihatnya yang setiap hari mengurung diri. Diam. Kadang-kadang kalau dia sedang tidur, dia sering menyebut namamu. Hanya itu saja sih. Tapi alasan dia ingin pura-pura itu, aku masih tidak mengerti.”

“Tunggu dulu-.” ujar Howon lalu diam berpikir. “Bukankah waktu itu Naeun dan kau bertemu dengan Kim sajangnim saat di rumah sakit?” tanya Howon lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bukan! Maksudku kalian menjenguknya?”

Eunji menganggukkan kepalanya. Myungsoo ikut penasaran. Sebenarnya ia sudah mempertanyakan hal ini dari dulu. “Sebenarnya, dia bilang bahwa pergi ke London dan segalanya, Kim sajangnim yang membayarnya.”

“Tapi apa hubungan mereka?” tanya Myungsoo.

**

“Son Naeun,” ujar laki-laki tua itu sambil menatap Naeun marah. Penyakit darah tingginya semakin parah karena hal ini. Naeun hanya bisa menunduk kemudian menatap laki-laki itu berharap. Wajahnya kini benar-benar penuh penyesalan.

Yang bisa ia lakukan sekarang adalah, terjatuh. Berlutut di hadapan laki-laki tua itu. “Maafkan aku, Kim sajangnim. Aku memang bertemu dengannya hanya untuk pekerjaan.”

Kim sajangnim berdiri menghampirinya. Kemudian ia melipat kedua tangannya. Walaupun laki-laki itu sudah berumur 50 tahunan, ia masih tampak seperti 40 tahun. Ia berdiri di depan meja kerjanya. Kemudian ia menatap Naeun yang masih berlutut di depannya. Akhirnya ia berdeham kecil. “Berdiri.”

Naeun akhirnya bangkit dari tempatnya. Kemudian berdiri diam, tanpa berani menatap laki-laki tua itu. Tak lama kemudian, laki-laki tua itu mengangkat tangannya.

PLAK.

“PEKERJAAN?! JELAS-JELAS DIA MENGATAKAN BAHWA KAU BERKENCAN DENGANNYA!” Laki-laki itu menunjuk laki-laki muda yang tersenyum senang dengan kamera ditangannya, Kim Jongwoon. Siapa lagi kalau bukan kakak dari Kim Myungsoo.

Gadis itu hanya terdiam, menahan perih dari tamparan yang diberikan oleh Kim sajangnim. Naeun menahan air matanya. Ia tidak mau tampak lemah di hadapan Kim sajangnim. “Maafkan aku, Sajangnim. Aku benar-benar tidak berkencan dengannya. Aku sudah menolaknya.”

“Aku sudah membiayaimu ke London! Kau sudah janji bahwa kau akan menjauhi anakku! Jangan ganggu dia lagi! Dan kenapa kau bisa bertemu dengannya? Kenapa kau tidak bisa melakukan aktingmu itu, bodoh!” Kim sajangnim berteriak kesal.

Sedangkan itu, Kim Jongwoon tersenyum senang. Mulut Naeun terasa tercekat. “Aku minta maaf, sajangnim.”

“Aku memberimu segalanya! Sekolah, uang, baju, tas, rumah! Aku memberikanmu segalanya! Apa ini yang kau balaskan padaku? Aku tidak mau lagi melihatmu dekat dengannya. Ini adalah yang terakhir kalinya. Kau harus kembali ke London secepatnya!”

“Tapi-.”

“Akan aku lipat gandakan uang yang kuberikan padamu!”

Naeun diam dan dengan berani ia mengangkat wajahnya. “Maaf, sajangnim. Aku tidak membutuhkan uangmu. Aku sudah sukses dengan perusahaan yang aku bangun sendiri. Aku memang belajar dan sekolah dari uangmu, tapi uang sekarang adalah uang yang kuhasilkan sendiri. Aku bisa ganti rugi atas uang yang sudah kuhabiskan untuk sekolahku. Dan, aku bisa menjauhi Kim Myungsoo seperti yang Sajangnim inginkan. Tapi, aku akan tetap mencintai Kim Myungsoo sampai kapanpun.”

Tenggorokan Naeun terasa kering. Kemudian ia membungkuk kecil ke arah Kim sajangnim dan merenggut tas tangannya, lalu pergi meninggalkan ruangan itu.

**

Noona? Apa yang kau lakukan disini?”

Chorong menolehkan kepalanya menatap Sungjong sedih. Kini ia tengah duduk di ayunan taman yang ada di dekat komplek rumahnya. Ia mengayunkan dirinya ke depan dan belakang dengan pelan. Sungjong duduk di ayunan yang satunya.

“Aku menatap matahari tenggelam, Sungjong-a.”

Sungjong tersenyum kecil. “Apa Woohyun hyung sudah mengabarkan keadaannya?” tanyanya. Chorong menganggukkan kepalanya pelan kemudian ia menatap Sungjong.

“Dia di Amerika. Dan dia bilang, aku harus menyusulnya dan menikahinya disana.”

Mata Sungjong melebar. “Menikahimu?”

“Iya.”

**

“Aku yakin, dia pasti ada hubungannya dengan ayahnya Myungsoo oppa! Oh, ayolah, Oppa! Kita harus membantu mereka,” ujar Eunji sambil memakan lollipop-nya. Mereka berdua yang seharusnya menjalani kencan mereka dengan baik dan romantis malah terganggu karena Eunji yang memaksa Howon untuk ikut berpikir tentang masalah Naeun-Myungsoo.

Karena lelah, akhirnya Howon hanya bisa mengangguk. Mereka berdua melangkah menuju jembatan, kemudian berdiri di pinggir jembatan menatap sungai. “Pasti, ada hubungannya dengan uang. Jika Naeun bisa pergi ke London, dia pasti punya uang yang banyak,” kata Howon sambil memasukkan lollipop-nya ke dalam mulutnya. Sebenarnya ia sudah bilang pada Eunji bahwa ia tidak ingin kehilangan kejantanannya dengan memakan lollipop.

“Jangan-jangan, Kim sajangnim memaksa Naeun?”

“Tidak mungkin.”

“Ya! Oppa! Myungsoo oppa sangat kaya! Pasti Kim sajangnim memaksa Naeun untuk menjauhi Myungsoo oppa!” ujar Eunji yakin.

Howon hanya bisa memutar kedua bola matanya. “Terlalu dramatis.”

“Oh, ayolah, percaya saja. Aku sangat yakin. Lagipula, Naeun kenapa bisa mengenal Kim sajangnim? Aku tahu Yejin ajumma pernah bekerja disana. Tapi, tetap saja!”

Kakaotalkeu.

Eunji menyentuh layar ponselnya, kemudian menekan message yang ada di dalam aplikasi Kakao Talk nya. “Oh, benar dugaanku,” ujar Eunji sambil menunjukkan ponselnya ke arah Howon.

Eunji-ya, aku harus kembali ke London. Aku tidak bisa berada di Seoul lagi. Selamanya mungkin. Dan aku harap, kau bisa meyakinkan Myungsoo Oppa bahwa aku bukanlah Naeun yang dicarinya. Dan yang terakhir, sahabatku, aku dipaksa Kim sajangnim untuk pergi ke London. Jangan cari aku, jika kau mencariku, maka aku akan mati.

“Sial! Kita harus beritahu Myungsoo secepatnya!” ujar Howon sambil menarik Eunji untuk berlari meninggalkan jembatan itu.

**

to be continued

14 thoughts on “[Chapter 7] Hard to Love

  1. Yaampun sampe segitunya kim sajangnim -__- jongwoon jahat bingit.. Moga2 nanti mereka dapet pencerahan(?) Jadi bingung kayak hoya karena masalah ‘drama’ itu eue)V naeun terburu2 ke london huhu ;_; ditunggu nextchapnya! ^^

  2. oh jadi itu alasannya..
    ayah sama kakaknya myung kenapa jahat banget sih !
    next partnya ditunggu banget kak 😉

  3. akhirnya semuanya terungkap.
    Ya ampun aku kesel banget sama Jongwoon. >.<
    Kenapa dia kaya yang gak rela Myungsoo deket sama Naeun -_-
    FF'nya daebakk 😀
    Aigoo…
    Penasaran banget sama kelanjutannya.
    Next thor 🙂
    Jangan lama-lama ne? 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s