[FF Freelance] Too Love (Part 8)

Too LoveTITLE : Terlalu Cinta

AUTHOR : Riri [@Dictator3424]

MAIN CAST : Choi Jinri (Sulli), Lee Taemin, Kim Jong In, Jung Soojung

SUPPORT CAST : Kim ‘Key’Bum, Choi Jonghun FTIsland, Kang Jiyoung,  etc.

GENRE : Romance, married-life, family, little angst, etc.

LENGTH : chapter

RATE : PG-15

Previous part: Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6, Part 7,

Note:

Mian.. kalo typo.nya banyak. Typo itu seni, jadi mohon dimaklumi. *Riri nggak sempat ngedit*

Nggak suka pairingnya, nggak usah baca -__-v !!

Happy Reading^~^

Taemin POV

“Minhwan sayang.. kita sudah sampai..”

Aku melepaskan sabuk pengaman Minhwan. Lalu kuambil gendongan bayi dan kugendong ia di dadaku.

Hari ini aku harus membeli beberapa keperluan Minhwan. Dengan bantuan Soojung tentunya. Ia sudah menungguku di parkiran sejak tadi.

Ahh.. itu dia.

“Soojung-ah..!!”

“Eoh.. Taemin oppa..”, ia melambaikan tangannya lalu berjalan ke arahku. Kami sama-sama masuk ke supermarket dekat kompleks rumahku.

Hufftt.. aku merepotkannya lagi kali ini.

–oOo–

Aigoo~ ternyata berbelanja sangat menyenangkan. Yah bisa dibilang selama ini Soojunglah yang berbaik hati berbelanja sendiri untuk keperluan Minhwan.

Tapi kali ini, aku harus ikut. Agar aku tahu caranya dan besok-besok aku tidak perlu merepotkannya lagi.

Ku lihat ia mengambil beberapa kotak susu formula lalu memasukkannya ke troli belanjaan kami. Ia juga memilih biskuit serta bubur untuk Minhwan. Ia benar-benar calon ibu yang baik, menurutku.

Seandainya Jinri bisa menemaniku dan Minhwan seperti yang dilakukan Soojung sekarang. Akhh. Apa yang aku pikirkan sekarang!!

Sadarlah Lee Taemin! Kau tidak boleh membanding-bandingkan istrimu dengan yeoja lain!

Aku kembali menyibukkan diriku dengan bermain-main dengan Minhwan.

Popok. Iya! Sepertinya kami lupa membelinya, sekarang Soojung sibuk dengan beberapa pilihan sayuran dan buah.

“Soojung-ah.. aku ke sana sebentar. Sepertinya kita lupa membeli popok untuk Minhwan”

“Omo~.. mian oppa, aku lupa!”

“Ne.. gwenchana. Aku ke sana dulu”

Whooaa.. banyak sekali jenis popoknya..mana yang harus ku beli?

“Minhwan-ah.. mana popok yang mau kau pakai? Heumm??”

Hahh.. percuma. Dia hanya bisa tersenyum menggemaskan mendengar pertanyaan bodohku.

“Minhwan memakai popok dengan ukuran L, oppa”, tiba-tiba Soojung sudah ada di sampingku.

“Mwoya? Aigoo aku baru tahu kalau popok bayi juga punya ukuran tersendiri”

Dan soojung hanya bisa terkekeh kecil mendengar ucapanku.

“Bagaimana? Kita sudah selesaikan?”

“Ne oppa. Kajja.. kita pulang”

–oOo–

Author POV

Sementara di bagian supermarket yang lain. Tampak pula yeoja dengan rambut sebahunya sibuk dengan belanjaan untuk bayinya.

Supermarket itu tampak cukup ramai.

Bubur bayi.. check!

Susu.. check!

Tissue.. check!

Dan akhirnya yeoja itu sadar, ada satu benda yang ia lupakan. Iya! Popok!

“Aigoo aku hampir saja melupakannya. Ngomong-ngomong rak untuk popok di mana yah?”

Ia membalik badannya. Dan seketika itu pula ia mata cantiknya telah menemukan surga popok tak jauh dari tempat berdirinya sekarang.

Yeoja itu, Choi Jinri.

­–oOo–

Jinri POV

Aku berjalan menenteng keranjaan belanjaku sambil memikirkan ukuran popok apa yang sekarang digunakan Minhwan.

Apa aku menelpon Taemin oppa saja? Ahh.. itu bukan pilihan yang tepat.

Lebih baik aku memilih sendiri. Mungkin Minhwan menggunakan popok ukuran L atau bagaimana dengan XL, ia kan sudah cukup besar sekarang? mending aku membeli keduanya saja.

“Minhwan-ah.. mana popok yang mau kau pakai? Heumm??”

Samar-samar ku dengar suara seseorang menyebut nama Minhwan. Suara itu terdengar familiar. Aku berbalik.

Tepat di ujung rak popok ini, aku bisa melihat Taemin oppa dengan Minhwan digendongannya.

Sepertinya ia juga ingin membeli popok untuk bayinya. Hmm.. aku sebaiknya ke sana..

Aku ingin menggendong Minhwan.

Aku melangkah ke arah mereka.

“Ta-..”

“Minhwan memakai popok dengan ukuran L, oppa”

Seketika itu aku menghentikan langkah kaki dan ucapanku ketika seorang yeoja tiba-tiba datang ke samping Taemin oppa sambil mendorong troli belanjaannya.

Itu Soojung. Yeoja yang ku temui di rumah sakit.

“Mwoya? Aigoo aku baru tahu kalau popok bayi juga punya ukuran tersendiri”, balas Taemin oppa sambil tersenyum. Lalu mereka berdua terkekeh bersama.

Jadi mereka pergi berbelanja bersama?

Heuhh.. Mereka tampak seperti keluarga harmonis.

Dan entah kenapa aku jadi ingin lari melihat pemandangan itu, aku bingung dengan perasaanku sendiri.

Apa aku cemburu?

Ohh tidak! Tidak!

Aku mungkin hanya kesal. Yah.. kesal karena belanjaan yang sejak tadi ku tenteng akan sia-sia.

Aku membalikkan badanku sebelum mereka mendapati aku di sini.

Lebih baik aku pulang.

–oOo–

“Bagaimana urusanmu di kampus, apa semuanya lancar?”

“Ne Appa.. Kata prof. Lee aku sudah bisa mulai mendiskusikan masalah skripsiku padanya dua minggu ke depan. Jadi aku free dalam dua minggu ini, aku hanya diperintahnya untuk mencari referensi”

“Ne.. itu berita yang bagus. Kalau begitu besok temui nampyeonmu..”

Mwo? Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan appa peduli pada Taemin oppa?

“Tapi Appa.. aku-..”

“Mencari referensi kan bisa kau lakukan di sana juga. Bantulah suamimu selama kau bisa..”

Ucapannya makin membuatmu terkejut..

“Appa..”

“Tadi pagi appa bertemu Taemin di rumah sakit dengan Minhwan digendongannya. Ia membawa Minhwan untuk imunisasi, di saat kebanyakan yang ada di sana ialah para ibu yang mengantar anak mereka.”

“Ia terlihat tidak terbebani sama sekali oleh Minhwan, dia seperti menikmatinya. Appa rasa.. Taemin benar-benar tulus, dia adalah ayah dan suami yang baik”, lanjutnya.

Selama ini, appa tak pernah menyukai Taemin oppa. Ia tak pernah menerimanya sebagai suamiku. Ia marah pada Taemin karena telah berani menghamiliku.

Di mata appa, Lee Taemin hanyalah ayah biologis dari Minhwan. Tidak lebih.

Bahkan ia adalah orang pertama yang menyarankanku untuk kuliah lagi. Ia sama sekali tak mempermasalahkan aku yang saat itu masih berkewajiban menyusui Minhwan.

–oOo–

Taemin POV

Masih pukul enam pagi..

Terlalu pagi untuk bayi seusianya bangun.

Minhwan duduk di box sambil menangis. Kenapa ia bisa merasa lapar sepagi ini?

Aku memindahkannya di kereta bayi. Memberinya biskuit, sementara aku membuatkan susu untuknya.

Ring~ Ding~ Dong~

Siapa yang bertamu sepagi ini?

Aku membawa Minhwan digendonganku untuk membuka pintu. Aku agak khawatir meninggalkannya sendiri.

Cklek~

“Annyeong oppa~..!”

Jinri?

“Omo~.. Minhwan sudah bangun sepagi ini?”

Jinri mengambil Minhwan dari gendonganku.

Apa yang membawanya kemari pagi-pagi begini?

–oOo–

“Dua minggu?”

Hah.. hanya dua minggu?

“Ne.. Dua minggu ini aku libur. Setelahnya aku sudah mulai sibuk lagi dengan skripsiku”

“Kenapa tidak menginap di sini saja?”

“Me.. menginap?”

“Ne.. Akan repot nantinya jika kau pulang ke rumah hanya untuk tidur dan berganti pakaian. Lebih efisien jika kau menginap kan?”

Jinri seperti menimang-nimang sesuatu. Tangannya berhenti menyuapi Minhwan.

Sedangkan Minhwan ku perhatikan kini  ia sedang menatap Jinri yang sedang terdiam.

Appa tahu, kau pasti sangat senang bertemu eommamu kan?

“Hmm.. kalau kau mau, aku bisa tidur di kamar yang lain. Sementara kau bisa tidur di kamarku menemani Minhwan”

“Gurae.. kalau begitu aku akan pulang dulu mengambil pakaianku”

“Ani.. Ani. Biar aku saja yang mengambilkan pakaianmu. Setelah pulang kerja aku akan mampir”

“Ne.. aku akan menelpon eomma untuk menyiapkan pakaianku”

Yes! Walaupun hanya dua minggu, setidaknya Minhwan bisa mendapatkan perhatikan dari ibunya dan aku sangat mensyukuri itu.

“Oppa.. yeoja yang di rumah sakit itu..”

“Soojung?”

Ia mengangguk.

“ Dia temanku.. hanya teman”

Apa dia cemburu? Ya.. aku harap ia cemburu.

–oOo–

Huftt.. kenapa jadi terasa sepi yah.

“Lee sajangnim.. aku merindukan Lee Minhwan! Minhwan.. eodinde?”

“Aku tidak membawa Minhwan dan berhentilah memanggiku dengan sebutan sajangnim. Aku masih muda”

“Aigoo Aigoo~ Lee Sajangnim, bagaimanapun kan aku ini masih bawahanmu. Apa salahnya dengan panggilan itu”

“Ya! Key Hyung! aku jadi merasa tua dengan panggilan itu, jika kau yang mengatakannya!”

Aishh.. sudah berapa kali aku mengatakan aku benci dengan panggilan itu padanya? Dasar Kim Kibum!!

“Ne.. arasseo Taemin-ah, tapi itu masalahmu! Kenapa kau tega tidak membawa Minhwan eoh?”

“Dia bersama eommanya di rumah..”

“Mwoya? Eommanya? Jeongmalyo?”

Wajar jika ia terkejut. Yah.. Key hyung sudah tahu bagaimana masalahku dengan Jinri.

“Aigoo~ kantor ini akan kembali sepi tanpa Minhwan”

“Hmm.. bukankah dulu kau tidak begitu setuju dengan aku membawa bayi ke kantor? Heumm?”

“Ya.. mana aku tahu kalau Minhwan itu begitu menggemaskan”

“Sudahlah.. hyung! seharusnya memang tidak ada bayi di kantor kan”

“Terserah apa katamu! Huftt membosankan”

Key hyung keluar dari ruanganku sambil menggerutu. Bukan hanya Key hyung saja yang merasa kehilangan, tapi beberapa bawahanku seperti sekretaris Nam dan Pengacara Hong juga.

Ya.. bisa dibilang hampir semua orang di kantor ini menyukai keberadaan Minhwan. Katanya.. ia menggemaskan, tampan dan bla bla bla. Begitu banyak pujian yang diberikan padanya.

Tentu saja.. itu karena ia berasal dari gen yang unggul, yaitu aku dan Jinri. Hahahaa~ *Taemm narsis*

Di ruangan kerjaku ini, aku membuat spot tempat Minhwan bermain. Dan sekarang spot itu kosong. Padahal baru sahari aku tidak meendengar kekehan lucunya saat aku sedang suntuk sendiri dengan pekerjaanku.

Bukankah seharusnya aku bahagia? Sekarangkan Minhwan sudah bisa bersama Jinri.

–oOo–

Jinri’s POV

Huaahhhh~ lelah sekali..

Ternyata menjadi seorang eomma sangat melelahkan.

Setidaknya aku bisa istirahat, aku baru saja menidurkan Minhwan di box bayinya.

Kriuukk~ kriuuk~

Bunyi perutku.. Aisshh aku lapar. Tentu saja, bahkan aku belum makan siang hari ini.

Di saat lelah seperti ini, aku bahkan harus memasak. Kalau begitu sekalian saja memasakn untuk makan malam.

Tersengar suara berisik dari dapur..

Taemin oppa kah? Apa dia sudah pulang? Tapi cepat sekali dia pulang. Setahuku dia biasanya pulang sekitar pukul tujuh malam atau paling cepat jam lima sore.

Ku beranikan diriku untuk memeriksa siapa yang berada di dapur. Agak takut, bagaimana kalau itu pencuri? Aigoo di rumah ini bahkan hanya ada aku dan tentunya Minhwan yang harus ku lindungi.

Ku lihat pintu kulkas terbuka. Seseorang seperti sedang mencari di dalam sana.

Aku berjalan perlahan ke sana mendekatinya. Dia… seorang yeoja karena rambutnya panjang terawat. Tapi apa yang dilakukannya di sini?

Praankkk!!

Soojung?

Aku rasa dia terkejut melihatku. Tanpa disengaja piring yang dipegangnya terjatuh.

“Mianhe.. aku kira tak ada siapa-siapa di rumah.”

Soojung tampak kikuk dan panik. Tangannya bergerak cepat mengikuti pecahan kaca piring.

Merasa tidak enak hanya menontonnya, maka aku pun ikut membantunya membersihkan pecahan pecahan piring tersebut dari lantai dapur.

“Maaf aku memecahkan piringmu..”

Piringku? Semua barang di rumah ini milik Taemin oppa.

Aku menaruh serpihan kaca ke dalam kantung plastik. Lalu ku buang ke tempat sampah.

Ku lihat di atas counter sudah tersedia beberapa bahan-bahan makanan. Sepertinya Soojung akan memasak.

“Mianhe Jinri-shi, aku kira kau tidak ada di rumah..”

Dengan cepat Soojung membuka apron yang ia kenakan dan melipatnya lalu dimasukkan ke dalam laci counter.

“Ahh… tak usah memanggilku dengan cara seperti itu. Aku yakin kita hampir seumurank.”

“ ngomong-ngomong bagaimana kau bisa masuk?”

Aku sangat penasaran bagimana Soojung bisa masuk, karena seingatku aku sudah mengunci pintunya.

“Sebenarnya aku.. Taemin oppa memberikanku kunci duplikat rumah ini?”

“Jeongmalyo?”

Aku bahkan tidak memilikinya.

Apa benar hanya mereka hanya sekedar teman?

“Ne.. itu karena aku selalu memasak makan malam untuknya. Mian aku benar-benar tidak tahu kalau kau ada di sini”

“Gwenchana.. mengapa harus meminta maaf”

‘Pantas saja rumah ni bersih. Ternyata ada kau yang membereskannya”

“jadi selain memasak, kau juga membereskan rumah?”

“Taemin oppa tidak pernah sempat membersihkan rumah.. jadi aku hanya membantu sebisaku”

Jadi begitu? Jadi dia berperan sebagai ibu rumah tangga di sini? Memasak dan membersihkan rumah. Keraguanku mengenai hubungan pertemanan mereka makin besar.

“Minhwan ada di sini kan? Mana dia?”

Jangan bilang kalau dia juga yang menggantikanku mengurus Minhwan selama ini. hanya aku eomma dari Minhwan.

“Minhwan sedang tidur.”

“Aahhh.. padahal aku ingin mengajaknya bermain sebentar”

“Soojung..?”

“Ne?”

“Kau teman Taemin oppa?”

“Ne.. aku temannya. Aku dan Taemin oppa bahkan sudah lama sekali kenal, waktu kami SMP”

“Kalau begitu apa aku rasa aku harus memanggilmu eonni..”

“Aku tidak masalah, panggil apa saja”

*anggap aja Sulli emang lebih muda yah, facenya bisa nipu kok untuk lebih muda dari Krystal* #digaplokKrystal

“AKU PULAAAANGG!!”

Aku sedikit berlari mengahmpiri Taemin oppa di pintu. Entah mengapa aku ingin mendahului Soojung untuk menyambut Taemin oppa.

“Itu baju-bajuku oppa?”

Taemin oppa membawa koperku. Koper yang cukup besar. Yang biasanya ku pakai untuk berlibur.

Aku hendak membawa koperku ke kamar. Namun Taemin oppa melarangku. Dia menyeret koperku ke kamarnya.

“oppa..”

“Ne?”

“Soojung ada di dapur.”

Oppa tampaknya tidak terkejut. Mulutnya hanya membentuk huruf O. Sepertinya dia sudah tahu Soojung akan datang. Aiishhh.. tentu saja dia tahu. Sepertinya Soojung memang hampir setiap hari datang ke rumah ini.

–oOo–

Aku merasa terkucilkan. Merasa seperti orang asing di antara mereka berdua.

“Soojung.. kau masak apa?”

“Chicken teriyaki. Kesukaan oppa..”

“Whooa..”

Taemin oppa mengahmpiri Soojung yang sedang memasak. Seharusnya aku juga ikut memasak. Namun, aku harus menyusui Minhwan yang tiba-tiba terbangun.

Melihat Taemin oppa bersama Soojung di dapur, entah mengapa aku jadi tidak senang.

“Bagaimana koas’mu di rumah sakit?”

“Hmm.. baik-baik saja. Sebentar lagi aku akan selasai di bagian anak dan terakhir akan ke bagian bedah”

“Jinjja? Jadi berapa lama lagi kau akan jadi dokter sesungguhnya?”

“Sebentar lagi oppa. Doakan aku arasseo? Selesai bagian bedah, masa koas’ku selesai. Hehee..”

Aku menyusui Minhwan di ruang keluarga. Tidak ada sekat antara ruang keluarga dan dapur. Hingga bisa ku lihat dengan jelas apa yang dilakukan Soojung dan Taemin oppa di sana.

Satu hal yang adapat kusimpulkan. Mereka benar-benar dekat sekali.

“Daebaak!! Aku yakin kau akan jadi dokter yang berkompeten dan satu lagi, kau juga nantinya akan menjadi chef yang handal bagi suami dan anak-anakmu”

“Gomawo oppa..”

Manis sekali..

Taemin oppa bahkan memuji Soojung yang terampil memasak.

Tidakkah Taemin oppa tahu perasaanku? Sakit rasanya ketika mendengar suamimu memuji masakan yeoja lain di hadapanmu. Suami? Eoh.. sejak kapan aku peduli dengan statusnya sebagai suamiku?

Ahni! Aku hanya tidak ingin kelak, Soojung akan memsak untuk Minhwan.

“Istriku, Jinri juga pandai memasak! Masakannya paling enak sedunia! Benarkan Jinri-yah?”

Degh! Taemin oppa memujiku? Kenapa aku senang sekali?

“Chagi~ apa saja yang bisakau masaka? Katakan pada Soojung..”

Chagi? Ini pertama kalinya oppa memanggilku ‘chagi’ di depan orang lain. Yah.. karena kami tidak pernah tampil di depan orang lain memang.

“Chagi? Kenapa kau melamun?”

“Eoh! Ani.. sebenarnya aku hanya bisa memasakan kimchi dengan baik..”

“Aiigoo.. jangan merendah chagi~ah”

Moodku semakin membaik. Hatiku jadi teang. Kenapa hanya karena mendapat pujian dari Taemin oppa aku seperti mendapatkan jawabannya. Mungkin memang ternyata Soojung dan Taemin oppa tak ada hubungan yang lebih.

Perasaan ini.. perasaan tak karuan yang membuatku selalu tidak tenang, sebenarnya muncul saat pertama kali aku bertemu Soojung di rumah sakit. Aku benar-benar tidak suka ada yeoja selain diriku yang menggendong Minhwan.

Egoiskah? Aku memang sudah meninggalkan Taemin oppa dan Minhwan. Tapi ternyata aku juga tak rela seseorang mengambil tempat yang ku tinggalkan.

–oOo–

No one’s POV

Soojung sedang mengendarai mobil sedan silvernya yang membelah jalanan Seoul. Ini baru pukul 21.15 KST. Dan tentunya jalanan di kota Seoul masih tergolong cukup ramai saat itu.

Soojung hanya menghabiskan waktu mengemudinya dengan fokus pada jalanan sambil mendengarkan lagu-lagu dari radio mobilnya. Lagu dari One Direction terdengar cukup nyaring di sana saat ini. namun, ada masalah..

Soojung tiba-tiba membawa mobilnya ke arah pinggir jalan dan stag, mobilnya berhenti. Soojung hanya mendengus kesal. Masalah mobilnya yang sejak kemarin tiba-tiba berhenti alias mogok kembali terjadi. Ia sendiri bingung ada apa sebenarnya dengan mobilnya ini.

Padahal ia pikir kejadian kemarin dimana ia harus menstater mobilnya berulang kali tak akan terulang berhubung tadi pagi mobil sudah menampakkan keadaan stabil. Tapi nyatanya, apa yang terjadi malam ini di luar perkiraannya. Mobilnya kembali mogok.

Dengan langkah gusar, yeoja berambut pajang terurai tersebut mengecek keadaan mobilnya. Ia tahu betul, kalau ia sama sekali tak ada bakat di bidang otomotif. Jadi percuma saja. Ia kembali masuk ke dalam mobil, tetap mencoba menyalakan mesin mobilnya. Siapa tahu berhasil..

Namun sudah berulang kali mencoba dan hasilnya tetap sama. Mobilnya tetap tak menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Deru nafas kasar dari yeoja itu kembali terdengar..

Hingga.. sebuah mobil BMW hitam tiba-tiba berhenti tepat di depan mobilnya.

Apakah ada orang baik hati yang mau membantunya? Harap Soojung. Setidaknya dari sekian banyak orang Korea yang menurutnya apati, ia berharap setidaknya ada yang peduli padanya kali ini.

Dan.. Jeng.. Jeng..

Lihat siapa yang turun dari mobil itu sekarang. seorang namja dengan setelan jas hitam dan kemeja dark blue yang masih terkesan rapi untuk jam pulang kantor.

Dalam pikiran orang yang melihatnya mungkin ia langsung terpesona, terlebih dengan mata kucing sang namja yang turun dari mobil tadi. Tapi sayangnya, yeoja yang kini di ada dalam peristiwa tersebut adalah Soojung.

Jung Soojung yang akan selamanya kebal dengan pesona seorang Kim Kibum aka Key.

“Hello, nona Krystal. Rasanya sudah agak lama kita tak bertemu”, ujar Key yang sudah tiba di dekat jendela mobil Soojung dengan kacanya yang terbuka.

“Kita tidak sedang di Singapore sekarang Kibum-shi. Jadi tak usah repot-repot memanggilku dengan nama itu”

“Dan satu hal lagi, aku cukup menikmati lamanya waktu tak bertemu denganmu.” Balas Soojung dengan nada tidak bersahabatnya dilanjut dengan deru nafas kasarnya.

Kebiasaan Soojung yang tak berubah. Sering mendengus seperti kuda, kalau sedang kesal. Pikir Key.

“Jadi apa perlu mu sampai-sampai menghalangi mobilku tuan Kim?”

“Aku menghalangi mobil? Hey.. hey.. aku tahu mobilmu sedang mogok jadi tak usah sok membuat aku lah yang menghalangi jalanmu sehingga kau tak beranjak dari sini. Padahal sebenarnya mobilmu itu memang sedang tidak menjalankan fungsinya dengan baik kan?”

Celotehan panjang Key. Dan Soojung hafal betul dengan hal itu.

“Biar ku periksa.”

Dan dengan tidak sopannya, Key membuka pintu mobil Soojung. Menekan tombol yang akhirnya membuat Key bisa leluasa memeriksa mesin mobil yeoja itu.

Soojung hanya bisa memandang perilaku lancang Key dengan sebal. Tapi percuma juga jika ia protes, namja bermuka tebal itu tak akan terganggu sama sekali.

“Ada masalah dengan businya.”, ucap namja itu sambil menurungkan lengan kemejanya yang tadi sempat ia gulung.

“Sejak kapan kau punya pengalaman dengan hal otomotif? Jangan sok belagak tahu di hadapanku.”

“Aishh.. yeoja ini! Walau pun aku bukan sarjana di bidang ini, namun kau harus tahu kalau aku itu multitalent. Jadi jangan coba-coba meremehkan kemampuanku di bidang lain.”

Lihat, sisi menyebalkan Key yang lain kembali ia tampakkan. Selalu memuji dirinya.

‘Dia pikir dirinya keren apa?’

Key kemudian membuka kembali pintu mobil Soojung dan menarik tangan yeoja yang duduk di kursi kemudi itu.

“Apa-apaan sih kau?”, berang Soojung.

“Pulang saja bersamaku. Mobilmu tak akan bisa membawamu pulang malam ini”, dan Soojung hanya membalas Key dengan pandangan tak habis pikirnya.

“Aku bisa naik taxi. Kau tak usah repot-repot mengantarku.”

“Percaya diri sekali kau nona. Aku melakukan ini bukan karena aku mau merepotkan diri dengan maksud apa-apa. Tapi karena aku tahu kita ada di satu lokasi apartement. Jadi aku menawarkan pertolongan untukmu. Jangan berpikir macam-macam!”

“Mwo? Sejak kapan kau-..?”

“Aku tak sengaja melihatmu kemarin ketika aku pindah. Jadi jangan berpikir aku menguntitmu. Lagi pula kalau pun ada yang berhubungan dengan menguntit, kau yang akan melakukannya padaku, bukan?”

Mendengar pernyataan gila namja itu, Soojung dengan cepat mengunci otomatis mobilnya dan berniat meninggalkan tempat itu dan mencari taxi. Bosan mendegarkan mulut besar Key sejak tadi berkoar.

Tapi baru saja selangkah ia meninggalkan namja itu. Key sudah lebih dulu menarik tangannya dan membuatnya duduk di kursi penumpang mobil namja berambut coklat itu.

Agresif. Yah ia tahu betul bagaimana Key.

“Pakai sabuk pengamanmu?”, perintah namja itu.

“Apa perlu aku pasangkan?”, serunya lagi dengan nada sedikit menggoda. Namun terdengar begitu menyebalkan di telinga Soojung hingga membuatnya melotot tak percaya.

Dan dengan ogah-ogahan Soojung akhirnya memakai seat-belt’nya. Lagi pula ini juga demi keselamatannya sih.

Key sendiri hanya tersenyum tipis –tentu Soojung tak melihatnya. Walau dalam hati, Key tertawa puas dengan kemenangannya.

‘Bukan awal yang buruk’, pikir Key.

–oOo–

Jinri POV

Ini malam pertamaku dengan Taemin oppa.

Maksudku, aku tak pernah tidur satu rumah dengannya dalam keadaan sadar. Aku bahkan pulang ke rumah orang tuaku sesuai pesta pernikahan kami.

Tak pernah ada bulan bagi kami.

Aku mencuci piring dan Taemin oppa menggendong Minhwan di pangkuannya sambil menonton TV. Soojung sendiri sudah pulang. Aku senang, setidaknya Soojung membawa mobil sendiri. Sehingga Taemin oppa tak perlu repot-repot mengantarnya pulang.

Apa jika tidak ada aku, Taemin oppa akan mengantarnya pulang? Aiisshhh..!! Kenapa perasaan ini muncul lagi.

Tapi jika memang Taemin oppa mengantarnya pulang, kenapa aku harus tidak senang? Apa jangan-jangan aku cemburu? Ani! Aku bahkan tidak menyukai Taemin oppa. Aku bermalam di rumah ini, hanya untuk Minhwan.

Tapi.. bagaimana jika Taemin oppa da Soojung benar-benar memiliki hubungan khusus? Tentu saja Soojung juga akan menjadi eomma dari Minhwan. Andwee!!

“Kau menggosok piringnya terlalu keras.”

Omo! Aku terkejut! Sejak kapan Taemin oppa tiba-tiba berdiri di sampingku. Aku benar tidak sadar.

“oppa! Kau mengagetkanku..”

Aku kembali fokus pada piring-piring kotor di hadapanku.

“Caramu menggosok piring seperti sedang hendak mencekik orang”

“Mwoya?”

“Ahahahahaaa..”

Aiishh Taemin oppa!!

“Mana Minhwan?”

Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Dia bermain-main di keretanya”

“Kalau begitu, bantu aku mengeringkan piring-piring yang selesai dicuci.”

“Ne~ Dengan senang hati, tuan putri!”

Aiisshhh.. dia bahkan sudah berani menggodaku rupanya.

Tanpa mengeluh Taemin oppa mengelap. dan mengeringkan piring yang basah. Kemudian di taruhnya di rak piring.

Taemin oppa berdiri di sampingku. Menunggu kiriman piring dariku.

Tak pernah selama ini aku berdiri dekat disampingnya. Aku sedikit gugup, sejujurnya.

Ternyata Taemin oppa cukup tinggi. Pipinya cukup chubby, wajar jika Minhwan memilikinya juga. Kulitnya putih bersih tanpa cacat. Kenapa aku baru menyadarinya?

Hidungnya juga mancung, bibirnya tebal dan seksi (?). Tampan walau dilihat dari samping.

“Aku tampan bukan?”

Mwoya ige!! Jinjja, aku mengutuk diriku sendiri yang mencuri pandang menatap wajahnya. Sialnya lagi ternyata dia menyadarinya.

Taemin oppa tersenyum lebar menangkap basah aku yang sedang memandangi wajahnya.

Eottokhe eomma!! Aku tidak bisa konsen cuci piring.. aku malu sekali.. >/////<

Jinri POV end

–oOo–

Singapore, in another time

‘Tuan muda, besok ada terapi sekitar pukul 09.00 a.m.’

Itulah sekiranya pesan yang sempat namja itu baca. Pesan itu sudah dikirim 5 jam yang lalu, namun baru sempat ia baca sekarang. namja itu memang malas mengecek handphonenya.

Sejak tadi namja itu berguling tak jelas di tempat tidur king sizenya. Entah apa yang dia pikirkan. Ini sudah pukul 01.00 a.m. Sepertinya insomnia menyerangnya. Yahh.. akhir-akhir ia memang mengalaminya tanpa sebab.

Apa karena ia jenuh dengan terapinya?

Yah.. mungkin saja. Tapi mengingat keinginan kuatnya untuk sembuh namja itu kembali berusaha memejamkan matanya. Bagaimana pun dengan sembuh, jalan untuk merebut apa yang sebelumnya menjadi miliknya menjadi lebih terbuka.

–oOo–

Jinri POV

Sudah tiga hari aku di rumah ini. menjalani tugasku sebagai eomma. Aku mulai merindukan umma, appa dan juga Jonghun oppa. Yahh.. walaupu kalau aku sedang di rumah, aku tak akan bertemu Jonghun oppa sebab ia sedang di Osaka.

Aku bisa bertahan karena tidak ada di antara kami yang mengungkit masa lalu. Taemin oppa memperlakukanku dengan baik. Dia akan menawarkan bantuan jika kau sudah terlihat lelah.

Sikapnya akhir-akhir ini semakin membuatku betah. Ia selalu membuat moodku baik. Apa Taemin senang aku di rumah ini? tentu saja di akan senang. Dia terbebas dari tugas merawat Minhwan.

Bahkan tadi, saat akan berangkat kerja dia mengecup keningku. Awalnya ku kira dia akan mencium Minhwan yang sedang di gendonganku. Aku terkejut saat ciumannya malah mendarat di keningku.

Aku bahakan masih dapat merasakan hangat di keningku. Terutama bagian yang tersapu bibirnya.

WAEYOO!!

Kenapa aku harus memikirkan Taemin oppa?? Ahni!! Ani!

Lebih baik aku membersihkan pikiranku dengan memandikan Minhwan. Ini sudah hampir jam 9 dan aku masih belum memandikannya.

Aku tak tega mengganggu tidurnya. Pemalass.. bukankah tadi kau sudah bangun anak manja? Kenapa sekarang sudah tidur sepulas ini lagi, eoh?

Ku belai pipi chubby-nya.. hangat? Aku mengecek dahinya. Astaga! Sesange.. Minhwanku kenapa panas sekali..

Eottokhee??

–oOo–

Aku membawanya ke rumah sakit. Untung saja aku menyimpan unag untuk membayar ongkos taxi. Aku segerea menghubungi Taemin oppa agar segera menyusul. Aku tak sempat membawa uang lebih.

“Baby Lee Minhwan dan Nyonya Lee”

“Ne!”

Akhirnya tiba giliran kami.

Aku masuk ke dalam ruang periksa.

Begitu terkejutnya aku melihat Soojung duduk di kursi dokter. Dia seperti sudah mengetahui kedatanganku.

“Soojung?”

“Baringkan Minhwan di tempat tidur. Taemin oppa sudah menghubungiku barusan. Dia bilang Minhwan sakit..”

“Ne.. badannya panas.”

Seharusnya aku ingat kalau Soojung memang sedang menjalani masa koassnya di bagian anak.

Dia memerikasa keadaan Minhwan. Jika dilihat dari seperti ini, dia memang benar-benar terlihat sebagai seorang dokter yang telaten.

Begitu sempurnanya dia. Cantik, pintar memasak, bisa mengurus rumah dengan baik, dan juga memiliki karir yang cemerlang. Tak bisa ku bandingkan dengan diriku yang baru saja akan mengurus skripsiku.

‘Heumm.. Minhwan hanya demam biasa.. mungkin giginya sebentar lagi akan tumbuh. Dia akan sedikit rewel..”

“Benarkah tidak apa-apa?”

“ne.”

“Tidak akan ku beri obat. Biarkan antibody di tubuhnya bekerja sendiri..”

“Apa tidak apa-apa? Aku benar-benar khawatir padanya”

“Percayalah padaku. Aku sudah menjadi dokter pribadi Minhwan selama empat bulan. Jadi aku tahu betul kondisi Minhwan”

“Dokter pribadi?”

“Ne.. ,yah walaupun aku memang baru dokter muda. Tapi Taemin oppa percaya betul padaku. Taemin oppa datang kemari dengan panik. Dia membawa Minhwan yang terus menangis. Aku juga membantu taemin oppa mencarikan susu formula yang cocok untuk Minhwan. Kasihan Minhwan, ia tidak mendapatkan asi.”

Entah kenapa pernyataanya barusan seperti menyindirku. Sudahlah, maafkan saja. Dia juga sudah menolong Minhwan selama ini.

“Kamsahamnida.. maaf kalau selama ini aku merepotkanmu”

“Aniyo! Aku merasa tidak direpotkan. Aku justru senang kau pergi meninggalkan Taemin oppa.”

Mwoya? Kenapa sekarang dia seakan mau memulai pertengkaran denganku?

Aku berusaha menahan emosiku mengingat ini adalah rumah sakit. Aku tidak boleh membuat keributan.

“Kau tahu Jinri-yah? Kau sama sekali tidak pantas untuk Taemin oppa. Kau tega meninggalkan anakmu sendiri.”

“Kenapa kau ikut campur mengenai urusanku?”

“Karena aku rasa, aku yang lebih pantas untuk Taemin oppa. Dan aku juga bisa menajdi ibu yang baik bagi Minhwan.. kha~ kau pergilah. Kembali ke duniamu yang sebelumnya. Pergilah dari Taemin oppa.”

Baiklah.. kau yang menyulut api amarahku, Soojung.

“Baik. Jika kau memang pantas bagi Taemin oppa, kenapa Taemin oppa tidak berpaling padamu?”

Soojung tersentak. Aku tahu dia juga menyadarinya. Taemin oppa sama sekali tak memiliki perasaan khusus untuknya.

“Asal kau tahu Choi Jinri.. aku pernah menjadi yeojachingu Taemin oppa. Kau pikir kenapa Taemin oppa datang padaku untuk meminta tolong, hah?

Mwo? Jadi Soojung sebenarnya pernah menjalin hubungan dengan Taemin oppa?

“Sepertinya kau takut, Jinri. Sudah ku bilang, lebih baik kau pergi saja dari kehidupan Taemin oppa! Aku sungguh tak tahan dengan semua yang kau lakukan pada Taemin oppa!!”

“Neo!”

“Aku mencintai Taemin oppa.. aku tidak tega melihatnya membawa Minhwan setiap hari ke kantornya. Membawa Minhwan kemana pun dia pergi. Melakukan pekerjaan rumah sendirian. Dan saat kutanyakan kemana istrinya? Dia selalu menajwab bahwa kau sedang mengejar cita-citamu!”

Nafas Soojung berderu. Dia menahan amarah dan air matanya. Menatapku dengan penuh kebencian.

“Aku membencimu. Aku benci kau! Aku lebih suka kau pergi mengejar cita-cita tak jelasmu itu!!”

Plaakk!!

“JINRI-YAH!!”

Taemin oppa? Kenapa dia datang tepat saat aku menampar Soojung. Keadaan ini membuatku terlihat seperti tersangka.

 

——- TBC ——-

Akhirnya sampai juga part 8.

Hehee maafkan Riri. Pasti yang nungguin udah pada lumutan ini. sekali lagi jeongmal mianhe. #BOW

Riri kemarin bener-bener sibuk sama rutinitas kuliah. Terlebih menjalani masa-masa MABA’nya Riri, dengan ujian yang gak Cuma dari dosen tapi juga dari senior *ampun*. Dan itu bener-bener gak mudah. Bukannya Riri songong, cuman berhubung Riri kuliah di fakultas yang sama kayak Soojung *tahukan kerjaan Soojung di fanfic ini apa?* jadinya begitu. hehee *jadi Curcol*

Untuk yang selalu nunggu fanfic ini, maaf karena Cuma ini yang bisa Riri persembahkan. #BOW

Semoga tetap bisa dinikmati, walau mungkin ceritanya udah ngebosenin atau gimana.

Mohon RCL yah!! Biar Riri semangat untuk lanjutinnya…

Agaknya lagi banyak siders berkeliaran, cukup tinggalkan jejak kalian..  Hehehee ^_^v!

17 thoughts on “[FF Freelance] Too Love (Part 8)

  1. kyaaa akhirnya injutt lagi
    gk jd deh nyulik minhwan-nya
    akhirnya sulli cemburu juga ??
    cowok yg gi perawatan di singapor ntu kai kah ??
    andwee tidakkkk noooo lempar kai ketimbuktu demi kebahagiaan minhwan
    ckckck emang baby ada yah yg jm 9 belom dimandiin ini mah emaknya aja yg maless #plirikin sulli
    tuh kakek wonnie akhirnya sadar diri juga kapan moment kakek nenek disempilin
    kyaaa selamath ….. jd lah dokter terhebat nanti

  2. Huahh..hbis try out bdan pgel smua..klling google *refreshing crta ny kkkk.. ktmu ni ff lagi seru-seru ny baca, eh sudah tbc.. Kesel jadi ny *plaakkk dtmpar Riri 😀
    ngomong-ngomong ini ff sampe part brapa hbis ny, kalo bisa yg panjang jga nggk papa..hehe ditnggu next part, jangan lama-lama.. Jebal !!

  3. yaaaa… authornim..
    ini ff kapan sih mau di lanjutinn
    udah karatan nunggunya..

    please update secepatnya ya authornim..
    jebal… 😥 😥 😥 😥

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s