[FF Freelance] Unpredictable Forecast (Chapter 1A)

uf posterTitle : Unpredictable Forecast (Chapter 1a)

Author: trafalkid *@nitafrn

Length: Chaptered

Rating : PG-15

Genre: Fantasy, war, action, little bit romance

Main Cast: Jung Ae Rim (OC) , Oh Sehun , Huang Zitao, Chan Yeol

Support Cast : Other Exo’s member, Mr. Jung, F (X)’s member, Jung Jungmo

Disclaimer : FF ini terinspirasi dari kisah-kisah mitologi di seluruh dunia.

 

                    Sweet seventeen? Aku tak ‘kan menyebutnya seperti itu. Disaat semua yeoja sangat bergembira menanti moment ‘sweet seveenten’nya dengan kehidupan mereka yang normal, aku bahkan tak memiliki peluang untuk hidup di umurku yang ke-17. Dan itu dikarenakan ramalan konyol yang menyatakan bahwa aku akan menentukan nasib humani di ambang kehancuran dunia ini.

                    Aku tidak sadar bahwa aku telah diamati bahkan sebelum lahir. Dan kalau kau berpikir akan menertawakan bahwa legenda dan mitos yang kau dengar adalah sesuatu yang menggelikan, KAU SALAH BESAR.

                    Dan aku dikelilingi oleh 12 namja yang menurutmu adalah namja yang tampan. Tapi kalau kalian mengira mereka adalah manusia, kesalahan keduamu adalah KAU BENAR-BENAR SALAH BESAR.

                    Terkadang kau tak ‘kan bisa membedakan antara legenda dan kenyataan. Bisakah aku mengelak dari takdir yang dibuat bahkan sebelum Atlantis binasa?

~~~

 

Di sebuah laboratorium terlihat seorang namja sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya, “Luhan, segera temukan dia!”.

“Ah, aku sudah menemukannya ayah”, jawab namja yang dipanggil Luhan itu.

“ Akan kubacakan data yang kutemukan”, sambungnya. “Namanya Jung Ae Rim, nama Amerikanya Ashley Jung. Dia sekarang tinggal di Seoul, Korea Selatan. Umurnya 16 tahun. Ia pernah menyelamatkan Athena saat Athena terluka parah di Vancouver, dan Athena memberinya setetes air dari Sungai Styx. Dan guru anggarnya adalah Ares. Ia pernah berpacaran dengan Wu Yi Fan, anak dari Zeus dari klan vampire. Dan sekarang ia sedang menjalani hubungan dengan Oh Sehun. Oh Sehun sendiri diizinkan oleh Hades untuk bereinkarnasi ke dunia lagi. Dan putra Kronos terlihat sering menjumpai Ashley Jung bahkan sejak saat ia lahir”.

“ Tidak kusangka Ashley Jung yang ada dalam ramalan itu sudah tumbuh menjadi remaja”

“ Aaah, beberapa bulan lagi ia tak ‘kan bisa melihat dunia ini lagi”, lanjutnya.
“Buat ia berpihak pada kita, anakku!”, seru seseorang di seberang telepon.

“Itu mudah, appa”.

~~~~

’’Bravo!  seperti biasa miss, kau mengagumkan. Miss Sooyoung kau harus belajar banyak jika mau mengalahkan anak ini.  haha”, Mr. Jung menepuk pundak seorang gadis dibalik topeng anggarnya.

“Iblis anggar? Ternyata rumor itu benar. Perpaduan akurasi ketepatan mengenai lawan saat menyerang , kecepatan yang luar biasa, dan kecerdasan taktik yang kau gunakan. Well, Tak mengherangkan kau dilirik oleh tim anggar professional Korea Selatan sebagai wakil dalam olimpiade 2013”,Sooyoung menjabat tangan gadis depannya.

Dibukanya topeng anggarnya, terlihat keringat membasahi wajahnya, “Kau terlalu berlebihan,eonnie. Yah, aku masih menginginkan kehidupan SMA-ku yang biasa saja. Aku mendengar pelatihan di tim itu akan sangat menyita waktuku, jadi hal itu masih kupikirkan”.

“Yaa, daebakk Ae Rim”, Sulli mengulurkan handuk kecil pada Ae Rim.

“You’re so damn excellent, miss Ashley! Haha, aku heran darimana kau bisa begitu mengagumkan setiap harinya, meskipun hanya latihan. Yaay, bulan depan kau pasti memenangkan kompetisi anggar internasional” , Amber berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil memutari Ae Rim.

“Yaa, Amber kau menginjak kakiku”. Pletak, Luna  menjitak kepala Amber. “Tak bisakah kau lihat bahwa itu tidak terlihat seperti pertarungan, itu seni”, Luna menyelonjorkan kakinya dan mengusap-usapnya.

“Aah, mianhae Luna-ssi. Aku lebih suka menyebutnya pembantaian. ~eh”, Amber lupa bahwa Sooyoung masih ada disana.

“Bantai, bantai, bantai. Itulah yang harus kau lakukan bulan depan, miss. Huahaha ”, Mr. Jung seperti biasa menjadi gila setelah melihat muridnya ‘membantai’ lawannya.

Ae Rim POV

Aku hanya bisa cengar-cengir melihat kelakuan orang-orang didepanku. Mr. Mcqueen meskipun dia sudah menjadi warga Negara Korea Selatan, aksen amerikanya masih terdengar kental. Aku  heran mengapa ia bersedia mengikutiku sampai ke korea hanya untuk mengajariku anggar lagi. Aku bertaruh gajinya lebih rendah saat mengajar disini daripada saat mengajar di Amerika. Ia bahkan menggunakan margaku saat mengganti namanya.

“Ah, eonnie gomapseumnida bersedia menemaniku latihan hari ini”, aku memberi bow..

’’Ne, seharusnya aku yang berterima kasih dapat berlatih dengan anak berbakat sepertimu”, eonnie Sooyoung membalas bow.

Aku menegapkan badanku, kulihat orang-orang di sekelilingku. Yang kulihat adalah kumpulan orang gila, ~kkekeke  (kecuali Sooyoung sunbaenim. Dia benar-benar anggun, tidak ada sedikitpun kesan gila). Ya, segila-gila apapun mereka adalah keluarga kecilku. Terutama seonsengnim gila itu. Sudah lebih dari 5 tahun aku mengenalnya.

Ae Rim POV end

Author pov

Careless careless, shout anony…

“Yeobeoseo?”

“Ae Rim-ah, naega bogosipho jugketsso”, jawab Sehun di seberang telpon.

“Nado,~ kkeke”.

“Kurasa latihanmu sudah selesai?.”

“Kurasa iya”

“Kau sibuk setelah ini? ”, tanya Sehun.

“Ne, waeyo?”, Ae Rim balik bertanya.

“Oh, tidak apa-apa, Mian, aku telah mengganggu’’,

“Kau tidak mengganggu kok, hehe”.

“Baiklah, ppai”.

“Ppai”.

Sulli tiba-tiba sudah berada di depan Ae Rim, ‘’Sehun?’’ , Tanya Sulli.

“Ah, kau mengagetkanku. Tentu, siapa lagi?”, jawab Ae Rim. Amber, Sulli, Lunapun menyindir Ae Rim dengan Sehun karena ‘status mereka’ yang aneh. Sooyoungpun sesekali ikut menyindir hoobaenya itu.

Hanya 1 orang yang tak tampak bahagia,”Aku tak peduli apa hubunganmu dengannya,Miss. Tapi kurasa kau harus lebih fokus pada turnamen bulan depan, daripada mengurusi namja yang tak jelas itu”.

“Aaah, Mr. Jung kau terlalu berlebihan. Masa-masa remaja itu adalah masa yang indah. Lagipula aku yakin meskipun ia berpacaran dengan Sehun-ssi , turnamen itu masih akan tetap ia menangkan”, bela Sooyoung.

“Ah, eonnie aku hanya berteman dengannya”, ujar Ae Rim. Sooyoungpun menepuk pundak Ae Rim, “Dan kau akan segera berpacaran dengannya, saeng”.

“Aaah, kau tak boleh berpacaran saat ini. Turnamen itu menentukan masa depanmu! Jika kau masih main-main, aku tak segan-segan untuk membunuhmu! (membunuh disini diartikan sebagai latihan fisik tanpa batas setiap harinya)

“Matamu terlihat berapi-api, Sir. Aku tak akan berpacaran, tenang saja”, Ae Rim hanya bisa tersenyum melihat kelakuan songsaenimnya itu.

~~~~

Ae Rim pov

Tes tes..

Hujan?

Oh, bagus. Aku tidak membawa payung dan jas hujan. Dan Jungmo oppa belum juga menjemputku.

Drrt drrrt, sms? Dari Jungmo Oppa. Tunggu sebentar, jangan merepoti temanmu. Aku bisa menjemputmu. Kalau kau merepoti temanmu lagi jatah ramyeon untukmu tidak ada!

Oh, sial. Baik, aku harus terus menunggu di kanopi ini. Aku tahu Jungmo oppa masih sibuk berlatih dengan bandnya. Tapi ia rela menyudahi latihannya itu demi menjemputku. Oppa yang baik. Iya. Kurasa sebaiknya aku tak perlu menggerutu lagi.

Aku tak membawa jaket. Uangku habis. Aku kedinginan. Haaaah.

Tiba-tiba aku dikagetkan oleh namja jangkung yang berada di depanku, “Annyeong, Agassi”.

“Ah, kau mengagetkanku”.

“Mwo? Mian bila aku mengagetkanmu. Hehe, jeounen Park Chan Yeol imnida”, ia mengulurkan tangannya padaku.

Sesaat aku berpikir, anak ini sok-kenal-sok-dekat-sekali. Tapi ia lumayan tampan, hehe. Kurasa tak ada salahnya berbicara lebih banyak dengannya bukan?

“Jung Ae Rim imnida”, ujarku sambil membalas uluran tangannya. Eh? Tangannya benar-benar hangat.

“Ae Rim, nama yang indah”, pujinya.

Aku tak keberatan ia menggenggam tanganku, berjabat tangan denganku, ataupun menarik tanganku. Disini dingin dan tangannya hangat, aku benar-benar tak mau melepaskan tangannya.

Aku menggosok-gosokkan tanganku dan menempelkannya di pipiku.

“Ae Rim-ah?”, Chanyeol menatapku.

“Ne”,selang beberapa detik aku menjawab panggilannya, ia menggenggam tanganku.

“Hangat bukan?”, aku tak tau harus berkata apa-apa. Kurasa namja ini bukan hanya tangannya yang hangat, tapi tatapan dan nada suaranya itu juga terdengar hangat.

“Ae Rim-ah, Apa kau sebegitu kedinginannya sampai tak menjawabku? ”, kau terlalu hangat makanya aku tidak bisa menjawabmu.

“Eh, iya hangat”,jawabku singkat. Ya, namja ini benar-benar hangat. Tunggu dia menggenggam tanganku? Aku baru sadar. Namja ini benar-benar tidak sopan, tapi dia hangat dan … tampan.

“Mmm, aku tidak tau apa yang kau pikirkan sekarang ini. Kuharap kau bisa merasa hangat sekarang, hehe”, Ia melepaskan genggamannya.

“Kau ini sepertinya suka sekali tertawa. Kau seperti happy virus, Chan Yeol-ssi”, aku memperhatikannya  dengan seksama. Ia terlihat sangat tampan saat ia tertawa.

“Hehe, happy virus? Sepertinya nama itu cocok untukku”, Ia manggut-manggut tak jelas.

Hujan makin deras, dan aku mulai merasa sangat kedinginan. Apalagi aku hanya memakai t-shirt dan short jeans. Aku kembali menggosokkan tanganku dan menempelkannya dipipiku. Sepertinya tubuhku menggigil. Oh, sial harusnya aku bawa payung tadi. Kalau aku membawa payung, aku pasti sudah pulang sekarang, tidak perlu menunggu Jungmo oppa, dan mungkin tidak bertemu namja hangat ini..

Aku menoleh ke arahnya.

Dan sekarang ia hanya berjarak beberapa senti dari mukaku, kurasakan  nafasnya yang hangat menyapu dinginnya kulitku. “Chan Yeol-ssi?”.

Dan sebelum aku bertanya-tanya lagi, dia mengatakan sesuatu yang sudah kutebak sebelumnya, “Kenapa kau membiarkanku menggenggam tanganmu? Bukankah kita baru 30 menit kenal?”.

“Kurasa karena kau adalah namja yang hangat”, aku menjawabnya sambil memperhatikan jalan. Aku tidak tau, tapi aku tidak mau bertemu pandang dengannya.

“Aaah, jadi karena hangat ya? ”, aku tetap tidak menengok ke arahnya. Tapi kurasa ia tersenyum ke arahku.

“Oh, diamlah”, aku benar-benar kikuk saat ini.

Ae Rim end pov

Chan Yeol pov

“Oh, diamlah”, jawab Ae Rim.

“Hahaha”, aku hanya bisa tertawa melihat ekspresinya itu. Kau sangat menggemaskan, aku berharap bisa mengenalmu lebih dekat, Ae Rim.

Chan Yeol pov end.

Author pov

Ae Rim melirik ke arah jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.

“Mau kuantar?”, Chan Yeol tiba-tiba sudah dalam posisi jongkok di depan Ae Rim.

“Eh? Kenapa posisimu seperti itu?”, tanya Ae Rim.

“Kau sepertinya lebih menyukai jalanan daripada aku, aku ingin kau perhatikan, Ashley Jung. Hehehe”, jawab Chan Yeol tersipu malu.

“Tunggu, kau tadi memanggilku apa?”, Ae Rim merasa kaget karena ia memperkenalkan dirinya sebagai Jung Ae Rim, bukan Ashley Jung.

Chan Yeol tersadar akan ucapannya tadi. “Ae Rim. Memang tadi aku memanggilmu apa?”, elaknnya.

“Aah, kurasa aku sangat kelelahan makanya tadi aku melantur”, Ae Rim sepertinya malu.

“Jadi…. kau masih asik memperhatikan jalanan?”, goda Chan Yeol.

“Faktanya adalah jalanan memang lebih menarik daripada kau, Chan Yeol-ssi”, Ae Rim memain-mainkan kakinya, tapi terlihat seperti Ae Rim sedang menendang-nendang Chan Yeol  yang berada di depannya.

“Yaa, kau menendangku!”, Chan Yeol terjatuh saat kaki kiri Ae Rim mengenai lututnya.

“Aku tidak menyuruhmu jongkok di depanku ‘kan? Rasakan ini”, lalu Ae Rim benar-benar menendang Chan Yeol.

“Yaa, hentikan!”, Chan Yeol terlihat mulai kesal.

Ae Rim menjulurkan lidahnya, “Wuee”.

Chan Yeol segera bangkit dan mencubit pipi Ae Rim. “Dasar anak nakal! Sekarang rasakan pembalasanku”.

Ae Rim mencoba melepas cubitan Chan Yeol. Alhasil Chan Yeol malah ganti mencubit hidung Ae Rim.

Suasananya terlihat sebagai kedua bocah tk sedang bermain-main. Dan disaat bocah-bocah itu sedang  keasikan bermain (apaan sih — ). Ada seseorang yang menghampiri mereka.

“Ashley, long time no see”, seorang namja jakung berwajah bule itu tersenyum ke arah Ashley dan mendadak menunjukkan ekspresi datar saat melihat Chan Yeol mencubit hidung dan pipi Ae Rim.

“K.Li? You’re K.Li, right?”, Ae Rim segera bangkit dan seketika itu juga Chan Yeol juga bangkit dari sofanya.

“Yeaah, ayo whaddup , babe. Oh, I guess I was disturbed an akwarkd moment. Sorry”,jawab K.Li.

“Oh, no. Relax K.Li. By the way, this is my friend, Chan Yeol. Chan Yeol, this is K.Li. Umm, maybe you can call him Kris”, ujar Ae Rim.

Jangankan berjabat tangan Chan Yeol dan Kris tampak tidak ingin bertatap muka.

“Oh, c’mon K.Li, kau bisa berbicara menggunakan bahasa korea bukan?”, tanya Ae Rim sambil melingkarkan tangannya di lengan Kris.

“Ne, annyeong haseyo jeounen Kris imnida”, Kris mengulurkan tangannya pada Chan Yeol.

“Jeoneun Chan Yeol imnida”, Chan Yeol awalnya enggan membalas uluran tangan itu, tapi Ae Rim menatapnya dengan tatapan kau-harus-berjabat-tangan-dengannya-sekarang-atau-kau-akan-mati.

“Ashley, aku tadi mampir ke rumahmu dan eommamu mengatakan bahwa kau belum pulang. Jadi ia mempersilahkan aku mencarimu dan tentu saja menjemputmu”, Kris hanya tersenyum melihat Ae Rim bergelayutan di lengannya.

“Huh, kebiasaan lama”, gerutu Ae Rim. “Kulihat kau tak membawa kendaraan apapun?”.

“Aah, mobilnya aku parkir di sana”, jawab Kris sambil menunjuk tempat parkir di sebuah hotel. “Oppamu mengizinkanku memakainya untuk menjemputmu”.

Ae Rim melepaskan tangannya yang sedari tadi bergelayutan di lengan Kris, “Jungmo Oppa? Bukankah dia yang harusnya menjemputku?”.

“Eommamu memaksanya agar cepat pulang, oppamu mudah sekali lelah. Jadi selagi aku ada di rumahmu, beliau menyuruhku menjemputmu”, jelas Kris.

“Baiklah. Chan Yeol-ssi, aku pulang dulu ya. Ppai ppai”, Ae Rim melambaikan tangan pada Chan Yeol.

“Ppai”, jawab Chan Yeol

Author pov end

Kris pov

Apa yang kulihat tadi adalah kenyataan? Kenapa namja itu muncul lagi di hadapanku?

Oh, Ashley aku masih mencintaimu sampai saat ini. Meskipun kau memutuskanku dengan alasan ‘bosan’, aku masih bisa menerimanya. Tapi kenapa harus namja itu yang berada di depan mataku?

Flashback

Sorak-sorai penonton meramaikan pertandingan berdarah yang berlangsung di sebuah arena. Bentuknya seperti arena yang ada di Colloseum di Roma. Namun ini bukanlah Italia, ini adalah sebuah kastil di China yang tersembunyi dan hanya orang-orang tertentu yang bisa memasukinya.

Terlihat seorang namja yang sedang terkulai lemas tak berdaya di sudut arena.

“Kris, kau curaang. Uhuuk, kau hanya boleh bertanding memakai kekuatanmu sendiri. Bukan dengan bantuan itu”, ujarnya sambil menunjuk naga setinggi 10 meter di depannya.

Kris mendatangi Chan Yeol yang babak belur “Kurasa itu tidak ada dalam peraturan. Lain kali berpikirlah sebelum bertindak”.

“ Mr. Chiron, bukankah membawa naga saat pertarungan bukanlah hal yang dilarang?”, Kris berusaha meninggikan suaranya agar semua orang dapat mendengarnya.

Selama sesaat Mr. Chiron hanya merenung, lalu ia memantapkan hatinya, “Saat ini memang itu bukanlah hal yang dilarang. Tapi mulai detik ini, tidak ada satupun yang boleh membawa makhluk apapun ke dalam arena ini. Tak terkecuali!”.

Penonton mulai riuh menyoraki peraturan yang dibuat oleh Chiron,” Hanya senjata seperti kapak,pedang, dll yang boleh digunakan”.

Kris berusaha bangkit sambil mengelap sudut bibirnya yang berdarah, “Naga ini adalah senjataku, sir. Jadi aku boleh membawanya ke sini”. Kris mengulurkan tangannya untuk membantu Chan Yeol berdiri.

Plaaaak. Chan Yeol menepis uluran tangan Kris dengan kasar. “Akuuu.. meskipun aku bukan keturunan dewa sepertimu, tapi aku masih bisa fair saat bertanding. Aku tau statusmu sebagai anak kesayangan Zeus, tapi jangan harap aku akan takut padamu.”

Kris segera duduk dan membisikkan sesuatu pada Chan Yeol.  “Ciih, balas dendam? Apa yang terjadi pada ibu angkatmu, Si Dewi Hestia itu adalah murni kemauannya sendiri. Bukan salah ayahku, ataupun aku. Apakah ibumu mengajarimu pembalasan dendam?”.

Kris kemudian mendongakkan kepalanya, darah segar yang bercucuran di pelipisnya berjatuhan di rambut Chan Yeol. “Aku minta maaf saat aku dan teman-temanku mengatakan bahwa orang tuamu telah mencuri api. Tapi julukan itu sudah melekat di seluruh perkemahan ini. Para dewapun masih menganggap ayahmu sebagai pencuri api. Aku tidak tahu kebenarannya dan aku sungguh tidak mau tau  tentang itu. Mianhae, chan yeol-ssi”.

Chan Yeol hanya menunduk dan berusaha menahan air matanya yang mau turun, “Jadi, mulai detik ini juga jangan memanggilku dengan sebutan itu. Dan JANGAN PERNAH MENGUNGKIT MASALAH AYAH DAN IBU ANGKATKU!”, Chan Yeol segera keluar dari arena dengan langkah terseret-seret.

Flashback end

Kris pov end

Chan Yeol pov

Damn! Aku sudah kembali ke korea, dan kau juga sedang berada di korea. Apakah Zeus benar-benar sebegitu membenci keluargaku?

Jdaaar, petir mengisi kesunyian di sekitar Chan Yeol.

“Oh, jadi kau mendengarku? ZEUS, AKU DARI DULU MEMBENCIMU DAN AKU TAK AKAN MEMBIARKAN ANAKMU YANG LICIK ITU MENGAMBIL YEOJA YANG AKU BUTUHKAN…” kalimat Chan Yeol terhenti.

Tunggu? Bukankah Kris adalah warga Negara Canada? Apa yang ia lakukan disini?

Dan tiba-tiba jdaaaar…. Kilat menyambar-nyambar dan salah satunya mengenai Chan Yeol.

“Kris, kau dan ayahmu benar-benar licik”, Chan Yeol segera jatuh pingsan.

~~~

 

One thought on “[FF Freelance] Unpredictable Forecast (Chapter 1A)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s