[oneshot] Because of You…

Fotor0110115312

Because Of You…

 by  ChoaiAK

Genre  :  Romance  ||  Main cast  :  Woohyun [Infinite], Seungyeon [Kara]  || Rate  :  General

::

Pertama kali dia melihat perempuan itu saat berdiri di depan etalase sebuah toko pernak penik yang bertemakan vintage saat hujan deras. Woohyun memperhatikan perempuan yang terlihat seperti anak kecil itu. Menjulurkan tangannya menampung air hujan yang turun dari atas atap toko. Ekspresinya persis seperti anak kecil dan itu membuat wajahnya terlihat semakin menarik.  Lalu waktu seperti melambat saat perempuan itu berpaling dan tersenyum manis kearahnya. Perempuan itu tersenyum padanya.

“Nam Woohyun!”

Woohyun terlonjak kaget dari kursinya saat seseorang berteriak memanggil namanya. Ada apa ini? siapa yang tiba-tiba berteriak memanggil namanya dan merusak mimpi indahnya? Dia baru tidur beberapa menit yang lalu setelah seharian bekerja membantu kakak sepupunya yang kekurangan tenaga saat sedang menjalankan cafénya.

Dia melihat wajah kekanakan yang sama persis seperti yang ada dalam mimpinya barusan. Wajah yang tersenyum manis kearahnya. Dia memejamkan matanya beberapa saat berpikir mimpinya masih berlanjut. Saat membuka matanya wajah itu masih berdiri di depannya bahkan sekarang mendekat tepat di depan wajahnya yang disandarkan di atas meja.

“YA, kamu masih belum sadar?”

Woohyun masih sangat mengantuk saat memperhatikan perempuan yang duduk dihadapannya. Dia memaksa tubuhnya untuk duduk tegak dan memperhatikan kembali orang yang berteriak dan merusak mimpinya. Barulah beberapa setelah kesadarannya terkumpul lebih dari lima puluh persen, dia kembali terlonjak kaget sampai kursinya mundur kebelakang.

“noona?” serunya. Perempuan itu mengangguk. “Seungyeon noona?”

babo, siapa lagi Seungyeon noona yang kamu kenal?” ujar Seungyeon.

“tapi Seungyeon noona sedang tidak ada di Seoul.” ujarnya. “aku pasti masih bermimpi.”

Dia memukul wajahnya beberapa kali sampai Seungyeon bangkit dari kursinya dan memukul sendiri kepala Woohyun sampai pemuda itu sadar kalau dia tidak sedang bermimpi. “aku sudah bilang padamu jangan tidur saat kerja.”

“Seungyeon noona?” Woohyun masih mengulang ucapan yang sama berkali-kali.

“iya. Seungyeon noona. Han Seungyeon. Kamu tidak lupa padaku, kan?”

Mengerjapkan matanya sekali lagi, dua kali, tiga kali, akhirnya dia memutuskan kalau ini benar-benar nyata dan bukan mimpi. Han Seungyeon memang sedang berada di hadapannya. Sekarang dia sedang tersenyum kearahnya. Senyum kekanakkannya yang selalu ditunjukkannya.

“bagaimana kabarmu?” tanya Seungyeon.

“aku? Baik. Noona bagaimana? Kapan noona pulang ke Seoul? Kenapa tidak beritahu aku?”

Seungyeon tertawa kecil, “aku baru pulang kemarin siang. Aku pikir lebih baik memberimu kejutan jadi aku datang saja kemari.”

“wah, aku jadi terharu.” Woohyun dengan polosnya memegang tangan Seungyeon dan menunjukkan senyuman terbaiknya meskipun matanya jadi terlihat seperti garis, lalu dia membuka tangannya kearah Seungyeon. “mana oleh-oleh untukku?”

“huh?”

Dengan wajah cemberut Woohyun merengek manja, “yaaa, noona baru pulang dari Jepang tapi tidak membawa oleh-oleh apapun untukku? Kalau begitu noona pergi lagi saja ke Jepang lalu beli oleh-oleh untukku.”

“YA! Anak ini. Aku baru pulang dan kamu menyuruhku untuk pergi lagi?” Seungyeon kembali berdiri dari kursinya dan melayangkan tinju dengan tangan kecilnya namun Woohyun lebih dulu membuat tameng dengan kedua tangannya.

“aku hanya bercanda. Kenapa noona jadi marah-marah seperti itu?”

“karena kamu menyebalkan.” desis Seungyeon garang.

Mereka diam beberapa saat sebelum sesuatu berdering di atas meja mereka. Seungyeon smartphonenya dan tersenyum sebelum menjawab panggilang yang entah dari siapapun itu.

yeoboseyo…oh, kamu sudah disana. Baiklah…tunggu aku. Hhmm…” lalu kembali meletakkannya di atas meja.

“noona sudah mau pergi?”

Seungyeon mengangguk sedih, “aku sudah ada janji sebelum kemari.”

“janji? Dengan siapa?”

Kali ini Seungyeon tersenyum malu-malu, “pacarku.”

Woohyun yang tadinya tersenyum senang mendadak berubah diam. “pacar?”

Seungyeon mengangguk semangat, “kami sama-sama kuliah di Jepang. Kamu tau, dia tampan, baik, pintar..” semakin banyak pujian yang dilontarkan Seungyeon tentang pemuda yang menjadi pacarnya itu semakin keras pukulan yang berasal dari dalam dadanya. “Woohyun-ah, kamu tidak apa-apa?”

“huh?”

“wajahmu tiba-tiba kelihatan tegang begitu.” Seungyeon mengulurkan tangannya berniat meletakkannya di kening Woohyun saat dia langsung menepis tangan tersebut.

“aku tidak apa-apa.” Woohyun memalingkan matanya memandang kearah lain. “sebaiknya noona pergi sekarang. Pacar noona sudah lama menunggu.”

“Ya, kamu kenapa?” Seungyeon ikut berdiri saat dia tiba-tiba berdiri dan berniat pergi darisana secepat mungkin. “apa aku ada salah bicara? Woohyun-ah!”

“noona,” Woohyun berhenti dan berbalik melihat kearah Seungyeon. “sebenarnya noona menganggapku apa?”

“apa?”

“sebenarnya noona anggap aku apa selama ini?” dia memandang sekeliling café yang tidak terlalu ramai tapi tetap menarik perhatian orang yang berada disana. Dia lalu menarik tangan Seungyeon dan menyeretnya ke dalam ruangan yang terletak dibelakang café.

“Woohyun! Apa-apaan ini? Nam Woohyun!”

“aku suka pada noona! Selama ini aku mendengar cerita noona tentang laki-laki ini dan laki-laki itu. apa noona tidak pernah melihatku sedikitpun? Apa noona tidak pernah mengerti bagaimana perasaanku?”

Seungyeon berdiri mematung disana mendengarkan setiap kata yang diucapkannya. Tidak pernah sedikitpun menyangka pemuda yang lebih muda darinya menyimpan perasaan begitu dalam padanya.

“Woohyun-ah.” Gumam Seungyeon. Tepat saat ponselnya kembali berdering di tangannya. “aku…aku.” Benda itu sama sekali tidak menyerah untuk mengganggu pembicaraan penting mereka. “maafkan aku.”

Hanya itu. Hanya kata maaf yang diucapkan Seungyeon sebelum dia pergi meninggalkan Woohyun yang berdiri membeku ditempatnya setelah pernyataan cintanya yang jauh dari kata romantis. Bahkan dia menyadari kalau dia terdengar memaksa.

“noona.” Panggilany sebelum Seungyeon keluar dari ruangan itu. “jangan datang padaku lagi setelah ini. Karena aku tidak mungkin melihatmu lagi sementara perasaanmu tidak pernah untukku.”

****

“ada apa? kenapa wajahmu seperti itu?” Seungyeon memandang wajah Changmin saat mereka berjalan bergandengan tangan. Seharusnya ini menjadi kencan pertama mereka si Seoul yang tepat 100 hari mereka jadian.

“hm? Tidak. Tidak ada apa-apa.” Dia tidak mungkin menceritakan kejadian yang baru saja terjadi. Woohyun kenapa kamu melakukan ini padaku?. Ingatannya kembali pada waut wajah Woohyun saat mengatakan perasaannya.

Changmin melingkarkan lengannya di pundak Seungyeon dan mengusap kepalanya. Bagaimana mungkin dia bisa memikirkan Woohyun saat sedang bersama Changmin. Raut wajah Woohyun dan kata-katanya saat mengungkapkan perasaannya dengan marah karena sikapnya yang tidak tau sama sekali tentang perasaan Woohyun padanya.

“apa kamu akan diam seperti in terus saat kencan pertama kita di Seoul?” Changmin mempererat rangkulannya di pundak Seungyeon.

Seungyeon memandang Changmin dalam-dalam. Meletakkan tangannya di pipi pemuda itu dan menggerakkan ibu jarinya. “Changmin-ah.”

“hm?”

“apa aku akan menjadi orang jahat saat menyakiti perasaan orang yang selalu berada disampingku?”

Dia melihat Changmin mulai memandangnya dengan tatapan bingung, “apa maksudmu?”

“hari ini…” gumam Seungyeon. “aku bertemu dengan orang yang selalu berada disampingku. Menyemangatiku. Mendengarkan ceritaku, mengenal setiap laki-laki yang dekat denganku. Aku tidak pernah tau bagaimana perasaannya selama ini karena dia selalu bersikap seperti adik yang baik bagiku. Apakah aku akan disebut sebagai orang yang jahat karena ternyata selama ini aku menyakiti perasaannya?”

“siapa yang kamu bicarakan?” Changmin meletakkan kedua tangannya di pundak Seungyeon mendesaknya untuk menjelaskan. “apa ini ada hubungannya dengan temanmu yang baru kamu temui tadi?”

“Changmin-ah. Aku menyukaimu. Sungguh. Aku benar-benar menyayangimu.” Ujar Seungyeon. “tapi aku tidak tau apa yang harus aku lakukan kalau sampai kehilangan dia. Pemuda itu sudah aku anggap seperti adikku sendiri. mungkin itu yang awalnya aku kira, tapi saat dia membentakku dan memaksaku untuk sedikit saja memahaminya. Aku tau, selama ini dia sudah menjadi orang yang sangat penting buatku.”

Berlahan tangan Changmin terlepas dan jatuh kesisi tubuhnya. Seungyeon melihat bagaimana laki-laki dihadapannya menundukkan kepalanya dan memalingkan wajahnya kearah lain. Ini hari keseratus dari hubungan mereka. Namun Woohyun memilih untuk mengacaukan perasaannya. Tidak, Woohyun tidak pernah tau kalau hari ini adalah hari keseratus hubungannya dengan Changmin. Dia yang salah, karena datang menemui Woohyun sebelum bertemu dengan Changmin. Tanpa sadar dia selalu menempatkan Woohyun menjadi orang pertama sebelum laki-laki yang menjadi kekasihnya.

“apa kamu tidak terlalu jahat mengatakan ini saat hari keseratus hubungan kita?” Changmin melihatnya dengan tatapan sedih. “aku sayang padamu, apa itu tidak cukup? Meskipun kamu menyayanginya tapi kamu sudah bersamaku. Apa kamu tidak bisa lebih memilih bersamaku?”

“Changmin-ah.”

“pergilah.” Changmin berbalik membelakanginya. “aku tidak akan memaksamu untuk lebih menyayangiku daripada orang yang selalu berada disampingmu. Aku tidak bisa memaksakan perasaanku padamu kalau dia memang selalu menjadi yang pertama buatmu.”

“maafkan aku.”

Seungyeon berlari kembali ketempat Woohyun berada. Hari ini dalam beberapa jam dia mengatakan kata maaf pada dua laki-laki yang berbeda. Pertama pada laki-laki yang ternyata selama ini selalu dicintainya dan kedua pada lelaki yang selama seratus hari menjadi kekasihnya. Awalnya dia berpikir usia mereka yang terpaut dua tahun akan selalu menjadi masalah jika dia menaruh hati pada Woohyun. Namun tanpa disadarinya, Woohyun bukan lagi anak laki-laki yang dia temui di etalase toko barang antik saat berteduh dari hujan deras yang sedang menatapnya dengan wajah polos. Woohyun telah tumbuh menjadi seorang laki-laki yang membuatnya selalu menjadi yang pertama.

“woohyun-ah!”

Dia masuk kedalam café dan memandang ke tempat yang seharusnya ditempati Woohyun. Tapi laki-laki itu tidak berada disana. Dia memandang sekeliling café tapi tidak terlihat orang yang dicarinya. Lalu dia melihat salah satu karyawan yang juga bekerja di café sedang berjalan melewatinya.

“Nam Woohyun, apa kamu melihat dia? dimana dia?”

“Woohyun? Dia baru saja pulang. Dia bilang sedang tidak enak badan.”

“terima kasih.”

Maafkan aku, maafkan aku karena selama ini tidak bisa menyadari perasaanmu. Seungyeon terus membatin dalam hatinya agar Woohyun mau memaafkannya. Apa yang harus dia lakukan kalau laki-laki itu tidak lagi ingin bertemu dengannya. Tidak lagi mendengarkan ceritanya. Dan tidak lagi menyayanginya. Apa yang harus dia lakukan tanpa Woohyun.

Saat itu dia melihat seorang pemuda berjalan membelakanginya dengan kepala menunduk.

“Nam Woohyun!!” dia berteriak memanggil Woohyun yang sontak langsung menoleh kebelakang.

Seungyeon melihat ekspresi Woohyung yang semula terlihat kaget kemudian berubah bingung. Woohyun berdiri disana tanpa melakukan apa-apa selain menatap lurus kearahnya. Diantara mereka toko barang antic tempat pertama kali mereka bertemu masih sama seperti sebelumnya. Hanya saja kali ini tidak ada hujan turun yang membuat mereka berdiri di etalase toko untuk berteduh. Dengan langkah pelan Seungyeon berjalan menghampiri Woohyun dan berhenti hanya beberapa langkah didepannya.

“bagaimana bisa kamu bilang padaku untuk tidak bertemu denganmu lagi? Kamu bilang padaku kalau kamu suka padaku dan pergi begitu saja? sudah berapa tahun kamu kenal denganku? Sudah seberapa sering kamu bertemu denganku? Apa kamu kira aku akan pergi begitu saja setelah kamu mengatakan itu? kamu pikir aku sekejam itu?”

“aku tidak ingin mendengar ceritamu lagi tentang laki-laki lain sementara aku harus terus menyimpan perasaanku sendiri.” berdiri dengan kedua tangan didalam sakunya, Woohyun memandang Seungyeon dalam-dalam. “aku bukan lagi murid laki-laki dengan seragam, noona. Aku seorang laki-laki.”

“aku tau.”

“aku tidak pernah menjadi adikmu, Han Seungyeon-ssi. Karena aku sudah menyukaimu dari awal.” Ujarnya. Lalu Woohyun melihat kesampingnya, toko barang antic tempat pertama kali mereka bertemu. Dia tertawa samar, “aku menyukaimu sejak bertemu denganmu disini dan perasaan itu tidak pernah hilang sampai aku tidak sadar kalau aku tidak hanya menyukaimu tapi aku benar-benar menyayangimu. Aku bahkan bisa ingat jelas bagaimana rasanya saat pertama kali kamu cerita tentang pacarmu dan memaksaku untuk kenalan dengannya meskipun aku menolak mati-matian dengan berbagai alasan.”

“maaf.” Seungyeon membalas tatapan Woohyun dengan mata berkaca-kaca.

Woohyun berjalan mendekat dan mengusap kepala Seungyeon dengan lembut, “aku tidak akan memaksa perasaanmu, noona. Aku tidak pernah ingin membuatmu menangis.”

Bukan pertama kalinya Seungyeon merentangkan tangannya memeluk Woohyun, namun kali ini adalah pertama kalinya setelah dia menyadari bahwa dia juga menyayangi Woohyun seperti pemuda itu menyayanginya.

“kamu tidak menangis karena kencanmu batal, kan?”

“huh?”

“seharusnya kamu pergi kencan, kamu sendiri yang bilang padaku tadi. Maafkan aku karena tadi aku terbawa emosi, aku janji tidak akan seperti itu lagi.”

Seungyeon melepaskan pelukannya dan menatap Woohyun dengan wajah cemberut lalu memukul pemuda itu cukup keras, “YA! Nam Woohyun babo!! Kau masih belum mengerti juga? Apa aku harus mengatakannya. Seharusnya aku tidak menemuimu sebelum pergi dengannya tapi sekarang aku tau seharusnya kamu mengatakan itu sebelum aku pacaran dengan laki-laki lain.”

Woohyun memandangnya dengan tatapan tidak mengerti, “maksud noona?”

“mungkin aku tidak bisa jadi pacarmu. Belum. Tidak sekarang. Tapi kamu harus tau aku juga menyayangimu. Aku tidak mau kehilanganmu dan aku tidak akan sanggup kehilanganmu. Maafkan aku karena selama ini aku tidak menyadari perasaanku padamu.”

“noona putus dengannya?” tanya Woohyun kaget, “karena aku?”

Seungyeon menggeleng, “karena aku. Dia juga tidak mau memaksakan perasaanku karena dia tau kamu jauh lebih penting untukku.”

Woohyun tersenyum dan kembali memeluk perempuan yang dicintainya. “jadi kamu harus bertanggung jawab dengan perasaanku. Kalau kau berani melirik perempuan lain aku akan menghajarmu. Mengerti?”

“aku mengerti.” Woohyun mempererat pelukannya dan berbisik, “saranghae, noona.”

Seungyeon mengangguk, “aku juga sayang padamu.”

***

Karena sering kali mata terhalang sesuatu yang menyilaukan dari jauh padahal seseuatu yang jauh lebih berharga ada di depan mata. Dia menunggu, tanpa memaksa. Dia memperhatikan tanpa menarik perhatian. Selalu berada disisi meskipun itu menyakitkannya. Cinta,..

*END*

2 thoughts on “[oneshot] Because of You…

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s