[FF Freelance] Fiary Tale

cover fiary taleTitle: Fiary Tale|| Author: Luan|| Rating: T|| Genre: Fantasi and Romance|| Lenght: One Shoot|| Cast: Taecyeon (2PM), Suzy (MissA), Yun Siyup (OC)|| Disclaimer: Hanya sebuah fiktif belaka yg kubuat dan ku harap tidak ada yg mengCOPASnya.

.

.

.

.

Fiary Tale.

 

Langit memandikannya dengan rinai hujan. Gadis itu duduk meringkuk di bahwahnya sambil menggenggam sebuah kertas usam. Tiga kata yg tidak mampu terucapkan merenyuhkan hatinya yg rapuh. Menghadirkan sebuah isakan yg sayup termakan rintik hujan. Gadis itu bangkit sambil menatap langit yg kelam. Ia mencoba terbang tapi bulu-bulu sayapnya kuyup di basuh sang hujan. Ia berharap hujan segera berhenti, ia bosan menggoreskan kuas-kuas maya ke langit dan melukiskan wajah yg dirindu dalam senyuman manis. Bersabarlah peri ku, suatu hari akan aku hadirkan hari tak berhujan untuk mu, mentari akan bersinar, sayap mu akan mengepak dan membawa orang itu kembali dalam rengkuhan mu.

Aku peri yg dapat terbang. Tapi aku tidak bisa membawa bayanganmu kembali pada ku. Bahkan untuk tiga kata, ‘selamat ulang tahun.’

—-Fairy Tale—-

“Seosaengnim, apakah cerita ini benar?” Bocah laki-laki berumur tujuh tahun itu buru-buru menghampiri gurunya ketika ia membaca sebuah paragraf yg mengisahkan tentang kesedihan seorang peri.

Gurunya yg saat itu sedang berkutatat dengan beberapa kertas ujian kini terpaksa mengalihakan perhatiannya pada sebuah buku usam yg dibawanya. “Dari mana kau dapatkan buku ini?” tanyanya sambil melihat kertas itu dengan lekat.“Aku menemukannya terkubur di halaman belakang. Sekarang beritahu aku, apakah ini benar?” bocah ini mendesak gurunya.

Pria yg memakai kemeja putih itu menghela nafas panjang. “Ya, mungkin itu benar.” Jawab gurunya.

“Tolong bacakan cerita ini untuk ku!” kini bocah itu merengek meminta di dongengkan oleh guru satra nya.

Gurunya menuntun bocah itu untuk berbaur bersama teman-temannya. Ia menyuruh bocah itu dan murid yg lain untuk duduk dan mencermati setiap perkataannya. “Aku akan bercerita tentang seorang peri dan seorang pemuda. Apa kalian mau dengar?” Pria itu berujar pada murid-muridnya dan kemudian mendapat anggukan dari mereka.

“Begini ceritanya. Pada suatu hari yg bersalju..,”

—-Fairy Tale—-

Ia melangkah di dalam sepi disaat orang lain berbahagia menyambut putihnya salju. Melangkah perlahan tanpa arah dan tujuan. Sayup-sayup hati bebisik sedih, tentang kesendirannya yang tidak akhir. Setiap malam terjeruji oleh sunyi-sepi, kisah sedih yg selalu didengar sebelum melenyap mimpi.

Kesendiriannya itu menjadi racun yg membeku pada hatinya. Perlahan-lahan menggerogotinya dan tak akan berhenti sampai ia mati. Tidak berusaha menahan dan melawan, terus tenggelam sampai ke dasar. Semakin dalam, semakin dalam, dan semakin dalam.

Tapi di malam yg bersalju itu, sesuatu terjadi. Langkahnya terhenti kala sebuah pendar cahaya jatuh tepat di hadapannya. Sungguh terang hingga retinanya tidak mampu membendung dan memejam pelupuknya rapat. Ia tidak tahu apa yg terjadi saat itu, yg ia lihat hanyalah cahaya yg menembus pelupuk mata.

Tidak beralangsung lama, seketika pendar cahaya itu meredup seredup-redupnya. Pemuda itu membuka kedua kelopak matanya. Sepasang manik hitamnya itu menyaksikan sebuah mahkluk dari negri dongeng. Gaun putih, rambut panjang, sepasang sayap yg berkelap-kelip. Meringkuk di tanah yg berlsakan salju. Tidak berdaya dengan mata yg terpejam. Pemuda itu menggelengkan kepalanya. Apa yg ia lihat itu sangat sulit untuk ia percayai.

Penasaran, pemuda itupun melangkah mendekat. Manik hitamnya kembali menakap sesuatu yg baru. Mahkluk itu memiliki wajah seorang putri. Sangat cantik. Namun, pemuda ini justru terlihat takut melihat semua keajaiban itu. Melangkah mundur menjauhi si makhluk ajaib.

“Tolong aku.”

Jantung pemuda ini mencelos mendengar pekikan lemah mahkluk itu. Rasa takut dan tidak percaya semakin menjadi-jadi. Memaksanya untuk segera menjauh dan pergi.

“Tolong aku.”

Sekali lagi. Sekali lagi ia mendengar mahkluk itu meminta pertolongan padanya. Dan kali ini, langkahnya terhenti. Ia mematung, memikirkan antara ‘iya’ atau ‘tidak’.

“Tolong aku.”

—-Fairy Tale—-

Sepasang mata itu tidak henti-hentinya menatap dan mengawasi. Bahkan tiap tarikan nafas pun tak luput darinya. Seakan-akan hal yg ada di hadapannya itu adalah sesuatu yg akan membunuh saat ia lengah. Atau mungkin itu salah. Mungkin saja hal yg ada di hadapannya itu adalah sesuatu yg membuat urat-urat penasarannya tertarik. Sehingga ia tidak bisa berhenti dan terus mengamati.

Sepertinya rasa penasarannya itu menuntunnya untuk mengatahui lebih detil lagi tentang mahkluk yg ada di hadapannya. Bola matanya memandang lebih dalam lagi. Sampai ia mendapati beberapa detil tentang mahkluk itu. Untaian rambut hitam pekat, hidung mancung, bibir proposional dan kulit putih yg mampu membuat jantungnya berdebar begitu kencang. Oh, tidak! Ini mulai salah. Apa yg dirasakannya ini pasti adalah hal yg lebih kompleks dan bertitel dari sekedar ‘penasaran’.

Tuhan mungkin sudah mengatur semua ini. Ia buka mata sang jiwa yg terdidur itu sehingga matanya tatapannya saling beradu dengan mata sang pemuda. Kini, ada dua jantung yg berdebar keras, ada dua hati yg bergejolak. Kemudian Tuhan mengunci pikiran dan bibir mereka, membiarkan hati dan jantung keduanya menikmati getaran yg indah. Setidaknya untuk sesaat.

“Mahkluk apa kau ini?” Setidaknya untuk sesaat sebelum sang pemuda memecahkan semuanya dan membaliknya menjadi suasana yg canggung.

Mahkluk yg berwujud seorang gadis cantik itu tersenyum padanya. “Apa kau tidak lihat? Aku ini peri.” Katanya.

“Peri? Tidak masuk akal!”

Pemuda itu menyangkal begitu saja. Ia bersikap seperti itu karna ia pikir itu memanglah hal yg mustahil dan tidak masuk akal. Ya, tentu saja. Peri adalah tokoh dalam dongeng, dan tempatnya tinggal sekarang adalah dunia nyata. Tentu ia sulit menerima kenyataan itu.

“Apa kau tidak lihat sayapku ini?” sahut sang peri.

“Tapi..”

Peri itu menyentuh bibir pemuda itu dengan jari telunjuknya. “Tidak perlu masuk akal, kau hanya perlu mempercayainya.” Potong peri ini.

Pemuda ini terdiam. Lagi-lagi ia merasa jantungnya terkena sengatan hingga membuatnya berdetak begitu kencang. “Ok. Baiklah,” Juga memaksanya untuk menyerah dan mengalah. “Sekarang, siapa nama mu wahai peri? Mengapa kau bisa seperti ini?”

Peri itu tersenyum dan memamerkan deretan gigi putihnya. “Nama ku Bae Suzy. Panggil saja aku Suzy. Aku mengalami sedikit kecelakaan saat sedang menjalankan tugas. Dan siapa nama mu?” Katanya seraya mengulurkan tangannya.

“Aku Ok Taecyeon.” Pemuda itu menyambut uluran tangannya dengan hangat.

“Nama panggilan mu?”

Pemuda itu beranjak menuju pintu dengan satu tangan yg masuk kedalam saku celana. Setelah sampai, ia memuatar knop pintu tersebut dan menariknya sehingga daun pintunya terbuka. Kakinya yg hendak melangkah keluar itu tiba-tiba saja berhenti. Taecyeon membalikkan tubuhnya dan mendapati peri itu masih menanti-nanti jawaban darinya. “Jika kau merasa kondisimu masih tidak memungkinkan, kau boleh tinggal sementara di rumah ku.” Dia kembali membalikan tubuhnya dan bermaksud melanjutkan lankahnya yg sempat tertunda. Tapi sebelum itu, ada sebuah kalimat yg terucap dari nya. “Kau bisa memberikan ku sebuah nama panggilan.” Kemudian ia benar-benar pergi.

—-Fiary Tale—-

“Taecky! Tolong aku!!”

Taecyeon berjalan dengan begitu tergesa-gesa. Ia jejaki petak-demi petak lantai rumahnya dengan penuh kegelisahan ketika seruan itu memanggilnya untuk segera datang. Dalam hati ia berkutat dengan serangkaian doa— meminta agar sesuatu yg buruk tidak terjadi pada peri itu. “Ada apa?! Apa kau baik-baik saja?” teriaknya meskipun jaraknya masih terbilang cukup jauh dari tempat yg di tujunya. “Suzy-ya?! Jawab aku!!” ia mempercepat langkah kakinya karna peri itu tak kunjung menjawab nya.

Bruukkk…

Tidak peduli lagi dengan sopan yg mengharuskan mengetuk pintu sebelum memasuki kamar seseorang, Taecyeon langsung membuka pintu kamar tersebut. Atau bahkan terkesan mendobraknya. Taecyeon menuju kearah ranjang dimana peri itu terbaring tidak berdaya. Jantung pemuda ini berdebar kencang, tubuhnya terasa bergetar. “Suzy-ya?! Bangunlah! Kau kenapa?!” pemuda ini duduk di tepi ranjang sambil mengguncang-guncangkan tubuh peri itu.

“Taecky..” pekik peri itu pelan.

Taecyeon mengusap rambut hitam sang peri. “Aku di sini. Apa yg terjadi?” ucapnya dengan suara yg gemetar.

“Taecky… aku haus. Bisakah kau buatkan segelas coklat hangat untuk ku?”

Seketika Taecyeon bangkit dari posisinya. Wajahnya terlihat sangat marah. “Ya!! Kau mempermainkan aku lagi?! Jangan pernah berpura-pura seperti itu!!” hardik pemuda ini.

Peri itu menoleh pada pemuda yg tengah di buru amarah itu. “Siapa yg mempermainkan mu? Aku memang membutuhkan pertolongan mu. Aku sangat ingin minum coklat panas. “ bantah gadis itu.

“Buat saja sendiri!!”

Peri itu mengecutkan bibir merah jambunya. “Kau ‘kan tahu aku tidak bisa membuatnya. Lagi pula, sayapku masih tidak bisa di gunakan. Kakiku juga masih terasa sakit jika di gunakan untuk berjalan,” Ujarnya manja.

Taecyeon mencuhkanya. Ia sangat kesal pada peri itu. Ia tidak habis pikir lagi-lagi ia di tipu dan di permainkan oleh teriakan ‘minta tolong’ peri itu. Ia juga tidak habis pikir mengapa ia selalu saja tertipu olehnya. Jujur saja, sebenarnya ia sangat mengkhawatirkan peri itu. Dan mungkin, perasaan terlalu mengkhawatirkan itulah yg menuntunnya pada jerat tipu nya.

“Aku mohon…. Bagaimana jika ini adalah permintaan terkhir ku? Apa kau tidak akan menyesal?” rengek peri itu.

“Ok, ok. Aku akan membuatkannya untuk mu. Dan berhentilah memanggilku dengan sebutan ‘Taecky’!” potong Taecyeon sebelum gadis itu berceloteh tentang hal-hal yg menyangkut kepergiannya lagi. Aneh, tapi  Taecyeon memang sangat tidak suka mendengarnya. Ada semacam ketakutan tersendiri ketika hal itu terdengar olehnya. Entah itu sebatas ketakutan terhadap kata ‘pergi’ atau, ia memang takut peri itu pergi darinya. Taecyeon tidak bisa memastikan itu.

Wae? Bukankah kau yg meminta ku memberikan nama panggilan untuk mu? Apa salahnya dengan ‘Taecky’? Suzy dan Taecky, bukankah itu terdengar sangat manis?!” peri itu kembali menyahutinya dengan nada suaranya yg terdengar begitu manja. Suara manja yg selalu berhasil membuat senyumannya merekah. Ya, setidaknya ada satu hal yg Taecyeon ketahui sekarang.

Peri itu selalu berhasil membuatnya tersenyum.

Diantara aroma coklat yg menyeruak, pemuda itu berjalan perlahan sambil menerawang. Sesekali membiarkan bayangan wajah manis peri bernama Suzy itu masuk ke sela kepalanya, terus masuk ke dalam hingga mampu melukis senyum bergandeng seulas rona merah di wajahnya yang katanya tampan.

Tanpa perlu repot-repot membuka pintu, Taecyeon masuk ke dalam kamar yg berakasen tradisional itu. Lagi-lagi matanya langsung tertuju pada peri berambut hitam panjang. Satu hal yg berbeda yg ia dapatkan hari ini dari peri itu. Peri itu berlakon sedih kali ini. Duduk termenung di tepi ranjang sambil menatap kosong langit yg menghujankan bumi dengan salju.  Seakan-akan ia merindukan purnama yg tak kunjung datang dan memeberinya kekuatan untuk terbang.

Jangan bilang kau merindukan keluargamu. Jangan bilang kau ingin pergi.

Seluas senyuman itu enyah dari wajah Taecyeon. Ia menggeleng pelan, mengusir kemungkinan-kemungkinan buruk itu agar pergi dari otaknya. Lalu ia menguatkan hatinya untuk menghampiri peri itu dan mendengar apa yg akan di katakannya.

“Peri macam apa yg menyukai coklat panas?” Taecyeon duduk di samping peri itu dan memberikan secangkir coklat panas itu padanya.

Peri itu tersenyum sambil menatap uap yg mengepul dari cangkirnya. “Makanan kami dengan kaum manusia hampir sama. Hanya saja, di sana tidak ada coklat panas seenak buatan mu ini, Taecky.” Lalu ia menyesap coklatnya.

“Memengnya kau ini benar-benar peri? Lihat sayap mu, Suzy! Sayapmu memiliki bulu-bulu putih yg berkelip. Sedangkan sosok peri yg ku tahu, sayap mereka transparan dan tidak bebulu seperti mu.” Ledek Taecyeon.

Suzy mendelik padanya. “Sudah ku bilang kami ini sama seperti manusia. Manusia jugu tidak semuanya berkulit kuning langsat seperti mu, ada yg benar-benar putih dan ada juga yg hitam legam!” papar peri itu dengan wajah cemberut.

“Ya, aku mengerti sekarang.”

Keduanya duduk bersama, ditemani kepulan uap dari coklat mereka. Duduk dan menyaksikan pemandangan bersalju yg disugukan alam. Alih-alih dari duduk bersebelahan, niat jahil terbesit dalam diri Taecyeon. Kadang-kadang terbesit dalam benaknya untuk merangkul Suzy, menggengam tangannya atau bahkan menciumnya. Ia merasa penasaran saja. Ia ingin tahu seperti apa rasanya melakukan itu pada seorang peri. Apakah akan terjadi sesuatu yg ajaib dan seketika ia juga memiliki sayap seperti dirinya?

Atau memang, Taecyeon sedang ingin memperlakukannya sebagai seorang wanita. Bukan seorang peri. Itu bisa saja terjadi, kan? Mengingat Taecyeon selalu sendiri dan tiba-tiba saja seorang peri yg amat cantik bernama Suzy datang dan mengusir kesepeian darinya. Membuat hari-harinya selalu di hiasi oleh senyuman. Apa lagi yg mampu membuatnya jatuh hati lebih dari itu?

Ok Taecyeon, sudah jelas perasaan mu ini adalah perasaan yg sangat kompleks dan bertitel. Mengapa kau begitu naif dan bodoh untuk dapat mengenali perasaan mu sendiri? Sadarlah! Kau sudah jatuh cinta pada peri mu itu!

“Lain kali, jika kau menginkan sesuatu, kau tidak perlu mengancamku dengan berkata bahwa itu adalah kinginan terakhirmu. Tanpa kau kau melakukan itupun pada akhirnya aku akan tetap menuruti mu.” Tutur Taecyeon.

“Bailah, aku mengerti,” Sahut Suzy sambil mengangguk pelan.

Taecyeon kembali menyesap coklatnya yg tidak lagi sepanas tadi. Melihat coklat uap coklat panasnya yg tidak lagi mengepul membuat otaknya terbesit akan suatu hal. “Hey, apa kau bisa melakukan sihir? Buat kopi ini sepanas sedia kala!” katanya.

Sezy menoleh kearah Taecyeon lalu berkata, “Aku ini peri, bukan penyihir!” dengan lantang ia mengatakan itu pada Taecyeon. “Tapi aku punya sesuatu untuk ku perlihatkan padamu.”

“Apa  itu?”

“Berikan tangan mu.”

Taecyeon mengulurkan tangannya pada peri itu. Peri itupun mengusap telapak tangannya secara perlahan. Kemudian, tangannya menjadi bercahaya dan berkelap kelip. Taecyeon terbelalak. Terutama ketika peri itu berhenti mengusapkan tangannya dan meninggalkan sebuah buku ber-cover coklat berbahan kulit pada telapak tangannya.

“Bagaimana kau melakukannya? Buku apa ini?” pekik Taecyeon tidak percaya.

“Buku dongeng.”

Taecyeon mengecutkan bibirnya. “Hanya buku dongeng? Ku pikir ada yg spesial.” Katanya meremehkan.

Suzy mengambil buku itu dari tangan Taecyeon. “Tentu ada yg spesial,” Kemudian jemarinya yg mungil membuka buku tersebut dan memperlihatkan halaman pertama dari buku tersebut. “Ini bukan sekedar buku dongeng. Dongeng yg di ceritakan di sini bukan sekedar dongeng. Semua yg tertulis ini adalah apa yg terjadi pada kita berdua. Awal cerita adalah saat pertama kita betemu,” Paparnya sambil mempertihatkannya pada Taecyeon. “Coba kau baca!”

Mata Taecyeon bergerak mengikuti deretan kata-kata yg tercetak pada buku tersebut. Ia benar-benar takjub kali ini. Yang dikatakan Suzy itu benar adanya. Semuanya. Semuanya tertilis pada buku itu. Bagaimana ia bertemu dengan Suzy, apa saja yg pernah di lakukannya dengan peri ini, dan apapun yg di katakannya tertulis pada buku itu.

“Apa yg akan terjadi nanti, esok, atau esoknya lagi, semuanya akan ada pada buku itu. Tanpa perlu kita menulisnya.”

“Lalu bagaimana dengan akhir ceritanya?”

“Pada seperti apa kita berakhir nanti.”

—-Fiary Tale—-

Kringgg…

Guru berkemeja putih itu berhenti mendongeng ketika bel pulang sekolah terdengar oleh telinganya. Ia tutup buku yg di peganngnya kemudian menatap ekspresi ketidakrelaan yg tercetak pada wajah murid-muridnya.

“Sudah waktunya pulang. Kita lanjutkan di pertemuan berikutnya.” Himbau sang guru pada murid-muridnya.

“Ah sayang sekali!”

Murid-muridnya itu menggerutu seraya gerakan tangan mereka yg membereskan alat-alat tulis dan bersiap untuk pulang. Setelah selesai memberskan alat tulis, mereka duduk dengan rapi di bangku masing-masing dan menunggu aba-aba ketua kelas untuk berdoa sebelum pulang.

Tapi belum sempat ketua kelas memberikan aba-aba, tiba-tiba saja angin dengan keras berhembus dari celah jendela kelas yg terbuka, kemudian diikuti oleh turunnya salju yg amat lebat. Murid-murid itu berlarian dan ketakutan.

Badai sepertinya datang.

Guru laki-laki berkemeja putih itu tidak tinggal diam. Dengan cepat ia menutup jendela-jendela yg terbuka. Agar angin kencang yg menakutkan murid-muridnya itu tidak masuk. “Tenang semuanya. Kita akan baik-baik saja.” Ujar sang guru ketika melihat beberapa muridnya mulai menangis.

“Aku ingin pulang!” rengek muid-muridnya.

Guru itu menghampiri murid-muridnya dan menyuruh mereka untuk kembali duduk di bangku masing-masing. “Tidak mungkin pulang saat badai. Bagaimana jika aku melanjutkan dongengnya saja?” ujar sang guru yg masih kukuh berusaha menenangkan murid-muridnya.

Wajah anak-anak berumur tujuh tahun itu benar-benar menggemaskan saat menangis sesegukan kemudian mengannguk dengan polos ketika hal yg mereka inginkan di tawarkan.

“Baiklah. Aku akan melanjutkan ceritanya,”

—-Fiary Tale—-

Taecyeon berdiri diambang pintu dan mengamati peri itu yg lagi-lagi berlakon sedih sambil memandangi turunnya salju― yg secara tidak sengaja menularkannya pada Taecyeon dan membuatnya ikut berlakon sedih. Ini sama saja dengan memberikan Taecyeon seribu pertanyaan akan penyebab kesedihannya. Memutar otaknya untuk terus berfikir dan mencari tahu.

Ia hampiri peri tersebut. “Ikut aku!” ia menarik tangan sang peri tanpa menunggu persetujuan darinya.

Ternyata Taecyeon bermasud menghiburnya dengan mengajaknya jalan-jalan dan menghirup udara segar. Ini memang sudah larut, tapi justru inilah waktu yg tepat untuk megajaknya keluar. Karna orang lain tidak akan melihatnya dan membuat peri itu dalam bahaya.

Tidak jauh, Taecyeon hanya mengajak peri itu ke sebuah taman yg berada di sebuah sekolah di dekat rumahnya. Di sana ada sebauh pohon Mapple yg sangat besar dan rindang. Pohon itu memiliki daun-daun yg sangat indah saat salju menutupi separuh bagian dari tubuh daun. Duduk dibawahnya sambil menemani pendar bintang, Taecyeon pikir itu bisa menghibur peri nya.

Suzy mengedarkan seluruh pandangannya. Senyumannya merekah. “Indah sekali pohon ini.” Pujinya.

“Akhir-akhir ini aku sering melihatmu sedih. Jadi, aku mencoba menghiburmu dengan mengajakmu kemari.” Taecyeon menuju batang pohon tersenut kemudian duduk dan bersandar di sana. “Ayo, duduklah di sini.” Ajaknya.

Suzy menurtinya. Ia duduk di sampin pemuda itu dan ikut bersandar pada pohon besar itu. “Kau tahu? Saat salju turun, itu berarti ada seorang peri yg di kutuk dan terpenjara di negri berhujan. Karna itulah aku sedih.”

Taecyeon mengerutkan keningnya. “Di nengri berhujan? Mengapa?” tanyanya bingung.

Suzy menundukan kepalanya. “Ya, saat seorang peri meminta turun ke bumi dan memilih ‘dia-yg-tidak-seharusnya’, Sang dewa akan memberinya sejumlah peraturan — Peri akan membuat perjanjian dengan dewa. Dan jika peraturan itu tidak bisa dipenuhi, peri itu akan di kutuk dan di penjara di negri berhujan. Negri dimana hujan selalu turun dan membuat bulu-bulu sayapnya kuyup dan tidak bisa terbang.” Papar Suzy.

Kerutan di kening Taecyeon semakin bertambah. Ia semakin tidak mengerti. “Dia-yg-tidak-seharusnya?”

“Mengapa kau tidak mengerti? Turun ke bumi dan memilih ‘dia-yg-tidak-seharusnya’ adalah hal yg haram bagi kami, para peri.” Kata Suzy.

Taecyeon mengangguk dan berpura-pura mengerti karna ia merasa tidak enak jika mengatakan kalau yg dikalatak Suzy padanya adalah hal yg tidak masuk akal. “Lalu apa perjanjian nya dengan sang dewa? Apakah kutukannya bisa di patahkan?” tanya nya.

“Aku tidak bisa memberi tahu apa perjanjian itu. Dan satu-satunya yg dapat mematahkan kutukan itu adalah ‘dia-yg-tidak-seharusnya’.” Papar Suzy lagi.

“Caranya?”

“ ‘Dia-yg-tidak-seharusnya’ sendiri yg harus mencari tahunya. Kami tidak diperkenankan untuk memberi tahu.” Ekspresi Suzy semakin aneh saja setelah ia mengatakan kalimat ini, dan membuat Taecyeon semakin heran.

Taecyeon terdiam sejenak. Ia berusaha mencerna apa yg Suzy katakan padanya. Tapi semikin ia pikirkan, semakin ia merasa bingung. “Ehm. Begitu ya,” ia lagi-lagi mengangguk dan  memilih untuk berpura-pura mengerti. “Oh ya, kau bilang kau sudah sembuh. Mengapa kau tidak mengajakku terbang?” kata Taecyeon untuk mengalihakan perhatian. Bahkan sebenarnya Taecyeon merasa sangat sedih saat peri itu bilang dia sudah sembuh. Yg mengartikan ia akan segera pergi. Jahat memang, tapi ada perasaan ketidakrelaan saat mendengarnya.

Suzy mengaruk-garuk kepalanya yg tidak gatal. “Fairy dust-ku habis. Aku tidak bisa terbang sekarang. Tapi saat purnama aku baru bisa terbang.”

“Kapan itu?”

Suzy tersenyum. “Dua hari lagi.” Katanya.

Deg.

Jantung Taecyeon rasanya berhenti berdetak. Hatinya sakit sekali mendengar hal itu dari Suzy. Dua hari lagi, itu adalah ulang tahunnya dan peri itu akan pergi darinya? Itu benar-benar membuat hatinya terguncang. “Dua hari lagi adalah ulang tahun ku. Aku tidak pernah memiliki seseorang untuk merayakan ulang tahun ku,” Taecyeon menatap sanng peri dengan mata yg berkaca-kaca. “Dua hari lagi, meskipun purnama memberi mu kekuatan, meskipun sayapmu kembali mengepak dan kau dapat terbang, bisa kah kau tinggal?” Kemudian, deretan kata-kata yg menyayat hati itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Aku sadar sekarang. Aku takut kehilangan mu.

Suzy terdiam. Matanya berkaca-kaca dan nampak tak tega melihat kesediah pada wajah Taecyeon. Ia sungguh tidak tahu kalau Taecyeon adalah pemuda yg beritu menyedihkan. “Aku akan merayakan ulang tahun dengan mu. Aku berjanji.” Katanya, karna seungguhnya ia pun tidak pernah bermaksud untuk pergi. Pemuda itu sudah memberikan hatinya untuknya. Jadi untuk alasan apa lagi ia pergi?

Taecyeon mendekat dan memeluk Suzy dengan begitu erat. Membuat jantung peri itu berdetak begitu nakal dan sulit untuk diatur. “Kau harus menepatinya, Suzy-ya.” Bisiknya pelan.

Aku rasa aku tidak akan mejadi seperti peri-peri malang itu.

—-Fiary Tale—-

Sejak pagi tadi Taecyeon sudah angkat kaki dari rumah. Wajahnyanya berseri-seri, bahkan senyumannya itu lebih cerah dari pada mentari yg sejak tadi bersembunyi di balik awan kelabu. Satu alasannya. Ini adalah hari ulang tahunnya. Ah tidak. Bukan karna ini adalah hari ulang tahunnya, tapi ia memiliki peri itu untuk merayakan ulang tahunnya. Kali ini tidak akan lagi ada Taecyeon yg meangis sendirian di hari ulang tahunnya.

Selayaknya perayaan ulang tahun pada umumnya, Taecyeon memberikan peri itu sebuah undangan. Pagi-pagi buta ia sudah bangun untuk membuatnya. Dan sebelum peri itu terbangun dari tidur nyenyaknya, ia meletakan undangan itu di sebuah meja di samping ranjang peri itu.

“Hai,  peri ku! Aku tidak pernah membuat undangan seperti ini sebelumnya. So, maaf jika ini tidak terlihat seperti undangan. Tapi, dengan penuh harap aku menunggu kedatangan mu di perayaan ulang tahun ku . Malam ini, di bawah pohon Mapple yg kokoh menunggu bayangan mu. Tidak ada kado yg lebih baik dari kedatangan mu, Suzy-ya.”

Itulah sederet kalimat yg ia torehkan pada sebuah keras berwarna merah muda dan beraroma mawar. Sederet kalimat yg di penuhi penuh pengharapan di setiap katanya.

Sementara peri itu masih terlelap dalam mimpinya, Taecyeon melangkah keluar untuk memberi beberapa perlengkapan untuk membuat pesta ulang tahunnya. Pemuda ini sempat berpikir dan bertanya-tanya. Hal apa yg paling penting saat pesta ulang tahun? Tanyanya dalam hati. Tapi seiring langkah kakinya yg menjajaki jejeran pertokoan, akhirnya ia menemukan jawabannya.

Taecyeon terdiam di depan sebuah toko kue. Senyumannya merekah. Kue ulang tahun. Ya, tentu saja, itu adalah hal yg paling penting dan harus ada di setiap pesta ulang tahun.

Taecyeonpun masuk ke dalam toko tersebut.

“Ada yg bisa saya bantu, Tuan?” kata sang pelayan toko.

Taecyeon tersenyum sambil memandangi kue-kue yg berjajar di dalam etalase toko tersebut. “Aku membutuhkan kue untuk merayakan ulang tahun ku.” Jawab Taecyeon.

“Ada banyak pilihan di toko kami. Kau ingin kue yg seperti apa?”

Taecyeon terdiam sejenak. Matanya sibuk berkutat pada berbagai model kue yg ada di hadapannya. Ada yg seluruhnya di penuhi oleh cream keju, ada yg bertingkat, ada yg memiliki haiasan bunga-bunga mawar. Dan masih banyak lagi. Taecyeon kembali bingung. Ia tidak tahu harus memilih kue yg seperti apa. Tapi setelah melihat kue yg di balut oleh cream coklat, ia langsung memutuskan bahwa kue itulah yg akan di pilihnya. Coklat, Suzy sangat menyukai coklat. Karna itulah Taecyeon memilihnya.

“Aku pilih yg ini,” Kata Taecyeon sambil menunjuk kue coklat itu.

“Ini kue mu, Tuan.” Kata pelayan tersebut sambil memberikan kue tersebut kepada Taecyeon.

Taecyeon tersenyum senang. “Terima kasih. Dan, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”

Pelayan itu mengangguk pelan.

“Eum.. Apakah kau tahu apa saja yg di perlukan untuk membuat pesta ulang tahun?” Tanya Taecyeon dengan polosnya.

Pelayan itu tersenyum. Mungkin dalam hati ia terbahak-bahak menertawai Taecyeon yg menanyakan hal sebodoh itu padanya. “Kue dengan lilin diatasnya, balon, lampu yg berkelap-kelip, ya.. yg semacam itu.” Katanya sambil menahan tawa.

Taecyeon mengangguk pelan. “Oh.. terima kasih banyak.” Katanya sambil membungkukan badan.

Setelah membeli kue, Taecyeon langsung mencari toko-toko yg menjual hal-hal yg tadi di katakan oleh sang pelayan. Dan ternyata hel-hal itu tidak terlalu sulit untuk di dapatkan. Hanya membutuhkan waktu satu jam saja Taecyeon sudah dapat mendapatkan semuanya. Sekarang, tinggal bagaimana ia mengatur dan menata tempat dimana pesta ulang tahunnya akan di adakan di sana.

Lansung saja Taecyeon bergegas ke pohon Mapple besar itu. Setelah sampai ia mulai mencoba dan mendekorasi tempat tersebut agar terlihat indah. Ia meletakan sebuah meja lengkap dengan kursinya tepat di bawah pohon tersebut. Ia juga menaruh sebuah lilin dan sebuah vas mawar diatasnya. Kemudian Taecyeon beralih ke masalah pencahayaan. Ia memulai dengan menghias pohon tersebut dengan lampu-lampu yg sudah di belinya. Pokonya, hari ini Taecyeon terlihat begitu bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk melakukan semuanya.

Ini cukup memakan waktu. Taecyeon mulai menghias tempat ini sejak pukul sepeuluh tadi, dan sekarang matahari sudah berada di barat dan bersiap mengatakan perpisahan. Namun, perjuangannya yg memakan waktu panjang dan menguras tenaga itu terbalsakan karna berkat itu, tempat ini terlihat begitu indah sekarang. Atau mungkin terlihat begitu romantis. Itu artinya tinggal satu hal lagi pekerjaan yg harus di lakukannya. Yaitu,

Menunggu Suzy datang.

Senyuman Taecyeon merekah, ia nampak dengan sabar berdiri di bawah pohon tersebut. Satu menit, lima menit, sepuluh menit, Taecyeon masih saja mengunggu walau Suzy tak kunjung datang. Tidak terbesit sedikitpun hal buruk dalam pikirannya. Yang ia tahu, Suzy akan datang dan merayakan ulang tahun bersamanya.

Hingga menit-menit berlalu itu berubah menjadi jam-jam berlalu. Taecyeon mulai gelisah. Mulai tibul berapa pertanyaan dalam benaknya. Ada apa dengannya? Apa dia masih sibuk berdandan? Dia ‘kan tidak perlu berdandan, dia sudah cantik. Bisik Taecyeon dalam hatinya. Kemudian ia kembali mengangkat kepala dan mencoba berfikir positif. Hanya saja hal-hal yg buruk itu terus mengganggu otaknya. Tapi tidak mungkin berdandan sampai selama ini. Pikirnya lagi.

Taecyeon menoleh ke kue ulang tahunnya yg ia letakkan di atas meja. Lilinnya sudah meleleh begitu banyak, coklat panas yg ia siapkan tidak lagi mengeluarkan uap yg mengepul. Kemudian Taecyeon mendongak langit dan mendapatkan sang purnama dengan gagahnya menduduki tahtanya.

Atau memang kau telah pergi meninggalkan ku.

Taecyeon terisak saat itu. Malam sudah larut, dan bayangan Suzy tak kunjung masuk kedalam retinanya. Peri itu menghacurkan harapanya, membuatnya begitu merasakan sakit dan hancur. Taecyeon benar-benar hancur, sama seperti kue ulang tahunnya yg baru saja ia jatuhkan ke tanah.

“Aku tidak percaya pada mu. Aku benci pada mu.”

Taecyeon menangis memandangi purnama, si perenggut kekasih hati. Sayup-sayup tangisannya terdengar diantara salju-salju yg perlahan turun. Seperti malam-malam sebelumnya. Dia tetaplah Taecyeon yg menangis tentang kesendiriannya yg tiada akhir. Dirinya yg seperti seorang tokoh dari cerita sedih.

Pergilah wahai peri! Terbanglah seperti apa yg kau inginkan. Biarkanlah pemuda ini tetap mejadi seperti dia yg seharusnya. Kau memang hanyalah dongeng indah untuknya, tidak mungkin dia merengkuh dan memiliki mu. Terima kasih telah menjadi racun baginya. Racun yg sama seperti  cinta untukmu yg akan kekal dan selalu tumbuh. Maafkan ia karna ia mengantar kepergianmu dengan tangisan, hatinya bukanlah  akar Mapple yg kokoh.

—-Fiary Tale—-

“Yap, jadi begitulah ceritanya.” Kata guru itu sambil menutup bukunya.

Seorang murid berdiri dan menatap gurnya, tidak percaya. Ia adalah murid yg tadi menemukan buku tersebut dan meminta gurunya untuk membacakannya. Yun Siyup namanya. Bocah laki-laki berumur tujuh tahun berpotongan rambut cepak. “Tidak mungkin ceritanya berakhir seperti itu!” sahut nya tidak terima dengan pernyataan sang guru.

Guru itu menghela nafas panjang. “Tapi itulah akhirnya.”

“Benarkah? Apakah ada tulisan ‘The End’ pada buku itu?”

“Memang tidak ada, tapi itulah akhirnya.”

Siyup mengepalkan tangannya sehingga buku buku tangannya berwarna kemerahan. “Tidak! Itu artinya ceritanya belum berakhir! Peri itu pasti punya alasan!” Bantah bocah lelaki itu.

Entah mengapa Guru itu menjadi begitu merasa kesal sekarang, padahal ia sudah terbiasa dengan sikap pemberontak Siyup dan menganggapnya sebagai hal yg lumrah. Tapi untuk kali ini, ia tidak bisa. “Apa yg kau pikirkan?! Pemuda itu menangis sendiri di bawah purnama yg terus menertawai kesendiriannya. Peri itu hanya memanfaatkannya dan  meninggalkan pemuda itu tanpa menepati janjinya! Itulah akhirnya!” Dan tanpa sadar ia telah membentak bocah itu.

Siyup tetap keras kepala. “Tidak! Tidak mungkin berakhir seperti itu!! Pasti ada lembar lain yg hilang!!” Kemudian ia berlari keluar kelas.

“Yun Siyup!!!”

Guru laki-laki itu merasa meyesal sekarang. Tidak seharusnya ia membentak bocah itu sehingga ia lari keluar padahal di luar sedang badai. Dan kini, ia tidak bisa menemukan bocah tersebut meskipun ia sudah berulang kali mengitari area sekolah.

Tidak menyerah dan lelah untuk mencari Siyup, ia berjalan di koridor kelas sambil mengedarkan seluruh pandangannya ke segala arah. Lalu langkahnya terhenti ketika bola matanya tidak sengaja mendapati nomor dua puluh tujuh yg dilingkari pada kalender yg menempempel di dinding. Ia berjalan teroyok mendekati kalender tersebut, beriringan dengan mengumpulnya cairan bening di pelupuk matanya.

“Dua puluh tujuh Desember.” Pekinya pelan.

Air bening itu meluncur begitu saja. Meluncur jatuh ke tanah. Tapi guru laki-laki ini sepertinya tidak menyukai hal itu. Dengan segera ia menghapus air matanya itu. Membuang segala kenangan yg ada pada tanggal tersebut.

“Seosaem!!” panggil seseorang.

Guru itu menoleh cergap. Itu adalah Siyup. Ia berlari-lari menujunya sambil membawa beberapa lembar kertas usam.

Jantungnya berhenti berdetak. Ia mulai takut menghadapi kenyataan.

Siyup berhenti di hadapannya. “Seperti apa yg aku katakan, ceritanya memang belum berakhir. Kali ini biar aku yg membacakannya untuk mu,”

—-Fiary Tale—-

Seorang gadis dengan senyuman yg merekah-rekah berjalan menuju pintu rumahnya. Ia menyentuh knop pintu tersebut dan bermakud untuk membukanya. Tapi sebelum itu, ia menarik nafas panjang dan membiarkan hayalan yg tentang kebahagiaan itu masuk kedalam otaknya. Tapi, hanyalan nya itu seketika rusak ketika ia mendapati dua orang pria dengan sayap besarnya berdiri menghadangnya setelah ia membuka pintu tersebut.

Gadis ini mencoba lari dan mengepakkan sayapnya. Sayangnya, itu semua pecuma. Dua pria itu jauh lebih cepat dan kuat darinya. Ia tidak bisa lagi memberontak ataupun lari. Ia hanya bisa pasrah ketika dua pria itu mambawanya terbang ke tempat yg tidak diinginkannya.

“Mengapa kau kabur? Kau tahu ‘kan bahwa turun ke bumi itu haram untuk kaum kita?” hardik seorang pria berperawakan besar dengan sayap putih yg membenatang lebar.

“Jangan bilang kau jatuh hati padanya!” hardiknya lagi.

Seorang gadis yg kedua tangannya di pegangi oleh dua pria bertubuh besar itu menjawab. “Kau benar wahai dewa. Aku telah memilih dia-yg-tidak-seharusnya.”

Pria yg disebutnya Dewa itu menampakan kemarahannya. “Anak ku.. Peri kecil ku.. bagaimana mungkin kau melakukan ini? Lupakan perasaan mu. Aku bisa melupakan hal ini dan tidak akan mengikatmu dengan perjanjian mengerikan itu.” Ujarnya.

Peri itu menangis. “Tidak bisa ayah. Aku sungguh mencintainya.” Ucapnya di tengah isakan.

“Tapi kau tahu sendiri, manusia-manusia itu tidak pernah percaya! Apa kau ingin terpenjara seperti peri-peri lainnya?!”

Peri itu mengangkat kepalanya. “Dia berbeda, aku bisa memastikannya. Dan jika aku benar, tolong biarkan aku menjadi manusia dan hidup bersamanya. Dan penjara aku jika terjadi sebaliknya.” Peri itu memohon pada sang Dewa.

Dewa itu duduk di kursi tahtanya. Lalu ia mengusap sebuah bola kaca bening yg ada di hadapannya. “Baiklah, ayo kita lihat apakah kau benar.” Kemudian bola itu menampakan sosok seorang pemuda yg sedang duduk di bawah permadani malam.

Satu menit, dua menit, tidak ada yg terucap dari pemuda itu. Hanya isakan tangis nya saja yg terus terdengar.

“Ayolah Taecky..” bisik peri itu dalam hatinya.

Segenap keyakinan masih di pegang teguh oleh peri cantik ini. Ia tetap menanti orang yg dicintainya itu untuk membuktikan bahwa yg dikatakannya adalah benar. Kemudian jantung peri ini berdebar cepat ketika melihat orang itu mendongak langit dengan tatapan sayunya. Orang itu membuka mulutnya, seperti ingin mengatakan sesuatu.

“Aku tidak percaya pada mu. Aku benci pada mu.”

Jantung yg berdebar keras itu berhenti seketika. Air matanya jatuh begitu saja. Terus jatuh sampai raganya itu secara perlahan pergi dan menghilang. Itu bukanlah kalimat yg seharusnya tercupkan olehnya. Itu adalah kalimat yg mengatarkan peri ini pada kutukan dan penjara baginya.

—-Fiary Tale—-

“Peri itu tidak mengingkari janjinya pada sang pemuda. Bahkan pemuda itu tidak pernah tahu bahwa peri itu bukan datang untuk memanfaatkannya. Ia juga tidak datang karna mengalami kecelakaan saat menjalankan tugas. Ia datang karna ia memilih pemuda itu sebagai dia-yg-tidak-seharusnya.” Tutur Siyup, sedih.

“Dan pemuda itu sendirilah yg menjadi kutukan baginya.”

Siyup mendongak dan menatap sang guru. “Tapi peri itu bilang kutukannya dapat di patahkan.” Ujarnya.  “Belum ada tulisan ‘The End’ pada lembaran ini. Itu artinya ceritanya belum berakhir!” Dengan lantang ia mengatakan hal itu pada gurunya.

Guru itu terdiam sejenak. Ia tatap lekat muridnya itu. “Ya, semoga saja pemuda itu masih memiliki kesempatan.” Bisiknya pelan dengan air mata yg kembali mengumpul di pelupuk mata.

“Siyup!!”

Dua laki-laki ini sama-sama menoleh saat mendengar seruan itu. Seruan itu berasal dari seorang wanita yg berdiri di ujung sana. Masih menggunakan jaket tebal yg terlihat lembab karna buliran salju yg mencair.

“Ibu mu sudah menjemput mu. Pulanglah dengannya.” Ujar sang guru.

Siyup mengangguk pelan. Ia bungkukkan tubuhnya, memberikan salam pada guru laki-lakinya itu. Setelah itu ia berbalik dan mulai melangkah pergi.

“Seosaem,”

Siyup berhenti dan kembali berbalik menghadap gurunya, membuat kening laki-laki itu berkerut karna panggilannya. “Saat Jane mengatakan bahwa ia tidak percaya pada Tink, tubuh Tink yg semula bersinar menjadi redup dan ia menjadi tidak berdaya. Tapi setelah Jane menyadari kesalahannya dan mengatakan bahwa sesungguhnya ia percaya pada Tink, tubuh Tink kembali bersinar. Tink dapat terbang seperti sedia kala.” Kemudian bocah laki-kali itu berlari menuju Ibunya.

Guru laki-laki bekemeja putih itu terdiam sambil menatap tubuh bocah yg berangsur-angsur hilang dari pandangannya itu. Yang di katakan bocah itu, ia sungguh tidak bisa mengabaikannya. Itu bukanlah sekedar perkataan yg keluar dari mulut seorang bocah berumur tujuh tahun. Itu terdengar seperti sebuah jawaban.

—-Fiary Tale—-

Malam itu salju masih saja turun. Turun satu –persatu, mengiringi langkah seorang terkoyoh milik seorang pria berkemeja putih. Saat salju mendarat pada pemukaan kulitnya, ia bisa merasakan penderitaan dan tangisan keras. Salju ini turun atas penderitaan dia yg terlukai olehnya.

Pria itu mejatuhkan tubuhnya di bawah sebatang pohon Mapple besar. Ia mendongak langit dan menatap purnama yg masih menertawai kesedihannya. Kemudian tangisannya kembali terdengar. Menjadi lagu sedih bagi hatinya yg terluka.

“Aku percaya padamu. Aku mencintaimu.”

Di tengah kesunyian dan kesepian ini isakannnya terdengar jelas. Burung-burung hantu tidak mau berbesenandung, ada senandung lain yg lebih sedih dan meyakitkan. Hanya diam dan meyaksikan apa yg akan terjadi pada nya.

Tapi sebuah pendar cahaya turun dari langit, membungkam senandung sedih sang pria malang. Turun perlahan menggatikan bulir salju yg beku. Mata yg berlinang itu menatap dan menantinya. Jikalu benar itu adalah pendar cahaya, jadikanlah itu kedatangan dia yg dirindukan olehnya.

Pendar cahaya itu turun tepat di hadapannya. Sangat terang. Namun pria ini tidak mau menuruti otaknya yg menyuruh pelupuknya untuk terpejam. Ia membuka matanya lebar-lebar. Berjaga-jaga dan tidak mau sesuatu terlewatkan olehnya.

Retinanya boleh saja rusak setelah ini. Ia tidak akan menyesalinya. Karna ia sudah melihat apa yg selalu ingin dilihatnya. Dia itu kembali datang padanya, tanpa sayap nya yg berbulu dan berkelip. Datang bukan sebagai peri, tapi sebagai gadis biasa yg sedang jatuh cinta. Menjadi penawar akan racun kesendirian yg terus menggerogoti dan memaksanya berlakon sedih setiap hari.

Ia berdiri dan mendekat pada gadis itu. Ia raih tubuh sang gadis dan menariknya dalam pelukannya. Ia memulukanya dengan sangat erat. Seakan-akan akan tangannya itu akan menjadi ranati yg mengikat tubuh sang gadis. “Selamat ulang tahun, Taecky.” Lalu tiga kata yg sangat ingin di dengarnya dari sang gadis itu akhirnya terdengar juga. Menjadi sebuah matra yg menakdirkan kebagiaan abadi untuknya.

Kebahagian abadi yg menjadi akhir baginya.

—-Fiary Tale—-

Seorang bocah tersenyum kala matanya sudah sampai pada kata terakhir yg tertorehkan pada selembar kertas usam itu. Hanya untuk beberapa kalimat saja, dan ia meberikan seluas senyum ikhlasnya.

Ia melirikan bola matanya pada kata pertama pada kertas tersebut. Kemudian kembali bergerak mengikuti deretan huruf yg tertuliskan. Ia kembali membacanya.

Sebuah kepercayaan adalah jawaban baginya. Mematahkan segala kutukan, membawa dia yg dicinta kembali dalam rengkuhannya. Tidak akan ia melepasnya lagi. Kepercayaan dan keyakinan hatinyalah mejadi tangan yg selalu mejaga orang itu dalam rengkuhannya.

Apalah artinya cinta tanpa kepercayaan?

The End.

Ia tersenyum lagi. Cerita itu memang benar-benar berakhir pada seperti apa dua orang itu berakhir.

—T H E  E N D—

14 thoughts on “[FF Freelance] Fiary Tale

    • Ya, siyup emang hebat. untung dia nonton film tinkerbell, coba kalo enggak, pasti dia gk bisa bantuin taec. Heheh…
      Makasih ya, udah baca😀

    • Betul, kaya yg ditulis di ff itu. ‘Apalah artinya cinta tanpa kepercayaan’
      kekeke..
      Btw, makasih udah nyempetin baca😀

  1. Si guru ini (Taecyeon) adalah pemilik bukunya..
    Suzy jadi Peri? pasti cantik banget .. hehe
    dan ‘apalah cinta tanpa kepercayaan’ — keren😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s