Freaky Stalker (Oneshot)

images

Freaky Stalker

by

Arabella  Xia

EXO-K’s Jongin & Miss A’s Suzy | Friendship & Life | Teen | Oneshot

-ArXia-

Derap langah kaki itu terus mengikuti setiap langkah kakinya sejak tadi. Seirama, senada, bahkan Suzy berani bertaruh jika langkah kakinya sama persis dengan langkah kaki lelaki dibelakangnya. Suzy tak ingin berbalik, tak ingin ambil pusing untuk menebak siapa yang mengikutinya. toh tanpa dia menebak atau berpaling, dia sudah pasti tahu siapa lelaki yang mengikutinya sejak tadi.


Kim Jongin.

Siapa lagi?

Setiap hari, lelaki bernama Kim Jongin itu selalu mengikuti langkahnya. Tak peduli dimana pun Suzy berada, lelaki itu selalu berada di dekatnya. Seperti penjaga khusus Putri Presiden, atau Putri dari kerajaan atau-apalah-itu-namanya, yang selalu menemani sang majikan kemana pun dia berada.

Langkah kakinya sudah sampai ditempat tujuannya. Mereka memasuki gedung sekolahan itu seperti biasa, orang-orang pun sudah terbiasa melihat pemandangan itu, seperti ciri khas tersendiri.

Dimana ada Bae Suzy disitulah Kim Jongin berada.

Dengan santainya, Suzy duduk dibangkunya, diikuti oleh Jongin yang duduk disampingnya. Romantis sekali bukan? Tapi tidak bagi Suzy. Suzy bahkan terlihat bosan, pikirannya ia sibukkan dengan mencari cara agar kebosanan yang sedang menimpanya ini hilang. Suzy melirik kearah Jongin, lelaki itu terlihat asik berkutik dengan gadgetnya dengan telinga yang bersumpal earphone. Entah apa yang sedang dilakukan lelaki itu dengan gadgetnya.

Senyuman langsung berkembang di wajah Suzy ketika matanya sudah mendapati sang pujaan hati datang, Oh Sehun. Lelaki imut yang selalu menjadi lelaki idamannya, lelaki yang selalu dipujanya didalam hati, meskipun tak ada orang yang tahu selain dirinya sendiri. Orang-orang bahkan mengenali Suzy sebagai kekasih Jongin, tapi bagi Suzy itu adalah pikiran termiring dari pikiran yang paling termiring. Tentu saja lelaki aneh yang selalu menguntitnya ini bukan kekasihnya, bukan juga sahabatnya, bukan juga saudaranya, tapi, ah entahlah Suzy juga tak tahu siapa manusia aneh yang disampingnya ini.

Sadar sedang ditatap, Sehun menolehkan kepalanya kearah Suzy, Suzy terlihat gelagapan, sangking gugupnya, tanpa sadar Suzy malah mengalihkan pandangannya kearah Jongin lalu mengusap-usap bahunya mesra. Jongin menatap Suzy yang sedang mengusap-usap bahunya. Tak ada pancaran kaget dimatanya, lelaki itu bahkan terlihat cuek, seakan tak peduli, dan detik berikutnya, pandangan lelaki itu sudah kembali ketempat asalnya, gadgetnya. Suzy meringis, kenapa bisa ia malah menoleh kearah Jongin disaat gugup karna ketangkap basah? Gugup yang aneh.

Suzy sudah kembali kepandangannya. yang semula, menatap Sehun. Sehun sudah tak menoleh kearahnya, tentu saja. Walaupun yang dilihatnya hanyalah bahu Sehun, Suzy tetap senang, setidaknya ia tetap bisa melihat Sehun.

Tapi perasaan Sehun sangat peka, untuk kedua kalinya, Sehun menoleh kearah Suzy karena merasa diperhatikan. Suzy tak bisa mencari alasan lain, ia terlihat tersenyum, ah bukan lebih tepatnya meringis sambil menatap Sehun. Sehun tertawa kecil, lalu memamerkan senyumnya yang manis. Suzy terdiam ditempat, senyuman Sehun kembali membuat hatinya berdegup kencang, belum sempat menetralisir hatinya yang berdesir, Sehun sudah mengalihkan pemandangannya. Suzy sedikit kecewa, tapi senyuman Sehun untuknya tadi bagaikan semangat baru untuknya. Yah, meskipun sebenarnya Sehun memang selalu tersenyum pada siapapun.

Berbicara Tentang Sehun yang ramah, mudah tersenyum, berwajah manis, dan selalu suka menyapa orang, sangatlah berbanding terbalik dengan lelaki disamping Suzy itu. Jongin terlihat sangat dingin, jarang tersenyum, berwajah angkuh meskipun cukup tampan, dan tidak pernah sedikit pun berbicara. Suzy bahkan berfikir jika Jongin itu bisu. Bayangkan, selama 3 tahun satu kelas, satu meja, dan selalu berjalan bersama kemanapun, mereka tidak pernah berbicara. Hanya Suzy yang berbicara tapi tak kunjung dijawab oleh Jongin, mungkin karena pertanyaan Suzy selalu seputar “Untuk apa mengikuti ku? Kau tidak punya kerjaan lain ya?”

Awalnya, ketika pertama kali melihat Jongin, Suzy jatuh cinta padanya. Kulit eksotis yang sexy, tatapan yang tajam, bibir menggoda, dan wajah yang sangat tampan. Siapa yang tak suka dengan lelaki seperti itu? Tapi, kekaguman Suzy pada Jongin langsung jatuh begitu Jongin sama sekali tidak pernah peduli dengan apapun yang dilakukan Suzy untuk menarik perhatiannya.

Suzy putus asa. Ketika, menemukan sosok lelaki yang lebih tampan, lebih manis, dan lebih ramah. Ia tak lagi menyukai Jongin, tapi langsung berpaling kepada Sehun yang jauh lebih baik ketimbang Jongin. Tapi sekarang, entah mengapa malah Jongin yang selalu menguntitnya, Ia bahkan bosan dan risih dengan Jongin sekarang.
Bel masukan mulai terdengar, memecah keributan yang sedari tadi terdengar di kelas 3-1 itu. Tiba-tiba, ketua kelas mereka, datang dan memberikan informasi yang membuat seisi kelas bersorak—kecuali Jongin yang tetap terlihat tenang. Informasi tentang Lee Songsaenim yang tak bisa memasuki kelas pagi ini. Itu bagaikan surga bagi kelas itu, terbebas dari dongeng yang dibacakan oleh Lee Songsaenim.

Seketika, penghuni kelas itu langsung berhamburan keluar kelas, jam yang bebas memang menjadi yang paling disegani, mereka dengan santainya meninggalkan kelas tanpa menghiraukan teriakan sang ketua kelas yang menyuruh mereka kembali atau mereka akan diadukan pada Lee Songsaenim, termasuk Suzy yang ikut bangkit dari kursinya, diikuti dengan Jongin yang masih setia mengikutinya.

Kesal tak diherani, sang ketua kelas itu dengan jailnya menaburi lem di sekitar bangku satu persatu. Kemudian tersenyum jail ketika pekerjaanya telah selesai. Memang, ketua kelas itu memang terkenal dengan sifatnya yang ingin tegas dengan perintahnya tapi tidak pernah di ikuti oleh orang lain, menyedihkan.

Satu tujuan yang selalu menjadi tujuan para pelajar jika jam kosong.

Cafetaria.

Mendadak, suasana cafetaria yang sepi bagai tak ada penghuni, menjadi agak ramai berkat kedatangan anak kelas 3-1.
Seperti biasa, Suzy memesan segelas Vanila Latte nya, dan sepotong cheesecake kesukaanya. Jongin? Lelaki itu hanya memesan Americano. Mata jeli Suzy menangkap bangku kosong didekat bangku Sehun dan kawan-kawannya. Tentu saja dengan sigap ia langsung memilih bangku itu. Jongin tetap mengikutinya, seperti biasa. Suzy tersenyum genit, ia berangsur-angsur untuk mendekati Sehun, tapi pukulan Jongin pada tangannya serasa menyentrik. Ia menoleh sambil mengomel. Siapa yang tidak marah jika konsentrasi mu yang sedang memikirkan kata-kata untuk memulai obrolan dengan lelaki dambaanmu langsung di buyarkan oleh pukulan orang sinting seperti Jongin? Lelaki itu melotot menatap Suzy.

Seakan-akan melarangnya untuk bergenit ria pada Sehun. Lagi-lagi Suzy hanya bisa memasang wajah cemberut, entah kenapa ia tidak bisa kalau tidak menuruti perintah Jongin. Walaupun Jongin tak berbicara, tapi Suzy bisa membacanya lewat mata Jongin. Mereka seperti sepasang kekasih yang mempunyai kontak batin, bisa berbicara lewat mata.

Karna kesal, Suzy kembali menyuruput Vanila Latte nya dengan rakus hingga habis. Bodoh. Tiba-tiba panggilan alam mulai memanggilnya, Suzy mulai bangkit berdiri. Beginilah akhirnya jika ia terburu-buru menghabisi minumannya.

Jongin kembali mengikutinya, berjalan tepat dibelakangnya.
Ketika sudah sampai didepan toilet wanita, Jongin menghentikan langkahnya.

Membiarkan Suzy masuk kedalam toilet wanita. Setidaknya walaupun ia pengikut Suzy, ia masih tau diri kan? Jongin bersandar di dinding sebelah pintu toilet. Matanya menerawang jauh, entah apa yang ada dipikiran lelaki itu.

Jongin menoleh ketika mendengar bunyi pintu terbuka, begitu Suzy sudah berjalan dia kembali mengikutinya.

Bodoh! Sangat bodoh! Sebenarnya apa maksud Jongin? Kemana pun Suzy berjalan ia akan mengikutinya, entah itu ke toilet, kantin, atau pun ke taman. Lelaki itu selalu mengikuti Suzy.

-ArXia-

Ketika bel pulangan mulai terdengar, seluruh siswa bergegas memasukan barang-barang mereka ke dalam tas, lalu langsung pergi tanpa berpamitan, mungkin sudah rindu rumah. Tapi masih banyak juga yang masih betah berada disekolah, entah itu sedang berpacaran, mengerjakan tugas, dan lain-lain.

Keadaan kelas 3-1 sudah sepi sejak lima menit setelah bel pulangan berbunyi, tertinggalah Suzy dan Jongin. Suzy terlihat malas untuk pulang, ia memasukan buku-bukunya dengan slow motion, berharap Jongin akan meninggalkannya sendirian. Tapi lelaki itu tak bergerak sedikit pun, dengan sabar, ia masih menunggui Suzy di ujung kelas.

“Kau duluan saja, mungkin aku akan telat,” kata Suzy dengan lembut, yang sebenarnya ia keluarkan untuk mengusir Jongin.

Hening. Tak ada respon dari Jongin, lelaki itu tetap diam dan memperhatikannya, tak ada keingan sedikitpun bergerak. Masih setia menunggui Suzy.

Akhirnya Suzy menyerah, percuma mengusir Jongin, lelaki itu tak akan pergi juga, walaupun dipaksa sekalipun.

Suzy meraih tasnya, dengan wajah malas ia berjalan keluar kelas diiringi Jongin. Rasanya bosan harus diikuti seseorang kemanapun kau pergi, tidak bebas, ada yang memantau.

Sekarang, tujuan Suzy hanyalah cepat sampai dirumah. Makanya ia sedikit melajukan langkahnya, malas jika terlalu lama berdekatan dengan lelaki yang mengekorinya itu. Jongin juga melajukan langkahnya, menyamakan langkahnya dengan Suzy, seolah-olah tak mau ditinggal.

Jarak rumah Suzy dengan sekolah sebenarnya tidak terlalu jauh. Jadi ia bisa pulang kerumah dengan berjalan kaki tanpa merasa kelelahan. Berbeda dengan Jongin, Suzy bahkan tak tahu dimana lelaki itu tinggal. Setiap hari lelaki itu akan mengantarnya sampai rumah, ketika memastikan Suzy sudah masuk ke dalam rumah dalam keadaan aman barulah lelaki itu pergi.

Suzy bahkan pernah bertanya pada orang tuanya, apakah Jongin itu memang orang suruhan orang tua nya, tapi yang didapatnya hanyalah tawa orang tua nya yang meledak. Bagi mereka, Suzy telah melucon, mana mungkin mereka memperkerjakan seseorang khusus untuk menjaga putri mereka yang sudah besar?

Suzy melangkah kan kakinya menuju kamarnya, menaruh atau lebih tepatnya melempar tas nya ke sembarang arah. Ia bahkan sudah berhancap-hancap untuk loncat di kasurnya, ketika sudah bertemu dengan kasur andalannya, barulah Suzy merasakan bagai didalam surga, rasanya nyaman sekali!

10 menit

20 menit

30 menit

Mata nya yang sedari tadi di paksanya untuk tertutup belum kunjung menandakan lelah. Badannya masih terasa remuk, tapi rasa kantuknya sudah hilang entah kemana.

Daripada membuang waktu di atas kasur, hanya untuk menunggu matanya terlelap, ia bangkit dari kasur empuknya. Berjalan kearah meja, dan mengambil ponselnya yang sedari tadi terus bergetar. Ketika tangannya sudah membuka kunci ponselnya, nama Lee Ji Eun mulai terlihat. Ada 10 pesan yang masuk darinya. Dan isinya sama.

Pesan dari: Lee Ji Eun

Suzy-ah, apa kau sudah mengerjakan tugas dari Ahn Songsaengnim?

Setelah mencoba berfikir, apa tugas yang diberikan Ahn Songsaenim. Barulah Suzy sadar, matanya melotot. Tangan kirinya menepuk dahinya. “Bodoh! Bodoh! Bodoh! Mati kau Bae Suzy.”
Suzy baru ingat, ada tugas merangkum Novel yang di berikan Ahn Songsaenim minggu kemarin. Dan Suzy belum juga mengerjakan tugas itu dikarenakan, tak ada Novel satupun yang ia punya.

Awalnya ia ingin meminjam pada, Hyeri. Gadis yang terlihat pendiam dikarenakan selalu asyik dengan dunia nya sendiri, dunia Novel. Gadis itu tak kehabisan pasokan Novel, setiap hari ada saja Novel yang dibacanya. Dan Suzy ingin meminjam salah satu Novelnya. Tapi, dirinya terlalu bodoh. Sudah terlambat waktunya untuk meminjam.

Alternatif lain, apalagi kalau bukan membelinya di toko buku? Suzy mengganti baju seragamnya yang sedari tadi belum dilepasnya. Ia mengganti bajunya dengan seadanya, baju kaus andalannya, dan celana jins berwarna biru gelap, lengkap dengan jacket dan topi nya.

“APPA!! EOMMA!!” teriaknya sambil menuruni tangga. Karena tak kunjung mendapat jawaban ia kembali berteriak, “Shin Ahjumma!! Choi Ahjussi!” untuk kedua kalinya, tak ada sahutan dari orang-orang yang dipanggilnya, Suzy menghela nafas. Kemana sebenarnya penghuni rumah ini? Ketika membuka pintu rumah, dan melirik kearah garasi dimana mobil-mobil ayahnya biasa terparkir, garasi itu kosong. Sudah jelas artinya jika orang tua nya sedang pergi. Lalu bagaimana dengan Shin Ahjumma, pembantu yang setiap hari bertugas membersihkan rumah, dan Choi Ahjussi yang menjadi supirnya. Apa mereka pergi berkencan?

Suzy tak ingin ambil pusing, daripada menunggu mereka yang entah kapan pulangnya untuk meminta diantar. Suzy memilih menaiki bus. Ia berjalan dengan langkah tergesa-gesa, sebenarnya halte bus tidak jauh dari rumahnya, tapi ia tak ingin membuang-buang waktu dengan jalan yang lambat.

Dan lagi-lagi, terdengar derap langkah mengikutinya. Ya! Sudah bisa tertebak siapa pemilik langkah yang mengikuti Suzy. Kim Jongin.

Lelaki itu memang siap siaga, dia akan selalu menemani Suzy jika Suzy sedang berjalan sendirian. Seperti kejadian waktu itu, ketika Suzy tengah berjalan dimalam hari, sendirian. Lelaki itu bagaikan mempunya insting jika Suzy sendirian, dan ia langsung segera muncul dibelakang Suzy mengawalnya sampai di rumah.

Aneh. Apa lelaki itu bukan manusia? Pertanyaan itu sudah berpuluh-puluh kali menyambar hatinya.

Suzy tak ingin ambil pusing, asal lelaki itu tak berbuat macam-macam, maka tak akan jadi masalah.

Lim menit berjalan, langkah kaki mereka sudah sampai di halte. Panjang umur! Tanpa harus menunggu lagi, sudah ada bus yang datang. Langsung saja Suzy menyambar bus itu, mencoba cepat agar bisa mendapatkan tempat duduk sebelum disambar oleh yang lain.

Tentu saja Jongin mengikutinya.

Suzy memilih tempat duduk didekat jendela, sedangkan Jongin ikut duduk disampingnya. Mata Jongin terus menatap Suzy, Suzy yang risih karna terus-terusan ditatap, menoleh, melemparkan senyuman sinisnya pada Jongin, tapi lelaki itu bukannya berhenti menatapnya malah semakin intim menatapnya. Suzy langsung mengalihkan pandangannya, wajahnya cemberut. Dalam hati, Suzy sibuk menyumpah-nyumpahi lelaki disampingnya ini.

-ArXia-

Suzy sibuk memilih milih novel bergenre horror, sudah lebih dari satu jam dia memilih. Tapi tak ada satupun yang memikat hatinya. Jika, para remaja putri lebih menyukai novel bertema cinta, beda sekali dengan Suzy, gadis itu tak menyukai yang seperti itu. Dia lebih menyukai cerita yang menantang, penuh teka teki, dan membuat bulu kuduk merinding.

Sedangkan Jongin, terus saja mengekori Suzy kemana kemari, seperti robot yang sudah di desain untuk mengikuti sang majikan.
Suzy melirik sebuah novel yang berjudul tanda tanya, dilihat dari sampul bukunya, jelas sekali jika novel itu adalah novel horror. Tangannya menggapai Novel itu, lalu membaca synopsis yang terdapat di belakang buku. Kedua bibirnya tersenyum. Sepertinya ceritanya menarik! Tanpa keraguan sedikitpun, Suzy langsung melangkahkan kakinya menuju kasir. Setelah membayar, dia meninggalkan toko itu dengan senyuman bahagia. Waktu sudah menujukan pukul tiga sore. Kemudian, Suzy pergi ke coffe shop andalannya.

Rasanya seru jika membaca novel sambil meminum Vanila Latte, daripada ia harus membaca dalam kamar nya yang membosankan itu. Seperti biasa, Jongin ikut menemaninya. Suzy baru ingat jika ia dan Jongin satu kelas, lalu dia bertanya tanpa ragu, “Kau sudah mengerjakan tugas Ahn Songsaenim?” Tanya nya. Namun Jongin tetap tak menanggapinya dengan suara apapun. Lelaki itu hanya sibuk memainkan gadgetnya tanpa melirik Suzy. Suzy mendesah pelan, “aku seperti berbicara dengan patung.” Gumamnya dengan suara kecil, berharap Jongin tak mendengarnya. Tapi rupanya telinga Jongin cukup tajam, lelaki itu melirik kearahnya dengan tatapan datar khasnya.

Suzy membaca novelnya dengan serius, novel itu cukup membuatnya ikut deg-degan membacanya. Disaat Suzy sedang membaca bagian yang seru, suara lelaki asing mengagetkannya. “Boleh aku duduk disini, yang lain penuh.” Kata lelaki itu ramah.

Jongin menoleh sebentar, menatap lelaki itu dengan tatapan tak suka, tapi lelaki itu membalasnya dengan penuh senyumanan.

“Silahkan.” Jawab Suzy setelah berhasil menyadarkan dirinya dari lamunannya tentang lelaki itu. Lelaki itu tersenyum, lalu menarik kursi disebelah Suzy.

“Apa aku mengganggu?” Kata lelaki itu. Suaranya yang serak-serak basah membuat Suzy gugup.

“T..tidak..”

“Boleh kenalan? Aku Park Hyungsuk, kau?” Kata Hyungsuk ramah sembari menjulurkan tangannya.

“Bae Suzy.”

Suzy menerima uluran tangan Hyungsuk. Keduanya saling tersenyum. Menurut Suzy, Hyungsuk sangatlah manis. Begitu menengok kedepan, tepat kewajah Jongin, tatapan mata Jongin yang melotot membuatnya bergidik ngeri. Satu lagi keanehan Jongin, selalu melotot jika Suzy berbicara dengan lelaki. Dasar sinting! Kata Suzy dalam hati

“Kau cukup manis, Suzy-ssi.” Puji Hyungsuk masih dengan senyuman manisnya.

Rasanya, Suzy ingin meleleh ditempat, wajahnya panas, hatinya meledak-ledak. Baru kali ini ia dipuji oleh lelaki semanis Hyungsuk.

Jongin yang sedari tadi geram melihat kedua orang didepannya, langsung menarik Suzy pergi. Jongin mengenggam tangan Suzy kuat. Suzy sampai meringis karna genggaman Jongin yang seperti ingin meremukkan tangannya. “YAK!” teriaknya sekuat tenaga.
Jongin menghiraukannya, dia terus menarik Suzy hingga sampai di halte.

Sepanjang perjalanan pulang, Suzy diam. Tak mencoba protes atau memarahi Jongin yang menyeretnya seenak jidatnya. Suzy terlalu sebal padanya. Suzy kembali membaca novelnya. Sedangkan Jongin menyumpal kedua telinganya dengan earphone putihnya. Bahkan lelaki itu tak merasa bersalah, wajahnya tetap seperti biasa, datar.

Bus yang ditumpangi mereka berhenti di halte dekat rumah Suzy.

Mereka keluar dari bus. Kembali seperti biasa, Jongin berada dibelakang Suzy. Dan Suzy berjalan didepannya dengan langkah pelan. Tak ada semangat sedikitpun dari raut wajahnya. Badannya benar-benar letih. Rasanya ia ingin langsung tidur jika sudah sampai di rumah. Tapi hal itu tak mungkin, masih ada tugas dari Ahn Songsaenim yang menantinya.

Ketika sampai didepan rumah Suzy. Suzy berbalik menatap Jongin, dia menatap Jongin dari atas sampai bawah berulang-ulang dengan tatapan sinis. “Kau mengangguku. Pergilah dari hidupku, aku tidak membutuhkanmu! Aku benci melihat wajahmu. Menjauh dariku.” Kata Suzy sarkatis. Lalu gadis itu langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah tanpa melihat ekspresi wajah Jongin setelah mendengar ucapannya itu.

-ArXia-

Esoknya, Suzy terlihat bingung. Pasalnya, matanya tak menangkap batang hidung Jongin didepan rumahnya. Biasanya, lelaki itu sudah berada di depan rumahnya pada jam segini, menunggunya. Suzy baru teringat akan ucapan pedasnya tadi malam. Ada ke khawatiran di hatinya, tadi malam ia merasa puas dengan ucapannya itu.

Berharapa-harap agar Jongin tersadar, dan mengikuti perkataanya. Tapi ketika pagi ini dia tak melihat batang hidung Jongin, entah mengapa hatinya sesak. Suzy merasa bodoh akibat ucapannya semalam.

Suzy terdiam di didepan rumahnya. Berharap jika Jongin akan muncul dihadapannya. Bisa saja kan Jongin hanya terlambat? Namun waktu sudah menunjukan pukul tujuh kurang lima belas menit. Dan itu artinya sisa lima belas menit lagi pintu gerbang sekolah akan tertutup. Suzy pasrah. Dia hanya berharap kalau Jongin sudah berada di sekolah.

Tujuannya nanti hanya satu, dia ingin meminta maaf.

Setelah berjalan dengan kecemasan yang mendalam, hatinya kembali sesak ketika mendapati bangku disebelahnya masih kosong. Dia bertanya-tanya, apa Jongin tidak masuk? Kenapa dia tidak masuk? Apa Jongin sakit?

Masih ada sisa waktu lima menit sebelum bel jam pertama berbunyi, diwaktu sedikit itu. Suzy berdoa, semoga saja Jongin datang dihadapannya. Suzy terlihat gelisah ditempat duduknya, baru kali ini dia terlihat gelisah. Pasalnya, walaupun begitu pendiam, Jongin tidak pernah bolos sekolah. Jongin selalu rajin masuk sekolah. Sakit tidak pernah, ijin tidak pernah, apalagi alfa.

Tiba-tiba saja, bel pertanda masukan berkumandang, membuat kekhawatirannya memuncak.

Ahn Songsaenim sudah memasuki kelas. Wanita paruh baya itu juga terlihat bingung ketika mendapati bangku anak muridnya yang begitu pendiam itu kosong. Tidak pernah dia melihat bangku itu kosong sebelumnya. Dia bertanya pada Suzy, kemana Jongin. Dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Suzy.

Mata Suzy terlihat berkaca-kaca. Gadis itu hampir menangis. Hanya karna tak melihat batang hidung lelaki penguntitnya. Terkesan, berlebihan memang tapi Suzy benar-benar tak kuasa menahan rasa ke khawatirannya. Dia benar-benar merasa bersalah. Suzy merasa tidak kehadiran Jongin disebabkan oleh perkataan sarkatisnya semalam.

Sepanjang pelajaran Ahn Songsaenim, Suzy terlihat murung, bahkan sudah berkali-kali dirinya terkena tegur tapi tak kunjung juga membuatnya tak kembali melamunkan Jongin. Ahn Songsaenim hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, Suzy memang selalu terlihat bersama Jongin. Jadi wajar baginya jika Suzy terlihat tak bersemangat hari ini.

Bel pertanda istirahat berbunyi, padahal bagi Suzy, bel pertanda masukan baru saja berkumandang. Mengapa Bel istirahat cepat sekali berbunyi?

Jika biasanya Suzy akan langsung bangkit menuju kantin setelah mendengar bel istirahat berbunyi, namun tidak untuk hari ini. Suzy lebih mencintai bangkunya hari ini. Kembali merenung tentang Jongin. Nafsu makannya hilang. Yang diinginkannya hanya satu. Melihat Kim Jongin. Air matanya menetes. Dia memang begini, selalu menangis ketika khawatir. Isakan-isakan kecil terdengar dari bibir mungilnya.

Suzy hampir menghabiskan satu jam waktu istirahatnya dengan menangis, jika saja panggilan alam tak memanggilnya. Buru-buru dilapnya air matanya kasar, tak ingin dilihat orang lain. Untung saja keadaan kelas 3-1 selalu kosong saat jam istirahat. Suzy keluar kelas dengan hati-hati, takut jika ada yang melihatnya dengan mata sembab.

Sepanjang perjalanan menuju toilet, Suzy terus menundukan wajahnya hingga sering kali menabrak orang dan mendapat teriakan dari siapapun yang ditabraknya.

Setelah sampai di toilet, Suzy teridiam sejenak. Biasanya Jongin akan menungguinya didepan pintu ini. Dan ia merindukan itu. Suzy baru keluar toilet lima belas menit kemudian. Dia sibuk menucuci wajahnya terus menerus agar sembab dimatanya menghilang.

Ketika dalam perjalanan ke kelas, jalanan sudah sepi. Bel tanda masukan sudah terdengar lima menit yang lalu. Dan artinya ia terlambat. Tapi Suzy tak panik dengan keterlambatannya. Suzy bahkan berjalan dengan slow motion, tak takut jika ia akan dimarahi

-ArXia-

Begitu bel pulangan terdengar, Suzy bergegas keluar kelas, bahkan sebelum anak-anak yang lain belum keluar. Tujuannya sekarang hanya satu, rumah Jongin. Ia ingin menjenguk Jongin, meminta maaf padanya. Ketika sudah sampai digerbang sekolahan, ia bingung kemana yang harus ditujunya. Saat itu juga, Suzy kembali merasa menjadi manusia terbodoh sedunia. Dia bahkan tak tahu rumah Jongin dimana.

Suzy kembali ke kekelas, mencari Lee Ji Eun yang terdaulat menjadi sekretaris dikelasnya. Tentu saja informasi tentang rumah Jongin ada di Ji Eun bukan? Tapi semangatnya kembali pupus ketika menemukan kelasnya telah kosong tak berpehuni. Lagi-lagi, ia merasa bodoh.

Akhirnya, setelah meratapi kebodohannya itu. Suzy pasrah dan menjalankan kakinya menuju Coffe Shop. Ia butuh segelas Vanila Latte untuk menyemangatkan dirinya. Sudah lebih dari tiga jam dia duduk disini, pelayan café sampai bingung melihatnya yang terus-terusan memesan Vanila Latte berkali-kali. Ketika sedang menyuruput Vanila Lattenya, tiba-tiba ada lagi suara serak-serak basah yang didengarnya kemarin.

“Halo, boleh aku duduk disini?” sapa Hyungsuk. Suzy hanya mengangguk tanpa menjawab seantusias kemarin. “Dimana kekasih mu yang kemarin? Kau sering datang kemari ya? Kau masih sekolah? Aku belum puas mengobrol denganmu kemarin.” Suzy menghiraukan perkataan Hyungsuk yang meluncur tak ada hentinya seperti bebek.

Cerewet sekali, katanya dalam hati.

Suzy sudah tak bersemangat lagi dengan lelaki manis ini. Yang dia inginkan sekarang hanya Jongin, Kim Jongin, dan Jong In.

Suzy tak ingin berbicara saat ini. Tak ingin diganggu, akhirnya ia melangkahkan kakinya keluar café. Hyungsuk memanggilnya, tapi tak kunjung dihiraukanya. Hyungsuk menarik tangannya. Bertanya kenapa Suzy meninggalkannya. Dan macam-macam pertanyaan tak penting lainnya.

Hyungsuk mengikuti setiap langkah Suzy. Lelaki manis itu terus saja berceloteh ria tentang gadis cantik seperti Suzy. Bahkan lelaki itu turut memujinya berkali-kali, tak ada lagi getaran hatinya yang berdegub kencang ketika mendengar pujian dari Hyungsuk. Suzy malah terlihat tak berminat dengan semua yang Hyungsuk bicarakan.

Kesabaran Hyungsuk sudah berada dipuncak. Dia langsung menarik Suzy untuk berhadapan dengannya. Tak ada lagi senyuman manis yang selalu menghiasi wajahnya, kini hanya terlihat senyuman nakal dibibirnya. Entah apa maksudnya. Tangan besarnya menyeret lengan Suzy. Suzy berusaha meronta. Apa maksud Hyungsuk?

“Kecantikan mu itu akan sia-sia jika tak di perjualkan. Lebih baik kau ikut aku. Kau akan ku pekerjakan, dan kau akan mendapat jatah yang sangat besar. Dalam sebulan kau bisa mendapat miliyaran juta, menggiurkan sekali bukan?” Kata Hyungsuk menjelaskan dengan senyuman nakalnya.

“Apa maksudmu?”

“Kau bodoh sekali, Bae Suzy. Ayolah, lebih baik kau ikut denganku. Bekerja untukku, kau akan kaya secara cepat jika kau menerima tawaranku.”

“Pekerjaan apa?” tanya Suzy terlihat tak bersemangat. Jujur saja, Suzy sangat tak tertarik dengan apapun itu tentang kekayaan. Hidup sederhana yang dijalaninya sudah terasa memuaskan untuknya.

“Kau ikut aku saja, nanti juga kau akan tahu.” Paksa Hyungsuk.
“Aku tidak berminat, maaf. Dan tolong lepaskan tanganku.”

“Tidak ada kata penolakan, nona.” Senyum nakalnya kembali berkembang. Ia menyeret Suzy kearah mobilnya yang cukup mewah.

Untung saja, daerah ini cukup sepi. Sepi? Tentu saja sudah sepi, karna waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan malam. Suzy merintih. Jantungnya berdegup kencang. Apa Hyungsuk akan menjualnya? Suzy terlihat takut, tangisan bahkan sudah menjadi-jadi. Dia terus berteriak. Tapi tak ada satu pun orang yang membantunya. Suzy menutup matanya sejenak, mencoba berharap akan ada keajaiban yang membantunya.

Entah bagaimana, genggaman Hyungsuk yang kuat tadi terlepas. Terdengar teriakan kencang dari Hyungsuk, ketika Suzy membuka matanya. Hyungsuk sudah terkapar lemah di jalanan. Ia menengok keatas, dan mendapati Jongin berdiri didekat Hyungsuk. Rupanya, Jongin telah menedang Hyungsuk hingga Hyungsuk terjatuh.

“J..jongin-ah.” Gumamnya. Akhirnya, ia melihat Jongin. Jongin tetap seperti biasanya. Tetap dengan wajah datarnya.

Ketika Suzy hendak berlari mendekati Jongin, Hyungsuk bangkit dan memukul wajah Jongin. Jongin mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Suzy berteriak. Rasanya dia ingin menangis lagi melihat Jongin dipukul seperti itu. Tapi Jongin tak lemah, dengan cepat dibalasnya pukulan Hyungsuk. Hyungsuk memutar tangan kanan Jongin yang hendak memukulnya. Jongin beteriak kesakitan.

Akhirnya, setelah bertahun-tahun mengenal Jongin, baru kali ini Suzy mendengar suara Jongin. Ya, walaupun hanya teriakan.
Jongin sudah terkapar di bawah. Hyungsuk memukulinya berkali kali, tak memberi celah sedikitpun untuk Jongin. Suzy sudah menangis. Hatinya sakit melihat Jongin dipukuli seperti itu. Dia benci lemah seperti ini. Suzy ingin membantu Jongin. Tapi ia tak bisa melakukan apapun.

“KAU SELALU MERUSAK TARGET KU, KIM JONGIN!” teriak Hyungsuk penuh emosi sambil terus memukuli Jongin yang berada dibawahnya.

Suzy mendapat ide, tangannya sibuk mecari-cari ponselnya. Ia menghubungi kantor polisi. Bodoh. Disaat sudah begini barulah dia mendapat ide. “TOLONG!!!!” Teriak Suzy kencang saat sambungannya terangkat. Spontan Hyungsuk yang sibuk memukuli Jongin menoleh kearah Suzy. Kesempatan ini digunakan Jongin dengan sangat baik. Kali ini, dialah yang berada di posisi atas. Kalau kau mengira Jongin akan memukuli Hyungsuk, maka kau salah besar. Jongin mengambil tali yang tersedia di kantong celananya. Jongin mengikat kedua tangan Hyungsuk, dan juga kakinya. Penuh perjuangan untuk mengikat Hyungsuk, lelaki bertubuh jakung itu terus saja bergerak.

Suzy masih menangis, walaupun tidak sekencang tadi, tapi isakannya masih terdengar. Suzy mendekati Jongin yang sibuk mengikat Hyungsuk.

“Jongin-ah… Maaf..” kata Suzy pelan.

“Sekarang bukan waktu yang tepat untuk meminta maaf.” Sahut Jongin. Suzy terbelalak, baru kali ini ucapannya dibalas oleh Jongin. Betapa senangnya hatinya kali ini.

Ketika suara sirine mobil polisi terdengar, Jongin pun telah selesai mengikat Hyungsuk. Bodoh, telat sekali.

Jongin melirik Suzy, lalu mendekati gadis itu. Mengankat Suzy untuk kembali berdiri. “Kau tak apa-apa?” tanya nya lembut. Suzy tertegun. Suara Jongin cukup untuk menghipnotisnya. Manis sekali. Jongin tersenyum ketika mendapati wajah Suzy yang kebingungan.

“Kau bodoh! Seharusnya aku yang bertanya seperti itu! Kenapa kau tak menjemput ku sekolah tadi? Kenapa kau tidak masuk sekolah tadi? Apa kau tidak tahu jika aku begitu khawatir?” semprot langsung Suzy tanpa ada rem.

Jongin kembali tersenyum, dituntunnya Suzy menuju mobilnya.

Sepanjang perjalanan pulang mereka terus terdiam, seperti biasanya. Tak ada satupun dari mereka yang ingin menghapus kesunyian itu. Sebenarnya, suzy ingin sekali mengajaknya ngobrol. Suzy ingin mendengar suara Jongin seperti tadi. Tapi entah kenapa suzy merasa gugup.

20 menit kemudian, mobil yang dikendarai Jongin berhenti. Jongin keluar dari mobilnya dan membukakan Suzy pintu dengan tersenyum. Entahlah, Suzy merasa Jongin murah senyum hari ini. Suzy juga baru menyadari jika senyuman Jongin itu manis sekali.

Suzy masih bingung dimana dia dan Jongin berada saat ini yang dilihatnya hanyalah pohon-pohon dan jejeran bangku-bangku. Jongin Menuntunnya untuk duduk disalah satu bangku dibawah pohon pinus, didepan bangku itu terdapat danau, indah sekali. Suzy merasa mengenali tempat ini. Ia tak salah, ia merasa pernah kesini sebelumnya,dan hatinya mengatakan jika ini adalah tempat bersejarah untuk hatinya.

Jongin tersenyum lagi, “Duduklah.” Katanya sambil menepuk nepuk kursi kosong disebelahnya. Masih dengan wajah bingung, Suzy menurut. “Apa kau merasa tak asing dengan tempat ini?” Tanya Jongin. Suzy mengangguk. “Merasa pernah punya kenangan indah di tempat ini?” Suzy kembali mengangukkan kepalanya. “Tapi kau tidak ingat apa itu?” kepala Suzy mengangguk lagi untuk ketiga kalinya. “Ingin tahu? Coba kau tutup matamu, dan renungkanlah apa yang pernah terjadi disini dengan pikiran tenang.”

Suzy terlihat ragu. Tapi dia mengikuti perintah Jongin. Dia menutup matanya,mencoba membuat pikirannya tenang. Setelah lima belas menit mencoba barulah pikiran Suzy terfokuskan. Samar-samar dia pun mulai mengingat apa saja kenangan itu.

-ArXia-

Dua belas tahun yang lalu, Suzy kecil tampak kebingungan dengan orang-orang disekitarnya.

Banyak sekali anak-anak seuisa nya sedang bermain,namun tak ada satupun yang dikenalnya. Suzy ingin bergabung dengan beberapa anak kecil itu, tapi tak ada satu pun dari mereka yang menghiraukannya.
Tiba-tiba, ada anak lelaki yang menyodorkannya permen lollipop.

Anak lelaki itu tersenyum manis pada Suzy.

“Namaku Kim Jong In, tapi cukup panggil aku Kai, ya?” katanya sembari memposisikan dirinya duduk disamping Suzy.

“Kok dipanggil Kai?” Tanya Suzy sambil berfikir.

“Itu nama pemberian kakekku. Unik bukan?”

“Aneh!” kata Suzy spontan. Jongin kecil terlihat kesal namun sedetik kemudian wajahnya kembali cerah.

“Bidadari, ikut aku ya?”

“Kemana?”

“Ikut saja!” katanya sambil menarik tangan Suzy. Mereka berlari sambil bergandengan tangan, sambil sesekali tertawa bersama akibat kata-kata lelucon yang diungkapkan Jongin.

Tanpa terasa, meraka sudah sampai di tempat yang ditunjukkan Jongin. Suzy terlihat kagum dengan pemandangan danau itu, banyak bunga teratai menghiasi permukaan danau itu.

“Kita dimana?” Tanya Suzy masih dengan wajahnya yang berseri-seri.

“Tidak tahu. Yang ku tahu ini adalah tempat yang biasa kami kunjungi.”

“Kami?”

“Aku dan kakekku. Dari aku kecil dia sering mengajakku kesini, katanya tempat ini bisa menjadi tempat yang indah untukku.” Kata Jongin menjelaskan dengan senyuman yang berkembang dibibirnya.

“Oh ya? Dimana kakekkmu?” Tanya Suzy terlihat antusias.

“Dia ada dilangit.” Jongin berkata sambil menujuk awan yang cerah dilangit.

“Maksudmu?” Tanya Suzy tak mengerti.

“Kata Eomma, jika orang sudah meninggal, maka tempatnya selanjutnya adalah diatas.”

“Kakekmu sudah meninggal?”

“Dua minggu yang lalu.” Kata Jongin enteng. Tak ada rasa kesedihan sedikitpun yang terlihat.

“Kau tak sedih?” Tanya Suzy heran. Biasanya orang akan sedih jika orang yang disayanginya meninggal.

“Tidak. Untuk apa aku sedih? Kakek selalu ada disini, dihatiku. Menemaniku.” Tunjuk Jongin pada hatinya. Dia tersenyum, senyum yang membuat siapapun akan ikut tersenyum, termasuk Suzy. Lalu dia meraih tangan Suzy,mencoba melingkarkan kelingkingnya dengan Suzy.

”Bidadari, apa kau ingin berjanji?”

“Berjanji?”

“Berjanji untuk menemaniku. Menjadi kawanku?” Suzy mengangguk. Lalu mecoba membantu Jongin untuk menyatukan kelingking mereka. “Aku akan berada disisimu selalu.” Kata Jongin penuh makna. Suzy tersenyum, kemudian mereka berdua tertawa bersama.

-ArXia-

Malam itu, saat Jongin dan Suzy telah beranjak remaja. Pancaran wajah Suzy mampu menghipnotis mata Jongin. Dia terlihat bingung bisa menemukan Suzy malam-malam dengan keadaan begitu. Suzy terlihat mengenaskan, dengan kedua mata yang sembab,rambut yang berantakan tak disir, Suzy berjalan gontai. Jongin tanpa menunggu apa-apa langsung menghampirinya,menuntun Suzy untuk berjalan. Air mata terus-terusan mengalir tanpa ada rem. Pikirannya terus terpusat pada perkelahian kedua orang tuanya yang dilihatnya tadi. Saling menghujat, saling menyalahkan satu sama lain, bahkan Ibu nya terlihat melempar apapun yang dilihatnya pada ayahnya. Apa mereka tak malu bertengkar di depan anaknya?

“Kau kenapa?” Tanya Jongin khawatir. Suzy tak menjawabnya, hanya tetesan air mata yang terus jatuh di pipinya.

Jongin menuntun Suzy ke tempat janji kecil mereka terucap. Keduanya duduk dalam damai, air mata Suzy sudah berhenti sejak matanya mulai menatap danau yang teduh itu.

Hembusan angin malam meniupi helaian rambutnya, ia merasakan ketenangan meskipun pusing dikepalanya maisih belum hilang akibat beberapa botol soju yang diminumnya tadi untuk menghilangkan kesedihannya.

“Kau ingat tempat ini?” Tanya Jongin membuka pertanyaan. Suzy menggeleng. “Kau benar-benar sudah melupakan tentang itu ya?” katanya terlihat kecewa. Suzy menengok, ia terlihat bingung dengan apa yang diucapkan lelaki dingin dikelasnya itu. Dia juga baru tahu jika lelaki itu bisa berbicara. Suzy menggeleng untuk kedua kalinya.

“Aku tak mengerti maksudmu.”

“Sembilan tahun yang lalu, saat kita masih berusia 7 tahun, kau pernah berjanji untukku, disini.”

“Benarkah? Apa itu?”

“Kau akan berjanji untuk selalu menemaniku,menjadi kawanku. Tapi setelah itu kita tak pernah bertemu lagi. Setiap hari aku menunggu disini, menunggu kau akan datang dan bermain denganku. Tapi kau juga tak kunjung datang. Aku tidak pernah melupakan mu walaupun saat itu aku tidak mengetahui namamu. Saat memasuki SMA, aku menemukanmu. Walaupun kau sudah banyak berubah dari waktu itu, tapi aku tidak pernah melupakan keindahan matamu. Matamu tetap sama seperti waktu itu. Aku ingin sekali menyapamu. Tapi sepertinya kau tidak mengingatku.” Cerita Jongin.

“Kai…kau kah itu?” Jongin tersenyum, rupanya suzy masih mengingatnya! Jongin mengangguk bahagia. “Maaf…”

“Tidak perlu. Sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi padamu hingga kau seperti ini? Kau kan kawanku,”

“Orang tua ku. Mereka terus bertengkar. Aku sedih melihat pertengkaran mereka, rasanya aku ingin berteriak menghentikan pedebatan mereka yang tak ada ujungnya itu. Tapi aku tak bisa, yang ku bisa hanyalah menangis. Mereka bahkan tak pernah memperdulikanku lagi.” Ada pancaran kesedihan yang terlihat dimata indahnya.

Jongin meraih puncak kepala Suzy, menyandarkannya dibahunya. “Aku berjanji akan selalu menemanimu.” Katanya sambil mengusap lembut rambut Suzy yang berantakan. “Kau tahu Suzy, sebenarnya aku tak ingin hanya menjadi kawanmu. Aku ingin menjadi orang yang akan selalu melindungimu.” Katanya, dilirknya Suzy yang sedari tadi terus diam. Ketika menengok, ternyata Suzy tertidur di bahunya yang nyaman. Sejak saat itu, Jongin berjanji akan selalu menjaga gadis itu dalam keadaan apapun.

Dan sejak itu juga, Jongin mulai mengikuti kemana langkah Suzy, menemaninya walaupun Suzy tak mengingat dan melupakannya lagi. Memang, malam itu Suzy dalam keadaan buruk.

-ArXia-

“KAI?” pekik Suzy setelah menerawang jauh tentang kenangan-kenangan yang pernah terjadi antara dia dan Jongin. Jongin mengangguk. “Kenapa kau tidak pernah memberi tahu ku?” tuntur Suzy meminta penjelasan.

Jongin terlihat menggeleng, “Aku tidak ingin memaksamu. Cukup kau aman, aku sudah tenang.”

Tetesan air mata Suzy kembali mengalir. Sebegitu pedulinya kah Jongin padanya? Suzy memeluk Jongin sambil tersedu-sedu. Jongin membalas pelukannya, mengusap punggungnya,mencoba menghentikan tangisan Suzy yang semakin menjadi-jadi.

“Maaf tentang kata kasarku kemarin, maaf aku melupakanmu..” katanya dengan nada bergetar. Suzy melepas pelukannya. Dia menatap Jongin dalam. “Tentang Hyungsuk, apa kau mengenalnya?”

“Hyungsuk? Oh lelaki bajingan itu. Tentu. Dia pernah memaksa kakak sepupu ku untuk dijadikan targetnya sebagai pelacurnya. Dia memang begitu. Aku sudah hafal caranya mencari target. Makanya aku langsung menarikmu pulang kemarin,”

“Maaf..” ucap Suzy untuk kesekian kalinya.

“Sudahlah minta maafnya. Aku bosan mendengarnya.” Kata Jongin sambil tersenyum.

Suzy mencium pipi Jongin dengan kilat, setelah sadar apa yang telah dilakukannya, Suzy membuang muka, merasa bodoh atas apa yang diperbuatnya. Jongin tersenyum, tangannya meraih wajah Suzy, bibir Jongin mendarat di pipi kanan Suzy, membalas kecupan hangat yang terjadi beberapa detik yang lalu.

-ArXia-

Esok harinya, kedua nya melangkahkan kakinya bersamaan. Kedua tangan mereka saling bertautan. Jika biasanya, Jongin hanya berjalan dibelakang Suzy. Kini terlihat beda,mereka berjalan beriringan dengan kedua tangan mereka yang terus menyatu. Ada semburat berwarna merah jambu yang mewarnai pipi mereka.

Meskipun diam,tapi mereka terlihat mesra seperti itu.

Sejak malam kemarin, Suzy telah berjanji untuk tak melupakan lelaki yang setia menemaninya itu. Dan baru kali ini dia merasakan perasaan berbeda. Debaran jantung yang berdegup kencang, mungkin inikah yang dinamakan cinta? Entahlah.[]

-ArXia-

Author’s Note: Jangan tanya apa hubungan poster dengan isi ff nya, okay?

21 thoughts on “Freaky Stalker (Oneshot)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s