[DRABBLE] Do You Want Some?

do you want some

Do You Want Some?

By Atikpiece

|| Main Cast : Kang Seungyoon and You || Genre : Fluff, Romance || Rated : Teen || Duration : 5 Drabbles || Desclaimer : Plot and story is mine. Don’t copy and repost without permission ||

.

.

©2014

.

“Segalanya terasa begitu indah, karenamu.”

.

.

cupcakes

Do You Want Some? : Cupcakes

 

 

Hari itu Seungyoon-mu sedang sibuk, bahkan teramat sangat sibuk sampai selama dua puluh hari berturut-turut kamu tidak bertemu mata dengannya secara langsung akibat pekerjaannya sebagai artis pendatang baru. Kamu kesal bukan main, karena semenjak Seungyoon terkenal, kamu merasa bahwa pria itu telah melupakanmu. Pun tidak memberitahukan kabarnya padamu barang sedikitpun. Meski kamu sudah membuktikannya lewat televisi bahwa ia baik-baik saja, tetapi bagimu, itu tidaklah cukup untuk memastikan jika pacarmu memang dalam keadaan baik selama di New York.

“Maafkan aku. Aku sedang sibuk. Kamu tunggu saja ya, minggu depan aku akan pulang. Dah.”

Cih. Pulang apanya? Bahkan ini sudah kelewat seminggu.

Kamu mengambil foto pria itu di meja nakas, mengetuknya malas. Menghela napas sedemikian rupa. Suatu saat kamu merasa begitu merindukan ketika ia tersenyum cerah ke arahmu, membicarakan hal-hal menyenangkan termasuk mengajakmu piknik ke daerah perbukitan, merindukan genggaman tangannya di lenganmu, kecupan manisnya di pipimu, kekehan dan candanya yang membuatmu dapat tersenyum dan tertawa di detik itu juga, lalu meneleponmu larut malam karena mengalami insomnia mendadak. Kemudian membayangkan ia datang ke rumahmu, memberikan senyum secerah mentari dan memelukmu erat, tertawa bahagia di dekat telingamu, lalu berakhir dengan—

—memasak cupcake bersama.

Huh, bodoh. Itu sudah lama sekali.

Dia pasti lupa.

Kamu berbaring di ranjangmu, berguling ke sana ke mari tanpa tujuan. Suasana sepi menyelimuti sekitar dua jam lewat dua puluh menit tiga puluh detik yang lalu, dan terus menerus membuatmu membuang napas. Seharusnya siang ini orang itu sudah berdiri di depan pintu, menekan bel kemudian meneriakkan namanya sendiri seolah kini adalah hari paling menyenangkan dalam hidupnya. Seharusnya hari ini kamu tidak perlu repot-repot menghentakan kakimu berulang kali demi merutukki dirinya. Seharusnya kamu tidak marah ketika dia tidak menghubungimu. Seharusnya sih begitu.

Seharusnya…

 

TING TONG!

 

 

“Halo, di sini Kang Seungyoon. Aku pulang!”

Kamu terperanjat, hampir tidak memercayai telingamu bahwa kamu baru saja mendengar suaranya. Degup jantungmu seketika begitu kentara. Kelopak matamu berhenti berkedip, senyum bahagia menghiasi wajahmu,pun mengambil langkah lebar-lebar menuju pintu kemudian membukanya. Sosok yang kamu inginkan di sisimu telah datang, membawa kantong plastik penuh bahan makanan seraya tersenyum memperlihatkan deretan giginya. Entah kamu merasa bahwa hari ini Seungyoon-mu agak kurusan, tetapi tidak menutup kemungkinan jika rasa rindumu kini begitu membuncah hingga harus memeluknya sangat erat. Demikian pula dengan lengannya yang senantiasa melingkar di punggungmu.

“Menungguku, ya?”

Kamu memanyunkan bibirmu, mendesah pelan. “Tentu saja, bodoh! Kenapa lama sekali?”

“Maafkan aku, akhir-akhir ini aku sibuk sekali.”

Dia melepaskan pelukanmu perlahan, mengusap kedua pipimu seraya tidak melepaskan senyumannya walau sedikitpun. Dan kali ini kamu pun tidak perlu lagi menunggunya sembari bersungut-sungut kemudian mengucapkan sumpah serapah tak berarti. Sebab kamu sudah bertemu dengannya, di depan matamu.

“Sebagai gantinya, aku mau kita memasak.” Dia berjalan ke arah dapur, tanpa memedulikanmu yang tengah berkedip tanpa suara. “Sudah lama kita tidak melakukannya. Entah mengapa aku kangen kue mangkuk mini buatanmu. Rasanya enak sekali, terutama mocca cream yang meleleh di atasnya. Lihat, aku sudah beli banyak. Jadi cepatlah ke sini, aku sudah tidak sabar.”

Kedua kakimu tetap berdiri tegak, bersikukuh untuk tidak bergerak. Kendati pria di ujung sana sudah meletakkan bahan-bahannya dan diatur serapi mungkin. Menyadari jika kamu masih sibuk berdiam diri, dia menoleh, memandangmu sejenak, lalu mendesah memecah kesunyian.

“Ayolah, sayang.” Seungyoon tersenyum senang, mengerling ke arahmu tanpa menunggu bagaimana reaksimu. Kemudian terkikik seiring kepalanya agak dimiringkan.

“Kau benar-benar ingin cupcake, kan?”

Kamu masih diam, tetapi akhirnya kamu tersenyum lebar, dilanjutkan berjalan menghampiri seraya membantu menyiapkan baskom. Membiarkan dia menatapmu sesaat lalu mencium pipimu tidak sampai semenit. Syukurlah, pacarmu masih mengingatmu—maksudnya—cupcake-mu. Terlebih untuk cupcake mocca favoritnya.

 

 

*****

balloons

Do You Want Some? : Balloons

 

 

Minggu pagi yang cerah, kamu bersama Seungyoon-mu berjalan-jalan menikmati hari. Angin semilir menerpa wajahmu, sejuk, sesejuk udara pagi ini yang kamu hirup dengan perasaan bahagia. Bisa melangkahkan kaki bersama pacarmu—atau sebut saja berkencan—selama beberapa jam ke depan adalah momen paling menyenangkan dalam hidupmu, apalagi dilakukan di sekitar taman yang penuh dengan gema suara tawa anak-anak yang berlarian dan banyaknya penjual mainan lucu, pun genggaman tangan Seungyoon yang begitu erat di pergelangan tangan kananmu, menyebabkan sensasi hangat menjalar di dadamu. Rasa senang, gembira, malu-malu, bercampur menjadi satu.

“Ah, Seungyoon, lihat!”

Kamu segera menunjuk ke arah seorang penjual balon yang tengah melayani dua anak laki-laki kembar di sebelah bukit kecil. Mereka merengek, bingung ingin memilih balon yang mana, karena semua bentuk balon itu sama, berbentuk hati, dan yang membedakan hanyalah warna balonnya saja.

“Mereka lucu sekali, ya?”

“H—hm.” Seungyoon tersenyum, lalu mengajakmu melangkah kembali menghampiri mereka. Kamu memperhatikan setiap lekuk wajah pria itu, terlihat begitu menyukai paras si anak kembar yang menggemaskan. Manakala mereka mengerucutkan bibir sembari menerima balon berwarna merah dan kuning secara bersamaan dari penjualnya, kemudian tertawa ceria khas anak-anak. Hal itu pun membuatmu jadi ikut tersenyum, karena kamu tahu, kalian memiliki selera yang sama. Pacarmu menyukai anak kecil, begitu pula denganmu.

“Waah… balon kalian bagus.”

Kedua anak kembar itu berbalik, menatap Seungyoon yang baru saja berbicara pada mereka. Dia lalu berjongkok, mengusap kepala masing-masing bergantian seraya tersenyum simpul, menimbulkan tawa kecil meluncur lewat bibir mungil mereka.

“Terima kasih,” jawab mereka serempak, dan sejurus saja, mereka memandang ke arahmu dengan kedua bola mata mereka yang bulat. Si anak berambut cokelat pun langsung memekik.

“Hei, pacar kakak juga cantik sekali. Kalau aku jadi kakak, aku akan langsung menikahinya!”

Hish, kau ini!” teriak si anak berambut hitam sambil memukul pundak saudara kembarnya hingga mengaduh kesakitan. Seungyoon yang melihat hanya bisa tertawa, sementara kamu merasa bahwa kedua pipimu memanas, hampir menunjukkan semburat merah pada keduanya. Begitu juga dengan detak jantungmu yang makin berdentuman. Tetapi kemudian kamu tersenyum juga.

“Maafkan adikku, ya, kak. Dia memang nakal.”

“Tidak apa-apa, justru apa kata adikmu memang ada benarnya.” Seungyoon mengerling ke arahmu, tertawa, hampir meluluhlantakkan pendirianmu ketika sorot matanya menatap persis pada wajahmu. Akan tetapi kamu bergegas mengalihkan pandangan ke arah beberapa balon warna-warni yang masih bergelantungan di atasmu—atau lebih tepatnya—terikat di atas sadel sepeda si penjual. Terus seperti itu, sampai di detik berikutnya kedua anak kembar itu pergi, tergantikan oleh kehadiran Seungyoon yang mendekatimu kemudian menatap kamu dan balon bergantian.

Do you want some balloons too, dear?

Kamu bergeming.

“Tidak apa-apa. Kalau kau mau, akan kubelikan.” Kamu tidak mencegahnya sedikitpun kendati Seungyoon sudah meraih lima balon berwarna pink dari tangan penjualnya. Lalu memberikannya padamu dengan senyum yang tak akan pernah lepas dari paras ketika kamu selalu berada di sisinya. Kamu tahu jika itu akan memberikan dampak buruk bagi jantungmu, tetapi untukmu, selama kamu masih bisa menatap mata teduhnya, melihat senyuman khas seorang Kang Seungyoon, itu sudah cukup bagimu.

“Warna merah muda identik dengan wanita. Menunjukkan pribadi yang ceria, lucu dan penyayang. Sepertimu.”

Kamu membiarkan tubuh Seungyoon meminimalisir jarak di antara kamu dengannya, menggenggam kedua lenganmu erat, memaksamu untuk menatap dalam manik hazel-nya. Embusan napasnya terasa kentara menerpa wajahmu, membius agar kamu tak melepaskan pandangan barang seincipun darinya. Kamu merelakan degup di dadamu bergejolak, memandangi senyum Seungyoon yang kian memesonakan, menenangkan, menarik hatimu.

“Aku mencintaimu.”

Matamu mengerjap berulang kali, sampai kamu tersadar, Seungyoon mencium bibirmu. Terlampau lama, dan merasa Tuhan telah menghentikan waktu hanya untuk membiarkan jemari kalian saling bertautan.

 

 

*****

hats

Do You Want Some? : Hats

 

 

“Ahaha. Astaga, Seungyoon-ah! Kenapa kau lucu sekali, sih?”

Kamu tertawa cukup lantang saat melihat foto masa kecil Seungyoon di ruang tamu apartemennya. Sementara Seungyoon cuma tersenyum kecut mendapati kamu teramat senang melihat kedua pipinya yang gembul ketika berusia 10 bulan. Matanya yang bulat, kepalanya yang botak, menarik perhatianmu untuk terus membolak-balikkan halaman berulang kali sembari tersenyum. Padahal bagi pria itu, ia sangat malu memperlihatkan foto dirinya sewaktu masih belia di hadapanmu. Ditambah, kamu kepergok melihat fotonya sedang mandi tanpa sehelai popok menghiasi pantatnya, dan dengan tidak bersalahnya, tersenyum sangat lebar ke arah kamera dengan memamerkan pantatnya seakan tanpa dosa.

Alhasil, kamu pun semakin terbahak, dan itu membuat Seungyoon manyun.

“Sudah, jangan dilihat terus, dong. Aku malu, tahu.”

“Hei, seharusnya kau bangga mempunyai wajah setampan ini sejak kecil, Yoon. Bukannya malah malu begitu.” Kamu masih tertawa, tetapi tidak memperhatikan wajah Seungyoon yang sudah semerah tomat, masih sibuk dengan menonton beberapa fotonya yang terpajang apik di setiap halaman. Kamu membiarkan pria itu duduk bersila di sampingmu, memandang surai rambut hingga wajahmu, tetapi kamu sepertinya benar-benar tersihir oleh foto-foto tampan Seungyoon ketika kecil, dan bahkan tidak memandang Seungyoon sedikitpun sampai dia kesal dan mendesah panjang, lebih memilih untuk menyalakan televisi lalu melihat acara musik luar negeri.

Beberapa saat kemudian dia mulai bosan. Tak ada acara yang lebih bagus dari siaran sebelumnya meski berulangkali dia memindahkan channel sampai sepuluh kali berturut-turut. Sekali lagi dia mendesah, menengok ke belakang, dan mendapati kamu masih bergumul bersama album foto yang isinya—menurutnya—teramat memalukan itu. Dalam hati ia menggeram sebal, karena tahu kamu tidak mempedulikannya selama satu jam terakhir. Kamu lebih suka melihat foto-fotonya ketimbang menatap wajahnya, membuatnya makin memberengut.

“Hei, mau sampai kapan kau—”

“Oh astaga, topimu lucu!”

Kerutan di wajahnya seketika menghilang, mendengar kamu kembali bersuara, menarik perhatiannya untuk menghampiri dan melihat foto yang ditunjuk olehmu—Seungyoon yang sedang tersenyum mengenakan topi wol berwarna pink dan hitam bergaris. Topi itu tampak kebesaran, hingga membuat mata Seungyoon hampir tidak kelihatan karenanya.

“Itu pemberian kakekku,” jawabnya ringan, melupakan pemikiran menyebalkan tentang dirimu. “Waktu itu aku benar-benar tidak mau memakainya, tapi karena kakek terus memaksaku, akhirnya aku mengenakannya juga,” tambahnya, kembali tersenyum.

“Aku masih menyimpannya di kamarku, beserta topi-topi pemberian kakekku yang lain. Kau mau mencobanya?”

Kamu menoleh, tersenyum cerah kemudian mengangguk antusias. “Ya, ya. Aku mau.”

Suara-suara berisik pun terjadi di dalam kamar Seungyoon, pun gebrakan yang membuat jantungmu hampir meloncat dari tempatnya. Kemudian sorot matamu kembali tertuju pada Seungyoon yang sedang menutup pintu kamarnya, meringis seraya mengusap pantat dan membawa sekantong plastik penuh dengan topi. Oh, sepertinya dia habis jatuh demi mengambil topi-topi itu, pikirmu seiring memiringkan kepalamu.

Seungyoon lalu duduk bersila di hadapanmu sambil mengeluarkan satu persatu topi dari dalam kantong.

“Sini, kemarikan kepalamu.” Seungyoon memerintah. Kamu menurut, mendekatkan posisi dudukmu dengannya. Kamu pun mencoba berbagai macam topi yang diberikan oleh Seungyoon. Mulai dari topi biasa, topi santai, topi jerami, topi baseball, dan yang lainnya. Semuanya pas untuk ukuran kepalamu, hingga akhirnya tersisa topi wol pink bergaris hitam yang kini berada di genggaman Seungyoon. Dia memakaikannya di kepalamu dengan perlahan, seiring bibirmu yang mengerucut kala topinya sudah terpasang. Seketika Seungyoon bergeming beberapa saat, melihat kamu berkedip berkali-kali, menyebabkannya mau tak mau harus membelalak dan tersenyum lebar akan sikapmu.

“Kau tahu, ternyata topi itu lebih cocok dikenakan olehmu daripada aku.” Seungyoon lagi-lagi memandangmu dengan senyum hangat, membuatmu membeku di tempat dalam hitungan detik.

“Aku suka melihatmu begitu. Habis, kau manis sekali, sih. Aku jadi tambah menyukaimu.”

Seungyoon tertawa lepas, membiarkan mulutmu terbuka sepersekian mili demi mencerna kalimat yang berbahaya dari pria itu. Ya, berbahaya. Berbahaya bagi jantung juga otakmu. Ditambah kini, wajahmu semakin memerah, karena Seungyoon tiba-tiba memelukmu tanpa berkata apa-apa.

 

*****

clothes

Do You Want Some? : Clothes

 

“Bagaimana menurutmu? Bagus tidak?”

Kamu berputar ke sana ke mari, memperlihatkan tiap bagian kemeja cokelat kotak-kotak dengan setelan hotpants hitam yang kamu kenakan di depan Seungyoon. Hari ini kamu dan pria itu pergi ke mall dekat apartemennya untuk berbelanja pakaian baru di musim semi mendatang. Karena liburan musim dingin sepertinya akan segera berakhir, kamu pun mengajak Seungyoon pergi, demi memanfaatkan uang hasil kerja sambilanmu di kedai kopi yang terletak di seberang jalan. Lagipula, Seungyoon sedang tidak ada jadwal kerja. Jadi, dia bisa bebas menemanimu seharian.

“Hm, oke. Ukurannya sangat pas untukmu. Aku suka.”

Kamu tersenyum senang, sembari memperhatikan motif yang ada di kemeja, sedangkan Seungyoon tersenyum pula memandangimu semenit kemudian dan berkata, “Tapi, akan lebih bagus kalau kau juga mencoba yang lainnya. Pasti ada yang lebih keren.”

Kamu mengangguk, kemudian mulai mencari pakaian yang lain.

Seungyoon duduk di bangku yang telah disediakan di area baju seperti hoodie, jaket, blazer, jas dan baju senam, menunggu kamu selesai mencoba berbagai macam pakaian yang dipilihkan olehnya sebelum masuk ke kamar pas. Dia tampak senang melihatmu berputar di depan cermin, menunjukkan pakaian yang kamu kenakan di hadapannya, sekaligus memamerkan tiap lekuk tubuh semampaimu hingga dia hanya mampu tersenyum memandangimu. Apalagi ketika kamu mengenakan baju putih tanpa lengan, dengan ikat pinggang yang melekat di badanmu disertai setelan rok berwarna pastel selutut. Dia merasa kamu bukanlah manusia, karena kamu tersenyum cerah layaknya bidadari. Sangat cantik.

“Apakah sudah selesai? Kau tidak mau membeli yang lain lagi?” tanyanya, saat kalian sudah keluar dari mall dan melakukan perjalanan pulang ke apartemenmu. Kamu melihat barang belanjaanmu yang sedemikian banyaknya bergantian, pun barang yang kini dibawa Seungyoon, lalu menengok ke arahnya, tersenyum tanpa berkedip. “Tidak, sepertinya sudah cukup. Terima kasih sudah menemaniku.”

Kamu berjalan beriringan dengannya sesekali melirik ketika tatapan Seungyoon terarah ke depan. Senyum manis tersungging kala manikmu mengerjap, mengetahui bahwa pria di sampingmu juga menoleh ke arahmu, balik tersenyum, disusul berusaha meraih pergelangan tangan kananmu kemudian menggenggamnya erat. Kamu senang bukan main, karena kamu bisa menikmati akhir musim dingin dengan berjalan bersamanya, sekalipun kamu harus merapatkan mantelmu akibat udara dingin yang menusuk tulang, kendati hampir mendekati musim semi. Walau bagaimanapun, Seungyoon akhir-akhir ini sangat sibuk untuk mempersiapkan album barunya, dan mendapatkan waktu luang sehari saja sudah menjadi surga dunia bagimu untuk melakukan hal-hal menyenangkan. Seungyoon suka jika kamu berada di sisinya, selama kalian masih bisa untuk saling bertemu. Terlebih kamu harus mempergunakan kesempatan itu sebaik mungkin, itupun jika keadaan memang mendukung.

Di sela lamunanmu, langkahmu tiba-tiba berhenti, saat kamu sudah tidak merasakan genggaman tangan Seungyoon di pergelangan tanganmu. Kamu bingung, kemudian berbalik, memandang sosoknya yang kini tengah terdiam di depan etalase toko, memandangi sesuatu yang membuatnya takjub.

Sebuah gaun pengantin dengan warna putih bersih sebersih salju, dilengkapi dengan motif mawar merah di bagian dada kiri serta sepasang sarung tangan di bawah kain gaun yang terjuntai panjang ke bawah. Tidak lupa sebuah bando putih dengan kain pita bermotif berada di atasnya. Cukup sederhana, tetapi memikat.

“Ada masalah?”

“Tidak ada.” Seungyoon menjawab, masih terpaku dengan gaun di depannya. “Tapi, sepertinya suatu saat aku akan membeli gaun itu.”

“Kenapa?”

Kamu menatap Seungyoon saksama, menunggu sampai pria itu menengok ke arahmu. Manakala maniknya menatapmu dalam sembari tersenyum, tubuhmu seakan tersengat listrik jutaan volt dalam waktu singkat.

“Sebab dari semua pakaian yang kau beli ini, kurasa kau akan lebih cantik jika memakai gaun itu, di pernikahan kita nanti.”

Kelopak matamu membola. Di kedua pipimu pun muncul semburat merah, mendukung degupan yang kian membuatmu kalang kabut untuk menenangkannya. Kamu hampir tidak menyangka bahwa Seungyoon baru saja mengucapkan kalimat sakral, semenjak kamu merasakan napasmu tercekat di tenggorokan sampai pria itu meraih bahu kirimu.

“Kau mau menikah denganku, kan?”

Kamu tidak menjawab, membiarkannya bergegas mengecup bibirmu secepat kilat hingga kamu meyakini bumi telah berhenti berputar. Hanya menyisakan kamu dan Seungyoon yang saling menatap di sepanjang perjalanan.

 

 

*****

aegyeo

Do You Want Some? : Aegyeo

 

 

“Dasar bodoh, bagaimana bisa kau tidak lulus ujian menyetir, sayang?”

“Hei, kau! Kenapa kau tidak datang ke pesta ulang tahunku? Kau berjanji akan datang, kan? Dasar pengkhianat!!”

“Yak! Di mana boneka yang kupesan? Ini sudah mencapai deadline, sialan! Bagaimana bisa aku memercayaimu kalau kau terus seperti ini?!”

BUK!

Kamu membanting ponselmu amat keras ke arah ranjang seraya mencoba menahan sakit di dadamu. Kamu berusaha untuk tidak mengeluarkan air matamu kendati nada menggertak di ujung sana semakin membuatmu frustasi. Akan tetapi kamu merasa tidak sanggup, dan membiarkan cairan bening itu tumpah membasahi pipimu. Diawali dengan kamu yang dimarahi habis-habisan oleh ayahmu akibat mobil kursus yang kamu kendarai secara tak sengaja menabrak seorang pejalan kaki hingga terpelanting tak jauh darimu, dan kamu harus menanggung biaya pengobatannya yang sama sekali tidak sedikit. Kemudian dimaki sedemikian rupa oleh teman masa kecilmu—Baek Suji—karena minggu lalu kamu tidak datang ke pesta ulang tahunnya sebab terhambat oleh kerja paruh waktumu. Dan lagi, kamu membiarkan rekan kerjamu mengumpat kepadamu sampai berjuta kali lebih menggelegar dibanding volume suara Hulk yang sedang marah, karena janjimu akan mengirim boneka panda kepadanya tidak kamu tepati.

Kamu marah. Kamu kesal. Kamu ingin menangis sejadinya.

Padahal kamu tahu, hari ini adalah hari ulang tahunmu.

Dan semua orang melupakannya.

Kamu merebahkan diri ke ranjang, menatap langit-langit dengan masih menyisakan sebutir air mata menitik di ujung matamu. Seharusnya malam ini adalah malam paling membahagiakan di usiamu yang sudah delapan belas tahun, dan semestinya kamu mendapatkan banyak ucapan dan do’a dari teman-temanmu agar kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, lalu mendapatkan banyak hadiah mengesankan. Tetapi segala harapanmu lenyap, dan membuatmu mencelos jika hari ini adalah hari ulang tahun paling menyebalkan dalam hidupmu, titik.

 

 

PIIP!

 

 

“Halo, ini Kang Seungyoon. Ada apa denganmu? Kenapa semua pesanku tidak kau balas?”

 

 

Kamu membelalak, sekaligus mengecek kotak pesanmu. Ada sebelas pesan masuk, dan semuanya dari Seungyoon.

 

 

“Bukankah seharusnya kau bahagia dengan hari ini? Hm, aku merasa perasaanmu berkata sebaliknya.”

 

 

Ya. Benar-benar ‘ya’.

Kamu tersenyum miris setelah mendengar pesan suara Seungyoon yang kedua. Entah kamu merasa jika kamu mengalami kontak batin dengan pria itu, sehingga dia selalu tahu bagaimana perasaanmu meski tidak melihat dengan mata kepala sendiri. Dia jenius, kamu tahu.

 

 

“Oke, daripada kau bersedih, lebih baik sekarang kau mengecek email-mu. Ada sesuatu yang bagus di sana, dan aku yakin kau pasti suka.”

 

 

Kamu berpaling ke arah komputermu yang menyala, bergeming sejenak lalu bergegas duduk menghadap layar. Kemudian cepat-cepat memasukkan kata sandi email-mu. Kamu benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya pria itu ingin tunjukkan kepadamu, kendati Seungyoon adalah sosok yang jarang memberikan surprise kepada orang lain, termasuk kamu. Dia hampir tidak pernah melakukannya meski untuk kedua orang tuanya tercinta sekalipun. Dan tanpa mengulur waktu, kedua bola matamu menangkap tiga buah email yang masuk. Dari Seungyoon, dengan judul subjek : Untuk pacarku tercinta

Kamu segera membuka email pertama, terlihat ada banyak foto wajah Seungyoon yang teramat sangat konyol di matamu. Seluruhnya menunjukkan wajah Seungyoon yang belepotan, lalu membentuk hidungnya seperti babi, memelintir bibirnya sekonyol mungkin, menarik kantung matanya supaya tampak seperti hantu, memotret wajahnya dengan jarak sedekat-dekatnya, melongo seraya membesarkan ukuran hidungnya, memaksakan diri agar membikin wajahnya menjadi tak beraturan, aneh, jelek, tidak sedap dipandang, hingga membuatmu membungkap mulutmu sendiri, menekan perutmu, hendak tertawa.

 

 

“Ah ah ah, jangan tertawa dulu. Masih ada banyak gambar yang harus kau lihat.”

 

 

Kamu tersenyum penasaran, segera membuka email kedua. Dan yang lebih parahnya, kamu benar-benar tidak bisa menahan tawamu ketika foto itu memperlihatkan Seungyoon tengah mengenakan daster ibunya, mengubah rambutnya menjadi gimbal, berlagak seperti orang hamil, ditambah foto lain yang menunjukkan Seungyoon tengah mengenakan topi bayi, berjongkok di ranjang seraya mengemut dot dengan serampangan. Alhasil, kamu tertawa begitu keras hingga kamu mendengar tetanggamu memekik karena keberisikanmu.

Toh, siapa yang peduli. Yang terpenting adalah kamu harus mengakui, bila pacarmu benar-benar jelek sekarang.

Kamu pun memegangi perutmu karena lelah terus menerus tertawa. Walaupun masih banyak foto-foto Seungyoon lainnya yang ingin kamu tonton, tetapi di sisi lain, melihat pengorbanannya yang ingin menghiburmu, kamu merasa bahwa pria itu seakan telah menjadi seorang penolong kotak tertawamu ketika kamu bersedih, menjadi sosok yang paling bisa kamu andalkan ketika kamu membutuhkannya. Menjadi seseorang yang akan selalu ada kapanpun dan dimanapun, selama dia masih mampu menelaah perasaan orang yang menurutnya begitu penting.

Sampai akhirnya kamu melihat email yang terakhir. Memperlihatkan Seungyoon tengah berpose sangat manis sambil mengerucutkan bibirnya. Dia juga mengenakan topi hitam bertuliskan “Happy Birthday” berwarna pink, selaras dengan baju kotak-kotak yang dia kenakan. Pun pita merah besar yang menggantung di kerah kemejanya. Sangat teramat manis jika kamu benar-benar ingin mengakuinya di hadapan Seungyoon saat itu juga.

Kamu tersenyum sangat lebar, meyakini bebanmu seolah hilang dalam beberapa saat. Sempat terpikirkan olehmu ketika kamu melihat ada beberapa tulisan di bawah fotonya. Selayaknya ucapan selamat ulang tahun pada umumnya, tetapi kamu menganggap tulisan itu adalah ucapan paling spesial yang pernah kamu baca. Meski saat ini kamu tahu Seungyoon-mu tengah memetik karir di Jepang selama dua bulan terakhir, namun dia selalu menekankan dalam hatinya, bahwa kamu begitu berarti. Kamu adalah hidupnya, dan dia akan selalu bersamamu selama kamu masih dapat menghirup udara menjelang esok hari.

.

.

Selamat ulang tahun, dear.

Semoga kamu akan selalu baik-baik saja di bawah naungan Tuhan. Aku senang sekali bisa mengenalmu selama ini, hingga akhirnya kamu benar-benar telah menjadi milikku, dan memposisikanmu sebagai salah satu orang yang paling kucintai.

Aku merasa bahagia berada di dekatmu, aku pun bahagia ketika kamu tertawa menatapku. Aku bahagia melihatmu tersenyum, dan aku bahagia di saat kau selalu bisa membuat jantungku meloncat ke manapun ketika melihat tingkahmu.

 

 

Terima kasih telah menjadi bagian hidupku yang paling penting.

 

 

Aku mencintaimu.

 

 

-fin-

 

A/N : Halooo~! ketemu lagi sama saya :D bagaimana ficnya? Ugh, kayaknya agak aneh ya ._. karena bikinnya aja kebut. Tapi, saya benar-benar mengharapkan krisan dari kalian. Jadi, dikomen boleh, ya? :D :D

6 thoughts on “[DRABBLE] Do You Want Some?

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s