Kilauan Senja – Chapter 4

Kilauan SenjaKiran storyline

Title  :  Kilauan Senja – Chapter 4 ||  Cast  :  Lee Junho (2PM) & Kim Sohyun (Actress)  ||  Support  Cast  :  Nickhun Horvejkul (2PM), Ok Taecyeon (2PM)  ||  Genre  :  Angst, Romance, Action  ||  Rating  :  PG-16 ||  Length  :  Chapter

Summary:

Ia takut kalau-kalau senyum perempuan itu pudar. Walaupun miliknya telah lapuk dan berubah bentuk, ia tetap yakin memang di situlah senyum perempuan itu seharusnya berada.

Previous Part  :

Prolog | 1 | 2 | 3

*****

“Aku hamil?” tanyanya kepada seorang wanita berbaju putih di hadapannya. Jadi sekarang, ia mulai membayangkan bagaimana ekspresi yang terpancar di raut mukanya ketika mendengar berita yang belum pernah menjadi keinginannya. Ia hanya menerka-nerka, bagaimana ia seharusnya bersikap setelahnya?

Situasinya berbeda. 

Lee Junho, pria itu sudah sedikit berbeda. Bahkan pernah terlintas beberapa pemikiran untuk mengakhiri jalinan kasih yang tak senonoh ini.

Tapi ini berita yang mencengangkan.

Mendebarkan.

Dan membuatnya takut.

~k~

Jadi, lagi-lagi ia hanya bisa menunggu dan menangis. Saat ia sudah bersusah payah memberikan kejutan, ia hanya dihadapkan pada kenyataan bahwa pria itu tidak muncul di hadapannya sampai selarut ini.

“Kuatkan dirimu, Sohyun. Jangan membuatmu terlihat mengenaskan.”

~k~

“Kau menolak kusentuh?” ucap Junho sedikit emosi. Dia merasa uring-uringan ketika keinginannya tak terpenuhi. “Ada apa?”

“Aku hamil,” ucap perempuan itu getir. Ia menundukkan wajahnya yang kelihatan takut. Ia yakin setelah ini pasti akan ada masalah. Dan… tetap akan begitu jika terdapat sesuatu yang salah.

“Apa?” pria itu juga sama terkejutnya. Tapi lebih ke rasa khawatir. “Sejak kapan?”

“Ini sudah bulan ke dua,” ini pengakuan salah yang menyakitkan. Sohyun tidak percaya bagaimana ia bisa mengatakan dengan jelas tentang sesuatu yang belum tentu disukai Lee Junho. Ia hanya butuh selangkah lagi untuk saling menyakiti… karena situasi ini sudah terbaca dengan lantang bagaimana akhirnya, sampai di mana nantinya, dan apa yang harus dilakukan setelahnya.

“Tidak terlalu beresiko untuk digugurkan. Persiapkan dirimu besok.”

Jadi, ini tanggapan seorang pria yang selalu datang ke cafe tempatnya bekerja hanya untuk sedikit menyegarkan ingatannya tentang seorang gadis yang dirindukannya? Jadi, ini tanggapan seorang pria yang dulu pernah mengeluarkan uang begitu banyak untuk dirinya?

Jadi, ini kan yang disebut pengorbanan dalam arti yang sebenarnya?

Uang yang ditukar dengan harga diri dan nyawa, benarkah ini contohnya?

“Demi Tuhan,” gadis itu terhempas… entah di mana dan bagaimana jatuhnya. Barangkali memang benar, khayalan yang paling mirip pun memang tetap memiliki perbedaan dengan hasil nyatanya. Semirip apapun membayangkan suatu wujud yang tampak nyata, nyatanya kalau sudah basah oleh air mata dan ekspresi yang sesungguhnya, rasanya tetap saja jatuhnya di tempat berbeda—tempat yang jauh lebih menyakitkan dari seburuk-buruknya tempat yang pernah terbayangkan. “Jangan kau suruh aku melakukannya.”

“Aku tidak bisa,” ucap Lee Junho dengan muka datar yang sama. Jenis ekspresi yang maksudnya menolak­—atau lebih tepatnya tidak bisa berusaha—memberikan harapan pada perempuan yang memohon di kakinya.

“Jangan. Lee Junho-sshi, kumohon. Aku bisa pergi dari kehidupanmu sebagai jaminannya. Tolong jangan—­”

“Aku tidak bisa kalau kau mengandung janinku,” Sohyun terdiam. Jadi ia mengerti dan mulai kembali ke posisinya yang bisa saja dianggap menjijikkan oleh Lee Junho. Ia melepaskan pegangannya. Memang benar kali ini perempuan itu runtuh, dan menyedihkannya, saat kenyataan itu menghantamnya, hatinya sama sekali tak hancur hingga ia merasakan pukulan-pukulan itu dengan rasa yang sama saat ucapannya menyentuhnya pertama kali.

Harusnya akan lebih baik kalau hatinya langsung hancur, ia bisa menangis sesuai kebutuhannya. Tapi saat tiba-tiba dadanya terasa sakit, tubuhnya melemas, dan air matanya berhenti, bukankah itu melebihi “rasa yang tak tertahankan”?

Laki-laki itu berlalu. Entah ke mana tujuannya. Yang jelas perempuan itu tak ingin tahu.

~k~

Sohyun bergerak ke sudut ruang yang kosong. Ia meringkuk, mengarahkan mukanya ke lantai tempatnya berpijak. Ia tidak memikirkan apapun, pikirannya hancur oleh beberapa memori yang mencuat beberapa saat yang lalu. Jari-jarinya masih bergetar, meskipun tak sehebat tadi.

Ia kosong. Hampa. Dan tak bisa apa-apa. Saat ini memorinya lumpuh, hatinya perih, dan ia kehilangan makian terhadap perasaannya sendiri.

Ia hanya tak habis pikir, bagaimana bisa—bahkan setelah memorinya terkuak dengan cara yang memilukan—hatinya masih bisa mencintai lelaki itu dengan rasa yang sama? Lalu, bagaimana ia harus menjaga dirinya sendiri jika hatinya bahkan tak ingin dilindungi? Dan—ah, ada bunyi langkah kaki. Sohyun cepat-cepat menghapus air matanya.

Sosok yang tadi sempat ditayangkan otaknya, muncul dari sebuah pintu yang dikuncinya tiga puluh menit yang lalu. Tapi ia hanya berdiri di situ. Membisu, bergeming, dan kacau.

Sohyun menoleh, hanya untuk memastikannya lagi bahwa sosok itu benarlah dia. Tapi—

Seharusnya Junho lebih peka ketika pintu itu terkunci dan terdengar barang-barang yang jatuh dan tangisan yang sangat menyakitkan. Semestinya ia lebih dulu punya pemikiran kalau mungkin saja dalam waktu yang dekat perempuan itu mengingat seluruhnya.

Andai saja ia sempat menunda bicara pada—

“Omma,” ada suara jagoan kecil yang memecah sunyi di antara keduanya. Ya, andai saja Lee Junho menunda bicara pada ibunya untuk membawa Seungho ke sini.

“Kurasa aku tak perlu menjelaskan padamu lagi,” Lee Junho mulai angkat bicara. Bagaimanapun kemunculan sosok kecil itu mengejutkan Sohyun, karena ada beberapa kemungkinan tentang anak lelaki berbaju biru itu. Mungkin saja kan kalau dia…

~k~

Setelah kejadian itu, Junho memang benar-benar menghilang. Ia tidak pulang selama beberapa hari, dan kalaupun pulang pasti hanya sebentar dan tak menemui Sohyun. Laki-laki itu sengaja menghindari kenyataan—tanggung jawabnya.

Perempuan itu sudah terbiasa. Merawat janinnya sendiri, menghibur dirinya sendiri, dan menguatkan hatinya sendiri. Tapi tiba-tiba muncul seorang wanita yang tak pernah ditemuinya. Bukan jenis wanita nakal yang suka dimainkan Lee Junho, dan bukan pula jenis wanita yang membuat Lee Junho tak tertarik.

Perempuan cantik dengan tinggi semampai itu mencari Lee Junho, “apa bisa aku menemuinya? Aku punya sesuatu yang penting untuk dikatakan padanya.”

“Aku tidak bisa memastikan kapan pulangnya,”

“Apa aku boleh menunggunya?” pintanya. Sohyun mengangguk, mana bisa ia begitu tega terhadap wanita hamil di depannya?

Tiba-tiba saja hatinya miris. Jadi ini wanita yang diinginkan Lee Junho untuk persemaian benihnya?

‘Aku tidak bisa kalau kau mengandung janinku,’ rasanya kata-kata itu terasa benar saat ia tanpa sengaja malah membandingkan dirinya dengan perempuan di hadapannya. Perempuan itu terlihat lebih dewasa, sabar, dan menguasai dirinya dengan baik. Jenis perempuan yang menentramkan dan bisa mendengarkan keluh kesah Lee Junho dengan tambahan nasihat yang bijak.

Kali ini perempuan itu tersenyum padanya. Demi Tuhan, setelah senyuman itu lenyap, ia merasa begitu kecil dan tak punya apa-apa untuk menghibur dirinya yang telah dipilin udara. Terlebih saat ia bertanya, “Kau adiknya?”

Seketika itu matanya panas, ada banyak hal yang sepertinya butuh tetesan air mata untuk menuntaskan titik temunya.

Sohyun mengangguk, “Aku ke atas dulu,”

 Dan air matanya tumpah ruah.

~k~

Dari sini, ia sudah yakin bahwa pria itu pasti pulang. Dan tepat. Sekarang, pria itu di hadapannya dengan raut muka yang sudah lebih baik. Tapi hati perempuan itu sudah kalut. Ia lebih memilih mengamankan hatinya daripada berhadapan dengan sesuatu yang maya. Tak bertujuan. Dan menyakitkan.

Melihat Sohyun sama sekali tak antusias, Junho jadi menahan kata-katanya. Ia berbalik. Mungkin pagi besok akan lebih baik, pikirnya.

   Tapi besok pagi yang diharapkannya pun, ternyata malah membawa ke kekecewaan yang membuatnya menangis. Gadis itu menghilang. Melarikan diri darinya dan entah mau kembali lagi atau tidak.

Kalau saja perempuan itu menahan keinginannya delapan jam saja, pasti kehidupannya bisa lebih bahagia. Tapi tidak. Dari sini mereka akan saling melupakan dan menyimpan kenangan masing-masing di tempat paling gelap dalam sebuah memori. Untuk berjaga-jaga, kalau saja mereka tak sanggup melupakan satu sama lain.

~k~

“Omma,” ulangnya. Anak lelaki berusia dua tahun itu berlari kecil ke arahnya. Tangannya membuka, seolah siap menerima pelukan dari laki-laki kecil di hadapannya. Ia merasakan ada sesuatu yang hidup lagi di hatinya. Harapan.

“Seungho,” balasnya parau. Anak lelaki yang dilahirkannya dan diambil paksa oleh Junho sekarang ada di hapadannya dan memeluknya.

Kali ini ia yakin ia hanya butuh bersyukur.

~k~

Junho meninggalkan kamar itu dan menutup pintunya. Ia merasa kebahagiaan Sohyun akan berkurang setiap mili sekonnya jika ia terus di situ. Ia takut kalau-kalau senyum perempuan itu pudar.

Walaupun miliknya telah lapuk dan berubah bentuk, ia tetap yakin memang di situlah senyum perempuan itu seharusnya berada. Walaupun kakinya tak cukup kuat untuk menampung beban hatinya dan juga tangannya yang terus bergetar karena tumpukan rasa bersalah yang dibawa dirinya, ia akan tetap bersyukur. Seberapapun sakitnya dirinya.

*****

Maaf update lama. Kemarin persiapan semester lima. Dan sekarang sampe lusa juga bakal tetep sibuk buat persiapan UN. Doain Kiran lulus UN dengan nilai yang memuaskan dan lolos SNMPTN yaa🙂 biar beban orangtua tidak banyak🙂 terimakasih kawan atas doa-doanya🙂

6 thoughts on “Kilauan Senja – Chapter 4

  1. authornya mau UN? sama aku jugaa^^
    semoga ujian kita lancar ya thor, bisa masuk universitas yang diinginkan. habis itu jangan lupa dilanjut ffnya yaaa hehee:D

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s