Riding the Bicycle

riding the bicycle

Riding the Bicycle

written by bluemallows

 

Main Cast: 2PM’s Nichkhun Horvejkul & Girls’ Generation’s Tiffany Hwang || Duration: Vignette || Genre: Romance, Life || Rating: Teen || Disclaimer: Inspired by Raditya Dika’s Manusia Setengah Salmon

“Aku.. mulai meragukan perasaanku.” Nichkhun mengatakannya dengan jelas di hadapan kekasihnya. Ia tidak berani menatap langsung sorot mata favoritnya, tangannya mengaduk meratakan gula di dalam kopinya dengan canggung.

 

Jantung Tiffany berhenti sedetik, dua detik, kemudian ia mencoba bernafas lagi seperti biasa. “Maaf, tapi aku tidak mengerti maksudmu.” Tanpa disadarinya, jemari mungilnya telah meremas-remas ujung bajunya sendiri, menandakan kegelisahan yang tiba-tiba menyelimuti.

 

Pemuda yang duduk dengan posisi tegak yang dipaksakan itu mengalihkan pandangan ke luar jendela, menghindari kontak mata dengan Tiffany. “Maksudku.. aku takut aku sudah tidak mencintaimu lagi. Aku takut perasaanku berubah.” Setelah memantabkan niatnya, ia menoleh ke arah Tiffany yang duduk di hadapannya.

 

Dugaannya sedikit meleset, ia tidak melihat ada genangan air mata atau alis yang menurun dari wajah Tiffany. Awalnya ia berpikir Tiffany akan menangis ketika Nichkhun mengatakannya, sama seperti dulu saat Tiffany menangis karena cemburu gadis yang dicurigainya dekat dengan Nichkhun. Tapi tidak, Tiffany menyeduh kopinya lambat-lambat seraya aroma kopi menyeruak masuk ke dalam rongga hidungnya, sama seperti yang ia lakukan biasanya.

“Kau.. tidak apa-apa?” Nichkhun memandang setiap sudut permukaan wajah Tiffany dan tidak menemukan sesuatu yang janggal di sana.

 

Tiffany mendesah pelan, pelan sekali hingga Nichkhun tak dapat mendengarnya, “lanjutkan saja, kita sudah pernah membicarakan tentang ini, kan?”

 

Pemuda yang sudah berusia matang itu membasahi bibirnya sejenak, dan pikirannya membawa ia melayang pada saat mereka pergi kencan untuk pertama kalinya setelah mendapat status baru: pacar.

 

Ketika itu Tiffany berkata samar-samar di antara hiruk pikuk keramaian mall pada malam Minggu. “Akhirnya.. kita akan putus juga, kan?”

 

“A-apa?” Nichkhun berpura-pura tidak mendengar perkataan Tiffany, dan mendekatkan telinganya pada gadis itu.

 

“Akhirnya, hubungan kita akan berakhir, kan?” Ulang gadis itu, dengan nada yang lebih tegas. Memang tidak ada kepastian sebelumnya dari Nichkhun untuk menjalani hubungan ini dengan serius sebelumnya, tetapi laki-laki itu tidak pernah berpikir sejauh ini.

 

Jakun milik lelaki itu naik-turun beberapa kali ketika Nichkhun menelan air liurnya. “Maksudmu, kau ingin mengakhiri hubungan kita sekarang?” Harus diakui, jantung laki-laki itu berdebar keras, dan benaknya mengembara memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang barangkali terjadi.

 

Kepala gadis berambut panjang itu menggeleng pelan, “Bukan maksudku itu, hanya saja, aku hanya memastikan hubungan kita akan berakhir pada nantinya,” ia menghela nafasnya, “jadi kita bisa saling mempersiapkan.”

 

“Hei, kenapa kau baru bilang begini saat kau sudah menjadi pacarku?”

 

“Karena.. yah, aku baru terpikir hal itu saat ini.”

 

“Kalau aku boleh jujur, aku merasa seketika sedih mendengar ucapanmu.”

 

“Haha,” Tiffany tertawa getir, “kapanpun itu waktunya, kuharap tidak dalam waktu dekat ini.”

 

Seulas senyum tersungging pada bibir manis pria itu, kemudian ia mengusap rambut Tiffany dan membawanya ia mendekat pada bahunya, hingga mereka berjalan di mobil mereka.

 

“Ehem,”

 

Tiffany sengaja berdeham dan mengembalikan benak Nichkhun yang tadinya melayang-layang bebas pada bulan-bulan yang lalu.

 

“Kurasa kau terlalu sibuk menjalani studi lanjutanmu, kurasa kau terlalu sibuk dengan flute untuk orkestra grejamu, dan kurasa aku mengganggumu selama ini.” Nichkhun mengatakan kalimatnya dengan jelas dan rapi. Sebagai penyiar radio, seharusnya ia sudah memiliki acaranya sendiri dengan modal suaranya yang dapat menenangkan orang-orang.
“Ya.” Harus diakui Tiffany, lelaki itu sedikit mengganggu dengan sms-sms yang menginterupsinya dengan pertanyaan Sedang apa?, Sedang dimana? Perlu kujemput?, Sudah makan?, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Namun hati kecil Tiffany memberontak. Sebagaimana pun ia merasa Nichkhun mengganggunya, ia sebenarnya menyukai perhatian laki-laki itu.

 

“Aku juga merasa, sebenarnya kau merasa tidak nyaman denganku.”

 

Astaga, ketika sahabat-sahabat Tiffany mengeluhkan pacar mereka yang tidak peka, justru ia memiliki yang super-peka. Tanpa harus diucapkan pun, lelaki itu tahu apa yang dirasakan Tiffany. Mungkin seharusnya ia jadi psikolog, bukan penyiar radio seperti ini.

 

Jari Tiffany menelusuri gagang sendok teh dan memikirkan perasaannya selama ini. Benar, pada awalnya ia merasa begitu nyaman berada di dekat Nichkhun, hingga ia tanpa ancang-ancang menyatakan perasaan nyaman itu sebagai perasaan sayang. “Mungkin akan lebih baik jika kita hanya berteman,”

 

Nichkhun memandangi uap yang mulai habis dari kopi yang sekali pun belum diseduhnya. “Jadi, status kita pacaran berakhir sampai di sini?”

 

Tiffany mengangguk dan mengulurkan tangannya, Nichkhun menjabatnya dan menunggu gadis itu berbicara. “Teman.”

 

“Teman.” Nichkhun mengulangi kata yang diucapkan temannya itu.

 

“Baiklah, aku pulang duluan,” Tiffany sambil berdiri dan merapikan rok terusannya.

 

“Kalau kau merindukanku, tidak usah ragu-ragu untuk meng-smsku duluan, oke?” Ujar Nichkhun sambil tersenyum jahil. “Aku tidak mungkin mengganggumu saat kau sedang sibuk, kan?”

Tiffany terkekeh pelan, “Kurasa, justru kau yang akan merindukanku.” Ia mengambil tas jinjing dari atas kursi dan tersenyum sekilas. “Tidak usah malu untuk meng-smsku duluan,” kemudian gadis itu berjalan berlalu meninggalkan temannya itu.

Sekembalinya ia ke mobil, ia menelepon Taeyeon sambil mengaktifkan speaker dan meletakannya di jok sebelah. Ia menceritakan tragedi saat hubungannya berakhir dengan masih diselingi tawa.

Namun ketika ia tiba di apartemen, ia duduk di sofa dan memandang ke arah luar jendela sambil ditemani aroma teh yang menyeruak dari pantry. Sambil menyeduh teh yang baru saja diraciknya, samar-samar ia merasa ponsel yang ada di pangkuannya bergetar. Jeda beberapa saat, ia segera mengecek, dan ternyata tidak ada apapun di sana. Sms dari Nichkhun yang biasanya masuk pun tidak ada. Sedetik kemudian, setetes air mata mengaliri pipinya, diikuti dengan tetes-tetes lainnya yang tidak kunjung berhenti. Hingga akhirnya gadis itu membilas wajahnya berulang kali dan menghilangkan matanya yang sembab.

Sepertinya, putus cinta itu seperti disengat lebah. Awalnya tidak terasa sakit, namun pada akhirnya bengkak itu akan mulai terasa, seolah menusuk ulu hatinya yang paling dalam ketika memikirkan tentang kenangan-kenangan yang tersimpan dalam memorinya. Ini bukan pertama kalinya Tiffany memutuskan cintanya, saat SMU, ia pernah berpacaran dengan seorang laki-laki seangkatannya, namun ia yang memutuskannya.

Memang rasanya seperti dipaksa untuk melupakan kenangan-kenangan yang sudah ada, disadari atau tidak, dipaksa atau tidak. Pada akhirnya, ia tetap harus maju dan meninggalkan apa yang telah menjadi kenangan. Tiffany tidak dapat diam dan meratapi akhir hubungannya dengan Nichkhun. Ia akan bertemu dengan laki-laki lain, dan Nichkhun akan bertemu dengan perempuan lain, mungkin waktu mereka berbeda, namun mereka tetap harus berpindah dari tempat mereka sekarang, ke tempat yang baru.

Tiffany masuk ke dalam kamarnya, mencopot semua foto-fotonya bersama Nichkhun yang tertempel di atas meja kerjanya, mengambil foto Nichkhun yang ada di dompetnya, mengambil semua barang-barang yang mengingatkannya dengan mantan kekasihnya dan memasukkannya dalam kardus kecil bekas miliknya. Ia mengambil lakban dan menutup rapat kardus cokelat yang ada di tangannya. Dengan mantap, ia memasukannya di sela-sela rak kecil di bawah meja kerjanya dan berharap tidak ada kenangan yang tertinggal.

Setetes lagi air matanya jatuh lagi ketika bayangan Nichkhun melintasi kalbunya. Gadis itu hanya menghapusnya perlahan dan mengangguk pada dirinya sendiri, ia hanya butuh terbiasa dengan semua ini. Seperti menaiki sepeda, agar tidak terjatuh, ia harus terus mengayuh pedalnya dan bergerak maju.[]

10 thoughts on “Riding the Bicycle

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s