[FF Freelance] Genosida – Killing The Hunter (Part 3)

PART 1GENOSIDA

 

Scriptwriter: April (@cici_cimol) | Main Cast: Kwon Ji Yong (G-Dragon Of Big Bang), Sandara Park (2NE1) | Support Cast:  Find the other cast while reading^^ | Rating: PG-15 | Genre: Fantasy, Mistery, Romance | Length: 8 Part

PreviousPart 1, Part 2,

Disclaimer:

Human and thing belong to God. I only own the plot. Terinspirasi dari Novel Harry Potter dan The Hobbit.

GENOSIDA

Sebuah dunia dari dimensi lain yang sedang dalam tahap percobaan gila. Menarik manusia untuk menjadi bagiannya. Genosida merupakan pembantaian besar-besaran secara sistematis pada suatu kelompok dengan maksud memusnahkan. Siapakah diantara mereka yang berhasil keluar hidup-hidup?

 

Previously at Genosida:

Sandara Park berhasil lolos dari serangan pepimpin kelompok Tuz (Api) yang bernama Kwon Ji Yong  dan menemukan kelompoknya, Sandara menjalankan misi semester pertama yang mengharuskan dirinya terjun kedalam danau penuh mayat dan membuatnya hampir mati. Tanpa disengaja, pemimpin kelompok Tuz (Api) yang bernama Kwon Ji Yong menyelamatkan nyawa Sandara. Akibat suatu “kecelakaan” Sandara terjatuh dan mencium Kwon Ji Yong, dan sesuatu yang aneh terjadi, Sandara dapat memasuki pikiran Ji Yong dan berada didalam kenangan pria itu!

.

.

PART 3  [SEMESTER 2:  KILLING THE HUNTER]

“Kau… Sandara Park… jangan harap kali ini bisa lari dariku.” Ji Yong mendesis dan menatap Sandara dengan penuh kebencian.

“M, Memangnya apa salahku?” Sandara bangkit sambil menepuk-nepuk bokongnya yang sakit. Dia menatap Ji Yong yang sekarang seolah besiap memakannya hidup-hidup.

“Salahmu?” Ji Yong mendengus kesal “Ya! kau sudah menempelkan bibirmu itu, dan bukannya menyingkir, kau malah masuk kedalam kenanganku!” Ji Yong berjalan mendekati Sandara “Aku paling tidak suka kalau seseorang mengganggu PRI-VA-SI ku!”

“Itu hanya kecelakaan tuan Kwon, lagi pula bukankah itu salahmu? Kenapa kau menarikku secara tiba-tiba?! Bukannya kau lebih senang kalau aku mati?” Sandara mengerutkan kening menatap laki-laki itu. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa Ji Yong menyelamatkannya, bukankah pria itu sangat ingin dia mati?

“Hah, kau sudah menampar wajahku dan ingin melarikan diri begitu saja, itu tidak bisa.” Ji Yong sekarang berada tepat dihadapan Sandara, tangannya mencengkram lengan gadis itu dengan kuat dan menatap mata bulat Sandara. “Dan sekarang kau menciumku dan masuk begitu saja dalam pikiranku. Aku benar-benar tidak akan melepaskanmu.” Ji Yong mendesis dan lebih mendekatkan dirinya. Udara dingin disekitar Sandara berubah menjadi hangat karena tubuh Ji Yong. “Karena itu… sebelum aku membunuhmu, aku akan membuatmu menderita dulu.” Pria itu berbisik ditelinga Sandara, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

Dengan gugup, Sandara mendorong Ji Yong menjauh, namun disaat bersamaan, benda bulat didalam kantung Jaket Sandara terjatuh dan menggelinding pelan dibebatuan yang kasar. Mata Sandara melebar panik. Ini bukan saatnya dia berdebat dengan pria bodoh yang sombong ini. Granat itu menyentuh batu dan terlihat gesekan statis keluar dari ujung granat bulat itu. Dalam hitungan detik, akan terjadi ledakan yang kuat disini.

Dengan panik Sandara menggenggam tangan Ji Yong dan mendorongnya, Ji Yong hanya menatap Sandara penuh tanya.

“LARI DARI SINI ATAU KITA AKAN MATI!!!”

BAAAAMMM!!!

Cahaya api memenuhi seluruh pulau, Sandara- Yang berhasil melemparkan diri kedalam danau jelly- terdorong beberapa meter jauhnya hingga dirinya menabrak akar pohon. Sandara menyipitkan matanya. Pulau kecil disebrang benar-benar dipenuhi kobaran api hingga mencapai danau Jelly yang masih merendam dirinya. Tapi anehnya api itu sama sekali tidak menyentuh Sandara.

Sandara menyipitkan mata, tubuhnya terasa sangat lelah. Pendangannya mulai kabur, sekarang, dia benci warna orange api itu. Dia benci dengan api. Karena api selalu membuatnya merasa sakit. Tubuhnya sudah tidak sanggup digerakan. Kesadarannya mulai hilang. Namun bukannya merasa panas dan sakit akibat tubuhnya yang terbakar, gadis itu malah merasakan hangat. Hangat seperti ada di atas tempat tidur dengan secangkir cokelat panas yang dibuatkan oleh adik laki-lakinya.

Matanya mulai tertutup perlahan. Sandara sama sekali tidak menyadari, bahwa tangannya masih bartautan  erat  dengan  tangan seorang Kwon Ji Yong.

.

.

Gemericik air terdengar lembut, tetes-tetes Kristal bening itu menyentuh kulit wajah Sandara. Sandara membuka matanya dan langsung menghalau sinar matahari yang menyilaukan dengan tangannya.

“Bangun pemalas!”

Sandara tersentak mendengar suara seorang laki-laki, dengan cepat gadis itu bangkit dan mengecek keadaan dirinya terlebih dahulu. Ini pertamakali dalam hidupnya dia bangun dengan suara seorang laki-laki yang terdengar tepat ada disampingnya. Gadis itu menghela napas lega saat dilihatnya pakaian yang dikenakannya masih dalam keadaan utuh.

“ckckckck… apa kau pikir aku sudi menyentuhmu?! Tubuhmu itu bahkan terlihat seperti gadis berusia 12 tahun!”

Sandara menoleh dan mendapati Kwon Ji Yong duduk tepat disebelahnya. Pria itu sepertinya baru selesai mandi karena pakaian bersih dan rambutnya yang basah, juga wangi papermint yang menguar darinya. Kenapa laki-laki yang hanya mengenakan T-shirt putih ini mampu membuat Sandara berdebar?

“Cepat bangun dan bersihkan dirimu. Kita harus segera bergerak dan menemukan kelompok-ku.” Ji Yong berkata tidak sabar sambil menyantap roti hangat dan meneguk susu putih. Dari mana makanan itu berasal?

Sandara masih belum sepenuhnya kembali kedalam alam sadarnya, dengan perlahan Sandara bangkit dan ternganga. Dihadapannya terdapat jurang yang menganga lebar. Dirinya tepat berdiri diatas tebing dengan bebatuan besar berwarna abu-abu. Dan ajaibnya disisi kiri dekat pohon yang tumbuh tinggi terdapat sebuah kamar mandi. Lengkap dengan bathtub, shower, shampoo, sabun, handuk, bahkan toilet. Dan disebelah kanan terdapat rak berisi pakaian, sepatu, dan beberapa perlengkapan.

Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Sandara berjalan gontai kearah kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapat. Dia ingat kata-kata CL kalau tempat ini memberikan apapun yang kita butuhkan dalam keadaan mendesak. Mungkin seperti ini, walau Sandara tidak tahu bagaimana caranya dia meminta dalam keadaan mendesak hingga memunculkan keperluan yang diinginkannya.

Sandara merasakan perih disekujur tubuhnya saat air hangat dari Shower mengalir perlahan membasahi tubuhnya. Lebam dan lecet yang tidak parah tapi cukup menyiksa. Sandara menyentuh luka di siku kirinya yang seingatnya tergores bebatuan, tetapi luka itu diperban dengan rapih. Siapa yang merawat lukanya? Bukan pria brengsek itu kan?

Setelah selesai Sandara keluar. Gadis itu memakai T-shirt berwarna merah muda cerah dan blue jeans. Dia menatap kebingungan saat dilihatnya Ji Yong sedang mengambilkan sneakers baru untuknya.

“Apa kau lapar?” Ji Yong berkata pelan sambil meletakan sepasang sneakers berwarna hitam dihadapan Sandara. “Aiissh, kenapa rambutmu tidak kau keringkan?” Ji Yong bergerak mengambil handuk dan meletakannya dikepala Sandara dan mulai menggerakan tangannya perlahan di rambut gadis itu.

“Apa yang terjadi?” Sandara berkata ragu, apalagi sekarang dia benar-benar bisa merasakan hembusan napas pria itu pada tengkuknya. “Kau sedang mempermainkanku dan aku benar-benar terjebak dalam permainanmu.”

Ji Yong menghentikan tangannya dan menatap Sandara sambil menyeringai “Aku sudah bilang kan? Kau tidak bisa lari dariku sampai aku benar-benar membuatmu menderita dan membunuhmu.” Ji Yong mengangguk senang kemudian berjalan kearah tumpukan barang-barang mereka. Mengambil Jaket Sandara dan melemparkannya pada gadis itu. “Kalau kau tidak lapar, ayo segera berangkat!”

“Aku lapar!” Sandara terpekik dan berlari kearah roti hangat dalam bungkusan yang sudah setengah dimakan Ji Yong. Gadis itu duduk dan memakan roti blueberry itu, rasa asam dan manis bercampur. Rasanya sama seperti Ji Yong. Kadang asam, kadang manis.

“Makan sambil jalan saja, cepat. Kau tadi mandi terlalu lama.” Ji Yong merangkul ranselnya dan menguatkan tali sneakers-nya. Kemudian berjalan pelan meninggalkan Sandara.

Sepertinya melemparkan pria itu kedalam jurang bukan suatu ide buruk. Sandara mendengus kesal, dengan pipi menggembung akibat makanan yang berusaha ditelannya, Sandara mengenakan jaket dark blue-nya dan merangkul tas ranselnya. Dengan kesal dia berlari kecil berusaha mengejar Ji Yong. Sandara menoleh kebelakang dan mendapati bangunan yang membentuk kamar mandi dan segala peralatannya lenyap perlahan, seolah bangunan tadi hanya hologram.

“Ya! Apa yang terjadi semalam?” Sandara bertanya saat dia sudah dapat menjajari langkah Ji Yong. Mereka mulai turun dan memasuki area hutan. “Aku haus”

Ji Yong melemparkan botol air mineral kepada Sandara sambil terus fokus pada jalan didepannya “Kau mendapat nilai sempurna pada semester pertama” Ji Yong mendengus “Yeah, walau itu tidak disengaja kan?”

Sandara terdiam dan mencoba mengingat kejadian didanau Pioca. Yang dia tahu hanya, dia bertengkar dengan Ji Yong lalu granit terjatuh, meledak. Dan dirinya sekarang masih hidup bahkan hanya terluka ringan. Dengan penasaran Sandara menatap Ji Yong.

“Kau menyelamatkanku?” Sandara mencicit pelan. Ini sulit dipercaya, laki-laki ini sudah tiga kali menyelamatkan hidupnya.

Ji Yong menoleh ngeri menatap Sandara “Ya! Aku berusaha menyelamatkan hidupku sendiri tapi kau mencengkram tanganku dengan kuat! Jadi apa boleh buat!” Pria itu mengangkat bahu. “Lagi pula, aku tidak akan membiarkanmu mati seperti itu, kau harus mati ditanganku.”

Kecewa. Entah kenapa Sandara merasa sangat kecewa mendengar penjelasan Ji Yong. Mereka terus berjalan dalam diam sampai sebuah suara kembali bergema didalam otak Sandara.

“Semester kedua. Misi untuk para Caedere yang bertahan dalam kelompoknya. Bunuh para pemburu.”

“Apa-apaan sih ajjushi ini” Sandara mengerutkan kening. Dia masih belum terbiasa dengan suara aneh yang tiba-tiba muncul didalam otaknya. “Caedere, Apa itu?” Sandara menghentakan kakinya dengan kesal “Dan sekarang mereka menyuruhku membunuh pemburu.”

Caedere adalah kita.”  Ji Yong berkata pelan, matanya mengawasi keadaan sekitarnya. “Caedere artinya pembunuh, itu berasal dari bahasa latin.”

“Pembunuh? Jadi aku adalah seorang pembunuh?” Sandara menatap Ji Yong tidak percaya. Pembunuh yang ada dipikirannya adalah bukan seorang manusia. Bagaimana mungkin seorang manusia yang masih memiliki perasaan dan pikiran dapat melakukan perbuatan seburuk itu?

“Yeah. Siapa yang terkuat, dialah yang bertahan. Jika kau ingin hidup, maka kau harus membunuh untuk hidupmu itu.” Ji Yong menghentikan langkahnya. Matanya menatap Sandara lurus “Kau tahu kan Genosida itu apa?”

Sandara hanya menggeleng. Seungri pernah menjelaskan tentang keberadaan dimensi ini. Tapi dia belum sepenuhnya mengerti tujuan sebenarnya keberadaan dimensi ini.

Genosida berasal dari bahasa latin juga, artinya memusnahkan kelompok atau ras tertentu.” Ji Yong menatap kearah langit yang terhalang rimbunnya dahan pohon. Tatapan pria itu begitu kosong dan kesepian. “Tujuan mereka sebenarnya adalah memusnahkan kelompok yang terbentuk, memusnahkan manusia yang berhasil terjebak sedikit demi sedikit.”

Jantung Sandara seolah berhenti berdetak. Apa maksudnya semua itu?

“Dan jangan sampai kau kembali kesini, Jika kau kembali kesini, kau otomatis akan menjadi prajurit perang mereka.” Ji Yong tersenyum pahit “Yeah, jika kau langsung lulus, kau memang tidak akan kembali kesini dan mendapatkan setumpuk uang di rekening bank mu.”

“M, mereka… mereka yang kau maksud itu siapa?”

“Entahlah, mungkin para ilmuan gila, mungkin makhluk luar angkasa, atau mungkin pemerintah yang ingin menekan laju pertumbuhan penduduk dengan cara seperti ini, aku juga tidak tahu siapa sebenarnya dalang dibalik semua ini.” Ji Yong kembali melangkahkan kakinya “Suatu saat nanti, aku bersumpah akan menghancurkan semua hal gila ini. Mereka sudah membuat hidup banyak orang hancur.”

Untuk pertamakalinya Sandara kagum pada kata-kata Ji Yong, semua yang dikatakannya benar, Dimensi ini telah membuat hidup ribuan orang yang terjebak disini hancur. Gadis itu memperhatikan punggung pria didepannya yang terus berjalan menjauh darinya. Luka macam apa yang membuat seorang Kwon Ji Yong menjadi seperti ini?

Sandara berusaha menyusul Ji Yong. Walau Ji Yong berkata kalau dia akan membunuh Sandara jika saatnya sudah tiba, gadis itu lebih merasa aman berada disebelahnya dibandingkan berada bersama kelompoknya sendiri. Ah, ya. Kelompoknya. Apakah mereka semua selamat? Apakah sekarang mereka sedang mencarinya?

Disaat Sandara sedang memikirkan nasib kelompoknya, tiba-tiba sebuah anak panah melesat tepat kearahnya, keberuntungan lagi-lagi berpihak padanya karena anak panah itu meleset dan tertancap dalam disebuah batang pohon disamping Sandara.

“YA! GADIS BODOH!” Ji Yong berteriak marah padanya. Dengan kebingungan Sandara memperhatikan anak panah itu. Seluruh anak panah itu terbuat dari perak berkilau dengan ukiran naga terbang disekelilingnya.

“CEPAT KESINI BODOH!” Ji Yong berkata panik, setelah menyadari bahaya yang sedang mengancamnya, Sandara berlari cepat kearah Ji Yong. Ji Yong mengulurkan tangannya. Sandara menggenggam tangan itu, dengan cepat mereka berlari masuk kekedalaman hutan. “Kita harus cari tempat berlindung!” Ji Yong berkata sambil terus menyeret Sandara.

Dikejauhan Sandara dapat mendengar langkah berat beberapa orang yang mengejar mereka. Dan lagi-lagi sebuah panah melesat kearah mereka, dengan sigap, Ji Yong menarik Sandara, mereka terjatuh berguling ditanah yang lembab.

“K, Kenapa mereka mengejar kita dan menembaki kita dengan anak panah yang bisa kujual dan bernilai jutaan won?!” Sandara berbisik sambil terengah. “Harusnya aku mengambil anak panah tadi untuk oleh-oleh.”

Ji Yong menatap Sandara seolah gadis itu sudah gila. Kenapa dia bisa terjebak dengan gadis yang memiliki pola pikir seperti anak-anak. Ini adalah kutukan. Sandara dan Seungri memiliki pola pikir yang hampir sama, Selama ini Ji Yong merasa sudah hampir mati dengan tingkah Seungri. Harusnya dia membiarkan gadis ini mati dari pada terus membuatnya repot.

“Kita ibarat binatang yang harus mereka buru. Kau ingat kan? Misi semester kedua adalah membunuh para pemburu.” Ji Yong berbisik dan menjelaskan dengan sabar. Tangan pria itu menggenggam tangan Sandara dengan erat. Sandara hanya merasa tangannya berkeringat dan licin sehingga dia berusaha melepaskan genggaman Ji Yong, Ji Yong menoleh padanya dan segera melepaskan pegangannya. “Aku hanya tidak mau kau terbunuh oleh mereka” Pria itu berkata sambil memalingkan wajahnya.

Kata-kata itu tidak berarti banyak untuk Sandara, karena tujuan Ji Yong bukanlah untuk melindunginya. Ji Yong berdiri kemudian berlari kecil kearah sebuah bebatuan besar yang ditutupi oleh semak yang cukup lebat. Dengan perlahan dia memberikan tanda pada Sandara, Sandara berlari ketempat Ji Yong. Mereka berdua berusaha menyembunyikan tubuh mereka dibebatuan.

Langkah para pengejar mereka semakin dekat, Sandara melihat 4 orang asing memakai mantel yang terbuat dari kulit tebal beruang kutub berhenti sekitar satu meter dari tempatnya berhenti. Mereka sibuk mencari jejak dari keberadaan buruannya. 2 Orang pria berjenggot membidik dengan senapan panjangnya setiap kali mereka mendengar sebuah suara. Jantung Sandara berdegub kencang. Dia bahkan berusaha menahan hembusan napasnya.

Ji Yong menarik tubuh Sandara kedalam pelukannya. Berusaha menyembunyikan tubuh gadis itu yang sedikit terlihat dari balik semak yang dipenuhi bunga liar berwarna putih. Pemburu yang memegang anak panah bewarna emas mulai memeriksa setiap semak belukar disekitarnya. Sandara mencengkram punggung Ji Yong dengan kuat, berusaha menghentikan tangannya yang gemetar hebat.

“Mereka pasti bersembunyi disekitar sini.” Seorang pria mengenakan tudung tebal dari kulit rubah berkata dengan suara serak. “Aku akan memanggang mereka hidup-hidup jika berhasil menemukan mereka.” Pria itu menyeringai, menampilkan gigi kuningnya yang tidak terawat.

Sandara hampir terpekik saat mendengar perkataan itu, namun tangan Ji Yong dengan cekatan menyumpal mulutnya. Sandara menoleh menatap pria yang sekarang dengan erat mendekapnya, berusaha melindunginya. Dan disaat itu juga jantungnya dengan bodohnya berdetak lebih kencang saat disadarinya jarak wajah mereka begitu dekat. Bahkan Sandara dapat melihat iris mata Ji Yong yang berwarna cokelat. Darah hangat berdesir disekujur tubuhnya dan dia mulai merasakan panas pada wajahnya. Aku akan mati jika wajahku berubah menjadi merah tomat, sial, apa sih yang sedang dilakukan si brengsek ini?!

Sandara mencoba menjauhkan dirinya, tetapi Ji Yong lagi-lagi menariknya dan menatapnya dengan sengit. Hingga beberapa detik, saat Sandara dan Ji Yong kembali saling bertatapan. Hal yang pernah terjadi di danau Pioca terulang.

Sandara kembali masuk tersedot kedalam kenangan pria itu. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa, hanya saja disaat mata Sandara menatap kedalam mata pria itu hal ini selalu terjadi. Sekarang dirinya berdiri di sebuah bangunan tua eropa abad pertengahan yang hampir roboh, atap yang terbuat dari alang-alang itu terbuka menampilkan pemandangan didalam bangunan itu.

Sandara berdiri diam menatap dua orang yang saling berhadapan. Kwon Ji Yong dan Lee Chaerin.

CL Menatap Ji Yong dengan ekspressi seperti ingin menangis, Eyeliner gadis itu rusak karena air mata yang sekarang turun perlahan dipipinya yang lembut.

Ji, aku sungguh tidak bermaksud melakukan ini padamu, hanya saja…” CL Berbicara dengan suara gemetar, tangannya yang bebas dari pedang panjang menggapai Ji Yong, tetapi pria itu menepisnya.

Kau tidak perlu beralasan.” Ji Yong menjawab dengan tenang, seolah mereka sedang mengobrol sambil minum teh, tidak ada gelombang emosi disana. “Aku tahu semuanya, kau berhasil menghancurkan hidupku, ah tidak, kau bahkan menghancurkan hatiku. Jadi sudah cukup. Tidak usah beralasan lagi.” Ji Yong mulai menarik anak panah ditangannya, mengarahkannya langsung tepat kedada CL.

Sandara tidak mengerti apa yang terjadi diantara mereka, tetapi satu hal yang jelas. Mereka berdua saling mencintai. Buktinya tangan Ji Yong bergetar saat berusaha menarik anak panah itu.

Kalau dengan membunuhku kau bisa kembali seperti Ji Yong yang kukenal, maka lakukanlah.” CL berdiri tegak, menjatuhkan pedang panjangnya dengan suara berisik, kemudian dia tersenyum “Aku akan terus menyimpanmu sebagai kenangan yang paling indah dalam hidupku. Terimakasih Ji.”

Cih, apa kau pikir aku tidak akan melepaskan anak panah ini?” Sudut mata Ji Yong mengeluarkan air bening.

Kau tidak akan pernah bisa kan?” CL berjalan mendekat kearah Ji Yong. “Kau tidak akan pernah bisa melakukan itu padaku…” CL menepis tangan Ji Yong yang bergetar hebat saat menarik anak panahnya dengan perlahan, kemudian gadis itu mendekat dan menempelkan bibir cherry-nya pada bibir pria itu.

Ada sesuatu yang hilang saat Sandara melihat mereka berciuman, seolah sebagian dari dirinya berteriak dan ingin sekali menarik Ji Yong menjauh. Hingga lengan kanannya terasa diremas kencang oleh sesuatu.

Lutut gadis itu bergetar hebat, kepalanya serasa baru dipukul oleh pemukul bola baseball, penglihatannya kabur dan berair. Air? Apa dia menangis?

Setelah dapat mengendalikan dirinya, Sandara menatap wajah Ji Yong yang menatapnya dengan marah. Kemudian, dia sadar kalau para pemburu itu sudah pergi.

“M, Mereka pergi?”

“Hentikan” Ji Yong menggeram, tangannya dengan kuat mencengkram lengan Sandara hingga Sandara merasa kesakitan. “Hentikan melakukan itu padaku.”

“A, Aku…” Sandara merasa semakin sakit karena perlakuan pria brengsek dihadapannya, memangnya dia suka melihat kenangan orang lain?! Dia bahkan sangat membenci itu! Dia tidak mengerti kenapa hal ini terjadi padanya. Apalagi hatinya sedang tergores sekarang.  Perih, sakit, dan sesak. “Lepaskan brengsek! Kau menyakitiku!” Sandara menjerit, tetapi detik berikutnya sebuah anak panah melayang tepat di sampingnya. “Mereka masih disini?”

Ji Yong melepaskan Sandara dengan kasar dan mulai merunduk, Sandara merunduk, berusaha mencari siapa orang yang melepaskan anak panah kearahnya. Lagi-lagi dia menghapus air matanya dengan kasar. Disini, tidak ada waktu untuk patah hati dan menangis.

“Empat pemburu tadi sudah pergi jauh, mungkin ini pemburu lain.” Ji Yong menjelaskan dengan nada dingin.

“Kalau begitu kita lari, disini tidak aman.” Sandara menarik ujung jaket Ji Yong dengan panik. hingga ujung matanya menangkap Sneakers berwarna merah terang. Mereka berdua mendongak dan ternganga bersamaan.

“WOWOWOW! DAEBAK! KWON JI YONG DAN SANDARA PARK?!” Seungri berdiri tegap dan tersenyum kearah mereka. Ditangannya terdapat panah, dan dipunggungnya tersemat anak panah. Pria itu seperti mendapatkan tangkapan bagus karena wajahnya terlampau gembira.

Ji Yong bangkit dengan cepat. “Kau tidak mati?” Ji Yong berkata sambil memperhatikan sekitarnya, takut terdapat pemburu disekitar mereka.

Seungri mengulurkan tangan dan membantu Sandara berdiri, Sandara tidak menyangka kalau Seungri masih hidup, dia sangat senang, hingga tanpa sadar gadis itu menghambur kedalam pelukan Seungri. “A, aku pikir… aku tidak akan bertemu denganmu lagi!” Sandara berkata dalam pelukannya.

Seungri menepuk-nepuk bahu gadis itu sambil terkekeh riang “Eheey, aku ini bukan pria biasa, mereka tidak bisa semudah itu membunuhku.” Seungri mengedipkan matanya pada Ji Yong yang menatap jijik.

“Kalian ini berlebihan sekali, ck…” Ji Yong berkata dingin, Sandara dan Seungri melepaskan pelukan mereka dan menatap Ji Yong.

“Kau si hati batu!” Sandara mengomel, sekarang dia bersumpah tidak akan menatap mata Ji Yong lagi. Bagaimana jadinya kalau dia tiba-tiba masuk kedalam kenangan pria itu, dan pria itu sedang melakukan sesuatu yang hanya boleh dilakukan pria dewasa bersama CL?

“Hyung. Kau tidak rindu padaku?” Seungri melompat pelan dan memeluk Ji Yong dari belakang. Ji Yong mengerang dan berusaha melepaskan diri dari jeratan Seungri Sambil mengomel, tetapi Seungri malah semakin melekatkan diri dan menggelitiki pinggul hyung-nya.

Sandara terdiam. Satu persatu Ji Yong akan menemukan anggota kelompoknya. Lalu bagaimana dengan dirinya? Apa dia akan terus menjadi tawanan Ji Yong? Apa semua anggota kelompoknya berhasil selamat? Lalu bagaimana caranya dia melewati semester ini? Dia jelas-jelas tidak punya keterampilan dalam berburu. Dan dia tidak akan bisa semudah itu membunuh seseorang.

“Anggota kelompokmu. Ada beberapa orang yang tidak berhasil selamat.” Seungri, yang sudah melepaskan Ji Yong dan mendapatkan jitakan dikepalanya berkata pelan pada Sandara.

Sandara membeku.

“Lee Ha Yi.” Seungri berkata lemah “Dia tidak berada dalam dimensi ini lagi, Dan tidak akan pernah kembali ke Seoul lagi…”

.

.

Gadis kecil itu berjanji akan bertemu dengannya lagi. Tetapi kenapa dia pergi? Sandara menatap hamparan bintang dilangit. Apa tuhan ada disana? Kenapa dia melakukan hal ini pada Ha Yi? Air menggenang pelan dimatanya. Mengaburkan kerlap-kerlip bintang dilangit. Dia sangat tidak mengerti dengan ini semua. Seharusnya dia melindungi gadis kecil itu, seharusnya dia menggenggam tangan Ha Yi dengan erat dan terjun bersama-sama. Sandara menangis dalam diam, dia terus membungkus dirinya didalam kantung tidur. Disampingnya Ji Yong sedang sibuk membuat tombak dari sebuah batang pohon.

“Nyalakan api unggunnya, aku kedinginan.” Sandara merengek pada Seungri yang berbaring disampingnya.

“Kau mau mati?!” Ji Yong membentak “Para pemburu itu akan segera menemukan kita!”

“Aiish, aku benar-benar kehabisan akal, bagaimana sih caranya membunuh mereka?” Sandara bertanya pada Seungri. Mengacuhkan omelan Ji Yong yang mirip Ahjumma.

“Dengan cara apapun. Setiap Caedere harus membunuh paling sedikit satu pemburu untuk bisa lolos kesemester berikutnya.”

Sandara termenung. Jadi dia harus benar-benar membunuh? Kemudian rasa sedih mulai merasuki hatinya lagi. Mengingat betapa tidak sukanya dia melihat para kriminal di Seoul yang membunuh dengan kejam. Sekarang dirinya juga bagian dari kriminal dan sudah sepantasnya dihukum mati untuk menebus kesalahannya. Gadis itu mulai sibuk meminta maaf pada ayah dan ibunya karena akan melakukan perbuatan paling jahat sedunia.

Suara berderak terdengar dari arah didepan mereka, ranting-ranting pohon yang kering itu berderak semakin berisik karena kaki yang menginjaknya. Sandara dan Seungri bangkit dengan panik. Seungri mulai mengambil panahnya, Ji Yong mulai bersiap siaga dengan tombak yang sangat lancip, dan Sandara- yang tidak tahu harus berbuat apa- hanya berdiri diam dengan wajah dan rambut yang berantakan.

“Kita temukan mereka!” Seorang pemburu menerobos dengan cepat dan berteriak keras, memanggil teman-temannya. Pemburu itu sangat kotor dan tua. “Malam ini kita berpesta! Daging segar!!!” Pemburu itu tertawa terbahak-bahak sambil mengayunkan belatinya.

Seungri bersiap menembakan anak panahnya, pria itu mulai berusaha membidik. Sandara mencari suatu senjata, saat dilihatnya ada sebuah batang kayu yang cukup besar, gadis itu memegangnya dengan waspada.

Sandara melihat cahaya obor dikejauhan, mendekat kearah mereka bertiga. Seungri melepaskan anak panahnya dan langsung mengenai leher pemburu tua yang masih tertawa kegirangan. Darah langsung menyembur dari mulutnya. Pemburu itu terjatuh dan tak bergerak lagi. Bau amis darah mulai tercium. Sandara berusaha menahan gejolak emosi yang sekarang menyerangnya. Pria tua itu juga manusia yang memiliki sanak saudara dan keluarga.

Ji Yong mengambil pisau belati ditangan kaku pemburu tua itu bersamaan dengan datangnya pemburu lain, pemburu- yang melihat temannya mati- langsung memukul punggung Ji Yong dengan sebuah tongkat panjang. Sandara terpekik, Dia ingin menghampiri Ji Yong tetapi Seungri menangkap pergelangan tangannya dan mencegahnya.

“Ji!” Sandara mencoba memanggil Ji Yong yang sedang kesakitan, dengan perlahan pria itu bangkit. Sambil terhuyung dia mulai menancapkan belati ditangannya tepat kearah jantung milik si pemburu yang memukulnya tadi.

“Seungri, habisi mereka! Kau yang paling terampil menggunakan panah!” Ji Yong berteriak dan berjalan mendekati Sandara. “Sepertinya mereka lebih banyak dari yang tadi siang!”

Seungri bersiap, dua orang pemburu menerobos semak belukar yang menyembunyikan keberadaan mereka. Saat dilihat kedua temannya mati, para pemburu itu menjadi sangat marah.

Ji Yong mengambil tombak yang tadi dipahatnya. Matanya menatap lurus kepada tiga orang penyerangnya. Beruntungnya, para pemburu itu tidak membawa pistol. Seorang pemburu yang paling muda menarik anak panahnya, namun sebelum anak panah itu melayang, anak panah milik Seungri mengenai tepat kearah pemburu itu.

Seungri menoleh dan kepanikan mulai merasukinya saat disadarinya Sandara tidak sedang berdiri disampingnya. “Hyung! Sandara menghilang!”

“Jadi gadis cantik ini bernama Sandara?”

Seungri dan Ji Yong berbalik dan mendapati Sandara berdiri bersama seorang pemburu kotor yang sedang membekap mulut dan mengunci tangan gadis itu. Air mata meleleh perlahan dipipi Sandara.

“Aku berpikir untuk tidak membunuhnya terlebih dahulu karena dia sangat cantik.” Pemburu itu berkata dengan serak, bau minuman keras tercium dengan kuat. Kemudian dia membelai rambut Sandara dengan lembut. “Aku ingin mencicipinya ditempat tidur sebelum memakan daging lembutnya.”

Tubuh Seungri menegang saat mendengar ocehan pemburu liar itu. Tangannya meremas anak panahnya. “Berani-beraninya kau menyentuhnya.” Seungri menggeram.

Pemburu itu hanya tertawa terbahak-bahak. Namun, detik berikutnya tawanya berhenti karena Ji Yong mengarahkan tombak lancipnya kearah mereka. Dengan Sigap, Seungri berbalik dan menahan pemburu- yang sepertinya sangat bodoh karena sedari tadi dia hanya menonton- dan menawannya.

“Tombak saja.” Pemburu yang menawan Sandara berkata tenang. “Gadis manis ini akan ikut denganku ke neraka.” Pemburu itu terkekeh “Kau yang disana.” Dia berkata pada Seungri. “Bunuh saja sibodoh itu, dia sama sekali tidak berguna dan kerjanya cuma makan saja.”

“Kau pikir, aku tidak akan melemparkan tombak ini?” Ji Yong berkata sambil mengeluarkan seringai-nya.

“Kau tidak akan pernah bisa kan?” Pemburu itu mendengus mengejek “Kau tidak akan pernah bisa melakukan itu…”

Ji Yong terdiam, matanya bertemu dengan manik Sandara. Gadis itu tidak sedang memohon padanya. Dia hanya terdiam walau air matanya terus turun dan tubuhnya bergetar karena takut. Ji Yong mulai membidik.

Sandara mulai memejamkan matanya, dia memang tidak berharap Ji Yong akan menolongnya. Detik berikutnya, suara tombak dilempar terdengar olehnya. Dan suara daging tertusuk berdengung ditelinganya bersamaan dengan suara mengerang dari pemburu yang sedang membekap mulutnya. Bau amis darah mulai tercium, Sandara masih belum membuka mata karena takut, pegangan orang yang menawannya melemah. Dan detik berikutnya terdengar bunyi gedebuk pelan didekatnya.

Sandara membuka mata saat dilihatnya Ji Yong berjalan pelan kearahnya tanpa ekspresi. Tubuhnya masih menggigil ketakutan dan mulutnya mengeluarkan rintihan saat dilihatnya pemburu yang menawannya tergeletak dengan mata terbuka, tombak yang tidak terlalu besar itu tertancap di keningnya. Sandara merasa lututnya hanya terdiri dari gumpalan jelly hingga dia terjatuh lemas.

Ji Yong menarik tangan Sandara dan memaksanya untuk bangun. Sandara- Yang masih belum bisa berpikir jernih- bangkit dengan tatapan kosong.

“Ri! Berikan panahmu!” Ji Yong berteriak pada Seungri yang masih menawan seorang pemburu yang menangis ketakutan. Seungri melemparkan panah dan anak panahnya pada Ji Yong. “Pegang ini.” Ji Yong menyelipkan panah ke tangan kanan Sandara dan anak panah ke tangan kiri gadis itu. Kemudian dia berdiri dibelakang Sandara, memeluknya dari belakang dan membimbing tangan Sandara untuk bersiap menembak. “Kau harus membunuh pemburu itu.” Ji Yong berbisik sambil menggenggam tangan Sandara yang bergetar dengan erat.

Sandara menggeleng kuat sambil menahan isak tangisnya. Gadis itu menggigit bibirnya kuat-kuat agar suara tangisnya tidak terdengar. Apa yang dilihatnya sekarang adalah, Seungri yang menyodorkan seorang manusia yang tidak berdosa. Pemburu itu menangis kencang sambil menggeleng  dan memohon untuk dibebaskan.

“Kau harus membunuhnya untuk menyelesaikan semester ini.” Ji Yong kembali berbisik. Dengan tenang, pria itu mulai membimbing kedua tangan Sandara dan menarik busurnya. Matanya memicing, berusaha mengunci target dihadapannya. “Kau harus lulus semester ini, aku tidak akan membiarkanmu terkurung didunia sial ini selamanya.”

Sandara semakin terisak, Sekarang dia benar-benar menangis seperti anak kecil. Kedua tangannya dipegang Ji Yong dengan erat.

“Hitungan ketiga, lepas anak panah ini. Satu, dua,…” Ji Yong melonggarkan pegangannya.
“Tiga…”

Tangan Sandara yang licin oleh keringat itu melepaskan kayu runcing di tangannya. Bersamaan dengan anak panah yang terlepas tepat kearah pemburu itu, tubuh Sandara terjatuh. Matanya tertutup perlahan. Rasa shock yang dialaminya membuatnya kehilangan kesadaran.

Ji Yong menangkap tubuh Sandara, dengan lembut, pria itu menghapus jejak air mata Sandara dan memeluknya erat. Seungri mengerang kesal dan mengacak-acak rambutnya yang dipenuhi darah pemburu yang beberapa detik tadi menjadi tawanannya.

Mereka terdiam dalam keheningan.

Hingga suara ranting pohon kering yang terinjak lagi-lagi mengusik mereka. Seungri berdiri dengan siaga. Menunggu siapa yang datang.

“Lepaskan Sandara…” CL Keluar dari semak lebat sambil menodongkan pedang panjangnya kearah Ji Yong yang masih duduk dengan Sandara didalam pelukannya.

Dua orang pengendali air mulai bermunculan dibelakang CL. Suzy dan Jo Kwon.

“Hah, apa kau mencintai gadis itu?” CL Bertanya sambil tersenyum mengejek.

“Apa kau punya hak bertanya seperti itu?” Ji Yong menyeringai. Matanya tidak bergerak dari wajah Sandara “Kenapa kau terdengar seperti pacar yang cemburu?”

“KWON JI YONG!”

“Aku tidak akan memberikan gadis ini padamu.” Ji Yong menatap CL sambil memamerkan seringai liciknya. “Dia milikku.”

Seungri menatap Hyung-nya dengan mulut terbuka lebar. Apa dia tidak salah dengar? Ji Yong  pasti sudah gila. Dia mengulangi kesalahan yang sama seperti 5 tahun lalu.

 

TO BE CONTINUED

NOTE

Seperti biasa! Terimakasih untuk readers yang sudah baca dan mau komen! Juga admin RFF >3. FF ini benar-benar menguras pikiran saya. LOL pas nulis, saya kadang bingung karena semakin lama semakin aneh -___- OKIE, Semoga yang baca terhibur! Hengsho!!!

Advertisements

20 thoughts on “[FF Freelance] Genosida – Killing The Hunter (Part 3)

  1. Whooaa!! Penasaran nih sama lanjutannya..
    Jadi CL sm GD tuh pernah pacarankah?
    Jangan lama-lama deh lanjutannya (y)

    • Hehe Iya mereka “pernah pacaran” ditunggu part selanjutnya yaaa… makasih udah baca dan selalu komen :’) komenmu sangat berarti buat saya LOL kkkkk…. Pengennya juga cepet cepet di post ㅠ_ㅠ hiks… kadang saya juga bulukan nunggu FF ini di post 😄

  2. sumpaah seruuu!! ><
    paling suka sama skenarion Seungri bantu Sandara megang panah buat bunuh pemburu kyyyaa, suka suka..
    next thor

    • Yang bantu Sandara pegang panah itu Jiyong bukan seungri. kekekekeke Makasih ya udah baca n komen? aneh gak? aneh gak? part selanjutnya malah lebih aneh… pffffff ditunggu part selanjutnya yaaa *Peluk, cium, cipok* hahahahaha LOL 😄

  3. Oh my wow makin makin makin kereeeeeen ajaaaa
    Gosh~ ini ff daebak thor
    Akhirnya ada romancenya juga 😉
    Lanjut thor

  4. 5 tahun lalu? Adaaa apa dengan tahun lalu? Apa tentang jiyong yg pernah pacaran sama cl? Atau ada masalah lain?
    ‘Walau jiyong berkata kalau dia akan membunuh Sandara jika waktunya sudah tiba, gadis itu merasa aman disebelahnya dibandingkan bersama kelompoknya sendiri’ woah~ paling suka sama kalimat ia, rasanya sandara selalu aman dan tenang disebelah jiyong
    Keren! Next part soon..

  5. waa daebakk chap ni keren bgt…
    mulai dr mereka bersama sampe bunuh pemburu itu..semuanya so sweet…
    mulai bnyk pertanyaan ni..5 thun lalu apakah ttg cl ma jiyong??atau hal lain??ji ma cl pernah pacaran kan..ahhhh
    knp dara bsa tiba2 masuk dlm pikiran jiyong gtu?apa ada ikatan dy ma ji??wah genosida mkin seru buat diulik ulik asal usulnya tu….next thorr..ditunggu bgt..

  6. Puehehe…..sesuai dugaan, Seungri gak mati, tp sedikit melenceng dari fikiran juga sih, soalnya nyangkanya Seungri dibantu sama tim CL.
    Nah dipart ini kenapa Saya kepikir sama anime SAO yah, bedanya kalo diSAO manusia itu msk dan berperang dalam dunia game, hihi

  7. Whoaaaaa ternyata mereka udh pernah pacaran :O hohoho baru tahu aku kira seungri bakal mati ternyata kgk syukurdah yeeeeeeee chukkae dara semester II kau lulus 😀

  8. demi apa ini keren bgt sweet jg tegang jg aduh serius keren!!!
    btw ngakak pas dara ngomong
    “K, Kenapa mereka mengejar kita dan
    menembaki kita dengan anak panah
    yang bisa kujual dan bernilai jutaan
    won?!” Sandara berbisik sambil
    terengah. “Harusnya aku mengambil
    anak panah tadi untuk oleh-oleh.” lol

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s