[FF Freelance] Blind (Part 5 – END)

blindcoverTitle : Blind (Chapter 5/END)

Author : DkJung (@diani3007)

Main Cast :

~ [A-Pink] Jung Eunji

~ [Infinite] Lee Howon

~ [BTOB] Lee Minhyuk

~ [Girl’s Day] Lee Hyeri

Genre : Romance, Life, Angst

Rating : PG 13

Length : Chaptered

Previous part : Part 1Part 2Part 3, Part 4,

Disclaimer : ff ini terinspirasi dari sebuah drama Korea & sebuah film layar lebar Indonesia. Semoga ada yang mau baca, Happy Reading… [NOT FOR SILENT READER AND PLAGIATOR]

*

Eunji tidak bisa menahan tangisnya ketika Howon membentaknya dengan kasar. Dia menggigit bibir bawahnya agar suara tangisnya tidak memecah.

Jebal, jangan dekati aku lagi. Aku harap, kita jangan bertemu lagi,” ucap Howon lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Eunji sendirian.

Eunji sama sekali tidak mencegah kepergian Howon. Tapi, itu bukan berarti dia tidak ingin. Tiba-tiba saja, Eunji terlihat lemas dan pucat. Dia lalu jatuh pingsan. Tapi, untungnya tubuh Eunji tidak langsung jatuh ke tanah, karena kebetulan saja Hyeri yang sedang melintas pulang sekolah, menangkap tubuh Eunji.

Omo! Neo gwenchana?!” Tanya Hyeri panik melihat wajah Eunji yang begitu pucat. Howon terkesiap. Dia lalu menoleh ke belakang dan mendapati yeodongsaengnya sedang menatapnya geram.

***

Hyeri mengambil baskom berisi air dan handuk untuk mengompres Eunji. Dia merasa familiar dengan wajah Eunji, tapi dimana dia melihatnya?

“Kyaaaaaa!!! Howon Oppa! Kau di mana?! Ada yang membawa pisau di sini!” teriak Hyeri yang melihat Eunji hendak bunuh diri.

Eunji tidak berkutik sama sekali, tangannya mulai mengeluarkan cairan merah karena goresan kecil yang disebabkan oleh pisau. Baru saja Eunji mau memperdalam penjelajahan (?) pisau di tangannya, seseorang datang dengan panik lalu menahan tangan Eunji.

“Apa yang kau lakukan?! Jangan gila! Kau bisa mati!”

 

“Ah! Aku ingat! Dia kan yeoja yang mau bunuh diri di rumah sakit. Keunde, jangan-jangan, dia yeoja yang bernama Eunji! Dia majikan Howon oppa!” ucap Hyeri tersadar lalu pergi keluar kamarnya –tempat di mana Eunji beristirahat– lalu menghampiri Howon.

Oppa!

Howon yang sedang duduk gelisah di ruang makan itu langsung mendongak. “W-wae?”

“Apa dia Eunji? Majikan yang waktu itu Oppa bicarakan?” Howon mengangguk. “Dia buta kan?” Howon kembali mengangguk.

“Apa hubunganmu dengannya?” Tanya Hyeri lagi. “Apa maksudmu? Hubungan apa?” Tanya Howon, berpura-pura tidak mengerti.

“Jangan berpura-pura Oppa! Jelas-jelas tadi aku melihat pertengkaran kalian di jalan! Dan, kenapa Eunji bisa menangis?”

Howon diam saja. Dia mencoba mengambil nafas yang rasanya sesak sekali. Sejak dulu, Hyeri memang orang yang emosional. Dia mungkin kaget kenapa oppanya bisa membuat seorang yeoja yang yang tidak lain adalah majikannya itu menangis. Ditambah lagi, oppanya ini belum pernah dekat dengan yeoja manapun.

Arrasseo, aku mengaku. Sebenarnya, aku menyukai Eunji. Sudah sejak lama.” Hyeri melongo mendengar pengakuan dari oppanya itu.

***

Nyonya Jung masih sibuk mondar-mandir di kamarnya. Dia mengerut-ngerutkan dahinya yang tidak terlalu keriput –karena perawatan– itu. Suara bel rumahnya berbunyi, manandakan ada tamu yang datang. Nyonya Jung berlari tergesa-gesa menuju pintu keluar utama rumahnya. Setelah melihat intercom, ternyata yang datang adalah Minhyuk. Nyonya Jung membuka pintu lalu mempersilakan Minhyuk duduk. Raut wajah Minhyuk terlihat kesal, lesu, dan tidak bersemangat. Sedangkan Nyonya Jung terlihat khawatir.

“Minhyuk-ah, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan dan aku harap kau bisa membantu,” ucap Nyonya Jung.

“Ada apa, sieomoni?” Minhyuk terlihat terlalu malas untuk bicara.

“Apa kau tahu, kemana perginya Eunji? Dari kemarin, dia belum pulang.”

Jeongmalyo? Bagaimana bisa… pasti ada kaitannya dengan Howon?”

Keurae, dia menghilang setelah Howon dipecat.”

Sieomoni memecat Howon?” Tanya Minhyuk, kali ini dia agak terlihat panik. Nyonya Jung hanya mengangguk. “Memangnya kenapa?”

“Sudah pasti Eunji tidak terima! Dia pasti mencari Howon sekarang. Eunji kan sangat mencintainya.”

“Lalu bagaimana? Kau tidak marah sama sekali, Minhyuk-ah?”

“Untuk apa aku marah? Aku sangat mencintai Eunji, karena itulah, aku lebih memilih dia bahagia bersama Howon daripada dia bersamaku tapi dia tidak bahagia.”

Nyonya Jung terdiam. Dia tidak menyangka Minhyuk akan bicara seperti itu. Padahal Nyonya Jung ingin sekali Minhyuk menjadi menantunya.

Keunde, Howon itu orang miskin! Bagaimana mungkin Eunji akan bahagia bersamanya?”

Sieomoni, cinta itu bukan masalah kekayaan! Eunji tidak akan bahagia walaupun dia kaya raya tetapi harus berpisah dari Howon. Dia akan lebih bahagia bila bersama orang yang dicintainya, walaupun harus hidup miskin. Aku harap, sebagai orang tuanya, Sieomoni bisa mengerti perasaan dan keinginan Eunji.”

***

Eonni?” panggil Hyeri untuk kesekian kalinya. Namun Eunji tidak juga menjawab. Dia masih tetap diam sambil memeluk lututnya dan bersandar di tempat tidur Hyeri.

Eonni, apa kau tidak ingin pulang? Eommamu pasti mencarimu, Eonni.”

Tetap saja tidak ada jawaban apapun dari Eunji. Tatapannya kosong. Hyeri mendesah pelan. Dia bingung bagaimana cara membujuk Eunji agar dia mau pulang.

“Apa yang terjadi pada Howon?” Tanya Eunji tiba-tiba.

Ne? Maksudmu apa, Eonni?”

“Kenapa dia tiba-tiba berubah? Kenapa dia tidak ingin bertemu lagi denganku, huh? Dia tidak akan mati, kan?” mata Eunji sudah digenangi air mata, namun tatapannya tetap kosong.

“Mati? Apa yang kau bicarakan?” Hyeri menghentikan ucapannya ketika dia memperhatikan sebuah botol yang digenggam Eunji. Hyeri membulatkan matanya, itu obat milik Howon. Dengan cepat, Hyeri merampasnya dari tangan Eunji.

Eonni! Bagaimana bisa kau mandapatkan ini?”

Eunji tersenyum getir lalu menggeleng pelan. “Kenapa reaksimu sepanik itu? Jadi benar, ya? Howon memang mengidap kanker?”

“Bukan hanya stadium satu, kini sudah naik menjadi stadium dua,” ucap Hyeri. Agak berat memang.

Bahu Eunji mulai terguncang. Dia tidak sanggup menahan tangisnya. Kenapa Howon tidak memberitahuku sejak dulu? Apa dia memang sengaja ingin meninggalkanku? Apa dia bosan berada di sampingku? Batin Eunji.

Gwenchanayo, Eonni. Uljimaseyo…” Hyeri jadi ikut sedih.

“Bagaimana mungkin aku tidak menangis saat mengetahui orang yang aku cintai sedang sekarat?!” teriak Eunji.

***

Howon yang saat itu tidak sengaja menguping di depan kamar Hyeri pun tak kuasa menahan air matanya. Dengan susah payah dia menahan suara tangisnya agar tidak terdengar oleh Eunji dan Hyeri. “Jeongmal mianhae.”

***

“Ini, kukembalikan,” ucap Howon sambil menggeserkan amplop putih di atas meja kerja ke arah Woohyun. Woohyun berdecak kesal melihat perlakuan Howon.

“Howon-ah, kau–“

“Aku harus membayarnya. Aku tidak ingin mati dalam keadaan memiliki hutang.”

Ya! jangan bicara seperti itu! Aku sama sekali tidak menganggap ini semua hutang. Aku tulus membantumu! Kita ini kan bersahabat sudah sangat lama. Aku tidak bisa menerimanya,” balas Woohyun sambil menggeserkan amplop di hadapannya ke arah Howon.

“Terimalah! Aku tidak mendapatnya dari orang lain!”

“Dari mana?”

“Tabunganku!”

Ya! kau lebih membutuhkannya daripada aku! Kau bisa menjalankan chemotherapy dengan uang ini, paboya!”

Howon tetap pada pendiriannya. Dia kembali menggeleng. “Mianhae, aku hargai kebaikanmu. Pesanku hanya satu. Kalau kau benar-benar ingin menolongku, tolong jaga Hyeri untukku. Dia masih butuh sosok Oppa.”

***

Langkah Howon menuju pintu rumahnya mendadak terhenti ketika ia melihat Eunji sedang berdiri di sana. Sepertinya, dia sedang menikmati udara segar. Tapi, matanya terlihat sembab saat itu. Walaupun begitu, Howon tetap pada tujuan awalnya, menjauhi Eunji. Akhirnya, Howon pun kembali melanjutkan langkahnya. Baru saja dia mau membuka alas kakinya, Eunji menegurnya.

“Kaukah itu?”

Howon menoleh ke arah Eunji. “Howon-ssi?”

Howon menghela nafas. Dia bingung harus menjawab apa. Dia benar-benar ingin menghindari Eunji saat ini.

Jebal, diam di sana! Jangan pergi dulu, ada yang ingin aku tanyakan padamu.”

Howon diam saja, menunggu pertanyaan dari Eunji. Dia sama sekali tidak pergi ataupun menghindar.

“Sudah sejak kapan?”

Mwoga?

“Apa penyakit kankermu itu sudah lama? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?”

Bagaimana mungkin Eunji bisa tahu? Berantakan sudah semuanya! Dia pasti sudah tahu sekarang kenapa aku menghindarinya, batin Howon.

“Kenapa kau tidak menjawab? Apa ini alasan konyolmu menjauhiku? Kenapa kau tidak melakukan chemotherapy? Apa kau sengaja ingin meninggalkanku? Jawab!”

“Memangnya kalau aku terus bersamamu, kau akan bahagia?”

“Kau ini bicara apa?”

“Aku, aku menghidupi adikku saja aku tidak bisa! Aku bahkan sampai menitipkan adikku pada Woohyun!” Howon menghela nafas berat, “Sebaiknya kau pulang, Nyonya Jung pasti khawatir.”

Shireo! aku baru akan pulang setelah memastikan kau akan menjalani chemotherapy!”

“Sudahlah, aku akan baik-baik saja, percayalah.”

“Howon-ssi­, aku tahu kau sedang sekarat.” Eunji menggerakkan tangan-tangannya untuk menyentuh wajah Howon, “Aku tidak ingin kau mati.”

Howon tersenyum tipis sembari menjauhkan tangan Eunji dari wajahnya.

“Nyonya Jung mengkhawatirkanmu sejak kemarin, Eunji-ssi.”

“Lalu bagaimana dengan aku? Aku juga mengkhawatirkanmu! Apa kau tidak pernah memikirkan perasaanku? Aku akan merasa hampa jika kehilanganmu, Howon-ssi! Tolong mengertilah! Kau sangat berharga bagiku!”

Tidak. Aku tidak akan membuatmu sedih. Justru dengan perginya aku, aku bisa memberikan hadiah yang paling berharga dan akan sangat berguna untukmu. Dan aku yakin, hidupmu akan jauh lebih baik setelah menerimanya.

***

CKLEK

“Eunji-ya?”

Suara Nyonya Jung terdengar setelah suara pintu rumahnya yang telah terbuka. Dia langsung berhambur memeluk anak satu-satunya yang sudah lama ia rindukan itu.

Bogoshipeoseo, Eunji-ya! Kau kemana saja? Eomma khawatir sekali!”

Eunji hanya diam. Dia bahkan tidak membalas pelukan ibunya. “Aku lelah.”

Tanpa berkata-kata, Nyonya Jung langsung melepaskan pelukannya dan hanya menatap kosong Eunji yang berjalan pelan meraba-raba dinding menuju kemarnya.

“Sepertinya dia memang sudah jatuh cinta dengan supir itu!”

***

TOK TOK TOK

“Tunggu sebentar,” ucap Hyeri sambil berlari keluar kamarnya. Tidurnya harus terganggu karena tamu yang datang di larut malam.

CKLEK

Omona! Eunji Eonnie?”

Eunji membetulkan jaketnya sebelum membalas sapaan Hyeri.

Annyeong,” ucapnya.

Hyeri masih diam karena bingung melihat koper yang dibawa Eunji.

“Apa masih ada kamar kosong?”

“Kenapa Eonnie ke sini?”

“Aku ingin tinggal di tempat di mana aku bisa menemui Howon tanpa larangan dari siapapun. Masih ada kamar kosong, kan?”

“Tentu masih ada! Kau bisa tidur di kamarku, dan aku akan tidur di kamar Howon Oppa.”

“Kamar Howon? Memangnya, dia kemana?”

“Tadi sore, Howon Oppa baru selesai mandi, lalu dia menyisir rambutnya. Dan aku kaget saat melihat sisirnya yang dipenuhi rambut. Lalu saat aku cek ke ruang tengah, Howon Oppa sudah pingsan tergeletak di kursi. Aku langsung menelpon Woohyun Oppa lalu Howon Oppa di bawa ke rumah sakit untuk segera melakukan chemo,” jelas Hyeri dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

“Aku sadar saat itu, mungkin penyakit Oppa sudah semakin parah. Tadinya aku mau menemani Oppa sampai malam karena dia belum juga sadar, tapi Woohyun Oppa melarangku dan menyuruhku pulang. Dia bilang aku juga perlu istirahat,” lanjutnya.

Eunji merasa seluruh tubuhnya lemas dan dengan begitu mudahnya ia jatuh terduduk. Tangisannya memecah saat itu juga. Hyeri yang melihatnya justru ikut menangis tertahan.

***

Eunji tak kuasa menahan tangisnya begitu memasuki ruang rawat inap Howon. Terbaring lemah di atas ranjang itu, Howon, dengan cap yang menutupi kepalanya yang mendadak botak karena chemotherapy.

“Tiga langkah lagi kau bisa duduk di kursi, ranjang Howon ada di sebelah kirimu,” ucap Hyeri sambil melepaskan pegangannya di bahu Eunji.

“Aku akan pulang ke rumah Eonnie, tolong jaga Howon Oppa,” lanjut Hyeri lalu meninggalkan Eunji yang tengah menangisi Howon sendirian.

Dengan meraba-raba sekitar, Eunji akhirnya bisa meraih jemari Howon yang kaku.

“Howon-ssi, jebal ireonabwa. Aku tidak ingin kau pergi.”

***

Eunji membuka matanya. Malam itu dia tidur di rumah sakit. Rasanya ia tak tega meninggalkan Howon sendirian. Tapi, ketika ia meraba-raba kasur, Howon tidak ada di sana.

“Howon-ssi? Howon-ssi! Howon-ssi!”

Eunji pun mengambil tongkat yang berada di sampingnya lalu berjalan keluar untuk mencari Howon sambil terus memanggil namanya. Eunji terus berjalan sampai ke taman rumah sakit.

“Apa yang masih kau harapkan dariku?”

Suara itu menghentikan langkah Eunji.

“Aku sekarat, Eunji-ssi, kau tidak akan pernah bahagia bersamaku. Lebih baik kau pulang, penyakitku ini sudah stadium akhir, kepalaku saja sudah botak.”

Eunji mencoba berjalan mendekati sumber suara, walaupun ia tak yakin pasti dimana letaknya, namun kini ia berdiri di hadapan Howon yang tengah duduk di kursi taman.

“Aku tidak peduli. Aku hanya merasa nyaman bersamamu! Aku tidak peduli kau botak, karena aku tidak akan melihatnya! Keuraeseo, jebal, jangan tinggalkan aku.”

Howon hanya menghela nafas lalu bangkit dan berjalan mendekati Eunji.

“Eunji-ya.”

Mendengar panggilan Howon yang terasa dekat itu Eunji mendongak. Howon pun menyentuh kedua pipi Eunji lalu mengecup bibir Eunji pelan dan lembut. Kecupan singkat yang akan menjadi kecupan pertama dan terakhir. Howon lalu memeluk Eunji erat.

Saranghae, Eunji-ya.”

Saranghae,” balas Eunji.

Howon mendadak melepaskan pelukannya dengan cepat karena kepalanya yang tiba-tiba terasa sangat sakit.

“Howon-ssi, wae geurae?”

Gwenchana,” jawab Howon sambil tersenyum lalu terjatuh begitu saja. Matanya terpejam unuk selama-lamanya.

Omo! Howon-ssi! Howon-ssi!” Eunji terus memanggil nama Howon tanpa mengetahui Howon tang terbaring kaku di hadapannya.

“Dokter! Dokter! Dokter!”

***

One month later.

Untuk kesekian kalinya air mata membasahi pipi Eunji. Ia kini tengah memandangi sebuah foto. Foto orang yang amat dicintainya. Foto orang paling tampan yang pernah ditemuinya. Orang yang mengisi kekosongan di hatinya. Orang yang mau mendampinginya dan mencintainya apa adanya. Dan tak terasa, sudah satu bulan lamanya orang itu pergi.

“Lee Howon, aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku akan selalu mencintaimu. Dan aku akan menjaga baik-baik mata ini, mata yang selalu memandangku. Mata yang selalu menatapku teduh dan hangat.”

Jeongmal gomawoyo, Oppa.

The end.”

Akhirnyaaaa end juga ff ini /terharu/

Dimohon komentarnya yaaa^^

Sorry for typos._.v

5 thoughts on “[FF Freelance] Blind (Part 5 – END)

  1. jadi howon nya matu yah ko sad ending?
    Tapi gak apa apa lah thor sekali kali sad ending hehe
    DAEBAK THOR 😀

  2. Keren thor, kok gaenak banget hoya nya mati.
    Hoya botak gimana tuh? Tetep ganteng lah ya.
    Bikin ff hoji lagi thor!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s