[FF Freelance] In Your Eyes

in your eyes copyIn Your Eyes

by aivilien

Length: Vignette

Genre: Romance

Maincast: JJ Project Jr., miss A Suzy

Support cast: Hong Yookyung, EXO K Kai, Dal Shabet Woohee, JJ Project JB

Desclaimer: pernah di post di blog pribadi, aivilien.wordpress.com

*

“Ketika aku melihat kedalam matamu, apakah aku dapat melihat bayanganku disana?”

*

Jin Young tersenyum senang saat Soo Ji berlari ke arahnya. Gadis itu baru saja menyelesaikan lari paginya dan berhenti di taman perumahan mereka. Kebetulan Jin Young baru saja selesai bermain basket ketika gadis itu mendekatinya.

Jin Young melemparkan botol air mineralnya pada Soo Ji. Ia bahkan tidak merasa haus ketika melihat wajah gadis itu.

Soo Ji tersenyum, dan langsung menegak habis air mineral di botol itu.

“Aku lelah,” Soo Ji duduk di samping Jin Young. Soo Ji menatap Jin Young yang tengah menatap jalanan di depannya. “Boleh kupinjam bahumu sebentar?”

Jin Young membulatkan matanya. Bahkan sebelum ia memperbolehkannya, gadis itu sudah bersandar dibahunya. Bertepatan dengan itu jantungnya berdegup kencang. Dilihatnya gadis berkuncir itu Nampak menikmati tidur sejenaknya dibahu Jin Young.

Jin Young tidak dapat menahan senyumannya. Beriringan dengan itu, Jin Young mulai menutup matanya. Mencoba mencicipi suasana yang Soo Ji ciptakan.

Jin Young bahkan melupakan fakta bahwa gadis itu sudah ada yang memiliki, ketika tangannya tanpa sadar memagut gadis itu. Biarkan sejenak, ia merasakan bahwa gadis itu miliknya.

Jin Young dan Yoo Kyung berjalan bersisian memasuki kampus mereka. Yoo Kyung menatap heran pada kembarannya yang sedari tadi Nampak kehilangan jiwanya. Yoo Kyung menatap ke arah gedung fakultasnya dan Jin Young. Dengan cepat Yoo Kyung menggamit tangan Jin Young ke arah lain ketika melihat dua orang yang sangat dikenal keduanya itu berjalan di gedung fakultasnya.

Jin Young yang tidak tahu menahu dan memang kehilangan jiwanya itu hanya mengikuti langkah kembarannya. Jin Young memang sadar akan seseuatu. Namun ia berusaha untuk tidak sedikitpun menoleh.

Jin Young tersenyum penuh arti pada Yoo Kyung, “Terimakasih.” Ucapnya tulus.

Yoo Kyung hanya mengangguk.

Seseorang menggamit lengan Soo Ji sepanjang jalan menuju gedung fakultasnya. Seseorang itu selalu menampakkan senyuman terbaiknya pada gadisnya. Yang dibalas dengan manis oleh Soo Ji.

“Jong In,” ucap Soo Ji. Ia menatap mata Jong In. Mencari bayangannya di mata Jong In. Soo Ji dapat melihat bayangannya di mata hitam pemuda itu. Soo Ji tersenyum lega.

“Kenapa?” Jong In menatap gadisnya cemas.

Soo Ji hanya menggeleng. Mereka kembali melanjutkan jalan ketika Soo Ji menggamit lengan pemuda berkulit coklat itu. Pemudanya, Kim Jong In.

Yoo Kyung baru saja menyirami bunga-bunganya di sore itu ketika melihat sahabatnya itu tersenyum ringan. Soo Ji tiba tiba sudah berada dihadapan Yoo Kyung, membuat gadis berpipi bulat itu memamerkan wajah bingungnya.

“Soo Ji?” hanya kata itu yang dapat Yoo Kyung katakana.

“Dimana Jin Young?” sela Soo Ji, menanyai tentang saudara kembarnya.

Yoo Kyung mengangkat bahu, “Mungkin di ruang bawah tanah?” ucap Yoo Kyung tak pasti.

Tanpa aba-aba Soo Ji langsung berlari memasuki rumah Yoo Kyung. Yoo Kyung yang bingung hanya mengangkat bahu melihat tingkah sahabatnya itu.

Soo Ji berjalan menuruni tangga menuju ruang bawah tanah yang di maksud Yoo Kyung. Ketika sudah sampai di anak tangga terakhir, ia langsung menyalakan lampu setelah meraba-raba dinding di sebelah tangga. Lalu nampaklah ruang bawah tanah yang bisa dikatakan ruang latihan untuk menari bagi Jin Young.

“Jin Young?” Soo Ji berjalan memasuki ruang bawah tanah itu. Ia sama sekali tidak melihat sosok Jin Young. Dimana dia?

“Disini,” Soo Ji langsung membalikkan tubuhnya. Tepat di bawah tangga, Soo Ji mendekati bawah tangga itu. Soo Ji menutup mulutnya mendapati Jin Young. Jin Young tampak acak-acakkan.

“Kau baik-baik saja?” Soo Ji mendaratkan tubuhnya di sebelah Jin Young. Tangannya refleks menyentuh kening pemuda itu.

Jin Young menegang ketika tangan lembut Soo Ji dengan seenaknya mendarat di keningnya. Tidak tahukah apa yang telah gadis itu lakukan sangat menyiksa Jin Young? Jin Young menghirup udara dalam-dalam, membuat Soo Ji sadar dan melepaskan tangannya.

“Tidak panas,” kata Soo Ji pelan. “Sepertinya kau baik-baik saja.”

“Tidak terlalu,” potong Jin Young. Membuat Soo Ji menoleh, didapatinya mata Jin Young yang menatapnya. Dengan cepat Soo Ji mengalihkan pandangannya, tidak ingin terlarut dalam mata kelam itu.

“Kau kenapa?” Tanya Soo Ji. Suaranya sangat pelan dan bergetar? Apa Jin Young tidak salah dengar, huh?

Jin Young hanya diam. Tidak tahu harus menjawab apa-apa.

“Baiklah,” Soo Ji menghela napas berat. “Kau mungkin butuh waktu sendiri.” Soo Ji bangkit dari duduknya, namun sedetik kemudian tangan Jin Young mencekalnya. Membuatnya kembali terduduk di samping pemuda itu.

“Kenapa kau kemari?” suara Jin Young menggema di pendengaran Soo Ji.

Gadis itu memutar otak, mencari kata-kata yang pas untuk diajukan. “Mengunjungi teman?” Soo Ji merutuk akan jawabannya yang terdengar seperti pertanyaan.

Jin Young menatap Soo Ji sekilas. “Alasan yang tepat,” ucap Jin Young. “Sebelum kau tidak bisa lagi berkunjung, benar?”

Soo Ji menatap Jin Young bingung. Apa maksud pemuda ini?

“Jadi,” Jin Young menatap Soo Ji. Membuat getaran-getaran aneh pada pemuda itu. Tak lama, pemuda itu menundukkan kepalanya sebentar, “Selamat atas pertunangannmu.” Pemuda itu mengangkat wajahnya, menampilkan senyum yang diusahakannya.

Soo Ji tidak menjawab. Hanya mengangguk.

“Apa kau mencintainya?” Jin Young merutuk. Pertanyaan seperti ini akan menjadi boomerang tersendiri pada dirinya. Tentu saja, gadis itu sangat mencintai pemudanya, Kim Jong In.

Soo Ji tidak bereaksi, namun Jin Young tetap menunggu.

“Hm,” Soo Ji menjawab dengan gumaman. “Aku sangat mencintainya…”

Tidak tahukan perkataan Soo Ji itu membuat Jin Young merasakan jantungnya berdentum tak karuan. Bukan, bukan perasaan ini yang ingin Jin Young rasakan. Perasaan menusuk-nusuk itu menyiksa Jin Young.

“…tapi ia sulit untuk digapai.”

Jin Young membeku. Mungkinkah? Tidak, bolehkan Jin Young berharap? Berharap bahwa dirinya yang dimaksud gadis itu? Tapi pikirannya langsung ditepis ketika ia menyadari bukan hanya dirinya, pemuda yang dekat dengan Soo Ji. Jin Young tersadar akan fakta bahwa Soo Ji memang dikelilingi pemuda-pemuda lainnya. Jin Young bahkan melupakan fakta bahwa Soo Ji memiliki mantan kekasih. Oh Se Hoon kalau tidak salah? Mungkin saja gadis itu masih mencintai Se Hoon?

Soo Ji tersenyum, dengan berani ia menantang mata kelam Jin Young. “Bagaimana denganmu? Apa kau memiliki seseorang yang kau cintai?”

Jin Young mengangguk. “Sama sepertimu, ia sulit untuk digapai.”

“Kenapa? Apa dia bukan orang Seoul?” Tanya Soo Ji. Membuat Jin Young menahan senyumnya.

Jin Young menggeleng, “Dia di Seoul.” Jin Young mengatur napasnya yang mulai tak karuan, karena Soo Ji sepenuhnya menatap ke arahnya. Bahkan ia dapat melihat bayangannya di mata bening Soo Ji.

“Kalau begitu kau harus memperjuangkannya.” Ucap Soo Ji pasti. Gadis itu menyentuh bahu Jin Young meyakinkan.

Jin Young tersenyum kecut, menggeleng. Bagaimana ia bisa memperjuangkan gadis di depannya ini? Yang besok sudah berikatan dengan seseorang?

“Kenapa?”

“Aku…” Jin Young meneguk lidahnya, bingung hendak mengatakan apa. “Aku tidak tahu harus seperti apa.”

Setelah mendengar jawaban Jin Young, Soo Ji hanya diam. Ia juga tidak tahu untuk berkata apa.

Lama keduanya terdiam. Saling memantapkan hati satu sama lain.

Malamnya, Soo Ji menatap kosong jalanan di depan rumahnya melalui balkon rumahnya. Pikirannya mulai berkeliaran ke arah satu orang. Soo Ji membencinya. Soo Ji membenci ketika ia bahkan melupakan seseorang yang justru terikat dengannya. Soo Ji bahkan memikirkan orang lain, ketika besok ia sudah terikat dengan Jong In?

Soo Ji bahkan tidak tahu kemana akal sehatnya ketika ia mengemas bajunya di ransel kecilnya. Meninggalkan sebuah note dan menempelkannya di cermin meja riasnya.

Soo Ji menuruni balkon dengan sprai miliknya yang ikat menjadi menyerupai tali. Keadaan rumah yang sepi membuat gadis itu semakin lincah, sampai ia berjalan munuju halte bus di depan perumahannya.

Soo Ji memasuki bus, Soo Ji bahkan tidak tahu bus menuju kemana ia hanya membiarkan bus membawanya kemana saja, pikirnya gila.

Besoknya, seisi rumah Soo Ji panik akan menghilangnya gadis itu. Kakak Soo Ji—Woo Hee—yang pertama kali menemukan bahwa adiknya itu menghilang. Woo Hee sudah mengelilingi kamar adiknya itu dan tidak menemukan adiknya.

Woo Hee mendekati meja rias adiknya. Menemukan note yang ditulis adiknya itu.

Aku pergi sebentar.

Hanya kalimat itu yang tertulis. Membuat Woo Hee menghela napas berat. Woo Hee lantas mengambil ponselnya. Menghubungi sahabat adiknya.

“Yoo Kyung?”

“…”

“Soo Ji menghilang.”

Jong In tidak pernah mengira bahwa gadisnya akan pergi begitu saja. Jong In langsung bangkit dari tempat tidurnya ketika menerima panggilan dari Ibu Soo Ji bahwa gadisnya menghilang.

Jong In merasa takut. Takut kepergian gadisnya akibat ia sendiri. Jong In memang menyadari akhir-akhir ini Soo Ji bertingkah aneh, seolah olah maragukan Jong In.

Jong In memutuskan mengelilingi Seoul hari ini. Jong In bahkan melupakan bahwa malam ini adalah malam pertungannya dengan Soo Ji.

Setelah mendengar kabar dari Woo Hee, Yoo Kyung langsung berlari menuju ruang bawah tanah. Mendatangi Jin Young tentu saja. Namun, begitu ia menjejakkannya di ruangan milik Jin Young itu, ia tidak menemukan sosok yang dicarinya itu.

Yoo Kyung menggelengkan kepalanya. Kemana saudara kembarnya ini?

Begitu sampai di atas, Yoo Kyung mendapati Ibunya melintas.

“Ibu, dimana Jin Young?” Tanya Yoo Kyung tak sabar.

Nyonya Park menatap anaknya bingung. Apakah Jin Young tidak memberitahukan kepada kembarannya bahwa ia pergi?

“Dia ke Mokpo. Mengunjungi Paman Im.” Jawab Ibu, mengatakan suami dari adiknya. Yoo Kyung hanya melongo. Namun, sedetik kemudian gadis itu mengambil ponselnya dan menghubungi kembarannya itu.

“Soo Ji menghilang!” ucap Yoo Kyung terlewat histeris begitu mendengar sapaan Jin Young.

Jin Young membeku. Ponselnya bahkan terjatuh setelahnya. Jae Bum—anak Paman Im—yang berada di sebelahnya menatap Jin Young bingung. Jae Bum mengambil ponsel Jin Young, dilihatnya nama Yoo Kyung yang baru saja menghubunginya.

“Ada apa?” Tanya Jae Bum was-was, begitu melihat nama kontak sepupunya  itu.

Jin Young hanya terdiam. Wajahnya memucat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Pikirannya hanya terfokus pada seseorang. Namun, Jin Young masih meyakinkan dirinya bahwa ia bukan bagian dari seseorang itu. Jadi, apa ia harus mengkhawatirkan orang itu? Orang yang… sangat Jin Young cintai.

“Hei, ada apa denganmu, kawan?” Jae Bum merangkul Jin Young. Menuntun Jin Young ke arah pasar ikan yang berada di dekat dermaga. Dari sana mereka dapat melihat orang-orang yang saling tukar menukar, entah itu dengan uang atau barang dagangan mereka. Di sana juga terdapat burung camar, yang sesekali mencuri ikan-ikan nelayan. Membuat para nelayan berteriak, beriringan dengan terbangnya ikan laut itu.

Jin Young menatap burung camar itu. Seandainya ia bisa menjadi burung camar itu. Bisa merampas sesuka hatinya. Ah, Jin Young tidak ingin egois. Tapi bukankah burung camar egois?

Jin Young menggelengkan kepalanya, dengan pikiran yang mulai melantur kemana-mana itu.

Jin Young sendiri tidak sadar bahwa Jae Bum sudah tidak bersamanya lagi. Kepalanya menoleh kesana kemari mencari sosok pemuda itu. Tapi, pada satu titik, Jin Young tercekat.

Dengan pelan, dilayunkan tungkainya itu menuju gerai yang menjual cumi-cumi itu. Tanpa ragu, Jin Young menyentuh bahu seseorang yang tengah menunduk memilih cumi-cumi itu. Seseorang itu berbalik dengan wajah kesal, namun ekspresinya langsung berubah ketika tahu siapa orang di depannya.

“Jin Young?” ucap seseorang itu, terkejut. Jin Young tak kalah terkejut. Jin Young bahkan merasa ia tak bertapak lagi, ketika suara itu mengucap namanya.

Berlatarkan ombak bergulung, nyanyian sendu angin, tarian pohon kelapa tak ubah membuat suasana itu bersahabat. Di atas pasir putih lembut di dekat dermaga, dua sosok itu menapakkan kaki. Di tangan masing-masing terjuntai alas kaki mereka, mereka tidak berniat untuk menggunakan alas kaki ketika bertapak di pasir putih nan lembut itu.

Keduanya memutuskan untuk duduk, dengan jarak ke arah laut sedikit jauh. Tak ada suara yang keluar dari kedua mulut mereka. Mereka hanya diam, memutuskan apakah sesuatu didalam sana saja yang bicara. Bisakah?

Soo Ji memainkan pasir putih lembut itu. Ia tidak pernah menyangka akan bertemu Jin Young di sini. Padahal ia sudah menata rencana sebaik mungkin agar tak seorang pun yang ia kenal menemukannya. Namun prediksinya kurang tepat. Buktinya, ia bertemu Jin Young di sini.

Jin Young sendiri hanya terdiam. Ia juga tak menyangka akan bertemu Soo Ji ketika orang-orang di Seoul kehilangan gadis itu. Dan Jin Young tak habis pikir, bagaimana bisa gadis itu berada di Mokpo. Tapi percayalah, Jin Young tidak pernah menyesal bertemu gadis itu. Tidak pernah sama sekali.

“Jadi,” Jin Young memutuskan untuk memecah keheningan yang dibangun serapi itu. “kenapa kau ke sini? Mokpo?” Jin Young rasa pertanyaan itu yang paling tepat ditanyakan sekarang. Ia akan berujar seolah ia tidak tahu Soo Ji kabur dari rumahnya.

Soo Ji menatap Jin Young yang menatap ke arah lautan. Tidakkah Jin Young melirik ke arahnya ketika berbicara? Soo Ji menghela napas, pikiran apa yang terlintas di benaknya tadi.

“Aku kabur dari rumah.”

“Kenapa bisa?” Jin Young masih tak memalingkan wajahnya dari lautan di depan sana. Apakah lautan jauh begitu indah dari gadis ini? Tidak, Jin Young hanya… tidak ingin tenggelam dengan gadis itu. Soo Ji jauh lebih indah daripada laut didepannya, percayalah. Itu asumsi Jin Young.

“Aku sudah pernah berkata padamu, aku mencintai seseorang.” Jawab Soo Ji. “Dan itu bukan Kim Jong In.” lanjutnya lirih. Soo Ji bahkan ingin mengatakan sesuatu yang lain, namun lidahnya tercekat ketika Jin Young masih belum lepas dari laut.

Jin Young tidak tahu bahwa sedari tadi Soo Ji menatapnya, berharap bahwa pemuda itu melihatnya.

“Lalu,” Soo Ji menatap Jin Young yang tak kunjung melihat ke arahnya. “Siapa orang itu?” Jin Young memalingkan wajahnya. Dan betapa terkejutnya ia mendapati Soo Ji yang tengah menatapnya dengan, penuh harap? Jin Young sendiri bisa melihat bayangannya di mata Soo Ji.

Soo Ji menikmatinya. Ia dapat melihat bayangannya dalam mata Jin Young. Mata kelam itu seolah menghanyutkannya. Membuat Soo Ji tak berniat untuk lari, dan Soo Ji bahkan dengan sukarela menenggelamkan diri, jika bisa.

Jin Young masih menantang mata itu. Masih terhanyut dalam mata itu. Sampai sebuah refleks alami menghanyutkan, membuatnya mendekatkan diri pada mata itu. Soo Ji tidak bergerak sama sekali. Mata Jin Young benar-benar dekat dengannya. Ia bahkan dapat mendengar napas pemuda itu.

Soo Ji menutup matanya ketika Jin Young mulai menghanyutkannya. Menyampaikan rasanya pada gadis itu.

Beri komentar?

8 thoughts on “[FF Freelance] In Your Eyes

  1. Huuwaaaa! Happy end? Anggap saja begitu
    Maniis tapi sedih sih. Mereka saling mencintai tapi nggak bisa saling jujur
    Keren! Nice ff..

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s