[FF Freelance] The Man Across The Road (Part 1)

T-1

Title                       : The Man Across The Road

Author                  : Chandoras/@sichilonely

Rating                   : PG-15

Length                  : Trilogy Series

Genre                   : Romance, Sad(?)

Main Cast            : Lee Sung Ah(OC)

Suho as Kim Joonmyeon

Luhan as Xi Luhan

Support Cast      : Chen as Kim Jongdae

Disclaimer           : All of storyline is mine. Plagiarized is prohibited. Also posted in my blog.

***

Aku Lee Sung Ah. 24 tahun. Single. Cinta sejati? Aku belum menemukannya. Omong kosong. Apa itu takdir saja aku tak peduli. Jika ada seseorang yang bisa menunjukkannya, tunjukkanlah.. aku menunggu.

“ Sung Ah-ssi, aku duluan.” Seorang rekan kerja menundukkan kepalanya sopan setelah meletakkan setumpuk laporan di atas meja kerjaku. Aku hanya tersenyum sekilas tanpa memperhatikannya. Mataku masih terfokus pada pada layar computer sementara jari-jariku lincah mengetik. Pekerjaan seorang sekretaris memang menyebalkan. Lihatlah, aku selalu menjadi orang yang terakhir pulang dalam seminggu ini.

Meskipun begitu, aku menikmati kesendirian ini. Tanpa ada seorang pun di sampingku, aku bebas melakukan apa saja. Lagipula, ini pilihanku untuk menenggelamkan diri pada pekerjaan. Lebih baik aku sibuk bekerja seperti ini. Ya, itu membuatku tak perlu berpikir tentang hal-hal yang tak perlu diingat. Termasuk, satu hal yang menyakitkan..

Tepat pada pukul 23.30 aku menghentikan pekerjaanku sejenak. Hanya tinggal 30 menit lagi sebelum kalender berganti hari. Aku menoleh pada jendela yang tepat berada di sebelah kanan mejaku. Hari ini hujan turun. Bulir-bulir air yang jatuh dari langit itu dapat terlihat dengan jelas dari tempatku ini. Jalan raya basah sudah. Tak banyak kendaraan yang lewat, meskipun tak bisa  dikatakan sedikit pula.

Mataku beralih pada halte yang yang persis berada di seberang kantorku. Seorang pria dengan kemeja yang sudah basah berlari-lari kecil menuju bangunan tersebut.  Jas berwarna abu-abunya ia gunakan untuk menutupi kepalanya saat berlari di tengah hujan barusan. Kini ia sibuk menepuk-nepuk badannya yang basah terkena air hujan.

Wajahnya kemudian menengadah menatap bangunan kantorku. Mungkin ia melihat satu-satunya cahaya yang tak lain berasal dari ruanganku. Kaca jendela di kantorku ini tak seluruhnya menggunakan kaca Ray-ban, jadi mungkin ia bisa melihatku. Yah, walaupun tak akan begitu jelas karena jarak yang tak bisa dikatakan dekat.

“ Sudahlah.. aku harus menyelesaikan pekerjaanku.” Gumamku pelan. Aku menyentuh mouse dan screen saver di layar pun menghilang. Lembar kerja perangkat pengolah kata kembali terlihat. Entah kapan aku bisa menyelesaikannya. Mungkin dini hari nanti.

Dan malam itu adalah kali pertama aku bertemu dengannya. Pria di seberang jalan.

KRRRIIIINGG~

Bunyi jam weker terdengar sangat menyebalkan pagi ini. Aku menggeliat pelan sebelum akhirnya mematikan bunyinya yang memekakkan telinga itu. Sedikit terpaksa, aku bangkit dari tempat tidurku dan melangkah malas menuju toilet. Tidurku semalam sangat tidak nyenyak. Entah apa penyebabnya. Bahkan cermin tak bisa berbohong untuk tak menunjukkan lingkaran mataku yang tampak menghitam. Payah sekali.

Setelah menghabiskan waktu sekitar empat puluh lima menit untuk bersiap, aku keluar dari kamarku dan turun ke lantai bawah. Tampak eomma sedang sibuk menyiapkan sarapan sendirian. Aku menatapnya kagum. Di usia setengah abadnya, wanita satu itu seperti tak pernah berkurang kegesitannya. Berbeda denganku, masih berkepala dua namun sudah sering mengeluh kelelahan.

“Baru bangun?”tanyanya saat melihatku menuruni tangga.

Aku mengangguk dan menghampirinya. Tanganku lalu mengambil beberapa piring dari rak dan membawanya ke atas meja. “Pulang malam lagi?”tanya eomma untuk kedua kalinya. Mungkin ia menangkap gelagatku yang tak sesegar biasanya.

“Biasalah..”ujarku sekenanya. Malas bicara banyak-banyak. Pembicaraan ini akan merembet kemana-mana jika aku menanggapinya. Entah itu berupa nasihat panjang ataupun saran-saran kosong yang tak memungkinkan.

Aku duduk di salah satu  kursi setelah menata piring dan makanan untuk sarapan pagi ini. Selang beberapa waktu kemudian, appa dan Sung Joon—adik laki-lakiku—datang dan ikut bergabung dengan kami berdua. Sarapan akhirnya dimulai.

“Sung Joon-ah..bagaimana kuliahmu? Lancar?” Appa membuka percakapan dengan menanyakan kabar kuliah adik laki-lakiku yang sebenarnya sangat penuh dengan kebasa-basian. Jujur saja, waktu sarapan bersama seperti ini terkadang sangat ingin kuhindari. Karena apa? Well, kau akan tahu kemudian..

“Ehm, kuliahku baik-baik saja appa..doakan saja semoga aku dapat menyelesaikannya semester depan..”Sung Joon menjawab dengan singkat. Oh tidak, ini artinya aku yang akan mendapat giliran pertanyaan. Dasar dongsaeng menyebalkan! Kenapa ia tidak memanjangkan obrolan saja sih?!

“Noona,”Sung Joon menoleh padaku tepat setelah menjawab pertanyaan appa tadi. Aku yang sempat khawatir akan dipanggil namanya oleh appa, menghela napas lega begitu mendengar suara Sung Joon yang memanggilku. Setidaknya appa tak akan mengganggu obrolan kami..ah, atau mungkin ia akan lupa untuk bertanya padaku. Ya, itu akan lebih baik.

“Eo, wae?” tanyaku menanggapi panggilannya dengan senang hati.

Sung Joon mengernyitkan dahinya sembari menaikkan sebelah bibirnya ke atas. “Kau..semakin mirip panda..”

“Ya! Mworaneun geoya?” aku memandangnya tak mengerti. Ini masih pagi dan ia sudah berani mengajak perang?

“Ya! Harusnya kau berterima kasih aku berkata jujur..Yeseul berkata padaku bahwa ia ingin melihatmu dan bertemu denganmu, tapi aku rasa aku tak akan mengizinkannya untuk bertemu denganmu,” Ia menyuapkan sepotong galbi ke dalam mulutnya setelah tadi menyinggung-nyinggung nama kekasihnya.

“Wae?” aku semakin tak mengerti akan apa yang sedang dibicarakan oleh adikku satu-satunya itu.

“Aku malu. Kau terlihat seperti monster panda yang sangat workaholic.”

Aku menghentikan kunyahanku dan menginjak kaki kanan Sung Joon sekuat tenaga sampai ia berteriak kesakitan. “Lain kali kau mengacaukan moodku sepagi ini, aku akan membakar motor kesayanganmu itu.” Ancamku dengan nada yang kubuat seserius mungkin. “Ah, dan katakan pada Yeseul-mu itu agar ia tak meminta bertemu denganku! Kau tahu kenapa? Karena mungkin ia akan tahu semua kelakuan busukmu yang sebenarnya.”

Sung Joon menendang pelan kakiku yang masih menginjak kakinya. Ia kemudian mendengus pelan. Entahlah, karena kesal atau karena takut padaku. Yang pasti, aku tak main-main dengan ucapanku. Biar saja ia menilaiku sebagai kakak yang kejam atau apapun itu. Aku sudah lama kehilangan selera humorku.

“Lee Sung Ah, kau tahu adikmu hanya becanda..”Appa mulai ikut ke dalam pembicaraan kami berdua. Aku tersenyum kecut menanggapi teguran appa barusan. “Aku pun hanya becanda appa,” ujarku berbohong. Bisa kudengar Sung Joon kembali mendengus begitu mendengar ucapanku barusan. Tentu hanya ia yang tahu bahwa aku memang serius terhadap ancaman yang kuberikan untuknya.

“Lagipula Sung Joon memang benar..lingkaran hitam di matamu semakin menjadi..kau harus memperhatikan dirimu sendiri, Sung Ah..”

“Nde,appa..”

“Ah..lalu kapan?” Appa kembali bertanya. Kali ini sedikit menggantung.

Aku menaikkan sebelah alisku tak mengerti. “Kapan apanya appa?” tanyaku.

Appa berdeham sekali sebelum menjawabku. Oh tidak, sepertinya pertanyaan itu yang akan dikeluarkannya..

“Kapan kau akan memiliki namjachingu dan menikah? Sung Joon saja sudah punya..”

Aku menghentikan kunyahanku sejenak. Ternyata benar pertanyaan itu.

“Itu belum kupikirkan, appa..” jawabku datar. Aku mengambil segelas air minum dan meneguknya. Inilah alasanku mengapa aku terkadang tak menyukai sarapan bersama. Pertanyaan itu.

“Teman eomma punya anak laki-laki yang tak jauh berbeda umurnya denganmu..kalau sempat, temuilah ia..”kini eomma ikut menimpali topik ini. Aku mengedikkan bahu. Tak mengiyakan juga tak menolaknya.

Aku meletakkan sumpitku dan beranjak dari kursi. Kedua orangtuaku memandangku heran. “Sung Ah-ya..makananmu belum habis,” ujar eomma mengingatkan.

“Aku hampir telat, ada rapat mendadak pagi ini. Aku pergi duluan,”ujarku berbohong. Segera aku ambil tasku dan pergi meninggalkan ruang makan. Menyisakan tiga pasang mata yang menatapku tanpa suara. Aku berusaha tak memedulikannya. Nafsu makanku hilang sudah. Semuanya hanya gara-gara satu: Pernikahan.

***

“Laporan ini belum sempurna. Seharusnya semua ini kau audit terlebih dahulu sebelum diajukan. Kau tahu kan’ kalau direktur bagian personalia sangat perfeksionis? Ia tak akan mau menerima laporan ini.” Manager atasanku mengembalikan satu jilid laporan yang baru saja kuselesaikan. Aku mengambilnya kembali tanpa banyak bicara dan menganggukkan kepala tanda menurut. Baru saja aku hendak mundur dan pergi meninggalkan ruangannya, ia kembali memanggilku. “Sung Ah-ssi,”

Aku menghentikan gerakanku dan menoleh, “Nde?”

Ia tersenyum dan menatapku prihatin. “Aku tahu kau lelah. Sekarang kau istirahat dan makan siang dulu saja. Akan kuundur tenggat waktu penyelesaiannya sampai malam nanti,” ujarnya.

Aku menganggukkan kepalaku untuk menunjukkan rasa terima kasihku padanya. Ya, aku tahu sebenarnya ia tak tega melihatku yang selalu meninggalkan kantor pada saat dini hari. Namun bagaimanapun, perasaan pribadi tak dapat dicampuradukkan dalam pekerjaan ini. Karena itu, aku tak pernah memprotesnya barang sekalipun semenjak aku bekerja di bawahnya. Aku tahu ini memang tuntutan pekerjaannya.

Setelah keluar dari ruangan itu, aku berjalan menuju mejaku yang berada tepat di samping jendela. Sinar matahari menembus melewati kaca jendela dan mengenai sebuah amplop berwarna pink dengan pita berwarna senada yang menghiasinya. Aku mengerutkan dahiku saat melihat benda yang nampak asing di mataku itu.

“Ah, itu undangan pernikahan Dahee-ssi..” seorang rekan kerja tiba-tiba menyahut saat melihatku hanya memandangi amplop tersebut tanpa suara.

Aku menoleh dan mengangguk padanya tanda mengerti. “Nde, kamsahamnida..”

“Apakah kau akan datang? Kalau mau kau bisa ikut mobil—“

“Aku tidak tahu.” Aku memotong ucapannya sebelum ia selesai berbicara.

“Nde?”

Aku menarik kursiku dan duduk di atasnya. “Aku tak tahu. Aku masih akan sangat sibuk seminggu ini.”

Ia tampak tak nyaman begitu mendengar kalimatku yang terkesan tak bernada tadi. Setelah menganggukkan kepalanya canggung, ia bergegas menjauh dari mejaku dan bergabung dengan kerumunan yang sedang mengobrol di depan pantry.

Aku tebak pasti ia sedang melaporkan sikapku barusan pada kerumunan itu. Hal itu terbukti karena sekarang beberapa di antara mereka sibuk mencuri pandang ke arahku. Aku menghela napasku mencoba untuk tak peduli. Pagi yang diawali dengan pertanyaan tak mengenakkan tadi berhasil membuat moodku berada di worst state setengah hari ini.

Dan lagi..kenapa satu kata itu terus menghantuiku?

Pernikahan.

***

Malam ini hujan kembali turun membasahi Seoul. Dan ini entah keberapa kalinya aku menikmati pemandangan tersebut sendirian. Di ruangan kantor yang sunyi. Meski laporan yang harus kuperbaiki sudah selesai sejak senja tadi, aku membiarkan diriku untuk menghabiskan waktu di sini. Mendengar bunyi samar gemericik hujan membuat jiwa melankolisku bangkit. Menurut banyak orang, hujan selalu berhasil membuat kenangan lama terangkat kembali. Entah itu buruk atau indah. Dan hal itu, rupanya terjadi padaku malam ini.

Memori selama satu tahun terakhir terus berkelebatan di kepalaku. Rasanya seperti sedang menonton kaleidoskop. Aku mengepalkan telapak tanganku untuk menahan gejolak perasaan dalam dada. Ini tidak adil, bukankah begitu? Mengapa hanya aku yang merasa sakit seperti ini?

Hampir saja air mataku menetes kalau pintu ruanganku tidak tiba-tiba terbuka. Sedikit kaget, aku menoleh ke arah pintu dan menemukan sesosok pria yang berdiri disana. Aku refleks berdiri dan menundukkan kepalaku sopan begitu sadar siapa sosok tersebut sebenarnya.

“Lee Sung Ah, apa yang kau lakukan selarut ini di kantor? Bukankah kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu?”tanyanya sembari berjalan mendekat ke arahku.

Aku mengangkat kepalaku dan meringis pelan, “Geunyang..”

“’Geunyang’? Aku tak pernah memintamu untuk memforsir dirimu sendiri,”ujarnya masih dengan nada serius. Ia kemudian menepuk bahuku pelan dan menatap mataku. “Pulanglah,”pintanya halus.

Aku menggeleng pelan. Dengan beralasan ada sedikit masalah di rumah, aku meminta izin padanya untuk tetap tinggal di kantor untuk beberapa saat lagi. Awalnya ia tak mengabulkan, namun setelah kuyakinkan ia bahwa aku akan baik-baik saja, barulah akhirnya ia mengiyakannya.

“Baiklah, aku pulang duluan. Jika ada apa-apa, panggil petugas security saja..” ujarnya sebelum beranjak pergi.

Aku mengangguk paham. “Ini bukan pertama kalinya aku berada di kantor hingga selarut ini, sajangnim..”

“’Sajangnim’? Aku harap kau tak memanggilku seperti itu bila jam kerja sudah selesai. Panggil namaku saja, itu akan lebih enak untuk didengar..”

“Ah..keundae—“

“Tak ada alasan untuk menolaknya, Lee Sung Ah. Baiklah..aku pergi, take care..”

“Ah..ye..” aku kembali menunduk untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar pergi. Setelah itu, terdengar suara pintu tertutup dan langkah kaki yang semakin menjauh. Aku menghembuskan napasku lega. Sepanjang minggu aku berada di kantor selarut ini, baru kali ini aku bertemu dengannya. Manager atasanku yang selalu merepotkanku dengan laporan-laporan. Entahlah, mungkin kali ini ia merasa bersalah padaku.

Aku kembali duduk di atas kursiku. Mataku menatap keluar jendela yang masih menampilkan pemandangan hujan di malam hari. Dan untuk kedua kalinya, aku melihat pria yang sama dengan semalam yang lalu. Ia masih sama. Berlari-lari kecil sembari menutupi kepalanya dengan jas kelabunya, kemudian berdiri di bawah halte menghadap gedung kantorku.

Tanpa sadar, aku terus memperhatikan gerak-gerik pria tersebut. Posturnya yang tak terlalu tinggi serta wajahnya yang tampak begitu tenang, entah mengapa sosok tersebut seperti menarik perhatianku. Mungkin..karena ia yang menemaniku selama dua malam terakhir ini?

Tiba-tiba udara terasa begitu dingin. Aku bangun dari kursiku dan beranjak pergi menuju pantry. Membuat kopi kurasa merupakan salah satu pilihan yang terbaik untuk saat ini. Dan lihatlah, rupanya pria di seberang jalan sana juga sedang menyesap kopi yang sepertinya ia beli dari vending machine sesaat setelah aku kembali dari pantry. Kebetulan yang menyenangkan.

“Yoksi..kopi memang selalu nikmat saat cuaca seperti ini..bukankah begitu, hei pria di seberang jalan?”

***

Ada banyak hal yang tak kumengerti di dunia ini.

Mereka yang mengingkari janjinya.

Mereka yang berbuat baik tanpa diminta.

Mereka yang setia menanti.

Dan, mereka yang saling mencintai tanpa saling mengenali.

***

“Saranghae, Lee Sung Ah..”

“Jadi, kau mau menjadi kekasihku? Benarkah?”

“Lee Sung Ah, maukah kau menikah denganku?”

“Aku yakin, kaulah pasangan takdirku.”

“Aku berjanji akan membuatmu bahagia, karenanya..mari kita hidup bersama,”

“Maafkan aku, kau bisa membunuhku sekarang jika kau mau..”

“Tetaplah membenciku dan ingatlah bahwa aku pernah bersamamu..”

“Jangan temui aku lagi,eo?”

Tes. Air mataku kini tak dapat kutahan lagi. Kenapa pula ingatan tentangnya kembali menyeruak? Ini kali pertama aku menangis setelah sebulan lamanya sejak kejadian yang menggoreskan luka itu terjadi. Satu bulan yang terasa seperti satu tahun lamanya. Setiap satu detik kosong, wajahnya selalu terbayang di pikiranku. Tak hanya wajahnya, namun senyumannya, perkataannya, gurauannya, juga pelukannya yang hangat.

Tanganku bergerak membuka laci yang berada di bawah mejaku. Kuambil sebuah kotak berukuran sedang yang tak begitu berat. Di dalamya terdapat kotak yang lebih kecil ukurannya. Kubuka kotak kedua tersebut dan menatap kosong apa yang ada di dalamnya. Perak kecil yang berkilauan. Di tengahnya terdapat mata yang terbuat dari kristal yang tak kalah indahnya. Aku tak akan pernah bisa memakainya dan juga membuangnya. Jika aku menyimpannya terus menerus aku memang selalu akan ingat padanya, tapi membuangnya? Entahlah, aku tak bisa. Aku masih mencintainya, tentu saja. 4 tahun menjalin cinta dengannya membuatku tak bisa begitu saja melupakannya.

Air mataku semakin deras mengalir begitu mengingat hari itu. Hari dimana aku dilamar olehnya. Hari terindah yang telah berubah menjadi hari terburuk bagiku.

***

“Camping? Wae?”

“Tentu saja untuk refreshing Lee Sung Ah..kau tidak mau?” Ia tetap fokus menyetir mobilnya sementara aku masih mengerutkan dahiku bingung. Ini seperti bukan dirinya. Sejak kapan ia senang berwisata alam?

“Uri duri? Tak ada orang lain?” Tanyaku masih tak yakin.

“Keuromyo. Wae? Kau takut aku berbuat macam-macam padamu?” candanya.

“Silahkan saja kalau kau berani, kau tahu aku ini juara taekwondo dulu kan?” tantangku.

Tiba-tiba ia meminggirkan mobilnya dan mematikan mesinnya. Aku menoleh padanya tak mengerti. Ia mulai mendekatkan wajahnya dengan wajahku. “Aku berani, nona..”

“Ya-ya-ya! Apa yang akan kau lakukan? Kim Jongdae!”

Jongdae hanya tersenyum dan terus mendekatkan dirinya. Aku memundurkan badanku panik. Ini jalanan sepi dan ia akan melakukan sesuatu padaku disini?!

“Lihat, atlet taekwondo bahkan tak bisa melawan..” bisiknya ketika hidung kami berdua sudah bersentuhan. Aku menatap matanya yang juga balas menatapku. Mata yang memancarkan perasaannya.

“Ya! Mau apa ka—“

Omonganku terputus karena Jongdae sudah keburu menciumku lembut. Aku memejamkan mataku, menikmati setiap sentuhan bibirnya yang sudah lama tak kurasakan. Ia baru saja pulang dari tugasnya di luar kota selama dua bulan.

Ciuman Jongdae tak pernah selama ini. Tampaknya ia pun merasakan hal yang sama denganku. Kami saling merindukan. Aku mengalungkan tanganku ke lehernya dan ia tersenyum di sela-sela ciumannya.

Akhirnya, Jongdae melepaskan bibirnya dari bibirku. Aku menghela napas lega karena mengira ia akan melakukan hal yang lebih dari itu. Masih dengan senyumnya, ia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik, “Kau kalah. Ikut camping bersamaku, eo?”

Aku tertawa kecil dan mengangguk. Bersama Kim Jongdae selalu membuatku bahagia. Kuharap ia akan menjadi pendampingku kelak..

***

Aku sedang sibuk menambah kayu bakar untuk api unggun saat Jongdae tiba-tiba memelukku dari belakang. Ia tak berbicara apapun dan malah menumpu dagunya pada bahuku. Suasana tiba-tiba hening. Hanya suara derik jangkrik yang terdengar. Aku menoleh sedikit ke arahnya, mencoba mencari matanya.

“Lee Sung Ah, maukah kau menikah denganku?”

Mataku membulat begitu mendengar kalimatnya barusan. Apa aku tak salah dengar? Ia..melamarku?

“Kau—“

“Aku yakin, kaulah pasangan takdirku,”

“Aku berjanji akan membuatmu bahagia, karenanya..mari kita hidup bersama,”

Aku masih diam. Rasanya bibirku terlalu kelu untuk berucap. Suara gemeretak kayu yang terbakar mengisi kebisuan kami berdua. Mulutku memang tak berbicara, tapi entah sejak kapan mataku telah berkaca-kaca. Kurasa itu cukup untuk menjadi jawabannya.

Jongdae meraih telapak tanganku dan meletakkannya di depan dadaku. Aku merasakan sebuah benda bulat kecil sudah tergantung entah sejak kapan. Aku menundukkan kepalaku dan menangkap bentuk cincin perak yang sudah dikalungkan di leherku tersebut. Berkilauan dan cantik.

Air mataku akhirnya mengalir sempurna. Jongdae memutar tubuhku hingga sempurna menghadapnya. Ia tersenyum hangat dan mengecup keningku singkat. “Ini bukan mimpi, jadi pastikan kau tidak melupakannya saat esok pagi tiba, nona..” candanya kemudian.

Aku tertawa pelan dan mengangguk. Tentu, ini bukan mimpi. Malam ini lebih indah dari semua mimpi indah yang pernah kualami. Malam ketika seorang Kim Jongdae melamarku.

***

Aku tak pernah memintanya untuk membuat janji-janji kosong itu. Lantas kenapa malah ia yang mengingkarinya? Apakah sebegitu sulitnya menjalani hubungan denganku? Aku tak pernah memintanya membelikan barang-barang mahal, memintanya mengajakku dinner di restoran mewah, menuntutnya untuk mencari uang lebih banyak, tak pernah.

Ternyata, kesetiaan itu mitos belaka.

Orang yang kau cintai dan kau percayai sepenuh hati justru adalah orang pertama yang mengkhianatimu. Ia tahu benar kelemahanmu dan segala tentang dirimu. Setia berdiri di sampingmu bukan berarti ia siap melindungimu. Sebaliknya, ia akan selalu siap untuk menusukmu dari belakang.

Ada banyak hal yang tak kumengerti di dunia ini.

Mereka yang mengingkari janjinya. Itu salah satunya.

***

Sudah seminggu berlalu sejak kejadian menangis tengah malam di kantor. Sudah seminggu pula hujan tidak turun. Aku mulai merasa kesepian karena malam-malamku di kantor tak lagi ditemani oleh pria di seberang jalan itu. Biasanya jika aku mulai mengantuk, aku akan mulai memperhatikan gerak-gerik pria itu. Tapi semenjak ia tak ada, aku jadi tak bisa melakukannya.

Aneh, ia hanya muncul saat hujan saja..apa itu berarti ia peri hujan?

Aku terkekeh pelan saat anggapan itu muncul begitu saja di kepalaku. Rasanya seperti bukan diriku. Sejak kapan aku menyukai hal-hal berbau fantasi? Adikku sendiri saja sering bilang bahwa aku adalah orang dengan tingkat realisasi tertinggi di seluruh dunia. Kepribadian yang sedikit membosankan, huh?

Aku memijat kepalaku pelan saat jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.20. Rasanya hari ini lebih melelahkan dari hari-hari sebelumnya. Apa tubuhku sudah mencapai batasnya? Ia sepertinya kupaksa bekerja terlalu keras akhir-akhir ini.

Ponselku bergetar pelan ketika sebuah panggilan tiba-tiba masuk. Kulihat nama yang tercantum di layar. Manajer.

“Yeoboseyo,”ujarku saat mengangkat panggilan darinya.

“Eo, kau sudah pulang, Lee Sung Ah-ssi?”

Aku meneguk ludahku gelisah. Ia pasti akan menyuruhku pulang bila aku memberitahunya bahwa aku masih di kantor. “Aku—“

“Kau belum pulang, aku tahu itu,” ia memotong kalimatku sebelum aku sempat menyelesaikannya. “Kalau begini caranya, lebih baik kau jadi petugas security saja. Ambil shift malam dan kau akan pulang setiap pagi.”

“A-animida..nanti—sebentar lagi, aku akan pulang,” ujarku terpaksa.

“Aku tak mau dibilang memaksa. Itu keputusanmu untuk menentukan jam pulangmu. Jika kau memang merasa nyaman, tinggallah.”

Aku menggaruk tengkukku karena tak nyaman akan obrolan ini. Sebenarnya ia menyuruhku untuk pulang atau tetap tinggal? Aku baru tahu bahwa manajerku itu memiliki kepribadian seperti ini. Sudah hampir dua tahun aku bekerja bersamanya, namun baru kali ini ia menelponku untuk urusan lain selain pekerjaan.

“Jika kau mau pulang sekitar jam dua nanti, aku akan mengantarmu.”

“Nde?” aku mengerutkan dahiku tak mengerti. Kenapa tiba-tiba ia berbicara seperti itu?

“Aku ada urusan di sekitar kantor sampai jam dua nanti. Bukankah rumah kita searah? Nanti biar kuantar kau sekalian. Aku tak mau orang tuamu menuduhku sebagai atasan yang kejam pada anak perempuannya.” Jelasnya menjawab keherananku barusan.

Aku tersenyum kecut mendengar ucapannya. Tampaknya ia benar-benar merasa tidak enak padaku. Sudahlah, aku tak mau mengambil pusing. Setelah berbasa-basi sebentar dan kuiyakan tawarannya, akhirnya panggilan tersebut berakhir.

Kepalaku tiba-tiba terasa begitu pening saat aku bangkit dari tempat dudukku. Oh tidak, sepertinya darah rendahku mulai kambuh. Aku bergegas membereskan barang-barangku. Hanya tinggal 30 menit sebelum manajer tiba menjemputku. Eh, menjemput? Rasanya agak sedikit aneh. Mungkin lebih tepat mengatakan bahwa ia memberikan tumpangan padaku. Ya, bukankah begitu?

Sambil memijat-mijat kepalaku pelan, aku berjalan keluar ruangan dan menaiki lift hingga sampai ke lantai dasar. Lobby sudah sepi, tentu saja. Hanya ada petugas security yang sedang sibuk berkeliling untuk mengecek setiap ruangan. Aku melemparkan senyumku saat ia menundukkan kepalanya sopan. Hampir semua petugas security mengenalku. Tentu saja, mereka mungkin mengenalku sebagai ratu lembur.

“Argh!” kepalaku kembali sakit. Rasanya seperti dipukuli oleh benda keras. Aku mencengkeram handle pintu untuk menopang tubuhku. Petugas security yang baru saja kembali ke lobby menghampiriku khawatir. “Gwaenchana isseumnikka?” tanyanya.

Aku mengangguk berbohong. “Ah ye, nan gwaenchana..tak perlu khawatir..”jawabku sembari tersenyum tipis.

“Apakah anda akan pulang sendiri?”tanyanya lagi. “Saya rasa kondisi anda tidak terlalu baik jika harus pulang sendiri,”lanjutnya.

“Animida, aku akan dijemput di halte depan. Baiklah, aku duluan,” aku tersenyum sembari mencoba menahan rasa sakit yang semakin menjadi di kepalaku. Petugas security itu menundukkan kepalanya dan membukakan pintu untukku. Tampaknya ia masih belum percaya seratus persen dengan perkataanku yang menyatakan bahwa aku baik-baik saja.

Dan demi apapun itu, aku tak mengerti mengapa tiba-tiba tanah tempatku berpijak basah dengan percikan air. Aku menengadahkan kepalaku ke arah langit malam yang tampak gelap dan suram. Gerimis, rupanya. Kenapa pula hujan harus turun tepat ketika aku keluar dari kantor? Seolah-olah ia menunggu untuk mengerjaiku. Aku tak berniat untuk mengeluarkan payung yang selalu kubawa dalam tasku sama sekali. Biarlah, ini hanya gerimis.

Di tengah rintik-rintik hujan inilah, aku melihat sosok yang sama dengan malam-malam sebelumnya. Ia yang entah mengapa tak pernah membawa payung dan lebih memilih untuk berteduh di halte yang berada tepat di seberang jalan, dimana berhadapan dengan trotoar tempatku berpijak. Ini pertama kalinya aku melihatnya tanpa dihalangi oleh lapisan kaca tebal di samping meja kerjaku. Pria di seberang jalan.

Gemerlap lampu-lampu jalan, angin yang menderu pelan, serta bau tanah basah. Mungkin tiga hal itu akan mengingatkanku pada pria itu. Momen dimana kami bertatap mata untuk pertama kalinya, aku entah mengapa merasa sudah mengenalinya. Dan ia menatap mataku dalam. Seolah berusaha menembus apa yang kini ada di dalam pikiranku.

Hujan semakin menjadi. Gerimis yang sudah berubah menjadi guyuran deras. Kami kini saling bertatapan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Apa nama perasaan ini aku tidak tahu. Rasanya aku terperangkap dalam sorot mata teduhnya, seolah terseret dalam labirin tak berujung.

Tes.

Aku merasakan setetes air membasahi pipiku. Tidak, ini bukan air hujan. Ini air mataku. Kalian mungkin tak paham, tapi aku merasa tulang-tulangku seolah dilolosi satu persatu. Menatap mata pria itu membuat aku kembali teringat pada kenangan buruk bersama Kim Jongdae. Kenapa? Mungkin karena sorot mata mereka yang mirip. Sorot mata yang sama seperti saat Jongdae melamarku.

Sementara tubuhku basah total, air mataku tak hentinya mengalir. Kini justru ditambah oleh rasa sakit pada dadaku. Rasanya sesak sekali. Aku ingin berteriak. Apa-apaan pria ini sebenarnya?

Detik dimana aku lihat ia maju beberapa langkah dari tempatnya berdiri, kepalaku kembali sakit seperti dihantam oleh sebuah benda besar dan keras. Telingaku berdenging dan pandanganku memburam. Siluet pria itu semakin berbayang. Yang aku ingat hanya suara hujan dan deru mobil yang semakin mendekat. Karena detik selanjutnya, seluruh pemandangan dari mataku tercerabut dan digantikan dengan layar hitam gelap, tanpa setitik pun cahaya. Dan entah mengapa, wajah Kim Jongdae yang sedang tertawa ikut muncul. Ah..mungkinkah ia menertawai kebodohan dan kemalanganku?

“Lee Sung Ah, nan saranghae..”

Itu kalimatnya. Dan aku muak mendengarnya.

***

Udah selesaaaii! Yaampun mohon maaf kalo ada typo dan bahasa yang kurang enak. Gimana gimana? Blom dapet feelnyakah? Ada yang penasaran siapa manajer dan pria di seberang jalan itu? Yang pasti diantara Suho dan Luhanlah yaa~

Kritik sarannya ditunggu loh, berhubung ini ff pertama yang aku post di blog selain blog aku sendiri~

Oh ya, jadi ff ini itu trilogy, part satunya ini diambil dari sudut pandang Sung Ah. Part dua dan seterusnya bakal berubah-rubah sudut pandangnya. Dan karena part satunya rada panjang, jadi aku post sebagian dulu..nanti kelanjutannya menyusul..

Sekali lagi, ditunggu komen-komennya buat yang baca:D

Gamsa gamsa~

Advertisements

2 thoughts on “[FF Freelance] The Man Across The Road (Part 1)

  1. tegang banget membaca nya sampai ke bawa suasana…..

    Aku penasaran sama jongdae itu kenapa bisa ninggalin seung ah.?

    Apa jongdae donorin mata ke orng lain?

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s