[FF Freelance] Silent Love

Silent-Love

Author: Io Elora

Cast: Shim Hana (OC’s) | Park Chanyeol (EXO-K)

Other cast: Kim Min Seok (OC’s)

Poster: Google ditambahi dengan beberapa editan saya

Inspirasi cerita: Komik karya Honda Natsumi dengan judul ‘Lover in Parade

Dengan ditambahi hasil pemikiran sendiri.

Note: Ini hanya sebuah Fanfiction. Dimana di dalamnya tidak ada maksud untuk melecehkan pihak manapun. Saya hanya meminjam nama-nama pemeran, tidak lebih. Jika ada kesamaan tokoh, alur cerita, kata-kata, dan tempat, maafkanlah.

Ini bukanlah sequel dari FF saya sebelumnya ‘Secret Admirer’. Di sini saya hanya menggunakan cast yang sama. Terimakasih

.

.

.

.

            Kuinjak satu persatu tangga sekolah yang akan membawaku ke lantai 3 di mana kelasku berada. Dengan sesekali menyunggingkan senyuman untuk membalas sapaan orang-orang di sekitarku.

Sampai. Aku langsung meletakkan tasku dan duduk sambil menyangga dagu dan menatap gerbang sekolah yang kini telah penuh dengan siswa-siswi yang ingin masuk ke dalam sekolahan.

Mataku berbinar, bibirku menyungging saat menemukannya di sana. Tubuhnya yang jangkung mempermudahkanku untuk menemukannya dari sini.

Kini kualihkan pandanganku menghadap pintu kelas. Uh-oh, dia tiba! Dan… dia menatapku, datar. Aku sangat ingin menyapanya. Tapi, apa daya dia hanya melengos pergi saat teman-temannya mengajaknya pergi ke bangkunya.

Jangan bicara padaku saat di sekolah. Kita hanya perlu berbicara melalui pesan, telpon, ataupun saat berada di luar sekolah.

            Uh, ucapannya itu sungguh menyakitkan. Rasanya berpacaran seperti ini membuatu menjadi seorang yang hanya memiliki status tapi tak bisa menikmatinya.

.

.

.

            Kutatap punggungnya yang lebar. Sial! Kenapa langkah kakinya lebar sekali. Kakiku secara spontan berhenti saat kakinya berhenti. Alisku terangkat sebelah saat menatapnya.

“Kenapa, Chanyeol-ah?” Aku memainkan mataku, memutarnya hanya untuk menghindari tatapannya yang penuh akan kedataran saat bersamaku. Bodohnya diriku, hanya dengan itu jantungu sudah berkerja secara abnormal.

“Kemarilah.” Tangannya menjulur seakan memintaku untuk mendekat. Aku tersenyum, lalu mendekat untuk meraih tangannya.

Dia melepas scarf rajut berwarna putih miliknya kemudian memakaikannya padaku. Kami berjalan menyusuri jalan yang penuh dengan salju putih bersama, dia menggengam tanganku. Oh, Tuhan. Ini malam terhangat yang pernah kulalui bersamanya. Kuharap waktu bisa berhenti walaupun sejenak.

.

.

.

Keadaan kelas sungguh ramai. Sekarang ini adalah hari-hari penuh kesibukan, tetapi juga sedikit kebebasan. Mengapa? Karena sekolahku akan mengadakan festival untuk merayaan ulangtahun sekolah sehingga setiap kelas harus segera menyiapkan sebuah tema untuk acara pawai minggu depan.

“Ehem, tolong diam! Kita akan mendiskusikan tentang tema pawai kita kali ini. Panitia memberikan tiga pilihan, yaitu 1. Horor 2. Prince & Princess 3. Fiksi. Silahkan kalian tulis pilihan kalian di sobekan kertas kemudian kumpulkan ke depan. Terimakasih.”

Aku menutup komik yang sedari tadi kubaca. Kemudian melihat kertas yang telah diberikan oleh Min Seok, teman sebangkuku.

“Kau akan memilih tema yang mana, Hana­-ya?” Tanya Min Seok.

“Kutebak saja, pasti banyak yang memilih tema ke dua. Jadi, aku pilih tema itu. Lalu, bagaimana denganmu?” Aku mulai menuliskan tema yang kupilih ke kertas yang tadi diberikan Min Seok.

“Aku sama denganmu.” Kulihat Min Seok juga mulai menulis pilihannya di kertas. Aku melirik Chanyeol yang ada di seberang, sungguh aku penasaran dengan tema yang ia pilih.

Oh, sial. Kenapa dia malah tertidur? Kau bodoh Chanyeol­-ah. Kau membuatku kesal saja.

“Hana-ya, bagaimana hubunganmu dengan Chanyeol? Apa benar kalian berpacaran?” Aku menatap bingung Min Seok, tangannya langsung menyilang di udara ketika melihat matau.

“Ah,  b-bukan begitu. Maksudku apa hubungan kalian baik-baik saja? Aku khawatir karena kalian bahkan saling diam saat bertemu. Dan yang lebih parah lagi, kalian menyembunyian hubungan alian. Maaf, Hana­-ya. Bukan maksudku untuk membuatmu marah ataupun kecewa karena ucapanku tadi. Aku hanya tak tahan melihat kalian seperti itu. Bicaralah padanya, dan katakan kita tak perlu menyembunyikan suatu hubungan.” Min Seok tersenyum kemudian ia pamit untuk pergi ke kantin.

Seperginya Min Seok, kupandangi Chanyeol yang masih sama seperti tadi, tertidur. Aku menerawang jauh untuk memahami setiap inchi perkataan Min Seok. Terhenyak, saat Chanyeol tiba-tiba terbangun dan ganti memandangiku dalam diam. Aku buru-buru menghindar agar tak tertangkap basah olehnya.

Kau bahkan tak tau, Min Seok-ah. Aku lah yang pertama kali menyatakan perasaanu padannya. Bahkan aku merasa dia menerimaku karena rasa kasihan.

.

.

.

            “Ah, sial. Kenapa harus aku yang menjadi Cinderellanya!” Gumam Gyuri, perempuan tercantik di kelasku.

“Hei, seharusnya au bangga karena sang pangerannya adalah Chanyeol. Dia kan sangat keren.” Sahut salah satu temannya.

Uh, aku mulai muak dengan percakapan mereka. Jika saja aku bisa mengatakan bahwa Chanyeol adalah pacarku, tak akan sekesal ini diriku.

“Chanyeol­-ah, Kau harus menyiapkan segala kostumnya. Karena minggu depan adalah acaranya, ok!” Aku mendengar suara itu, suara sang ketua kelas yang meminta Chanyeol untuk menyiapkan keperluannya.

“Dan kau, Shim Hana. Kostummu sangat mudah. Kau hanya perlu mencari baju paling lusuh milikmu, kemudian kau hanya perlu make-up selusuh mungin. Intinya kau hanya perlu berdandan seperti orang yang tak terawat. Karena kau berperan sebagai Cinderella yang belum disulap, mengerti?” Terang ketua kelas panjang lebar. Dasar, apa dia ingin mempermalukanku.

“Kau tenang saja. Aku sudah biasa berdandan lusuh. Kau tak perlu khawatir.” Aku menyengir kuda untu menutupi rasa kesalku.

.

.

.

            “Kenapa kau menerima peran itu?” Aku sedang menyeruput orange juice ku saat Chanyeol bertanya dengan suara besarnya itu.

“Ah, tak apa. Aku suka mendapat peran yang simple. Jadi, aku ta perlu membuang uang jajanu untuk menyewa baju, kan?” Aku bermaksud untu meminum orange juice ku lagi, namun bodohnya aku tak mengetahui bahwa orange juice ku telah habis.

Kulirik Chanyeol yang ada di hadapanku. Lagi dan lagi dia menatapku datar. Tangannya bergerak untuk mengambilku gelasku yang telah kosong dan lalu berjalan untuk memesan orange juice lagi.

Oh, Par Chanyeol. Kenapa kau selalu menjungkir balikkan perasaanku? Kau bersifat dingin saat di sekolah. Namun, di luarnya kau bersifat sangat manis. Lalu, bagaimana perasaanmu sebenarnya? Apa kau juga mencintaiku seperti aku mencintaimu?

.

.

.

            “Yak! Hana­-ya, cepat! Kostum itu harus segera diberikan pada pemeran!” Omel Min Seok.

“Berisik kau! Kau kira membawa baju sebanyak ini gampang? Ini berat, Min Seok­-ah.” Aku menyeret tas besar yang berisi kostum dengan susah payah. Jujur, ini sangatlah berat. Kenapa mereka tak menggunakan kopor saja? Kan itu lebih mudah.

“Biar kubantu.”

Hei! Aku mengenal pemilik suara itu. I-itu suara Chanyeol! Oh, Tuhan. Kenapa dia membantuku di depan umum? Bukankah dia sendiri yang mengatakan tak boleh saling kontak saat di sekolahan?

“Ehm, tak usah, Chanyeol-ah. Aku bisa melaukannya sendiri. Aku juga bisa meminta Min Seok untuk membantuku. Iya, kan, Min Seok?” Aku menoleh ke arah Min Seok dan sialnya bocah tengik itu sudah tak ada di sana. Apa ia ingin membuatku mati berdiri di sini? Bodoh.

“Hanya kita yang ada di sini. Temanmu itu sudah pergi sejak kedatanganku. Kita bisa membawanya bersama-sama, seperti ini.” Chanyeol menyangking satu tali yang ada di tas itu, kemudian aku mengikutinya dengan menyangking tali yang tersisa. Uh, senangnya.

.

.

.

            “Setiap kelas dimohon untuk berbaris menurut nomor urutan yang didapatkan. Karena sebentar lagi acara akan dimulai. Terimakasih.”

Setelah mendengar suara yang keluar dari loudspeaker semua siswa-siswi langsung berhamburan keluar menuju lapangan tengah, di mana start  pawai akan dilaksanakan. Kelasku berada diurutan enam, menurutku urutan yang cukup ideal karena tida terlalu awal dan tidak terlalu akhir.

Aku mulai mencarinya, mencari sosok yang bersinar bagiku. Dan… Aku menemukannya, dia berada di barisan terdepan, sedangkan aku berada di barisan terbelakang.

Kau tau, Chanyeol-ah. Kurasa semakin aku dekat denganmu, semain sulit pula diriku untu meraihmu. Bahkan semua orang seakan setuju dengan pernyataan itu. buktinya, mereka selalu mengatakan bahwa au sangat cocok dengan Gyuri. Wanita cantik yang cocok dengan lelaki tampan sepertimu. Sedangkan aku? Aku hanyalah wanita lusuh yang tak cocok untuk pangeran sepertimu.

“Kurasa aku memang tak pantas untukmu, Chanyeol-ah.”  Aku bergumam, kemudian memutusan untuk pergi, menjauh dari keramaian itu untuk hanya sekedar mencari tempat untuk menyendiri. Aku butuh waktu sekarang.

Kakiku telah membawaku di sini, di tempat ini, atap gedung sekolah. kuhirup udara dingin yang menyengat dalam-dalam, tak peduli hidungku akan sakit dikemudian hari, ta peduli apabila paru-paruku memberontak hingga aku terbatuk-batuk, tak peduli apabila daya tahanku tak kuat hingga aku terserang flu, aku hanya ingin melakukan ini.

“Kau di sini rupanya.” Aku memutar tubuhku menghadap pada sang sumber suara. Aku menemukannya, menemukan sosok yang selama ini selalu ku kagumi. Sosok yang terkadang membuatku putus asa jika tak bisa mendapatkannya secara utuh.

Aku melihat kaki jenjangnya yang mulai melangkah mendekat padaku sambil melepas jubah berwarna yang tadi ia kenakan sebagai kostum saat pawai.

“Kenapa kau malah pergi dan tak menunggu sampai pengumuman hasil pemenang diumumkan, huh?” Ia berbicara sambil mengenaan mantelnya padaku. Dia perhatian juga ternyata. Cercaku dalam hati.

“Pakailah, kau bisa mati konyol karena kedinginan.” Chanyeol melipat kedua tangannya kemudian ia gunakan sebagai tumpuan pada pagar pembatas. Rambutnya yang kecoklatan bergerak ke sana-kemari mengikuti arah angin membawanya.

“Chanyeol­-ah, aku ingin hubungan kita berakhir sampai di sini.”

Hening.

Sepersekian detik kemudian, Chanyeol baru menolehkan kepalanya padaku dengan ekspresi wajah yang tak bisa kudeskripsikan.

“A-Apa maksudmu?” Hei, apakah aku perlu mengulanginya lagi?

“Kau tau, aku sudah tak kuat lagi. Selama ini kau sangat jarang mengajakku berbicara di sekolah. Ah, atau bisa kubilang kau berbicara padaku karena terpaksa. Kau tak pernah membalas sapaanku. Kau tau? Tanpa izin dariku, kau sudah menjungkir balikkan perasaanku. Terkadang, kau bersikap manis padaku dan terkadang pula kau bersikap dingin. Aku bukan mainanmu, Chanyeol-ah. Aku punya perasaan. Aku sudah menahannya selama ini. Dan sekarang, biarkan aku mengungkapkan segalanya.” Kepalaku tertunduk, air mata yang sedari ku tahan kini telah jatuh, bercampur dengan tumpukan salju putih. Tak peduli sesakit apapun saat aku mengungkapan segalanya. Tak peduli dengan apa yang terjadi setelahnya. Yang terpenting aku sudah mengeluarkan segalanya. Biarkan hatiku merasa lega untuk sekian kalinya.

Aku tersentak, tersentak saat tangan besar milinya dengan tiba-tiba merenguhku, mencoba untuk memasukkan tubuhku ke dalam pelukannya yang hangat. “Jangan katakan itu lagi. Itu membuatku sakit.” Ucapnya dengan suara memelas.

Sedetik kemudian ia melepaskan pelukannya, dan lalu menggenggam tanganku, membawaku turun menuju kerumunan yang berisi siswa-siswi di kelasku. Aku menatap Min Seok saat itu, matanya seakan membisikkan kata ‘apa yang terjadi?’ sehingga membuatku menggeleng pelan.

“Hei, Chanyeol­-ah. Ada apa dengan kaliana? Kenapa kalian terlihat mesra seperti itu?” Tanya Baekhyun sesaat setelah ia menghentikan permainan gitarnya karena terlalu syok dengan pemandangan yang ada di hadapannya.

“Dia adalah pacarku. Kami telah berpacaran selama satu tahun. Maaf, karena tak memberi tau kalian sebelumnya.” Akunya. Oh, Tuhan. Apa yang selanjutnya? Kenapa dia tak bisa ditebak?

“Kau bercanda?” Kini sehun, sang ketua kelas, menimpali.

“Tidak, aku serius. Lihatlah ini!” Chanyeol mengangkat tangan kami yang masih bertautan ke udara, kemudian dengan sekali hentakkan dia menarikku dan mencium bibirku. Oh, hei! Apa ini sungguhan? Aku tak bermimpi, kan? Aku bahkan mengerjapkan mataku berkali-kali, dan semua ini tetap seperti sebuah kenyataan.

Beberapa detik kemudian, dia melepaskan ciumannya. Lalu mengatakan “Maaf, setelah ini aku akan bersikap lebih terbuka.” Kami tersnyum di akhir kalimat.

.

.

.

The End

3 thoughts on “[FF Freelance] Silent Love

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s