[FF Freelance] A Late Regret (Chapter 4)

coveralr

Title : A Late Regret (Chapter 4)

Author : DkJung (@diani3007)

Main Cast :

  • [Infinite] Kim Myungsoo
  • [A Pink] Son Naeun
  • [Miss A] Bae Sooji
  • [BTS] Kim Seokjin

Genre : Romance, School Life, Angst

Rated : Teen

Length : Chaptered

Previous : Chapter 1Chapter 2Chapter 3,

Disclaimer : ff ini ngga terinspirasi dari manapun. Idenya muncul tiba-tiba. Masalah endingnya MyungZy/MyungEun? Still secret! >.< pokoknya ngga bakal ketebak! /sokmisterius/ oh iya, untuk ‘Bloody School’ maaf belum update ya^^ tapi pasti bakal aku lanjutin kok ASAP~

Summary :

Penyesalan. Ya, penyesalan memang selalu datang di akhir. Jika penyesalan itu belum datang, kau tidak akan pernah berhenti dan menyadarinya, sampai ada pihak yang terluka atau bahkan pergi meninggalkanmu.

~Chapter 4~

Myungsoo menyusuri koridor sekolahnya sambil membawa kotak berisi sepatu pemberian Naeun. Pikirannya masih sibuk memikirkan sosok gadis yang ada dalam ingatannya. Apa benar gadis itu cinta pertamanya?

TAP

Langkah Myungsoo berhenti ketika melihat sepasang sepatu hitam yang menempel di lantai bersama pemiliknya yang juga sedang berdiri menghadapnya.

“Bagaimana bisa kau memakai sepatu itu?” tanya Myungsoo. Sooji hanya diam. Dia bingung harus menjawab apa, karena walau bagaimanapun, Myungsoo sudah lupa padanya.

“Aku… membelinya,” jawab Sooji.

Eodiyeo? Ikeo, sepatu ini sama dengan milikmu. Bukalah.”

Myungsoo menyerahkan kotak itu pada Sooji. Dengan tangan yang bergetar, Sooji meraih kotak itu lalu membukanya perlahan. Benar. Sepatu itu sama persis dengan sepatu yang ia berikan kepada Myungsoo dua tahun yang lalu.

“Sooji-ya, heokshi, apa kau membelinya untuk pacarmu juga? Maksudku, apa bukan hanya kau yang memiliki sepatu ini? Kau juga memberikannya kepada seorang namja? Apa ini sebuah sepatu pasangan?”

Omona! Apa Myungsoo sudah mengingatnya? Bagaimana bisa dia bertanya seperti itu? Apa dia sudah mengingat bahwa aku pernah memberikan sepatu pasangan padanya? Batin Sooji.

“Kau hampir membunuh anakku.”

Perkataan Nyonya Kim mulai terngiang di kepalanya. tidak hanya itu, dari dulu juga, kedua orang tua Myungsoo memang tidak pernah menyukai hubungan Sooji dan Myungsoo. Bagaimana tidak? Myungsoo tidak pernah bercerita bahwa dia memiliki kekasih bernama Bae Sooji. Akibatnya, pertemuan Sooji dan kedua orang tua Myungsoo harus terjadi di saat yang tidak tepat. Dan hal itu menyebabkan orang tua Myungsoo membenci Sooji. Walau bagaimanapun, Sooji tidak ingin egois.

Mworaguyo? Aku membeli sepatu ini untukku sendiri. Namja? Aku bahkan belum pernah berpacaran sekalipun. Mungkin kau salah orang,” ucap Sooji pada akhirnya lalu meninggalkan Myungsoo yang masih terdiam.

Tidak. Entah mengapa  hati Myungsoo merasa kurang sependapat dengan perkataan Sooji.

~***~

Naeun menyantap sarapannya dengan perlahan. Mungkin, bukan perlahan, tapi lebih tepatnya lemas. Naeun benar-benar terlihat lemas hari ini. Wajahnya terlihat pucat. Dia hanya menyuapkan suapan-suapan kecil sambil sesekali meneguk air.

“Naeunnie, neo gwenchana?” tanya ibunya. Naeun hanya tersenyum lalu mengangguk pelan.

Setelah cukup lama, Naeun pun berhasil menghabiskan sarapannya.

“Aku berangkat sekolah dulu ya, Eomma.”

Ne, hati-hati!”

Belum sampai beberapa langkah Naeun meninggalkan ruang makan, dia sudah ambruk. Nyonya Son yang sedang membereskan piring pun kaget dan langsung menghampiri anaknya yang tak sadarkan diri.

“Son Naeun! Ireona, wae irae? Naeunnie!” seru Nyonya Son sambil mengguncang-guncang bahu Naeun yang lemas dan hidungnya yang mengeluarkan darah.

~***~

Keurae, arrasseo. Ne, semoga Naeun bisa cepat sembuh.”

Seokjin mengakhiri percakapannya dengan Nyonya Son di telepon. Dia lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas seragamnya.

“Naeun orang yang sehat, dia selalu makan teratur dan selalu berolahraga. Akhir-akhir ini setahuku kegiatannya tidak banyak, kurasa bukan karena kelelahan. Dia orang yang paling peduli pada kesehatannya sendiri. Lalu apa yang terjadi dengannya? Kenapa tiba-tiba dia bisa sakit?”

Ya!”

Seokjin mendongak. Dilihatnya Sooji menyodorkan sebuah kotak bekal kecil berwarna merah muda.

Eomma yang membuatnya dan menyuruhku untuk memberikannya padamu. Dia bilang ini sebagai ucapan terimakasih karena beberapa hari yang lalu kau telah membantunya, juga sebagai tetangga baru yang baik,” jelas Sooji tanpa jeda dan langsung menaruh kotak bekal itu di atas meja Seokjin padahal Seokjin sendiri baru akan mengambilnya dari tangan Sooji. Setelah itu, Sooji langsung pergi.

Sementara Seokjin hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.

“Huh, gadis itu.”

~***~

“Ada apa lagi?” tanya Seokjin.

“Ada yang ingin kutanyakan padamu,” ucap Myungsoo.

Keurae? Apa ini soal–“

“Sooji. Apa kau tahu dimana rumahnya?”

Seokjin terdiam untuk beberapa saat karena cukup kaget bahwa alasan dia dipanggil oleh Myungsoo bukan karena Naeun lagi, melainkan kini karena Sooji.

“Kenapa kau bertanya padaku?”

“Kau kan teman sekelasnya, siapa tahu kau pernah ke rumahnya, atau–“

“Di sebelah rumahku.”

Ne?”

“Rumah Sooji bersebelahan dengan rumahku. Memangnya ada apa? Kenapa tiba-tiba kau ingin tahu dimana rumahnya?”

“Aku tidak bisa memberi tahumu. Antarkan saja aku ke rumahnya.”

~***~

Myungsoo hanya bisa terus menerus mengerutkan dahi dan alisnya. Rumah di hadapannya ini sama sekali tidak mengingatkannya pada apapun. Bahkan perasaannya masih belum yakin kalau rumah yang ia lihat ini benar-benar rumah tempat Sooji tinggal.

“Kau yakin dia tinggal di sini?”

Seokjin mengangguk.

“Sudah berapa lama kalian bertetangga?”

“Mungkin, baru sekitar seminggu.”

“Seminggu? Maksudmu dia baru pindah ke sini?”

Seokjin kembali mengangguk.

“Kenapa kau tidak bilang sejak tadi? Aku kan jadi tidak perlu mengikutimu sampai ke sini.”

“Mana aku tahu, lagipula kenapa kau tidak tanya?”

Myungsoo menghela nafas berat. Dia menatap Seokjin sekilas lalu membuang muka.

“Lupakan!” ucapnya lalu pergi meninggalkan Seokjin yang penuh dengan kebingungan. Namun, tetap saja. Bukan Seokjin namanya kalo ia banyak bertanya.

~***~

Eomma, apa kita perlu pindah rumah lagi?” tanya Sooji yang baru saja melihat keluar jendela kini berjalan menghampiri ibunya yang sedang duduk di ruang tengah rumah mereka.

“Memangnya kenapa? Kau tidak suka di sini?”

Ani, keunyang, aku merasa di sini tidak aman. Aku merasa kita diawasi.”

“Diawasi aman bagaimana? Apa banyak pencuri di daerah ini? Kau bercanda! Rumah-rumah di sini saja kecil-kecil, mana mungkin banyak pencuri. Lagipula, tidak semudah itu pindah-pindah rumah.”

Arrasseo, Eomma.”

~***~

Naeun membuka matanya perlahan, mencpba menerka di mana ia berada. Sementara Nyonya Son yang duduk di sampingnya kini nampak berkaca-kaca melihat Naeun yang sudah membuka mata.

“Syukurlah, kau sudah sadar.”

Naeun menoleh. “Ini di rumah sakit? Aku kenapa, Eomma?”

Gwenchana, kata dokter kau hanya kelelahan.”

“Kelelahan karena apa? Akhir-akhir ini aku tidak melakukan kegiatan yang berat, atau mungkin kegiatan yang rutin dilakukan, aku juga tidak pernah pulang sore, selalu makan tepat waktu, dan tidak pernah tidur terlalu malam. Keurom, apa yang membuatku kelelahan, Eomma?”

Nyonya Son tak kuasa menahan tangis. Ia mengelus puncak kepala Naeun dan menatapnya iba.

“Sudahlah, yang terpenting sekarang adalah, kau sudah boleh pulang.”

“Pulang?”

Ne, dokter memperbolehkanmu beristirahat di rumah.”

Aku merasa tidak yakin kalau aku hanya kelelahan, batin Naeun.

“Apa Eomma sedih karena melihat aku kelelahan?” tanya Naeun karena melihat ibunya yang tidak bisa menahan tangis dan menatapnya iba.

“Naeun-ah, lain kali, kau harus sering beristirahat. Jangan sampai kau kelelahan seperti ini lagi, ya?”

Naeun agak meragukan ucapan ibunya. Tapi, melihat ibunya yang tengah menangis, Naeun merasa bukan saat yang tepat untuk bertanya soal apa yang terjadi dan penyakit apa yang dideritanya. Oleh sebab itu, Naeun hanya mengangguk.

~***~

Jinjja? Besok kau sudah bisa sekolah?”

Ne.”

“Syukurlah. Keurom, besok aku akan menjemputmu seperti biasa. Lebih baik, malam ini kau jangan tidur terlalu malam dan tidurlah yang cukup, supaya kau tidak kelelahan lagi.

Keurae, gomawoyo Seokjin-ah. Aku tidur dulu, ya.”

Arrasseo. Keurae, tidurlah yang nyenyak, Naeun-ah.”

Seokjin menaruh ponselnya di atas meja belajarnya setelah selesai melakukan percakapan dengan Naeun. Dia merasa lega karena ternyata Naeun hanya kelelahan dan butuh istirahat, tidak menderita penyakit yang macam-macam. Ya, begitulah setahu Seokjin.

~***~

Myungsoo sedari tadi hanya mengaduk-aduk cappuccino pesanannya. Sendirian di café memang membuatnya bosan. Tapi, dia memang sengaja pergi sendiri karena memang sedang butuh waktu untuk sendiri. Selain itu, ia juga berharap dapat mengingat sedikit demi sedikit kenangannya di café ini. Karena ibunya bilang, café ini adalah café favoritnya.

Namun, setelah lebih dari tida puluh menit, Myungsoo tak mengingat apapun. Hingga tiba-tiba, kedatangan seorang gadis di café itu menarik perhatian Myungsoo.

Flashback

 

Pintu café terbuka.

“Kim Myungsoo!” ucap Sooji sambil melambaikan tangannya dari ambang pintu café.

Myungsoo tersenyum melihat kekasihnya yang ia tunggu sudah datang.

 

“Bae Sooji!” seru Myungsoo.

Gadis yang ternyata Sooji itu langsung terkejut lalu berlari keluar café. Myungsoo terlihat kebingungan, namun ia tak berlama-lama dalam kebingungannya itu dan langsung mengejar Sooji.

Ya! Berhenti!” teriak Myungsoo. Namun Sooji tetap terus berlari.

“Apa yang membuatmu berlari?! Aku perlu bicara padamu!”

Sooji tetap tidak berhenti, ia terus berlari. Hingga ia tak sanggup lagi karena tangan Myungsoo berhasil menarik tangannya, yang membuat Sooji langsung menghadap Myungsoo. Tatapan Sooji ke arah Myungsoo seolah penuh dendam dan kebencian, hal itu semakin membuat Myungsoo bingung.

“Kenapa, kau bisa tau café  itu?”

Sooji diam saja. Ia mencoba mencari jawaban yang logis.

Café itu dibuka untuk umum.”

Arra! Keunde, yang ingin kutanyakan adalah, apa kau sering ke café ini? Apa rumahmu di dekat sini?”

“Apa urusannya denganmu?”

“Apa di masa lalu, kau selalu ke sini bersama namjachingumu?”

Sooji tersentak. Apa Myungsoo sudah mengingatku? Tidak mungkin! Ya, tidak! Batin Sooji.

“Kenapa kau tiba-tiba mengusik kehidupan pribadiku?!”

“Jawabanmu sangat penting, jadi aku harap kau akan menjawabnya dengan jujur.”

“Lagipula ini semua tidak ada hubungannya denganmu! Apa yang akan kau lakukan jika sudah mendengar jawaban dariku?”

“Tapi aku merasa ini semua ada hubungannya denganku.”

“Lupakan! aku tidak akan pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu!”

Sooji pun melepaskan tangan Myungsoo yang memegang lengannya lalu berlari meninggalkan Myungsoo yang masih diam di tempatnya.

~***~

Myungsoo menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya. Baying-bayang tentang Sooji terus memenuhi kepalanya. Ingatannya tentang Sooji di café itu membuatnya merasa bahwa Sooji adalah cinta pertamanya yang ia lupakan itu. Setelah beberapa detik, Myungsoo pun bangun lalu berjalan mendekati meja belajarnya. Hingga tatapannya terfokus pada sebuah benda. Benda itu berada di kolong meja belajarnya yang agak berdebu. Myungsoo pun berjongkok untuk mengambilnya. Dan, betapa terkejutnya ketika ia melihat foto itu.

Di foto itu, ia sedang duduk di kursi café, berdua dengan seorang gadis cantik yang ia yakini sebagai cinta pertamanya yang ia lupakan. di foto itu, mereka berdua mengenakan seragam smp dan terlihat tersenyum bahagia. Mungkin, Myungsoo tidak akan terlalu kaget menemukan foto itu jika yang ada di sana bukanlah Bae Sooji.

~***~

“Perlu kuantarkan sampai masuk ke kelas?” tanya Seokjin. Naeun menggeleng sambil tersenyum.

“Tidak perlu. Lagipula, kelas kita kan bersebelahan, kau bisa mengawasiku saat aku masuk kelas.”

Ah, keurae.”

Naeun pun berjalan meninggalkan Seokjin yang masih diam di depan kelasnya memperhatikan setiap langkah Naeun. Dan, seokjin bisa bernafas lega ketika Naeun sudah memasuki kelasnya. Ia pun segera memasuki kelasnya.

Sesampainya di dalam, Naeun langsung menyapa Myungsoo yang sedang duduk sambil melamun.

Annyeong,” sapanya.

Myungsoo mendongak lalu tersenyum. “Kau sudah sembuh?” naeun mengangguk pelan. Ia lalu berjalan menuju bangkunya. Di bangkunya, ia terus memperhatikan Myungsoo yang kembali melamun. Entah apa yang ada di pikiran Myungsoo, itu membuat Naeun penasaran.

~***~

Bel istirahat berbunyi. Naeun segera menghampiri bangku Myungsoo.

“Myungsoo-ya, kita ke kantin sam–“

Belum selesai Naeun bicara, Myungsoo sudah berlari keluar kelas. Naeun hanya mendesah pelan. Tidak biasanya ia diacuhkan seperti ini. Memang belakangan ini Myungsoo sering mengabaikan Naeun. Saat ia sakit pun, Myungsoo sama sekali tidak menjenguk ataupun sekedar menanyai keadaannya.

Perasaan itu kembali lagi. Perasaan takut akan kehilangan sosok Myungsoo. Naeun merasa ia akan kehilangan Myungsoo, dan ia tidak ingin itu sampai terjadi.

~***~

Myungsoo mengintip ke arah kelas 2-3 yang terlihat sepi. Ia pun mencoba untuk pergi ke kantin, namun tetap orang yang ia cari tidak ada. Setelah mencari hampir ke seluruh penjuru sekolah, ia pun memutuskan untuk naik ke balkon sekolah, untuk menikmati udara segar. Tanpa ia sangka, orang yang ia cari ada di sana, berdiri memandangi pemandangan dengan rambutnya yang tergerai dan tertiup angin.

“Bae Sooji?” panggil Myungsoo. Sooji menoleh lalu mengerutkan alisnya.

“Mau apa kau ke sini?”

Myungsoo berjalan menghampiri Sooji lalu berdiri di sebelahnya, menghadap ke arah pemandangan kota Seoul dari atap sekolahnya.

“Aku hanya ingin bilang,” Myungsoo mengambil sebuah foto dari dalam saku jas seragamnya lalu memberikannya pada Sooji. “Bahwa kau tidak bisa lagi menghindariku.”

Sooji kehabisan kata-kata begitu melihat foto dirinya dan Myungsoo.

“Ternyata firasatku selama ini benar, kau memang cinta pertamaku.”

Sooji menggigit bibir bawahnya. Mendadak ia takut membayangkan apa yang akan dilakukan orang tua Myungsoo jika tahu Myungsoo sudah mengenalinya.

“Kau tahu? Aku bahkan jadi tertarik padamu,” ucap Myungsoo, membuat Sooji menatapnya heran.

“Tertarik?”

Keurae, aku tertarik padamu. Aku rasa aku tidak salah memilihmu sebagai yeojachinguku di masa lalu,” lanjut Myungsoo sambil tersenyum lembut.

Sooji mengalihkan pandangannya dari Myungsoo. Kata-katamu sungguh manis. Kau mungkin tertarik padaku, menyukaiku, tapi jika kau sudah mengingat semuanya apa kau juga akan mengatakan hal yang sama?

~To be continued~

Hohoho, sorry for typos^^

Don’t forget to leave your comment!

21 thoughts on “[FF Freelance] A Late Regret (Chapter 4)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s