[FF Freelance] The K’s – Meeting (Chapter 4)

CYMERA_20131007_142917

THE K’s

Author : @prileyy – Prils

Casts: Kay/Choi Hyona (OC), Kim Jong In/Kai, Cho Kyuhyun, Wu Yi Fan/Kris, Kim Cheryl (OC), Wu Hyera (OC)

Length : Series/Chaptered

Genre : Romance, Angst, Happy, Hurt

Rate : PG 13 –

Previous: Chapter 1Chapter 2, Chapter 3,

NOTE:  Sebelumnya Prils mau ngucapin makasih buat admin yang masih mau FF saya yang masih tahap perlu belajar ini. Terus buat readers (gatau ada apa ga) yang masih nunggu kelanjutan FF ini. Terserah readers lah mau comment apa engga saya mah author cuman nulis doang kerjanya. Nungguin ide muncul terus ditulis, kalo lagi mood sih. Btw ini typo masih berhamburan jadi dimaklumi aja yah, ga ada editor soalnya huhuhu. well

Teng teng teng. Main-main ke blog boleh lah

http://expressmyownideas.wordpress.com

 

SELAMAT MEMBACA !!

 

Hari ini Appa mengajakku jalan-jalan. Bukan termasuk jalan-jalan juga karena pada akhirnya kami hanya duduk di café atau bahasa gaulnya nongkrong. Kata Appa biar terlihat gaul. Oke abaikan. Kami disini menunggu seseorang. Well, seorang wanita yaitu rekan bisnis Appa yang katanya mirip dengan Eomma. Aku sungguh penasaran karena itu aku memaksa Appa untuk bertemu dengan wanita itu. Dan hebatnya lagi wanita itu tidak menolak diajak bertemu. Whoaaa Appa daebak !!

Jika wanita itu bersedia Appa ajak makan siang aku juga penasaran sudah sejauh apa hubungan mereka. Aku bersyukur Appa masih normal karena bisa menyukai seorang wanita lagi. Karena selama ini aku tidak pernah melihatnya dekat dengan wanita selain sekertarisnya yang beberapa diantaranya aku yakin menyimpan perasaan pada Appa. Pesona Appa memang belum luntur. Dasar duda keren.

Aku memesan cheese cake favorite-ku dan bubble tea tapi Appa belum mau memesan apapun karena dia menunggu seseorang itu. Masih dengan kesibukanku menikmati cemilan sambil membalas chat yang dikirimkan Kai dan Kyuhyun. Ada apa dengan kedua orang itu yang mendadak mengirimkan emoticons menjijikkan yang ada di fasilitas Kakaotalk. Kai mengingatkanku untuk tidak lupa latihan malam ini, tadinya dia mengajak latihan siang ini tetapi karena aku memiliki acara dengan Appa jadilah latihan diundur sampai nanti malam dan di akhir chat nya dia memberikan emoticon berwarna pink yang bergerak menunjukkan dance yang aneh. Lalu Kyuhyun mengirimkan segala jenis emoticons yang sedang menangis. Dia ingin curhat padaku mengatakan bahwa belahan jiwanya masuk rumah sakit. Maksudnya PSP kesayangannya yang sedang rusak karena tidak sengaja Yesung Oppa menumpahkan air. Membuat Kyuhyun mengamuk dan meraung-raung. Alhasil belahan jiwanya tersebut sedang di service.

“Sayang, apa kau baik-baik saja? Kenapa senyum-senyum seperti itu?” Appa bertanya padaku sambil kedua tangannya memegang wajahku.

“Aish, aku baik-baik saja Appa. Hanya saja ada yang sedang menghiburku saat ini.” Lalu aku tertawa kecil.

“Senang sekali rasanya melihatmu tertawa seperti ini. Bukankah sudah lama sejak terakhir kali?” Appa menatapku sendu. “Teruslah seperti ini. Karena membuat Appa bahagia. Melihatmu seperti mayat hidup tidak memiliki ekspresi seakan hatimu sudah membeku membuat Appa sangat merasa gagal menjadi orang tua.”

Aku menatap wajahnya sedih. Benarkah aku seperti itu? Maksudku dengan sikapku yang selama ini setelah kepergian Ken membuat Appa sedih? “Appa tidak gagal. Because you’re my hero. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Jadi aku berjanji akan membuat Appa menjadi satu-satunya yang berharga untukku. Maafkan sikapku selama ini.” Kemudian Appa memelukku erat sambil mengusap halus kepalaku.

“Tentu saja sayang, Appa akan selalu disampingmu. Selalu.” Mengecup lembut pelipisku.

Lalu terdengar suara halus seorang wanita menyapa kami. “Selamat siang, Tuan Choi? Apa aku mengganggu?” Appa lalu melepaskan pelukannya. Sedikit terkejut melihat seorang wanita yang setelah aku teliti ternyata benar-benar mirip Eomma. Meskipun aku tidak pernah melihatnya secara langsung dan hanya lewat foto. Wajahnya sangat cantik, menunjukkan sikap dewasa dan keibuan. Dengan tubuh ramping dibalut kaos dengan cardigan cokelat dipadukan dengan sweater berwarna krem. Masih berdiri dan tangannya menggendong seorang balita. Aigo kyeopta !!

Appa lalu menegakkan duduknya dan mempersilahkan wanita tersebut duduk. “Tentu saja tidak, silahkan duduk.” Appa langsung memanggil pelayan untuk memesan makanan.

“Maaf mengganggu acara weekend mu. Nyonya Nam”

“Tidak masalah Tuan Choi. Aku memang selalu membawa anakku jalan-jalan setiap weekend. Selamat siang? Nona?” Lalu pandangan perempuan itu mengarah padaku. “Namaku Choi Hyona  tapi Aunty bisa memanggilku Kay. Anda terlihat masih muda. Lebih cocok menjadi kakakku hahaha. Aku jadi merasa aneh memanggilmu Aunty.”

Ia lalu tertawa pelan. “Benarkah? Padahal aku sudah memiliki anak. Appamu sudah sedikit banyak bercerita tentangmu. Kau sangat manis dan Kau bisa memanggilku Aunty Yoonha. Oh ya, perkenalkan ini anakku namanya Nam Daehyun. Ayo beri salam pada Noona dan Ahjussi.” Bocah itu lalu berdiri di kursinya, sedikit dipegangi oleh ibunya karena takut terjatuh. Daehyun memberi salam padaku dan Appa. Jari telunjukkan dimasukkan kedalam mulutnya, membungkukkan badannya dan berbicara masih dengan khas anak kecil.

“Annyeong haseo, Ahjussi dan Noona.” Matanya menatapku ekspresinya menggemaskan “Noona, neomu yeoppuda” ia berkata sangat lucu dan setelah itu bersembunyi dibalik bahu ibunya. Masih malu-malu. Kami tertawa mendengar penuturannya.

Aigooo dia lucu sekali. Aku lalu beranjak dari kursiku dan menghampirinya. “Kau juga tampan. Mau ikut denganku?” sambil mengulurkan tanganku ingin menggendongnya. Ia menatap ibunya sesaat seakan meminta izin. Lalu merentangkan tangannya menyambut uluranku. Aku membawanya ketempat dudukku yang disebelah Appa.

Aku masih bermain-main dengan Daehyun, Appa dan Aunty mengobrol terlihat sekali mereka tidak canggung. Aku tidak terlalu memerhatikan obrolan mereka. Biarlah omongan orang dewasa. Aku gemas sekali dengan Daehyun rasanya ingin kugigiti pipinya yang chubby itu. Samar-samar kudengar bahwa Aunty Yoonha masih berumur 28 tahun? Yang benar saja berarti dia berbeda 10 tahun lebih tua dariku dan 10 tahun lebih muda dari Appa. Kurasa Aunty lebih cocok menjadi Eonniku daripada menjadi Eommaku. Eh?

Sambil makan siang mereka masih terus mengobrol, sekarang bukan lagi tentang kantor. Daehyun masih betah berada dipangkuanku sesekali mulutnya terbuka minta disuapi. Dia lucu sekali seperti boneka. Setelah ini aku mau membawanya pulang saja buat mainan dirumah.

Tidak terasa sudah hampir 2 jam kami makan siang. Daehyun sepertinya sudah mengantuk dan sudah waktunya untuk dia tidur siang. Aku berdiri disebelah Appa menyandarkan kepalaku ke lengannya. “Aunty, aku kesepian dirumah, Daehyun untukku saja ya.” Seketika tawa Appa dan Aunty meledak.

“Sayang, mana bisa kau membawa Daehyun, lain kali saja kita bertemu lagi.” Bujuk Appa.

Daehyun juga sudah bergelayut manja di leher ibunya, matanya sudah sayu sepertinya dia mengantuk sekali. “Tentu saja, kau bisa bermain dengan Daehyun lagi. Kita juga bisa jalan-jalan. Daehyun mau jalan-jalan dengan Ahjussi dan Noona kan?” dan hanya dijawab anggukan oleh Daehyun.

“Kalau begitu saya permisi dulu Tuan Choi. Sampai bertemu.”

“Hati-hati” jawab Appa.

Setelah Aunty Yoonha dan Daehyun pergi aku membalikkan badanku menghadap Appa. “Benar mirip Eomma, dan cantik.”

Appa hanya tersenyum memandangku. Pandangannya masih tertuju ke pintu keluar. Aku penasaran apa Appa tidak khawatir jika ketahuan suaminya. Melihat Aunty Yoonha seperti melihat Eomma. Aku ingin sekali memeluknya. Sayang sekali Ken tidak ada tapi aku yakin Ken sudah bertemu Eomma disana.

Lalu kami juga beranjak dari tempat tersebut. Aku ingin segera pulang dan istirahat karena nanti malam harus latihan lagi bersama si dekil itu. Dia sudah seperti hantu saja selalu merecoki hidupku. “Ayo pulang” kataku sambil menyeret Appa menuju mobil.

“Appa, pandanganmu terhadap Aunty Yoonha sudah seperti ingin memakannya saja. Kau tidak berniat macam-macam kan? Bagaimana jika suaminya tahu?” kataku setelah kami berdua masuk ke mobil

“Appa lupa kau tidak tahu mengenai ini. Suaminya sudah meninggal. Kecelakaan 2 tahun lalu. Jadilah sekarang dia seorang single parents seperti Appa” Appa menjelaskan sambil menyetir.

Daebak, bagaimana bisa kebetulan seperti ini? Aku rasa Appa sudah benar-benar menyukai Aunty Yoonha. Ditambah fakta bahwa mereka berdua single parents kurasa tidak ada masalah jika mereka menjalin hubungan. “Benarkah? Appa benar-benar menyukai Aunty Yoonha? Sudahlah lamar saja dia, aku tidak masalah. Aku menyukainya dan Daehyun. Lagipula Appa seharusnya sudah terpuruk dalam kebosanan selama 18 tahun menjadi single parents. Appa juga butuh bahagia Mencari pendamping hidup kurasa adalah solusinya, setidaknya ada yang mengurus Appa. Aku kan juga nanti akan mendampingi seseorang jadi tidak bisa terus-terusan di samping Appa.”

“Jadi kau tidak mau mengurus Appa begitu” tanyanya kecewa

Susah juga berbicara dengan pria menduda ini. “Bukan begitu, Appa berhak untuk mencari pendamping lagi. 18 tahun kurasa sudah cukup untuk hidup sendiri. Aku tidak akan menghalangi, dan kurasa Eomma dan Ken juga tidak keberatan. Dan lagi Appa juga harus bisa menerima Daehyun, aku yakin Aunty Yoonha juga akan menerimaku.”

“Appa hanya takut jika Yoonha tidak menerima Appa apa adanya. Kau kan tahu bahwa jika dicintai berarti juga siap mencintai. Appa menerimanya apa adanya, dengan statusnya dan fakta bahwa dia juga sudah pernah menikah dan punya anak. Apakah dia juga bisa menerimamu?” Appa menghela nafasnya setelah berkata seperti itu. “Appa hanya akan menikahi wanita yang juga mencintaimu. Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang Appa miliki.”

“Dicoba saja dulu.”

Appa lalu menatapku dan tersenyum. Setelah kuperhatikan Appa semakin tampan. Matanya yang tajam, hidungnya yang mancung, rahangnya yang keras, perpaduan wajah asia dan eropa. Siapa yang bisa menolak pria dengan status duda keren ini? Aku yakin Aunty Yoonha juga mengakui jika pria yang disampingku ini juga tampan hahaha. Syukurlah Appa tidak bisa membaca pikiranku. Jika dia tahu mungkin langsung melayang -_-

Sesampainya dirumah aku langsung menghambur ke kamar ingin istirahat tidur lalu sorenya bersiap-siap ke sekolah lagi. Aku sudah memberitahu Ahjumma untuk membangunkanku pukul 3 sore.

 

***

 

Aku sedang membereskan peralatanku sehabis latihan. Sepatu, baju, stocking oke semuanya sudah lengkap. Tinggal menunggu bocah ini menyelesaikan permainannya. Kulirik Kai yang masih bermain Angry Birds di iPadku. Lain kali aku tidak akan membawa benda itu kehadapan Kai. Jujur saja kelakuannya memang sangat tidak sesuai dengan umurnya. “Kai, ayo pulang” kataku yang berdiri didepannya.

Dia tidak melihatku, belum.”Tunggu sebentar Kay, aku sedang berkonsentrasi.”

“KIM JONG IN! cepat kau mandi sebelum aku melemparmu dengan kursi ini. CEPAT!” kali ini aku tidak main-main. Aku mengambil kursi yang berada di pojokan.

“Ya! Ya! Kau mau menyiksa kekasihmu yang tampan ini, eoh? Yang benar saja ini karya Tuhan terbaik dan kau ingin merusaknya.” Ia benar-benar memulai menyulut emosiku ternyata. Kuberikan tatapaku yang sebisa mungkin mengintimidasinya.

“Berapa kali kubilang kau bukan kekasihku, cepat mandi aku mau pulang” kataku bukan lagi marah tetapi sudah merengek seperti anak kecil, sedikit menghentak-hentakkan kakiku

Kai menghela nafasnya lalu mengambil handuk dan peralatan mandinya di tas berjalan menuju kamar mandi “Baiklah aku mandi tuan putri, hah aku benar-benar tidak bisa melihatmu bertingkah seperti ini ternyata.”

Tetapi sebelum dia membuka pintu ia berjalan menghampiriku, apalagi ini?

“Kau sangat menggemaskan, lain kali sering-seringlah merengek kepadaku, okay?” wajahnya benar-benar didepan wajahku, keringatnya masih ada sedikit disekitar pelipisnya, rambutnya yang acak-acakkan, bibirnya itu, Tuhan aku sangat mengagumi bagian miliknya yang ini. Tangannya menoel-noel pipiku yang kanan. Dan sentuhannya membuatku tidak berkutik, aku tidak bisa bergerak astaga efeknya sebegitu besarnya. Sebelum aku lebih gila lagi aku mendorongnya menuju kamar mandi dan ku kunci pintunya dari luar.

“Katakan padaku jika sudah selesai, aku akan membukakan pintunya. Jadi lebih baik kau bersihkan badanmu yang dekil itu” teriakku

Tidak lama setelah itu handphone-ku bordering dengan sedikit berlari aku mengambil benda itu dari tas tanganku. Ternyata dari Appa. Pasti dia menanyakan keberadaanku.

Yes, Dad?” tanyaku setelah menekan tombol hijau di screen handphone. Langsung kutempelkan handphone-ku di telinga.

“Kau masih disekolah, sayang?”

“Masih, ini juga sudah selesai. Ada apa?”

“Ahjussi tidak bisa menjemput dan Appa yang akan menjemputmu. Jadi, Appa bisa menjemputmu sekarang?” tanya Appa.

“Tentu. Nanti aku tunggu dibawah” jawabku langsung dan Appa hanya menjawab iya.

Sambil menunggu Kai selesai mandi sebelum aku turun kebawah. Tidak mungkinkan aku meninggalkannya disini sendiri dengan pintu yang masih terkunci? Meskipun sempat terlintas dipikiranku melakukan hal itu, sedikit mengerjainya mungkin tidak masalah. Aku melanjutkan permainan Angry Birds-nya Kai. Ternyata bocah itu mandi lama juga. Apa yang dilakukannya di kamar mandi? Tidur? Sudah seperti wanita saja betah dikamar mandi. Aku saja tidak seperti itu.

Kudengar gedoran pintu yang cukup keras menyadarkanku bahwa ada makhluk yang terkunci di kamar mandi.

“Ya ya tunggu sebentar” teriakku.

Astaga apa dia tidak bisa lebih seksi daripada ini? Jantungku sudah seperti ingin berhenti saja. Melihatnya hanya memakai kaos putih tanpa lengan terlihat contrast sekali dengan kulitnya yang agak gelap. Lengannya yang sedikit berotot membuatku ingin menyentuhnya. Rambutnya yang masih basah bahkan sedikit bulir-bulir air menetes dari setiap ujung rambutnya. Tuhan sadarkan aku.

Kai belum menyadari sikapku yang masih mematung tidak bergerak dari tempatku berdiri. Dia dengan santainya melenggang mengambil jaket di dekat tasnya, memakainya hanya asal-asalan, kemudian mengambil tasnya, tas model selempang yang talinya menggantung di bahu kokohnya. Lalu mengambil tasku berjalan menuju ke arahku. Aku menatapnya masih dengan jantung yang lebh cepat dari biasa. Apa selalu seperti ini reaksiku terhadap makhluk Tuhan sepertinya?

“Katanya mau pulang” ujarnya yang menyadarkanku dari efek memandangnya seperti ini.

Kai memberikan tasku “Eoh!” Lalu berjalan menuju pintu keluar ruang latihan menuju lift. Sekolah masih berpenghuni. Tidak hanya aku yang latihan karena sebelum memasuki lift kami harus melewati lorong panjang dimana isinya merupakan ruang latihan. Menari, menyanyi, bermain alat musik, bahkan masih ada yang melukis. Kai juga tidak merasa canggung disini karena ini juga dulu merupakan sekolahnya. Katanya sekalian nostalgia, terkadang dia memainkan jarinya pada dinding dan pagar sekolah, berjalan beriringan disebelahku.

Di dalam lift kami juga hanya diam dengan pikiran masing-masing. Sesampainya di lobby sekolah Kai bertanya

“Kuantar?”

“Tidak usah, Appa akan menjemputku. Kau pulang saja duluan. Nanti dicari orang tuamu”

Dia tertawa geli. Sedikit miris. “Yang benar saja, aku berani bertaruh bahkan mereka tidak ingat punya anak. Bahkan kakekku juga pasti masih sibuk dengan bisnisnya.” Sepertinya aku salah bicara. “Aku akan menemanimu, ayo duduk.” Ajaknya menarik tanganku lembut berjalan menuju bangku yang ada di lobby.

Aku jadi tidak enak hati menyinggung tentang orang tua. “Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu.”

Kai lalu menatapku, tidak mengerti dengan tatapannya “Aku tau.”

Aku hanya menghela nafasku, Kai juga tidak banyak berbicara setelah itu. Kenapa suasananya jadi seperti ini? Appa cepatlah datang aku mau pulang. sekitar 5 menit kemudian sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat didepan pintu lobby sekolah. Seorang lelaki yang aku sangat yakini itu adalah Appaku masuk kedalam, menggunakan baju kaos Polonya dan melenggang santai menghampiriku yang masih duduk disebelah Kai. Senyumnya selalu ditunjukkan.

“Maaf terlambat sayang, jalanan macet sekali.” Ujarnya langsung memelukku begitu sampai didepan bangku. Lalu pandangannya melirik ke arah Kai yang kemudian berdiri begitu Appa menghampiriku.

“Annyeong Haseo, Ahjussi. Namaku Kim Jong In, aku teman dekatnya Kay.” Ucap Kai sambil membungkukkan badannya dalam.

Appa menatapku bingung, mungkin karena baru ini dia bertemu Kai apalagi dia laki-laki. Selama ini Appa hanya mengetahui temanku yang terdekat Cher, sisanya Jihyun, Hyera dan lainnya merupakan teman sekelasku karena aku pernah menceritakan tentang mereka.

“Kai adalah seniorku di SOIA, dia yang mengajariku menari ballet untuk pementasan anniversary nanti.” Jelasku. Appa memicingkan matanya, Appa kau jangan berpikir macam-macam.

Dia menaikkan sebelah alisnya, kebiasaan Appa jika menuntut penjelasan. Ah aku lupa pasti Appa mengira Kai adalah aku berhubung nama kami sedikit sama. “Maksudku Jong In, nama panggilannya Kai.”

“Kenapa bisa pas seperti itu? Senang bertemu denganmu Jong In. Maafkan putriku jika menyusahkanmu selama ini.” Aku memutar bola mataku, itu terbalik Appa, yang ada Kai yang menyusahkanku.

Kai tersenyum membalas perkataan Appa. “Tidak masalah Ahjussi, lagipula aku juga tidak menolak disusahkan oleh wanita semanis Kay.”

Blush, tiba-tiba kurasaan pipiku memanas, entahlah aku malu sekali mendengarnya lalu aku sedikit menyembunyikan wajahku ke lengan Appa. “Appa, ayo pulang” sedikit menarik bagian bawah kaos Appa. Appa kemudian melingkarkan lengannya dibahuku.

“Baiklah ayo pulang, Jong In, bagaimana denganmu?”

“Aku bawa mobil, Ahjussi. Tenang saja.” Jawabnya dan hanya dibalas anggukkan oleh Appa.

Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Kai, Aku dan Appa langsung berjalan menuju mobil. Masih dengan lengan Appa yang melingkari bahuku. Appa membukakan pintu mobil untukku dan beberapa saat setelah dia juga masuk di kursi kemudi, menjalankan mobilnya menjauh dari sekolahku tawa Appa meledak.

“Yak! Appa, kau kenapa huh?”

I think I’m not the only one who’s fallin in love with someone nowadays?” menatapku dengan tatapan menggodanya.

“Im not” Aku mengerang

Really? How bout  your red cheeks came up suddenly after he said you’re such a sweet?”

Nothing happens, Dad. He is just my friend. Friend.”

Ah, special friend I guess.”

He always acts like that even when we met grandparents few…….” Ups, aku buru-buru menutup mulutku.

“Wow wow bahkan kau sudah mengenalkannya pada Halmeoni dan Haraboji mu? Dan Appa tidak tau?”

Aku mengacak-acak rambutku “Argh, sudahlah lupakan saja.”

Dan Appa hanya tertawa geli melihat kelakuanku yang salah tingkah ditambah dengan tidak sengaja aku berkata bahwa kami pernah bertemu dengan Haraboji dan Halmeoni beberapa waktu lalu. Bagaimana jika Appa bertanya kepada mereka tentang Kai? Bagaimana kelangsungan hidupku kemudian? Hah, Aku hanya bisa menurunkan kursi penumpang dan bersandar senyaman mungkin sambil menutup mata. Kejadian tadi sebaiknya dilupakan saja.

***

 

“Jadi kau sudah memberitahu orang tuamu tentang anniversary SOIA minggu depan?” tanya Cher kepada Hyera.

Saat ini Aku, Cher, Hyera, Jiwon dan Jihyun sedang berada di café sekolah. Menikmati istirahat, menyantap makan siang memang biasanya kami berkumpul disini. Dikarenakan perbedaan major yang menyebabkan kami berpisah ketika dalam kelas praktek, berkumpul di café saat jam makan siang merupakan rutinitas wajib.

“Entahlah, yang jelas aku sudah memberitahu mereka. Seandainya mereka tidak datang aku juga tidak masalah. Kris Oppa yang akan datang. Aku sudah mengancamnya.” Sahutnya sambil meminum milkshake cokelat nya. Anniversary SOIA diadakan minggu depan dan aku sudah sangat gugup tapi Kai bilang latihan kami sudah cukup dan penguasaanku sudah mencapai 90% jadi tidak perlu dikhawatirkan, tapi tetap saja ini pertama kalinya aku tampil di sekolah ini.

Cher menyahut “Aku juga sudah memberitaku Appaku bahwa dia wajib datang. Yang benar saja aku itu bahkan lebih penting dari berkas-berkas busuknya yang membuatku mual.” Adu Cher.

Sedangkan yang lain kemudian menatapku. “Bagaimana dengamu, Kay? Appa mu akan datang?”

Setelah aku menelan makananku barulah aku menjawab “Kurasa begitu, Appa sudah tau tentang anniversary SOIA, mungkin Harabeoji dan Halmeoniku juga akan datang.”

“Wah, senangnya.” Sahut Jihyun.

Aku hanya tersenyum menaggapinya “Mungkin karena ini pertama kalinya aku tampil. Jadi mereka tidak ingin melewatkannya.”

“Itu berarti kau harus menampilkan yang terbaik. Fighting !!” ujar Hyera.

“Tentu saja.”

“Ngomong-ngomong, kau tidak tertarik dengan sunbaenim yang mengajarmu itu?”

Pertanyaan Cher seketika membuatku tersedak. “Yang benar saja, jika aku bisa memilih aku lebih baik berdiam dikamar daripada bertemu dengannya.” Jawabanku seolah tidak memuaskan Cher. Dia kemudian memicingkan matanya

“Yang benar?” todongnya.

“Yak! Kau tidak percaya pada temanmu sendiri?”

“Berarti kau tidak normal.” Dan teman-temanku yang lain menganggukkan kepalanya setuju dengan pernyataan Cher.

***

Kuputuskan hatiku memilihmu ketika mata ini melihatmu pertama kali

            Jikalau pada akhirnya hati kita tidak menyatu

            Karena sejujurnya hatiku hanya ada satu yaitu untukmu

 

           

POV Author

Di tempat lain terdapat sebuah rumah megah nan elegan, membuat siapapun yang masuk menganggapnya seperti istana. Halaman yang luas disertai air mancur menyambut kedatangan mobil Ferrari putih memasuki rumah tersebut. Tepat didepan pintu masuk lelaki tampan melenggang santai memasuki rumah tersebut. Tatkala beberapa pelayan mununduk menyambutnya. Sepi, rumah itu selalu sepi. Seperti tidak ada kelayakan untuk ditempati biarpun bisa dipastikan tidak ada debu yang masih menempel di lantai atau perabotan rumah tersebut.

Kakinya berhenti di ruang tengah dimana terdapat foto megah yang terpajang dengan pas di dinding tersebut. Foto kakek dan neneknya, beserta ayahnya dan dirinya. Tanpa ibunya. Ya sudah lebih dari 10 tahun ibunya meninggalkannya, bahkan dia tidak mengetahui dimana keberadaan ibunya sekarang. Apakah dia anak durhaka? Tidak pernah tau ibunya berada. Bagaimana keadaannya. Lamunan itu membuatnya tahan berlama-lama berdiri di depan figura itu. Ibunya pergi, hanya mengatakan pergi ketika terakhir kali mereka bertemu. Jika hatinya menginginkan mengetahui keberadaan ibunya dia bisa saja bertanya keberadaan ibunya pada ayahnya. Tetapi sekali lagi hatinya terlalu takut bertemu ibunya. Sedikit perasaan marah muncul mengingat niat ibunya yang sejak awal hanya menjadikannya harta karunnya.

Disisi lain tampak seorang pria paruh baya yang masih dengan tegapnya berdiri, mimic wajahnya menunjukkan wajah yang tegas dan berwibawa. Tetapi pemandangan didepannya mengubah sedikit kesan itu. Berjalan perlahan mendekati cucu satu-satunya. Si penerus asetnya yang terhitung tidak sedikit.

“Bagaimana harimu Jong In?” Sapa pria paruh baya tersebut, membuat Kai tersadar akan lamunannya. Dengan perlahan dirinya membalikkan badannya dan sejurus kemudian tatapan Sang Kakek berhadapan langsung dengan matanya. Masih dalam keadaan belum bergerak seinci pun dari tempatnya sekarang, Pria tua tersebut melangkah mendekati Jong In.

Jong In sangat menghormati kakeknya, karena beliaulah yang merawatnya selama ini. Dirinya yang tidak ingin tinggal bersama ayahnya. Melakukan deep bow setelah itu menegakkan tubuhnya. “Baik, bisnis sangat menyenangkan. Aku harus bersikap manis terhadap Mr. James agar dia setidaknya memberikanku nilai minimal C untuk mata kuliahnya.” Sedikit bercerita tentang harinya kepada kakeknya membuat perasaannya sedikit terobati. Bahwa dia tidak sendiri disini. Masih ada kakeknya yang ingin mengetahui bagaimana dirinya.

“Sudah malam, sebaiknya kau beristirahat. Kita bisa mengobrol besok pagi. Kebetulan aku sedang merindukanmu.” Ucapnya seraya menepuk pelan bahu Jong In.

“Terima kasih, kek. Selamat malam” ujarnya berlalu menaiki tangga tanpa menoleh kearah sang kakek yang masih terus mengamatinya hingga dirinya sudah tidak terlihat dibalik lorong menuju kamarnya.

Pria tua itu menghampiri meja yang diatasnya terdapat beberapa foto dan figura hasil koleksinya dari beberapa belahan dunia. Menarik laci kecil yang ada dibawahnya, mengambil sebuah foto yang sudah belasan tahun lalu tercetak. Seorang pria yang mirip dengan dirinya siapa lagi kalau bukan anaknya, Ayah Jong In. bersama seorang wanita, foto yang amat mesra menunjukkan bahwa mereka tidak lain adalah sepasang kekasih. Dirinya tau bahwa selama ini masih dan terus ada rasa cinta terhadap wanita itu, meskipun sang anak telah menikah dengan perempuan yang bukan di foto itu, Ibu Jong In.

“Seandainya saat itu kau tidak hadir kehadapan anakku, pasti cucuku tetap merasakan apa arti seorang ibu sampai saat ini.” Gumamnya seraya menatap miris foto tersebut

Dan dibalik foto sepasang kekasih itu tertulis,

Paris, 1993 with love Han Hyojin & Kim Taeyoung

–          TO BE CONTINUE KAYAKNYA. –

 

Cuman bisa nulis segini. Miris banget serius -__- gatau buat selanjutnya mau dibikin kayak gimana. Masalahnya belum nongol-nongol yak? Apa udah bosen gegara ga ada masalah? Mau di stop-in juga gapapa kok. Serius kayaknya ini cerita makin aneh deh dari awal kayaknya author ga kepikiran bakal bikin begini -.- maunya cuman focus ke kay-kai-kris-kyu-ken ehh kok malah merembes ke orang tuanya kai . liat ide aja deh nanti nongol apa ga. Oke deh makasih sebelumnya yang udah mau baca. Big kisses and hugs. Mwah XOXO❤

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s