The Scenario

the-scenario-poster

® slowlybell presents.

|| D.O Kyungsoo (EXO) – OC – Jennie Kim | Ficlet | AU! Hurt/Comfort, sad, life, drama PG-13 | slowlybell (@ranabilah) | The Casts are belong to God and themselves but, this storyline is pure my own. ||

.

Kau hanya bisa untuk terus berjalan, membiarkan arus kehidupan itu mengalir dengan sendirinya.

 

®

.

Adakalanya sesuatu berjalan berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan. Ini sangat menjengkelkan, tentu saja. Terlebih sesuatu yang berada tak jauh, bahkan hanya berjarak tak lebih dari beberapa puluh senti pun tak berhasil kau raih. Aku mendengus sebal seraya memandang Kyungsoo yang berdiri di hadapanku. Ada niatan untuk memeluknya, menenggelamkan diriku ke dalam tubuhnya yang hangat, lekas saja kubuang jauh-jauh ide gila yang tak masuk akal tersebut.

Dapat kulihat Kyungsoo bergerak tak nyaman, alisku menjengit bingung. Suasana canggung masih melingkupi kami, semenjak awal perjumpaan sore ini di Apartemenku. Tangannya menyentuh pundakku, sorot matanya beralih fokus dengan kedua manik mataku. Alih-alih menjauh dari tatapannya, semua fokusku justru terbagi hanya untuk dirinya. Tak siap jika harus berpisah lebih awal dari yang seharusnya.

“Dengarkan aku, Jiyeon.” Ia berkata seolah-olah pembicaraan ini akan menjadi suatu hal yang begitu penting, meski pada kenyataannya pun begitu.

“Akan kucoba.” Jawaban lirihku sempat membuatnya menarik napas dalam. Aku tahu, ini tidak akan mudah. Terkadang sesuatu sering berjalan dengan sesukanya, tak mengikuti alur seperti apa yang diinginkan.

Kyungsoo memandangku intens, sentuhan tangannya yang masih berada di atas pundakku begitu kokoh. Ada perasaan janggal yang tiba-tiba merayapiku, entah dari sisi mana.

.

.

“Kurasa semuanya sudah jelas.” Dia berkata begitu saja kemudian. Oh, Tuhan. Pantas saja.

Seharusnya sedari awal aku sudah dapat memprediksikan yang satu ini. Aku dan Kyungsoo sama-sama tahu bahwa perasaan yang terdapat jauh dalam hati kami memanglah nyata, sekalipun aku akan mengatakan tidak untuk kesekian kalinya. Ada perasaan sesak yang merambati, membuat debaran jantungku berpacu begitu keras kewalahan. Aku merinding, ingin sekali rasanya hendak menumpahkan segala kegundahan jiwa. Namun itu tidak mungkin untuk sekarang.

“Kau baik-baik saja ‘kan, Ji?” Dia bertanya masih dengan posisi yang sama. Tubuhku bergetar, terasa begitu rapuh sekali. Aku mengangguk dengan sisa tenaga yang kumiliki, ingin sekali rasanya aku berteriak, “Tidak, tentu saja tidak, bodoh!” Namun apadaya lagi-lagi tubuhku merasa tak mampu, suaraku tercekat di pangkal.

“Tak ada salahnya untuk mencoba,” balasku lebih seperti bergumam. Kyungsoo memandangku dengan sorot prihatin. Sialan kau, tuan Kyung.

“Andai saja ini semua bisa dirubah sedari awal, maka aku tak akan memilihnyasebagai pendampingku. Melainkan dirimu.” Dia berkata, tapi aku tak menggubrisnya. Tuhanku, tolong, enyahkanlah semua kata ‘andai saja’ yang  selalu keluar dari mulutnya. Aku tak bisa mendefinisikan perasaan ini, semua terasa memang ini tak mungkin untuk diartikan menjadi lebih jelas. Perasaan sedihlah yang tentu saja mendominasi, tapi rasa bersalah juga ikut menyelubung.

“Sudahlah, Kyungsoo..”

“Tapi faktanya apa kau pernah benar-benar menginginkan hal ini terjadi??” Aku terdiam, berdiri dengan getir. Lalu menyambungkan kalimatku lagi.

“ Lagipula nyatanya ini memang kesalahan kita, kita yang melakukannya terlebih dahulu di belakangnya, hingga pada akhirnya kita pula yang harus menerima resikonya. Misalkan, seperti sekarang ini.”

“Maksudmu, perpisahan?”

®

Ditengah kesibukan yang dihadapi Jenny, sesekali aku merenungkan sesuatu. Aku kadang suka berpikir, bukanlah kami yang memulai semua ini, aku dan dia hanya menjalani skenario takdir yang telah disusun dan tak dapat diganggu gugat. Tapi jika semua sudah berjalan seperti apa yang telah terjadi secara diam-diam, apa yang harus aku lakukan? Siapa yang patut untuk disalahkan?

“Jiyeon?” Kudengar Jenny memanggilku, aku menoleh.

“Bagaimana?” tanyanya ketika aku mulai memerhatikan seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah. Gaun yang digunakannya dirancang dengan begitu detail, setiap aksen yang terbubuh di sana begitu mewah, hiasan yang melingkar mengelilingi pinggulnya pun sangat sempurna. Aku berdecak kagum, ia memandangku dengan sorot bahagia.

“Terimakasih, aku tahu bahwa gaun ini akan sangat cocok bila dipasangkan dengan setelan yang dipakai Kyungsoo.” Ya, kau tahu itu, begitu juga diriku. Kalian sangat cocok.

“Kau dan dia juga sama, pas sekali.” Aku berkomentar, ia membalasnya dengan ulasan senyum yang tak dapat digambarkan. Aku membayangkan bagaimana jadinya jika ia tahu apa yang pernah terjadi di antara kami? Akankah ia merasa terkhianati atau sebagainya? Tapi pikiran itu tiba-tiba saja terganggu ketika ia berkata,

“Ini akan menjadi awal kisah hidupku yang baru Ji, dan oh, Tuhan, semoga saja semua ini berjalan dengan sesuai apa yang aku harapkan.” Aku tersenyum menanggapi. Berharap semoga Ia dan wanita ini dapat bahagia. Aku bersungguh-sungguh.

.

Aku menyayangi Kyungsoo, tapi rasa sayangku yang terlebih dahulu mendarat kepada Jenny tidaklah dapat diubah. Benakku selalu terisi oleh katapengkhianatan yang memonopoli sebagian isi sel saraf otakku. Aku tidak mengerti, sungguh. Semua ini hanya mengalir begitu saja, dan tanpa kusadari akupun turut terbuai oleh aliran tersebut.

Aku dilanda bimbang, Tuhan, kenapa harus seperti ini?

.

Aku dan dia tak pernah ingin untuk saling bertemu kemudian mencintai, lalu merasa saling harus memiliki ketika seseorang di luar sana mempercayai kami setulus hati, tetapi takdirlah yang memaksa kami untuk bertindak seperti itu. Hingga seseorang di antaranya harus mengalah. Melepaskan semua awal yang terlah berlalu.

Karena pada dasarnya terkadang sesuatu berjalan diluar batas perkiraan dan tak seperti apa yang kita tentukan. Sesederhana itu.

.

FIN

.

Ini.aku.gatau.nulis.apaan.sih.sebenernya.serius. Semuanya ngalir gitu aja dan ahaha duh feelnya aja gadapet gitu T<T Maaf juga karena poster yang hanya seadanya, well, komputerku rusak udah dari lama banget dan otomatis photoshop dsb ilang. Sedangkan di laptop cuman ada photoscape hahaha T<T Dan juga kenapa nama Jenny Kim tiba-tiba ada di situ?? Hell! aku juga gangerti kenapa aku ngebiarin nih tangan ngetik nama asalan T<T Kyungsoo x Jenny, ini crack banget asli tapi yasudahlah gpp toh aslinya aku tetep cinta sama mereka berdua x) Yah, intinya sih gitu, kadang apa yang kita inginkan itu ga berjalan seperti apa yang kita mau atau, apa yang terjadi itu diluar dari pemikiran kita sebelumnya.

Mind to leave a review/comment?

4 thoughts on “The Scenario

  1. feelnya, dapet kok thor!🙂
    sedih sekali sepertinya kisah cinta mereka kalo dijabarkan, sayang ini cuma ficlet;-;
    menurutku thor, nama gausah terlalu dijadiin beban._. aku pernah mikirin nama yang tepat berhari-hari, dan gapernah dapet, kurang ini itulah. makanya stress sendiri kalo mau nyocokin nama-_-
    yah, arus kehidupan kadang gabisa ditebak dan meleset jauh dari perkiraan. singkat, cuma kalo dipikir dua kali, artinya dalem, efeknya mungkin bikin kita meragukan masa depan, hohoho
    good job!! daebaaakk

    • hehe, makasih🙂
      sebenernya baik si OC (Jiyeon), Kyungsoo ataupun Jenny juga sama-sama agak tragis juga sih kisah cinta mereka huhu T<T
      ah hahaha iya benar!😉
      makasih yaaa!😉

    • Hehe Jiyeon di sini itu OC-nya, soalnya kalo aku nulis pov orang pertama, seringnya jadiin tokoh ‘aku’ itu sebagai OC aja gitu. Tapi kalo kamu bayangin itu Jiyeon t-ara juga gpp kok😀 dan aku juga kebiasaan nulis OC di bagian Cast di akhir hehe T<T

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s