Because It’s You (Saranghae) Part 8

1528521_10200759692629393_780702774_n

Title: Because It’s You (Saranghae) Part 8 || Author: Keyindra || Cast:  Yesung Super Junior,Yuri SNSD, Yoona SNSD, Siwon Super Junior. || Support Cast: Donghae Super Junior, Woohyun Infinite || Disclaimer: this FF is owned by my self,  all cast borrow by GOD, The Family, and SM Entertaiment || inspirate by novel, K-drama, music, MV, etc || Dont copy paste them without my permission. So please don’t be a silent readers. || Credit Poster by Ekha Lee Sunhi ||

*****

Malam semakin datang, dinginnya malam dimusim dingin terasa menusuk tulang. Berbagai kegiatan nampak masih menghiasinya walau katakanlah ini adalah waktunya untuk beristirahat. Rehat dari aktivitas masing-masing. Gadis itu semakin mengeratkan blazer yang ia pakai hanya untuk sekedar menghangatkan tubuhnya. Namun tak urung jua dingin yang pergi justru ia tetap merasakan dingin di tubuhnya dan blazer yang ia gunakan adalah harapannya untuk ia dapat merasakan hangat. Kedua kaki jenjangnya melangkah santai menyusuri koridor sebuah rumah sakit besar dan terkenal dikota Seoul tersebut. Wanita itu masih menikmati dinginnya malam dengan satu pandangan menatap lurus kedepan. Kekalutan masih saja melanda pikirannya tentang bagaimana nasib putrinya sebelum ia mendapatkan donor jantung tersebut. Pikiran positif itu ada untuk mendapatkan sesegera mungkin donor, sebagai penyambung hidup Putri yang sangat ia cintainya.

            Kwon Yuri. Wanita itu berhenti sejenak untuk menghela napas panjang. Matanya tiba-tiba tak sengaja memandang pemandangan didepan matanya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Sejurus kemudian Yuri alihkan pandangannya sosok dua orang yang tengah bergandengan tangan itu. Begitu bahagia dan sedikit membuatnya iri. Ia tersenyum kecut melihat hal yang dilakukan oleh pria tersebut kepada istrinya. Refleks satu tangannya otomatis mengelus lembut permukaan perutnya itu. Usia kandungannya baru berjalan 5 minggu.

            “aku tidak sabar yeobo menanti kehadiran anak kita.”

            Lelaki itu terkekeh pelan. Sangat jelas tergambar dari raut wajahnya, kebahagiaan tengah menyelimuti kedua insan tersebut yang menanti kehadiran malakait kecil ditengah keluarga kecil mereka. Rasa iri itu ada—dan sekarang tengah menyelimuti dirinya. Diusia kandungan masih sangat muda seperti ini keluhan pasti itu ada layaknya ibu hamil lainnya. Ia butuh perhatian, terlebih lagi perhatian dari lelaki yang sangat dicintai—lelaki yang berstatus sebagai ayah kandung dari calon buah hati yang dikandungnya kini.

Jika seandainya Hana tidak sakit seperti ini, mungkin sekarang ia sekarang sudah memberitahukan kondisi kehamilannya sekarang dan tentunya merancang indahnya pernikahan bersama lelaki yang dicintainya. Kim Jongwoon. Dalam kondisi seperti ini  ia seharusnya tidak memikirkan hal itu, ia mencoba mati-matian menahan keinginan apapun yang sebenarnya ia inginkan. Walau terkadang tak bisa ia tahan tapi sebisa mungkin ia sendiri yang menuruti keinginan calon malaikat kecilnya. Aneh memang, yah inilah keadaan orang hamil.   

            “maafkan eomma sayang. Bebeapa hari ini sedikit mengabaikanmu.” lirihnya. Yuri elus pelan permukaan perutnya yang tertutupi kain pakaian yang ia kenakan.

            “Yuri..” sebuah panggilan sedari tadi yang memanggilnya akhirnya direspon juga oleh kedua telinganya. Yuri menoleh sebentar kebelakang. Kedua mata itu  melebar melihat sosok yang tengah menahan deru napasnya yang memburu dengan satu tangan memegang dadanya—berusaha mencoba mengatur napasnya agar normal kembali.

            “Woohyun-aa…” lirih suara Yuri yang secara gamblang didengar oleh Woohyun. Lelaki itu berusaha mengatur napasnya kemudian langsung berdiri tegap lagi.

            “kenapa meninggalkanku. Aku mencarimu sedari tadi. Bukankah kita akan mencari makan malam bersama?.”

            “jinja?.” Yuri menggerakkan mulutnya membentuk huruf ‘O’ seolah baru terkoneksi pikirannya jika sedari tadi lelaki tengil itu mengajaknya untuk makan.

            Tawa ringan diikuti celotehan kecil itu sedikit mengobati sedikit rasa kesepiannya dimalam ini. Baru saja ia membelokkan arah di koridor rumah sakit. Langkah kaki itu mendadak terhenti seketika saat matanya menangkap sosok seseorang yang ia rindukan keberadaannya.  Yuri mendongak dari aktivitasnya yang tadi menunduk. Dia edarkan penglihatannya kesegala arah lalu berhenti tepat pada sosok yang berdiri beberapa meter tempatnya berdiri sekarang. Perlahan langkah kaki itu kian ia percepat mana kala mata itu menangkap sosok yang baru saja ia pikirkan. Secercah senyum tulus itu tersungging seketika saat mendapati sosok lelaki itu tak jauh darinya.

            “oppa…J—jjong—woon opp…”

            Kaki Yuri terhenti seketikan saat penglihatan pada matanya merespon pemandangan yang disajikan didepan matanya. Kedua bola mata bulatnya membulat sempurna ketika menyaksikan apa yang perasaannya inginkan kini benar-benar tengah nampak di depan matanya. Ia mematung seketika mendapati dua sosok itu sedang berpelukan layaknya seorang kekasih.

“aku sudah tidak apa-apa oppa. Aku justru ingin pergi keruangan oppa dan menemuimu!. Ruangan itu benar-benar membuatku stress!.”

“oppa mau menemaniku malam ini hanya untuk sekedar berjalan-jalan. Aku penat oppa terkurung dalam ruangan.”

            Wanita itu. Im Yoona, Yoona memberanikan diri melangkah mendekati Jongwoon yang masih terdiam ditempat. Ia berjalan sedikit tertatih dan kemudian meraih tangan Jongwoon sebagai tumpuannya.

Cukup jelas apa yang sekarang ia lihat. Yuri masih saja tak bergeming. Pandangannya saat ini tengah tertuju pada sesuatu yang terfokuskan untuknya. Secara kasat mata ia melihatnya. Matanya bahkan tak berkedip  sama sekali saat menyaksikannya. Bagaimana tidak, saat ini kedua matanya secara nyata dan sekasama melihat kedekatan mereka berdua. Kim Jongwoon dan Im Yoona sedang berpelukan. Meski Jongwoon berkali-kali mengatakan jika ia sama sekali tak pernah mencintai Yoona. Tapi bagaimana dengan wanita itu, wanita itu sangat mencintai Jongwoon dan akan melakukan apapun untuk mendapatkan lelaki itu. Termasuk dengan menyingkirkannya. Bahkan Jongwoon pun sepertinya menikmati kebersamaannya dengan wanita bermarga Im tersebut. Yuri mencoba meredam rasa sesak yang menyeruak dari dalam dirinya. Saat secara kasat mata ia melihat dengan jelas kedekatan mereka berdua.

Masih tefokus dan matanya menatap lurus kedepan. Pria itu, pria yang berada tak jauh dibelakang Yuri,  memandang Yuri yang sedari tadi belum terkoneksi dengan seruan atas panggilannya. Ia mengernyitkan alis dengan kebingungan yang tergambar jelas. Saat kedua mata yang ia miliki mengekor mengikuti pandangan mata Yuri yang sedari tadi membuat wanita itu tak berkutik sama sekali.

“Yul..” panggil sebuah suara. Tak sadar jika kini didekatnya sudah ada lelaki yang memanggilnya.

“Kwon Yuri?!.” Kali ini Yuri melonjak terkaget. Suara itu berulang kali akhirnya memanggilnya juga.

            Merasa ada yang aneh pandangan mata lelaki itu akhirnya mengekor mengikuti arah kemana mata Yuri itu melihat. Dan sama seperti halnya dengan Yuri lelaki itu tak kalah terkaget dengan apa yang diperlihatkan saat ini.

“Yoona noona!.” Kali ini suara itu beralih menyebut nama. Woohyun mengkerutkan keningnya. Sama seperti pandangan Yuri. Ia melihat sosok Im Yoona sedang berpelukan dengan lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah kekasih Yuri.

“Gwenchanaseumnika?.” lanjut Woohyun.

 “Yul..Yoona noona.”

“aku tahu jika perlakuan Yoona noona padamu tentu masih terngiang jelas dalam pikiranmu terutama perlakuannya terhadap Donghae Hyung. Aku minta maaf jika justru malah membuatmu bertemu dengan Yoona noona disini. Tapi sungguh aku tidak…”

Ucapan itu terpotong seketika saat setetes air asin itu mulai keluar dari sudut matanya. Yuri bingung harus bersikap seperti apa. Sakit hatinya dimasa lalu yang belum tersembuhkan hingga sekarang dan tentunya rasa sesak dalam dada saat melihat kekasihnya berdua dengan Im Yoona.

“tak apa..gwenchana. Woohyun-aa.”

“aniyo…semuanya sudah terjadi. Kekecewaaan itu sudah terlanjur membelenggu. Aku tak tahu apa kata maaf sudah cukup untuk merubah keadaan seperti semula, meski tak bisa mengembalikannya seperti keadaan itu.”

Woohyun masih diam. Ia lihat dengan nanar wajah Yuri yang mencoba menahan tangisnya. Hati Yuri masih terasa sesak dan bergejolak. Semuanya sungguh tak bisa dibayangkan.

 “Jongwoon oppa Sarangahaeyo..”

            Runtuh sudah pertahanan Yuri. Tiga kata sakti itu sukses membuatnya mematung diam seketika ditempat. Yuri tidak bisa untuk tidak menangis saat itu, tubuhnya bergetar hebat –menahan sakit yang tengah gadis itu rasakan. Kenapa saat dirinya dengan mudah menjawab pernyataan cinta pria itu justru kepedihan yang dia rasakan? Masih dalam isak tangisnya, Yuri tetap betah dalam posisnya. Menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua perasaan ngilu yang hatinya rasakan.

“Kenapa begitu sakit?” Tanya Yuri lirih pada dirinya sendiri menangis pilu. Meski tangisannya tak terlihat. Dalam hati ia menangis sekeras-kerasnya. Mengapa harus seperti ini?.

Menyadari akan sesuatu yang sedikit berbeda yang ada disekitarnya, pandangan mata Jongwoon kini beralih menatap sekitarnya. Kedua mata Jongwoon itu akhirnya berpusat pada sosok gadis yang berdiri tak jauh darinya. Betapa tidak, kali ini ia tengah dipeluk oleh wanita lain. Jongwoon memandang nanar kearah Yuri yang terihat baru saja mengusap mata dan pipinya. Sepertinya terlihat menangis. Tubuh Jongwoon terpaku lemah ketika dirinya sadar jika telah kembali menyakiti orang yang ia cintai.

Apa?. Kenapa ini bisa terjadi lagi?. Ia menyakiti Kwon Yuri lagi. gejolak hatinya bertanya secara beruntun pada dirinya sendiri. Kenapa ini kembali harus ia alami. Ketika dirinya harus kembali menyakiti gadis yang ia cintai yang seharusnya ia lindungi saat kapanpun dan dalam situasi apapun.

“yoong..jebalyo. sudah terlalu besar aku menyakiti orang yang kucintai..kumohon lepaskan aku.” Lirihnya. Ia longgarkan pelukan itu. Lalu dengan cepat membalikkan badan berbalik arah, menghadap seseorang yang terluka karena dirinya.

Waktu terus berjalan hingga detik berubah menjadi menit. Yuri dan Jongwoon masih bersikap sama. Diam—pada posisi masing-masing. Hingga sorot mata Jongwoon-lah yang seketika berubah dengan cepat menandakan sebuah ketakutan mendalam yang kini pria itu rasakan.

“Yuri!.” Nada suara itu terdengar begitu keras meneriaki Yuri yang kini tengah berjalan begitu cepat meninggalkan mereka berdua yang masih dalam posisi sama, berpelukan. Ia pun berlari dengan secepat mungkin seolah ada sesuatu hal yang menakutkan akan terjadi. Namun teriakan it tak Yuri hiraukan, seakan tuli dari panggilan lelaki tersebut.

**

            Air mata itu semakin mengalir deras saat langkahnya semakin berjalan menjauh dari tempat itu. Yuri hapus lagi air matanya. Ia paksakan dirinya tetap tegar karena mencintai seseorang. Perasaannya membuat ia terlampau rapuh dan lemah sehingga untuk banyak sikap dia hanya bisa untuk mengalah padahal dirinya sangat tersiksa. Erangan hatinya kian menggebu menyeruak sakit. Ia disuguhkan sosok orang yang dengan jelas sudah membuatnya antara bahagia dan kekecewaan. Hingga tubuh itu mulai berjalan jauh, menjauhi semuanya. Cukup jelas ia dengar dari kedua telinganya mendengar namanya berulang kali dipanggil, namun tak kunjung juga ia indahkan. Jika mencintai seseorang sesakit ini, ia putuskan hatinya untuk mengalah.

Merasa sudah tenang, ia dudukkan dirinya pada sebuah kursi yang terletak disepanjang koridor rumah sakit tersebut. Yuri menghela nafas, sudah dia tebak kenapa mesti harus bertemu dengan wanita sialan itu lagi?. Belum puaskah ia menghancurkan hidup seseorang. Sekarang justru wanita itu mencintai pria yang sama pula dicintainya?. Entahlah kali ini ia belum bisa berpikir jernih. Entah Jongwoon atau Yoona yang membuatnya sakit melihat pemandangan mereka berdua seperti itu.

Mereka berdua berpelukan layaknya kekasih?!. Tchihh…rasanya hatinya seakan memanas juga. Apakah itu bagian dari rencana gila wanita itu  yang berisi sebuah basa-basi yang yang tidak penting dan hanya semakin membuat hatinya semakin sakit. Jika waktu dapat dia atur, dia ingin sekali menghentikannya sejenak, lalu waktu yang berhenti itu dia gunakan untuk mengacak-ngacak isi dari otak dari Yoona. Wanita itu yang memulainya, jadi jangan salahkan siapapun jika apa yang dilakukan oleh orang disekitarnya untuk menutup masalah tersebut, meski endingnya harus menyakitkan. Karena itu adalah karma baginya.

“ini untukmu..” sebuah suara berlawanan arah yang datang dari seorang lelaki membuat Yuri spontanitas menghentikan tangisannya dan menghapus air mata yang keluar itu. Dengan baik hati lelaki itu menyodorkan satu buah gelas berisi kopi yang masih mengepul asapnya.

Yuri mengedarkan pandanganyya kesegala arah lalu menengok pada sosok yang berdiri didepannya, namun tampaknya sia-sia saja karena pandangannya masih terlihat kosong. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis. untuk apa terlalu banyak menangis?. masalah pun tak selesai juga jika hanya mengandalkan tangisan. “gomawo..”

Ia ambil gelas berisi kopi hangat tersebut, dan didapatinya sosok lelaki yang menjadi sahabatnya itu berdiri tepat didepannya. menyesapnya hanya untuk sedikit menenangkan pikirannya. Hanya sedikit, jika 90 persen dari otaknya penuh dengan masalah yang ta kunjung menemukan solusi.

            “jangan terlalu lama menangis…dan jangan terlalu salah paham pula.” Yuri lirik dengan cepat ke arah Woohyun. Ia beri ekspresi tidak mengerti mengapa lelaki itu tiba-tiba berucap demikian.

            Kepulan kedua dua gelas berisi kopi hangat itu mulai menampakkan kepulan asapnya melayang diudara, seolah melambangkan jika suasana didalam cangkir tersebut bertentangan dengan suhu udara diluarnya. Dua orang sahabat yang 12 tahun silam saling membantu dan mengisi satu sama lain kini dipertemukan kembali oleh takdir. Mereka berdua masih berkecimpung dan bergulat dengan masing-masing pemikirannya.

            “semua ada waktunya. Antara bahagia dan kesedihan.” Timpal Woohyun yang masih bersikap santai. Ia tahu apa yang kini Yuri rasakan tertawa atau menangis.. toh bagi Yuri tak ada bedanya antara tertawa dan menangis, semuanya rasa sama dan relative beda tipis. Dan jika dirinya tersenyum pun seolah-olah tak ada masalah yang menimpa tetap saja tak bisa merubah apapun. Ia hanya ingin mencari sebuah kebahagiaan kecil tanpa dihantui oleh masa lalu. Dan tentunya ingin bersama dengan orang yang dicintainya.

            “Sebelumnya aku minta maaf karena terlalu lancang menebak perasaanmu.”

“Sebuah perasaan yang timbul pada hati seseorang memang tidak bisa untuk disalahkan karena itu buka keinginan kita.” Tapi Tuhan maha adil ia menciptakan dua insan yang saling mencinta. Jika seseorang mencintai salah satu dari kalian, mungkin cinta orang itu hanya sesaat. Meski dimakan usia, toh cinta itu tak akan menjadi cinta abadi karena ia hanya memaksakan kehendaknya sendiri.”

Yuri terpaku. Ia mencoba terkekeh, memaksakan senyumnya menanggapi hal itu. “sejak kapan kau pandai berceramah dengan kata-kata sedalam itu?!.”

            “temui dia!. Kau harus mendengarkan penjelasannya!. Mungkin yang kau lihat tadi berbeda dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya. Aku tahu kau bukanlah yeoja yang menyimpulkan sesuatu dari sebuah penglihatan. Kau butuh alasan.” Woohyun hela napasnya lagi. Dia tertawa konyol dalam hati, entah mengapa lelaki itu bisa berbicara dan menasehati orang lain, padahal ia sendiri saja belum becus menilai dirinya.

            **

            Sementara itu lelaki itu masih berjalan dengan hati yang gusar mencari sosok Yuri yang saat ini hanya memenuhi pikirannya. Ia terlalu bodoh, hanya rutukan dirinya-lah yang bodoh—yang saat ini tengah ia judge kan pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tidak menyadari jika gadis yang ia cintai ternyata melihat dirinya dengan wanita lain, bahkan wanita itu adalah wanita yang Yuri benci dalam hidupnya. Jongwoon dengan tergesa segera berlari menuju sosok yang terlihat kini didepan matanya. Tidak peduli apa yang dikatakan orang secara tak sengaja bertabrakan dengan orang yang melewatinya.

            Langkah Jongwoon terhenti di ujung lorong, ia melihat Yuri beserta dengan lelaki itu. Jongwoon berjalan perlahan sementara matanya sudah mulai memanas. Pria itu berjalan pelan seraya menggigit bibirnya menghampiri Yuri.  Lelaki itu, Nam Woohyun yang sedari tadi berada disamping Yuri menyadari kedatangan Jongwoon. Pria itu beranjak dari bangkunya yang sedari tadi duduk disebelah Yuri dan pergi untuk memberikan ruang privacy bagi keduanya untuk berbicara.

            “Yuri-ya.” Panggil Jongwoon pelan

“jangan kau termakan oleh emosimu. Dengarkan apa kata hatimu dan penjelasannya.” Lirih Woohyun, pria itu menepuk pundak Yuri pelan sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.

            Yuri mengangkat wajahnya menatap Jongwoon. Sedetik kemudian ia menatap intens lelaki itu. Namun tak berselang lama ia berdiri dari duduknya, berusaha menghindari Jongwoon. Jongwoon mengerang dan menahan lengan Yuri dalam cengkeramannya.

            “mianhae. Yuri-ya.” Ujar Jongwoon pelan.

            Dengan cepat ia tepis tangan Jongwoon yang saat ini memegang lengannya, dia berbalik dan menatap Jongwoon dengan mata yang sudah mulai memanas. Yuri menundukkan kepalanya seraya memejamkan matanya. Yuri mengerang pelan dalam hatinya. Ia dihadapkan pada sosok yang dengan sangat jelas mencintainya, tapi ternyata diindahkan kenyataan lain jika lelaki itu juga dicintai oleh wanita lain.

            “ Yuri-ya, berikan aku kesempatan. Tolong, Yuri ya. Jebal…semua tidak seperti yang kau lihat. Tak pernah sama sekali terbesit dalam benakku mencintai Yoona. Jebal..maafkan aku.” isak Jongwoon.

Raga itu akhirnya bergerak memeluk tubuh Yuri. Jongwoon memeluk tubuh Yuri dari belakang. Ia peluk erat tubuh itu seakan tak mau melepaskannya. Yuri terbelalak seketika tak dapat menolak pelukan lelaki itu. Ia membalikkan badannya menghadap Jongwoon, bisa ia rasakan jika air mata Jongwoon membasahi pundaknya. Mendengarkan isakannya yang sepilu ini saja tak pernah Yuri bayangkan, hatinya terasa tercabik-cabik mendengar tangis Jongwoon yang tak pernah ia dengar sepilu ini sebelumnya. Dengan pelan, Yuri mengangkat tangannya, sementara kedua matanya sudah memanas dengan sendirinya. Pemikiran konvensional apa yang membutakan hatinya hingga ia tak mau mendengar alasan lelaki itu. Sungguh pemikirannya tertutup oleh rasa cemburu yang meliputinya. Oh Tuhan tolong sadarkanlah…Yuri semakin gila saja, bisakah gadis itu sekali saja berfikir real jika sedang memikirkan dan dihadapkan pada pria itu?

            Tangan Yuri bergerak pelan meraba wajah Jongwoon, ia elus wajah Jongwoon dengan lembut, sementara air matanya sudah tak terbendung lagi. Hingga akhirnya, Jongwoon menariknya dalam pelukan dan menangis kembali memohon. Yuri memejamkan kedua matanya. Terlalu picik jika ia sama sekali tak mendengarkan alasan pria itu. Spekulasi dan asumsinya sendirilah yang akhirnya membuatnya ia terpancing dengan rasa cemburunya.

            “maafkan aku..untuk kesekian kalinya aku menyakitimu. Sungguh aku tidak bermaksud…”

            “oppa..geumanhae..” pinta Yuri lirih. Jongwoon menggelengkan kepalanya dan melepaskan pelukannya menatap Yuri dengan dalam. Ia mengelus wajah gadis yang dicintainya itu pelan.

            “aku mencintaimu..sangat mencintaimu. Hatiku sepenuhnya sudah menjadi milikmu. Ruang hatiku jauh lebih besar untuk cintamu. Tolong percaya padaku.”

Yuri meremas ujung pakaiannya dengan gelisah dan sebelum akhirnya menatap Jongwoon. “mianhae oppa. Cemburu sepihakku  ternyata menyakitimu.. sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Seharusnya aku percaya dengan ucapanmu, jika kau tak pernah mencintai Yoona.” lirihnya memeluk Jongwoon dan menangis dalam dekapannya. Sudut hatinya merasakan sebuah kehangatan karena pelukan lelaki itu.

“ Jangan tinggalkan aku. Kumohon.” Pinta Jongwoon.

Yuri mengangguk dan melepaskan dekapan Jongwoon seraya tersenyum lembut. Pikiran transdental apa yang menutupinya sehingga secara sepihak ia berprasangka cemburu seperti ini? Mengindahkan kenyataan bahwa Kim Jongwoon hanya mencintainya seorang?

“jangan berbicara seperti itu oppa. Siapa juga yang akan meninggalkan oppa. Anak kita tidak mau jauh dari appanya.” Yuri tersenyum kecil, ia hapus sisa-sisa air mata yang masih mengalir dipipinya. Jongwoon tersenyum lembut meski masih ada air mata yang masih mengalir, lelaki itu kemudian melirik permukaan perut Yuri yang masih rata—bakal calon buah hatinya kelak akan tumbuh. Sekali lagi Jongwoon memejamkan kedua matanya sementara air mata mengalir dengan sendirinya. Sungguh ia sangat bahagia.

Kini seulas senyum itu tak bisa lagi Yuri tahan. Ketika ia membuka matanya, sebuah sapuan lembut mendarat tepat dibibirnya. Selagi ia bawa lagi tubuh itu agar tidak menyisakan jarak sedikitpun, Jongwoon membungkam bibir Yuri dengan ciuman hangatnya. Yuri terlalu lemah untuk menolak. Bohong sekali jika wanita itu mengatakan kalau dirinya tidak menyukai hal tersebut. Jongwoon yakin jika keputusannya tepat—melabuhkan hatinya pada sosok Kwon Yuri yang akan mengisi kehidupannya.

gaseumi unda gaseumi sorichinda han sarameul saranghago siposo

(Hatiku menangis, hatiku berteriak, karena aku ingin mencintai seseorang)

norulge hetgo apeuge hetdon nega ijen noreul monijoso unda

(Akulah yang telah membuatmu menangis dan bersedih, sekarang aku tak bisa melupakamu, karena itulah aku menangis)

ne sarangi unda

(Cintaku menangis)

Backsong: K-Will- Love is Crying “Ost King 2 Hear Part 2

*****

Tak ada yang salah jika manusia menjalin hubungan dengan lawan jenis sesama manusia. Ketika cinta menaungi kedua insan dalam pertalian kasih dan akhirnya berakhir pula, itu merupakan salah satu roda kehidupan berjalannya takdir. Tak disangka semuanya harus berakhir se-tragis ini. ingin rasanya ia kembali pada masa lalu dan memperbaiki semuanya, jika takdir harus berkata jika ia kehilangan salah satu orang berharga dalam hidupnya, lelaki yang saat ini dicintainya. Akhirnya dan akhirnya langkah kaki itu terpaksa ia seret menuju ke sebuah ruangan, seperti tak minat.

Choi Siwon akhirnya dengan berat hati memasukki pintu ruangan itu, bau obat pun sedikit menguar merasukki hidungnya. Kemudian berusaha melangkahkan kakinya menuju orang yang sedang terdudukk dengan wajah sedih pula.  Hari ini seolah terungkap sudah. Kisah masa lalu dan kenyataan yang selama ini tak tahu menahu semuanya.

Ia bodoh..benar-benar bodoh..bahkan bisa dikategorikan tolol

Bagaimana tidak, setelah sekian lama ia pergi meninggalkan negaranya sendiri, ternyata ia meninggalkan bekas luka bagi orang lain. Dan seolah tak tahu menahu orang itu dengan sukarela mengorbankan dirnya untuk mencintai wanita yang telah mencintainya. Sampai saat ini dirinya masih belum tahu, masih menjadi teka-teki kenapa wanita itu begitu jahat pada sahabatnya. Lee Donghae dan Im Yoona memiliki seorang putri hasil dari pernikahannya. Dan wanita itu dengan sadisnya meninggalkan putrinya.

 Dalam hal ini, mungkin rasanya tidak tepat jika Donghae ataupun Yoona yang harus disalahkan. Bukankah kedua orang itu justru hanya menjadi korban?. Kalaupun ingin disalahkan, apa mungkin ia menyalahkan Yoona? Tidak!. Justru kini kesalahan terletak pada dirinya. Ketika ia ingat betul kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Donghae sebelum kepergiannya.

Siwon masih juga menatap resah arloji yang melingkar ditangannya. Ia mengeratkan jaket yang dikenakannya sambil menunggu keberangkatan pesawat yang akan segera lepas landas. Lelaki itu mewanti-wanti seseorang yang sedari tadi menghubunginya agar cepat sampai sebelum keberangkatannya. Ia mulai berpikir, sebenarnya apa yang akan disampaikan Donghae kepadanya. Sebegitu pentingkah?.

“Hae-ya. Sebenarnya apa yng akan kau katakan. Apakah sepenting itu?.” kepulan asap keluar dari mulutnya saat ia bergumam menyebutkan nama orang yang tengah ia nanti.

“Mana mungkin dia akan membiarkan aku menunggunya terlalu lama ketika ia tahu akan keadaannku yang seperti ini” semakin ia eratkan jaketnya untuk membuat badannya tidak terlalu kedinginan.

Sepertinya waktu berjalan lambat pula dan Tuhan masih memberikan Siwon kesempatan untuk bertemu dengan Donghae. Dari arah yang berlawanan, Donghae berlari sekencang mungkin agar ia segera sampai di tempat Siwon menunggunya.

“Siwon-aa..” teriaknya.

Dengan napas yang tak beraturan lelaki itu memgang dadanya, berusaha mengatur kembali napasnya agar teratur dan mencoba menatap lelaki itu.

“kumohon..kau jangan pergi..d—dia membutuhkanmu. Saat ini keadaannya semakin melemah..”

“maksudmu?.” Siwon mengernyit bingung.

“Yoona gadis yang menyelamatkanmu dari Sohee itu saat ini dalam kondisi sakit dan tak sadarkan diri. Dia membutuhkanmu!.”

“lalu apa hubungannya denganku?.” Tanya Siwon tak mengerti, “bukankah kau menyukai gadis itu?.”

“Siwon-aa. D—dia mengalami pembekuan kecil diotak akibat Sohee membenturkan kepalanya setelah ia mengetahui jika Yoona-lah yang menjadi saksi jika kau tidak menggauli Sohee malam itu.”

“dia butuh dirimu Siwon-aa..” teriak Donghae yang saat itu diliputi emosi. “apa kau tega membiarkan gadis yang diam-diam mencintaimu itu dalam keadaan tak sadarkan diri?!.”

Siwon membatu dan tercekat mendengar permohonan sahabatnya itu. Ya, Donghae tidak dapat menahan perasaannya lagi. Dadanya naik turun mencoba mengatur napas agar berusaha menyakinkan lelaki itu untuk tidak pergi. Atau setidaknya menemui Yoona sebelum ia pergi. Tidak bisa!. Siwon tidak bisa memberi harapan cinta bagi wanita lain yang mencintainya. Sudah cukup. Terlalu banyak wanita yang ia kecewakan dalam perjalananya. Dan ia tak mau wanita ini menjadi korban dalam permainan cintanya. Ia salah—ia salah karena sifatnya yang selalu memainkan hati wanita dan berujung menyakitinya.

“aku tak bisa Hae-ya..aku tak bisa. Aku sama sekali tak mencintainya. Aku tahu jika sikapku ini bukanlah sikap orang baik. Aku tahu ini memang salah. Entah harus bagaimana aku mengatakan maaf karena menyakiti gadis yang mencintaiku. Entah sudah berapa banyak aku menyakiti hari wanita.” ada jeda disana. Siwon coba tarik napasnya dengan berat. Sedangkan Donghae hanya bisa menangis frustasi.

“Kau orang baik Lee Donghae..dan aku tidak mencintainya. Aku tahu ini mungkin tidak akan mudah, tapi aku percaya. Bukankah kau mencintainya?. Bukankah dia gadis yang menjadi cinta pertamamu?. Temani dia dalam keadaan apapun, jika dia bersamaku maka ia akan berharap cinta terlalu lebih padaku yang sudah pastinya tak akan terbalaskan. bersamamu dia akan lebih baik. Aku percaya kau bisa menjaganya dan tentunya cinta yang begitu besar untuk dia.”

“Siwon-aa…”

“maafkan aku Hae-ya. Aku tak bisa menemui gadis itu. Kau-lah seharusnya yang berada disisinya hingga ia tersadar. Kau pasti bisa menjaganya..karena kau mencintainya..”

Keheningan sudah pasti terjadi, Siwon putuskan untuk mengakhiri pembicaraannya dengan Donghae. Ia peluk sahabatnya itu sejenak lalu bersiap menyeret travel bag-nya menuju pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas.

“aku pergi..”

 

Putaran memori itu memainkan segalanya apa yang diingatnya kembali dengan jelas. Matanya memanas, namun tak ia tampakan. Jika ia sadar dan tidak terlalu tolol mungkin Lee Donghae tidak akan meninggalkan orang yang disayangi dengan luka hati yang masih menganga. Ataupun setidaknya jika takdir menggariskan Donghae untuk meninggal, ia tidak harus terluka akan cinta yang tak terbalaskan. Siwon kembali melangkah mendekati gadis itu yang sedari tadi terisak, keputusasaan sekarang ini seakan menyeruak dalam relung hatinya.

“Yoona-sshi..” panggilnya. Buru-buru wanita itu membalikkan badannya dan mengusap matanya, memastikan jika ia tidak boleh terlihat menangis dihadapan orang lain.

Siwon berjalan mendekati wanita itu, dengan mencoba memaksakan senyum dan ia sunggingkan dibibirnya. Masih tak bergeming. Yoona mencoba tak mempedulikan siapa yang datang. Ia sudah terlalu sakit karena cintanya tak terbalaskan.

“bagimana kabarmu?.” Keheningan itu akhirnya terpecah juga. Siwon akhirnya membuka suara.

“Seperti yang kau lihat” Orang itu mengangguk kecil. Ia sudah terlalu biasa mendengar jawaban Yoona yang selalu singkat dan cenderung tidak antusias dalam menanggapi ucapan seseorang jika itu tidak terlalu penting.

“aku bukanlah tipikal orang yang tidak tahu balas budi. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu yang membawamu ke rumah sakit.” Sikapnya masih sama, terlalu tak menganggap penting omongan orang lain.

“ya..sama-sama.” Ujar Siwon menimpali.

Yoona berdecak kesal lalu memejamkan matanya. “Sudahlah. Lebih baik kau pergi saja sekarang. Aku muak. Aku tak butuh orang lain untuk peduli padaku!.”

Raut wajah itu tergambar jelas jika wanita itu sedang frustasi akan hidup dan percintaannya. Tapi Siwon enggan untuk mempedulikan omongan itu. Kini mata Yoona kembali memerah dan berkaca-kaca. Ia tatap nanar gadis itu, estimasi perkiraan pemikirannya itu menunjuk pada dirinya, jika ialah yang memulai masalah itu.

Prakk…

Dengan satu bantingan, gelas yang bertengger dimeja tersebut sukses menjadi kepingan-kepingan yang tajam. Lelaki itu terperanjat kaget, sementara Yoona turun dari tempat tidurnya, ia pungut pecahan gelas tersebut dan memgangnya erat. Kini tampak keputusasaan yang mendera batinnya akibat cinta yang tak terbalaskan dari Kim Jongwoon. Lebih baik ia tak hidup daripada menyaksikan kebahagiaan lelaki itu dengan wanita lain.  Mata Siwon membulat sempurna taatkala pecahan gelas itu akan diarahkannya tepat pada urat nadi tangan kirinya. Dengan gerak cepat Siwon segera mengambil pecahan gelas itu lantas membuangnya.

“Micheoseo!!.. apa kau sudah gila?. apa hanya karena masalah seperti ini kau akan mengakhiri hidupmu?.”

“Apa yang kau mengerti Choi-ssi? Kau hanya manusia arogan pahlawan kesiangan yang tiba-tiba datang dalam kehidupanku, Choi Siwon. Apa kau datang untuk menjadi pahlawan demi citra baik yang selama ini kau selalu jaga di hadapan semua orang, terlebih Kakek dan orang tuaku? Hah?!. Munafik jika aku mengakui jika kau bukan lelaki yang berura-pura baik!!.”

“kau tidak mengerti perasaanku..aku terlalu kecewa dengan harapan cinta itu. Semuanya bulshit. Bertahun-tahun aku menunggunya, tapi lelaki itu seakan menjadi bodoh dengan semua kepedulian yang telah kuberikan!!.” Tangis itu meledak dengan teramat pilu. Wanita itu jatuh dihadapan Siwon dan menunduk. Cukup lama keheningan itu terjadi, yang ada hanya suara tangisan pilu yang menggema dalam ruangan tersebut. Dan entah mendapat dorongan darimana, tiba-tiba saja pria itu sudah merengkuh tubuh tak berdaya Yoona kedalam dekapannya. Setidaknya ia bisa memberikan sebuah ketenangan sesaat yang dibutuhkan oleh Yoona, meski tangisan itu tak henti-hentinya untuk ia luapkan.

I know well that I can’t say anything

even so I’m searching for you but

I know well you won’t change your thoughts but

I still can’t forget you

Backsong: Timeless-Woohyun Infinite

*****

Sinar matahari mulai muncul dari peraduannya, menyeruak mengiasi seisi bumi dijagad raya ini. pancarkan kemilaunya membuat dunia kian terlihat terang laksana sang penguasa cahaya menyajikan hari dengan memulai pagi yang indah. Dalam limpahan cahaya itu, kedua mata itu mulai mengerjap pelan karena bias cahaya itu seolah menggelitikinya untuk segera terbangun. Gadis kecil itu masih terlihat lemah namun ia berusaha agar tetap bangun, melihat indahnya dunia. Perlahan matanya ia buka sedikit demi sedikit, menegrjap beberapa kali agar bisa beradaptasi dengan cahaya yang melalui matanya.

Hana, gadis kecil itu mulai mengedarkan pemandangan ke seklilingnya. Seperti mendapat kejutan dipagi hari. Hana bawa pandangannya untuk ia tujukan pada sosok wanita dan pria yang masih tertidur pulas disofa ruangan tempatnya kini dia dirawat. Sang ibu tertidur pulas pada pundak sosok pria yang dicintainya dengan posisi pria itu bersender pada sofa dengan satu tangan memgang tangan Yuri dan tangan yang lain memeluknya dan hanya berselimutkan sebuah mantel hangat yang sama-sama digunakan untuk menutupi yubuh mereka berdua. Seulas senyum penuh arti mengukir lembut dibibir sang gadis kecil itu. Meski dalam keadaan kondisi lemah, ia terkikik geli melihat adegan kedua orang dewasa itu.

“eomma..” lirihnya tersenyum.

Tak disangka dan tak pula menyadarinya gadis bermarga Kwon tersebut mulai sadar dari alam bawah sadarnya segera bergerak dan mulai terbangun dari tidurnya. Ia terperanjat kaget dan segera mungkin melonggarkan pelukan dari lelaki itu untuk jarak antara dirinya dan Jongwoon. Dan otomatis, lelaki itu akhirnya tersadar pula dari tidurnya akibat sebuah gerakan kecil. Tapi sayangnya lelaki bernama Kim Jongwoon itu mendadak bersikap egois, justru ia malah enggan melepas pelukannya tetapi malah mengeratkan pelukannya ada Yuri. ia tetap tahan tubuh itu untuk terus ia peluk.

“tenanglah..ini masih pagi dan aku masih mengantuk. Tetaplah pada posisi seperti ini..” katanya lembut dengan masih memeluk tubuh Yuri.

Entah harus berekspresi seperti apa tapi kini Yuri hanya mampu membisu. Ia lupakan masalahnya untuk sejenak. Ia bawa tubuh Yuri dalam dekapannya, merasakan hangat meski dengan mata yang masih sedikit mengantuk namun sebenarnya ia telah terbangun. Yuri jelas merasakan hangat pada hatinya walau bukan ucapan cinta yang Jongwoon utarakan tapi itu merupakan lambang perasaan terdalam dari hati Jongwoon. Toh, cinta tak mesti diutarakan lewat ucapan tapi justru sikap yang ditunjukkannya. Yuri tak menolak sikap itu. Ia justru membiarkan ketika Jongwoon bawa kepalanya untuk menyandar disalah satu sisi dada pria itu. Ia menyandar dengan tenang sambil memainkan kancing pakaian yang dikenakan Jongwoon.

Jongwoon masih bersikap tenang dan se-nyaman mungkin. Ia sesekali mengecup puncak kepala Yuri dengan penuh sayang. Sebelah tangannya tengah masuk kedalam mantel yang menutupi mereka berdua mengelus permukaan perut rata Yuri yang kini tengah bersemayam sesosok malaikat kecil yang akan melengkapi hidupnya dimasa depan.

“oppa..geli..lepaskan aku.” ujarnya dengan senyuman itu. Senyuman yang membuat Jongwoon semakin mencintai wanita itu.

Jongwoon terkekeh mendengar permintaan itu. “Hmh” gumamnya pelan.

“lepaskan aku!. Bagaimana jika Hana terbangun dan melihat kita seperti ini?.”

“oppa!..” pekiknya sebal. Sedari tadi ucapannya tak direspon oleh Jongwoon. Sementara itu Jongwoon sukses tertawa melihat seringai kesal yang Yuri tunjukan. Ia acak pelan puncak kepala Yuri lalu mengecup bibirnya singkat.

Singkat?!.

Nyatanya tidak Jongwoon justru malah mengecup bibir gadis itu secara perlahan. Melumatnya lembut. Bibir Yuri menjadi sasaran pria bermarga Kim tersebut untuk meluapkan isi hatinya yang teramat gembira karena sebentar lagi Yuri akan menjadi miliknya. Dia akan segera menjadikan gadis itu sebagai pendampingnya seumur hidup. Dan ciuman yang dilakukannya semakin menuntut dan tak membiarkan sang empunya yang dicium untuk berhenti sebentar untuk menghirup oksigen agar untuk mengisi stok udara diparu-parunya. Jongwoon hanya memberinya kesempatan untuk menghirup udara lewat hidungnya, ia terus mengecup lembut bibir gadis yang dicintainya itu dengan lembut. Memagut bibir itu penuh cinta.

Dari sorot pandang mata seseorang yang hanya bisa berdiri diam tak jauh dari sana, lelaki itu mengamati kejadian apa yang terjadi. Terlebih lagi ada sesosok gadis kecil yang menutupi wajahnya dengan bantal dan selimut rumah sakit—masih berpura-pura untuk tertidur meski sebenarnya gadis kecil itu sudah terbangun. Sedari tadi lelaki yang kedatangannya secara mendadak itu sudah cukup lama menyaksikan kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu. Tanpa sepengetahuan mereka lelaki bermarga Nam itu memegang gagang pintu ruangan tersebut lalu membuka pintu itu secara perlahan. Ia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu itu lebih lebar agar ta mengganggu orang yang sedang berada didalam ruangan tersebut. Dan tentu saja ia masa terdiam dalam posisi seperti ini. Mengamati hal yang sebetulnya tak pantas dilihat itu.

“eekkhmm…” dehamnya. Lelaki itu berdeham yang otomatis menghentikan kedua orang tersebut yang sedang melakukan adegan memagut bibir itu. Menyadari hal itu buru-buru mereka berdua akhiri aktivitas mereka, dan tentunya sikap  salah tingkah yang mereka berdua perlihatkan.

“Na—Namm—Woohyun!. Sejak kapan anda disana?.” Kaget Yuri.

“Sebenarnya sudah dari tadi, tapi aku tak enak masuk. Takut mengganggu kalian berdua.” Jawab Woohyun seadanya. Sama sekali tidak terbesit di pikirannya untuk membuat alasan lain.

“pulanglah!. Kalian berdua pasti lelah karena menjaga Hana semalaman. Biar kali ini aku yang menjaga Hana. Kita mendapat libur 1 minggu, karena bahan yang digunakan untuk project yang kita kerjakan masih dipesan dari Yunani dan akan dikirim dalam waktu 3 hari. Jadi kantor memberi kita libur.” Tukas Woohyun.

“jinjayo?.”

Woohyun mengangguk lalu berseloroh kemabli. “lagipula..kalian kan butuh waktu berdua..” kekehnya tersenyum jahil yang sukses menggoda Yuri. Membuat wajah Yuri seketika itu memerah.

“yak!.”

**

Pergerakan langkah-langkah kaki  jenjang itu menyusuri koridor rumah sakit itu. Jongwoon ulurkan sebelah tangannya pada Yuri. Wanita itu mendadak terdiam Ia antara ragu dan tidak melihat uluran tangan itu. Jongwoon yang mengerti sikap gugup itu segera mengambil tindakan. Ia lalu raih sebelah tangan Yuri, saat gadis itu tak kunjung meraih uluran tangannya.

“mau makan bersama?.”

“terserah oppa saja.”

Niat awal mereka hendak keluar dari rumah sakit itu dan sarapan pagi sekarang. Namun apa yang terjadi, mendadak langkah Yuri terhenti  saat matanya memandang sebuah ruangan besar yang tertutup oleh kaca bening. Semua yang ada didalam ruangan tersebut Nampak terlihat dengan sangat jelas oleh semua orang secara kasat mata. Ia gerakkan kakinya hanya untuk sekedar melihat ruangan yang berisi sosok-sosok kecil yang baru lahir kedunia itu—sosok tanpa dosa yang terlihat teduh saat tertidur. Perlahan tangan Yuri terangkat meraba kaca besar yang menjadi pembatas ruangan tersebut dengan dunia luar. Sedikit rasa bahagia itu menyeruak dari dalam batinnya saat melihat sosok-sosok kecil itu menggeliat dalam ruangan bayi yang terlihat dalam pandangan mata Yuri.

            Yuri tersenyum kecil memandangnya. Hingga sekian menit berlalu ia masih tersenyum kala melihat bayi-bayi yang baru saja melihat dunia itu. Entah apa yang mendasarinya, refleks satu tangan Yuri kini sibuk mengelus lembut permukaan perutnya. Dan nantinya ia akan bisa melihat sesosok malaikat kecil yang akan terlahir dari rahimnya. Betapa bahagianya ia bisa melihat makhluk indah ciptaan Tuhan itu. Dan kedua mata mereka memang begitu seksama menyaksikan betapa kagumnya pada sosok kecil yang menggeliat pelan itu.

            Jongwoon sekali-kali melirik Yuri yang tersenyum ringan ketika melihat bayi-bayi itu. Wanita itu sampai tak menyadari jika raut wajah yang ia perlihatkan justru membuat pria disampingnya memandang begitu kagum.

            “oppa..” panggil Yuri lirih.

            “hmm?.”

            “melihat bayi-bayi itu. Kira-kira bagaimana ya anak kita nanti.” Yuri berucap pelan nyaris seperti berbisik dengan suara kecilnya. Namun tanpa diduga justru lelaki itu mendengar kalimat ucapan Yuri.

            “tentu saja mirip denganku atau mirip denganmu. Jika perempuan maka ia akan sepertimu, cantik seperti ibunya. Dan jika laki-laki maka ia akan tampan sepertiku. Serta tak lupa juga semua sifatnya itu dominan turunan dariku ia akan menjadi pintar dan tentunya bijaksana. Karena aku ayahnya.” Kekeh Jongwoon yang menjawabnya enteng yang justru membuat Yuri menjadi merengut sebal.

Namun wajah bahagia itu mendadak berubah menjadi muram. Pusat pandangan mata Yuri saat ini memandang bayi berselimutkan warna soft pink itu. Bayi perempuan itu tengah menangis dan tentunya kedua orang tua yang berada didalam ruangan bayi tersebut saling bertatapan. Mereka kemudian terkekeh seraya memegangi tengkuk mereka secara bersamaan. Sangat teringat jelas dalam memori ingatannya jika melihat sosok bayi perempuan itu—tentu ia sangat jelas mengingat Hana yang tak mendapat kasih sayang ibu sejak kecil.

“oppa. Dia cantik oppa..” ujarnya pada Donghae. Lelaki itu mengangguk pelan seta mengusap pipi bayi perempuan cantik yang baru terlahir didunia itu.

“sama seperti ibunya. Mirip dengan Yoona..” lirihnya.

Yuri menengok pelan kakak lelakinya. Tersirat raut wajah bahagia sekaligus raut wajah sedih yang tampak dari raut wajah lelaki itu. Bahagia karena sekarang ini ia memiliki malaikat kecil yang ada didepan matanya dan sedih karena perpisahan itu akhirnya datang jua. Yoona menuntutnya untuk bercerai dan membawa anak tersebut untuk menjauhinya.

“oppa. Apa oppa tidak menemui Yoona eonni?. Apa dia sudah melihat putri kecilnya?.”

Lelaki itu mengangguk pelan. “ya. Sebentar lagi. bisakah oppa minta tolong. Oppa titip Hana sebentar?!.”

“tentu.” Angguk Yuri.

**

            Donghae melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan itu. Ia buka pintu itu dengan perlahan. Ia amati keadaan sekitar ternyata semuanya sudah tertata rapi hanya ada sosok yang ia kenal sedang membereskan pakaiannya. Perlahan ia hampiri wanita itu. Wanita melihat sekilas kedatangan Donghae dan tetap tak bergeming merespon kedatangan Donghae.

            “aku mau kita bercerai sekarang juga!.” Kalimat itu langsung saja ia lontarkan saat Donghae baru saja berjalan mendekatinya.

            “Yoong..tapi..Yoong..kau–kau baru saja melahirkan. Apa kau tak mau melihat putri kita?.”

         “sudahlah!. Jangan terlalu memperkeruh masalah. Kita bercerai karena aku tak sanggup hidup denganmu. Seandainya kejadian itu tidak terjadi tak mungkin kita dalam keadaan seperti ini!.”

        “kau jangan membut topik lelucon lagi Yoong. Kita bisa perbaiki dari awal!.”

      “kau bilang ini lelucon?!. Apanya yang harus diperbaiki?. Semua sudah terjadi kau sudah menghancurkan masa depanku dengan menghamiliku. Lalu kau bersikap dan berbohong seolah-olah kau adalah orang yang kucintai?.”

            “Aku tidak bercanda. Setidaknya untuk kali ini, aku serius ingin bercerai denganmu!. Aku lelah karena kita hanya saling menyakiti. Apa kau tak lelah mencintaiku?. Sia-sia saja perasaanmu padaku!.

            Donghae masih terdiam. Ia tak ingin menerima kenyataan bahwa wanita itu bersikeras ingin bercerai dengannya.

            “Aku menahan diri untuk tidak memberikanmu ini saat aku dalam masa-masa sulit karena melahirkan anak itu, dan sekarang waktunya. Kurasa setelah aku melahirkan aku akan meninggalkan anak itu bersamamu. Tidak ada alasan lagi untukmu, bukan?.” tukas Yoona seraya memberikan Donghae sebuah amplop berwarna coklat itu.

            Dengan ragu, Donghae menerimanya dan membuka isi amplop tersebut. Tak perlu ia baca seutuhnya karena begitu ia tarik secarik kertas dengan kop surat pengadilan—form perceraian.

            “Kau hanya perlu tinggal menandatanganinya saja. Dan semua sudah diurus oleh pengacara ibuku. Tentu kita sudah resmi bercerai!.”

            “Yoong!!..sampai kapan kau akan berdiam diri disitu dan memandang tolol lelaki didepanmu itu!.” perhatian mereka kali ini harus teralih pada sosok wanita kira-kira berusia paruh baya berdiri tepat dihadapan keduanya.

            “kau lelaki tak tahu diri!!. Sebaiknya kau pergi menjauh dari kehidupan putriku. Kau sudah menghancurkan hidup putriku. Terlalu buta jika putriku mencintaimu!.”

            “bawa anak haram itu. Kami tak membutuhkannya!!. Dan kutekankan sekali lagi!. Jangan pernah menemui putriku lagi. Dan jangan pernah bawa anak haram itu dalam hidup kami. Kau saja yang menderita jangan bawa Yoona menderita sepertimu..lelaki tak berguna!!. Pergilah menjauh dari kehidupan Yoona.

            Donghae mencoba menahan tangisnya yang akhirnya pecah juga. ia bersimpuh dihadapan kedua wanita itu memegang kakinya erat. Pria itu menundukkan kepalanya sementara dadanya turun naik tidak beraturan. Namun seakan hati mereka berubah menjadi batu, mereka berdua sama sekali tak menghiraukannya. “kumohon. Jangan lakukan ini demi putri kita..” isaknya tak kalah pedih.

            Tampak jelas dari luar pintu ada sosok lain yang menanggung kepedihan ini, sosok itu memangis dari luar ruangan. Ia menyaksikan dari balik pintu kaca peristiwa itu. Kwon Yuri. Sedari tadi Yuri yang mendengarkan pertengkaran mereka dari balik pintu juga tak bisa menahan tangisnya. Ia menangis tak kalah hebat dan sebisa mungkin menutup mulutnya, takut jika Donghae akan mendengarkan isakannya.

            “musun marriya?.” Tanya Jongwoon. Ia mengernyitkan alisnya pelan lalu menatp Yuri dengan pandangan tak mengerti.

            “anii..gwenchanayo..” kilah Yuri. Wanita itu berusaha menutupi pikirannya yang kembali terngiang-ngiang akan masa lalu yang pahit bagi orang disayanginya. Ia menarik napas panjang untuk sedikit merilekskan diri.

            Yuri memandang Jongwoon, mencoba meyakinkan jika ia dalam keadaan baik-baik saja. Dan balasan dari lelaki itu hanya seulas senyum tipis. Yuri coba gerakan bibir atasnya guna mengukir senyum untuk membalas senyum manis yang kini Jongwoon tampilkan. Well— ia hanya ingin hidupnya bahagia. Yuri menoleh sedikit saat merasakan genggaman  tangan Jongwoon yang semakin erat. Pria itu tersenyum, menandakan bahwa ia berusaha memberikan rasa nyaman dan tenang pada Yuri. Dan wanita cantik itu harus mengakui, bahwa usaha Jongwoon berhasil. Perlahan-lahan rasa gugup dan resah itu mulai menghilang. Berganti dengan rasa kepercayaan diri.

            **

Sepasang bola mata hitam itu masih beradu dengan peralatan dapur yang berada didepannya. Tak disangka sosok pria dengan gesture sempurna itu—tinggi dan tampan, masih melihatnya dengan senyuman yang mengukir pada bibir tipisnya. Lelaki itu mulai melangkah maju untuk sekedar menyapanya.

“Yul..” panggilnya pelan membuat orang yang dipanggil itu untuk menoleh.

Kedua mata mereka saling beradu temu. Yang telah dipanggil yang tak lain adalah Yuri. Jong Woon membalas dengan senyuman, lalu menyisir rambut dengan jarinya. Oh, Tuhan. Betapa tampannya lelaki itu hingga membuat Yuri hanya bisa terpaku diam mengamati dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jongwoon terlihat seperti sesuatu yang indah dan membuat hatinya berdebar. Saat melihat sosok sempurna dan sensual pria itu, kepercayaan diri wanita mana yang tak goyah.

‘Gila..gila kau Kwon Yuri’

“ada apa oppa?.” terjawablah sudah kenapa barusan Jongwoon menmanggil namanya. Meski terkesan dengan sedikit gugup tapi nyatanya toh Jongwoon hanya menanggapinya dengan acakan kecil pada rambut Yuri. Pria itu memang tampan dan manis. Dan apa yang dia lakukan sekarang ini mampu membuat Yuri terdiam kaku karena saraf-sarafnya yang seakan lumpuh untuk beberapa saat.

“tunggulah sebentar oppa. Sebentar lagi masakannya akan matang.”

Wanita itu dengan cekatan menata beberapa piring makan diatas meja makan itu. Tidak terlalu banyak memang. Mengingat Hana juga sedang membutuhkannya. Dan ia hanya pulang sebentar untuk mengambil beberapa benda dan pakaian yang ia butuhkan selama Hana berada dirumah sakit.

“kelihatannya enak.” Mereka berdua segera duduk saling berhadapan. Jongwoon dengan antusias melihat melihat beberapa makanan yang ada dihadapannya. Uap dari masakan yang baru saja matang itu membaui-nya jika ini sangat mengiurkan, menguar keudara dan Yuri bisa merasakan tatapan kagum Jongwoon ketika ia melihat kearah masakan.

“Dweiijang jiggae dan kimchi jiggae..makanlah oppa.” Perintah Yuri.

“kau tidak makan?.” Tanya Jongwoon.

“Tidak. Aku sedang tidak ingin makan oppa.” Tolaknya halus. Ia merasakan sedikit keganjilan pagi ini. sepertinya ia menginginkan sesuatu.  Yuri menggigit bibir bawahnya, ia benar-benar ingin sesuatu hal yang harus dituruti. “aku ingin bruine bonen soup tapi dicampur dengan seollongtang.”

Rasa tidak percaya itu Jongwoon tampilkan yang terpeta jelas dari wajahnya. Bukankan itu sup kacang  belanda?. Kenapa dicampur dengan sup korea?. Mana ada?. Keinginan Yuri sedikit membuat Jongwoon frustasi. “disini tidak ada bonen soup sayang. Tapi kalau seollongtang, aku akan berusaha mencarinya.” Ia rasa itu hal yang wajar yang diminta dari seseorang yang baru mengalami kehamilan. Masa yang disebut dengan mengidam.

Yuri mengerucutkan bibirnya lucu dengan kedua tangannya yang ia lipat di depan dada. Sekarang wanita itu tengah memuaskan dirinya untuk merengek layaknya seorang ibu hamil yang tengah mengidam. Tidak peduli seperti apa keadaan hubungannya sekarang dengan Jongwoon yang belum resmi menikah. Yang ia tahu Yuri ingin memanjakan dirinya dengan bisa memenuhi apa yang bayinya inginkan.

“tapi entah kenapa sangat ingin makan keduanya oppa..” yuri seketika itu berdiri dari kursinya dan memandang wajah Jongwoon lekat-lekat. “akk—ku..” Yuri mencoba meneruskan ucapannya walau masih terbata pada kata yang sama. Tapi sayangnya gejolak dari dalam perut itu datang kembali, sepertinya tidak mau untuk diajak kompromi.

“A-aku- hoeeekkkk……hoeeekkk” kakinya dengan cepat ia gerakkan menuju wastafel, buru –buru menuju toilet dan memuntahkan apa yang ada didalam perutnya.

“Hoeekk….hoeekkk” pria itu tentu saja segera ikut menyusul Yuri yang kini tengah muntah-muntah di dalam sana. Ia pun sampai lupa jika ia harus menuruti apa yang diinginkan oleh calon bayinya.

“Gwenchana?” tanyanya khawatir disela aktivitasnya yang kini tengah memijat leher belakang Yuri. Jongwoon mengangkat tangannya yang masih menganggur merapikan rambut Yuri  kebelakang agar muntahan dari mulut Yuri tidak mengenai rambut itu.

“hooeekk…hooeekk…..” nihil saja mengajak Yuri berbicara, karena sekarang keadaanya tidak begitu baik. Ia tak bisa berkata apa-apa. Rasa mual itu tengah menyiksanya membuat Yuri lupa apa yang ia katakan tadi.

Beberapa menit waktu menghitung dengan Yuri yang masih sibuk pada aksi mualnya. Merasa lebih baik, Yuri akhirnya basuh mulutnya dengan air dan ia kemudian dapat berdiri lagi dengan tegap. Jongwoon usap lembut mulut Yuri yang masih basah dengan jarinya. Ia menatap teduh wanitanya yang kini juga ikut menatapnya.

“merasa lebih baik?.”

Yuri mengangguk..”ya.”

Bersabarlah kau Kim Jongwoon. Ini akibat ulahmu sendiri yang membuat wanita itu menanggung akibat dari perbuatanmu. Kwon Yuri tengah merasakan sesuatu yang menyiksanya akibat benih cinta yang kau tanamkan pada rahimnya saat kau menggaulli wanita itu. dan inilah hasilnya gadis itu positif hamil mengandung anakmu.

Naega gippeul ttanae seulpeul ttaena nan neol bureu-go shipeo

(setiap kali aku senang atau sedih aku ingin menyebut namamu)

MY, MY, MY You’re my neon hansang nae maseumsogae

(karena kau milikku, kau selalu dihatiku)

Byeonchi malgo geu jarie ttak Geogi isseojumyeon dwae~

(hanya bersamamu tak dipungkiri jika ada perubahan)

Ireohkke neol saranghae

(aku sangat mencintaimu)

                Backsong: A-Pink My My “1st Mini album of A-Pink

*****

Dentuman suara pintu mobil itu mulai terbuka saat sang pengemudinya melangkahkan kakinya untuk keluar dari tempat tersebut.  Mobil itu tepat terparkir dipinggir jalan,  dan menampakkan siapa orang yang ada didalamnya.  Orang itu berjalan menyusuri jalan dengan langkah pelan. Semilir angin berganti memecah keheningan menerpa wajahnya. Deburan ombak ditepi pantai yang menghantam karang besar saat ombak mulai sedikit pasang diwaktu pagi hari terdengar bagai melodi yang mengalun bersamaan dengan burung-burung yang berkicau ditengah musim dingin berlangsung. Melodi alam memang tidak ada yang mengalahkan ya?. Semesta begitu indah terhampar sampai mata manusia tak dapat melewati batas indera penglihatannya.

Untuk beberapa saat, Choi Siwon mencoba menetralkan hatinya yang masih risau. Ia pandangai lingkungan yang ada disekitarnya, masih sepi. Keadaan itu Nampak bertolak belakang dengan pikirannya yang terlalu amat rumit dan carut marut akan masalah. Ia coba menyamakan detak jantungnya yang semula bergejolak hebat, menjadi ia senadakan dengan sikapnya yang ia coba untuk kembali tenang.

Saat langkah itu ia hentikan, ia merasakan ada seseorang yang berjalan mengikutinya. Ia tolehkan wajahnya kebelakang, memandang sosok yang sudah bisa ditebak. Wanita itu masih bergelut selimut mencoba berjalan mendekatinya. Ia pejamkan matanya untuk beberapa detik. Helaan napas itu ia hembuskan sebelum pada akhirnya ia coba kuatkan diri, lalu melangkah lebih dekat pada sosok itu.

“Choi Siwon-sshi..” wanita itu akhirnya berseru.

Siwon tertawa yang membuat wanita itu semakin bingung.  “selamat pagi nona yang suka tidur.”

“bagaimana aku bisa sampai disini?.” Tanya Yoona tak percaya.

“aku semalam menculikmu..” kekehnya. “terlalu muak aku melihat kau frustasi akan cinta yang tak terbalaskan. Suasana disini pasti akan membuat tenang.”

“Yoona adalah wanita yang kerasa kepala. Jika ia menginginkan sesuatu pasti ia akan sungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Dia terkadang akan lupa pada waktu sehingga dia lupa pada urusan dirinya sendiri jika sudah sibuk.” Jongwoon mendesah pelan dan tersenyum kecil sebelum ia lanjutkan ucapannya.

“kami berdua bertemu hampir 5 tahun lalu di New York. Saat itu Yoona adalah seorang gadis pendiam yang mempunyai ambisi yang sangat besar. Ia pernah mengatakan, jika masa lalu bisa dihapus, ia ingin mengubur dalam-dalam masa lalunya itu. Dan ia tak ingin mengingatnya lagi. Saat kutanya, kenapa ia melakukan itu. Ia hanya menjawab. Ia tak ingin menghancurkan hidup seseorang yang terlalu baik baginya. Mungkin dengan meninggalkannya, semuanya akan berakhir.”

Lee Donghae..

Tepat sasaran pikirannya untuk menebak. Namun Siwon urung mengatakannya. Jika cerita masa lalu Yoona pasti berkaitan dengan Donghae.

“Saat itulah kami mulai dekat. Kami sama-sama akan bertemu, dan ia akan datang menemaniku dan kami pasti akan menghabiskannya dengan banyak bercerita mengenai hal-hal yang kami alami dalam dunia kampus yang rumit.”

Jongwoon masih tampilkan senyum tipisnya saat Siwon yang berada didepan meja kerja Jongwoon memandang kosong namun ia tahu jika kedua telinga lelaki itu menyerap dengan baik cerita yang terlontar itu.

“namun peristiwa itu seolah meggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Waktu itu Yoona teramat marah saat seorang gadis menemuinya. Ia secara kasar mengusir gadis itu dan berteriak kencang tak mau mengingat lagi masa lalunya. Dia ingin mengubur masal lalunya yang menjijikkan. Dan saat itu aku tak tahu apa maksud dari perkataan dari Yoona. Dan gadis yang diusir secara kasar oleh Yoona adalah Kwon Yuri. Wanita itu pergi ke New York untuk menemui Yoona demi mendiang kakak lelakinya yang sakit keras.”

“Aku berhasil menenangkan Yoona dari emosi yang kalut itu. Tapi kecelakaan maut itu membuat kami berdua mengalami luka yang parah, aku mengalami koma dan kerusakan hati sedangkan Yoona menderita prospanogsia serta amesia yang berkelanjutan akibat benturan keras dikepalanya. Ia kehilangan sebagian besar memori ingatannya.”  

“apa ingatan itu bisa dikembalikan?.” Tanya Siwon.

“entahlah..aku tak tahu pastinya. Kemungkinan itu ada meski sedikit.”

“jika kau izinkan. Aku akan mengembalikkan ingatan Yoona.”

Sekilas pembicaraan singkat antara dirinya dan Jongwoon masih terngiang ditelinga tentang kondisi Yoona. Siwon menengadah menatap hamparan langit yang menaunginya kini. Biru, dan indah. Ditambah guratan-guratan putih yang membentuk gumpalan berwarna putih bersih. Waktu memang seolah tak diperhitungkan oleh Siwon. Lelaki itu dan tentunya Yoona saat ini sudah berada di perbukitan pemakaman. Tujuan arah keinginannya untuk melihat makam itu.

Lee donghae..

Nama itu jelas terpampang pada nisan dihadapan mata kedua mata Yoona dan Siwon. Siwon menatap nanar nisan tersebut, sedangkan Yoona hanya bisa menatapnya datar. Tak tahu menahu mengapa Choi Siwon mengajaknya kemari. Sebuket bunga mawar putih dan sebotol arak beras ia letakkan diatas pusara Lee Donghae. Matanya menatap kosong saat dengan jelas ia lihat dengan seksama pusara itu. 6 tahun lalu, rasanya kematian Dongahe masih meninggalkan teka-teki dan misteri. Ia tundukkan kepalanya memberi hormat sesuai dengan kebiasaan masyarakat yang berlaku. Begitupun dengan Yoona. Meski wanita itu tak tahu, ia hanya mengikutinya saja.

“bagaimana kabarmu Hae-ya?.” sapanya mencoba memberikan seulas senyum tipis.

Pria itu menhembuskan napasnya, kemudian ia dudukkan tubuhnya disamping pusara milik Donghae. “kau tahu ini sudah hampir 7 tahun berlalu.” Siwon kembali memaksakan senyumannya, meski terkesan kecut.

“semoga kau masih menganggapku sebagai sahabat.

Sakit… Pedih..

Ia rindu.. Rindu sekali…

Angin bertiup cukup membuat bulu kuduk berdiri karena saking dinginnya suhu udara saat musim dingin. Membelai sekujur tubuhnya dengan lembut. Kedua matanya kini melirik ia tolehkan pada sosok Yoona yang masih diam tanpa  mengeluarkan sepatah katapun. “kau kedinginan?.” Tanyanya sambil membersikan keadaan pusara yang cukup kotor, ia siramkan sebotol air untuk menyuburkan pusara itu

“aniyoo..”

Mereka sama-sama diam. Keduanya sama-sama tengah coba meresap rasa yang berbeda dari sepersekian detik waktu ini mereka lalui. Pikiran keduanya pun kini serasa ingin mengetahui sesuatu membuat mereka pada akhirnya ingin berucap. Membaca nama pusara bertuliskan Lee Donghae. Yoona merasakan ada sebuah keanehan dalam dirinya saat membaca nama itu. Sepertinya nama itu pernah ia dengar, namun dimana. Ia tak tahu. Pikiran aneh itu seketika muncul, namun ia masih tak tahu apa itu. Hal kecil seperti itu sedikit memberi nuansa ganjil bagi Yoona. Tapi ia mencoba  menganggapnya sebagai hal biasa.

“bolehkah aku bertanya?.” Kalimat itu akhirnya terlontar. Yoona beranikan dirinya untuk membuak suara untuk mengajak Siwon berbicara. Lelaki itu hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya.

“apakah dia temanmu?.”

“sebelum aku menjawabnya. Aku ingin bercerita sedikit mengenani hal lain.”

“Tentu saja, ceritakanlah…” wanita itupun akhirnya mengangguk. Siwon hela napasnya sebelum ia mulai berbicara.

“7 tahun lalu aku tak membalas perasaan orang yang mencintaiku.” Siwon lirik dulu kearah wajah Yoona. Dia lihat Yoona nampak serius mendengarkan apa yang akan dia ceritakan. Merasa cukup, iapun melanjutkan.

“namun aku terlalu bodoh tak perah menyadarinya. Dan disaat aku tak pernah mempedulikan orang yang mencintaiku. Temanku justru menaruh hati padanya, ia mencintainya. Namun kesalahan karena kebodohanku itu tak sengaja terjadi. Wanita yang menaruh hati padaku justru menyalamatkan nama baikku. Menghindarkanku dari tuntutan seseorang yang memfitnahku. Wanita itu justru mengalami koma beberapa hari, namun dengan rasa ikhlas lelaki itu menyusulku ke bandara untuk hanya sebentar saja menemuinya. Mengabaikan hatinya karena mencintai wanita itu.”

“kenapa lelaki kau tidak mengatakan sedari awal untuk menolak perasaan gadis itu?.”

“aku terlalu bodoh dan pengecut. Yang aku tahu hanya mempermainkan hati wanita.”

Keheningan kembali tercipta. Rasanya ia ingin berteriak sekeras-kerasnya menangis sekeras-kerasnya mengatakan jika dialah yang memulai menyebabkan semua ini. ia yang membuat Dongahe terjebak dalam lingkaran cinta sialannya yang ia buat sendiri.

Siwon memberi jeda untuk melanjutkan ceritanya. “hingga akhirnya mereka berdua menikah, karena lelaki itu tak sengaja melakukan itu pada gadis itu hingga ia hamil. Namun pernikahan itu terjadi atas keterpaksaan. Setelah putri mereka lahir wanita itu meninggalkannya begitu saja.”

Tanpa terasa air mata seorang Choi Siwon megalir dengan sendirinya. Isaknya makin menjadi. Air matanya mengalir deras sekali. Siwon terlanjur meluluh-lantakkan pertahanan yang susah payah ia bangun selama 7 tahun. Ia tak tahu sama sekali tentang kematian Lee Donghae.

“apa wanita itu akan kembali mencari sosok anak yang ditinggalkannya?. Kenapa ada wanita tak berperasaan seperti itu?.”

Siwon memaksakan senyumnya tipis, senyumanya seakan pedih mendengar kalimat yang Yoona ucapkan. Yang ia bicarakan adalah lingkaran cinta mereka bertiga yang justru membuat seseorang menjadi korbannya. “pusara yang didepanmu adalah tempat orang yang kuceritakan tadi untuk tidur selamanya..”

‘sampai kapan semuanya harus seperti ini. ku mohon sadarlah Yoona.lihatlah!. jika didepanmu adalah tempat suamimu meninggal!.’

Yoona memandang datar lalu mengelus pusara yang ada didepannya tadi. “semoga Tuhan menjanjikanmu surga disana.” Lirihnya.

niga isseoya man yeogi ga paradise

(Tempat ini adalah surga hanya jika kau berada di sini)

eojiro neoreul gadwo beorin paradise

(Sebuah surga yang telah menguncimu tanpa bisa melawan)

kkae eoseon galsu eobtneun seulpeun paradise

Sebuah surga menyedihkan bahwa kau akan pergi jika aku tak menjagamu)

yeongwonhi hamkke halsu itneun paradise

(Sebuah surga yang kita bisa bersama selamanya)

 

Infinite – Paradise “Vol.1 special Repackage Album Over the top”

*****

            Sebuah harapan itu akhirnya datang juga. Do’a itu akhirnya terjawab juga. Tuhan masih memberikan mukjizat bagi umatnya yang bersabar. Saat mendengar kabar itu reaksi yang diperlihatkan adalah shock. Shock karena terlalu bahagia. Bahkan saking bahagianya ia tak tahu mengungkapkan luapan perasaannya. Kim Jongwoon berlari dengan perasaan yang bahagia, secercah harapannya kini benar-benar mengisi benak dan pikirannya. Lelaki itu ingin segera memberitahukan kabar bahagia itu pada beberapa orang yang ada didalam ruangan tersebut. Ia tak mempedulikan orang disekitar yang melihatnya aneh, Jongwoon masih berlari disepanjang koridor tersebut. Yang terpenting baginya adalah segera menemui gadis itu. Kwon Yuri.

            “Kwon Yuri. Sebentar lagi harapan itu akan datang.” Gumamnya pelan.

            Kedua kaki Jongwoon itu akhirnya terhenti tepat disebuah kamar VIP tempat dimana gadis kecil yang ia sayangi itu. Tanpa basa-basi dan rasa sungkan itu, Jongwoon buka pintu kamar tersebut hingga 4 pasang mata yang ada diruangan tersebut justru memandangnya aneh dan heran. Jongwoon berusaha mengatur napasnnya yang terengah-engah agar kembali normal. Sedetik kemudian senyuman bahagia itu teroancar jelas dari sunggingan bibirnya.

            “Samchon?. Waeguraeyo?.” Tanya Hana polos. Ia melihat lelaki itu dengan herannya dengan wajah lucunya.

            Saking bahagianya saat mendengar kabar berita itu Jongwoon justru tak menjawab pertanyaan calon putrinya tersebut. Namun ia malah mendekati Hana dan memeluknya erat. Mengecupi pipi gadis kecil itu berkali-kali. Hana berhasil dikejutkan dengan sikap aneh Jongwoon.

            “Jongwoon Samchon..” panggil Hana kembali.

            “Yul..Hana..akhirnya..” ujar Jongwoon yang masih menormalkan pernapasannya.

            “akhirnya?. Akhirnya apa oppa?.” Tanya Yuri tak mengerti.

            “akhirnya apa Samchon?. Akhirnya Samchon akan menikan dengan eomma. Hana sudah tahu!..” seloroh gadis kecil itu seadanya. Tak disangka jika jawaban itu keluar begitu saja dari mulut kecil Hana yang membuat semua orang menengok kearahnya dan tertawa lucu atas lontaran jawaban Hana.

            Jongwoon terperanjat kaget. Bukan itu yang akan di katakan. Ia memincingkan mata dan melirik Hana Jika untuk menikahi Yuri, tentu saja ia akan menikahinya.  “tentu saja Samchon akan menikahi eommamu. Itu sudah mutlak.” Seloroh Jongwoon. “tapi bukan itu. Tapi ini adalah berita bahagia untukmu.” Ia mendekati gadis kecil itu dan membagi rasa bahagia akan harapan yang muncul itu. “akhirnya, kau mendapatkan donor jantung. Dan sebentar lagi kau akan sembuh sayang..”

            Masih tertegun dan mencerna informasi yang ia dapat. Yuri pandang Jongwoon tak percaya.. wanita itu tampakkan wajah tak tahu menahu tentang apa yang terjadi. Ia tak percaya jika rencana Tuhan akan sehebat ini. Yuri menitikkan air mata itu tak percaya dari sudut matanya. Air mata bahagia semakin terlukis di wajah mereka.

            “Soojungie..Woohyun-aa..Hana..Hana akhirnya..”  ujar Yuri tak kalah bahagia. Yuri memperhatikan raut wajah semuanya dengan tangisan bahagia. Ia padang kedua sahabatnya itu juga tak kalah bahagia mendengar berita ini.

            “ne Yuri-ya. Hana akan sembuh..terima kasih Tuhan. Dan terima kasih Kim Jongwoon-sshi karena kau mau berjuang menyelamatkan Hana.”

            **

Anggapan tentang cinta adalah anugerah terbesar manusia adalah saat cinta itu datang menjemput sebuah kebahagiaan yang abadi,  niscahnya cinta adalah benar bila orang yang merasakannya itu akan selalu bahagia. Sebuah teori sederhana yang banyak orang rasakan tentang cinta yaitu jika dua orang manusia saling menunjukkan rasa sayang mereka. Tak ada yang berubah, setiap sudut hati ini mengingat namanya, saat memory ini berputar akan kenangan bersamanya.

Namun disisi lain dari lawa kata bahagia adalah sebuah kekecewaan, keadaan itu hanya kan menjadi sebuah ilusi belaka taatkala orang yang kita cintai sama halnya dicintai oleh orang lain meski sang figure utama tak pernah sekalipun mencintainya. Benang-benang cinta seakan menjadi kusut dan tak berujung saat seseorang yang mencintainya begitu rapuh mengingat perasaan itu. Apakah cinta memang seburuk itu sehingga rasa sakit itu harus dirasakan?. Jika bertanya seperti apa perasaan mencintai seseorang yang dicintai pula oleh orang lain, maka katakanlah bahwa rasa itu akan tetap sama. Tapi ketika hati ini menyadari jika dia hanya bayang semu, maka seketika itu pula dengan sangat tidak relanya aku harus menyadari jika dia bukan untuknya.

Im Yoona. Wanita itu baru saja kembali dari suatu tempat dengan lelaki bernama Choi Siwon yang saat ini pula berdiri disampingnya. Baru selangkah ia berjalan, laju kakinya saakan menggantung terhenti ditempat saat melihat pemandangan menyakitkan itu berulang kali. Antara rela dan tidak rela saat melihat pria itu—Kim Jongwoon bersama Kwon Yuri selaku wanita yang dicintainya. Pemandangan kebersamaan antara Kim Jongwoon dan Kwon Yuri. Jongwoon terlihat bahagia bersama dengan gadis itu.

Jujur jika menilik perasaan Yoona, wanita itu masih berharap pada Jongwoon. Namun harapan itu sudah tak ada. Hanya egonya saja yang memaksakannya. Yoona mulai tersiksa sendiri pada perasaannya. Ia bingung harus bersikap seperti apa karena rasa egios dirinya yang mengatakan jika ia terluka masih saja mendominasi.

“aku tahu sekarang apa yang kau pikirkan. Aku tidak mungkin salah menebaknya!.” Sela Siwon. “aku bisa membaca dengan jelas apa yang kau rasakan pada sosok lelaki yang bersama Kwon Yuri itu, hanya dari cara kau memandangnya  ketika kau tak sengaja melihat secara kasat mata apa yang dilakukan.”

Yoona kembali terdiam ketika secara terang-terangan perasaannya tengah di tebak seperti itu. Ia memandang Siwon dengan sorot mata dalam nan menyelidik, membuat Siwon hanya bisa tersenyum tipis melihat ekspresi Yoona tersebut.

“mencintai itu terkadang membuat seseorang menjadi dilemma untuk memilih yang tepat dan mana yang tidak. Mungkin itu berlaku pada semua manusia yang merasakan cinta. Aku bukanlah tipikal orang bodoh yang masih dasar berurusan dengan cinta. Masa depanmu ada di tanganmu sendiri. Baik ataupun buruk kau sendiri yang menentukannya. Takdir dan cinta adalah jalan yang beriringan untuk menuju sebuah kebahagiaan yang abadi. Jika dia bukan orang yang diperuntukkan Tuhan untukmu, mungkin dengan melepasnya akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kita.”

Hati Yoona sedikit tersentak mendengar kalimat-kalimat tebakan lelaki itu tentang perasaannya. Apa seorang Choi Siwon tengah menyindirnya?. Yoona tersenyum miris menerima kenyataan jika apa yang tengah dia fikirkan memang benar.

“aku berbicara seperti ini bukan untuk saling mendekatkan ini karena kita dijodohkan. Tapi aku melakukan ini karena kita adalah Teman..”

“maaf bukan aku terlalu lancang ikut campur perasaanmu.”

“kau jangan terpuruk lagi, angan kau paksakan sesuatu yang kau sadar hanya akan menyakitimu terus menerus?. Ia telah memilih takdirnya sendiri dengan wanita yang dicintainya. “

Yoona tarik napasnya lega ia memberi jeda untuk berbicara. “aku akan mencoba melepasnya. Dan membiarkannya bahagia bersama orang lain.” Lalu ia berikan senyuman itu pada pria bermarga Choi tersebut dan melangkah menuju kamar inapnya.

**

To : Kim Jongwoon

Bisakah kita bertemu sebentar oppa!!.

Malam itu terasa sunyi dan sepi, hanya ada hembusan angin musim dingin yang terasa menerpa seluruh tubuhnya, walau sudah mengenakan pakaian yang berlapis. Im Yoona tengah duduk manis di bangku yang terletak di atap rumah sakit menikmati pemandangan malam kota Seoul dengan satu tangan yang masih megetikkan beberapa kata, sebelum ia masukkan ponselnya kedalam saku mantelnya.

Tap…tap..

Yoona mengalihkan pandangannya, menyadari jika ada orang yang mendekat kearahnya dan tepat dugaannya ia mendapati Jongwoon kini berjalan ke arahnya.

Yoona masih saja terdiam tak mengeluarkan sepatah katapun. Tak menyapa lelaki itu, bahkan kini Jongwoon pun sama sekali tak menegurnya layaknya sahabat seperti biasanya. Ia biarkan Jongwoon melangkah kakinya dan berdiri sedikit jauh didepannya.

Keduanya masih sama-sama diam. Sama sekali belum mengeluarkan sepatah kata pun. Diam bukan berarti membiarkan semua yang tidak direncanakan terjadi secara sepihak, menguntungkan lawan untuk menang. Tapi diam yang diartikan ini adalah hanya memberi sebuah jalan untuk menuju semua penyelesaian. Lelaki itu hanya bisa terdiam menatap datar tanpa bisa berkata apa-apa, apakah ia bisa mengakatanya iya atau tidak. Tidak terlintas sama sekali pun dalam benaknya untuk menyakiti salah satu pihak. Apa yang kini tersaji dihadapannya adalah sebuah pilihan yang harus ia selesaikan semuanya. Dan hanya sebuah senyuman kecil yang terkesan dipaksakan yang hanya bisa dihadapkan pada seorang didepannya.

            Kim Jongwoon, lelaki itu justru berdiri tegak dari atap rumah sakit tempatnya berada sekarang.  Ia pejamkan matanya sejenak menikmati angin saat musim dingin yang menerpa wajahnya. Ia gerakkan kepalanya kembali, kali ini wajahnya menengadah menghadap langit, menatap hamparan langit malam musim dingin yang sedikit berbintang karena terangnya lampu ditengah hiruk pikuknya pusat kota metropolis dunia itu dan gedung-gedung penckar langit yang berada disekitarnya.. Matanya terpejam untuk beberapa detik. Helaan napas panjang perlahan dihembuskannya sebelum ia coba kuatkan dirinya, lalu melangkah lebih dekat pada sosok dibelakangnya. Sesosok gadis yang mengajaknya untuk bertemu.

            “maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukaimu. Mencintaiku hanya akan membuatmu terluka. Jangan kau paksakan sesuatu yang kau sadar hanya akan menyakitimu terus-menerus. Jongwoon mulai membuka suara yang tak dapat diduga oleh Yoona.

            Sudah bisa ditebak jika untuk kesekian kalinya Kim Jongwoon menolak pengakuan cinta dari Yoona. Emosi yang sempat menderanya kini berangsur-angsur ia netralkan agar tak timbul pertengkaran lagi dengan Yoona.

“oppa..Jongwoon oppa.” suara itu mampu membuatnya tersadar dari pikiran yang berkecamuk dalam dirinya. Ia menatap lurus kedepan kearah sumber suara yang memanggilnya. Seorang gadis yang sedang terduduk disebuah kursi yang terletak diatap gedung pencakar langit, gadis berpostur tinggi dan cantik dengan senyuman manisnya. Walaupun terlihat tak bersemangat tapi wajah cantiknya masih terlihat.

            “jika aku bertanya dan pertanyaanku masih sama oppa. tidakkah kau bisa untuk sedikit saja memberikanku kesempatan untuk menunjukkan perasaan ini?. Akan aku berikan cinta yang lebih besar daripada diberikan oleh Kwon Yuri.” Ia hanya ingin meluapkan perasaan itu. Perasaan sakit karena mencinta, sebelum ia bisa melepas Jongwoon untuk bahagia.

            “maaf jika selama ini aku buta karena mencintaimu. Dan karena aku mencintaimu, aku menyakiti orang lain.”

            Yoona  memejamkan kedua matanya perlahan dan membukanya dengan pelan. Gadis itu beranjak dari tempat duduk terlebih dahulu dan mengulurkan tangannya kepada Jongwoon. “aku tahu aku salah karena mencintai oppa. Tapi izinkan aku berbicara ini untuk terakhir kalinya.”

            Yoona memejamkan matanya sejenak sebelum ia melontarkan kalimat isi hatinya itu.

 

“Memory is will never lost when the first time i feel unsteadiness love for you”

“maybe..given a chance i want to feel happy with you”

“I never find love as wonderful as yourself”

I love you. Then I love you so much.

 

            Jongwoon terperanjat kaget dengan pengakuan Yoona tersebut. “Yoong..”  lirihnya. Ia mendekati gadis itu lalu menuntunnya untuk duduk, sementara Yoona mencoba tersenyum dengan menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya. Ia berusaha tertawa meski hatinya getir karena menangis.

            Pria itu berjongkok tepat dihadapannya tangannya meraih pundak Yoona dan mengelusnya pelan. “banyak hal yang kau tak sadar yang membuatku merasa tak mengenalimu. Yoona yang ku kenal sudah berubah daripada yang dulu.” Jongwoon yang berada tepat dihadapannya menatap lurus kedepan. Dapat ia lihat jika kedua mata Yoona menyembunyikan sebuah tangis, yang saat itu juga keluar dengan sendirinya. Hatinya terlalu sakit saat ini terjadi pada dirinya.

            “hanya sekali saja mencintaimu aku akan bersyukur oppa.” Tambahnya penuh harap. Namun sekuat apapun baginya untuk meraih itu, harapan hanya tinggal harapan saja karena semuanya sudah terbentur dengan garis takdir yang sudah Tuhan berikan untuknya. Jika lelaki itu bukan mencintai dirinya. Yoona beranikan tangannya untuk menangkupkan wajah Jongwoon melihat seksama kearahnya.

            “takdir kita berbeda Yoong. Tuhan tidak menggariskan kita untuk saling mencintai. Jika kau memaksakan mencintaiku keinginanmu hanya akan berujung sia-sia. Dan..Tidakkah kau merasa akan lebih terluka lagi.”

            “aku tahu itu semuanya oppa. Aku tahu ..” Meski sakit Yoona mencoba untuk menghentikan tangisnya. Gadis itu menghapus butiran air mata yang tak kunjung mereda karena tangisannya. Tapi ia tetap yakin jika semuanya akan berubah.

            Dengan perlahan Jongwoon mulai hapus jarak itu. Merengkuh tubuh ramping Yoona dalam dekapannya. Tidak ada kata lain yang bisa diartikan berlebih selain sahabat. Pelukan itu terasa hangat namun tak tersiratpun rasa cinta yang muncul. Namun hanya sebuah kasih sayang layaknya adik dengan sang  kakak.

            Jongwoon masih terdiam sementara tangannya masih menepuk dan memeluk erat tubuh ringkihnya. Ia harus segera memberi keputusan mengenai kelanjutan hidupnya dan agar tak melukai gadis ini.

            “kau tahu oppa. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku mencintai seseorang. Hatiku berdebar seperti itu untuk pertama kalinya dalam hidupku mencintai seseorang karena engkau aku bisa bangkit dari keterpurukanku. Berkat engkau sosok Im Yoona yang memiliki segalanya yang tak pernah iri pada orang lain, tapi hidupnya sungguh meyedihkan. Im Yoona yang menginginkan kasih sayang hanya bisa berharap tanpa asa yang terwujud demi cinta.”

            Cukup Yoona coba kuatkan hatinya saat Jongwoon memeluknya. Ya, memeluknya bukan berdasarkan rasa cinta hanya rasa kasihan saja—seolah takdir begitu tak adil baginya. Kenyataan pahit itu akhirnya datang juga, dimana ia akhirnya tak bisa mendapatkan lelaki yang sudah cukup lama ia cintai. Keputusasaan saat ini menguasai hatinya, menyeruak sampai pikirannya, hingga mata indah itupun mengabur dengan genangan air mata yang akhirnya tumpah juga dalam pelukan Jongwoon.

Suasana yang mengaharukan itu membuat semuanya hening seketika yang ada hanya rasa sepi dan senyap. Keduanya larut dalam perasaan mereka masing-masing.. keduanya sama-sama terisak dengan kalimat yang satu persatu keluar dari mulut mereka, luapan isi hati yang terpendam itu akhirnya keluar juga meski tangis keluar siring dengan luapan isi hati wanita itu. Jongwoon melepas pelukannya dan menatap nananr gadis dihadapannya. Ia tersenyum pedih dia hanya ingin membebaskan hatinya untuk tidak menyakiti perasaab gadis ini.

            “sekali lagi maafkan aku Yoong. Kumohon jangan pernah sekalipun  kau menyakiti orang lain hanya karena mencintaiku. Aku ingin kita sama-sama bahagia. Bahagia mencari kebahagiaan kita masing-masing..”

            “maaf..”

            Hanya kata terakhir dimalam ini yang menutup lara hati seorang wanita yang mencintai sepihak. Jongwoon tersenyum hambar, perasaan tak mencintai itu tetaplah sama. Hatinya sudah mutlak milik Kwon Yuri. Yah, mau dikata apalagi, semuanya sudah terjadi kesempatan mencintai sudah tertutup. Dan Yoona tidak perlu menyesal, karena itu hanya akan menambah rasa sakit karena mencintai semakin menjadi-jadi. Ia lelah dan ia sudah memutuskan untuk bahagia, meski harus terbayar dengan merelakan lelaki itu.

Ulkeok nunmuri na  (air mata itu akhirnya jatuh)

Ireon naege hwaga na (aku marah pada diriku sendiri karena menjadi seperti ini)

Heureuneun ilbun ilcho (tiap menit yang dilewati)

Yeogiseo meomchul sun eobseulkka (dapatkah berhenti disini..)

Naneun yeonseuphalge (aku akan berbohong jika baik-baik saja)

Gwaenchantaneun geojitmal Geureonde wae jeo meolli ne moseup heuryeojilkka

(tapi mengapa aku tak dapat menjauh karena terlalu jauh)

 

Backsong: Jung Joon Young – The Sense Ending

“Ist Mini Album of Jung Joon Young”

*****

Pintu itu mulai terbuka menampilkan sosok berperawakan tinggi yang masuk dengan sopannya menuju ruangan tersebut. Ia terbitkan senyumnya dengan membawa berbagai bingkisan hadiah sebagai hadiah untuk orang yang berada didalam sana. Ia sempat terkikik mendapati pemandangan yang dilihatnya itu.

“ayo..Hana.. buka lagi mulutmu!.” Yuri sedang menyuapi Hana dan mencoba merayu agar gadis kecil itu mau melanjutkan kegiatan makannya. Ia dengan telaten menyuapi Hana hingga gadis kecil itu mau makan.

Cklekk..

Pintu kamar tersebut terbuka dengan sendirinya yang seketika itu menampilkan sosok yang dilihat bahkan dikenal oleh Hana. Meski pertemuan mereka tergolong singkat. Tapi jujur pria itu merasakan jika ia menyayangi sosok Hana.

“Hai sayang!!..” Sapa Siwon dengan binar di wajahnya, tak menampakkan rasa gelisahnya.

“Hai ahjussi..” balas Hana tak kalah Hana.

“Songsaemin Choi..” sapa Yuri dengan sopannya. Ia menundukkan kepalanya tanda menghormati gurunya tersebut.

“Hyung..” panggil lelaki disebelah Yuri yang terperanjat kaget pula.

“kk—kau..” tunjuk Siwon pada lelaki itu.

“kalian saling mengenal?.” Tebak Yuri.

“untuk apa kau berda disini Nam Woohyun?!.” Siwon menatap tajam Woohyun dari atas hingga bawah!.” Sementara yang ditatap hanya bisa tertawa tak jelas.

“eomma sedang check up kesehatannya. Jadi aku hanya mampir sebentar saja.” Jawabnya enteng.

“tentu kami saling mengenal. Kau tahu lelaki tengil ini adalah calon adik iparku?. Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaki Sulli saat kau bersama gadis lain?.”

“yak!.

Seakan tak menghiraukan kicauan Woohyun, Choi Siwon segera beralh pada sosok Hana yang sedari tadi mengulum senyum lucunya. “Hana..Kwon Hana..kau apa yang ahjussi bawa. Ini semuanya untukmu..”

“apa itu ahjussi?. Wooaahhh…terima kasih ahjussi.” Girang Hana yang mendapatkan semua benda kesukaannya mulai dari boneka beruang berwarna pink dan berbagai macam buku cerita yang disukainya.

“gomawo..jeongmal gomawoyo Songsaemin..anda tidak perlu repot-repot melakukan ini semua.”

Siwon hanya tersenyum lalu mengacak pelan rambut Hana. “tidak apa-apa. Kau tahu Hana-ya. Kau seperti sosok Lee Donghae. Appa-mu. Matamu sama persis dengan mata milik appamu.”

“jika mata Hana mirip dengan appa. Lalu apa yang mirip dengan eomma?.”

Lontaran pertanyaan Hana membuat mereka berdua tertegu sesaat dan diam membisu. Tak tahu harus menjawab apa. Jika dari pihak Yuri sendiri, ia tahu jika kata itu suatu saat akan terlontar dari mulut Hana. Tapi untuk Siwon?. Lelaki itu sulit untuk menjawab nya walau hanya membatin saja. Disaat ia mengetahui segalanya, ia justru harus berhati-hati untuk bertindak karena ini berkaitan dengan memory ingatan Yoona. Salah sedikit Yoona bisa kehilangan semua memory masa lalunya. Dan ia hanya ingin membuka sedikit demi sedikit memori ingatan Yoona.

“Hana sekarang minum obat dan tidur ya. Sudah malam.” Kilah Yuri. Ia segera mengalihakan pertanyaany Hana.

“bisakah kita bicara sebentar Kwon Yuri-sshi?.”

“dan kau!.” Tunjuk Siwon Pada Woohyun. “kau juga harus ikut denganku!.”

**

Mereka berdua kini duduk dikursi panjang yang terletak dirumah sakit, masih sama-sama tak ada yang membuka suara. Sementara Woohyun hanya bisa menyandarkan badannya pada dinding rumah sakit. Mereka terus termenung cukup lama hingga waktu kian berlalu belasan menit. Dalam hening yang terus tercipta wajah resah itu mulai tampak dari raut wajah Choi Siwon. Merasa tidak nyaman dengan kondisi ini, Siwon mulai membuka suara.

“aku sudah mengetahui semuanya jika Im Yoona istri Lee Donghae adalah ibu kandung Hana!.”

Mendengar kata-kata yang menyebut nama Im Yoona wajah Yuri langsung berubah pucat. Ia bingung dengan keadaannya kini. Perasaanya semakin ta terkontrol, dan sekelibat pemikiran buruk itu melalang buana dalam pikiran Yuri.

Yuri menengadahkan wajahnya menatap tak percaya Siwon. Ia menatap lurus kearah  depan dengan pandangan kosong. Yuri terkejut!. Tentu saja. Setelah ia memendam rahasia itu selama bertahun-tahun berlalu, akhirnya ada seseorang yang mengetahui identitas ibu Hana tanpa ia ceritakan. Yuri menelan ludahnya gelisah, berusaha tenang dalam pembicaraan ini. Tolol rasanya jika ia berpura-pura tak tahu menahu tentang apa yang dikatakan dan arah pembicaraan  Siwon.

“Yul..maafkan aku. Aku yang memberitahu Siwon Hyung karena ia memaksaku. Kami tak sengaja dipertemukan saat aku menolong Yoona noona. Aku bisa jelaskan semuanya nanti!.” Woohyun yang bersikap aneh hanya bisa menundukkan kepalanya setelah menatap nanar Yuri. Sungguh ia sangat menyesal, telah berbicara dan masuk dalam masalah yang seharusnya tak ia ikut campuri.

Waktu  telah lewat 7 tahun. Dan bukan saatnya lagi Yuri masih belum bisa melupakan kebenciannya. Mungkin ini adalah salah satu garis Tuhan yang diperuntukkan pada dirinya Yuri kembali menjadi sosok rapuh seolah tak mempunyai kemampuan apapun yang bisa ia lakukan sepenuhnya. Ketika potongan memori ingatan itu mengalir begitu saja dalam pikirannya, membuat ia menjadi semakin putus asa dalam pilihannya kini.

‘apakah ia harus membuka kenyataan ini. dan membuka fakta masa lalu semuanya?.’

            “sebelum aku bertanya lebih lanjut mengenai masalah ini aku akan memberitahukanmu sesuatu. Yoona mengalami propanogsia dan amesia berkelanjutan saat ia terlibat kecelakaan bersama dengan Jongwoon di New York hampir 5 tahun lalu.”

Dahi Yuri mengkerut, ia sedikit tersentak kaget dan tangannya sedikit bergetar hebat, keringat dingin mendadak mengalir pada tubuhnya. Tubuhnya mematung dan mencengkeram kaku ujung pakaiannya. Menunjukkan jika ada ketegangan antara keduanya.

“prospanogsia?.” Ulang Yuri memberikan penekanan pada kata-kata tersebut.

“Kim Jongwoon sudah menceritakannya. Mereka mengalami kecelakaan setelah pertengkaranmu dengan Yoona. Saat kalian berdua bertemu di New York. Apa kau masih ingat?.” Tanya Siwon balik dan dibalas anggukan berat oleh Yuri.

“dan saat itu pula Yoona divonis oleh dokter mengalami prospanogsia?.” Desahnya pelan. Ia melanjutkan ucapannya kembali.

“dan kau perlu tahu juga Yul.” Kali ini Woohyun yang mulai angkat bicara. “kenapa ia begitu membencimu karena selain kau adalah Yeoja yang dicintai oleh Kim Jongwoon, ia juga sama sekali tak pernah mengingat masa lalunya dengan Donghae Hyung. Dan seolah-olah Yoona noona tak tahu diri dengan melupakan masa lalunya sehingga kau semakin membenci yeoja itu karena meninggalkan Donghae Hyung. Hingga akhirnya kau menutup kenangan buruk itu selamanya. Ini sudah 7 tahun Yuri-ya, apakah kau tak memberikan satu kesempatan Yoona noona untuk memperbaiki kesalahannya?.”

Apakah itu suatu kebodohan dari Yuri?. Dan sekarang ia meruntuki semuanya. bodoh!. Yuri terlalu menutup mata dengan luka dimasa lalu yang menganga itu. Terlampau sulit untuk dideskripsikan saat kebencian itu melanda hatinya. Seakan pendek akal ia tak membiarkan yeoja itu sedikit demi sedikit teringat dengan masa lalunya. Justru ia menutup semua kenangan lama itu.

“Sejak dulu aku sudah mencoba menutup semuanya dan melupakan apapun yang kau alami karena aku yakin itu adalah takdir Tuhan. Tapi kau tahu?.” Yuri buang napasnya pelan dan memberikan jeda dalam pembicaraannya.

            “ternyata diam dan menutupi masa lalu hanya akan membuat petaka itu datang juga. lambat laun Hana pasti akan mengetahui segalanya. Dan karena menutupi semua fakta itu rasanya aku ingin mengakhiri hidupku saja. Tapi disisi lain aku masih berharap jika semuanya akan berakhir bahagia.

            “mengenai Yoona noona dan Hana.,,,” lirih lelaki itu yang spotanitas membuat Yuri menatap Woohyun dan Siwon datar tanpa ada sebuah sulutan emosi yang meluap saat mendengarnya.

            “entahlah..Woohyun-aa. Terlalu rumit untuk dideskripsikan keadaannya saat ini. ketakutan dimasa lalu itu masih menjadi bayang-bayang trauma tersendiri bagiku.” Yuri coba tersenyum kecil. Terlihat ekspresi muka Yuri yang datar memandang lurus ke depan. Yuri buang napas sejenak sebelum akhirnya membuka suara kembali.

            ““Aku tahu, cepat atau lambat kisah ini akan membuat masalah dan harus aku buka. Dan aku yang harus mengakhiri ini”

            **

Seperti halnya terjungkal  dalam masalah yang pelik pada kenyataan itu akhirnya berbicara yang berbeda. Ia tak peduli kemana kakinya akan melangkahKetika ia tak tahu jika spekulasi yang mendoktrin otaknya salah, ia hanya bisa menutup mata dan hatinya tentang kenyataan yang sebenarnya. Pikirannya seakan baru terbuka saat rentetan kalimat itu akhirnya diindahkannya dan mulai dicerna. Spekulasinya masih beranggapan jika Im Yoona sengaja menghapus masa lalunya. Dan Yuri mempercayai itu.

‘prospanogsia?. Hilang ingatan?.’

Bodoh dan tolol. Itulah predikat yang disandang Yuri saat ini. Ia tak pernah hiraukan apa yang sebenarnya terjadi pada Yoona. Ia menutup mata tak mau membuka luka lama yang masih belum kering itu. Ingatannya kembali pada ucapan nyonya Kwon beberapa waktu lalu.

“sudah terlalu jauh aku hidup dan melangkah. Tentunya aku harus bersyukur atas kecelakaan yang menimpa putriku hingga menyebabkan ia terkena prospanogsia. Dan kehilangan semua ingatan masa lalunya.”

‘jadi benar jika Yoona mengalami kecelakaan bersama Jongwoon?.’

‘Apakah ada alasan lain sikap Yoona yang melakukan itu sebelum ia kehilangan ingatan?.

“dia gadis baik. Oppa mengenalnya dengan baik. Mungkin ada sesuatu hal yang membuatnya berubah. Dan entah itu apa?.” Donghae mengacak rambut panjang Yuri lalu menariknya dalam pelukan. Saat itu Donghae baru saja bertengkar dengan Yoona.

Yuri ingat semua kata-kata kejam yang dikatakannya pada Yoona saat wanita ingin bertemu dengan putri yang pernah  lahirkan. Sekarang Yuri tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia ingat kembali ucapan kejinya yang pernah ia lontarkan pada Yoona. Yuri menangis menyesali semua yang pernah ia katakan pada Yoona.

“tcihh..anda pikir jika aku takut dengan tamparan ini?. jangan  harap aku akan takut padamu. Kupikir saat pertama kali bertemu dengamu kau adalah yeoja yang sangat baik dan tepat dipilihnya. Orang seperti anda kenapa masih diberi kebahagiaan setelah menghancurkan kehidupan seseorang dan memberikannya harapan palsu!. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan pikiranmu, kau tak mengenalku?!. Lama sudah kita tak bertemu Im Yoona-sshi sejak peristiwa itu. Ternyata Tuhan masih memberimu kesempatan pada wanita sepertimu. Jika membunuh bisa mengembalikan keadaan seperti semula maka itu yang akan  kulakukan agar orang-orang yang telah kau sakiti masih bisa kembali dan tersenyum disampingku!.” Geram Yuri mata yeoja itu kini mulai memerah setetes air mata kini sudah mengalir dari pelupuk matanya

*

“Kupikir saat pertama kali bertemu dengamu kau adalah yeoja yang sangat baik dan tepat dipilihnya. Orang seperti anda kenapa masih diberi kebahagiaan setelah menghancurkan kehidupan seseorang dan memberikannya harapan palsu!. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan pikiranmu, kau tak mengenalku?!. Lama sudah kita tak bertemu Im Yoona-sshi sejak peristiwa itu. Ternyata Tuhan masih memberimu kesempatan pada wanita sepertimu.”

*

“sebaiknya kau jauhi putriku. Aku tidak ingin wanita berwajah cantik tapi berhati iblis bergaul dengan putriku yang tak tahu apa-apa!.” Tekan Yuri. Ia memandang remeh wanita yang baru saja mengantarkan putrinya pulang kerumah.

Yuri menggeser slide touch screen layar ponselnya. Sebuah pesan baru saja masuk dalam ponselnya. Ia membaca sekilas apa isi pesan tersebut. Dari Im Yoona?!. Mata Yuri seketika itu menatapnya dengan seksama.

From : Im Yoona

Aku sudah menentukan. Dan aku melepasnya..

Aku melepas Jongwoon..

Ia masih mencoba mencerna kalimat itu, Yuri menengadah sejenak guna ia hilangkan rasa sesak ketika harus mengingat kenangannya bersama dengan Lee Donghae dan Im Yoona serta kebersaaman dengan Jongwoon.

“eonni..”kata itu akhirnya keluar dari mulut Yuri. Ia menghela napas karena sesering apapun dirinya bertanya maka dia tak pernah mendapat jawaban.

“Menghindar ternyata tidak menyelesaikan masalah” ia ucapkan itu.

Ponselnya kembali bergetar, ia tengok lagi apa yang sedang terjadi dengan ponselnya. Masih sama, untuk kedua kalinya Im Yoona mengirimkan pesan pendek padanya.

From : Im Yoona

kau dimana?. Jongwoon mencarimu..”

langkah itu mendadak terhenti. ia tatap jajaran pohon yang hanya berdaun sedikit karena musim dingin yang sedang datang. Dan Yuri pun akhiri pikiran kalutnya untuk sejenak dan berbalik arah. Dia edarkan penglihatannya kesegala arah dan memutuskan untuk kembali. Spontanitas ia teringat dengan lelaki itu.

Sementara itu dari lain pihak. Jongwoon berlari kecil menyusuri trotoar dijalan raya dengan ukiran senyum mengembang dibibirnya. Semua beban percintaan dalam dirinya terasa ringan saat ia baru saja mendapat pengakuan dari Im Yoona, jika lelaki itu tak akan mengganggu lagi Kwon Yuri. Baru saja ia menyusuri trotoar yang ada ditepi jalan raya tersebut. Tubuh Jongwoon terhenti saat orang yang dicarinya kini tengah berdiri diujung jalan sana, tak jauh darinya.

Keberuntungan berada dipihaknya.

Jongwoon tampilkan senyuman khas-nya. Ia melihat lurus kedepan dan melihat Kwon Yuri berjalan berlawanan arah dan mendekat kearahnya. Jongwoon tarik bibirnya keatas guna ia ukir senyum merasa bahagia karena kini harapannya telah terkabul. Kwon Yuri, wanita yang sedari tadi dicarinya akhirnya bertemu juga. Ia terlihat lega, karena gadis itu tidak terjadi apa-apa karena sedari tadi ia bingung mencari keberadaan Yuri yang menghilang begitu saja, saat ia akan mencarinya.

“Kwon Yuri.” Panggilnya. Ia berusaha mengatur napasnya kemudian langsung berdiri tegap lagi menghadap Yeoja itu.

“Aku mencarimu sedari tadi” Yuri beranjak melangkahkan kakinya gak cepat menghampiri lelaki itu. Ia tersenyum jika ia merasa senang karena pria itu mencarinya.

“kenapa menghilang begitu saja?.” Jongwoon hampiri wanita itu “Aku kebigungan sendiri untuk mencarimu.” Kini seulas senyum itu tak bisa lagi Yuri tahan. Ia jelas dengar betapa pria itu menginginkan bisa bertemu dengannya. Yoona tak berbohong dengan pesan pendek yang ia kirimkan beberapa menit yang lalu. Akhirnya Yuri beranikan diri mendekat kearah Jongwoon dengan menitikkan air mata bahagia lekas memeluk namja itu erat.

“terima kasih..”

—TBC—

Akhirnya selesai juga part 8 ini. ukup menguras waktu saya untuk tidur. karena part ini tagihan dimana-mana.

gimana?. gaje ya?. feel g dapet ya?.  udah pasti. maafkan daku idenya mentog cukup sampai disana.

maaf jika hasilnya tidak memuaskan, karena bikinnya pun sambil emosi dan terkantuk-kantuk soalnya bikinnya mulai dari hp terus dialnjutin pake laptop terus ketiduran, blum lagi lupa ngeditnya #plak /muueeehehehehe…

Tolong sabar yah….kan aku udah bilang nanti secara perlahan kalian bisa mengerti semua permasalahannya. ini uda aku buka tapi mau gimana lagi saya hanya manusia biasa yang pas-pasa ide (baca: seret+ngadat). oh, ya kemaren ada yang nanya saya line berapa sih?. fandom apa?. kenapa publishnya jarang baget hingga lupa part sebelumnya?.

aku 94 line /plak ketahuan tuanya, fandom INSIPIRIT Bias Sunggyu+ Woohyun Infinite (numpang promo akakak)… maafkan saya juga, saya sadar jika sering jarang nglanjutin+publish ff karena g ada waktu..maklum uda semenster 6 kuliah, mw menjelang skripsi..hewehwhwhw.. jadi maap2 kata jarang banget nulisnya, tapi insyaAllah saya sempatkan nulis kog. jadi jangan khawatir ya..

untuk Kakak Eyun yang nagih epep inidan untuk kakak uchi yang katanya emosi banget kalo baca ni epep. niihh udah aku bayar yah utangnya heuheuheu

Terima kasih…………. ^^ #Big Hug + tebar kissue..

101 thoughts on “Because It’s You (Saranghae) Part 8

  1. baguusss TT
    akhirnya sedikit demi sedikit rahasia tealh terbongkar ^^
    gomawo buat pwnya.. Next chapter jangan lama2 ya~~

  2. Syukurlah Yoong bisa menerima kenyataan bahwa dia harus melepas Yesung oppa. karena jodoh dia emang ama wonpa… dan ga penasaran lagi akhirnya semua rahasia terkuak sudah. tapi bagaimana dengan Yoong? … lanjut thor…

  3. wow..wow..wow…
    part ini puncak emosi+buat emosi reda juga….
    moga2 Yoona inget….Siwon first love’a Yoona moga2 mrk balikan…
    jgn2 yg ngebuat sifat Yoona berubah itu eomma’a lgi…hadeuh
    thanks Pw’a…Lanjuttttt

  4. pertama2, gomawo thor atas pw nya…

    whoaaa, ini ff yg plg aku tunggu2 d rff. suka pake buangeeeett.. daebak lah pkoknya, makin keren thor.. aku jd makin cinta ama siwon, eh maksudku ceritanya.. *keceplosan nyebut suami* kkkk

    dan utk pertama kalinya, baru ini rasanya aku seneng dengan kata2 yg keluar dr mulut yoona.. yaitu kata2 “Aku melepas Jongwoon.”. kyaaaa, itu rasanya bhagia, lega, plong bgd rasanya..

    duhh, plg greget liat yulwoon momentnya.. kyaaa, mrka sweet bangett.. ayo dong, buruan nikah.. mumpung yoona ud kibar bndera putih.. gpp lah sambilan hana berobat, sambil nikah jg.. wkwkwk *maksa yak* hehehe

    tapi yaa, msh dibikin pnasaran ama kehidupan rmh tangga yoona donghae dmasa lalu.. msh gak habis fikir knpa yoona bs setega sma hae bhkan hana.. smoga next part makin dibuka ap yg sbnernya trjadi..

    next part jgn lama2 dong thor.. trs yulwoon kudu udah nikah yaa.. hahaa. dan toss, aq juga pecinta infinite jg stlh sj dan siwon as my ultimate bias tentunya.. hehe *gandeng hoya, namu, gyujiji, yeol* kkk

    dan ya ampyuuun, mian komenku ud kaya drabble.. *bow. pamit, anyyeoong

  5. Complicated banget cerita masa lalu mereka… Berawal dari keserakahan Ibunya Yoona Dan Kecewanya Yoona…berakibat pada hidupny sekarang…balas dendam hanya meninggalkan luka

  6. Geregetan bgt sama sikapnya yoona tapi kasian juga si……
    Yuri ngidamnya lucu masa sup belanda di campur sama sup korea….

  7. akhirnya bs bc part 8 ini…
    keren ceritanya, misteriny dah bnyk yg kebuka ya, bnyk salah dugaan nih, trnyt di awal yoona sk sm siwon, bneran kh dy g pernh suka sm donghae… ksian donghae dsni ya

    paling suka dgn part yulwoon, hehehee paling demen sm couple ini ^^
    ayo dunk cpt dinikahin author, trus dbnykin lg moment ngidamny yuri…
    dn semoga hana cpt sembuh…
    eh tp jongwoon kesanny melo bngt dsn ya, hehehe g sprt aslinya yg kesanny dingin
    wkt drmh sakit ngejar yuri smpe nangis gtu, kaya cengeng ya, wkwkwkwk…
    tp ttp paling suka ff klo main castny abang jongwoon, aplg ceritanya menarik gni…

  8. Geregetan bgt sama sikapnya yoona
    tapi kasian juga si……
    Yuri ngidamnya lucu masa sup
    belanda di campur sama sup korea….

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s