[FF Freelance] Genosida – Find The Diamond (Part 4)

PART 1

GENOSIDA

 

Scriptwriter: April (@cici_cimol) | Main Cast: Kwon Jiyong (G-Dragon Of Big Bang), Sandara Park (2NE1) | Support Cast:  Find the other cast while reading^^ | Rating: PG-15 | Genre: Fantasy, Mistery, Romance | Length: 8 Part

 PreviousPart 1Part 2, Part 3,

Disclaimer:

Human and thing belong to God. I only own the plot. Terinspirasi dari Novel Harry Potter dan The Hobbit.

GENOSIDA

Sebuah dunia dari dimensi lain yang sedang dalam tahap percobaan gila. Menarik manusia untuk menjadi bagiannya. Genosida merupakan pembantaian besar-besaran secara sistematis pada suatu kelompok dengan maksud memusnahkan. Siapakah diantara mereka yang berhasil keluar hidup-hidup?

 

Previously at Genosida:

Kwon Ji Yong menyelamatkan nyawa Sandara untuk ke-tiga kalinya. Sandara Park yang masih terpisah dengan kelompoknya terpaksa menempel pada pemimpin kelompok api dan melanjutkan semester kedua yang mengharuskannya membunuh para pemburu. Aturannya adalah, membunuh atau dibunuh. Hal itu semakin sulit ketika Sandara menemukan alasan Kwon Jiyong membenci kelompok air. Ada hubungan antara Kwon Jiyong dan Lee Chaerin. Hubungan rumit yang membuat pria itu terus berada di dimensi Genosida.

PART 4  [SEMESTER 3:  FIND THE DIAMOND]

 

Cinta itu setan, api, surga, dan juga neraka

Kesenangan dan kesakitan, kesedihan dan penyesalan

Semua tinggal bersama-sama disana. – Banfield

 

Flashback – Genosida 5 years ago

Aku mencintainya…” Chaerin menatap seorang anak perempuan berusia 17 tahun yang duduk dihadapannya, Jennie Kim.

Jennie Kim hanya terdiam. Wajah pucatnya memohon pada Chaerin. Memohon padanya untuk membawanya keluar dari  Genosida. Hingga lagi-lagi rasa menyiksa itu datang. Jantungnya berdetak sangat kencang, dia mulai kehabisan napas, telinganya berdengung. Rasa takut menyergap gadis itu. Tidak! Untuk keseribu kalinya gadis kecil itu memohon. Jangan ambil nyawaku!

Chaerin berdiri dan memeluk Jennie. Berusaha membuat gadis itu kuat. Air matanya lagi-lagi turun. Kenapa takdir begitu kejam? 3 tahun yang lalu Chaerin masuk dalam dimensi ini dan terlibat sumpah seumur hidup, Genosida berjanji akan memberikan uang yang cukup untuk Jennie. Untuk Jennie menjalankan operasi pencangkokan jantungnya. Untuk Jennie hidup di Seoul dengan baik. Jennie adalah satu-satunya keluarga yang Chaerin punya. Walau Jennie bukan adik kandungnya, tapi dia sudah menganggap gadis dalam pelukannya yang gemetar hebat itu sebagai darah dagingnya sendiri.

Tapi Genosida mengkhianatinya! Tahun ini, Jennie ditarik masuk ke Genosida! Dengan keadaan yang memprihatinkan, hanya menunggu waktu hingga gadis ini meninggal.

CL, dia tidak akan bertahan.” Jo Kwon menarik tangan Chaerin, tapi gadis itu menjadi gila. Dia menangis meraung sambil memeluk Jennie yang sedang sekarat.

TOLONG DIA! KUMOHON! SIAPAPUN TOLONG DIA!!!” Chaerin meraung, matanya nyalang. Dia semakin gila ketika dirasakannya detak jantung Jennie samakin melemah.

Karena itu! Dengarkan aku!!!” Jo Kwon berteriak frustasi, berusaha terdengar diantara raungan Chaerin. “Kau harus melanggar peraturan Genosida! Buat kesepakatan! Jadikan Kwon Jiyong terikat sumpah seumur hidup! Genosida menginginkan pria itu menjadi pemimpin! Sebagai gantinya, mereka akan membebaskan Jennie Kim!”

Tidak…” Chaerin merintih. Dengan putus asa dia menatap wajah Jennie yang pucat. Detak jantung Jennie kembali normal. Tetapi hanya untuk hitungan menit sebelum serangan penyakitnya itu dimulai lagi. “B, Bagaimana caranya? Bagaimana caranya membuat pria itu terikat sumpah hidup dan mati pada Genosida?”

Jebak Kwon Jiyong.” Jo Kwon menatap dalam kearah Chaerin. “Jebak pria itu dengan cinta. Dia sudah tergila-gila padamu. Itu akan mudah.

Chaerin terdiam. Egoiskah dia? dia mencintai pria itu dengan setiap hembusan napasnya. Mungkin ini juga pilihan yang terbaik yang bisa diambilnya sekarang. Dia bisa menyelamatkan Jennie Kim, dan tetap menjaga Kwon Jiyong untuk terus berada disisinya selamanya…

Flashback END

.

.

Katakan padaku saat kau bahagia atau sedih.

Aku juga akan mengatakan hal yang sama padamu

Aku ingin hidup bersamamu,

 

 “Aku tidak akan memberikan gadis ini padamu.” Ji Yong menatap CL sambil memamerkan seringai liciknya. “Dia milikku.”

CL memicingkan mata kucingnya. Ekspresi wanita itu datar, tidak ada emosi apapun. Tetapi Jiyong tahu, dia tahu apa yang sedang dirasakan oleh rubah dihadapannya.

“Kau tidak punya hak berbicara begitu kan? Dia anggota kelompokku, aku akan membawanya. Suka atau tidak.” CL Berbicara datar, dia mulai berjalan mendekati Jiyong. Tetapi langkahnya terhenti karena Seungri menarik anak panahnya dan mengarahkannya langsung pada CL. Suzy dan Jo Kwon dengan sigap mengacungkan pedang panjang mereka tepat di leher Seungri.

“Bisa tidak serangga-serangga itu tidak ikut campur? Sepertinya ini hanya masalah antara kita berdua kan? Kau dan aku.” Jiyong berkata tenang, tangan pria itu menyentuh wajah Sandara yang masih tertidur dipangkuannya, menyingkirkan rambut yang menepel pada pipi gadis itu.

Ekspresi CL menegang. Dia mulai muak pada permainan Jiyong. “Hentikan!” CL kembali melangkahkan kakinya. Seungri menarik anak panahnya dengan sekuat tenaga, dan pedang pada lehernya mulai mengiris perlahan, darah meluncur pelan di leher Seungri.

CL menoleh kearah Seungri, Suzy, dan Jo Kwon. Mereka bertiga benar-benar sedang berjuang mati-matian untuk melindungi para pemimpinnya yang malah berbicara konyol dan memperebutkan seorang gadis yang tidak memiliki keterampilan apapun dan hanya bisa menyusahkan saja. CL Mendengus kesal.

“Jadi, mau sampai kapan kau menawannya?” CL menaikan sebelah alisnya “Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian. Tapi dia berasal dari elemen air, dia tidak akan bertahan dalam kelompokmu.”

“Yeah, karena itu, aku hanya akan membuat dia menjadi bagian dari kelompokku.” Jiyong mulai menggerakan tangannya, membuka Jaket dark blue Sandara dan melemparnya tepat kehadapan CL, Jaket itu menyentuh ujung sneakers CL. Kemudian dia mengambil Jaket hitam legamnya yang dipenuhi simbol Yunani dan memakaikannya kepada Sandara.

Angin berhembus kencang dalam beberapa detik saat jaket hitam itu sempurna terpasang ditubuh Sandara. Menerbangkan beberapa ranting rapuh dan daun yang berguguran.

“KWON JIYONG!!!” CL terpekik marah. “KAU GILA!”

“Namaku Kwon Jiyong dan aku memang gila” Jiyong bangkit, menatap CL dengan tajam. “Anggap saja kau sudah kehilangan anggotamu yang bernama Sandara Park. Mudah kan?”

“Kau akan menyebabkan masalah besar! 8 anggota dalam kelompokmu?! Apa kau pikir mereka akan membiarkan hal itu terjadi begitu saja?!” CL Berteriak ketakutan. Dulu, dulu sekali dia pernah membuat seseorang mengalami hal seperti ini. Dan konsekuensi yang harus ditanggungnya benar-benar membuatnya menyesal telah melakukan hal bodoh itu. Dan sekarang Sandara Park?! Gadis yang tidak tahu apa-apa?

“Hal ini bukan urusanmu. Kau bisa pergi atau kau memilih bertarung denganku. Ah, disini tidak ada air sama sekali kan? Aku rasa kalian bertiga bisa menjadi daging panggang dalam sekejap.” Jiyong mengeluarkan api di tangan kanannya. CL menatap pria itu putus asa, kemudian menatap Sandara yang masih terlelap dalam dunianya sendiri.

“Aku sudah tidak punya hak mengganggu gadis malang itu kan?” CL Berkata sedih “Apa kau pikir dia bisa keluar dari dunia ini?” CL Memiringkan kepalanya dan tersenyum pahit “Aku rasa dia sangat mirip denganmu kan Ji? Malang sekali, hanya untuk ke egoisan seorang pria, dia akan terkurung disini selamanya.”

Dulu, CL juga pernah membuat seorang pria malang bersumpah pada Genosida hanya untuk ke-egoisannya sendiri. Dia sama sekali tidak menyangka kalau hal ini bisa terulang lagi.

CL menatap kedua temannya yang masih sibuk dengan Seungri. “Suzy-yaa, Jo Kwon oppa, sepertinya kita kehilangan dua anggota baru. Lee Ha Yi dan Sandara Park. Anggap mereka sudah meninggal adalah hal yang bijaksana kan?”

Suzy meneteskan Kristal bening dipipinya. Menatap Sandara yang masih tergolek lemah, kemudian mengangguk mantap. Mereka tidak punya pilihan lain.

“Ayo kita pergi.”

.

.

Berpikirlah positif terhadap kehidupan.

Kata-kata sederhana yang sangat sulit untuk dilakukan dalam kehidupan nyata. Seperti kata-kata itu, Sandara berusaha berpikir positif terhadap situasi yang sedang dihadapinya sekarang.

Sandara menatap cokelat hangat dalam cangkir ditangannya. Gadis itu sama sekali tidak mengerti kenapa dia bisa ada ditempat ini. Dengan lemah, Sandara menatap tiga orang asing yang sedang sibuk membuat makanan dan beberapa senjata disekitar api unggun.

“Unni, apa kau baik-baik saja?”

Sandara menengadah menatap seorang gadis berambut pendek dengan wajah bulat tersenyum padanya. Sandara membalas senyuman gadis itu sambil menepuk batang kayu lapuk disampingnya. Menyuruh gadis itu duduk.

“Aku Gong Minzy” Gadis itu berkata ceria. “Unni adalah anggota kedelapan dalam kelompak kami”

“Apa maksudnya? Kedelapan?”

“Jiyong oppa membawa unni sampai ditempat ini. Kami memang sedang menunggu dia. Yongbae oppa sebenarnya sangat marah. Mereka bertengkar hebat.” Minzy menatap Sandara dengan pandangan menyelidik “Mereka bilang, kau berasal dari elemen api.”

Sandara tersentak, cangkir ditangannya terjatuh menggelinding, menumpahkan cokelat hangat yang bahkan belum diminum setetes pun olehnya. Matanya melebar. Apa maksudnya? Elemen api? 10 menit yang lalu, saat dirinya sadar, dia kira dirinya hanya sedang berada didalam kemah elemen api karena Kwon Jiyong  sedang menawannya.

“Dimana Jiyong?” Sandara berkata sambil mencengkram ujung T-shirt nya dengan kencang, Manahan luapan emosi. Sudah cukup, pria itu tidak bisa mempermainkannya lagi.

“Dia ada didalam kemah. Sepertinya sedang berdebat serius dengan Yongbae oppa dan Top oppa.”

Sandara berdiri dan mulai berjalan cepat menuju sebuah tenda besar berwarna hitam pekat yang ditunjuk oleh minzy. Dengan kasar, Sandara menyibak penutup tenda dan berjalan cepat ketengah ruangan tempat Jiyong, Yongbae, dan Top sedang berkumpul sambil saling mamandang dengan sengit.

“Jelaskan padaku.” Sandara berdiri dihadapan Jiyong dan menatap pria itu lekat-lekat. Napasnya tersengal akibat amarah yang berusaha ditahannya. Dia tidak peduli pada pria yang bernama Yongbae dengan otot kekar dan Top dengan wajah sangat tampan sedang memperhatikannya. Sekarang yang dibutuhkan Sandara hanya Kwon Jiyong. Dia tidak peduli harus melakukan apa pada pria ini, mungkin mencakarinya, melemparinya dengan segala benda yang bisa dijangkaunya. Apa saja, tetapi saat Sandara menatap mata Jiyong, tiba-tiba amarahnya berangsur lenyap. Mata yang selalu menatapnya nakal itu berubah menjadi sedih. Ini pertamakalinya Sandara melihat Jiyong seperti ini.

“Kenapa? Kenapa kau melakukan ini?!” Sandara menjerit sambil mencengkram kerah jaket hitam Jiyong. Matanya mulai berair. “aku datang kesini dengan elemen air didalam diriku! Apa jadinya aku, kalau kau dengan se-enaknya mengacaukan unsur didalam tubuhku!” Air hangat menetes perlahan di pipi Sandara. “Dari pada kau menyiksaku seperti ini, lebih baik kau bunuh aku sekarang juga!!!”

“Lepaskan dia” Yongbae berkata pelan sambil menarik lengan Sandara “Sandara-ssi tenangkan dirimu.”

Sandara menghentakan lengannya dan melotot kearah Yongbae. Dengan gerakan cepat gadis itu menarik sebuah pedang yang tergeletak diatas meja dan menyodorkannya kepada Jiyong “Bunuh aku.”

“Ya! Apa kau tidak tahu bagaimana Jiyong berusaha menyelamatkan nyawamu?” Top menggeram marah melihat tingkah Sandara.

“Hentikan Hyung.”

“Dia bahkan mengorbankan lima tahun masa hidupnya untukmu!”

“HENTIKAN!!!” Jiyong menyambar T-shirt bagian depan milik Top dan mencengkramnya kuat. “Jangan ikut campur hyung” Pria itu mendesis. Top hanya terdiam, dia tahu kalau Jiyong sedang sama frustasinya dengan gadis yang sekarang hanya bisa menatap kosong pada tanah lembab, berusaha mencerna kata-kata yang dikeluarkan Top.

“Tinggalkan kami.” Jiyong melepas cengkramannya. Nada bicaranya lebih menjurus ke perintah. Perintah yang harus dipatuhi Yongbae dan Top.

Yongbae dan Top berjalan keluar tanpa suara. Mereka tahu, masalah ini akan semakin rumit dalam beberapa jam kemudian. Ketika pengumuman misi semester berikutnya terdengar. Maka Genosida akan segera mengetahui kejanggalan yang tengah terjadi sekarang.

Jiyong menggeram marah dan menghampiri Sandara. Mereka berdua terlihat sama-sama kacau.

“Ja… Jangan mendekat! Kau disitu saja!” Sandara berteriak dengan suara gemetar. Dia takut, dia takut pada Jiyong dan pada fakta yang baru saja didengarnya dari Top.

“Kalau aku mendekat, kau mau apa? Mau melubangi wajahku?” Jiyong berkata garang dan tidak menghentikan langkahnya. Sekarang dia berdiri dihadapan Sandara dan menatap mata bulat Sandara yang sedang berusaha menghindarinya. “Sekarang pilihanmu berubah.” Jiyong mendesis. “Kau memilih menjadi prajurit perang mereka selamanya, atau kau memilih ikut bersamaku dan berjuang menghancurkan tempat ini.”

Sandara terdiam. Dia masih tidak berani menatap Jiyong, takut, rasa takut membuat tubuhnya lagi-lagi menggigil. Rasa takut yang membuatnya ingin bersembunyi dimana saja asal tidak berada dalam posisinya sekarang.

“Kau belum menjelaskan padaku.” Sandara berbisik, air mata yang menggenang dan berusaha ditahannya lagi-lagi menetes. “Kenapa kau begini terhadapku? Bukankah kau sangat membenciku dan ingin aku mati? Tapi kenapa?” Gadis itu berusaha sekuat tenaga menahan isakan tangisnya “Kenapa kau malah berjuang mati-matian untukku?”

“KARENA KAU TERUS MASUK KEDALAM PIKIRANKU!”

“AKU TIDAK MELAKUKAN ITU LAGI!”

“KAU MELAKUKANNYA! DAN KAU TERUS MEMBUATKU BINGUNG!!!”

“APA YANG MEMBUATMU BINGUNG?!”

“KAU!  SANDARA PARK!”

Mereka terengah sambil mencoba mengatur napas dan menahan emosi masing-masing. Jiyong kesulitan mengendalikan dirinya. Rasa bersalah, marah, dan benci menjadi satu dan sulit sekali untuk dikendalikan.

“Dengar, aku akan keluar dari sini. Persetan dengan sumpah yang melibatkan hidup dan mati. Aku bosan menjadi boneka mereka. Hidup sampahku di Seoul lebih baik dari pada di tempat ini.” Jiyong berkata pelan sambil tetap menatap Sandara yang sekarang membeku. “Terserah kau mau kembali pada kelompokmu atau tidak. Itu bukan urusanku.”

“TENTU SAJA INI URUSANMU IDIOT!” Sandara menjerit putus asa. “Aku anggota kelompokmu yang ke-delapan! Kau yang membuatku terikat dalam dimensi ini! Hanya menunggu waktu sampai mereka menemukanku dan memaksaku bersumpah untuk terus disini seumur hidupku dan menjadi pemimpin!” Tubuh Sandara bergetar ketakutan “Tidak…” Gadis itu menggeleng. “Aku tidak mau…”

Jiyong mendekatkan tubuhnya pada Sandara, Dia memang sudah melakukan kesalahan yang sangat besar sekarang. Dengan perlahan, Jiyong menarik Sandara kedalam pelukannya. Mencoba menenangkan gadis itu. Mencoba merampas rasa takut yang membuatnya terlihat seperti kelinci yang lemah ditengah padang yang penuh singa pemangsa.

“Maaf…” Akhirnya, setelah sekian lamanya. Kata-kata itu kembali keluar dari mulut Jiyong. Kapan terakhir kali dia mengucapkan kata “maaf”? bahkan dia lupa memiliki kosa kata itu didalam otaknya. “Percayalah padaku” Jiyong semakin mengeratkan pelukannya pada gadis bertubuh kecil itu “Aku akan melindungimu. Apapun yang terjadi, aku akan melindungimu.”

.

.

“15 kelompok yang tersisa, 4 kelompok air, 2 kelompok bumi, 5 kelompok udara, dan 4 kelompok api.” Jiyong berkata sambil memperhatikan sesuatu yang tidak terlihat diudara.

Delapan anggota elemen api sedang berkumpul mengelilingi api unggun sambil menikmati teh hangat mereka. Untungnya, mereka sama sekali tidak terganggu oleh kehadiran Sandara, mereka bersikap biasa bahkan sangat peduli pada keadaan gadis itu.

“Kita harus menemukan mereka dan berdiskusi dengan para pemimpin kelompok masing-masing. Kita harus bekerja sama untuk mencari titik lemah dari dimensi ini.” Yongbae melanjutkan. Wajah tegang disekitarnya saling menatap tidak percaya. Meminta kerja sama? Tetapi masing-masing kelompok memiliki daya persaingan dan permusuhan yang cukup rumit.

“Itu ide yang paling mustahil yang pernah kudengar.” Seorang gadis berambut panjang, dikuncir kuda tinggi dan berponi lebat berkata sambil mengerucutkan bibir seksinya pada Yongbae. “Sebelum kita meminta kerja sama untuk memberontak, mereka lebih dulu akan menjadikan kita mayat.”

“Ya, Bomminator, kalau begitu beri ide yang membuat kami bisa berteriak “Daebak!” sambil bersorak suka-cita!” Seungri menyambar percakapan dengan antusias, membuat gadis yang dipanggil Bomminator itu tersenyum kecut padanya.

“Menurut perkiraanku, sebentar lagi mereka akan mengumumkan misi untuk semester selanjutnya.” Pria yang berwajah manis dan sangat dewasa disebelah Sandara berkata pelan. “Ketika kita mulai bergerak, mereka akan segera mengetahui keberadaan Sandara-ssi. Pertanyaannya adalah, apakah mereka akan membunuh Sandara-ssi, atau mengambilnya begitu saja?”

“Tablo hyung, apa kau punya cara?” Seungri berkata pelan sambil menatap prihatin pada Sandara yang terlihat semakin ketakutan. “Tahun ini, sepertinya mereka tidak main-main.”

“Apapun yang terjadi, kita harus bekerja sama untuk melindungi Sandara, untuk urusan mengadakan genjatan senjata pada kelompok lain, kita lakukan perlahan saat misi berjalan.” Tablo menatap Sandara, gadis itu benar-benar tampak layu. “Ya! Tenang saja!” Tablo menepuk punggung Sandara dan tersenyum. “Semuanya pasti bisa dikendalikan!”

Sandara mengangguk dan membalas senyuman Tablo. Ajjushi disampingnya mengingatkan Sandara pada ayahnya. Ayah yang memiliki senyum sama seperti Tablo. Kemudian dia menatap keseberang api unggun. Menatap Kwon Jiyong yang sedang sibuk memandanginya.

Hal yang paling tidak bisa Sandara mengerti didunia ini adalah makhluk yang bernama laki-laki. Walau dia memiliki seorang adik laki-laki. Tetapi dia masih tidak bisa mengerti jalan pikiran mereka. Contohnya adalah saat ini, Saat Sandara menatap Kwon Jiyong dan berusaha mengerti arti  tatapan pria itu. Tapi nihil, Sandara tidak mengerti kenapa sikap Jiyong padanya berubah begitu drastis.

“Semester ketiga. Misi untuk para Caedere yang bertahan dalam kelompoknya. Temukan berlian kehidupan”

Seluruh anggota menegang saat mendengar instruksi itu bergema dalam otak mereka masing-masing.

“Permainan yang sesungguhnya baru dimulai.” Jiyong menyeringai. Bagaimana bisa pria itu menyeringai disaat genting seperti sekarang? Bahkan untuk bernapas layaknya orang normal saja sungguh sulit bagi Sandara. Yeah, karena sebentar lagi dia akan menjadi target Genosida.

“Berlian kehidupan?” Minzy menatap Jiyong. Meminta informasi.

“Mereka melakukan kesalahan besar sekarang.” Lagi-lagi Jiyong menampilkan seringai liciknya. “Berlian kehidupan itu bisa menyelamatkan nyawa Sandara.”

“Kita akan mendapatkannya.” Yongbae tersenyum puas.

“Kita susun rencana besok pagi saja, aku sudah sangat lelah.” Bom merengek sambil memijit pelan bahunya yang terasa kaku.

“Kembalilah ketenda kalian masing-masing. Besok pagi kita akan bergerak.” Jiyong menutup pembicaraan, bangkit dan berjalan kearah tendanya.

Seluruh anggota mulai mengikuti Jiyong, pergi ketenda masing-masing. Namun tidak dengan Sandara. Dia masih duduk diam sambil menyeruput teh hangatnya. Setidaknya gadis itu ingin menikmati waktu santainya. Karena besok, dapat dipastikan harinya akan penuh dengan jeritan ketakutan dan kesakitan.

.

.

Saat matahari baru saja terbit, Jiyong menemukan Sandara sedang duduk dibebatuan dengan rambut basah sehabis mandi. Gadis itu hanya memandang kosong kearah Sneakers-nya yang belum terikat. Wajah khawatir gadis itu benar-benar membuat Jiyong semakin merasa bersalah.

“Kenapa hanya dilihat?” Jiyong berjongkok dan mulai memainkan tali Sneakers biru tua Sandara dan mengikatnya menjadi simpul yang kuat. Sandara hanya terdiam, menimbang apakah dia akan bertanya atau tidak. Jika dia  tidak bertanya, dia takut akan mati hari ini dan menyesali keputusannya.

“Kwon Jiyong…”

Jiyong menengadah mendengar namanya disebut, Mata pria itu menatap lekat kewajah Sandara. Membuat Sandara sedikit gugup. Dengan perlahan senyum menggoda tersungging diwajah pria itu.

“Ada apa?” Jiyong kembali menunduk dan sibuk dengan tali sepatu sneakers Sandara.

“Maaf aku menanyakan ini, tapi kau dan CL…” Sandara menghentikan mulutnya saat dilihatnya Jiyong menegang, pria itu segera bangkit tanpa mengatakan apa-apa dan berjalan menjauhi Sandara.

“Kau dan CL dan aku!!!” Sandara berteriak. Punggung Jiyong berhenti menjauhinya. Mata Sandara menyipit, mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan pria sombong itu. “Aku melihat semuanya. Kau tahu kan? Hubunganmu dan CL.”

“Lalu?” Jiyong berbalik, menaikan sebelah alisnya sambil memandang remeh pada Sandara.

“Lalu, kenapa kau melibatkanku dalam urusan percintaanmu yang menyedihkan itu?” Sandara bangkit dan menghampiri Jiyong. Menatap mata tajam Jiyong yang memandangnya. “Aku dengar semuanya dari Seungri. Ketika kelompokku menemukanku ditengah hutan penuh mayat pemburu itu, kau bukannya membebaskanku malah menyeretku dalam masalah yang lebih besar!”  Sandara mendesah putus asa. “Dan demi membuatku menjadi bagian kelompokmu, kau menyerahkan masa hidupmu selama 5 tahun! Kau telah memotong umurmu sendiri sebanyak 5 tahun hanya agar aku bisa terus berada disisimu! Kau gila!” Sandara menyemburkan semua yang ada dipikirannya. Air hangat mulai menggenang dikelopak mata Sandara. “Jadi jelaskan padaku! Kenapa kau melakukan hal paling egois itu dan menyebabkan masalah ini semakin rumit?! Sekarang yang terlibat bukan hanya kita! Tapi seluruh manusia yang berkeliaran didalam dimensi ini!!!”

Jiyong hanya bisa terdiam. Wajahnya yang dingin tanpa ekspresi itu membuat Sandara muak! Tidak bisakah dia membuat ekspresi wajah yang lebih baik yang menunjukan apa yang sedang dirasakannya? Kenapa wajahnya seperti batu begitu?!

“Aku punya alasan sendiri, dan itu memang alasan paling egois yang pernah ada.” Jiyong menjawab pelan. Lagi-lagi dia berbicara seolah mereka sedang menikmati teh hangat didalam cafe.  “kau tahu? Harus ada seseorang yang bergerak menghancurkan sistem mereka bukan? Dimensi ini, aku adalah orang yang akan menghancurkannya dan membebaskan seluruh manusia yang terlibat didalam dunia ini.”

“Itu ambisi yang sangat hebat, tuan pahlawan. Dan kau memanfaatkanku untuk mencapai ambisimu itu. Hebat sekali…” Sandara berkata sinis, Dadanya terasa begitu sesak, seolah mengambil oksigen masuk keparu-parunya adalah hal paling sulit. Kecewa, dia sangat kecewa. Dia kira, semua bentuk perhatian dan perlindungan Jiyong terhadapnya karena pria itu tertarik padanya. Karena pria itu suka padanya. Tetapi kenyataan memang selalu pahit bukan? Jiyong benar-benar menggunakan Sandara dengan sangat baik.

Dengan cepat, Sandara berjalan melewati Jiyong. Dia muak melihat wajah pria itu. Namun, suara Jiyong menghentikan langkahnya.

“Aku akan mengeluarkanmu dari dimensi ini, aku berjanji untuk melindungimu.”

Kata-kata itu sama sekali tidak membuat Sandara merasa lebih baik.

.

.

“TROLL?” Sandara terpekik saat mendengar Yongbae menyebutkan nama makhluk itu. “Troll, makhluk yang hanya ada didalam buku fiksi karya JK. Rowling dan J.R.R. Tolkien? M, mereka ada?” Sandara berkata takjub.

Sandara pernah membaca makhluk itu saat dirinya sedang tergila-gila duduk dipojok ruangan sambil membaca berjam-jam. Troll merupakan makhluk buas sejenis raksasa dalam cerita-cerita rakyat skandinavia. Mereka hidup di gua-gua yang dalam dan gelap, atau didalam tanah. Mereka berukuran lebih besar dari pada manusia dan memiliki tenaga yang besar.

“Diamond itu berada didalam gua Troll.” Top melanjutkan tanpa memperdulikan ketakjuban Sandara. “Itu artinya kita harus masuk kesana dan mengambilnya.”

“Jadi kita datang kerumahnya sambil mengetuk pintu dan berkata, ‘Hallo Troll yang tampan dan baik hati, bolehkah kami mengambil diamond milikmu untuk menyelamatkan nyawa teman kami’?” Seungri berceloteh dengan nada riang yang membuat seluruh anggota kelompok itu menatap kesal kearahnya. “Yeah, sepertinya cukup mudah bukan?”

“Gua itu terletak dilereng bukit yang sangat curam. Untuk sampai ke mulut gua saja sudah sangat sulit. Belum lagi, gangguan yang akan datang jika Genosida menyadari keberadaan Sandara.” Bom berkata khawatir. Wajah manisnya ketakutan. “Aku benci ketinggian, apalagi gua itu pasti akan sangat bau.” Tambahnya.

Didalam kisah fiksi yang pernah dibaca Sandara, Troll itu mati dengan mudah karena mereka sebenarnya bodoh. Contohnya dalam kisah Harry Potter, saat makhluk raksasa yang hidup di pegunungan dan sangat buas itu masuk ke kamar mandi wanita di Hogwarts. Harry dan Ron berhasil membekukan Troll itu hanya dengan mantra sederhana. Tetapi masalahnya mereka semua disini tidak memiliki tongkat sihir atau mantra ajaib. Mereka hanya memiliki kemampuan bertempur dan juga api.

“Api” Sandara berkata pelan. Tablo menolah padanya dengan pandangan bertanya. “Bukankah Troll itu sangat bodoh? Kita bisa mempermainkan makhluk besar itu, atau mungkin memanggangnya dengan api kalian.”

“Api kami memanggang makhluk sebesar itu? Itu mustahil. Kulitnya juga sangat tebal, itu mustahil.” Minzy berkata lemah.

“aku tidak suka mendengar kata ‘Mustahil’ disaat belum mencoba.” Jiyong menatap anggotanya dengan tegas. “Ini kesempatan kita satu-satunya untuk menyelamatkan Sandara dan menghancurkan Genosida.”

“Itu benar, makanya kita harus mendapatkannya. Guys! Kita bisa! Kita lebih pintar dari Troll busuk itu!!!” Bom berkata bersemangat.

“Andai saja kita memiliki orang didalam Genosida yang bisa dimintai keterangan mengenai kelemahan-kelemahan dari Genosida. Semuanya mungkin lebih mudah.” Yongbae mendesah kesal.

“Kelompok air punya.” Sandara nyeletuk tanpa berpikir lagi. Sekarang seluruh anggota kelompok api  menatap Sandara dengan mata lebar mereka karena terkejut. “Eeerr… mereka mempunyai Jo Kwon didalam kelompok mereka.”

“Jo Kwon, si kondektur Midnight Bus?” Jiyong bertanya antusias. Sandara hanya mengangguk. Memang ada yang aneh dengan si Jo Kwon itu. Sandara sedikit tidak suka pada pria aneh itu.

“Guys, sepertinya kita harus menculik satu lagi anggota air.” Jiyong menyeringai senang.

“Sepertinya, air dan api memang akan selalu berhadapan bukan?” Yongbae menepuk bahu Jiyong sambil ikut tersenyum.

“Aku hanya tidak sabar melihat wajah si pengkhianat Chaerin menderita lagi.” Seringai licik jiyong semakin melebar. “Ini akan seru”

.

.

Tebing curam itu dipenuhi oleh batu-batu besar berwarna abu-abu. Sandara harus berusaha menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh kejurang. Angin berhembus dengan sangat kencang dan dia merasa bisa saja terbang terbawa angin jika tidak segera bergerak.

“Mulut gua diatas sana?!” Seungri berteriak kencang melawan deru angin pada Jiyong yang sedang memanjat tebing dengan batu-batu besar.

“Aku melihat mulut gua! Cepat naik!” Jiyong berteriak sambil terus memanjat.

Naik? Sandara masih menapak pada batu besar yang menahan berat tubuhnya. Demi tuhan, dia tidak pernah mendapat pelajaran memanjat tebing. Sekalipun seumur hidupnya, gadis itu tidak pernah mau mengorbankan tangannya untuk mencengkram batu-batu tajam yang tidak berbentuk itu. Dan parahnya, tidak ada alat pengaman apapun yang bisa menyelamatkan nyawanya kalau dia terjatuh.

“Dara-yaa, pegang saja pinggangku erat-erat dan ikuti langkah kaki dan tanganku, oke?” Seungri menghampiri Sandara yang kebingungan. Dara mengangguk dan mulai memeluk pinggang Seungri dengan erat.

Angin yang berhembus dengan kuat itu membuat Sandara hampir tuli, karena apapun yang didengarnya hanya deru angin. Matanya mulai berair saat dia menjejakkan kakinya mengikuti langkah kaki Seungri.

Seluruh anggota mulai memanjat dan berusaha untuk tidak terjatuh, untungnya, bebatuan tebing itu sangat besar sehingga mudah untuk dipanjat dan tidak licin. Sandara masih berusaha mengikuti jejak Seungri sambil mencengkram jaket pria itu erat-erat. Saat disadarinya sesuatu yang aneh mulai terjadi.

Yang didengar Sandara sekarang bukan hanya deru angin, tetapi pekikan melengking yang menyebar diseluruh udara.

“AAAARRRGHHH!!!” Bom menjerit panik, Sandara menoleh dan lagi-lagi gadis itu ketakutan.

Ribuan burung kecil berwarna hitam mulai berterbangan menyerbu mereka. Paruh burung-burung itu sangat lancip dan jumlah mereka hampir ribuan. Sekarang yang Sandara bisa lihat hanya kepakan-kepakan hitam sayap burung-burung itu, Sandara menepis dengan panik, burung itu mulai menyakitinya, mereka mematuk dan menggigit, seolah Sandara hanya sebongkah daging segar yang harus dimakan.

“GENOSIDA MENEMUKAN SANDARA!!!” Seungri berteriak panik, tangan pria itu mencengkram tangan Sandara dengan erat, tidak perduli jika seluruh dagingnya habis dimakan oleh burung-burung itu. Dia tidak boleh kehilangan Sandara. “Dara-yaa! Pegang aku!!!” Seungri mengeluh menahan rasa sakit.

Sandara terus melawan, Berusaha membuat burung-burung disekitarnya pergi, tidak peduli jika dia harus terjatuh, rasa sakit diseluruh tubuhnya membuat gadis itu terus mengerang dan menjerit. Merasakan sebongkah demi sebongkah daging ditubuhnya dipatuk oleh burung-burung itu.

Pegangan Seungri melemah karena tangan Sandara mulai licin “ARRRGHH!!! HYUNG!!!” Seungri mengerang, berusaha meminta pertolongan dari siapapun.

Tangan Sandara semakin merosot kebawah dari pegangan Seungri. Darah cair yang mengalir ditangan mereka membuat pegangan Seungri semakin licin, hingga perlahan, pegangan Seungri terlepas. Seungri meneriakkan kata TIDAK tanpa suara.

Sandara merasakan tubuhnya mulai terjatuh dan melayang diudara yang bebas. Saat burung-burung itu semakin sedikit, gadis itu tersadar kalau dirinya akan terjatuh tepat kearah jurang curam. Dengan cepat, Sandara terus meluncur. Meninggalkan teman-temannya yang masih berjuang melawan burung-burung itu.

Apa yang akan menantinya dibawah sana? Batu? Air? Tanah? Seperti apa rasa sakitnya nanti? Apa tubuhnya akan hancur? Pertanyaan itu berputar diotak kecil gadis itu. Dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak bisa menggapai apapun untuk menahan laju jatuhnya.

Sandara terus terjatuh dan terjatuh. Menunggu kematian yang akan segera menjemputnya…

TO BE CONTINUED

NOTE

Moohooon komentarnya^^ Saya berterimakasih banyak untuk readers yang setia baca FF ini *Sujud sukur* kekeke Hope u like it! Thanks to admin RFF yang sudah bersedia nge-post FF saya *cium* see u soon😉

26 thoughts on “[FF Freelance] Genosida – Find The Diamond (Part 4)

  1. omoo ternyata part 4 nya uda di post..ketinggalan lama nih..waa makin keren aja ceritanya..bener2 kayak negeri di novel2 gitu..
    jiyong pasti dendam bgt ya ma chaerin..aa semoga dara selamat..

  2. CL sama Jiyong ternyata saling mencintai ya di masa lalu hmmm bagus juga. Aku sempet heran saat liat Jiyong ngomong sama CL dengan ekspresi yang dingin.. ternyata ada peristiwa besar dibalik itu semua toh Oh ya gimana sama nasib Dara yaa?

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s