[FF Freelance] Rock To Diamond (Prolog)

RTD-newJudul     : Rock-To-Diamond

Author  : salicelee

Rating   : Teen

Length  : Chaptered

Genre   : AU, Romance, Friendship, School-Life, Family

Main Cast :

–          Lee Jieun/IU

–          Kim Taeyeon of SNSD

–          Kim Myungsoo of INFINITE

–          Cho Kyuhyun of Super Junior

–          Kangjun of C-Clown

Support Cast :

–          Lee Donghae of Super Junior

–          Im Yoona of SNSD as Lee Yoona

–          Lee Sungyeol of INFINITE

Disclaimer :

I, salicelee, 100% own this fiction’s plot. Please don’t plagiarize it. Thanks for the admin[s] who has[ve] posted this. Have been posted in my blog: http://leehaeyeonff.wordpress.com/ and IFK: http://indofanfictkpop.wordpress.com/ before

Please enjoy! O u O


 

R O C K – T O – D I A M O N D

PROLOG

 

-ireokhe joheun-nal…” seorang gadis mengakhiri lagu kesukaannya dengan merdu. Ia menghela nafas 2 detik. Lalu suara tepuk tangan riuh memenuhi ruang karaoke berisikan 1 orang tersebut. Lalu siapa yang bertepuk tangan? Itu suara mesin karaoke yang ada di ruangnya.

 

Kring… Kring…

Bunyi ponsel gadis itu berbunyi.

Glek.

Ia menelan ludah. ‘Evil Guy’ tertera jelas tulisan tersebut di layar ponselnya. Tangannya sedikit bergetar ketika memegang ponselnya. Ia menggigit bibirnya seperti dilema antara mengangkat panggilan tersebut atau tidak. Bola matanya berputar.

“Aduh, untuk apa dia meneleponku?” gumamnya kecil.

Gadis itu hendak menekan tombol merah yang berada di layar ponselnya. Tapi sekilas wajah manusia yang meneleponnya itu terlintas di benaknya. Wajah yang sangat ia benci dan takuti. Akhirnya ia mengangkat panggilan dari yang disebut evil guy itu dengan takut-takut.

Ya! Lama sekali!” ujar suara di seberang sana.

“N-ne…. Ada apa?” katanya.

Pip.

Tiba-tiba sambungan telepon terputus.

Gadis itu membuang nafas dengan lega meski rasa bingung masih berkecamuk dalam kepalanya. Ia mengambil buku berisi nomor-nomor lagu yang bisa dinyanyikan. Ia menekan beberapa tombol di pad yang tersedia sambil sesekali melirik ke buku tersebut lagi.

“2380—“ gadis itu terhenti. Matanya membulat, seorang laki-laki tinggi dan tampan melewati ruangan karaokenya.

“K-kenapa dia bisa ada disini?!” Keringat dingin bercucuran dari dahinya.

 

Brak!

Bunyi pintu kaca karaoke itu ditubruk tangan seseorang. Sebuah bayangan terlihat di depan pintu.

E…. vil… guy,” Gadis itu mendongakan kepalanya sambil menganga ketakutan. Ia membuang nafas.

Pria itu mengangkat salah satu ujung bibirnya.

“Buka pintunya,” pinta pria itu pelan namun tegas.

Gadis itu masih menggeleng tidak percaya dengan keringat bercucuran dari dahinya yang kini sudah sampai ke lehernya.

“Cepat buka!” Pria itu menggedor pintu dan berusaha membuka kenop pintu dengan kasar.

Gadis itu mengarahkan tangannya ke kenop pintu dengan takut-takut. Lagi-lagi suara pria itu berteriak kencang, membuat gadis itu semakin takut.

Cklek.

Pintu terbuka dan pria itu langsung menarik tangan gadis itu dengan kasar menuju ke sebuah lahan kosong penuh rerumputan.

“Babiku harus menuruti permintaan majikannya bukan?” pria itu tersenyum dengan tatapan yang sulit diartikan.

Gadis berbaju hitam dengan rok panjang itu hanya menunduk sedih.

“Oi, oi Myungsoo-ah apa kau tidak terlalu kejam pada gadis ini?” Kata salah satu teman Myungsoo yang sedari tadi duduk di rumput.

“Sungyeol-ah, Myungsoo itu tidak punya perasaan, kamu kan sudah tahu itu sejak kelas 7.” cetus Woohyun, temannya yang lain. Sedangkan pria yang dipanggil Sungyeol itu hanya mendengus kemudian diam dan kembali memainkan i-padnya.

“Gadis kau bilang?” Myungsoo mengangkat salah satu ujung bibirnya. Ia menatap gadis itu dengan dingin. “Ini seekor babi. Bukan seorang gadis.”

Gadis itu menahan tangis. Matanya memerah dan panas. Bulir-bulir air mata mulai menggenangi pelupuk matanya.

“Babiku tidak boleh menangis—“ Myungsoo membelai rambut gadis itu dengan lembut. “Kenapa kau jadi begini, hm?” Myungsoo mengangkat salah satu alisnya.

Gadis itu mulai terisak pelan. Beberapa tetes air mata sudah mengucur, membasahi pipinya.

“Jangan menangis! Kau tidak boleh menangis!!” Bentak Myungsoo kasar tepat di wajah gadis itu.

“Oi—“ Sungyeol berusaha mencegat Myungsoo tetapi langsung dicegah Woohyun.

“Jangan… Nanti kau ikut jadi sasaran manusia es itu,” bisik Woohyun sambil menahan Sungyeol yang ingin berlari ke arah Myungsoo dan ‘gadis babi’ tersebut.

“Ya! Mana bisa aku—“

“Sstt.. Sudahlah,”

“Tapi, dia sudah terlalu sering dibully oleh Myungsoo…”

Woohyun hanya menggeleng sambil menahan Sungyeol.

Suara isakan gadis tersebut masih terdengar jelas. Gadis itu menggigit bibirnya pasrah. Myungsoo mendekati gadis itu sambil sedikit menunduk agar arah tatapnya dan gadis itu sejajar. Myungsoo memegang pipi chubby gadis itu dengan kedua tangannya, lalu menghapus air mata yang terus bercucuran dari pelupuk mata gadis tersebut dengan kedua jempolnya.

“Kubilang, berhenti menangis” ujar Myungsoo lembut.

Tapi apalah, gadis itu masih menangis ketakutan.

“Berhenti menangis! Kau ingin pulang tidak?!” Bentak Myungsoo. Gadis itu terkejut lalu mengangguk pelan.

“Kalau begitu jangan menangis lagi..” Myungsoo tersenyum.

Gadis itu menghapus air matanya dan langsung berlari pulang membawa tasnya yang tergeletak di tanah.

TIN! Bunyi klakson memekakkan telinga. Gadis itu hampir tertabrak mobil taksi yang sedang menepi. Ia kembali berlari menyebrangi jalan dan lama kelamaan bola mata Myungsoo tidak mendapatkan sosok tersebut lagi.

Fiuh..” Myungsoo membuang nafas.

“Waah, Myungsoo kami memang benar-benar sudah mau gila!” Teriak Woohyun dan Sungyeol bersamaan.

Myungsoo hanya melemparkan smirk dan menatap langit. “Kau tidak tahu gadis itu,” gumamnya.

“Gadis itu? Lee Jieun kan? Aku tahu kok,” Sungyeol menatap Myungsoo bingung.

“Tidak. Kau tidak tahu.” Jawaban yang keluar dari mulut Myungsoo membuat Sungyeol dan Woohyun saling melemparkan pandangan ‘dia memang manusia aneh’.

 

* * *

Sebuah mobil sedan hitam melaju kencang mengikuti taksii yang tengah melaju di kecepatan 120 km/jam.

“Nona!!” Teriak supir sedan hitam tersebut sambil sesekali mendecak kesal.

“Pak… Tolong lebih kencang lagi..” Pinta seorang gadis cantik sambil menepuk pelan bahu supir taksi itu berkali-kali.

“Tidak bisa nona, dalam 30km terdekat kita akan kena macet,” pria paruh baya yang menjadi supir taksi itu melirik GPS sambil menurunkan kecepatannya menjadi 60km/jam.

“K-kalau begitu..turunkan aku disini… Cepat cepat!” Pinta gadis cantik itu takut-takut.

“Aduh tidak bisa sekarang.. Nanti–”

“Pak… Ku mohon!! Aku bayar argomu 3 kali lipat!!” Gadis itu mengeluarkan uang dalam dompetnya dan menyerahkannya kepada supir tersebut. Supir itu langsung berhenti namun tiba-tiba supir itu menekan klakson dengan kesal. TIN!

“Aduh, dasar wanita aneh masa berlarian di tengah jalan begitu! Untung tidak tertabrak!” dengus supir itu sambil memerhatikan gadis muda yang berbadan tambun yang berjarak beberapa meter dari taksinya.

Gadis yang di dalam taksi tersebut tak mengindahkan kata-kata supir taksi itu, ia berlari ke dalam apartement yang tidak terlalu mewah isinya.

“Nona Taeyeon!” Teriak pria yang tadi berada di mobil sedan hitam sambil mengejar gadis cantik yang dipanggil Taeyeon tadi.

 

Taeyeon menekan tombol Lift dengan kasar. Pintu Lift tidak kunjung terbuka.

Taeyeon yang bingung harus berlari ke arah mana pun akhirnya sembarangan berlari menyusuri koridor apartement dan menaiki tangga darurat yang tersedia di tiap ujung koridor menuju lantai 2.

Sesekali Taeyeon melirik ke belakang, takut supir sedan hitam itu terus mengejarnya.

“Nona! Cepat pulang! Tuan bisa marah kalau begini!” Teriak supir sedan hitam yang ternyata adalah pesuruh ayah Taeyeon.

Taeyeon menggigit bibirnya sambil terus berlari, jantungnya sudah tak karuan, lalu ia melirik ke belakang. Kemudian dia menabrak pintu yang sedang dibuka di koridor lalu jatuh.

“Aduh..” Taeyeon meringis kecil.

“Wuaahh.. Mian eonnie! Aku ingin keluar tadi,” gadis gemuk itu berjongkok perlahan membantu Taeyeon berdiri.

“Aku maafkan jika kamu menyembunyikanku di rumahmu….” Pinta Taeyeon sambil mengelus dahinya yang memar.

“E-eh? Memangnya kenapa?” Tanya gadis gemuk itu bingung.

“Nona!!!” Tiba-tiba pesuruh tersebut berteriak dengan nafas tersengal-sengal karena masih berlari mengejar Taeyeon.

“Sekarang tolong aku dulu!” Rengek Taeyeon dengan wajah memelas.

“Ah baiklah, tapi nanti ceritakan ya” gadis itu langsung membawa Taeyeon masuk ke apartementnya.

 

Suasana apartement gadis gemuk ini sangat berantakkan. Lantainya pun lengket. Tapi demi lolos dari kejaran pesuruh ayahnya dia rela tinggal di tempat yang menurutnya kecil ini.

“Maaf berantakkan.” Ujar gadis gemuk itu.

“Ah, tidak apa-apa,” Taeyeon menggeleng cepat. Taeyeon berjalan meliha figura yang terpajang di dinding ruang tamu. Ia memiringkan lehernya sambil menatap salah satu foto yang menurutnya aneh. Figura tersebut berisi 3 perempuan. Matanya membulat tapi masih dalam ekspresi berfikir.

“Umm hei, kau fansnya Lee Yoona?” tanya Taeyeon.

“Bukan, mana mungkin dengan gadis seperti itu..” ujar gadis gemuk itu sambil memakan chipsnya.

“Gadis seperti itu? Lalu mengapa ada fotonya?”

“Dia kakakku….” Ujar gadis gemuk itu yang membuat suasana hening seketika.

Semenit kemudian, Taeyeon langsung bersembur tawa tapi, sambil menahan tawanya. “Bohong ah… dasar kamu, kalau fans ya bilang saja.”

“Yah… memang tidak akan ada yang mempercayai itu…” ujarnya santai.

Taeyeon mengindikan bahunya dan berjalan mendekati gadis gemuk itu.

“Jika kau benar adiknya, apa Yoona melakukan operasi plastic?” tanya Taeyeon berjongkok menyamakan posisi badannya dengan gadis gemuk yang sedang duduk tersebut.

Ani! Nae eonni itu cantik natural! Entah darimana asalku… Mungkin aku anak pungut…” celoteh gadis itu.

Ne?! Jangan sembarangan bicara! Kalau begitu Yoona tinggal disini, ya? Oh ya, ngomong-ngomong siapa namamu?” Taeyeon duduk di lantai dan ikut menyantap chips gadis itu.

“Tidak, aku tinggal sendiri.”

“Eh? Kok begitu…?”

“Kan sudah kubilang, kemungkinan aku anak pungut…” jelas gadis itu sambil mendesah.

“Ah, kau ini… Siapa namamu? Kau belum memberitahuku..”

“Jieun. Lee Jieun.” Ujarnya Singkat.

“Ah, aku pernah mendengar namamu dari Yoona!” kata Taeyeon sambil tersenyum.

O? Jeongmal? Memangnya kau siapanya?” tanya Jieun langsung.

“Temannya, kau tidak tahu aku?” tanya Taeyeon kembali.

Hm?” Jieun membalikkan badannya dan menatap Taeyeon. Kemudian alisnya mengerut, ia menggosok hidungnya. “Sekilas kau mirip Kim Taeyeon eonni..” sambungnya.

Ya! Itu aku!” ujar Taeyeon sedikit gemas.

“Hah?!” Jieun melongo. “Bohong.” Tambahnya.

“Ish, kau ini… Lihat aku dengan benar, jangan sekilas-sekilas.” Taeyeon berdecak sebal.

“Tidak mau, aku malu, nanti kamu bisa muntah melihat wajahku…” kata Jieun sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Ya! Jangan bilang begitu. Yoona cantik, kau juga pasti memiliki sisi cantiknya! Sini!—“ ujar Taeyeon memaksa sambil berusaha meraih tangan Jieun. “Ugh, Kemari….” Erangnya kecil.

Eonni…. Tapi kau janji jangan menertawaiku seperti tadi, ya…” gumam Jieun lemah. Suaranya terdengar seperti menahan tangis.

“K-k-kau menangis? Aduh apa aku terlalu memaksamu…. A-aku janji tidak akan tertawa!” ujar Taeyeon sambil membentuk huruf ‘v’ dengan telunjuk dan jari tengahnya, meskipun ia sendiri tidak yakin akan tertawa atau tidak kelak.

Jieun membalikkan badan dengan perlahan lalu mengangkat wajahnya yang merah.

Taeyeon terdiam sesaat sambil menatap wajahnya.

“K-k-kau benar-benar Kim Taeyeon!! Eonni! Aku fans mu!!!” teriak Jieun girang. Jieun langsung memeluk Taeyeon yang membuat Taeyeon agak terperanjat kaget sambil sekuat mungkin menahan berat badan Jieun. Taeyeon mendesis. “Jangan terlalu kencang…” Lalu mereka melepaskan pelukan.

“Hei Jieun-ah.. Coba lihat kesini..” pinta Taeyeon terkikik kecil. Jieun langsung menatap lantai dengan pasrah.

“Ahh.. Jieun-ah, bukan begitu, aku tertawa karena kau bodoh,” kata Taeyeon menutup mulutnya menggunakan punggung tangannya.

“Bodoh?” Jieun menatap Taeyeon.

“Kau itu cantik. Kau tidak sadar akan hal itu…” Taeyeon tersenyum.

“Tapi aku gendut….”

“Diet! Sini chips ini buat aku saja! Kau diet!” ujar Taeyeon merebut bungkusan chips dari tangan Jieun.

“Ah, eon—“ Jieun berusaha meraih cemilannya. Tapi mendadak ia terhenti. ia menatap sekelilingnya. Berantakkan. Kemudian ia menatap Taeyeon dengan mata berbinar-binar.

Eonni, kamu kan ulzzang… ajarkan aku diet, ya? Bagaimana?” tanya Jieun sambil mengedipkan kedua matanya dengan genit. Taeyeon tertawa kecil. “Itu niatku sejak awal…” ujar Taeyeon.

Jieun langsung serasa dihadiahi emas oleh langit. Bagaimana tidak, diajari diet oleh idolanya itu merupakan sebuah kehormatan besar.

“Berapa yang harus kubayar?” tanya Jieun antusias.

“Tidak ada. Hanya saja…” Taeyeon tidak melanjutkan kata-katanya.

“Hanya saja?”

“Ijinkan aku tinggal disini.” pinta Taeyeon.

“Hanya itu?” Jieun mengedip tak percaya.

Taeyeon mengangguk kecil sambil tersenyum. “Tentu saja, eonni!” Jieun langsung meloncat gembira, ia merasa ada seseorang yang naburinya bunga-bunga 7 rupa, mendoakannya siang dan malam sampai sekian beruntung. Tinggal dengan idolanya. Oh tuhan! Kapan lagi?!

“Sekarang….” Kata Taeyeon sambil menekankan ucapannya. Jieun menoleh dan melemparkan pandangan ‘apa lagi’.

“Diet kan?” Taeyeon berdiri sambil membersihkan celana panjangnya. Jieun mengangguk cepat sambil tersenyum lebar.

“Bersihkan apartementmu. Itu akan mengurangi banyak kalori.” Ucap Taeyeon sambil tersenyum penuh arti. Ucapan Taeyeon langsung membuat Jieun down. “Ayo! Aku akan menontonmu di sofa. Bersihkan yang rajin ya!” ujar Taeyeon langsung berlalu menuju sofa kulit bludru berwarna krem kehitaman sambil terkekeh.

Eonni…….” Jieun merengek.

“Mau kurus tidak? Aku serius.” kata Taeyeon meyakinkan Jieun. Mau tak mau akhirnya Jieun menuruti kata Taeyeon. Lebih tepat mungkin mempercayainya.

Eonni, kamu belum cerita alasan kamu dikejar…” kata Jieun sambil mulai memungut sampah-sampah berserakan di dapurnya.

“Ah itu ya? Garis besarnya aku disuruh pulang ke rumah, tapi aku tidak mau karena ada satu hal…” ucap Taeyeon sambil merebahkan badannya di sofa.

“Itu aku juga tahu eon..

“Kalau sudah tahu kenapa bertanya?” Taeyeon menjulurkan lidahnya.

Eonni…” ujar Jieun agak ragu. “Baiklah, mungkin eonni belum ingin menceritakannya…” sambung Jieun dan lanjut membersihkan meja makannya.

Taeyeon memejamkan matanya perlahan. “Jieun…” gumamnya.

“Ya?” balas Jieun yang masih sibuk dengan ‘pekerjaannya’.

“Apa aku boleh tidur disini?” tanya Taeyeon dengan suara yang terdengar menahan tangis.

“E-eh? Tentu saja.. anggap saja ini rumahmu sendiri…”

Gomawo…” ujar Taeyeon terisak kecil.

Eonni, kamu kenapa?” tanya Jieun mendekati Taeyeon.

“Kalau aku anggap ini rumahku, aku tidak akan bisa tidur dengan tenang dan merasa nyaman…” cetus Taeyeon masih dengan isakannya. Jieun mengelus kepala Taeyeon lembut.

Meskipun aku tidak tahu apa yang terjadi padamu eon, aku hanya ingin kau tidak bersedih lagi…” pikir Jieun dalam hati. Ia merasa ia tidak perlu mengeluarkan kalimat tersebut di hadapan Taeyeon. Ia merasa Taeyeon lebih membutuhkan dirinya yang mematung diam. Setelah menyadari bahwa Taeyeon sudah mulai tertidur, Jieun melanjuti pekerjaannya yaitu, membersihkan apartementnya yang super kotor ini.

 

* * *

T O   B E   C O N T I N U E

 

Advertisements

One thought on “[FF Freelance] Rock To Diamond (Prolog)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s