Pandora [Chapter 2]

pandora

 

Author: ree

Genre: AU, crime, mystery, fantasy, romance

Rating: PG-15

Length: chaptered

Casts: Krystal Jung (Jung Soojung) f(x), Kang Minhyuk CNBLUE, Lee Jonghyun CNBLUE, Kai (Kim Jongin) EXO

Previous: Prologue | 1

Disclaimer: Just my imagination

 

 

 

“… Pandora was warned by Prometheus not to open the box…”

 

 

***

 

 

Two Weeks Ago…

Kang Minhyuk’s Apartment, Sogong-dong, Jung-gu, Seoul

00.05 AM

“Coba bayangkan Minhyuk, sekarang dia berani meneleponku malam-malam! Memang dia pikir siapa dia?!”

Minhyuk menutup pintu mobilnya dan menekan salah satu tombol pada kunci yang dipegangnya. Bibirnya tak bisa berhenti mengulum senyum mendengar celotehan Soojung di seberang telepon. Tampaknya gadis itu benar-benar sedang dalam mood yang tidak baik malam ini.

“Lalu kau sendiri? Kau juga meneleponku malam-malam.” Goda Minhyuk.

“Jadi kau tidak suka kutelepon? Oh. Baiklah.”

Pria itu terkekeh, “Bukan begitu, Soojung-ah…” entah bagaimana ia harus mengatakannya. Gadis itu tidak suka dengan Jongin yang meneleponnya malam-malam, tapi bukankah ia juga melakukan hal yang sama pada Minhyuk? Sayangnya Minhyuk tidak bisa─dan tidak akan pernah bisa─membenci apapun yang dilakukan Soojung, seperti gadis itu membenci apapun yang dilakukan Jongin.

“Sebaiknya kau tidur. Kau pasti lelah setelah menangani kasus tadi.” Saran Minhyuk, mengingat ia dan Soojung baru saja pulang setelah melakukan olah tempat kejadian perkara kasus pembunuhan yang terjadi di salah satu perguruan tinggi khusus wanita.

Ia mendengar gadis itu menghela napas berat, “Baiklah.”

Setelah sambungan telepon terputus, Minhyuk melanjutkan langkah menuju apartemennya yang terletak di lantai delapan. Langkahnya terhenti ketika sayup-sayup terdengar suara di basement yang sepi itu.

Minhyuk menoleh ke belakang, mencoba mencari sumber suara tersebut. Ia mengira tak ada orang lain selain dirinya karena malam telah larut. Tadinya ia menganggap itu hanyalah suara petugas keamanan dan berniat melanjutkan langkahnya, namun suara erangan kecil yang terdengar setelahnya cukup mengusik rasa penasarannya.

Minhyuk melangkah perlahan ke salah satu sudut basement yang ia duga sebagai sumber suara. Dugaannya tepat, karena di sana─di pojok dinding yang sedikit gelap dan luput dari penglihatan orang lain─tampak seorang pemuda berkulit putih pucat dan berpakaian serba hitam duduk bersandar dengan napas tidak beraturan. Penampilannya sedikit berantakan dan kondisinya terlihat lemah. Awalnya Minhyuk mengira pria tersebut adalah seorang pemabuk atau berandalan yang sedang bersembunyi, namun entah kenapa perasaannya tidak mengatakan demikian. Penampilannya terlalu rapi untuk seorang berandalan dan kondisinya terlalu aneh untuk seseorang yang sedang mabuk.

Dengan ragu akhirnya Minhyuk memutuskan untuk mendekati orang tersebut. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya seraya memegangi bahu pria itu.

Pria berkulit putih pucat itu mendongakkan kepalanya. Minhyuk sedikit terkejut melihat adanya darah di sekitar mulut pria itu. Bola matanya yang─ia yakin tidak salah lihat─berwarna kelabu menatapnya tajam, seolah ingin menerkamnya seperti seekor singa kelaparan. Ditambah lagi dengan adanya kedua taring di rahang bagian atasnya yang ukurannya sedikit lebih panjang dibanding manusia lainnya.

“Si…siapa kau…?” pertanyaan itulah yang terlintas di otak Minhyuk begitu melihat penampilan pria tersebut. Penampilan yang sangat aneh untuk seorang manusia biasa. Seperti vampir yang sering ia lihat di film dan ia baca di novel fantasi.

Ya. Vampir.

Minhyuk hendak menarik tubuhnya menjauh, namun pria tersebut keburu mencengkeram bagian depan kemejanya, “Tolong aku…”

Matanya membulat, “Ap…apa?”

“Aku tidak akan menghisap darahmu… Jadi tolong aku…” lanjut pria itu dengan napas tersengal.

Dengan perasaan takut bercampur heran, Minhyuk memperhatikan penampilan pria itu dari atas ke bawah. Pakaiannya yang kotor karena tanah dan luka di beberapa bagian tubuhnya mungkin menandakan jika ia baru kabur dari seseorang… atau sesuatu. Meskipun belum sepenuhnya paham maksud perkataan pria tersebut, entah kenapa ia yakin pria itu tidak akan mencelakainya.

“Baiklah, tapi sebelumnya… tolong turunkan tanganmu…” ujar Minhyuk hati-hati. Dengan perlahan pria tersebut melepaskan cengkeramannya pada kemeja Minhyuk. Ia yang tidak melakukan apa-apa setelah itu membuat Minhyuk semakin yakin jika pria itu sungguh-sungguh pada ucapannya.

Minhyuk kemudian melingkarkan salah satu tangan pria tersebut pada bahunya dan membantunya berdiri. Sesuai dugaannya, langkah kaki pria itu terseok-seok begitu mereka mencoba berjalan memasuki bagian dalam apartemen. Minhyuk memutuskan untuk mengobati luka pria itu terlebih dahulu, sebelum menanyakan apa yang terjadi dan siapa─atau apa─pria itu sebenarnya.

 

***

Kang Minhyuk’s Apartment, Sogong-dong, Jung-gu, Seoul

07.15 AM

Minhyuk baru saja mendudukkan dirinya di sofa dan mengunyah setangkup sandwich dalam genggamannya begitu melihat siaran berita pagi di televisi. Bukan berita kriminal ataupun politik seperti dugaannya, melainkan berita mengenai kembalinya sejumlah artis di industri musik Korea dengan album baru mereka.

“Kau mengenal mereka? SHINee?” tanya Minhyuk pada pria berkulit putih pucat di sampingnya.

Sudah hampir dua minggu sejak pertemuannya pertama kali dengan pria tersebut. Jenis makhluk yang sampai sekarang belum sepenuhnya ia percaya. Pria dengan ciri-ciri yang tadinya ia kira hanya ia temui dalam cerita fantasi dan novel misteri. Pria yang penuh dengan darah dan luka ketika ia pertama kali menemukannya di basement, yang kehilangan seluruh ingatannya, baik tentang dirinya, keluarganya, dan segala hal manusiawi lainnya.

Bukannya menjawab, bibir pria itu malah terus menggumamkan kata─atau lebih tepatnya nama─yang baru saja ia dengar dari berita tadi.

“Jong… hyun… Jonghyun…”

Minhyuk memperhatikan pria tersebut. Dahinya mengernyit, “Jonghyun? Kau mengenal Kim Jonghyun?”

Pria itu memejamkan matanya dan menekan keningnya dengan sebelah tangan, tampak sedang mengingat sesuatu, “Jonghyun…”

Minhyuk tersentak, “Jangan-jangan… namamu Jonghyun?”

Pria itu meringis, “Entahlah, aku tidak ingat…”

“Baiklah, kalau begitu aku akan memanggilmu Jonghyun saja. Sudah hampir dua minggu aku memanggilmu dengan sebutan ‘kau’ atau ‘hei’. Rasanya risih.” putus Minhyuk.

Pria itu memandang Minhyuk polos. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum kembali memalingkan wajahnya dan mengangguk samar. “Jonghyun…”

Minhyuk memperhatikan pria yang mulai sekarang dipanggilnya ‘Jonghyun’ itu. Sama sekali tidak tampak berbahaya seperti pertemuan mereka pertama kali. Matanya berwarna cokelat, bukan kelabu dan tidak tampak taring yang mencuat dari rahang atasnya. Kelakuannya bahkan kelewat lugu─jika tidak ingin dibilang linglung─untuk seseorang yang tidak makan dan minum selain darah. Mungkin memang seperti inilah sosoknya jika tidak sedang merasa ‘haus’.

“Apa kau tidak lelah? Sepertinya aku belum pernah melihatmu tidur.” Tanya Minhyuk kemudian.

Jonghyun menggeleng, “Aku tidak tidur.”

“Kenapa?”

“…Tidak tahu.”

Minhyuk mengangguk-angguk, memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut dan kembali mengunyah sandwich-nya dalam diam. Percuma, pikirnya. Karena apapun yang ia tanyakan akan berakhir dengan jawaban ‘tidak tahu’. Tapi satu yang ia yakini; Jonghyun benar-benar vampir.

Tak lama kemudian, terdengar bel apartemen Minhyuk berbunyi. Segera pria itu beranjak dari kursinya dan melihat ke layar intercom. Ia hampir tersedak begitu melihat sosok yang tampak disana.

“Sial! Kenapa Soojung kemari?”

Ya! Jonghyun-ah! Cepat masuk ke kamarku.” Perintahnya pada Jonghyun.

Lagi-lagi Jonghyun memasang ekspresi bingung, “Memang kenapa?”

“Temanku datang. Cepat masuklah!” Minhyuk menarik tangan pria itu dan mendorong bahunya menuju kamarnya, “Diam disini. Jangan mengeluarkan suara sedikit pun dan jangan coba-coba kabur.”

Jonghyun─yang mulai sadar jika keberadaannya tidak boleh diketahui orang lain─hanya mengangguk patuh ketika Minhyuk menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari luar.

Ya! Kenapa kau ganti password-nya?” tanya Soojung begitu Minhyuk membukakan pintu apartemennya.

“Maaf, karena kecerobohanku tanpa sengaja tetanggaku mengetahui password yang lama.” jawab Minhyuk berbohong. Semenjak Jonghyun tinggal di rumahnya, ia memang sengaja mengganti password agar Soojung─satu-satunya orang yang mengetahui password kunci apartemennya selain dirinya─tidak bisa sembarangan masuk.

“Dasar kau ini!” cibir Soojung tanpa menaruh curiga sedikitpun.

“Ada apa kau kesini pagi-pagi?”

Gadis itu menghela napas, “Minhyuk-ah, tolong antarkan aku ke kantor…”

“Apa?”

“Atau pinjamkan aku mobilmu.”

Dahi Minhyuk mengernyit, “Memang ada apa dengan mobilmu?”

“Ayahku menyembunyikan kuncinya entah dimana dan menyuruh Jongin untuk datang menjemput.” Soojung mendecak, “Aku muak dengan semua usahanya mendekatkanku dengan orang itu.”

“Kenyataannya kau memang dijodohkan.” Gurau Minhyuk, “Duduklah. Aku mau siap-siap dulu.”

Soojung menurut. Ketika mendudukkan dirinya di sofa, tanpa sengaja pandangannya mengarah pada satu strip tablet penambah darah yang tergeletak di atas meja. “Kau anemia?” tanyanya pada Minhyuk sambil menunjukkan strip tablet tersebut.

“Oh… Yah, begitulah… Aku kurang tidur beberapa hari belakangan.” Lagi-lagi Minhyuk terpaksa berbohong. Diam-diam ia menyesali kecerobohannya membiarkan strip tablet tersebut tergeletak di sembarang tempat.

“Kau harus cukup istirahat. Kalau nanti sakit bagaimana?”

Untuk sesaat Minhyuk terdiam. Perasaannya saja, atau Soojung terdengar begitu peduli? Diam-diam Minhyuk menyunggingkan senyum. Mungkinkah gadis itu…

“Nanti kau tidak bisa membantuku mengungkap kasus.”

Senyum bahagia Minhyuk dalam sekejap berubah menjadi senyum miris. Soojung? Peduli padanya? Tentu saja karena ia partner, informan, atau apalah namanya yang hanya sebatas hubungan kerja. Seharusnya ia membuang jauh-jauh pikiran delusionalnya yang mengharapkan lebih daripada itu.

Tepat sebelum memasuki pintu kamarnya, Minhyuk baru teringat sesuatu yang penting. Jonghyun ada di dalam sana dan jika Soojung melihatnya mengunci pintu kamarnya sendiri di waktu seperti ini akan terlihat aneh. Ia pun memutar otak memikirkan cara agar gadis itu tidak curiga.

“Ah ya, Soojung-ah. Bisakah kau keluarkan mobilku dari basement dulu? Nanti aku akan menunggu di depan.” Minhyuk membalikkan badannya dan melemparkan kunci mobilnya ke arah Soojung.

Soojung menangkap kunci tersebut dengan kedua tangannya, “Baiklah.” Ia pun berjalan ke arah pintu keluar setelah sebelumnya melintasi meja makan, “Hei, aku minta sandwich-mu.”

Minhyuk mengangguk, kemudian baru membuka pintu kamarnya setelah gadis itu menutup pintu apartemennya.

“Bagaimana? Dia sudah tidak ada?” tanya Jonghyun setengah berbisik.

“Ingat, Jonghyun-ah, jangan keluar dari sini sebelum aku pulang.” Ia berpikir sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, “Nanti akan kuusahakan membawa kantong darah dari Rumah Sakit.”

Senyum di bibir Jonghyun mengembang, “Baiklah.”

Minhyuk menghela napas pelan. Baru ini satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk memenuhi rasa ‘haus’ Jonghyun akan darah, terutama di malam hari. Sosok pria itu akan berubah seratus delapan puluh derajat jika hasratnya tidak terpenuhi─menjadi liar dan brutal─dan tidak akan ada satu pun yang bisa mengendalikannya, termasuk Jonghyun sendiri.

 

***

Seoul Metropolitan Police Station, Gwanghwamun, Seoul

9.20 AM

“Ciri korban kedua sama persis dengan korban dalam kasus yang kutangani sebelumnya. Jadi kemungkinan pelakunya adalah orang yang sama. Jika ini pembunuhan berantai, sama sekali tidak ada hubungan antara kedua korban dan tidak ada ancaman atau apapun yang ditujukan pada mereka. Menurut keterangan orang-orang terdekat mereka, kedua korban tidak memiliki dendam pada orang lain dan tidak melakukan sesuatu yang dapat membuat orang lain dendam pada mereka.”

Soojung menunjukkan sederetan foto ke hadapan Jongin─pria yang saat ini tengah duduk di seberang mejanya─seraya menjelaskan keterangan-keterangan yang ia dapat setelah melakukan investigasi mengenai kasus yang terjadi beberapa hari yang lalu. Jujur, sebenarnya ia tidak terlalu suka bekerja sama dengan pria itu. Namun apa boleh buat, ia tetap harus mengutamakan profesionalisme kerja di atas kepentingan pribadi.

Bukannya memperhatikan foto-foto dihadapannya, Jongin malah memandangi wajah Soojung lekat-lekat. Tergambar jelas ekspresi kekaguman pada wajahnya.

Soojung yang merasa diperhatikan dengan intens balik menatap pria itu dingin, “Apa tidak ada hal penting yang mau kau tanyakan?” ujarnya, memberikan penekanan pada kata ‘penting’.

Jongin tersenyum. Senyum yang dapat meluluhkan hati semua wanita yang melihatnya, kecuali Soojung tentu saja, “Tidak ada, Soojung-ie. Kau sudah bekerja dengan sangat baik.”

“Bekerja sama denganku bukan berarti kau selangkah lebih akrab, Tuan Kim Jongin.” Dengan gerakan cepat Soojung merapikan kembali foto-foto yang tadi dijejerkannya dan memasukkannya dalam sebuah amplop khusus. Kentara sekali ia tidak suka Jongin menggunakan panggilan seakrab itu padanya. Ia pun bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan Jongin. Rasanya ia tidak perlu membuang-buang waktu meladeni rayuan pria itu jika tidak ingin perutnya semakin terasa mual.

Ketika ia sengaja menghentikan langkahnya di depan mesin minuman untuk menikmati secangkir kopi, pikirannya tiba-tiba saja melayang pada isi buku yang diberikan Seohyun tempo hari.

Vampir. Entah bagaimana ia harus mempercayainya. Jika dilihat dari ciri-ciri korban, bukan tidak mungkin jika pelakunya benar-benar makhluk yang satu itu. Tapi, apakah vampir benar-benar ada? Jika ia jelaskan analisisnya, pasti hanya akan dianggap sebagai lelucon yang tidak masuk akal.

“Aku pasti sudah gila.”

“Bagaimana?” entah sejak kapan seorang pria sudah berdiri bersandar pada mesin minuman dihadapannya, membuat lamunan Soojung buyar seketika. Ia pun menoleh. Rupanya Inspektur Jung.

“Bagaimana rasanya bekerja dengan Inspektur Kim?” godanya.

Soojung mendengus, “Terima kasih, Inspektur Jung. Berkatmu, sepertinya tensi darahku akan naik sedikit demi sedikit mulai hari ini.”

Inspektur Jung tertawa, “Bukankah pada akhirnya dia akan menjadi teman hidupmu?”

Tanpa diduga, Soojung mengambil sekaleng minuman yang baru saja keluar dari mesin sebelahnya dan membenturkannya ke kening pria itu, membuatnya meringis kesakitan.

“Jangan harap aku akan membantumu mendapatkan Seohyun eonni setelah kau berkata seperti tadi, Inspektur Jung Yonghwa.”

Ya! Soojung-ah! Aku hanya bercanda!”

Soojung menyodorkan minuman kaleng tersebut pada Yonghwa. Ia pun mendecak, “Kenapa kau harus melimpahkan kasus ini padanya sih? Padahal kau yang pertama kali menanganinya.”

“Oh, sepertinya kau rindu padaku.” Yonghwa tersenyum jahil.

“Tidak sebesar rindu Seohyun padamu.” Cibir Soojung.

Mata Yonghwa berbinar, “Benarkah? Seohyun rindu padaku?”

Soojung hanya mengedikkan bahu, kemudian berlalu dari hadapan Yonghwa. Terkadang ia memang suka menggoda kedua orang itu, walaupun sebagian besar merupakan balasan karena Yonghwa sering menggodanya. Entah bagaimana mereka bisa bertemu, yang jelas itu merupakan kenyataan yang mengerikan bagi Soojung. Ia jadi merasa dimanfaatkan sebagai ‘pembawa pesan’ karena intensitas pertemuannya dengan kedua orang itu jauh lebih tinggi dibanding pertemuan kedua orang itu sendiri.

Ya! Soojung-ah! Tunggu dulu!”

 

***

 

Severance Hospital, Shinchon-dong, Seodaemun-gu, Seoul

12.05 PM

Minhyuk mengamati catatannya seraya memperhatikan layar monitor. Baru saja meja elektronik yang ditiduri Jonghyun masuk kedalam scanner untuk dilihat bagian otak dan tengkoraknya. Hari ini ia sengaja membawa pria itu ke Rumah Sakit untuk melakukan berbagai pemeriksaan terkait fisik dan kebiasaannya yang tidak ‘manusiawi’ itu. Ia ingin mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dari pria itu dan sejauh ini hasil yang diperoleh hanya membuatnya geleng-geleng kepala.

Awalnya ia mengira Jonghyun mengidap porfiria, kelainan yang menyebabkan penderitanya harus terus menerima transfusi darah dan meminum darah langsung melalui mulut karena heme yang tidak sempurna. Berdasarkan pemeriksaannya, sumsum tulang dan hati pria itu tidak bermasalah, heme-nya sempurna dan tidak menumpuk di kulit. Karena jika itu terjadi, maka daerah di sekitar kulitnya akan kekurangan oksigen dan kulitnya akan tampak berwarna ungu seperti lazimnya penderita porfiria. Sebaliknya, kulit pria itu berwarna pucat seperti mayat. Kulitnya juga tidak rusak jika terkena sinar matahari. Ia juga masih belum bisa menjelaskan perubahan warna irisnya yang menjadi kelabu jika mulai merasa ‘haus’.

Satu lagi yang mengejutkan Minhyuk adalah pindaian otak Jonghyun yang baru saja ditampilkan dalam monitor. Ada sesuatu yang berbeda dari manusia biasa dan… entahlah, ia belum bisa menjelaskan lebih jauh.

Minhyuk menghela napas, “Tolong ambilkan sampel darahnya setelah ini dan bawa ke laboratorium. Setelah mendapatkan sel mukosa mulut dan saliva-nya aku akan kesana.” perintahnya pada perawat yang mendampingi Jonghyun.

Perawat itu mengangguk, “Baik, Uisanim.”

“Ah ya, nona Yoon.” Panggilnya kepada perawat tersebut setelah menyudahi prosedur CT scan pada Jonghyun, “Tolong jangan beritahu siapapun kalau aku mengambil kantong darah dari tempat penyimpanan. Kurasa aku akan membutuhkannya dua sampai tiga buah dalam seminggu sebelum menemukan cara yang lain.”

 

***

Soojung melangkahkan kakinya menyusuri lorong Rumah Sakit. Tidak seperti orang lain yang datang untuk memeriksakan diri, menjenguk teman atau sanak saudara, atau sekedar mengecek kesehatan, kehadirannya tidak lain adalah untuk bertemu dengan Minhyuk. Sebenarnya bisa saja mereka bertemu di ‘markas’ selepas kerja nanti, namun tujuan gadis itu untuk bertemu dengan Minhyuk bukan sepenuhnya karena ingin menerima informasi baru yang mungkin sudah dikumpulkan pria itu. Ia hanya ingin melepas penat selama berada dalam kantornya dan tempat inilah yang terpikir pertama kali.

Gadis itu menghentikan langkahnya tepat di depan pintu sebuah ruangan dan mengetikkan pesan pada Minhyuk. Bukan kali pertama Soojung mengunjungi pria itu di tengah jam kerjanya seperti ini, jadi ia sudah hapal letak ruangan pria itu dan bahkan beberapa perawat serta dokter lain sudah mengenali dirinya.

To: Kang Minhyuk

Hari ini aku mampir. Kutunggu di ruanganmu.

Gadis itu pun lalu membuka pintu dihadapannya. Ia yang mengira tidak akan ada siapa-siapa di dalam sana refleks menghentikan gerakannya begitu melihat seorang pria duduk di salah satu kursi.

Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Entah kenapa Soojung tiba-tiba merasakan hawa dingin menusuk ketika memasuki ruangan tersebut. Pria itu terus menatapnya tajam tanpa sedikit pun bergerak dari tempatnya. Sikap yang aneh menurut Soojung, karena biasanya orang-orang akan berdiri dari tempat duduknya atau sekedar mengedikkan kepala kepada orang yang baru datang sebagai wujud tata krama.

“Apa anda… juga menunggu Kang uisanim?” akhirnya Soojung memberanikan diri bertanya.

Hening. Pria itu sama sekali tidak merespon. Tatapannya masih tidak lepas dari Soojung, membuat gadis itu merasa risih. Entah ada yang salah pada penampilannya atau pria itu merasa terganggu. Namun jika dilihat dari pakaiannya, ia bukan orang yang bekerja di Rumah Sakit dan tidak ada yang sedang ia kerjakan, jadi apa yang membuatnya merasa terganggu?

“Aku juga sedang menunggunya.” Karena tidak juga mendapat respon, Soojung memutuskan untuk melanjutkan kalimatnya. Ia pun berjalan mendekati pria itu, “Boleh… aku duduk?”

Sementara itu, kedua tangan pria itu─Jonghyun─yang dimasukkan dalam saku mantel hitam panjangnya terkepal erat. Ia berusaha keras menekan hasratnya meskipun tidak tahu bagaimana caranya. Nalurinya sebagai makhluk penghisap darah muncul begitu saja bahkan sebelum Soojung masuk ke ruangan itu. Kerongkongannya mendadak terasa kering dan rasa haus yang teramat sangat itu harus terbayarkan saat ini juga.

Gejolak dalam diri Jonghyun semakin tak tertahankan ketika mendapati gadis itu berjalan mendekatinya. Dengan gerakan cepat ia pun mencengkeram tangan kiri gadis itu dan menghimpitkan punggungnya ke dinding, sedangkan tangan kirinya ia topangkan di sisi kanan gadis itu seolah memenjarakan tubuhnya.

Soojung hanya bergidik mendapat perlakuan semacam ini dari orang yang baru dilihatnya beberapa detik yang lalu. Mungkin saja pria berkulit putih pucat yang ada dihadapannya ini adalah pria mesum atau pria sakit jiwa yang hendak bertindak tidak senonoh. Harusnya ia berteriak atau berusaha melepaskan diri, namun suaranya seolah tertelan oleh debaran jantungnya yang semakin cepat dan cengkeraman tangan pria itu terlalu kuat sampai-sampai ia merasa pembuluh darahnya akan pecah.

Jonghyun menatap kedua manik mata gadis itu tajam. Rahangnya mengeras dan bibirnya terkatup rapat. Sebagian kecil dari dirinya menolak, namun desiran darah yang bisa ia rasakan dengan jelas dari jarak sedekat ini membuat pertahanannya yang tipis runtuh.

Jonghyun baru akan membuka mulutnya ketika tiba-tiba saja ia merasakan bahunya ditarik dengan kuat menjauhi gadis itu.

“Oh, Soojung-ah. Kau datang?”

Soojung mendongak. Dilihatnya pria bermata sipit yang─seharusnya─ia tunggu sudah berdiri tepat di belakang Jonghyun, yang langsung melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan kirinya. Minhyuk berusaha mengatur napasnya agar tidak terdengar terengah-engah. Setelah menerima pesan dari Soojung, ia yang tadinya sedang berada di laboratorium panik dan langsung berlari menuju ruangannya. Bagaimana tidak? Disana ada Jonghyun, dan ia harus mencegah pria itu bertemu dengan Soojung sebelum semuanya terlambat.

“M…Minhyuk…” panggil Soojung setelah menemukan kembali suaranya.

Minhyuk, yang tanpa diketahui Soojung menahan tangan kiri Jonghyun di balik punggungnya, memaksakan seulas senyum, “Kau pasti kesini untuk makan siang kan? Pergilah ke kantin duluan dan pesankan aku makanan, nanti aku menyusul.”

Karena masih linglung─dan tidak tahu harus menjawab apa─maka gadis itu pun mengiyakan saja, “Baiklah.”

Sepeninggal Soojung, Minhyuk melepaskan tangannya dari tangan Jonghyun dan mendengus keras. Ia marah. Ia benar-benar marah.

“Tahan dirimu. Dia temanku.” Ujarnya dingin.

“Dia pacarmu?” Jonghyun, yang mulai bisa menguasai diri, balas bertanya.

“Tidak. Tapi kalau kau berani menyentuhnya, aku yang akan lebih dulu menembakkan peluru perak ke jantungmu.” Minhyuk melangkah meninggalkan pria itu setelah sebelumnya kembali menoleh dengan tatapan mengintimidasi, “Bukankah itu yang harus dilakukan untuk membunuh seorang vampir?”

 

***

“Siapa dia?”

Minhyuk meneguk tehnya dalam diam, berusaha bersikap tenang menghadapi pertanyaan Soojung yang datang sedikit lebih lambat dari perkiraannya. Mungkin gadis itu perlu meneliti gerak-geriknya dulu sejak dirinya masuk ke kantin tadi dan sialnya, ia bisa membaca sekecil apapun perubahan ekspresi yang tergambar di wajahnya.

“Temanku. Dia baru saja sembuh dari gegar otak karena kecelakaan. Karena itulah tingkahnya sedikit aneh.” Jelas Minhyuk sebelum Soojung bertanya lebih lanjut, “Dan dia mengalami sedikit gangguan pada penglihatannya. Mungkin tadi dia mengira kau orang yang dikenalnya, makanya mengamatimu dari jarak sedekat itu.”

Soojung terdiam sejenak sebelum akhirnya menggangguk. Agak aneh sebenarnya, karena tidak biasanya gadis itu mudah percaya. Untuk sementara Minhyuk bisa bernapas lega, walaupun ia tahu hal ini tidak akan berlangsung lama.

“Kau tahu,” Soojung akhirnya angkat bicara setelah selesai mengunyah bibimbap-nya, “Aku sudah menyelidiki korban pada kasus beberapa hari yang lalu. Seperti dugaanku, cara si pelaku membunuh korban pada kasus kedua sama persis dengan kasus pertama. Hanya saja sampai sekarang aku masih belum tahu motif si pelaku. Tidak ada satu pun barang berharga yang diambil dan tidak ada sesuatu yang dilakukan kedua orang itu yang membuat orang lain dendam pada mereka. Aku sudah sengaja mempertemukan beberapa saksi dan orang terdekat dari kedua korban tapi mereka sama sekali tidak saling mengenal apalagi berhubungan.”

“Bagaimana dengan mantan suami dari korban kedua? Kudengar mereka sudah bercerai.”

“Dia sudah pindah ke Gwangju dan menikah lagi disana, bahkan sudah punya anak dari hasil pernikahan itu. Mereka keluarga yang bahagia.”

“Lagipula…” lanjut Soojung, “…menurut keterangan saksi yang berada di tempat kejadian kasus kedua, ia melihat wanita itu diserang seorang pemuda.”

Soojung menggigit bibir bawahnya. Dari ekspresinya Minhyuk tahu gadis itu sedang memikirkan kemungkinan yang lain. Kemungkinan yang ia yakin gadis itu juga merasa mustahil untuk diutarakan. Kemungkinan bahwa pembunuh kedua korban tersebut bukan manusia.

“Mungkin dia dibunuh oleh pria mabuk yang suka berkeliaran disana.” Minhyuk mencoba membelokkan arah pikiran Soojung.

“Cara yang dipakai pelaku untuk membunuh kedua korban sama persis. Jadi kemungkinan besar pelakunya sama. Apa menurutmu dia bolak-balik dari Shinchon ke Myeong-dong tiap malam dalam keadaan mabuk? Rasanya tidak mungkin.”

“Mungkin kebetulan saja dia ada di kedua daerah itu saat kejadian.”

“Shinchon… Myeong-dong…” Soojung bergumam, “Jika benar ini pembunuhan berantai, aku masih belum tahu apakah dia memiliki pola khusus dalam memilih daerah tempat aksi kejahatannya. Tapi yang jelas, aku tidak akan membiarkan kasus selanjutnya terjadi.”

Minhyuk menelan ludah. Ia tahu posisinya sulit. Di satu sisi ia harus membantu Soojung mengungkap pelakunya. Namun di sisi lain firasatnya mengatakan ada sesuatu dari diri Jonghyun dan ia rasa ia perlu melindunginya.

“Ketahuan.” Soojung tiba-tiba berujar.

Minhyuk tersentak. Benarkah ia bisa ketahuan secepat ini?

“Aku ketahuan keluar dari kantor.” Soojung menunjukkan ponselnya. Baru saja ayahnya mengirimkan pesan untuk bertanya kenapa ia tidak makan siang bersama Jongin─salah satu hal yang paling dibencinya.

Minhyuk tersenyum, menyembunyikan helaan napasnya yang tidak kentara.

“Apa dia harus selalu mengadu pada ayahku setiap kali aku tidak melakukan sesuai keinginannya?!” Soojung mendecak, lalu melemparkan begitu saja ponselnya ke atas meja.

“Rasanya dia seperti anak kecil yang merengek karena mainannya diambil.” Gurau Minhyuk, “Kembalilah. Aku tidak mau kau bertengkar dengan ayahmu lagi nantinya.”

Soojung melipat kedua tangannya di atas meja, menatap pria itu lekat-lekat, “Kau setuju aku dijodohkan dengannya?”

“Kalau itu memang yang terbaik untukmu, kenapa tidak?”

Soojung terpaku mendengar jawaban Minhyuk. Pria itu bukan orangtuanya ataupun sanak saudara yang perlu untuk dimintai persetujuan. Namun persahabatan mereka yang sudah terjalin sekian lama membuat gadis itu merasa Minhyuk juga memiliki sebagian hak dalam kehidupannya dan mendengar jawaban pria itu barusan membuatnya tidak mampu berkata-kata.

Semudah itukah?

“Kurasa kau lupa sudah berapa lama kita berteman, Kang Minhyuk.” ujarnya sarkastis. Ia menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja dan segera bangkit dari tempat duduknya, pergi meninggalkan pria itu.

Minhyuk mendengus. Tentu ia mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud Soojung. Tapi apa boleh buat, ia bukan siapa-siapa di mata keluarga Soojung terlebih setelah gadis itu dijodohkan. Dan suka tidak suka, ia harus menyadarkan gadis itu bahwa pria yang ditakdirkan untuknya adalah pria yang dipilihkan ayahnya─Kim Jongin.

Minhyuk menghentakkan sendok yang dipegangnya ke atas meja. Nafsu makannya mendadak hilang.

 

***

Karena bosan menunggu Minhyuk yang tidak juga kembali ke ruangannya, Jonghyun akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan di taman yang terletak di bagian belakang Rumah Sakit. Ia menyusuri jalan setapak, mengeksplorasi hingga bagian terjauh taman tersebut dengan langkah lambat. Sesekali ia mengadahkan telapak tangannya, merasakan hembusan angin musim gugur yang meskipun dingin, entah kenapa terasa hangat baginya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat pemandangan musim gugur seperti ini; daun-daun berwarna merah kecoklatan dan langit berawan dengan semburat oranye menjelang senja.

Ya. Sudah lama sekali.

Jonghyun merapatkan mantel dan syal di lehernya hingga menutupi sebagian wajahnya. Tidak seperti vampir yang biasa muncul di cerita klasik, ia tidak merasa takut ataupun terganggu dengan sinar matahari. Hanya saja ia merasa tubuhnya menjadi lemas dan sedikit silau. Sengaja ia memilih berjalan di bawah pohon yang sedikit jauh dari orang-orang agar bau darah mereka tidak terlalu menusuk hidungnya─yang kemungkinan besar akan membuatnya hilang kendali.

Lamunan Jonghyun buyar begitu merasakan sesuatu menyentuh ujung sepatunya. Ia menunduk dan mendapati sebuah bola karet bergulir disana.

“Ahjussi, bisa tolong ambilkan bola itu?” tiba-tiba seorang anak laki-laki berumur sekitar empat tahun berlari ke arahnya.

Jonghyun mengerjapkan mata, belum yakin sepenuhnya jika anak laki-laki itu berbicara padanya.

“Ahjussi, tolong ambilkan bola itu…” anak laki-laki itu menarik-narik ujung mantel Jonghyun dan menunjuk ke arah semak-semak.

Dengan sedikit ragu Jonghyun melangkahkan kakinya ke arah yang ditunjuk anak laki-laki tadi dan mengambil bola karet yang tersangkut disana. Ia pun lantas berjongkok dan mengembalikan bola tersebut.

Kamsahamnida, Ahjussi.” Anak laki-laki itu tersenyum riang.

Entah apa yang mendorong Jonghyun, tangannya terulur ke puncak kepala anak laki-laki itu dan mengusapnya lembut. Ia kemudian tersenyum, “Hati-hati.”

Senyum di wajah anak itu berganti dengan ekspresi bingung setelah memperhatikan wajah Jonghyun dari dekat, “Ahjussi pucat sekali. Apa Ahjussi sakit?” tanyanya polos.

Jonghyun tidak bisa menahan senyumnya mendengar pertanyaan anak laki-laki itu. Ia pun menggeleng.

“Yoogeun-ah, ayo main lagi!” tiba-tiba terdengar suara anak laki-laki lain.

Anak laki-laki yang ternyata bernama Yoogeun itu berlari menyusul teman-temannya setelah sebelumnya melambaikan tangan ke arah Jonghyun, “Ahjussi, annyeong!”

Dengan kaku Jonghyun membalas lambaian tangan tersebut. Ketika melihat anak itu tadi, entah kenapa ada perasaan aneh yang menyelimuti dirinya. Rasanya hangat… sekaligus rindu.

Ia kembali berdiri dan memperhatikan Yoogeun beserta teman-temannya yang sedang bermain bola dari kejauhan. Meskipun tidak ingat, ia yakin pernah memiliki kenangan masa kecil seperti itu. Entah kapan. Mungkin beberapa puluh tahun yang lalu? Atau beratus tahun yang lalu? Ia bahkan tidak tahu sudah berapa lama ia hidup dan menjalani kehidupan sebagai seorang pria berusia dua puluh enam tahun.

Jonghyun hendak melanjutkan langkahnya ketika telinganya tiba-tiba mendengar suara ranting yang menggesek tanah, seolah diinjak oleh sesuatu. Ia langsung menolehkan kepalanya dengan tatapan tajam. Ada seseorang─atau sesuatu─di sekitar sana, namun entah kenapa ia tidak bisa mendeteksi bau darahnya.

“Lee Jonghyun-ssi…”

Entah sejak kapan pemilik suara itu sudah berada di belakang Jonghyun─jika didengar dari suaranya. Dan lagi… Lee Jonghyun? Orang itu bahkan memanggil nama yang sampai sekarang masih terasa samar baginya.

Mungkinkah… orang itu mengenalnya?

Jonghyun membalikkan badannya, berusaha terlihat tenang meskipun diam-diam telah bersiaga penuh. Orang ini berbeda. Dan hanya ia yang tahu kenapa.

“Santai saja, Lee Jonghyun-ssi. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu.” Orang itu kembali berujar setelah mereka saling berhadapan.

Melihat Jonghyun yang tidak bergeming, orang itu pun menyeringai. Rupanya ia benar-benar waspada.

“Mungkin kau tidak ingat.” Ia melanjutkan, “Jadi, sepertinya aku perlu mengingatkanmu… tentang identitasmu.”

 

***

Seoul Metropolitan Police Station, Gwanghwamun, Seoul

2.30 PM

“Jadi bagaimana, Inspektur Kim? Anda mau datang ke karaoke sepulang kerja nanti kan?”

Jongin menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Entah ada angin apa, tahu-tahu Bang Minah, polisi wanita yang bekerja di satuan Polantas, dan ketiga temannya yang lain mengajaknya untuk pergi ke karaoke. Yah, pria itu memang tidak memungkiri dirinya cukup populer di kalangan polisi wanita, namun tetap saja membuat canggung dirinya yang tidak terbiasa pergi ke tempat seperti itu. Menurutnya tidak selevel dengan bar atau klub yang biasa dikunjunginya di malam hari.

“Kami akan sangat senang jika Inspektur Kim mau datang.” Lee Hyeri, salah satu teman Minah menggenggam sebelah tangan Jongin dengan kedua tangannya. Wajahnya tampak sangat memohon.

Tiba-tiba Kim Yura, temannya yang lain, menyikut lengan Hyeri dengan tidak sabar. Matanya melirik ke samping dan wajahnya sedikit ketakutan. Hyeri sontak langsung melepaskan kedua tangannya dari tangan Jongin begitu melihat siapa yang datang. Karena tidak ingin mencari masalah, keempat polisi wanita itu pun memilih pergi dari tempat tersebut.

Soojung─orang yang baru datang itu─sedang sibuk membaca lembaran kertas yang dipegangnya begitu melewati lorong tersebut. Ia tidak bermaksud menghampiri Jongin dan keempat polisi wanita itu sebenarnya, hanya sekedar lewat karena untuk sampai di ruang kerjanya mau tidak mau harus melintasi lorong tersebut. Ia menyadari gerak-gerik Minah dan kawan-kawannya, namun ia tidak peduli.

Ketika jarak Soojung tinggal beberapa langkah, Jongin merangkul bahu gadis itu dan mendorongnya ke arah Minah dan yang lainnya sebelum mereka semakin menjauh.

“Ini Soojung. Kalian sudah kenal dengannya?” tanya Jongin. Keempat orang tersebut menghindari bertemu mata dengan Soojung, enggan untuk sekedar menyapa. Lagipula siapa yang tak kenal Jung Soojung? Detektif wanita yang dianggap agak angkuh dan sulit didekati, yang dikenal karena kemampuannya dalam memecahkan kasus. Kepopulerannya semakin bertambah ketika tersebar kabar bahwa ia akan dijodohkan dengan Jongin.

“Dia tunanganku. Kalau kalian mengajakku, maka kalian juga harus mengajaknya.” Jongin melanjutkan kalimatnya, yang dibalas dengan umpatan tidak terima dari keempat wanita tersebut.

Soojung mendengus sinis. Ia tidak habis pikir bagaimana pria yang ada di sampingnya itu dengan bangganya menyebarkan berita bohong dan membuat orang lain salah paham. Dengan kasar ia melepaskan rangkulan tangan Jongin di bahunya dan menatapnya tajam.

“Aku bukan tunanganmu. Dan aku sedang bekerja.”

Tanpa basa-basi Soojung segera melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu. Ia sudah jengah dengan tingkah Jongin yang menurutnya sangat kekanakan.

Melihat sikap Soojung, keempat polisi wanita itu hanya bisa mencibir. Ini pertama kalinya mereka bertemu langsung dengan Soojung dan gadis itu malah meninggalkan kesan yang tidak baik.

“Apa-apaan dia itu?”

“Sombong sekali.”

Baru beberapa langkah Soojung berjalan, ponselnya tiba-tiba saja bergetar. Karena emosi ia pun menghentakkan sebelah kakinya hingga bunyi sol high heels yang dipakainya bergaung di udara.

“Sial! Apa lagi sekarang?!” dengan tidak sabar ia menekan tombol hijau pada display ponselnya kemudian menempelkannya di telinga.

Terdengar suara Jongin dari seberang, “Kalau kau mau datang, aku bisa mengenalkanmu pada anggota kepolisian la─”

Klik!” Sambungan pun terputus.

 

***

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

9.20 PM

Minhyuk mengamati dengan seksama gambar pada layar monitor dihadapannya. Ia sudah mendapatkan hasil mikroskopik sel mukosa mulut dan saliva milik Jonghyun melalui mikroskop elektron di laboratorium Rumah Sakit dan ia perlu mencocokkannya dengan sel mukosa mulut dan saliva yang ia temukan sebelumnya dari korban kasus pertama dan kedua. Jika hasilnya cocok, maka dapat disimpulkan bahwa pelaku kedua kasus pembunuhan tersebut memang Jonghyun.

Sementara itu, tanpa diketahui Minhyuk, Soojung yang sejak tadi berada di sofa tidak jauh di belakangnya melipat kedua tangannya di atas sandaran sofa sambil menopangkan dagunya. Diam-diam ia memperhatikan Minhyuk. Sedari tadi pria itu hanya diam, entah sengaja atau memang ia benar-benar sedang sibuk. Namun sikapnya itu malah membuat Soojung merasa bersalah. Masih terbayang jelas di benaknya mengenai kejadian di Rumah Sakit kemarin dan ia bohong jika tidak kepikiran mengenai hal itu.

Setelah menimbang sesaat, Soojung memutuskan untuk menarik kursi beroda tepat ke sebelah kursi yang diduduki Minhyuk dan duduk di atasnya. Ia rasa ia perlu membicarakannya dengan pria itu karena terus-terusan diacuhkan seperti tadi membuatnya serasa berada di ruang hampa udara. Semakin lama semakin menyesakkan.

“Minhyuk-ah, aku… minta maaf…” ujarnya pelan, “Aku tidak bermaksud marah kemarin… Aku… Aku hanya…”

Minhyuk menolehkan kepalanya ke arah Soojung. Dilihatnya gadis itu tertunduk, tampak ragu untuk menyelesaikan kalimatnya.

“Tidak usah dipikirkan.” Minhyuk mengelus puncak kepala gadis itu, “Kenapa kau jadi serius begitu?”

Soojung mendongakkan kepalanya dan tepat pada saat itu Minhyuk tersenyum. Bukan senyum jahil atau senyum manis yang biasa ia tunjukkan, melainkan senyum teduh yang menenangkan.

Untuk sesaat Soojung terpaku. Entah kenapa jantungnya semakin berdetak cepat dan pipinya terasa menghangat. Ia baru sadar sepenuhnya setelah Minhyuk melepaskan tangannya dari puncak kepalanya.

“Kau tahu,” Soojung berdeham, berusaha mengganti topik pembicaraan, “Aku baru mendapat keterangan kalau jaket yang digunakan wanita pada kasus kedua terbuat dari bahan kulit. Mungkin saja ada sidik jari si pelaku yang tertinggal di sana dan kita jadi semakin mudah melacaknya. Aku sudah minta tolong ke tim forensik dan hasilnya akan keluar besok.”

Mendengar penuturan Soojung, sontak gerakan tangan Minhyuk terhenti di udara. Tubuhnya serasa membeku selama sepersekian detik. Jika benar ada sidik jari─dan kemungkinan besar ada─maka pemilik sidik jari tersebut akan segera ketahuan. Jika Jonghyun selama ini tinggal di Korea, database kependudukannya akan muncul dan jika ia dimintai keterangan, maka habislah sudah.

Rahang Minhyuk mengeras. Sudah waktunya ia melakukan sesuatu.

“Soojung-ah.” ia melepas kacamata yang bertengger di hidungnya dan menutup map dihadapannya, “Apa kau tahu kisah Pandora?”

Soojung mengerjapkan matanya, sedikit heran dengan pertanyaan Minhyuk yang tiba-tiba.

“Mitologi Yunani itu? Tentang seorang wanita bernama Pandora yang diberi kotak oleh Zeus dan dilarang untuk dibuka. Tapi ia mengingkarinya dan membuka kotak tersebut, lalu segala kejahatan yang ada didalamnya tersebar ke seluruh muka bumi.” Tutur Soojung.

“Dalam kasus kali ini, kaulah Pandora-nya.”

“Apa?”

“Menyerah saja, Soojung-ah. Jangan pernah membuka kotak ini. Jangan pernah. Atau sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.”

Dahi Soojung mengernyit. Ia benar-benar terkejut dengan sikap Minhyuk tiba-tiba berbalik menentangnya seperti ini.

“Minhyuk-ah, kau─”

Minhyuk memutar kursinya menghadap Soojung. Ia meletakkan sebelah tangannya di bahu gadis itu dan menatap kedua manik matanya lekat-lekat.

“Soojung-ah, hentikan penyelidikanmu.”

 (to be continued)

____________________________

Hai! Akhirnya chapter 2 selesai juga *sigh* Maaf lama…

Makasih buat semua comment-nya di FF aku yang manapun. Maaf aku ga bales satu per satu, tapi semuanya aku baca kok🙂 Makasih juga buat yang udah bersedia nunggu *bow*

Seperti biasa, ga bisa janji chapter selanjutnya bakal cepet keluar. Soalnya kadang idenya suka timbul tenggelam. Doakan saja ya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya🙂

15 thoughts on “Pandora [Chapter 2]

  1. hallo author^^ aku suka bgt ff nya, ceritanya bagus dan bahasanya aku suka. chapter selanjutnya minhyuk sm soojung dibuat lbh romantis lg ya thor hehe dan tlg soojung jgn disatukan sm jongin😀

  2. Kereeeen bgt
    Panjang dan buat puassss akibay jeda yg lama dr patt 1 nya huaaaa
    Penasaran siapa orh yg kenal jonghyun dtaman itu. Apa dia jg sebangsa vampir

    Ini lg jongin ngeselin bgt hishhhh cekek nih gangguin soojong aja
    Dan soojong akan nurut minhyuk gak ya
    Huaaa serba nebak2 . Mending aku tunggu part 3nya

    Keep writing authornim
    Ditunggu jg part 3 ff deerburning i found you itu hehe

  3. Wah akhirnya chapter 2 ke baca jugaa,, makin seru thor,,tapi ada yang bikin penasaran ni jonghyun ketemu siapa d taman rumah sakit itu? Jangan2 ada vampir lain,,n smua kasus juga karna dia lg,, duh kepo ni thor,,, update soon yaaa,,🙂

  4. Duh semenjak dari black flower ke pandora aku jadi jatuh cinta ama karya kamu kak ><
    Kepo lagi jonghyun ketemu ama siapa'-' kenapa bisa harus minum darah, kelainan apa dia emang vampir? -..-
    Moga aja pelakunya bukan jonghyun u,u
    Terus krystal masih mau ngelanjutin penyelidikannya? -..- mending turutin aja kata minhyuk :3
    Minhyuk krystal jongin mereka bikin aku senyum2 sendiri😄
    Next updatee yaaaa, lafff <3~~

  5. nnton MHIYD ad program yg nma’a “kotak pandora”. sblum bca ff ni sya gx tau knpa dsebut’a pandora, trnyata itu mitologi yunani toh. Jd dpt wwsan baru🙂
    lanjut y thor

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s