[Special Youngjae’s Birthday] Snowy Evanescence

FF SNOWY

Snowy Evanescence

[Special Youngjae’s Birthday]

A Fanfiction by Jeeyeonie

Starring:

B.A.P’s Youngjae and SECRET’s Sunhwa

Length:

Ficlet

Genre:

Angst, Romance, A lil bit Fantasy and Abuse

Rating:

PG-15

Disclaimer:

I just own the plot. The POSTER AREN’T MINE, it belong to it’s owner.

WARNING!!! TYPOs & OOCs

And, Happy Birthday to YOO YOUNGJAE!

Enjoy~

-o-

          Tahun 2080. Dunia. Masih adakah dunia yang tentram? Tidak. Dunia sudah dikuasai keegoisan manusia. Manusia yang tak memiliki hati nurani. Membunuh orang tanpa memikirkan dosa. Yang hanya mereka pikirkan hanya kebahagian dunia. Mereka seakan-akan tak memiliki tuhan.

Kekuatan untuk hidup selama-lamanya. Itulah yang mereka harap-harapkan. Kekuatan yang tak pasti. Hampir semua orang di dunia beramai-ramai ingin memakai alat ini, untuk hidup kekal, selamanya. Berawal dari eksperimen 5 orang bodoh yang berusaha membuat alat itu dan mereka berhasil. Kemana sekarang 5 orang bodoh itu? Mati, bunuh diri.

Alat itu sekarang berada di tangan pemerintah. Alat itu sangat dilindungi. Untuk mencegah alat itu berada di tangan yang salah, karena akibatnya akan amat sangat fatal. Manusia-manusia yang egois tetap bersikukuh untuk mendapatkan alat itu, itulah mengapa mereka banyak membunuh orang-orang tak bersalah. Mereka hanya berpikir menjadi orang jahat adalah hal yang baik.

Mereka mengancam pemerintah akan membunuh lebih banyak orang lagi jika pemerintah tak memberi alat itu. Bodoh.

B.A.P, 6 orang yang berusaha melindungi alat itu dan mendamaikan kembali dunia. Youngjae termasuk di dalamnya. Bukan pekerjaan yang mudah, tapi mulia. Ia mempertaruhkan nyawanya di pekerjaan itu. Dan…, ia bisa saja terbunuh di setiap pertarungan.

 

January 22, 2080

Sunhwa menghembuskan nafasnya. Udara Seoul sangat dingin, membuat tubuhnya sedikit menggigil didalam jaket tebalnya. Salju terus turun. Ia sedang dalam perjalanan menuju rumahnya yang tak jauh dari situ.

            Ia baru saja pulang dari taman di dekat rumahnya. Taman itulah sahabat terbaiknya. Ia sering berkunjung kesana, untuk merenungi semua yang terjadi, semua yang terjadi padanya, dan orang lain juga merasakannya.

            Kejadian yang terus membuatnya menangis jika mengingatnya. Mengiris hati kecilnya. “Kau sudah pulang?” teriak seseorang dari dalam. “Ya.” Jawab Sunhwa singkat dan masuk kedalam kamarnya. “Aku akan berang-,” Sunhwa memotong perkataan lawan bicaranya itu sebelum ia dapat menyelesaikannya. “Kau tak akan ikut, Yoo Youngjae. Bahkan saat kau berulang tahun kau bekerja? Apakah pekerjaanmu lebih penting daripada hidupmu dan… aku?”

            Sunhwa hampir meneteskan air matanya. Ia sangat merindukan kekasihnya itu. Ia sangat takut kehilangan Youngjae. Youngjae adalah hidup, baginya. “Ada apa denganmu?” Youngjae mengerutkan dahinya. Ia tak mengerti mengapa sifat Sunhwa berubah akhir-akhir ini. Awalnya ia pikir ini hanya kecemasan biasa yang akan cepat ia lupakan, tetapi tidak, itu kecemasan luar biasa. Sunhwa bahkan lebih sering menangis dan meminum painkillernya. Youngjae sudah berusaha untuk melarang Sunhwa meminum obat itu terus menerus, tetapi Sunhwa tak pernah mau mendengarkannya.

            “A-aku a-aku,” bibir Sunhwa bergetar. Ia menggigit bibir bawahnya sambil menunduk, menahan bulir-bulir air mata yang akan keluar.

            Youngjae membalas itu dengan pelukan hangatnya. Pelukan yang mengatakan ‘Semua akan baik-baik saja, aku akan terus bersamamu dan mencintaimu’. Tenang. Itulah yang Sunhwa rasakan. Rasanya ia ingin menghentikan waktu. Tapi itu takkan bisa, waktu akan terus berjalan, sesulit apapun ia bekerja atau semahal apapun ia membayar, alat penghenti itu tidak ada.

            “Itu tidak apa-apa untuk menangis, mengeluarkan semua kesedihanmu, Han Sunhwa.” Youngjae memulai pembicaraan saat tangisan Sunhwa mulai mereda. Sunhwa memeluk Youngjae sangat erat seakan tak akan pernah membiarkanya pergi saat Youngjae mulai melepaskan pelukannya.

            “Kau sangat senang memelukku?” tanya Youngjae membuat candaan yang sangat tak lucu baginya, dan mungkin juga Sunhwa. “Babo.” Gumam Sunhwa masih di pelukan Youngjae. “Jika aku bodoh, aku takkan direkrut mereka.” Jawabnya.

“Kau takkan pergi, bukan?” tanya Sunhwa dengan suara agak serak akibat tangisannya. “Aku selalu bersamamu, Han Sunwa, ingat itu. Walaupun sisiku tak mungkin selalu denganmu, tetapi ingat saja bahwa cintaku selalu untukmu dan jiwaku selalu ada di hatimu.”

            “Yoo Youngjae…” gumam Sunhwa.

            “Hmm?”

            “Aku mencintaimu.” Ungkap Sunhwa dan melepaskan pelukan terindah antara mereka berdua. “Aku juga mencintaimu.” Youngjae mengecup Sunhwa dengan sangat lembut sampai akhirnya mereka berdua larut dalam dunianya masing-masing.

-O-

            January 23,2080

Sinar matahari menyusup masuk menuju ke pupil mata Sunhwa. Ia terbangun dengan Youngjae disebelahnya yang masih terlelap di dunia mimpinya. Mengapa Youngjae harus sangat tampan saat ia tidur? Gumam Sunhwa. “Setampan itukah kekasihmu sampai kau tak dapat mengalihkan pandanganmu darinya?” Tanya Youngjae, sambil memperlihatkan smirk-nya.

“Ya!” teriak Sunhwa sambil melempar semua bantal yang berada di tempat tidur mereka ke arah Youngjae. Sunhwa hanya terkekeh kecil melihat Youngjae mengeluarkan pout-nya yang sangat memalukan.

Sunhwa melangkahkan kakinya menuju dapur untuk segera membuatkan sarapan untuk mereka berdua. Sampai ia merasakan kedua lengan datang dari belakang untuk memeluknya, menghambatnya untuk berjalan. “Aku ingin membuat sarapan, Youngjae.” Jelas Sunhwa sambil mencoba melepaskan tangan Youngjae yang bergelung dipinggangnya.

“Kau melupakan sesuatu.” Youngjae mengistirahatkan kepalanya di pundak Sunhwa. “Apa? Ulang tahunmu? Itu besok, aku takkan lupa.”

“Bukan, bukan itu.”

“Lalu apa?” Sunhwa menggerakan kepalanya untuk menatap Youngjae. Wajah mereka sangat dekat, hampir bersentuhan.

“Ini” Youngjae mengecup pelan bibir tipis Sunhwa lalu melepaskan pelukannya dan membiarkan Sunhwa melanjutkan pekerjaannya. “Tunggu sarapanmu, jangan tidur lagi.” Sunhwa tersenyum kecil, dan kembali berjalan menuju ke dapur. Senyum itu, senyum yang takkan pudar, kebahagian yang ia rasakan. Kebahagian saat Youngjae berada di sisinya, kebahagian yang takkan pudar.

“Makanan sudah siap!” teriak Sunhwa menghampiri Youngjae yang sudah siap di meja makan, ia terlihat sangat lapar. Ia meletakkan ke dua piring berisi Sandwich di meja dan duduk di depan Youngjae.

Mereka makan tanpa membuat suara sama sekali dari mulutnya. Yang terdengar hanyalah suara sendok, garpu, dan piring yang tengah beradu. “Kau sangat lapar?” tanya Sunhwa saat melihat Youngjae yang telah menghabiskan sepiring sandwich dalam hitungan menit. “Tidak juga, itu hanya menggugah selera. Aku tak sabar untuk menghabiskannya.” Jawab Youngjae tidak jelas karena mulutnya masih penuh dengan sandwich.

Sunhwa menghampiri Youngjae yang tengah menonton televisi. “Sedang menikmati liburan huh?” tanya Sunhwa menghilangkan kesunyian. Youngjae hanya terkekeh dan bergeser sedikit, memberi ruang Sunhwa untuk duduk disebelahnya. “Besok…, kau takkan pergi, bukan?” tanya Sunhwa, untuk memastikan. Youngjae hanya mengangguk.

“Aku sangat sangat mencintaimu, karena itulah aku takut kehilanganmu. Siapa yang tidak sedih jika orang yang dicintainya pergi?” gumam Sunhwa, bersandar di pundak Youngjae. “Aku juga sangat mencintaimu, karena itulah aku takkan hilang darimu, Sunhwa.”

“Aku amat sangat mencintaimu, Yoo Youngjae.”

-O-

January 24, 2080

            24 Januari. Ulang tahun Yoo Youngjae. Tentu hari yang sangat spesial baginya. Sunhwa hanya termenung, kejutan apa yang akan ia berikan? Ia bahkan belum membeli kue. Sungguh, ia sangat amat ingat bahwa hari ini adalah ulang tahun Youngjae tetapi kemarin ia sama sekali tidak ingat untuk memberi kejutan.

            Bola matanya berkeliling melihat seluruh sudut di ruangan ini. Jam masih menujukkan pukul 6 pagi. Apakah Youngjae sudah bangun dari tidurnya? Mungkin tidak. Pikiran untuk membeli kue sekarang juga terbesit dipikiran Sunhwa. Ia akan membeli kue, dan saat Youngjae bangun kemungkinan besar ia masih dijalan untuk membeli kue, Sunhwa akan masuk kerumah saat Youngjae mungkin sedang mencarinya disudut sudut ruangan ataupun mungkin ia masih tidur. Itu dapat menjadi sebuah kejutan.

            Tapi, adakah toko kue yang telah buka sepagi ini? Sunhwa berpikir keras untuk mencari toko kue yang ia ketahui, tentu yang berada di dekat sini atau di sekitar sini, jika tidak ia akan terlalu lama dan nyawanya terancam akan orang-orang bodoh yang mungkin saja akan membunuhnya.

            “Ya!” sorak Sunhwa lalu bangkit dan beranjak pergi. Ia akan membeli kue di toko di dekat taman. Ini sangat mudah gumamnya. Ia berlari menyusuri jalan yang dipenuhi salju dan sangat dingin. Tapi itu tak jadi penghalang baginya, ia sangat bersemangat, tak ada yang bisa menghalanginya. Tak ada yang mampu menghalangi kekuatan cinta.

            Setelah Sunhwa selesai membeli kue ia berlari bergegas menuju kerumah. Ada dua kemungkinan antara Youngjae masih tidur dan Youngjae telah bangun dan mencarinya. Ia berharap Youngjae tengah menyarinya, tetapi jika ia masih tidur, tak apa.

            Sunhwa memutar gagang pintu didepannya untuk dapat masuk kerumahnya itu. “Youngjae?” teriaknya, tak terlalu nyaring. Tak ada suara. Mungkin Youngjae masih tidur gumamnya. Ia melangkahkan kakinya perlahan menuju kamar Youngjae dengan kue di tangannya. Kue ulang tahun ter-spesial darinya.

            Ia memutar gagang pintu kamar Youngjae dan, sunyi. Sunyi yang terasa hanya itu. Bulir-bulir air mata sudah menetes dengan deras di matanya. Seluruh badannya bergetar, kue yang dipegangnya hampir jatuh. Sangat sakit. Bahkan ini tak termasuk dalam kemungkinan. Sangat menyakitkan.

            Kamar ini menjadi sangat berantakan. Pecahan kaca dari jendela di kamarnya berada dimana-mana. Masih dengan kue ditangannya, ia mendekati sosok yang berada di tempat tidur itu. Sosok yang berlumuran darah. Dengan pisau tertancap di perutnya. Sepucuk kertas ditangannya. Siapakah sosok itu?

            Ia, Yoo Youngjae. Orang yang seharusnya berulang tahun hari ini. Tapi waktu berkata lain, ia tak punya waktu lagi untuk merasakannya dan merayakannya bersama Sunhwa hari ini. Tangisan Sunhwa semakin memparah.

            Akhirnya, kenyataan ini, kenyataan yang tak pernah ia ingin alami. Akhirnya terjadi, di hari ulang tahun kekasihnya itu. Youngjae, sudah tidak ada, dan ia harus menerima itu, ia sudah pergi. Menangis, hanya itu yang dapat Sunhwa lakukan.

            Tatapannya terpaku pada sepucuk kertas dengan sedikit bercak darah ditangannya. Perlahan Sunhwa mengambil kertas itu dan membacanya. Kertas itu berisi tulisan tangan khas Youngjae yang sudah lama tak ia temui, ia merindukan itu.

            Sunhwa…maafkan aku. Mereka, orang-orang itu sudah mengetahuinya, mengetahui tempat penyimpanan rahasia. Jadi, kami harus memindahkan itu ketempat yang lebih aman, maafkan aku Han Sunhwa. Maafkan aku yang tak memberi tahumu tentang ini karena ini sangat mendadak dan saat aku ingin memberi tahumu, kau sedang tertidur pulas, aku tak tega untuk membangunkanmu. Maafkan aku tak bisa merayakan ulang tahunku bersamamu. Maafkan aku.

            Nanti saat aku pulang kita akan merayakannya, aku janji. Aku akan mendapatkan liburan selama satu minggu, apakah kau senang? Kau sekarang sedang tersenyum bukan? Kita akan makan kue bersama, meniup lilin, dan mengucapkan permintaan.

            Kita akan liburan selama seminggu ini dan kita akan berkeliling kemana saja kau mau, akan aku turuti. Maka dari itu, tunggu aku, sampai kembali.

            Aku tau ini adalah misi yang tak mudah, tapi kau tak usah khawatir. Karena aku tetap bersamamu. Kau ingat kata-kataku? Bahwa walaupun sisiku tak mungkin selalu denganmu, tetapi ingat saja bahwa cintaku selalu untukmu dan jiwaku selalu ada di hatimu.

            Ya, aku selalu mencintaimu, cintaku kekal. Cintaku tak pernah mati, hanya untukmu. Kau tak perlu khawatir. Aku selalu berada di hatimu, bukan? Ya jiwaku dihatimu juga begitu kekal. Karena kita berdua sudah ditakdirkan untuk tak pernah berpisah dan saling mencintaimu.

            Aku sangat mencintaimu, Han Sunhwa. Dan aku sungguh-sungguh.

            -Youngjae

            Tubuh Sunhwa bergetar hebat, air mata membasahi pipinya, air mata kesedihan yang amat sangat pedih. Tangannya yang bergetar dengan sangat pelan mengambil kue yang tergeletak di sebelahnya, ia tersenyum, senyum yang menyakitkan. “Selamat ulang tahun untukmu, Yoo Youngjae. Aku juga amat sangat mencintaimu dan cintaku kekal untukmu. Selamat ulang tahun.”

One thought on “[Special Youngjae’s Birthday] Snowy Evanescence

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s