How To Break Up Well

howtobreakupwell

How To Break Up Well

written by bluemallows

 

Main Cast:

2PM’s Nichkhun and SNSD’s Tiffany

Infinite’s Myugsoo and f(x)’s Krystal

CNBlue’s Jonghyun and SNSD’s Yoona

Rating:

PG-13

Length:

3 in Oneshot

Disclaimer:

I only own the storyline

 

#1 – nichkhun/tiffany

 

Tidak ada yang lebih membahagiakan Tiffany daripada sebuah pesan singkat atau rekaman pesan suara setiap ia bangun pagi dan hendak tidur. Apalagi dari seseorang yang dicintainya, Nichkhun Horvejkul.

 

Sepulang kerja, biasanya ia akan disambut dengan voice mail yang dikirim dari Thailand oleh kekasihnya–setiap hari tanpa pernah absen.

 

“Bagaimana harimu?” Nichkhun selalu membuka percakapan dengan pertanyaan yang sama. Meski begitu, Tiffany tidak akan bosan dan tetap mengocehkan hal-hal yang berbeda setiap hari.

 

“Sampai kapan kita akan bertelepon terus seperti ini?” Nichkhun pernah bertanya pada gadis itu.

 

Tiffany mengangkat bahunya–meski tahu Nichkhun tidak dapat melihatnya. “Sampai selama yang kita bisa, kurasa.”

 

“Kupikir, sampai aku pergi ke Seoul dan melamarmu di sana.” Sahut Nichkhun sambil terkikik dengan ucapannya yang entah serius atau hanya gombalan semata.

 

Biasanya mereka akan berbicara panjang lebar, bertukar cerita sepanjang hari, tertawa hingga terpingkal-pingkal, dan kadang menangis, hingga akhirnya Nichkhun menutup telepon saat Tiffany sudah terlelap. Itu memang sudah menjadi kebiasaan dan rutinitasnya.

 

Ya, kebiasaan dan rutinitas.

 

.

 

.

 

.

 

 

Bagaimana rasanya jika kau harus melepaskan suatu kebiasaan atau rutinitas yang setiap hari kau lakukan?

 

Tiffany yang selalu bangun dengan voice mail dari Nichkhun, sekarang kembali terjaga dari tidurnya karena bunyi alarm yang memekakan telinga.

 

Ia memutuskan Nichkhun beberapa minggu yang lalu. Mengeluh lelah karena rindu yang terlalu tebal dan jarak yang terlalu jauh. Lelaki itu meminta satu kesempatan lagi, namun ia menolak.

 

“Jangan pernah mengirimiku voice mail, jangan pernah menghubungiku lagi.” Kata-katanya malam itu, terulang lagi dalam benaknya.

 

Meski Tiffany yang mengatakannya sendiri, diam-diam ia berharap suatu saat Nichkhun akan merindukannya dan mencoba meneleponnya. Namun laki-laki itu tidak pernah meneleponnya lagi sejak malam itu.

Kadang, ketika sebuah panggilan masuk, ia cepat-cepat mengambil ponselnya dan berharap–semoga, kali ini saja–Nichkhun meneleponnya. Sayangnya hal itu tidak (atau belum) pernah terjadi. Sebenarnya ia meragukan apakah Nichkhun sungguh mencintainya atau tidak.

Tapi setelah bulan-bulan yang ia lalui, akhirnya perasaannya dapat pulih, meski tidak sesempurna dulu. Ia mulai terbiasa dengan rutinitas hariannya tanpa telepon dari Nichkhun. Seperti itulah, putus cinta bisa berarti meninggalkan kebiasaan lama dan memulai lagi yang baru.

 

 

#2 – myungsoo/soojung

 

Beberapa minggu yang lalu, Myungsoo mendapat pesan singkat dai Soojung yang memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Ia tidak terima, tentu saja, hingga pemuda itu mencari-cari gadis idamannya dan menemukan Soojung tergolek lemas di ranjang rumah sakit.

Leukimia. Kanker. Kemoterapi. Kematian.

Empat hal itu terlintas pada benak Myungsoo ketika Nyonya Jung menceritakan keadaan Soojung. “Ia memasuki stadium akhir,” ujar ibu Soojung dengan mata yang sembab karena air mata yang terus mengucur setiap malam.

Setelah Soojung kembali terjaga dari istirahatnya, Myungsoo berjalan mendekat dan berlutut di samping ranjang Soojung. Gadis itu menatap lelaki yang ada di sampingnya, punggung tangan kanannya yang tidak diterobos oleh jarum-jarum suntik berada aman pada lelaki itu. Kim Myungsoo, mantan pacarnya.

“Bagaimana keadaanmu?” Lelaki itu bertanya dengan suara bergetar dan senyum yang dipaksakan.

Soojung membasahi bibir pucatnya yang kering, kemudian menjawab, “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Menemanimu, Soo.”

Gadis itu terdiam, tidak menyangka Myungsoo dapat mengetahui keberadaannya di rumah sakit. Ia sudah berkali-kali mencoba menghindar, namun Myungsoo menemukannya, dalam keadaan seperti ini. Soojung melirik tangannya, ada Myungsoo yang kembali menggenggamnya dan menghangatkan ujung-ujung jemarinya.

Ia berusaha meloloskan tangannya dari genggaman Myungsoo, tapi lelaki itu tidak setuju dengannya. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi,”

Soojung melengos, “Kau pasti sudah tahu semuanya dari Ibu. Iya kan?”

“Kurang lebih.” Sahut Myungsoo.

“Lalu, apa maksudmu datang kemari?” Soojung kembali berbalik dan mengerling pada Myungsoo.

Pemuda itu berdeham, “Bukan maksudku mengajak kau kembali bepacaran denganku,” Ucap Myungsoo, “Tapi, aku ingin menemanimu, menghabiskan waktu bersamamu.”

Soojung tertawa sinis dan kembali berusaha melepaskan genggaman Myungsoo. “Kau menyia-nyiakan waktumu, Myung.”

“Wajahmu atau perkataanmu mungkin bisa menyangkal, tapi tidak dengan matamu,” Ujar Myungsoo sambil mengusap punggung tangan gadis itu. “Aku tahu, kita masih saling menyayangi.”

Absolut, tidak terbantahkan. Soojung tidak dapat mengelak pernyataan Myungsoo. Ia menatap nanar wajah Myungsoo yang seolah memohon izin padanya, dan tidak ada yang kata-kata yang keluar kecuali air mata yang mengalir.

“Hei, jangan menangis, Soo,” Myungsoo mengulurkan tangannya dan menghapus air mata itu.

Soojung tidak berkata apapun, ia hanya menggengam erat tangan Myungsoo, dan berjanji tidak akan melepaskannya lagi.

Hingga helai terakhir rambut Soojung terjatuh, Myungsoo masih ada di sana. Hingga operasi pencangkokan sumsum tulang belakang sukses, Myungsoo masih ada di sana. Hingga kepala Soojung mulai menumbuhkan tunas-tunas rambut yang baru, ia masih melihat Myungsoo di sisinya.

Mungkin kanker bisa menggerogoti tubuh lemah Soojung, atau bisa saja kanker itu datang dan menyerang bagian tubuh lain gadis itu—mungkin harus ada kemoterapi dan serangkaian tindakan medis lainnya. Namun, selama ia tahu Myungsoo ada untuknya, ia tidak akan terlalu mengkhawatirkannya.

Bukan sebagai kekasih lagi, tapi seorang yang menyayanginya. Tidak perlu mereka berpacaran lagi–Soojung menolaknya–yang perlu adalah, mengetahui mereka saling menyayangi. Itu saja.

 

#3—jonghyun/yoona

Cinta adalah memberikan kesempatan bagi seseorang untuk melukai kita, namun percaya bahwa mereka tidak akan melakukannya.

.

.

.

Laki-laki tidak boleh menangis, laki-laki tidak boleh menangis, berulang-ulang Jonghyun mengatakan kalimat yang sama pada dirinya sendiri sejak menginjakkan kaki masuk ke dalam subway.

Matanya terus melirik ke atas langit-langit kereta bawah tanah, berharap tidak ada air mata yang terjatuh. Namun setiap kali ia mendongak ke atas, bayang-bayang tentang Yoona yang memutuskan hubungan mereka karena adanya senior baru, Seunggi, yang katanya lebih tampan, lebih keren, dan lebih yang lain-lainnya di mata Yoona.

Pintu subway terbuka dan Jonghyun cepat-cepat melompat keluar dari gerbong dan berlari-lari kecil menuju apartemennya yang tidak jauh dari stasiun. Ia memasuki lift apartemen dan menekan tombol dua belas, lantai tempat tinggalnya. Setelah memastikan tidak ada lagi yang masuk ke dalam lift, ia menjatuhkan tubuhnya di dinding besi yang dingin dan membiarkan air mata mengaliri pipinya.

Ayahnya pernah berpesan agar seorang anak lelaki tidak boleh menangis, sekalipun drama-drama di televisi sering menampilkan laki-laki menangis. Apalagi jika alasannya adalah patah hati, seratus persen dilarang.

Tapi coba bayangkan jika kau ada di posisi Jonghyun. Kau pandai bermain gitar, memiliki selera pakaian yang bagus untuk ukuran seorang lelaki, dan tampangmu tidak buruk-buruk amat. Kemudian ada seorang gadis bagaikan bidadari jatuh cinta kepadamu, mengejarmu, dan membuatmu balik tergila-gila padanya. Kalian saling mencintai, hingga akhirnya seorang senior yang memiliki wajah yang lebih menawan datang kepada bidadarimu dan merebutnya (atau bidadarimu yang pergi meninggalkanmu demi laki-laki lain). Ck, terlalu pahit untuk diceritakan.

Semua ucapan aku mencintaimu atau janji-janji aku tidak akan pernah meninggalkanmu hanya semacam omong kosong yang tidak ada artinya lagi. Sama sekali.

Jonghyun memang sudah mengendus hal aneh ketika ia mendapati Yoona sering bertukar pesan dengan Seunggi setiap hari—hampir sama sepertinya. Apalagi ketika gadis itu membantah jika ia berselingkuh, dan mengakui bahwa ia menganggap Seunggi sebagai kakaknya.

Kakak. Awalnya Jonghyun cukup lega, namun seiring berjalannya waktu, status kakak-adik yang disandang oleh Yoona dan Seunggi seakan melewati batas, dengan banyak menyatakan sayang satu sama lain dan waktu mereka bertemu lebih banyak dibandingkan waktu Yoona dan Jonghyun bertemu.

Pada satu titik, Jonghyun sudah tidak tahan dan memaksa Yoona untuk mengatakan yang sejujurnya. Gadis itu mengakui jika hatinya telah bercabang, dan ia memutuskan hubungannya dengan Jonghyun.

.

.

Jonghyun berhasil melewati bulan-bulan yang berat setelah ditinggalkan oleh Yoona. Ia merasa berhasil move on dari Yoona, namun entah kenapa rasa kesal membuncah di dadanya setiap kali melihat Yoona dan Seunggi yang berduaan di taman kampus.

Barangkali yang menjadi akar permasalahan dan lingkaran luka dalam hati Jonghyun adalah perasaan kesal dan kecewa. Tentu saja karena ia telah dikhianati, dipermainkan, dan ditinggalkan.

Akhirnya, Jonghyun tahu obat apa yang paling mujarab untuk mengobati sakit hatinya hanya ada satu, yaitu memaafkan.

Ketika Jonghyun memaafkan Yoona, ia hanya butuh sedikit waktu untuk mengobati luka dalam hatinya. Menjadikan hatinya pulih lagi seperti dahulu, dan bersiap membuka hati lagi bagi gadis lain yang jauh lebih baik.[]

7 thoughts on “How To Break Up Well

  1. jongyoon harus berpisah dan ini lagi2 gara si seunggi aaaaa mau pites seunggi rasanya.

    myungsoo krystal- nah cerita couple ini paling sweet. hihi

    kyunfanny mah ini krn bosan kali ya hihi

    cerita lain dr biasa yg aku baca. bagusss author🙂

  2. paling suka sama ceritanya khun-fany. manis banget cara mereka terus berhubungan dan sampai akhirnya bosen
    aku juga suka endingnya jonghyun-yoona. jonghyun terlihat begitu tabah dengan memaafkan yoona
    keren. nice ff..

  3. Ngenyes bgt yaa… Tiga2ny putus, tp bagian myung-krys lbh enak sih, mreka msh bersama wlu gak ad ikatan diantara mereka… Suka temanya, suka gaya tulisannya… Keepwriting^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s