[Last Chapter: Chapter 8] Hard to Love

Hard to Love

“Love? Never!”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo, Son Naeun || Support Cast : Lee Howon, Jung Eunji || Genre : Romance, Life || Length : Chapter 8 || Rating : PG-15 || Credit Poster: – || A/n: Terimakasih sekali untuk yang sudah membaca FF ini dan ikut berkomentar atau memberi like. Maaf, jika chapter ini adalah last chapter. Tenang saja, aku sudah buat chapter ini jadi panjang. 

Hard to Love  Chapter 8 Forever

oOo

Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7

oOo

“Ya! Kim Myungsoo!!!!” Howon berteriak kesal. Ia hampir saja melempar cangkir yang ada didepannya jika bukan Jung Eunji yang menahannya untuk melakukan hal seperti itu. Eunji hampir gila karena Myungsoo hanya diam saja disana tanpa menatap siapapun. Pandangannya sungguh kosong.

Howon pun melepaskan tangan Eunji kemudian mendekati Myungsoo. “Apa sekarang kau hanya akan diam saja disini? Son Naeun bagaimana?! Kau mau bertanggung jawab jika dia benar-benar melupakanmu dan pergi meninggalkanmu?! Hah?!”

Separuh jiwa Eunji rasanya ingin melayang jika melihat Myungsoo yang masih diam saja disana. Akhirnya Eunji pun mengambil tasnya kemudian melangkah keluar dari apartemen Myungsoo. Howon yang terkejut melihat Eunji keluar, ia langsung pergi meninggalkan Myungsoo, mengikuti Eunji. Meninggalkan Myungsoo yang masih diam disana dengan pandangan kosong.

**

Pesawat menuju London sebentar lagi akan berangkat. Dimohon para penumpang yang masih berada di luar segera menuju pesawat.”

Mendengar itu, Jung Eunji dan Lee Howon yang baru saja sampai di bandara segera berlari menuju terminal dimana menuju London. Mereka menatap nanar pintu terminal dan Howon segera berlari menuju kaca jendela yang bisa melihat seluruh penjuru landasan pesawat terbang.

“Ya! Jung Eunji, pesawat Naeun pasti sudah berangkat. Lihat itu,” ujar Howon sambil menunjuk sebuah pesawat yang baru saja terbang lepas landas meninggalkan area. Eunji hanya bisa menghela nafas panjang menatap pesawat tersebut. Bagaimana bisa seorang Son Naeun pergi tanpa memberikan kabar?

“Kim Myungsoo pasti sudah gila. Kenapa ia hanya membiarkan Son Naeun pergi begitu saja?!” kata Eunji kesal sambil menatap Howon heran. Howon menarik gadisnya itu ke dalam pelukannya, kemudian membelai pelan kepala gadis itu. “Kita pikirkan nanti. Sekarang ayo kita pulang dulu, tubuhmu membeku,” ujar Howon sambil mempererat pelukannya.

Eunji menganggukkan kepalanya sambil melepaskan pelukan Howon, lalu Howon menggenggam erat tangan Eunji. Menarik gadis itu keluar dari bandara. Namun, belum melangkah, ponsel Howon berbunyi. Sama persisnya dengan Eunji yang juga berbunyi. Keduanya menatap, namun kemudian mengeluarkan ponsel masing-masing.

Kakaotalkeu.

Dengan cepat, tangan mereka menyentuh layar ponsel mereka kemudian menuju aplikasi Kakao Talk. Mereka berdua membuka sebuah pesan yang ada di dalamnya. Terkejut bukan main ketika mereka membaca pesan tersebut. Keduanya ternyata menerima pesan yang sama. Akhirnya, tanpa diaba-aba, keduanya menatap dan segera berlari keluar dari bandara.

“Mereka pasti gila! Mereka akan menikah tahun depan!”

**

1 tahun kemudian..

Kim Myungsoo, Lee Howon, dan Jung Eunji harus pergi menuju Amerika. Tentu, bukan untuk bersenang-senang karena pesawat dibayari Myungsoo. Mereka harus menghadiri pernikahan Woohyun dan Chorong yang diadakan minggu depan. Bukan hanya itu, mereka disana untuk ikut membantu mendekorasi. Namun, hal tersebut benar-benar membuat ketiga sahabat tersebut kaget bukan main. Woohyun dan Chorong yang sudah lama tidak berhubungan, tiba-tiba berkontakan dengan Chorong lagi.

“Hubungi aku nanti lagi, pesawatnya akan berangkat,” kata Myungsoo sambil menutup ponselnya. Kemudian ia melirik sekilas ke arah Eunji dan Howon yang duduk disampingnya sedang tertawa-tawa. Melihat Howon dan Eunji terkadang membuatnya sedikit iri dengan pasangan itu.

Eunji yang sadar tengah diperhatikan oleh Myungsoo langsung menolehkan kepalanya. “Waeyo?” tanyanya dengan alis terangkat. Kadang-kadang Eunji juga heran, kenapa Myungsoo yang lebih tampan daripada Howon punya nasib cinta yang sial daripada Howon.

“Tidak ada,” kata Myungsoo sambil menggelengkan kepalanya, lalu menarik ujung bibirnya. Ia mengalihkan pandangannya lalu melirik ke arah jendela pesawat yang penuh dengan awan. Sejenak, ia membayangkan wajah Naeun yang entah dimana keberadaannya sekarang. London? Sudah pasti, tapi apa ia harus mencarinya di seluruh London? Tidak mungkin.

Terkadang mungkin memang ini adalah pilihan yang terbaik daripada ia harus benar-benar mencintai Naeun dan tak mendapatkan restu dari seorang ayah kandungnya. Kemudian ia mendesah kecil, lalu memundurkan kursinya dan terlelap disana.

Butuh waktu 15 jam sampai akhirnya mereka semua benar-benar sampai di Amerika dan mengembalikan jet lag mereka. Tempat tidur adalah tempat terbaik bagi mereka untuk mengembalikannya. Setelah cukup tidur, Myungsoo bangkit dari tempat tidurnya dan mengecek waktu Amerika.

“Hm, jam 8 pagi,” gumamnya sambil mengunci ponselnya kemudian menyibak selimutnya. Kemudian ia bangkit dari tempat tidurnya dan melirik ke arah jendela kamarnya yang masih terhalang tirai. Lalu ia menarik tirai itu dan menghirup nafas dalam-dalam.

Pemandangan New York di pagi itu memang cukup membuatnya segar. Walaupun sebenarnya pemandangan itu sudah dipenuhi oleh gedung-gedung tinggi bukan pemandangan laut atau pantai atau hutan yang dapat menyegarkan mata atau sebagainya.

Belum juga mendapat penyegaran mata, pintu kamar Myungsoo sudsah diketuk-ketuk beberapa kali. Akhirnya, dengan malas Myungsoo melangkah menuju pintu kamarnya dan membukanya dengan perasaan sedikit kesal karena ada yang berani menganggu kegiatan meditasi matanya, mungkin.

“Kenapa kau masih berantakan?”

Myungsoo mengeluh kesal kemudian membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan membiarkan Howon memasuki kamarnya lalu duduk di atas sofanya. Howon mengambil sebuah kaleng bir yang ada di meja Myungsoo dan meminumnya.

“Aku baru bangun, bodoh. Memangnya kita harus ke rumah Woohyun kapan?”

“Secepatnya!”

Eunji menyelonong masuk ke kamar Myungsoo. Myungsoo memutar bola matanya kemudian melirik ke arah pintu kamarnya yang belum ditutup. Merasa kesal akhirnya ia membanting pintu kamarnya kemudian menatap ke dua makhluk aneh itu.

“Kalian benar-benar mengganggu pagiku yang menyenangkan ini.”

“Sayangnya tidak! Kau yang akan mengganggu perjalanan kami!” Ujar Eunji kemudian menunjukkan kunci mobil yang entah didapatkannya dari mana. Mungkin, ia menyewa sebuah mobil atau juga Woohyun yang notabene orang kaya meminjamkan mereka bertiga mobil. “Jadi, tunggu apa lagi, Kim Myungsoo? Ayo, mandi dan berpakaian, setelah itu kita berangkat! Kita bisa sarapan nanti di rumah Woohyun.”

Dengan malas Myungsoo menganggukkan kepalanya kemudian menuju kamar mandinya yang hanya dengan 3 langkah pun sampai.

**

Noona?”

Ne, Sungjong-a?” tanya Chorong sambil tersenyum ke arah adik tirinya itu.

Kemudian Sungjong menggelengkan kepalanya pelan, tak lama Woohyun muncul di ambang pintu dengan senyum lebarnya. Lalu mengampiri mereka berdua, Woohyun menepuk pelan kepala Sungjong sambil tersenyum. Woohyun duduk di samping Chorong. Sungjong yang notabene tidak ingin menganggu pasangan tersebut, akhirnya bangkit dari bangkunya dan pergi.

“Apa kau siap?”

“Iya,” kata Chorong sambi menganggukkan kepalanya pelan. Kemudian ia meraih tangan Woohyun, lalu menatapnya. “Kau mengundang siapa saja?”

“Hanya teman-teman kita. Ada apa?”

Chorong mengalihkan matanya kemudian ia menggelengkan kepalanya pelan. “Jangan undang Sunggyu sunbaenim, kumohon.”

“Ada apa?”

“Dia… Dia mantan kekasihku.”

“Oh, yaampun. Aku tidak mengundangnya. Aku hanya mengundang Myungsoo, Howon, Eunji. Dan yang terakhir adalah Naeun.”

“Naeun?”

Woohyun menganggukkan kepalanya pelan kemudian ia menatap Chorong. “Ada apa?”

“Bukankah Myungsoo saja tidak tahu keberadaan Naeun. Kenapa kau justru lebih tau daripada nya?” tanya Chorong kemudian meneliti mata Woohyun. Mencoba mencari celah-celah kecil kebohongan Woohyun, namun tidak ada yang disembunyikan oleh laki-laki itu.

Woohyun mengangkat bahunya. “Ia yang menghubungiku. Ia mengatakan satu-satunya orang yang dekat dengannya hanyalah aku. Akhirnya dia memberitahukan keberadaannya. London. Rumahnya masih yang sama seperti yang dulu. Perusahaan yang sama juga. Tak ada yang ia ubah. Kemudian ia juga bilang ia pasti datang ke pernikahan kita,” kata Woohyun.

“Oh, aku kira kau berbohong. Kau tidak memacarinya kan?”

“Tentu saja tidak. Aku hanya pernah menyukainya, bodoh.”

“Sialan!” Chorong menggetak kepala Woohyun.

**

Gadis itu menatap perahu kertasnya yang sudah jauh dari pandangan mata. Sambil menatap, ia membolak-balikkan ponselnya itu. Sungai di dekat rumahnya memang cukup bersih, jadi ia sengaja membuat perahu kertas untuk yang ke 50 kalinya.

“Apa yang kau lakukan disini?”

Gadis itu menolehkan kepalanya kemudian langsung tersenyum. “Oh, Bomi unni!” Ia segera bangkit, berlari, dan memeluk gadis itu. Ia memeluk erat gadis yang bernama lengkap Yoon Bomi itu. Kemudian ia melepaskan pelukannya dan tersenyum. Namun, matanya sambil mencari sesuatu. “Dimana Dongwoo oppa?”

“Dia masih di dalam mobil, Naeun-a. Kau mau ikut kan?”

Naeun menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum. “Sebentar, biar aku ambil barang-barangku!” kata Naeun lalu berlari ke dalam rumahnya. Bomi tersenyum melihat tingkah gadis kecil itu. Walaupun sebenarnya ia sudah menganggap gadis itu sebagai adik kecilnya yang hanya terpaut 1 tahun lebih muda darinya, ia masih tidak rela melihat gadis itu kadang-kadang menangis karena tidak punya keluarga.

“Hei, Bomi! Apa yang kau lakukan disitu?!” teriak Dongwoo sambil berjalan mendekatinya.

Bomi membalikkan tubuhnya, kemudian dilihatnya kekasihnya itu terlihat bingung. “Aku menunggu Naeun mengambil barang-barangnya. Sebaiknya kita ikut membantunya.”

“Oh, yaampun. Baiklah,” kata Dongwoo.

Mereka berdua masuk ke dalam rumah Naeun dan Dongwoo segera menarik koper Naeun keluar dari rumah. Naeun kemudian datang dengan tas bahunya lalu tersenyum. “Kaja! Kita berangkat!”

“Apa benar kau hanya membawa 1 koper?”

Naeun menanggukkan kepalanya. “Tentu saja, memangnya aku harus bawa berapa koper?” tanya Naeun bingung. “Aku harus berbelanja disana, jadi aku cukup membawa 1 koper saja,” jawabnya sambil tersenyum kemudian berjalan menuju mobil Dongwoo.

Bomi hanya bisa tersenyum melihat tingkah Naeun. Kemudian mereka melangkah menuju mobil. Setelah semuanya masuk, Dongwoo segera melajukan mobil dan melintasi jalan pegunungan itu – jalan menuju rumah Naeun melalui pegunungan.

“Ya, Oppa! Kalian kan sudah berpacaran 5 tahun, apa kalian tidak menikah?”

“Oh, kita sudah menikah 2 tahun yang lalu,” ujar Dongwoo sambil mengedipkan matanya ke arah Bomi. Bomi pun melotot ke arah Dongwoo. Dongwoo tertawa. “Tentu saja tidak. We have fucked 2 years ago,” kata Dongwoo sambil meningkatkan kecepatan mobilnya lalu tertawa.

Bomi hanya bisa diam. “Naeun-a, tidak usah dengarkan perkatannya oke?”

“Oh, tapi kalian benar-benar melakukannya bukan 2 tahun yang lalu? Aku yakin. Lagipula umur kalian sudah cukup, jadi tidak ada yang salah jika kalian sex,” kata Naeun sambil tersenyum. Kemudian ia menenggelamkan dirinya ke jok mobil dan terlelap disana.

Bomi yang melihat Naeun sudah terlelap melirik ke arah Dongwoo. “Kau gila! Dia masih 21 tahun!”

“Apanya yang salah? Sebentar lagi pasti dia akan mengikuti kita. Lihat saja nanti, dia akan melakukannya lebih banyak daripada kita jika dia sudah menemukan Myungsoo gila itu,” ujar Dongwoo sambil tersenyum.

**

Nam Woohyun, ia menatap langit malam New York yang masih dipenuhi bintang sejak kemarin. Entah kenapa, ia memiliki kebiasaan baru, menatap langit setiap malam. Terkadang, Chorong sering datang ke kamarnya untuk melihatnya. Menanyakan alasan mengapa laki-laki itu belum juga tidur.

“Hm,” gumam Woohyun sambil menghirup nafas dalam-dalam. “Apa aku salah jika aku menikahi Park Chorong, ya Tuhan?” tanyanya sambil menatap langit malam. Entah kenapa, akhir-akhir ini ia merasa ragu untuk menikahi Park Chorong padahal hatinya benar-benar mencintai Park Chorong sepenuhnya. “Hanya firasat,” katanya sambil mengelus dada kemudian berbalik.

Terkejut bukan main ketika ia melihat Park Chorong sudah berdiri di belakangnya dengan wajah kesal. Tangannya dilipat dua, bukan biasanya Park Chorong melakukan hal itu. Woohyun dengan cepat menghampiri Chorong. “Sejak kapan kau ada disini? Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu?”

Bukan masalah sebenarnya jika Chorong tidak mengetuk pintu kamarnya sebelum masuk, namun masalahnya apakah Chorong mendengar perkatannya tadi? Ia merasa sangat bersalah. Sialnya, melihat raut wajahnya yang seperti itu, sudah bisa dipastikan 100% bahwa Chorong mendengar ucapan Woohyun.

“A–Aku–Aku sudah lama disini,” ujarnya terbata-bata dengan mata menahan air mata. “Apa benar kau ragu untuk menikahiku?”

Dengan cepat Woohyun menggelengkan kepalanya kemudian ia meraih pergelangan tangan Chorong. Laki-laki itu menatap wajah calon istrinya itu, kemudian menyentuh bagian bawah mata Chorong yang mulai menahan air mata. Penuh sesal pasti.

“Aku minta maaf,” ujar Woohyun.

“Untuk?”

“Meragukanmu.”

Chorong melepaskan tangannya dari cengkraman Woohyun yang begitu keras. Mungkin laki-laki itu takut Chorong akan pergi dari kehidupannya dan tak akan pernah kembali. Seperti apa yang ia lakukan sebelumnya, pergi begitu saja tanpa kabar meninggalkan Chorong di Korea. Sampai akhirnya ia tidak bisa menahan rasa rindu itu, menghubungi Chorong lagi.

“Tidak usah minta maaf.”

Woohyun mengangkat alisnya, “Lantas?”

“Aku tidak membutuhkan maafmu untuk yang ke 500 kalinya atau kesekian kalinya,” jawab Chorong dingin. Matanya beralih menuju jendela kamar Woohyun. “Aku harap kau tidak meragukanku lagi,” katanya.

Lantas, Chorong melangkah menuju pintu kamar Woohyun. Bukannya keluar dari kamar itu, ia justru menutup rapat dan mengunci pintu kamar itu. Tentu saja, Woohyun terkejut melihat Chorong. Chorong tak membalikkan tubuhnya, diam disana dan mulai melepas pakaiannya. Dibelakangnya, Woohyun terdiam. Namun, sesekian detik kemudian, ia menutup tirai jendela kamarnya dan menyisakan lampu meja menyala. Lalu, ia mulai mendekati Chorong dan membimbing gadis itu menuju tempat tidurnya.

Malam itu, menjadi malam dimana Nam Woohyun benar-benar mencintai Park Chorong, karena Chorong sudah sepenuhnya menjadi miliknya.

**

Pagi sekali, tentu saja pukul 5 pagi, Naeun membasuh tubuhnya yang bau itu setelah perjalanan dari London ke New York yang memakan 7 jam perjalanan. Sebenarnya ia sampai di hotel pukul 9 malam. Untungnya, karena Woohyun yang sudah memesankan kamar untuknya dan Dongwoo–juga Bomi, mereka cukup langsung mengambil kunci kamar dan langsung terlelap tidur.

Seusai mandi, dengan cepat Naeun mengenakan pakaian casualnya seperti biasa–atasan lengan panjang yang berwarna putih polkadot kecil dan celana jeans biru kehitaman. Tak lupa, ia memasukkan atasannya dan menggulung lengan panjanganya, juga ia mengikat seluruh rambutnya dan membiarkannya terikat kuda. Setelah itu ia memakai sedikit bedak di wajahnya dan mengatur kopernya.

“Huh, untung saja aku hanya membawa 1 koper,” ujarnya sambil meletakkan pakaiannya dengan rapi ke dalam lemari kamar hotelnya. “Jadi, jika aku kekurangan baju, aku bisa membelinya.”

Kakaotalkeu

“Siapa pagi-pagi sudah Kakao Talk?” tanyanya kemudian bangkit dan merenggut ponselnya yang terletak di atas tempat tidur. Kemudian ia menggaruk alisnya sambil menatap ponselnya. “Eh? Eunji?”

“Hei, Naeun? Kau sudah bangun?!” Seru Bomi dari luar kamarnya sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Naeun. Lalu, Naeun menolehkan kepalanya ke arah pintu kamarnya dan melempar ponselnya begitu saja ke atas tempat tidur. Kemudian ia membukakan pintu kamarnya untuk Bomi.

Bomi terkekeh, “Ternyata kau sudah bangun ya.”

Naeun membiarkan Bomi memasuki kamarnya, kemudian Naeun mengunci lagi pintu kamarnya. “Aku memang selalu bangun pagi, unnie. Ada apa, ngomong-ngomong?” tanya Naeun sambil mengangkat kedua alisnya–kebiasaannya.

“Aku mau mengajakmu pergi sarapan dan setelah sarapan nanti jam 8, kita bertemu di rumah Woohyun. Bagaimana?” tanya Bomi sambil menyeringai lebar. “Sebenarnya, terserah kau.”

“Oh! Tidak-tidak!” Naeun menggelengkan kepalanya cepat. Ia jadi tidak enak, jika kedua sunbaenim itu harus mengikuti gerak-geriknya kemanapun. Ia hanya ingin pasangan itu yang menentukan, lagipula Dongwoo dan Bomi mengenal Woohyun lebih lama darinya. “Aku mengikuti kalian berdua saja. Jika kalian jalan, maka aku juga akan ikut!”

Bomi tersenyum kecil. Ia menepuk kepala Naeun, “Kalau begitu aku tunggu di ruang makan. Dongwoo sudah mengambil tempat tadi.”

“Eh! Kalian tidur bersama kan tadi malam?”

Wajah Bomi langsung memerah, “Tentu saja tidak.”

**

Pagi itu, Howon mengguncang-guncangkan tubuh Myungsoo. Namun, laki-laki yang sudah berumur 23 tahun itu tidak kunjung bangun dari tempat tidurnya. Akhirnya, Howon memanggil Eunji untuk datang ke kamarnya. Lalu, Eunji segera mendekati kuping Myungsoo.

Oppa, ini aku Son Naeun. Bangunlah,” ujarnya sambil meniru suara Naeun.

Dengan cepat Myungsoo terbangun dan mencari-cari Naeun. Eunji dan Howon yang melihat tingkah Myungsoo terkekeh melihat kebodohan Myungsoo. Myungsoo mendecak kesal, kemudian ia menyibak selimutnya. “Brengsek, kalian berdua. Aku kira benar-benar Son Naeun!”

“Salahkan dirimu tidak bangun!” jawab Eunji sambil mengeluarkan lidahnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. “Aku dan Howon oppa sudah selesai sarapan. Sekarang tinggal kau yang belum sarapan, bahkan mandi. Heol. Menyebalkan.”

“Yah, setidaknya kau bisa mengerti bahwa aku sangat lelah–.”

“Aku juga lelah, begitupula Howon oppa. Hm,” jawab Eunji. Kemudian ia melangkah keluar dari kamar Myungsoo sekaligus Howon. Mereka memang sengaja memesan 1 kamar untuk mereka berdua. Lagipula, Howon takut tiba-tiba Myungsoo di tengah malam berjalan sambil tertidur.

Sebelumnya, sebenarnya saat Howon dan Myungsoo juga Eunji tengah liburan ke Busan–kampung halaman Eunji dan Howon. Malamnya, Myungsoo memesan kamar sendiri dan Howon memesan kamar disebelahnya. Sedangkan Eunji, ia memesan kamar yang bersebrangan dengan kamar Howon. Kemudian, saat Howon tengah makan malam sendirian di restoran hotel, ia melihat Myungsoo tengah berjalan sambil tertidur. Cepat-cepat, Howon menarik Myungsoo kembali ke kamarnya, sebelum Myungsoo terjatuh ke dalam kolam renang.

Karena itu, Howon jadi selalu tidur bersama Myungsoo dan terkadang sering terbangun di tengah malam untuk mengecek keberadaan Myungsoo. Memang merepotkan. Tapi, mau bagaimana lagi? Laki-laki itu tetaplah sahabatnya. Jadi, ia tidak tega juga.

“Yah, lebih baik kau mandi dan cepat berganti baju. Setelah itu kita bisa pergi ke rumah Woohyun,” kata Howon sambil tersenyum kemudian menepuk pundak Myungsoo. “Eunji sedang menstruasi, karena itu dia jadi marah seperti tadi.”

Myungsoo melotot, “Kau tau darimana dia sedang menstruasi?!”

“Kemarin aku bertengkar dengannya,” ujar Howon sambil menunjukkan wajah kesalnya ke arah Myungsoo. “Lalu dia minta maaf dan bilang bahwa dia sedang menstruasi. Kau pikir aku mengecek kopernya dan menemukan tumpukan pembalut?!”

“Hehe. Tentu saja aku berpikir seperti itu.”

“Otak mesum,” jawab Howon kemudian berbalik. “Lebih baik kau mandi cepat!”

“Ya,” jawab Myungsoo dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.

Howon menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian ia melirik ke arah ponselnya. Lalu mengecek Kakao Talk-nya. Sambil tersenyum, ia menyentuh layar ponselnya ke arah foto profil seorang gadis yang ia kenal. “Son Naeun? Sampai kapan kau akan terus bersembunyi dari Kim Myungsoo? Toh, aku tahu lokasimu,” gumamnya kemudian mengunci lagi ponselnya.

Sebenarnya, sebelumnya Howon dan Naeun pernah mengunduh aplikasi pelacak lokasi. Dan mereka bertukaran ID. Ternyata sampai saat ini Naeun belum juga menghapus akunnya dan tentu saja aplikasi itu langsung melacak posisi Naeun. Rupanya, Naeun tidak pernah mematikan GPS nya untuk update di akun SNS-nya tentu saja.

“Heol. Cinta yang rumit,” kata Howon lalu keluar dari kamar Myungsoo meninggalkan Myungsoo yang berisik dengan suara cempreng-nya sambil mandi. Untung suara air shower mengalahkan suaranya.

**

Oppa!”

Woohyun menolehkan wajahnya kemudian tersenyum ketika melihat Naeun berlari ke arahnya kemudian memeluknya erat. Ia mempererat pelukannya kemudian melepaskannya. Ia menatap wajah gadis itu sambil mengelus wajah gadis itu, kemudian tersenyum lebar.

“Nam Woohyun, lepaskan tanganmu itu darinya.”

Woohyun melepaskan tangannya dengan cepat. Suara Chorong membuatnya sedikit bergetar karena mengingat apa yang mereka lakukan tadi malam. Sebenarnya mereka tidak benar-benar sampai melakukannya. Justru Woohyun yang meminta Chorong untuk berhenti ketika Chorong hampir membuka celana Woohyun. Woohyun meminta Chorong untuk melakukan hal itu ketika mereka sudah menjadi pasangan suami istri.

Dengan rasa malu, Chorong menghentikan aksinya. Bagaimana tidak malu, seluruh tubuhnya sudah disentuh Woohyun namun Chorong tidak dapat menyentuh tubuh Woohyun. Namun, perkataan Woohyun juga ada benarnya. Chorong memang sedikit kesal karena perkataan Woohyun yang meragukannya.

“Yah, unnie. Kau ini sensitif sekali! Aku kan hanya memeluknya,” ujar Naeun sambil tertawa. Chorong membalasnya dengan ikut tertawa kemudian memeluk gadis itu. Lalu mereka segera melepaskan pelukan mereka, Chorong menepuk kepala gadis itu.

Seusainya, Dongwoo dan Bomi datang dengan senyum di wajah mereka. Woohyun dan Chorong dengan cepat menyambut mereka. Kemudian mereka saling tertawa-tawa. Melihat itu, membuat Naeun teringat akan Eunji, Howon, dan yang terakhir tentu saja orang terspesial baginya–Kim Myungsoo–yang terkadang membuatnya menangis di malam hari.

“Hei, Naeun! Jangan diam saja, ayo kita pergi ke dapur dan siapkan makanan,” ujar Chorong sambil menghampiri Naeun. Cepat-cepat Naeun menahan air matanya kemudian ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Gadis itu segera menyamakan langkahnya dengan Chorong.

Chorong menatap pelan gadis itu. “Apa kau menangis?”

Naeun menggeleng, “Tidak. Aku tidak menangis.”

“Yah, kau berbohong lagi.”

“Eoh, aku menangis. Sebenarnya aku cukup iri ketika melihat kalian berkumpul seperti itu. Rasanya sangat bahagia dan menyenangkan.”

Tentu saja, Chorong segera menepuk kepala gadis itu. Lalu, Chorong mengambil sebuah kotak kue dari dalam kulkas dan menaruhnya di meja. Kemudian, ia menatap Naeun pelan. “Apa–Apa kau masih bersama Myungsoo?” tanya Chorong.

Naeun menggelengkan kepalanya. “A–Aku meninggalkannya.”

“Kenapa?”

“Ayah Myungsoo oppa. Dia melarang kami.”

Chorong membulatkan matanya, “Yang benar saja! Kim sajangnim bukan orang seperti itu. Yang aku tahu, ia selalu menyetujui Jongwoon oppa untuk menikah dengan siapapun. Kenapa dengan Kim Myungsoo tidak?”

“Aku tahu alasannya.”

Diam. Chorong mencoba berpikir alasan yang paling masuk akal untuk seorang Kim sajangnim untuk menolak hubungan Naeun dan Myungsoo. Yang pasti, Chorong hanya tahu bahwa Kim sajangnim selalu menyetujui hubungan Jongwoon dengan siapapun. Namun, kenapa Kim Myungsoo tidak? Apa jangan-jangan?

“Kim Myungsoo akan menjadi pewaris keluarga,” ujar Naeun. “Dan, aku ada hubungan darah dengan Myungsoo,” kata Naeun pelan.

“Apa?!” seru Chorong.

“Hei?! Ada apa Chorong-a?!” teriak Woohyun dari luar.

Cepat-cepat Chorong mengunci pintu dapur dan menatap ke arah jendela dapur. “Aku tidak apa-apa. Kami sedang bercerita. Sudah sana,” kata Chorong mencoba mengusir Woohyun. Tentu saja dia tidak ingin Woohyun ikut campur apalagi ini adalah masalah Naeun. Bisa-bisa Woohyun sangat cerewet.

“Ternyata ayahku yang kukenal selama ini bukanlah ayah yang kukenal. Aku adalah anak dari Kim sajangnimPantas saja ia mau membiayaiku ke London dan sebagainya,” jelas Naeun sambil tersenyum getir. “Lagipula, aku memang tidak cocok dengan Myungsoo oppa.”

Chorong meraih kedua bahu Naeun kemudian menatap dalam mata gadis itu. “Jangan berkata seperti itu. Kalian hanya beda ibu. Jadi apa salahnya jika kalian saling mencintai?” tanya Chorong mencoba menghibur Naeun. “Lebih baik, kau anggap saja bahwa kau bukanlah anak dari Kim sajangnim.”

“Hm, kurasa, aku memang bodoh,” ujar Naeun.

**

“Hei, mereka lama sekali? Apa yang dibicarakan mereka disana?” tanya Dongwoo sambil menatap pintu rumah Woohyun. Woohyun hanya bisa mengangkat bahunya. Belum ia tahu apa yang dibicarakan calon istrinya, Chorong sudah mengusirnya.

“Lebih baik kita menunggu. Lagipula, Myungsoo dan Howon juga Eunji belum datang,” Bomi menengahi.

“Hm, tentu.”

Tak lama kemudian, orang-orang yang dimaksud datang dengan mobil sport milik Woohyun. Woohyun sengaja meminjamkan mereka mobil itu. Tanpa hitungan detik, Myungsoo dan Howon keluar dari dalam mobil. Diikuti oleh Eunji dibelakang dengan parsel di tangannya.

“Hei! Lama tak bertemu, kawan!”

Woohyun memeluk mereka berdua. Mereka bertiga segera saling berpelukan. Tentu saja Eunji langsung ke meja dan meletakkan parselnya. Lalu tersenyum ke arah dua sunbaenim itu. “Annyeong, sunbaenimdeul. Kalian sudah lama disini?”

Aigoo, kau benar-benar cute. Iya, kita sudah lama. Bersama Naeun juga.”

“Eh? Naeun?!” bisik Eunji tak percaya.

Bomi menganggukkan kepalanya sambil menatap Eunji bingung. “Memangnya Naeun tidak memberitahu kalian bahwa dia akan kesini bersama kami?” tanya Bomi.

Eunji menggelengkan kepalanya. “Kapan? Aku bahkan tidak pernah menghubunginya selama beberapa akhir ini. Sejak dia kembali ke London, dia melarangku untuk menghubunginya. Alasannya adalah karena Kim sajangnim,” jelas Eunji.

“Yah, Kim sajangnim aku tahu dia memang begitu.”

“Jadi, sekarang dimana gadis itu?”

“Di–.”

“Itu dia,” ujar Dongwoo sambil menunjuk gadis yang baru keluar rumah bersama Chorong.

Tanpa aba-aba, Myungsoo dan Howon menghentikan pembicaraan mereka dengan Woohyun. Myungsoo segera menatap Naeun tak berkedip. Begitupula dengan Eunji yang tak menyangka bahwa Naeun benar-benar berada disini. Naeun diam disana. Menahan kotak kue yang dipegangnya. Chorong pun mengambil alih kotak kue itu dan duduk di dekat Dongwoo-Bomi.

“Hei, ada apa ini?” tanya Woohyun memecahkan keheningan.

Naeun membuka mulutnya. “Sunbaenim?”

Dengan cepat, Myungsoo menyadarkan kembali dirinya. Kemudian ia menghampiri Naeun dan menarik gadis itu dengan paksa. Menarik gadis itu menuju mobil dan mendorong gadis itu ke dalam. Myungsoo pun langsung masuk dan segera melajukan mobilnya.

Sedangkan yang lain, hanya bisa berteriak memanggil Myungsoo. Howon hanya tersenyum kecil. “Biarkan mereka meluapkan cinta mereka karena sudah lama tak bertemu,” ujarnya sambil terkekeh.

**

Sementara itu, Myungsoo melajukan mobilnya dengan cepat. Kemudian ia mengerem mobilnya. Jalan yang penuh dengan pemandangan itu membuat Myungsoo dapat menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Banyak juga, mobil yang terparkir di pinggir jalan untuk melihat pemandangan pagi itu.

Oppa,” kata Naeun. Myungsoo hanya bisa terdiam. Mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kalinya ia mendengar suara itu. Ia mencoba menarik nafasnya dalam-dalam dan menatap gadis yang ada disampingnya itu. Gadis itu tak menatapnya balik, justru menatap lurus pemandangan yang ada disampingnya.

“Hei, apa kau tidak akan menatapku?”

Naeun mengeluh kecil kemudian ia memberanikan kepalanya untuk menoleh ke arah Myungsoo. Akhirnya, gadis itu benar-benar menoleh ke arah Myungsoo, namun yang didapatkannya adalah sebuah ciuman dari Myungsoo. Gadis itu mencoba melepaskan namun, rasanya itu sangat sulit.

Akhirnya ia membiarkan bibirnya melekat pada bibir Myungsoo, kemudian ia menutup matanya. Mencoba merasakan sedikit lumatan kecil dari Myungsoo. Ciuman kerinduan, mungkin. Kompak, mereka melepaskan bibir mereka. Myungsoo menatap Naeun yang menangis. Laki-laki itu segera memeluk gadis itu.

Entah kenapa, ada desiran yang hebat ketika Myungsoo memeluknya erat. Padahal, Naeun tidak pernah merasakan hal ini. Ia hanya mencoba membalas pelukan Myungsoo dan menangis kecil. Tangisan kerinduan, mungkin. Mereka melepaskan pelukan itu.

“Jangan menangis,” kata Myungsoo sambil menyeka air mata Naeun. “Kau–Apa kau masih mencintaiku?”

Naeun terdiam. Dia tahu jawabannya adalah ‘iya’, namun kenapa bibir itu terasa kelu untuk mengatakannya. Ia hanya bisa menatap Myungsoo kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Ia tahu, bahwa ia sudah berjanji pada dirinya akan tetap mencintai Myungsoo.

“Apa kau tidak mempedulikan hubungan kita?”

“Eh?”

Naeun tersenyum. “Kita satu darah.”

Myungsoo melebarkan matanya, “Apa maksudmu?”

“Aku juga anak Kim sajangnim.

“Tidak mungkin,” kata Myungsoo. “Kita masih bisa menikah walaupun kita 1 ayah. Setidaknya kita beda ibu. Aku tidak peduli jika ayahku memberikan warisannya untuk Jongwoon hyung. Yang terpenting adalah kita bisa bersama.”

“Kau tidak berbohong kan?”

“Tentu saja tidak.”

Naeun tersenyum kecil menatap Myungsoo. Gadis itu mengusap rambut Myungsoo.  Sebelumnya, ia tidak pernah melakukan hal itu, tentu saja. Namun, entah kenapa, tiba-tiba ia ingin mengusap kepala laki-laki itu. “Hai, namchingu,” kata Naeun. “Saranghae.

Myungsoo tersenyum kemudian mencium bibir gadis itu.

**

10 tahun kemudian..

“Ya! Kim Jaejin! Kenapa kau tidak bangun?”

“Hei, Naeun, kau ini berisik sekali. Tidak bisakah kau membangunkannya dengan penuh cinta?”

Naeun memutar kedua bola matanya kemudian ia kembali melirik ke arah anaknya yang masih tidur itu. “Oh, yaampun. Kenapa kau masih juga tidur. Kim Jaejin, bangunlah.”

Ne,” ujar Jaejin sambil membuka selimutnya. Kemudian laki-laki itu keluar dari tempat tidurnya dan beranjak menuju kamar mandi. Naeun menepuk kepala anaknya, kemudian melangkah keluar.

Naeun berteriak, “Jaejin, cepat mandinya. Setelah itu turun ke bawah dan makan. Ayahmu harus berangkat kerja,” Naeun menuruni tangga kemudian menuju dapur dan menyiapkan makan. Suaminya sudah menunggu sambil memegang koran dan tas kerjanya.

“Hei, kau tampak cantik pagi ini,” ujar Myungsoo terkekeh.

“Kau selalu mengatakan hal itu setiap pagi.”

Kemudian mereka berciuman.

“Ya! Kalian kenapa berciuman?!”

“Eh, Jaejin?”

The End

Hai! Terimakasih yang sudah mau mengikuti fanfiction gak jelas ini. Ok? Bye. KKK~ Aku sangat meminta komentar kalian, like kalian, rating kalian!^^ Rating nya silahkan tekan 5 bintang/? (Ada di bawah yang gatau). Hohoho. Terimakasih banget untuk kalian yang mau mengikuti FF Myungsoo-Naeun ini. hehe. Sangat minta maaf karena aku cuma nulis sampai Chapter 8. Aku sangat minta maaf ok? Setelah ini, aku punya project FF baru lagi. Yang akan aku publish setiap tanggal 1 setiap bulannya. Jadi sangat ditunggu bukan? Hoho tentu saja. Teasernya akan aku publish secepatnya!! Sampai jumpa di FF selanjutnya^^

Aku juga minta kalian untuk ikut vote polls dibawah ini ok? terimakasih.

23 thoughts on “[Last Chapter: Chapter 8] Hard to Love

  1. huaaaaaaaaa Kenapa Cepat Banget sih >_<.
    howon/Hoya &Eunji ko gk ada endingx sih ?

    Buat FF MyungEun Lagi Ya Thor.di Tunggu Lho .

    Faighting Buat FFnya Thor .

  2. akhirnya muncul juga ini cerita😀
    yah kak rada gimana gitu sama endingnya..
    kecepetan pake banget sih alurnya..
    tapi tetep bagus kok^^

  3. Pas tau myungEun satu ayah aku gatel pengen ngomen ini. Nikah satu ayah nggak boleh thor. Kalo satu ibu tapi nggak satu susuan baru boleh. Hukumnya begitu. Lain kali lebih diperhatikan lagi ya. Takutnya ntar menimbulkan salah persepsi. Untuk chap terakhir semuanya bagus. Meskipun endingnya harusnya nggak bersatu karna hukum nikah seayah itu

  4. Kyaaaa >< daebak author nim!♥♥♥♥ Aku udah baca hard to love dari chapter one sampe end jadi comment semuanya disini aja yaa author nim, uwaaaa aku seneng banget sama ff nya! DAEBAK. Nanti tulis ff MyungEun lagi yaaa ^^

  5. Akhirnyaaaa tamat jugaaa hihihi xD Bagus deeh happy ending walaupun alurnya kecepetan sm kurang byk bgt endingnya krna masih ada bbrp hal yg menggantung huhu. Btw nice job author! Sampai ketemu di fanfic MyungEun atau PinkFinite lainnya

  6. maaf baru komen lg d akhir krn udh ga sabar pengen baca part selanjutnya.
    aku suka ceritanya krn bnyk memberikan infinite nya. hahahaha. klo ceritanya jujur aja agak sedikit bingung, buat aku alurnya kecepatan. tp gpp aku tetep nikmatin baca ff ini kok.
    dan makasih untuk pollingnya…
    dtggu ff memberikan infinite yg lainnya:D

    • huaa makasih banyak yaa udah baca dan komentaar. iyaa hehee itu masih abal bangett makanya alurnya cepet T.T sipsiip makasiih❤ baca juga yaa 'Forbidden Love' kalau bisa eheheh😀

  7. Author lu gak salah? Mau 1 ayah atau 1 ibu intinya mereka masih sedarah. Jika mereka menikah padahal masih sedarah, anaknya bakal cacat loh.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s